Sasuke telah menghabiskan sarapannya yang berupa cheese sandwich dan kopi hitam. Ia melirik jam tangan abu-abu di pergelangan tangan kirinya, 'Masih ada waktu 3 jam lagi sebelum kelas dimulai,' gumamnya.

Sasuke keluar dari kamar apartemennya dan berjalan menuju mobilnya yang terpakir di basement. Mesin mobilnya telah dinyalakan dan akhirnya mobil tersebut melaju ke jalan utama. Ia berusaha mengingat dimana kedai langganan Sakura yang tadi malam baru muncul di bayangan-bayangan dalam kepalanya.

Sebuah kedai sederhana namun enak dipandang terlihat di sebelah kanan jalan, mata Sasuke menyipit membaca nama kedai tersebut.

Dango-ya "The Dango & Dumpling Shop".

Sasuke memarkirkan mobilnya di depan kedai dango tersebut. Kelihatannya kedai itu masih tutup karena sekarang masih jam 8 pagi. Akhirnya Sasuke menyandarkan punggungnya yang tegap bermaksud menunggu sampai dibukanya tempat itu.

Naruto © Masashi Kishimoto

Dictionary of Love © Author Kimmi

Chapter 6

Drama/Romance/Supranatural

Rated T for Teenager

Characters:

Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata and Akasuna Sasori

Warning: OOC, AU, misstypo(s), ganti summary & plot, totally fiction, perbedaan keyakinan, dll…

Don't Like Don't Read!

-Dictionary of Love-

Sasuke mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk menahan kantuk yang kian menghampirinya. Kepalanya masih tertunduk sampai ia melihat sepasang kaki tanpa beralaskan alas di depan sepatu formal hitam mengkilatnya. 'Apa jaman sekarang masih ada orang yang berjalan tanpa alas kaki?'

"Hn?" Sasuke menengadahkan kepalanya dan menatap heran seorang pria berambut merah yang sedang tersenyum aneh di depannya. "Apa aku mengenalmu?"

"Ah, kau bisa melihatku?" pria tersebut bertanya balik.

"Tentu saja. Siapa kau?" rasa kantuknya tiba-tiba saja menghilang, mungkin ini yang dibutuhkannya, didatangi oleh pria asing tanpa alas kaki dan apa itu sebuah kain? Pria ini hanya mengenakan selembar kain untuk menutupi tubuhnya?!

"Namaku Sasori. Aku beruntung ternyata kau bisa melihatku, kebetulan ada yang ingin aku katakan kepadamu." Ujarnya masih tetap tersenyum.

"Apa itu?"

"Bisakah kau tidak menyelamatkan gadis itu lagi?" tanya Sasori kali ini dengan wajah yang sangat serius, mata hazel yang indah itu mengkilat tajam.

"Apa?" Sasuke tidak mengerti. Apa yang dibicarakan orang ini?

"Begini, aku juga bingung kenapa kau bisa melakukannya. Tapi aku hanya ingin tugasku selesai," Sasori mengacak-acak rambut merahnya yang agak panjang.

"Apa maksudmu? Apa yang kau bicarakan sebenarnya?" tanyanya kesal.

"Aku adalah malaikat yang bertugas untuk membawa orang yang telah mendekat kematiannya ke akhirat, dan menurut lembaran takdir suci, Haruno Sakura–gadis yang telah kau selamatkan waktu itu–dia sudah mendekati kematiannya, jadi aku–ukh!"

"Bicara apa kau ini?! Kau sudah gila!" Sasuke mencekik leher Sasori yang tidak tertutupi kain.

"Aku akan membawanya ke alam yang berbeda dari alammu," kata Sasori sambil melepaskan kasar tangan Sasuke di lehernya.

"Nak? Ada yang kau butuhkan?" tanya seorang pria tua dari dalam kedai.

Sasuke melihat jamnya yang sudah menunjukan hampir pukul setengah 10.

"Ah...tidak, maaf mengganggumu, Kek."

"Kau sendirian saja? Kudengar tadi kau seperti berkelahi dengan seseorang..." ujarnya bingung seraya mengusap dagunya yang ditumbuhi oleh jenggot beruban.

Mendengar itu Sasuke langsung menolehkan kepalanya ke arah Sasori yang tengah menyeringai puas menatapnya. Sasuke mendecih sebal.

