Naruto © Masashi Kishimoto

Dictionary of Love © Author Kimmi

Chapter 5

Drama/Romance

Rated T for Teenager

Characters:

Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata and Nara Shikamaru

Warning: OOC, AU, misstypo, dll…

Don't Like Don't Read!

-Dictionary of Love-

Sasuke POV

A-apa? 'Ibu' katanya? Gawat! Kenapa harus dengan situasi seperti ini?!

"Apa yang ibu lakukan di sini?" tanya Sakura yang berada di belakangku dengan sedikit heran.

"Tentu saja menemui anakku satu-satunya! Eh... siapa pemuda ini, Sakura?" ibu Sakura melihatku dari ujung kaki hingga kepala, tepatnya wajahku. Aku merasakan banyak firasat buruk. Sangat buruk.

"Ya ampun, Sakura! Kau mempunyai pacar yang sangat tampan! Siapa namamu?" tanya ibu Sakura antusias.

"Ah! Saya bukan... Nama saya Uchiha Sasuke," jawabku sopan.

"Ah, Uchiha! Sampai-sampai kau membawanya ke apartemen...oh, astaga! Apa yang terjadi dengan kakimu, Sakura?" ibu Sakura segera melihat kaki putrinya, wajahku yang sempat menarik perhatiannya pun sepertinya sudah dilupakan. Sekarang ia sudah melihat kondisi kaki Sakura, tamatlah riwayatmu Uchiha Sasuke! Karena sudah menyelakai anak orang!

"I-ini sudah tidak apa-apa kok," kulihat Sakura berkata seperti itu sambil tersenyum.

"Siapa yang menabrakmu, Sakura?" tanya ibunya dengan raut wajah yang serius. Tipikal seorang ibu memang...EH? tunggu dulu...'menabrak' katanya? Rupanya dia seorang dokter!

"I-itu..."

"Apa kau sudah mendapatkan pertolongan pertama? Bagaimana kondisi kakimu sekarang? Apakah masih terasa sakit?" tanya ibu Sakura cemas. Kalau seperti ini tidak ada jalan lain...

"Anda tenang saja, saya adalah dokter pribadi Nona Sakura. Semua kebutuhan kesehatan sudah saya lakukan dengan baik," kataku dengan berwibawa. Apa boleh buat, terpaksa aku harus mengatakan hal itu. Yah~ bisa kulihat wajah Sakura yang sangat kaget dan juga tatapan matanya yang meminta penjelasan.

"Oh! Kau ternyata seorang dokter, kukira kau adalah kekasih putriku," ucap ibunya sedih. Tch... jangan konyol.

"Ibu cukup lega... Ibu tidak mengira kau akan sepintar ini untuk memanggil dokter pribadi, yang tampan pula," kata ibunya sambil tersenyum jahil pada Sakura yang membuat wajahnya memerah dan mengomel tidak jelas. Menyebalkan. Aku tidak suka Nyonya ini.

"Baiklah. Ibu datang ke sini untuk sekedar melihatmu saja, entah kenapa ibu merasa tidak enak. Dan benar saja ketika ibu datang, kakimu sudah menjadi tiga. Dasar ceroboh," katanya sambil menggelengkan kepalanya pelan seraya melipat kedua tangannya.

"Sebenarnya ini salah si pengemudi, dia melanggar lampu merah dan menabrakku begitu saja! Benar-benar tidak bertanggung jawab! Dia langsung kabur entah kemana," kata Sakura penuh dendam.

Menabrak begitu saja... dan tidak bertanggung jawab, katanya?

"Ibu tidak akan memaafkan orang itu karena sudah menyelakai anakku! Kalau bertemu dengannya akan ibu beri pelajaran!"

Oke. Aku benar-benar merasa terpojok di sini. Andai saja ada Dobe di sini... yah, setidaknya mungkin dia bisa membelaku.

"Yah~ untung saja 'cowok Uchiha' ini mau menolongku dengan membayar semua biaya rumah sakit dan merawatku untuk saat ini," ujar Sakura acuh tak acuh.

Kalau tidak mau berterima kasih tidak usah saja!

"Benarkah?! Oh, kau 'cowok berhati mulia yang tampan'!" kata ibu Sakura seraya meraih kedua bahuku. Ya, aku adalah seorang 'cowok berhati mulia dengan wajah tampan yang tidak bertanggung jawab'. Semoga itu membuat kalian senang.

