Ohayou, konnichiwa, konbanwa. Yosh! Sebelumnya Author ingin minta maaf atas kesalahan di chapter sebelumnya! Ada 3 typos kalau tidak salah, 'mungkin', 'hidung' dan 'di perempatan'. Author juga lupa mencantumkan Disclaimer! Maafkan Author! Kali ini tidak boleh ada kesalahan yang terulang. Let's go!
Naruto © Masashi Kishimoto
Dictionary of Love © Author Kimmi (Farisha Tallei)
Chapter 2
Drama/Romance
Rated T for Teenager
Characters:
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji and Yamanaka Ino
Warning : OOC, AU, misstypo, dll…
Don't Like Don't Read!
-Dictionary of Love-
Normal POV
Setelah dokter tersebut meninggalkan kamarnya. Sakura termenung sendiri.
"Siapa yang menabrakku, ya?" gumamnya.
Tiba-tiba saja. Kepala Sakura berdenyut sakit. Rasanya seperti dihantam pukulan yang hebat. Penglihatannya kunang-kunang. Nafasnya tersengal-sengal. Sakura pun berusaha untuk berbaring. Sebelum membaringkan kepalanya ke bantal dengan perintah otak, Sakura sudah pingsan duluan.
Cklek…
"Sakura-san, sebenarnya…" ucapan seseorang terhenti karena melihat pemandangan tersebut. Sang dokter—yang membuka pintu—hanya melihat dengan diam. Apakah gadis ini gampang tertidur? Batinnya.
Dokter itu berjalan ke arah Sakura. Menyentuh pergelangan Sakura yang terinfus dengan hati-hati. Berusaha mengukur nadinya dengan jari tulunjuk dan jari tengahnya. Sangat lambat.
Wajar saja karena Sakura sedang pingsan. Wajahnya sangat pucat.
Dokter pun berkata, "Sepertinya akan lebih dari sehari. Dan semoga saja ingatannya juga…". Si dokter hanya menghela nafas dalam-dalam. Kemudian berjalan meninggalkan kamar Sakura.
-Dictionary of Love-
Sudah dua hari Sakura pingsan. Dia tidak pernah beranjak dari ranjang rumah sakit pada saat itu. Ia tersadar ketika dini hari. Dia bingung mendapati dirinya berada di rumah sakit. Tetapi pada akhirnya dia mengingatnya sendiri.
Karena merasa tidurnya sudah sangat cukup, sewaktu sadar sampai pagi dia tidak tidur. Kakinya pun masih kaku untuk digerakkan, walaupun bisa ditekuk sedikit.
Waktu pun berlalu. Sekarang Sakura sedang menyantap sarapan paginya, semangkuk bubur dan segelas air putih. Ditemani oleh seorang suster tentunya.
"Sakura-san, saya ada urusan sebentar. Jika butuh bantuan, silahkan panggil saya," ucap suster itu sopan. Suster itu membungkuk pamit dan setelah itu pergi meninggalkan Sakura sendirian di kamarnya.
"Kira-kira aku pulang kapan, ya?" tanyanya kepada dirinya sendiri sambil meletakkan mangkuknya di meja.
"Oh, Kami-sama! Siapa yang akan membayar biaya perawatan ini? Aku masuk rumah sakit karena kecelakaan itu, jadi seharusnya orang yang menabrakkulah yang harus membayar semua ini!" teriak Sakura frustasi. Kita semua tahu. Sakura terbaring di rumah sakit tanpa tahu siapa yang membawanya.
Tok…tok…tok…
"Ng…masuk," kata Sakura sedikit canggung.
"Sepertinya kondisimu sangat baik," ucap seorang dokter sambil tersenyum tipis. Sangat tipis.
Sedangkan Sakura sibuk dengan pikirannya. Bingung dan malu. Dokter ini siapa? Kalimat yang diucapkan dokter tersebut seolah-olah seperti sudah mengenalnya. Dan yang membuatnya malu adalah sepertinya sang dokter mendengar Sakura yang tadi sedang ber'gumam' frustasi.
"Benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Hyuuga Neji," ucap dokter yang mengaku nama 'Neji' tersebut.
"Oh…Hyuuga-san, namaku…"
"Aku tahu. Bagaimana dengan kakimu? Apa bisa digerakkan?" ucapnya sambil menyentuh kaki Sakura.
"Sedikit," suaranya sedikit bergetar.
