Ohayou, konnichiwa, konbanwa. Yosh! Akhirnya update! Maafkan aku karena telat update T_T selama liburan di Manado, Author juga lanjutin ficnya kok! Walaupun Cuma di hape sih soalnya aku ngga tahan soalnya banyak yang minta update kilat
Author mau balas review dulu ya :D
SasuSaku: Terimakasih banyak :D review lagi ya hehe :d
haruno gemini-chan: Asiiiik \:d/ hahahaha Naruto tuh *tunjuk Naru* hehe ngga kok! :O malah mendukung kasih saran dan kritik lagi ya hehe makasih udah review ^^
Onyxita Haruno: Iya nih udah jodoh *manggut-manggut* hehe makasih ya udah review :D
QRen: Iya aku juga berharap begitu! :D
Shizuku Mei-chan: Oh iya? Horeeee! Hehe makasih banyak ne ^^
SasuSaku LoVer 4EveR: Makasih :D soalnya di chapter awal kan Sakura udah kenal sama Neji ^^
4ntk4-ch4n: Iyanih aku juga mau :3 okay makasih banyak :D di jalan kampus hehe deket unsrat ^^
Thia Nokoru: Ok makasih udah review :d payah kenapa? :o
Hikaru Kin: Huahahahaha XD okedeh ;) ini sudah update!
d3rin: Iya! Preman sialan! *dikejar preman* wkwk makasih udah review :D
Aihane-chan: Makasih banyak sebanyak banyaknya / #kisses hahahaha soal itu sudah dijelaskan di chapter ini hehe review lagi ya :d aku udah review yang chapter 3! Keren nih! *Malah curhat #ditabok
KeikoTha: Keikoooooooo! Hehehehe makasih banyak :D hehe okay ini udah update, review lagi ya :3
Hahahahaha begitulah…maaf, ya kalau sok kenal sok dekat ._. soalnya aku seneng banget! Kita sesama otaku harus saling menyayangi :D #ganyambung *tabok hahahahaha langsung saja!
Naruto © Masashi Kishimoto
Dictionary of Love © Author Kimmi (Farisha Tallei)
Chapter 4
Drama/Romance
Rated T for Teenager
Characters:
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke and Hyuuga Hinata
Warning : OOC, AU, misstypo, dll…
Don't Like Don't Read!
-Dictionary of Love-
Normal POV
Kedua pemuda yang saling bersahabat satu sama lain itu pun langsung pergi bersenang-senang meninggalkan kawasan apartemen—yang tentu saja bukan apartemen mewah—bernama Simple Leaf.
Berbeda sekali dengan keadaan Sakura. Gadis itu kini tengah terpuruk oleh beberapa fakta yang sedikit mengerikan untuknya. Sakura sedang duduk di ranjang queen sizenya yang sederhana. Ia duduk meringkuk, tatapan emeraldnya menyiratkan rasa tidak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya dan dialaminya sendiri.
"Ini semua…aneh…" gumamnya.
Sakura juga baru sadar mengapa ia sedikit familiar dengan nama 'Uchiha Sasuke'. Setelah mengobrak-abrik isi laci meja riasnya, ia menemukan seberkas pengumuman yang berisikan pemberitahuan tentang kelasnya dan juga tentang dosennya di KU.
Tertera dengan jelas nama 'Uchiha Sasuke' di sana yang berstatuskan sebagai dosen Sakura selama ia menuntut ilmu di KU. Tentu saja menuntut ilmu di sana tidaklah sebentar. Banyak rintangan dan masalah yang harus dihadapi Sakura di masa-masa belajarnya.
Dan yang paling mengejutkan adalah ketika ia pulang dari sekolahnya. Mengetahui bahwa ternyata tetangga sebelah apartemennya adalah dosennya sendiri. Ironis.
Padahal Sakura sempat mengira bahwa tetangganya itu adalah seorang bapak-bapak tukang mabuk yang kurang mengetahui etika dan tata karma, karena sering pulang malam dan membanting pintu dengan kasar. Itu menjadi salah satu alas an mengapa Sakura tidak pernah tahu bahwa Sasuke adalah tetangganya.