"Terimkasih," kataku dengan senyum tipis.

"Kau tidak perlu sungkan! Lagipula kau adalah dokter pribadi Sakura, 'kan? Semuanya aku serahkan padamu, nak!" ujar ibu Sakura dengan senyum sumringah yang sangat lebar. Entah kenapa aku jadi ingat ibuku.

Aku lihat Sakura memandangiku sambil berusaha menahan tawa. Ck...tertawalah jika itu membuatmu senang, Nona.

"Nah, karena kurasa Sakura baik-baik saja. Ibu akan pulang!"

"P-pulang? Kenapa cepat sekali?" wajah Sakura langsung berubah pesat.

"Ayahmu tidak bisa ditinggal di rumah sendirian, Sakura...bisa-bisa rumah kita dibakar olehnya," katanya.

Aku dan Sakura sweatdrop mendengarnya.

"Kaa-san pulang dulu. Uchiha-kun, jaga Sakura baik-baik, ya! Dia anak yang susah diatur!"

"I-ibu! Aku tidak seperti itu!"

"Hihihi...sampai jumpa, Sakura," ibunya memeluk Sakura sangat erat. Setelah itu sosok sang ibu sudah tidak ada di kamar ini. Nah...apa yang akan terjadi selanjutnya?

"Apa maksudmu dengan dokter pribadi, hah?!" tanya Sakura sambil menunjuk tepat di hidungku yang mancung. Dasar murid tidak sopan.

"Seharusnya kau berterima kasih kepada DOSEN-mu, dengan begitu ibumu tidak akan merawatmu dan mengajakmu pulang, 'kan?" kataku sambil menekankan kata 'dosen'.

"Huh! Hal seperti itu 'kan sama sekali bukan urusanmu!"

Aku hanya diam. Aku tahu dia akan mengatakan sesuatu.

"Tunggu dulu! Jadi apakah kau juga tahu ibuku seorang dokter?" tanyanya ragu-ragu.

"Tentu saja. Jangan meremehkan seorang dokter,"

Sakura hanya memalingkan wajahnya dan langsung pergi ke arah dapur. Karena bosan, langsung saja aku melangkah ke ruang tengah sambil duduk di sofa dan menyalakan tv.

"Hei! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura sangar sambil membawa sebuah tomat dari dapur. Wow...tomat.

"Hanya menonton TV. Wajar, 'kan? Aku adalah dokter pribadimu," ujarku dengan seringai yang tidak bisa aku tahan.

Sakura pun melempariku dengan sebuah tomat yang dapat aku ambil dengan mudah. Langsung saja aku memakannya.

"Hn. Terimakasih,"

"Menyebalkan!"

Melihat dia kesal seperti itu membuatku langsung tertawa saat itu juga. Tertawa dalam hati tentu saja.

End of Sasuke POV

-Dictionary of Love-

Normal POV

"Teme~ aku bosan!" kata Naruto sambil berguling-guling di atas kasur milik Sasuke.

"Hn. Pergi sana," ujar Sasuke tetap tidak menggerakan kepalanya dari arah laptop.

Naruto hanya cengo mendengarnya. 'Teme kejam sekali, sih!' batinnya. Tiba-tiba Naruto beranjak dari kasur sambil membawa sebuah bantal dan guling.

"Baguslah kau mau tidur di sofa," ucap Sasuke seraya memutar kursi rodanya.

"Siapa bilang aku akan tidur di sofa? Aku mau tidur di kamar Sakura! Wleee!" teriak Naruto sambil berlari dan menjulurkan lidahnya kepada Sasuke disertai seringai licik. Poor Sasuke.

Sasuke hanya diam melihat Naruto yang sudah menghilang dibalik pintu yang baru saja ditutup dengan keras.

"Tidak mungkin Sakura akan membiarkan laki-laki seperti Dobe menginap di kamarnya," kata Sasuke sedikit tenang. Sedikit.

Sepuluh menit kemudian, Naruto tidak kembali. Dan ia tidak mendengar suara apapun dari kamar sebelahnya

"Dia tidak mungkin membiarkan Dobe tidur dengannya, 'kan?!"