"Temanku yang menyuruhku agar mengurusmu sampai kau pulih kembali," ujar Neji yang sepertinya paham dengan kebingungan Sakura.
Sakura diam. Tidak berniat untuk memikirkannya. Ia masih terlalu lelah.
"Mau mencoba berjalan?" tawar sang dokter.
"Bolehkah?" tanya Sakura dengan antusias. Selama dia terbaring di sini, dia belum pernah melihat-lihat keluar. Sakura juga ingin merasakan kembali apa yang namanya 'hidup'.
"Aku temani," ucapnya ramah.
Sakura pun hanya terdiam mendengarnya. Berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Tiba-tiba saja terbesit rasa penasaran untuk bertanya, "Ng…dokter? Bolehkah aku tahu siapa temanmu itu?". Daripada pertanyaan, itu lebih terlihat seperti memohon.
"Oh 'dia'?"
"I-iya…"
"Kuberitahukan nanti saja, ya," ujar si dokter sambil berbalik badan dan pergi menuju pintu.
"Eh?" Sakura dibuat cengo olehnya.
"Apa yang kau tunggu? Kau ingin jalan-jalan, 'kan?" tanyanya seraya tersenyum tipis.
"Eh, iya…" jawab Sakura. Dia mencoba untuk menurunkan kakinya perlahan ke lantai.
Neji hanya memperhatikan tanpa niat membantu. Ingin melihat dulu usaha seorang gadis yang menjadi pasien temannya.
Ketika Sakura berdiri, ia merasa lututnya sangat linu. Langsung saja Sakura terduduk kembali di ranjang. Sakura menatap ke arah Neji dengan cengirannya.
Neji yang ditatap seperti itu hanya menggelengkan kepalanya. "Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali,"
Sakura pun hanya mengangguk. Tidak lama kemudian.
"Kurasa ini akan membantu," ucap Neji sambil membawa sebuah tongkat penyangga kaki.
Sakura melihatnya dengan senyuman pahit. Kapan dirinya bisa berjalan normal kembali?
Neji dan Sakura pun pergi bersama-sama ke arah halaman belakang rumah sakit. Sakura cukup kesulitan karena sebelumnya ia tidak pernah menggunakan tongkat penyangga. Seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi. Batin Sakura.
Ingin sekali dia kabur dari rumah sakit ini. Dan pulang dengan selamat ke apartemen yang dirindukannya. Selama perjalanan Sakura berpikir keras bagaimana caranya ia bisa pulang tanpa diketahui pihak rumah sakit.
Mereka berdua sampai di halaman belakang. Benar-benar indah dan nyaman. Sangat luas untuk sebuah halaman rumah sakit. Terdapat air mancur pula. Bisa mereka lihat beberapa pasien sedang menikmati sejuknya udara pagi hari ini. Damai dan tenteram.
"Wah, luasnya!" ucap Sakura riang. Sedangkan Neji yang mendengarnya hanya tersenyum maklum.
"Aku akan mencobanya!" Sakura mencoba melangkahkan kakinya, disusul oleh tongkatnya. Sering berjalan seperti itu membuat Sakura terbiasa dengan tongkat penyangganya.
Neji hanya melihat perkembangannya dari jauh. Kemudian dia melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Dan ia pun teringat akan sesuatu.
"Sakura-san,"
Sakura menoleh.
"Aku ada janji dengan pasienku. Tidak apa-apa kau di sini sendiri?" tanya Neji.
"Tidak apa-apa kok," kata Sakura seraya tersenyum manis.
"Baiklah. Aku pergi dulu," ucap Neji seraya melangkah pergi ke arah koridor rumah sakit.
Sakura masih tersenyum manis sampai sosok Neji menghilang di koridor. Sakura pun langsung menyeringai.
"Yeah! Akhirnya aku bebas juga! Untung ada Hyuuga-san yang mau mengantarku ke sini. Jadi tidak perlu repot-repot untuk memikirkan lebih jauh bagaimana caranya kabur dari sini," ujarnya seraya berjalan menuju semak-semak.
"Aku benci harus berdiam diri seperti itu," Sakura mengadahkan kepalanya ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Ia pun mencoba menelusuri semak-semak tersebut.
Raut wajah Sakura menggembira seketika. Tidak disangka halaman belakang rumah sakit ini hanya dipagari oleh semak-semak. Sekarang Sakura sudah keluar dari rumah sakit. Tepatnya Sakura berada di trotoar yang berada di kawasan pinggiran.