Sasuke sering pulang tengah malam.
Dan selalu berangkat sangat pagi.
Jadi, Sakura tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan tetangganya yang satu itu. Sakura pun tidak pernah berpikir untuk bertemu dengannya. Dan tidak pernah mengira sama sekali bahwa ternyata orang itu adalah 'Uchiha Sasuke'.
Sakura juga baru ingat, pantas saja Sasuke mengetahui nomor kamar Sakura. Kalau Sasuke tahu tentang dirinya, mengapa ia tidak tahu tentang Sasuke? Dan sebelumnya mengapa Sasuke bertanya tentang alamat tempat tinggalnya jika sebenarnya ia tahu di mana Sakura tinggal yang sebenarnya adalah tetangganya? Itu membuat Sakura tambah bingung.
Terlebih lagi dia harus memeriksakan kaki kirinya yang cidera setiap akhir minggu kepada seseorang. Seorang dokter. Dan lagi-lagi dokter itu adalah 'Uchiha Sasuke'. Kita semua tahu, perjumpaan manis antara Sakura dan Sasuke di kamar rumah sakit untuk untuk pertama kalinya—sebenarnya yang kedua jika perlu diingat, waktu kecelakaan—telah dilupakan oleh Sakura dengan tidak sengaja. Yang Sakura tahu, ia bertemu Sasuke pertama kali dengan sifatnya yang menjengkelkan.
"Kenapa dia memasuki kehidupanku?" teriak Sakura.
Memasuki kehidupanmu, Sakura? Sasuke memasuki kehidupanmu? Sepertinya Sakura sedikit merasa janggal atas kalimat yang baru saja dilontarkannya. Apakah sederet kalimat pertanyaan itu memiliki makna lain? Itu yang kita tidak tahu.
"Semoga tidak ada masalah lain yang menyangkut Uchiha itu lagi," mohonnya entah kepada siapa.
Sayang sekali Sakura tidak pernah tahu sisi baik Sasuke.
-Dictionary of Love-
Ramen Ichiraku
"Sebenarnya aku sudah hampir memberitahunya," kata Sasuke yang sedang termenung.
"Lalu?" tanya Naruto sambil memainkan sumpit ramennya.
"Di rumah sakit, di saat malam itu juga. Tapi...dia terlanjur pingsan. Dan setelah itu sepertinya dia tidak mengingatku," jawab Sasuke menatap kosong mangkuk ramen di depannya.
Naruto terdiam menunggu Sasuke melanjutkan ceritanya.
"Lalu, kupikir dia tidak mengingatku gara-gara pingsan sewaktu malam itu. Tapi, kenyataannya dia memang tidak mengenalku..." Sasuke menunduk dalam-dalam.
"Menambah sulit saja,"
"Aku juga sempat bertanya tentang dirinya, dan ia masih menghafal nama dan alamatnya sendiri. Walaupun tidak ada masalah dengan sistem syaraf di otaknya, tidak ada salahnya 'kan untuk mengujinya,"
"I see," Naruto mengangguk paham.
"Yah...begitulah," kata Sasuke mengakhiri sambil melayangkan suapan ramen pertamanya.
Naruto memakan ramennya dalam diam. Tidak seperti biasanya Naruto yang selalu semangat setiap saat—kecuali dalam keadaan lapar—membisu seperti ini. Apalagi dia sedang makan ramen, pasti selalu berisik ingin menambah porsi. Sasuke tidak terlalu memikirkan suasana hening ini, pikirannya berkecamuk. Sasuke harus menerima kenyataan ini. Dia sedang dilema.
"Naruto, kapan aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Sakura?" tanya Sasuke.
"Lebih baik secepatnya. Jangan sampai dia terus menerima kebaikanmu tetapi pada akhirnya dia harus mendengarkan kebenaran pahit itu," kata Naruto menasehati.