Sasuke mulai cemas. Apakah ini menandakan sesuatu?

Karena khawatir, Sasuke beranjak dari kursinya dan pergi ke apartemen Sakura. Sasuke pun mengetuk pintu apartemennya.

Tok! Tok! Tok!

"Haruno! Buka pintunya!"

Tidak ada yang menjawab.

Sasuke pun berinisiatif membuka pintu karena tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Ketika Sasuke akan memegang kenop pintunya...

"A-aduh! Sakit Naruto!"

'Itu suara Sakura!' batin Sasuke.

"Maaf! Aku terlalu keras, ya?"

'Oh my GOD! Naruto! Apa yang dia lakukan?!' batin Sasuke menjerit. Dia semakin merapatkan telinganya dengan pintu untuk mendengar lebih lanjut apa yang terjadi di dalam sana.

"Kau ini pria, Naruto! Lembutlah pada seorang wanita! Kalau berbekas bagaimana?" suara Sakura sedikit manja dibagian terakhir. Membuat Sasuke tidak bisa berpikir jernih.

'Pria? Naruto itu bocah!'

"Aku akan lebih lembut, kau bergairahlah sedikit, Sakura!"

"Di sini terlalu panas! Kita tukar posisi saja, bagaimana?"

"Dengan senang hati!"

'A-apa yang terjadi? Cukup, Naruto brengsek! Itu sangat keterlaluan!' Sasuke pun langsung membanting pintu apartemen Sakura.

BRAAAK!

"Hentikan, Baka-Dobe! Kau sudah gila!" teriak Sasuke penuh emosi.

Naruto dan Sakura menghentikan aktifitas mereka. Naruto pun langsung berdiri karena tidak terima dirinya dikatai gila.

"Gila? Kau yang gila, Teme! You called me insane for no reason!" teriak Naruto tidak kalah keras seraya melempar kartu-kartunya ke arah Sasuke.

"K-kartu?" gumam Sasuke tetapi tetap bisa didengar oleh Naruto.

"Apa, sih? Memangnya kenapa?" Naruto mengernyit heran.

Sedangkan Sakura yang tidak mengerti apa pun hanya melihat mereka berdua dengan tatapan heran.

"Maaf..." kata Sasuke meminta maaf atas kesalahpahamannya kepada Naruto sambil menunduk malu. Walaupun wajahnya terlihat kesal, rona tipis terlihat di pipinya.

"Ahh~ tidak apa-apa, Sasuke," kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, pipinya langsung merah seperti Sasuke. Perlu diingat, Naruto itu sangat sensitif jika ada yang meminta maaf padanya dengan sopan. Dia memaafkan Sasuke walaupun ia sebenarnya tidak mengerti apa-apa. Terlalu simpatik.

Melihat respon Naruto yang seperti biasanya, Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Sasuke sudah bersahabat dengan Naruto sejak lama, karena itu ia tahu betul sifat, kebiasaan dan seluk beluk seorang Naruto. Sasuke memang pandai memanfaatkan segala hal untuk keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri.

"Kalian itu kenapa, sih?" tanya Sakura sang pemilik apartemen, karena merasa tidak diakui kehadirannya dia jadi kesal sendiri.

Sasuke mengakui bahwa di kamar ini suhunya sangat tinggi. Pantas saja Sakura berkata seperti itu.

"Itu masalah antara pria dan bocah," jawab Sasuke dengan wajah datarnya.

"Hehehe...iya benar! Eh? Siapa yang bocah, Temeeeee?!" protes Naruto yang sudah kembali normal.

"'Teme'? Padahal kau baru saja memanggilku 'Sasuke'," kata Sasuke menyeringai. Sekarang skor antara Naruto dan Sasuke adalah seri.

"Sasuke-Temeeeeee~!"

-Dictionary of Love-

Sakura sedang makan sendirian di kafeteria di sekolahnya.

"Sakura," sapa Hinata sambil menepuk bahunya.

"Ah...Hinata," Sakura menyapa balik kepada Hinata.

"Sendirian saja?"

"Iya. Aku belum punya teman sesama jurusan. Aku kurang pandai bergaul," kata Sakura sedikit malu.

"Aku juga. Bagiku memulai pertemanan adalah hal yang paling sulit," ujar Hinata sambil tersenyum.