"Mungkin kau lapar, mau sarapan di sini sebentar?" Ia tersenyum sambil mempersilakan Sasuke masuk ke dalam.

"Maaf, sebenarnya aku ada perlu jadi tidak bisa." Sasuke membungkuk rendah dengan sopan.

"Hoo... mungkin lain kali. Baiklah, sampai jumpa, Nak..."

-Dictionary of Love-

"Jadi... kau adalah malaikat pencabut nyawa?" tanya Sasuke sesekali melirik Sasori di sebelahnya.

"Manusia menyebutku seperti itu, ya? Tidak juga, sih. Aku hanya mengantarnya ke akhirat," jawab Sasori yang sedang iseng membuka dashboard mobil Sasuke. Sedangkan pemilik mobil tidak mempermasalahkan hal tersebut.

"Aku tidak pernah menyentuh barang-barang manusia. Jadi rasanya begini, ya? Dari dulu aku penasaran..." sekarang ia mengambil satu-satu kaset album yang ada di dalamnya.

"Kau bilang Sakura sudah mendekati kematiannya? Lalu, bagaimana cara kerja lembaran takdir suci itu?"

"Wow... wow... apa kau bermaksud mengorek informasi dengan cara menginterogasiku?" tanya Sasori terkejut. Sasuke hanya diam tidak menjawab.

"Jangan berpikir karena aku ramah aku akan bekerja sama denganmu,"

"Kau benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa mengetahui kematian seseorang?" tanya Sasuke lagi. Sasori menggelengkan pelan kepalanya sebagai jawaban.

"Tapi... sebenarnya ada orang yang bisa menjawab pertanyaanmu itu..." kata Sasori, lalu tidak lama kemudian ia membelalakkan kedua hazel sambil membekap erat mulutnya yang sepertinya keceplosan bicara.

Sasuke mendenguskan tawanya, "hmph... temukan aku dengannya nanti."

'Sial!'

-Dictionary of Love-

Sakura berada di perpustakaan bersama Hinata. Kelas mereka sudah selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Sakura berniat meminjam beberapa buku untuk dipelajari dan sebagai referensi tugas-tugas nanti.

"Baiklah, akan aku kembalikan minggu depan, terimakasih."

"Sudah, Sakura?" tanya Hinata yang menunggu di dekat pintu.

"Iya, maaf menunggu lama,"

"Tidak kok, jangan sungkan." Hinata melangkahkan kakinya menuju pintu halaman diikuti Sakura di belakangnya.

Sakura dan Hinata berjalan beriringan, sesekali mereka mengobrol seputar kuliah, fashion dan hal-hal lainnya. Tiba-tiba Sakura jadi teringat sesuatu. "Ah, Hinata. Sebenarnya aku berencana akan singgah ke butik yang waktu itu kau bicarakan, kau mau ikut?"

"Benarkah? Aku ingin sekali tapi ayahku tidak akan mengizinkanku. Mungkin kau bisa mengajakku lain kali, dan jangan lupa lebih baik memberitahu satu atau dua hari sebelumnya," kata Hinata diakhiri tawa geli.

"Ahaha baiklah. Sepertinya ayahmu benar-benar menyayangimu, ya," kata Sakura, Hinata pun tersenyum hangat. Di depan mereka sudah terlihat sebuah halte bus. Tidak lama setelah Sakura duduk menunggu, bus telah datang. Sakura menoleh ke arah Hinata yang sebenarnya akan dijemput di halte oleh kakak sepupunya.

"Hinata, aku duluan!" seru Sakura melambaikan tangannya.

"Hati-hati, Sakura!" balas Hinata yang juga ikut melambai pelan.

Sakura masuk ke dalam bus dan duduk di dekat jendela. Sakura menatap refleksi dirinya di atas kaca jendela bus, tiba-tiba ekspresinya menjadi sedih. 'Padahal aku ingin sekali ke sana bersama Hinata, tapi kalau hanya sendiri rasanya tidak asyik.' Kemudian ia menghela napas panjang.

Ia merapihkan buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan di dalam totte bag-nya. "Oh, aku baru ingat belum makan sejak siang tadi. Uchiha itu membuat hari ini lebih sibuk dari biasanya, lebih baik aku singgah di kedai langganan saja."