"Aku mengerti,"
Tapi tetap saja, seorang Uchiha Sasuke tidak pandai dalam hal seperti itu. Terlebih lagi masalahnya itu menyangkut seorang gadis. Sasuke tidak pernah bercengkerama dengan gadis satu pun—kecuali ibunya—dan Sakura untuk saat ini.
Dan entah mengapa, dari dasar hatinya yang paling dalam Sasuke takut jika dia mengatakan yang sebenarnya, ia akan dibenci oleh Sakura. Padahal Sasuke sendiri tidak keberatan dengan itu, tetapi sekali lagi hati kecil Sasuke mengatakan sebaliknya. Sekeras apapun mengabaikan perasaan itu, malah membuat rasa takut itu kian membesar. Ia bingung harus bagaimana.
Suatu perasaan aneh yang belum pernah dirasakannya selama ini. Perasaan yang membuatnya peduli pada gadis itu, yang selalu membuatnya untuk memikirkan gadis itu.
Suatu perasaan aneh terhadap seorang gadis.
Karena terus memikirkan Sakura, Sasuke merasa dirinya menjadi aneh dan ia pun segera menggeleng-gelengkan cepat kepalanya.
"Teme? Kau ini kenapa?" dari tadi Naruto terus memerhatikan Sasuke. Ekspresinya, gerak-gerik serta tingkah lakunya. Satu kata. Aneh. Sangat bukan Sasuke-Teme yang dikenalnya selama ini.
"Aku...sepertinya terlalu banyak pikiran," ucap Sasuke seraya mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Bisa kubayangkan," ujar Naruto yang sedikit simpati sekaligus ngeri-entah karena apa-melihat sahabatnya bisa terpuruk seperti ini.
Naruto segera berdiri dan menarik tangan Sasuke, "Kita pulang saja, Teme,". Sebelum benar-benar pulang, Naruto berteriak, "Paman! Uangnya kutaruh di meja, ya!". Mereka berdua pun segera menaiki mobil.
Naruto langsung duduk di jok kemudi, "Serahkan padaku. Kau tidak akan bisa menyetir dalam keadaan begini,".
Sasuke hanya diam menandakan ia mengiyakan perkataan Naruto.
Di perjalanan, tiba-tiba Naruto teringat akan sesuatu.
"Tunggu...bukannya tadi itu Sasuke yang traktir, ya?" gumam Naruto dalam hati.
"Paman! Uangnya kutaruh di meja, ya!"
Naruto mendelik kesal ke arah Sasuke di sampingnya. Tapi, diurungkannya niat memarahi Sasuke ketika melihatnya tertidur. Sedingin apapun Sasuke, tetapi kalau sedang tidur, wajahnya benar-benar polos. Naruto saja sampai tidak tega.
"Dasar," ucap Naruto sambil terkekeh geli.
-Dictionary of Love-
Pagi ini semua warga melakukan aktifitas seperti biasanya. Tak terkecuali bagi Sakura. Dia terlihat sedang memakai sepatunya. Setelah selesai, ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Jam 6 tepat.
Sakura segera membuka pintu apartemennya. Dan Sakura membelalak kaget mendapati Sasuke sedang mengunci pintu apartemennya.
"O-ohayou," sapa Sakura sedikit agak canggung.
"Ohayou," berbeda dengan Sasuke yang dingin seperti biasanya. Atau dia sedang menyembunyikan perasaan canggungnya juga?
Sakura buru-buru mengunci pintunya dan berusaha berjalan cepat melewati Sasuke.
"Sakura," panggil Sasuke menghentikan langkah Sakura.
"Sakura?" tanya Sakura heran. Senseinya memanggil nama kecilnya secara tiba-tiba. Mungkin itu yang ada dipikirannya.
"Ah...maksudku, Haruno-san," ralat Sasuke seraya menutupi sebagian wajahnya dengan tangan dan memalingkan wajahnya.
"E-eh, ya? Ada apa?" tanya Sakura. Mereka berdua dilanda kecanggung. Sasuke pun merasakan jantungnya berdetak tak karuan.