"Benarkah? Padahal kau gadis yang baik," ucap Sakura kaget.

"Yah, mungkin. Tapi, rasanya sangat sulit untuk saling memahami,"

"Kalau denganku? Apakah kau bisa paham diriku?" tanya Sakura penasaran.

"Eh? Hal seperti itu...s-sepertinya aku belum tahu. Kita belum pernah saling b-berbagi," jawab Hinata sambil memainkan jari-jarinya. Pipinya memerah karena pertanyaan Sakura tadi.

"Kalau begitu mulai sekarang kita harus saling berbagi!" katanya ceria.

"I-iya!" Hinata pun jadi semangat. Rasanya setelah ini akan banyak sesuatu yang terjadi.

"Nah, jadi..." Sakura menghentikan perkataannya, lalu tersenyum jahil.

"Siapa yang mengirimu pesan tempo hari?"

"EH?! A-ano...itu..." Hinata kembali menunduk. Kini Sakura sudah mulai memakai cara licik. Seperti Sasuke. Ehm...

"Sudah kuduga itu adalah kekasihmu!" tebak Sakura penuh rasa percaya diri.

"B-bukan...dia hanya temanku," akhirnya Hinata mulai berani menatap emerald Sakura dengan lavender-nya.

"Ah! Kalau begitu pasti dia adalah orang yang kau sukai!"

Bingo!

"Ah...i-i-itu...s-s-se-sebenarnya...i-itu...itu..." wajah Hinata bak kepiting rebus. Sakura membuat Hinata tak berkutik.

"Hahahaha...sudah kuduga. Kalau boleh tahu, siapa cowok yang beruntung itu?"

"D-dia kakak kelasku sewaktu di sekolah menengah. Laki-laki yang baik dan penuh semangat, di-dia selalu ceria," Hinata pun langsung diam, tidak melanjutkan ceritanya.

"Memangnya sekolah menengahmu dimana Hinata? Kau tidak satu sekolah di sekolah lanjutan?" tanya Sakura ingin tahu.

"Di Konoha Academy. Iya, tapi hanya dua tahun karena aku melanjutkan sekolahku di Manchester," jelas Hinata malu-malu.

"Di Manchester?! Kau tahu Steven Gerrard, Hinata? Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Sakura yang begitu terkesan.

"A-Aku belum pernah bertemu dengannya. Umm... Sakura, Steven Gerrard itu dari Liverpool, lho," kata Hinata sambil tersenyum.

Menyadari hal itu wajah Sakura langsung merona hebat. Pengetahuannya tentang bola hanya pemain-pemain ganteng dan hebat saja yang diketahuinya. Untuk masalah klub itu nol besar.

"Ngomong-ngomong sewaktu di Manchester bagaimana? Pasti banyak murid bule yang tampan dan keren," Sakura menutupi rasa malunya dengan melanjutkan topik sebelumnya.

"Hihihi... Sekolahku di sekolah lanjutan khusus perempuan, di Manchester High School for Girls. Ayahku yang protektif tidak berani kalau di sekolah campuran, takut terjadi hal yang tidak-tidak mengingat perbedaan akulturasi." Ucapnya dengan kikikan pelan.

"Wah, benar-benar seperti ayahku. Aku juga bukan di sekolah campuran. Aku bersekolah di sekolah asrama khusus perempuan, Konoha High School," ujar Sakura sedikit cemberut karena mengingat sifat ayahnya.

"Girls Boarding School? Adik perempuanku ingin sekali ke sekolah itu, sebagai alumni mohon doanya, ya, Sakura."

Sakura lantas membalasnya dengan sebuah senyuman dan anggukan semangat. Kemudian ia mengingat satu hal.

"Ah, Hinata. Kau belum memberi tahuku siapa nama cowok itu," katanya sambil memperlihatkan senyum jahil andalannya.

"E-eh? Itu... Namanya Uzumaki Naruto,"

Mendengar hal itu, senyum jahil di wajah Sakura memudar dan menatap Hinata tidak percaya.

"UZUMAKI NARUTO?!" teriak Sakura menggelegar. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kafeteria langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Sakura. Dan tanpa diketahui dosennya itu sedang berada di sana untuk makan siang, 'Apa yang dia lakukan? Sampai menyebut nama si Dobe segala, dasar norak,'. Lalu ia pun melanjutkan makan siangnya dengansedikit menahan malu yang ia tidak tahu mengapa bisa seperti itu.

