CHAPTER 5
"Kamu aja yang jadi istriku? Gimana?"
"Aku nggak segila itu, Jung." Youngjae memalingkan wajahnya namun Daehyun juga menggeser tubuhnya hingga kini wajah mereka kembali berhadapan.
"Nggak gila kok. Lagian Baekhyun hyung duluan kan yang pergi tanpa pesan."
"Jangan-jangan Baekhyun hyung pergi karena lihat kita waktu itu," Youngjae menduga.
Daehyun terdiam. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia bertemu dengan Baekhyun, dan namja tampan tersebut baru sadar kalau terakhir kali mereka bertemu adalah pagi dimana Daehyun pulang hanya untuk bertukar pakaian setelah semalaman tidak pulang. Sebersit perasaan bersalah menghinggapi hati Daehyun. Ia telah menyakiti istrinya.
.
.
.
Mencari Baekhyun bukanlah hal mudah. Daehyun sudah menghabiskan waktu hingga hampir setahun untuk mencari istrinya yang hilang, namun hasilnya nihil. Kedua orang tua Baekhyun pun tidak tahu kemana perginya namja itu. Walaupun Daehyun terus mencari Baekhyun, hubungan DaeJae masih terus berjalan. Bahkan sekarang Daehyun telah membawa Youngjae pindah ke rumahnya.
Youngjaepun semakin bingung dibuatnya. Terkadang Daehyun seperti orang gila karena ditinggal istrinya, tapi di waktu lain Daehyun seolah tidak ingat tentang Baekhyun dan mengatakan bahwa ia hanya mencintai dirinya seorang.
"Dae, waktunya makan," ucap Youngjae sambil melongok ke dalam kamar.
Daehyun yang sedang duduk di pinggiran ranjang mengangguk kemudian bangkit dan mengikuti Youngjae menuju ke ruang makan. Keduanya makan dengan hening, tidak seperti biasanya.
"Masih memikirkan Baekhyun hyung?" tebak Youngjae setelah mereka selesai makan.
Daehyun mengangguk. "Ne. Aku harus menemukan Baekhyun dalam keadaan hidup ataupun mati."
Youngjae merasakan sesak di dadanya. "Jadi aku hanya sebagai pengganti sementara kah?" tanyanya dalam hati.
"Aku dan Baekhyun belum bercerai waktu dia pergi. Jadi aku harus bertemu dengannya dan cerai, setelah itu aku baru bisa menikah dan hidup bahagia bersamamu, chagi." Tangan Daehyun bergerak membelai pipi Youngjae.
.
.
.
"Dae… Aku lapar…," rengek Youngjae.
"Tapi ini sudah tengah malam."
"Tapi aku lapar… Aku mau makan daging."
"Araseo, aku beli sekarang. Tapi kamu nggak boleh tidur. Kalau sampai waktu aku kembali nanti kamu sudah tidur, siap-siap dapat hukuman dariku," ancam Daehyun sambil menyingkapkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Dan ada syaratnya…"
"Apa?"
"Poppo." Daehyun mendekatkan wajahnya ke wajah Youngjae.
Cup!
Youngjae mencium kilat bibir kissable Daehyun.
.
.
.
Daehyun berjalan cukup jauh untuk mencari restoran yang masih buka. Akhirnya ia mendapatkan apa yang Youngjaenya mau di restoran dekat taman kota. Suasana benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa kendaraan yang melintas dengan cepat. Daehyunlah satu-satunya manusia yang masih berkeliaran dengan berjalan kaki.
Samar-samar terdengar suara seseorang tengah mengangis sesenggukkan. Daehyun menoleh ke kanan dan kiri, mencoba menemukan sumber suara tersebut.
Seorang namja bertubuh tinggi tengah duduk di bangku taman sambil menangis. Daehyun melangkah mendekati namja itu dengan ragu. Di satu sisi ia ingin menenangkan namja itu, tapi di sisi lain ia takut kalau namja itu ternyata adalah seorang(?) hantu. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya, Daehyun kini berada tepat di belakang bangku yang didudukki namja itu.