"Ano…kau mau ke mana?" tanya Sasuke. Sepertinya dia tidak sadar apa yang baru saja ditanyakannya.
"Hah? Tentu saja aku mau ke sekolah!" jawab Sakura sedikit kesal sekaligus geli. Memangnya apa yang dipikirkan Sasuke ketika melihat Sakura keluar pagi-pagi dari apartemen dan berdandan rapi sambil menjinjing ransel.
Sasuke merutuki dirinya. Pertanyaan bodoh.
"Ayo," ujar Sasuke singkat. Berusaha mempertahankan wajah stoicnya.
Sakura bingung. Apa maksudnya Sasuke itu mengajak berangkat bersama? Pikirnya.
Sakura hanya mengikuti Sasuke dari belakang tanpa berkata apa-apa. Mereka berdua terus berjalan ke tempat mobil Sasuke diparkirkan.
"Dia tidak seburuk yang kukira," gumam Sakura pada dirinya sendiri.
-Dictionary of Love-
Sasuke dan Sakura sudah sampai di tempat parker khusus warga KU. Mereka berdua keluar dari mobil. Sepertinya tidak ada yang memerhatikan mereka karena KU masih sangat sepi, mungkin ini alasan Sasuke berangkat sangat pagi agar tidak menjadi perhatian gara-gara berangkat bersama mahasiswinya.
"Terimakasih, ya, Uchiha-san," ucap Sakura sedikit menunduk, tangan kiri yang memegang penyangga kakinya pun ikut bergetar. Entah karena apa.
"Hn. Panggil aku sensei," kata Sasuke sambil berlalu meninggalkan Sakura. Sifat dinginnya tidak berubah.
"Ah! i-iya…sensei," Sakura memelankan suaranya, ia tahu pasti senseinya itu tidak akan mendengarkan kata-kata dari Sakura.
"Kenapa aku jadi gugup seperti ini?" geram Sakura. Selama di perjalanan tadi ia sama sekali tidak mau melihat wajah Sasuke, terlebih lagi matanya yang tajam itu. Duduk di sebelahnya saja sudah membuat ia ingin keluar dari mobil Sasuke. Sakura benar-benar gugup, padahal ia belum pernah merasakan hal seperti ini terhadap Sasuke. Ia pernah merasakan hal yang sama sebelumnya, tetapi pada teman laki-lakinya di masa ia masih di sekolah menengah. Menyadari hal itu Sakura langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"I-itu tidak akan mungkin terjadi!" batin Sakura histeris.
Tidak mau pikirannya itu terus berlanjut, Sakura pun langsung memasuki sekolahnya.
Sakura berjalan ke arah kafeteria karena ia merasa sangat lapar. Sebenarnya Sakura sengaja berangkat sangat pagi agar tidak bertemu dengan Sasuke. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Ia pun hanya berjalan lemas menuju kafeteria.
Sesampainya di sana, ia mendapati Hinata sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Tanpa basa-basi lagi Sakura langsung menyapa Hinata.
"Hinata-chan!" seru Sakura sambil duduk di depan Hinata.
"Eh? Sakura-chan?" kata Hinata sedikit kaget.
"Kau sedang apa?" tanya Sakura.
"Ah…tidak, tadi temanku mengirim pesan padaku," jawab Hinata seraya menunduk, terlihat jelas ada rona di pipinya.
"Hm? Pacar, yaaa~?" tebak Sakura seraya menaikan sebelah alisnya.
"B-bukan, kok! Bukan!" sanggah Hinata halus. Beberapa bulir keringatnya jatuh melewati pipinya.
"Hahahahaha…calm down, Hinata-chan," ujar Sakura sambil terkikik geli. Hinata pun hanya menghela napas panjang.
"Tunggu, ya! Aku mau mengambil makanan dulu," ucap Sakura seraya berdiri. Hinata mengangguk sambil tersenyum.
Sakura pun langsung berjalan ke arah tempat makanan yang berada di dekat pintu masuk kafeteria.