"S-S-Sa-Saku...S-Saku-ra...ka-kau menyebut namanya t-terlalu keras..." kata Hinata sambil menahan dirinya untuk tidak pingsan.

"Maafkan aku, Hinata! Maaf! Aku tidak menyangka kau menyukai Naruto!" ujar Sakura memelankan suaranya sambil menempelkan salah satu sisi wajahnya di atas meja datar berbentuk lingkaran berwarna putih di depannya. Malu dan kaget. Entah kenapa mendengar bahwa Hinata menyukai Naruto membuatnya tidak enak hati.

"Eh? Kau mengenal Naruto?" tanya Hinata sedikit terkejut.

"Tentu saja. Sekarang dia tinggal bersama Sasuke di sebelah apartemenku!" ujarnya sedikit berbisik yang tetap bisa didengar oleh Sasuke di belakangnya. Cukup tahu, telinga Sasuke sangat tajam.

"M-maksudmu Sasuke itu Uchiha-sensei dari dosen jurusan kedokteran?"

"Hah? Ah~hahahaha...i-iya, maksudku itu!" kata Sakura sedikit canggung, 'Walaupun sikap Uchiha itu sangat kekanakan, aku harus tetap memanggilnya dengan sopan!' ucapnya dalam hati.

"Hinata, kenapa kau memanggil Naruto dengan 'Naruto'? Bukankah Naruto dan Uchiha-sensei itu umurnya sama?" tanya Sakura penasaran.

"Dia memang kakak kelas waktu dulu, tetapi dia bilang bahwa dia tidak suka dipanggil 'kakak'. Untuk soal itu, Naruto lebih muda dari Uchiha-sensei. Dulu mereka satu sekolah sewaktu masih di sekolah lanjutan," jawab Hinata menjelaskan.

"Oh begitu...berarti Uchiha-sensei sudah sangat tua, ya?" ucap Sakura polos dengan bermaksud mengejek. Dia tidak mengetahui bahwa ada Sasuke di belakangnya. Hinata bisa merasakan aura gelap nan dingin milik Sasuke.

"Psssstt!" Hinata mengangkat satu jari di depan bibirnya mengisyaratkan untuk diam. Tatapannya berkata bahwa Sakura dalam bahaya besar.

Sakura yang sedikit kaget atas reaksi Hinata pun segera melihat sekeliling, dan benar saja bahwa aura gelap tersebut kian membesar.

'Gawat!' batinnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.

"Setidaknya untuk saat ini. Sepertinya aku tidak sanggup untuk mengikuti pelajarannya hari ini!" ucap Sakura pasrah.

"Sebenarnya sudah seberapa dekat kau dengannya?" tanya Hinata ingin tahu.

"Begitulah, dia itu orang yang menyebalkan," kata Sakura acuh tak acuh sambil memainkan sendoknya.

"B-benarkah? Waktu itu aku pernah mengikuti acara reuni akbar di sekolahku, dan dia juga ikut. Menurutku dia baik, hanya saja pendiam,"

"Dia itu suka menjaga image," ujar Sakura bosan.

"Hahahaha...begitu, ya?" Hinata hanya menanggapi Sakura dengan tawanya.

Sesudahnya membicarakan sang dosen, mereka pun langsung pergi dari kafeteria untuk mengikuti kelasnya masing-masing. Berdoa saja untuk Sakura agar tidak terjadi apa-apa dengannya di kelas nanti.

-Dictionary of Love-

Sasuke dan Naruto sedang mengikuti acara atas kenaikan jabatan teman lama mereka, Nara Shikamaru. Rumah yang sederhana tetapi bisa dibilang luas ini sangat ramai oleh beberapa tamu yang datang.

"Merepotkan~ padahal sudah kubilang untuk tidak mengadakan acara seperti ini," ujar Shikamaru sambil menguap.

"Kau ini tidak sopan! Mereka semua datang ke sini untuk mengucapkan selamat untukmu!" kata istrinya—Temari—menceramahi suaminya yang sama sekali tidak berubah sejak pertama kali bertemu.

"Benar, Shikamaru! Kau harus bergairah sedikit!" kata Naruto sambil meminum sakenya.