"Untung saja aku tidak membawa barang berharga. Dompet itu dompet cadangan. Uangnya pun tidak seberapa hahahaha…eh?" ucapannya terhenti.
Wajahnya pucat. Ia berkeringat dingin. Tubuhnya kaku. Bibirnya gemetaran, sampai ia berkata, "Siapa yang membayar biaya perawatan rumah sakitnya?" teriak Sakura frustasi, "Aku tidak ingin menjadi orang jahat! Walaupun aku ini tidak bisa dibilang orang yang baik…"
Sakura menatap nanar gedung rumah sakit di depannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Sakura. Sakura pun menoleh. Agak tercengang dengan siapa yang menepuk bahunya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seseorang yang menepuk bahu Sakura, yang ternyata adalah seorang pemuda mengenakan kaos hitam lengan pendek, celana putih panjang, tas ransel berwarna abu-abu dan lagi pemuda itu memakai kacamata berbingkai kotak berwarna hitam dengan tulisan 'Converse' di penyangga telinganya. Cukup santai dan keren. Sepertinya Sakura tidak asing dengan pemuda di depannya.
"Aku? Berjalan-jalan!" jawab Sakura terlihat riang.
"Di pinggir jalan penuh polusi dengan memakai baju rumah sakit tanpa pengawasan?" tanya kembali pemuda itu sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Itu…"
"Sudahlah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ujar pemuda tersebut seraya menarik tangan Sakura.
"T-tidak mau!" sergah Sakura sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman pemuda di depannya. Sakura kesulitan karena tangan kanannya membawa tongkat penyangga.
Mata onyx pemuda tersebut menatap tajam Sakura, "Kenapa kau tidak mau?"
"Di sana membosankan. Lagipula aku sudah sembuh!"
"Aku tidak yakin. Ikut aku,"
"Aku. Tidak. Mau!" ucap Sakura sambil menekankan semua perkataannya.
Pemuda itu mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Sakura, Sakura pun akhirnya pasrah dibawa kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di depan kamar Sakura.
"Dokter! Akhirnya anda datang juga," ujar seorang suster menghampiri Sakura dan seorang pemuda yang dipanggil 'Dokter' oleh suster tersebut.
"Dokter? Kau seorang dokter?" tanya Sakura tidak percaya.
"Memangnya kenapa?" tanya balik dokter muda yang masih memegang pergelangan tangan kiri Sakura.
"Kau terlihat meragukan,"
"Hn. Kusimpan kata-katamu," kata dokter itu terlihat tertantang. Dokter itu membuka pintu kamar Sakura. Mereka berdua berjalan masuk. Mereka terdiam sampai Sakura berbicara.
"Ehm…sampai kapan kau akan memegang tanganku terus?" ucap Sakura di tengah keheningan. Pipinya sedikit merona karena canggung. Sang dokter pun merasakan hal yang sama walaupun hanya sedikit.
"Dokter?" panggil suster berambut blonde tersebut.
"Hn?"
"Nona itu…"
"Sudah kubilang, biar aku yang urus, Yamanaka-san,"
"B-baiklah, Uchiha-san," suster Yamanaka itu pun segera pergi meninggalkan kamar Sakura.
"Uchiha? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu," gumam Sakura dengan gaya berpikirnya.
"Sudah kuduga. Oh iya, kau bilang tadi kakimu baik-baik saja?" tanya dokter Uchiha itu sembari melihat kaki Sakura.
"Sepertinya," jawab Sakura sekenanya.
"Kau boleh pulang lusa," ucapnya seraya melangkah menuju pintu kamar Sakura.
"Tunggu sebentar!" panggil Sakura. Dokter itu menghentikan langkahnya.
"Hn?"
"A-ano…begini, aku…" Sakura menelan ludah, "Aku tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan!"
"Begitu…" dokter itu melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.
"Hei! J-jadi aku…"
"Ini yang ketiga kalinya aku mengatakan kalimat yang sama. Biar aku yang urus semuanya,"
"Eh? Maksudmu? Aku…"
"Begitulah. Aku pergi dulu, masih ada beberapa pasien yang harus aku temui," dokter itu pun melanjutkan langkahnya kembali, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti oleh panggilan Sakura.
"Tunggu sebentar!" suara Sakura sedikit bergetar.
"Ada apa lagi?" sepertinya dokter ini sudah mulai jengkel.
"Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" tanya Sakura agak sedikit bersalah karena telah membuang-buang waktu dokter muda di depannya.
"Uchiha Sasuke," jawab sang dokter yang mengaku bernama 'Uchiha Sasuke' itu.
"Uchiha-san, terima kasih," kata Sakura sambil tersenyum.
"Hn. Sama-sama," Sasuke pun benar-benar pergi meninggalkan kamar Sakura.
"Uchiha Sasuke…sekarang aku benar-benar tidak asing dengan nama itu. Tapi…apakah ada hubungannya dengan diriku?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. Sakura merasa kakinya pegal. Dia pun segera berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian dia sudah berada di alam mimpinya.
-Dictionary of Love-
"Haruno-san, hari ini anda akan pulang," kata suster yang merawat Sakura terlihat agak gemas melihat pasiennya yang sedang bermalas-malasan di tempat tidur.
"Aku tahu, Ino-san! Oh iya, sudah kubilang panggil saja aku 'Sakura'," ujar Sakura seraya berdiri dan mengambil tongkat penyangganya. Sekarang ia sudah siap untuk pulang. Mengenakan pakaian yang sangat santai—yang entah diberikan oleh siapa—lalu berjalan menuju pintu. Dia pun pulang hanya membawa penyangga tongkat saja. Karena tidak ada barang yang terlalu penting ketika Sakura terlibat kecelakaan waktu itu.
"Hati-hati, Sakura-san," ucap suster yang dipanggil 'Ino' oleh Sakura. Ino berjalan masuk ke lift di samping Sakura. Mereka menuju lantai dasar.
Ting…
Sekarang mereka berada di lantai 1. Tiba-tiba Sakura berbicara, "Ino-san, siapa yang akan ada yang mengantarku pulang? Kau tadi bilang begitu, 'kan?"
"Iya. Tenang saja, dia sudah menunggu di depan," kata Ino dengan sedikit agak dingin.
Sakura pun hanya mengangguk ketika menyadari perubahan sikap Ino. Ketika sudah di pintu utama, mereka berdua sudah bisa melihat mobil hitam bermerk BMW.
Dengan seseorang yang sudah duduk di depan di bangku kemudi.
Sakura seperti merasakan déjà vu melihat mobil di depannya. Memang tidak jarang orang-orang di Konoha yang mempunyai BMW. Tetapi tetap saja, mobil itu membawa suatu ingatan yang seperti terkunci di otaknya.
"Sakura-san?" panggil Ino.
"Ah, iya?" tanya Sakura.
"Apa yang kau tunggu? Uchiha-san sudah menunggu di mobil," ucap Ino seraya mendorong punggung Sakura pelan.
"U-Uchiha?" kata Sakura sedikit sempoyongan. Ia pun segera membuka pintu mobil tersebut dengan sedikit ragu. Setelah pintu mobil tersebut terbuka, Sakura bisa melihat siapa seseorang yang sudah berbaik hati mau mengantarkan Sakura pulang dengan selamat. Mata onyx tajam yang dihalangi oleh kacamata, rambut hitam kebiru-biruan yang mencuat ke belakang, wajah tampan. Ya, dia adalah Uchiha Sasuke.
Sakura pun duduk di sebelah Sasuke dengan perasaan canggung. Sakura pun menoleh ke arah Ino dan tersenyum sambil berkata, "Sampai jumpa, Ino-san! Semoga kita bisa bertemu lagi, dan terima kasih sudah merawatku selama ini," ucap Sakura sambil tersenyum manis.
Ino pun hanya mengangguk sambil membalas senyum Sakura. Gadis yang baik. Batin Ino.
Setelah menutup pintu, mobil Sasuke sudah melaju keluar rumah sakit.
-Dictionary of Love-
Selama perjalanan Sasuke dan Sakura tidak berbicara sama sekali. Sasuke memang pemuda yang pendiam dan berbicara sepentingnya. Sedangkan Sakura yang aktif dan sedikit cerewet tidak terlalu suka suasana yang kaku seperti ini. Sakura pun mulai angkat bicara.
"Uchiha-san…"
"Hn," tatapan Sasuke masih ke arah jalan.
"Kenapa kau mau repot-repot mengantarku pulang?"
"Kalau 'kejadian' itu tidak terjadi, aku juga tidak akan mau mengantarmu," jawab Sasuke agak janggal.