Ketika Sakura mau mengambil nampan, sekilas ia melihat seseorang yang mendekati pintu masuk. Setelah ia melihat cukup lama, Sakura pun menyadari bahwa orang itu adalah Sasuke!
Tiba-tiba saja Sakura menaruh kembali nampannya dan berlari dengan kesusahan—karena kakinya belum cukup pulih—ke arah pintu keluar.
Hinata yang melihat Sakura berlari seperti itu pun langsung memanggilnya.
"S-Sakura-chan!" seru Hinata. Ia pun langsung berdiri dan mengikuti Sakura dari belakang.
Setelah Sakura berjalan cukup pelan, Hinata menepuk bahu Sakura.
"Hosh…Sakura-chan?" tanya Hinata. Wajahnya terlihat khawatir.
"Hinata? Gomennasai," kata Sakura sangat menyesal.
"Tidak apa, Sakura-chan. Tapi… ada apa?" Hinata sangat penasaran karena melihat Sakura yang tiba-tiba lari tanpa alasan.
Sakura pun tersentak. Benar juga, ada apa dengannya? Kenapa ia langsung lari setelah melihat Sasuke ke kafeteria? Sakura tidak takut ataupun marah terhadap Sasuke, lagi pula wajar jika Sasuke ke kafeteria. Itu 'kan tempat umum.
Sakura merasa sangat bodoh sekarang. Padahal ia sangat lapar, tapi entah kenapa mengingat Sasuke ada di sana ia tidak mood lagi untuk makan.
"Ada apa denganku? Kenapa aku jadi seperti ini?" tanyanya dalam hati.
"Sakura-chan?" Hinata pun membuyarkan lamunan Sakura.
"A-aku tidak apa-apa, gomen telah membuatmu khawatir," kata Sakura.
"Baiklah…" Hinata hanya tersenyum, ia tahu bahwa Sakura belum siap untuk menceritakan masalahnya kepada teman barunya.
Mereka berdua pun sepakat untuk ke kelas masing-masing. Karena sepertinya tidak ada yang perlu dilakukan lagi.
Sakura sangat tidak semangat begitu menyadari dosennya itu adalah Sasuke. Sebenarnya dari hati yang paling dalam ia merasa sangat senang, tetapi di sisi lain ia begitu malu bertemu dengannya. Sakura menjerit dalam hati karena pikirannya yang kacau. Sakura tidak bodoh untuk menyadari perasaannya sendiri.
Begitu sampai kelas, Sakura duduk di bangkunya—tepatnya di depan meja dosennya. Sakura hanya menghela napas berat dan membaringkan kepalanya di atas meja. Ia sedikit mengantuk.
Jam pun sudah menunjukkan bahwa kelasnya akan segera dimulai. Orang-orang yang kemarin datang sudah duduk di bangkunya masing-masing, siap menuntut ilmu.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan kasar. Sakura yang sedang tertidur itu pun langsung membuka matanya kaget, dan ia tahu pasti siapa yang melakukan hal semacam itu. Dosennya, Uchiha Sasuke.
Di hari pertama Sakura belajar di KU sebenarnya terlihat biasa, tapi sang dosenlah yang membuat Sakura belajar di KU dengan tidak biasa.
Ingin sekali Sakura menyangkal, tapi berusaha sekuat apapun ia malah membuatnya tambah kacau.
Akhirnya kelas Sakura pun berakhir. Di hari pertama memang masih mengenal tentang KU dan dasar-dasar ilmu kedokteran.
Semuanya berhambur keluar kelas. Karena Sakura tidak bisa berlari lagi, ia menjadi yang terakhir keluar dari kelas. Tapi siapa sangka, bahwa sang dosen—Uchiha Sasuke—menunggu kepulangan dirinya.
"Haruno,"
"Ah! K-kau?" kata Sakura refleks menunjuk Sasuke.
Sasuke yang ditunjuk seperti itu oleh muridnya pun langsung menatap tajam Sakura di balik kacamatanya.
"Huaa! G-gomennasai, Uchiha-sensei!" kata Sakura sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Entah kenapa ia tidak bisa membantah Sasuke.