Merasa ada orang lain di belakangnya, namja itu membalikkan badannya dan langsung memeluk Daehyun erat.
"Uppie hyung…"
"Uppie hyung?" Daehyun mengulang gumaman namja yang masih berada di dalam pelukannya itu.
Namja itu perlahan melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Daehyun. "Ah, mianhaeyo…"
"Gwenchana," jawab Daehyun sambil tersenyum ramah.
"Nuguya?"
"Choi Junhong imnida… Eum, tapi panggil aja aku Zelo."
"Lalu kenapa kamu disini?"
"Aku… Aku barusan putus cinta… Hiks…" Namja tinggi bernama Zelo tersebut kembali menangis.
"Uljima, Zelo-ya… Sekarang kamu ikut aku aja yuk, aku punya daging. Kita makan bareng-bareng di rumahku."
.
.
.
"Siapa dia?" tanya Youngjae yang menunggu kepulangan sang nampyeon di teras rumah dan mendapati seorang namja dengan tinggi badan diatas rata-rata berjalan membuntuti Daehyun.
"Annyeonghaseyo, Choi Junhong imnida, bagapseumnida," Zelo memperkenalkan diri sambil membungkuk sembilan puluh derajat.
Setelah saling berkenalan dan Daehyun menjelaskan bagaimana dia menemukan Zelo di taman tadi merekapun masuk untuk menikmati daging yang telah didapatkan Daehyun dengan susah payah.
.
.
.
"Zelo-ya, malam ini kamu bisa tidur disini. Kajja ikuti aku, hyung akan tunjukkan kamarmu."
Zelopun mengikuti Youngjae menuju ke kamar tamu.
"Maaf merepotkan." Zelo membungkukkan badan sebelum masuk ke dalam kamar yang akan ia tempati malam ini.
"Gwenchana. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk bangunkan aku atau Daehyun. Kami ada di kamar sebelah."
"Nde. Kamsahamnida."
Sepeninggal Youngjae, Zelo langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Makan dan ngobrol dengan DaeJae cukup membuatnya lupa akan perasaan sedihnya karena JongUp.
.
.
.
"Hyung, bolehkah aku tinggal disini saja?"
Daehyun mengalihkan padangannya dari sepiring nasi goreng kimchi di hadapannya pada Zelo. "Boleh-boleh aja sih, tapi apa kamu nggak dicariin orang tuamu?"
"Eum, eomma sedang di Mokpo, katanya baru akan kembali tahun depan. Sedangkan appa masih sibuk dengan pekerjaannya di Jepang."
Daehyun mengangguk. "Araseo. Tapi kamu nggak boleh nakal ya. jangan bikin Youngjae hyung repot."
Zelo tersenyum, menampilkan kedua dimple di pipinya dan mengangguk bersemangat.
"Dae… Dicariin tuh," ucap Youngjae yang baru datang dan mengambil tempat duduk di samping Zelo.
"Nugu?"
"Molla. Eomma appa nya Baekhyun hyung mungkin."
"Kenapa datang?"
Youngjae mengendikkan bahunya. "Temuin aja."
Daehyun menghabiskan nasi goreng yang masih tersisa di piringnya dengan cepat dan segera beranjak untuk menemui orang yang menunggunya di ruang tamu. Namun tak berapa lama kemudian Daehyun kembali, untuk memanggil Zelo, "Junhong-ah, Zelo, kemari!"
Zelo sedikit bingung tapi ia tetap datang, mengikuti Daehyun yang telah terlebih dahulu berjalan keluar.
"Jongup hyung!" seru Zelo setelah melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu dan langsung memeluk namja itu erat, seakan mereka baru saja bertemu setelah terpisah puluhan tahun lamanya.
"Zelo-ya… Saranghae…" Jongup balas memeluk tubuh Zelo yang jauh lebih besar darinya.