"Kejadian? Kejadian seperti apa maksudmu?" tanya Sakura yang tiba-tiba penasaran.
"Itu…lupakan saja," kata Sasuke sambil menghela napas.
"Tidak bisa! Kenapa kau seperti menyembunyikan sesuatu? Dasar sok misterius," ucap Sakura menyandarkan punggungnya kasar.
Sasuke tidak membalas perkataan Sakura, "Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana?" tanya Sasuke.
"Aku akan memberi tahu di mana aku tinggal padamu, asalkan kau menjelaskan apa yang sebenarnya aku tidak ketahui," ancam Sakura sambil tersenyum licik.
"Kalau begitu aku akan menurunkanmu di sini," ujar Sasuke menepikan mobilnya. Dan berhenti di pinggir trotoar.
"Kau…!" Sakura menggeram, "Aku tinggal di apartemen Simple Leaf," kata Sakura yang akhirnya pasrah.
Sasuke sedikit tersenyum mendengar jawaban Sakura. Senyum tipis yang membingungkan. Entah apa yang disenyuminya. Beberapa menit mereka menghabiskan waktu dengan diam, akhirnya mereka sampai di apartemen tempat tinggal Sakura.
Sasuke turun duluan dari mobil. Disusul Sakura yang kesusahan karena tongkat penyangganya.
"Kenapa kau ikut turun?" tanya Sakura kesal.
"Aku akan mengantarmu sampai kau masuk ke dalam," jawab Sasuke enteng.
"Terserah!" Sakura berjalan duluan menuju tangga. Tetapi karena langkah Sakura yang lamban, Sasuke pun menyusulnya. Sakura hanya diam melihat punggung tegap Sasuke di depannya.
"Kau lama sekali," kata Sasuke yang sudah berdiri di pintu apartemen Sakura. Pintu bernomor 11, di lantai 3. Pintu kedua dari terakhir. Apartemen ini sederhana, seperti apartemen pada umumnya. Dan hanya mempunyai 12 kamar.
"Tentu saja! Kakiku sakit tahu,"
Sakura membuka pintu apartemennya. "Tidak dikunci?" tanya Sasuke.
"Aku sering lupa," jawab Sakura sambil melangkah ke dalam. Tiba-tiba Sakura merasakan sesuatu. Sesuatu yang janggal.
"Tunggu dulu!" teriak Sakura berbalik ke arah Sasuke yang masih di depan pintu.
"Hn?"
"Kau! Kenapa kau bisa tahu dimana kamarku? Aku 'kan berjalan di belakangmu dan aku juga belum memberitahumu dimana kamarku!" Sakura menunjuk Sasuke dengan bingung sekaligus kesal.
"Itu…entahlah," kata Sasuke acuh tak acuh.
"Apa-apaan jawabanmu itu?"
"Sudahlah lebih baik kau istirahat saja," ucap Sasuke tidak mau mengambil pusing seraya menutup pintu kamar Sakura. Setelah tertutup, Sasuke langsung berlari secepat mungkin menuruni tangga.
"Hei tung…" Sakura membuka pintu, dia tidak melihat sosok Sasuke, "Gu…". Sakura menghela napas panjang. Menutup pintu kamarnya kembal dan melangkahkan kakinya menuju sofa, menyandarkan punggungnya. Sakura melihat sekeliling seluruh ruangannya. Berantakan.
"Kalau kakiku sudah sembuh sepenuhnya, aku akan membersihkan ruangan ini," nazarnya tidak semangat.
-TBC-
Bersambungnya aneh. Author tahu itu. Apa boleh buat karena para reviewers meminta agar segera update. Hahahaha apakah sudah terlihat alur ceritanya? Sudah bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi? Maafkan Author karena update-nya lama m(_ _)m itu karena Author UKK, trip bersama JUSSLING (kelas Author) dan beberapa factor kemalasan yang diderita Author T_T baiklah Author hanya meminta REVIEW and NO FLAME! Oh iya, di sini Sasuke memakai kacamata. Apakah menurut kalian keren?
Arigatou kepada para reviewers; kurokurokarasu-chan, Eky-chan, QRen, Maya, Pembaca, d3rin, Midori Kumiko, Yusei'Uzumaki'Fudo, 4ntk4-ch4n, fani hatachi dan SasuSaku!
Semakin banyak yang review, Author semakin semangat untuk update lebih cepat! Keep review!
Salam hangat, Kimmi^^