Sasuke yang melihat Sakura seperti ini pun hanya tersenyum tipis, padahal dulu Sakura sering marah kepada dirinya.
"Kau langsung pulang, 'kan?" tanya Sasuke.
"I-iya," jawab Sakura tanpa melihat wajah Sasuke.
"Ayo," Sasuke langsung meninggalkan Sakura yang masih diam di tempat.
Sakura sedikit kaget. Senseinya itu secara tidak langsung mengajaknya pulang bersama. Tidak bisa dipungkiri lagi, Sakura sangat senang. Sakura segera mengikuti Sasuke dari belakang.
-Dictionary of Love-
Di perjalanan Sakura hanya diam tidak berkata apa-apa. Perasaan itu terus menghantuinya. Sampai ia berani berkata, "Kau ternyata orang yang baik,".
"Hn? Tidak juga," kata Sasuke datar. Inilah sikap yang Sakura benci.
"A-apa? Aku 'kan sudah baik memujimu!" ucap Sakura kesal.
Sasuke menyeringai sangat tipis. Sengaja rupanya.
"Sikapmu tidak berubah!" ujar Sakura sebal. Sepertinya Sakura tidak sadar telah dipermainkan oleh Sasuke.
Ternyata Sasuke menyadari kegugupan Sakura, oleh karena itu ia mencari perhatian sedikit. Seorang Sasuke mencari perhatian seorang gadis? Benar-benar menarik dan langka.
Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di Simple Leaf. Sakura dan Sasuke menaiki tangga bersama.
"Kenapa kau mengikutiku?" kata Sakura kesal.
"Apa sih?" Sasuke menyerngit heran. Ada apa dengan gadis itu?
Sakura pun langsung ingat bahwa Sasuke adalah tetangganya, "Ugh…" Sakura langsung berjalan cepat meninggalkan Sasuke.
Sesampainya di lantai 3, Sakura langsung merogoh isi tasnya. Mencari kunci.
"Tumben kau tidak lupa," Sasuke menimpali.
"A-apa?" tanya Sakura bingung, tidak mengerti arah pembicaraan Sasuke.
"Mengunci pintu," jawab Sasuke seraya menunjuk pintu apartemen Sakura.
Sakura hanya mendengus, lalu melanjutkan kembali mencari kuncinya yang tersimpan sembarangan di dalam tasnya.
Sasuke yang penasaran pun mencoba membuka pintu Sakura, dan…
"Tidak dikunci," kata Sasuke.
"Eh?" Sakura kaget melihat pintunya yang terbuka oleh Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum mengejek melihat ekspresi Sakura yang seperti itu.
"Kau jangan membuka apartemen seorang perempuan sembarangan!" ucap Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Setidaknya aku membantu," Sasuke pun langsung masuk ke dalam apartemen Sakura.
"H-hei! Apa yang kau lakukan?" seru Sakura menyusul Sasuke masuk.
Sasuke tidak memerdulikan perkataan Sakura, ia mendengar suara televisi yang menyala. Dan suara sesuatu di dapur.
"Sakura?"
"Apa?" tanya Sakura sedikit membentak.
"Kau tinggal bersama siapa di sini?" tanya Sasuke.
"Aku tinggal sendiri di sini," kata Sakura heran. Apakah ada sesuatu yang aneh di apartemenku? Tanya Sakura dalam hati.
"Tapi, sepertinya tadi aku…."
"Saku-chaaaaaaaaaaan~!" seru seseorang yang muncul dari arah dapur.
"Kaa-san!" teriak Sakura kaget.
"K-kaa-san?" Sasuke tertohok.
-TBC-
Akhirnya update jugaaaaaa! Maafkan aku telah membuat kalian menunggu lama m(_ _)m langsung REVIEW dan NO FLAME ya! CONCRIT boleh! Maaf kalau banyak typos atau alur yang terlalu cepat, karakter sedikit dan ficnya masih pendek!
Salam hangat, Kimmi^^