Tidak mau menganggu, Daehyun memutuskan untuk kembali ke ruang makan.
.
.
.
Daehyun dan Youngjae memutuskan untuk berjalan-jalan sekalian membeli barang keperluan sehari-hari di supermarket dekat rumah mereka, mumpung Zelo lagi ada yang jagain. Namun langkah keduanya terhenti di ruang tamu. Di atas sofa terlihat Zelo dan Jongup tengah berciuman dengan sangat panas, bahkan kini posisi Zelo berada di pangkuan Jongup. Kedua tangan Zelo berada di belakang tengkuk Jongup, sedangkan kedua tangan Jongup menyusup masuk ke dalam kaos yang dikenakan Zelo. Belum lagi kedua kaki jenjang Zelo yang kini memeluk pinggang ramping Jongup.
"Jae… Jalan-jalannya besok aja ya," ucap Daehyun sambil menggiring Youngjae untuk berputar arah, menuju ke kamar mereka. Sepertinya namja tampan tersebut terasangang akibat menonton JongLo moment di ruang tamu tadi.
"Chakkaman, Dae… Sebentar ya…" Sebelum masuk ke kamar Youngjae berlari kembali ke arah ruang tamu, meninggalkan Daehyun yang terbengong di tempatnya.
"Lho… Kok pergi, Jae? Aku masih ada persediaan kok."
Tidak sampai sepuluh detik Youngjae sudah kembali berada di samping Daehyun dan menarik namjachingunya masuk ke dalam kamar. "Aku cuma tutup pintu aja. Nggak enak kan kalau ada tetangga yang nonton."
"Oh, kirain kamu mau beli something… Atau mau kabur," kata Daehyun sambil menutup + mengunci pintu dari dalam.
Tanpa berkata-kata lagi Daehyun segera mendorong tubuh Youngjae sehingga namjachingunya itu jatuh terlentang di atas ranjang.
"Dae… Daeh… Ah…," desah Youngjae ketika Daehyun mulai menindih tubuhnya dan menjelajahi tiap inci kulit putih lehernya.
Daehyun semakin bersemangat menciptakan tanda-tanda kepemilikian di leher Youngjae. Kedua tangannya juga tidak lagi tinggal diam. Tangan kanannya menyusup masuk ke dalam pakaian Youngjae dan memelintir nipple kiri Youngjae, sedangkan tangan kanannya meremas-remas pantat Youngjae.
"Kau ingin permainan cepat atau lambat?" tanya Daehyun setengah berbisik tepat di depan telinga Youngjae.
"Terserah, aku menurut saja," jawab Youngjae lirih.
"Araseo, bersiap-siaplah…" Daehyun mengeluarkan smirk mesumnya.
Youngjae hanya bisa pasrah saat Daehyun dengan cepat melepas semua pakaian yang ia kenakan hingga kini tubuhnya benar-benar polos. Tanpa disuruh Daehyun melesakkan kepalanya diantara kedua paha Youngjae, mengulum sesuatu yang telah menegang disana, membuatnya semakin mengeras.
"Eum… Ah… Dae…"
Youngjae meremas kuat rambut Daehyun dan menekan kebawah kepala namjachingunya saat mencapai puncak. Namun setelahnya Youngjae hanya tergolek lemah dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
"Jae, jangan tidur dulu, chagiya… Aku belum," ucap Daehyun sebelum kembali naik ke atas tubuh Youngjae dan mengulum bibir ranumnya penuh nafsu.
Cukup lama berciuman, kini Daehyun melepaskan pagutan bibir mereka.
"Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok," bisik Daehyun membuat Youngjae membelalakkan matanya yang sebelumnya memandang Daehyun dengan tatapan sayu.
.
TBC
.
Yeorobun, mianhaeyo, TBC dulu ya, masih belum sanggup ngetik NC, tapi janji, next chapter ada NC-nya...