"Bergairah apanya? Ngomong-ngomong...kau tidak minum, Sasuke?" tanya Shikamaru seraya menggigit satu buah tusuk dango.

"Itu tidak terlalu baik untuk kesehatan," jawab Sasuke sambil menaikkan kacamatanya yang turun dengan satu jari.

"Yah...aku lupa kau sedikit sensitif untuk masalah kesehatan,"

"Dia tidak minum, tapi...ayolah, Teme~ sekali saja~" Naruto pun merangkul Sasuke, disuguhinya segelas sake kepada Sasuke. Sepertinya Naruto sudah terlalu banyak minum. Lihat wajahnya yang sudah memerah dan gerakannya yang sempoyongan.

"Padahal seharusnya aku ada di apartemen untuk mengerjakan sesuatu," kata Sasuke berusaha menjauhkan tubuhnya dari Naruto.

"Bersenang-senanglah, kalian berdua," Shikamaru akhirnya pergi ke ruang tamu dan langsung berbaring tidur di sofa, sedangkan para tamu berada di ruang tengah dan dapur. Temari hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat suaminya seperti itu.

"Dobe, aku tidak minum," tolak Sasuke sambil menampeleng pelan wajah Naruto.

"Ah~Teme jangan begitu~...MINUM!" kata Naruto sangar sambil meminumkan paksa segelas sake ke mulut Sasuke. Naruto, apa kau lupa? Sasuke itu mantan kakak kelas dua tingkat di atasmu.

Sasuke sangat shock oleh perbuatan Naruto. Perlahan kepalanya terasa berat dan pusing. Wajahnya memanas dan ada sesuatu yang bergejolak aneh di lidahnya.

"Dobe... Apa yang kau... Lakukan?!" Sasuke berusaha menahan dirinya agar tidak mabuk. Tetapi karena Sasuke memang lemah terhadap sake, dia tidak bisa menyadarkan dirinya sendiri.

"Kau payah, Teme! Baru segelas saja sudah seperti ini," kata Naruto meremehkan.

Sasuke tidak merespon, ia malah menambah lagi segelas sake. Sepertinya ia memang sudah terjebak oleh minuman fermentasi tersebut.

"Seharusnya Sasuke minum junmaishu saja," ujar Temari sambil berkacak pinggang.

"Aku tidak tahu," Naruto hanya mengangkat bahu. Temari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Sasuke!" panggil seseorang—tepatnya seorang gadis—dari arah dapur.

"Kau Yamanaka Ino, bukan?" tanya Naruto memastikan. Naruto dan Ino adalah teman sesama angkatan sewaktu masih di sekolah menengah.

"Masa kamu lupa?," jawab Ino agak dingin karena yang menyahut bukan Sasuke, melainkan Naruto.

"Bukan begitu, maksudku di sini 'kan kebanyakan mantan anak-anak dari anggota OSIS," ujarnya. Merasa diabaikan Naruto pun melanjutkan memakan ramennya.

"Sasuke, besok aku akan berkunjung ke apartemenmu!" kata Ino sambil tersenyum manis. Sasuke hanya diam sambil meneguk sake yang kesekian kalinya, sama sekali tidak menoleh ke arah Ino yang duduk di depannya. Ino yang sudah maklum dengan tabiat Sasuke hanya menautkan jemari lentiknya di atas ozen.

Naruto tahu bahwa Ino sudah menyukai Sasuke sejak lama. Walaupun Ino tidak pernah mengatakan kepada Naruto secara langsung, Naruto bisa menyadari hal itu dari gelagat dan ekspresi Ino yang berbeda jika sudah melihat Sasuke. Naruto sangat peka untuk hal yang seperti itu.

"Dobe, kita pulang...sekarang," kata Sasuke yang akhirnya berhenti minum sake, Sasuke sepertinya sudah mabuk berat. Ino menatap wajah Sasuke dengan khawatir.

Sasuke berdiri dan hampir saja jatuh jika tubuh tegapnya yang linglung tidak ditahan oleh Naruto.