-Dictionary of Love-

Sakura berhenti di halte terdekat. Dirinya turun dari bus dengan hati-hati takut barang bawaannya terjatuh. Pelan-pelan ia melangkah ke arah tempat duduk di halte tersebut.

"Akhirnya... sudah lama sekali aku tidak ke sana semenjak aku pindah ke sini." ucapnya senang.

Walaupun Konoha agak terpencil dan tidak banyak tempat-tempat bagus seperti di kota, sebenarnya di sini banyak orang yang menginvestasikan tanah maupun rumahnya. Berhubung Konoha University juga berada di Konoha, banyak apartemen-apartemen murah dan bagus yang biasanya ditinggali oleh mahasiswa dan mahasiswi dari luar Konoha.

Sakura masuk ke dalam kedai yang ternyata sudah mulai ramai. "Sakura, sudah lama tidak mampir..." sambut seorang kakek, pemilik kedai tersebut.

"Ah, bagaimana keadaan Kakek? Sehat, kan?" tanya Sakura ramah sambil membungkukkan badannya.

"Tentu saja. Aku sangat sehat!"

"Syukurlah kalau begitu. Akhir-akhir ini tugas kuliah banyak sekali, jadi tidak sempat mampir ke sini," ujar Sakura penuh penyesalan.

"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti kau pasti sibuk di KU..." Sakura tertawa kecil menanggapinya. Setelah itu ia mencari tempat yang kosong untuk dia makan nanti.

Pesanan Sakura sudah datang–pangsit berlapis sirup anko, umeboshi dan anmitsu–dengan lahap ia memakan semuanya.

"Hmm... enaknyaa–"

"Sakura!" seru seseorang dari kejauhan. Seluruh pelanggan kedai tersebut menolehkan kepalanya ke sumber suara. Sakura yang merasa terpanggil juga mencari-cari siapa orang itu.

"E-eh? Sasuke?!" pekik Sakura kaget, hampir saja tersedak.

"Lho? Nak? Kau yang tadi pagi di depan, kan?" tanya kakek tersebut yang ikut keluar dari dapur karena ada suara ribut-ribut. Karena tidak ada jawaban dari Sasuke, kakek itu masuk kembali ke dapurnya. 'Anak itu kenapa, ya?'

Sasuke tidak peduli kepada orang-orang yang menatapnya heran, beberapa ada yang kembali melanjutkan makannya. Bahkan Sasuke juga tidak peduli Sasori yang telah mengumpat kesal akibat perbuatannya. "Aku bilang jangan menghambat tugasku! Sudah saatnya ia meninggalkan dunia!"

Mendengar hal itu Sasuke langsung menatap tajam Sasori yang berada di belakangnya.

"Sasuke? Ada masalah apa?" tanya Sakura yang melihat Sasuke tiba-tiba menghadap ke belakang.

Melihat Sakura yang baik-baik saja membuat hati Sasuke mencelos, gadis itu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, pikirnya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah memberimu tugas yang banyak?" tanya Sasuke, Sakura semakin bingung.

"Memangnya tidak boleh? Aku lapar tahu!" ujar Sakura kesal. Yang benar saja dosennya jauh-jauh menemuinya hanya untuk berkata hal tidak penting seperti itu.

"Bungkus semuanya. Kita pulang."

"Hah? Apa-apaan..." kata-kata Sakura terhenti karena kaget melihat Sasuke telah membawa semua makanan dan minumannya ke seorang pelayan dan meminta untuk membungkus semuanya.

"Sasuke, kau! Apa-apaan?!" Sasori juga ikut protes karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.

-Dictionary of Love-

Jika dilihat dari sudut pandang Sasuke, di dalam mobilnya kini terdapat dua jenis makhluk yang berbeda sedang merengut sebal menyerukan suaranya pertama kali,

"Sasuke, asal kau tahu..."

Tiba-tiba Sakura juga ikut bersuara,

"Sasuke, aku tidak mau tahu kau harus..."

"...jika kau terus menyelamatkannya, akan terjadi..."

"...bertanggung jawab atas ini semua. Kau..."

"...ketidakseimbangan antara alamku dan alammu karena..."

"...benar-benar mengganggu kehidupanku jadi..."

"Bisakah kalian bicara satu-satu?! Aku tidak bisa mengerti perkataan kalian jika kalian bicara bersamaan!" bentak Sasuke karena tidak bisa berkonsentrasi menyetir. Sakura melongo.