"Acaranya dimulai sebentar lagi! Kau menginap saja di rumah Shikamaru, kau tidak mungkin pulang dalam keadaan begini," ujar Naruto. Naruto tidak mungkin meninggalkan acara Shikamaru yang penting ini dan akan dimulai beberapa menit lagi, walaupun Shikamaru tidak terlalu menganggap istimewa acara ini tapi Naruto tahu ini adalah salah satu prioritas Shikamaru yang diimpikannya sejak dulu.

"Lebih baik aku mengantar Sasuke pulang," kata Ino yang membuat Naruto kaget.

"Tidak, Ino. Lebih baik aku yang mengantarnya...nanti," ucap Naruto sedikit halus, tidak mau melukai hati Ino karena ia takut kalau terjadi apa-apa terhadap Ino.

Sasuke memang tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Ino, tetapi dia sedang mabuk berat! Nafsu seorang pria yang mabuk itu sangat mengerikan. Naruto tidak mau mengambil resiko apapun.

Ino mengangguk pelan, sedikit kecewa.

"Teme, kau beristirahat saja dulu," Naruto pun menuntun Sasuke untuk berjalan ke arah kamar tamu.

Setelah itu Naruto menutup pintu kamar, Shikamaru datang. "Kau sudah bangun?" tanya Naruto.

"Begitulah...kau ini sangat merepotkan, Sasuke juga benar-benar polos," kata Shikamaru bosan.

"Hehehehe...sudahlah, daripada itu lebih baik kita mulai acaranya!" ujar Naruto sambil merangkul Shikamaru.

"Iya, iya." Shikamaru hanya pasrah menerima ajakan Naruto untuk merayakan acaranya sendiri. Benar-benar tidak becus.

-Dictionary of Love-

Acara sudah selesai kira-kira pukul 11 malam. Sasuke keluar dari kamar tamu dan melangkah pelan menuju ruang tengah.

"Dobe~ kapan kita pulang?" tanya Sasuke yang baru bangun, kepalanya masih pusing.

"Sebentar lagi, ya," jawab Naruto yang sedang berbaring di sofa.

"Dalam keadaan seperti ini Naruto tidak mungkin menyetir, lebih baik kalian berdua menginap saja di sini," kata Temari sembari mengambil beberapa buah gelas di atas coffee table.

"Maaf, tapi aku sedang dikejar deadline," ujar Sasuke berusaha sesopan mungkin.

"Oh begitu..." Temari nampak berpikir. Kemudian ia langsung membangunkan suaminya yang sedang tidur, menelungkupkan kedua tangannya yang menutupi wajahnya di atas ozen.

"Shikamaru, bangun," katanya sambil mengguncang pelan bahu Shikamaru.

"Ng... Ada apa, Temari?" tanya Shikamaru yang kemudian merenggangkan kedua tangannya dan menguap lebar. Lalu menggosok-gosok matanya yang sedikit kabur.

"Bisakah kau mengantar Sasuke pulang? Katanya ada urusan penting. Naruto menginap di sini saja agar nanti mobil Sasuke biar Naruto yang bawa," ujar Temari.

"Apa tidak apa? Shikamaru kelihatan masih mengantuk," ucap Sasuke menautkan kedua alisnya.

"Hahaha tenang saja, Sasuke. Itu sudah biasa," Temari tersenyum maklum seraya mengibaskan tangan kanannya.

Sasuke pun hanya mengangguk melihat Temari yang sudah berjalan ke dapur. Kemudian karena masih agak pusing ia duduk di sofa, tepat di depan sofa lainnya yang sedang ditiduri oleh Naruto.

Sasuke yang melihat Naruto tidur dengan pulasnya hanya mendecak sebal, 'Kalau saja ia tidak memaksaku untuk minum tidak akan begini,'. Setelah itu mengambil napas dalam-dalam.

"Ayo, Sasuke," sahut Shikamaru dari tangga. Penampilan Shikamaru sudah lebih rapih dari sebelumnya, dengan kaos putih berlogo hitam 'Adidas' dan celana pendek berwarna coklat.

"Padahal sudah punya istri tapi penampilannya masih saja seperti cowok jomblo yang sedang cari magang untuk mengisi hari-harinya yang sepi," sahut Temari yang baru saja kembali dari dapur.

Shikamaru tidak menggubris perkataan istrinya, baginya itu hanya omelan yang sudah menjadi santapannya sehari-hari.

Sasuke yang mendengar pertengkaran kecil itu hanya menyunggingkan senyum tipis. Kapan dirinya bisa seperti itu, ya?

-Dictionary of Love-

Sasuke dan Shikamaru tidak membuka percakapan sama sekali selama di perjalanan, entah bingung atau bagaimana mereka berdua memang bukan tipe orang yang suka bercerita atau memulai duluan.

"Yah, kita sudah sampai," kata Shikamaru memecah keheningan.

"Thanks, Shika." ujar Sasuke, kemudian menepuk bahu Shikamaru tanda pamit. Yang dibalas anggukan ringan oleh Shikamaru.

Sasuke memasuki apartemennya. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya berdenyut hebat. "Ukh..." ia melihat suatu bayangan yang terlihat seperti potongan-potongan film.

"Hinata, aku duluan!"

"Hati-hati, Sakura!"

"Oh, aku baru ingat belum makan sejak siang tadi. Uchiha-sensei itu membuat hari ini lebih sibuk dari biasanya, lebih baik aku singgah di kedai langganan saja."

"Sakura, sudah lama tidak mampir–datang lagi, ya, Sakura!"

"Hei, kau! Awas!"

"Kyaaaaa!"

"Sakuraaaa!"

"SAKURA! Hah...hah..." Sasuke menelan ludah beberapa kali karena tenggorokannya yang kering. Keringatnya mengalir cukup deras di kedua pelipisnya.

Sasuke memijit kepalanya pelan. Tadi itu, sama seperti waktu itu. Sasuke mencoba mengingat kembali kapan terakhir dirinya merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan hampir pingsan.

Ah, dia ingat. Ketika ia menabrak seseorang, Sakura.

Perlahan ia mulai tenang, kemudian mendudukkan dirinya di lantai dekat pintu. Ia ingat sekarang, alasan kenapa ia bisa menabrak Sakura saat itu, bukan hanya karena ia sedang melaju cepat dengan mobilnya. Tetapi...

Karena ia melihat bayangan seorang gadis yang sedang dikejar oleh beberapa pria. Bayangan itu terus muncul dan tidak mau menghilang sampai akhirnya ia menuju ke tempat dimana gadis itu berada.

Sasuke melaju sangat cepat ketika mengetahui dirinya sudah dekat dengan lokasi tersebut, saking cepat dan paniknya Sasuke ia tidak melihat seseorang berlari melintas di depan mobilnya.

'Tiiin...tiiiiin...'

Sasuke menekan klakson beberapa kali tapi gadis itu tidak menghindar sampai mobilnya dan gadis itu sudah tidak terpisahkan oleh jarak.

Sasuke membelalakan kedua matanya, onyx-nya mengkilat dan keringatnya mengalir tambah deras, ia bisa merasakannya di punggungnya.

"Sakura..."

-To Be Continued-

WHOAAAA!

Akhirnya update juga omg. Maaf, maaf banget karena lama update ㅠㅠ

Untuk beberapa alasan, aku mengubah summary dan plot nya (sebenernya plot nya belum mateng sih hehe)

Readers tau drama korea yang berjudul 'My Love from Another Star' ngga?Nah aku melihat ada persamaan antara fiksi ini dan drama tersebut, yaitu:

1. Sasuke/Do adalah dosen/profesor Sakura/Song Yi,

2. Sasuke/Do sama-sama tetangga apartemennya Sakura/Song Yi (walaupun perbedaanya di fiksi ini apartemennya sederhana, di drama itu mewah pisan),

3. Sasuke/Do (pernah) bekerja sebagai dokter (Sasuke memang dokter di fiksi ini dan di drama itu Do nya udah bukan dokter dan malah pura-pura jadi manager-nya Song Yi).

Untuk alasan itu lah aku ubah summary dan plot nya hehe jujur aja, untuk plot aku belum ada gambaran karena tiba-tiba stuck dan kebetulan sahabat aku yang k-drama lovers lagi nonton itu, karena penasaran aku juga ikut nonton dan...WOW!

Terimakasih banyak karena nonton drama itu, fiksi yang chapter 5 nya masih setengah words(?) bisa selesai :'D

Alhamdulillah, terinspirasi dari Do yang seorang(?) Alien dengan super power dan kekuatan di atas manusia biasa bisa tau masa depannya Song Yi hehehe.

RnR, please?