"Hei! Jangan membuatku merinding begini!" Sakura memukul lengan Sasuke.

'Aku lupa dia tidak bisa dilihat oleh Sakura...'

Tapi ada yang mengganggu pikiran Sasuke. Apa yang dibicarakan Sasori sepertinya sangat serius. Sasuke ingin berbicara kepada Sasori sekarang juga tetapi tidak bisa karena ada Sakura di sebelahnya. Ia tidak ingin Sasori benar-benar mengantar Sakura ke akhirat hanya karena ia melompat turun dari mobilnya yang sedang melaju dengan kecepatan agak tinggi karena mendengar aku berbicara sendiri seperti pria tampan tapi tidak waras.

Perkataan Sasori membuat Sasuke penasaran setengah mati. Kenapa bisa terjadi ketidakseimbangan antara alamnya dan alam mereka? Ia benar-benar harus menanyakannya kepada Sasori secepatnya.

Sesampainya di apartemen dia segera turun dari mobilnya begitu pun dengan Sakura yang tidak kalah cepatnya.

"Langsung masuk ke kamar!" seru Sasuke.

"Tentu saja, dasar bodoh! Kecilkan suaramu, kalimatmu aneh tahu!" teriak Sakura disertai wajahnya yang memerah antara kesal dan malu.

Sasuke tidak peduli lalu mengarahkan pandangannya pada Sasori.

"Apa?" tanya Sasori seraya menatap bosan wajah Sasuke.

-Dictionary of Love-

"Apa yang akan terjadi jika aku terus menyelamatkan Sakura?" tanya Sasuke sambil menyeruput teh hijaunya yang asapnya masih mengepul di udara.

"Hmph... apa pedulimu?" balasnya sengit.

"Kalau begitu aku akan terus menyelamatkannya dan menghambat tugasmu selamanya." ujar Sasuke dengan wajah datarnya.

Sasori mendecih kesal lantaran bingung harus merespon apa, bagaimanapun tugasnya sangat penting dan dia ada hanya untuk melakukan tugasnya, tidak ada yang lain. Dengan sangat terpaksa dan berat hati Sasori mulai berbicara. 'Tidak ada cara lain! Maafkan aku, Kami-sama!'

"Begini, malaikat itu mempunyai tugasnya masing-masing dan ada banyak malaikat yang bertugas sama sepertiku. Malaikat yang bertugas mengantarkan arwah ke akhirat juga mempunyai misi masing-masing..."

Sasuke menyimak dengan serius.

"... masing-masing dari kami diberi sebuah daftar siapa saja yang arwahnya akan diantar oleh kita. Dengan kata lain, kami mengantar arwah yang berbeda-beda dan yang mengantar arwah Sakura ke akhirat adalah tugasku."

Sasuke menganggukkan kepalanya paham.

"Nah, urutan kematian itu sesuai dengan daftar yang telah kami terima. Jadi, jika Sakura tidak segera aku antarkan ke akhirat, sama saja aku telah menghambat kematian orang-orang setelah Sakura!"

Sasuke menatap kaget Sasori. Hampir tersedak karena menelan tehnya terlalu cepat.

"Dan kau bilang akan menyelamatkan Sakura selamanya? Itu artinya kau juga telah menghambat kematian orang-orang, bukan hanya Sakura saja. Asal kau tahu, tidak semua orang tidak mengharapkan kematian. Banyak orang yang sudah lelah hidup dan ingin sesegera mungkin mengakhiri hidupnya."

Sasori sebenarnya sangat mengerti perasaan Sasuke, tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai pengantar arwah.

"Kau mengerti, Sasuke?"

Sasuke diam. Tampak berpikir sejenak. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya bisa mengakibatkan masalah sefatal ini.

"Sebenarnya, kau bukan yang pertama. Kejadian seperti ini pernah terjadi sekitar tujuh tahun yang lalu." Kata Sasori sambil menerawang.

"Ceritakan padaku." titah Sasuke.

Sasori menutup mata kemudian menghela napas pendek. "Ia juga mempunyai bakat bisa melihat kematian seseorang. Sama sepertimu, ia juga telah menyelamatkan seorang gadis dari kematiannya. Bedanya, gadis itu adalah orang yang dicintainya.

Sampai pada akhirnya pria itu menemui Yahiko-sama, atau yang dikenal oleh manusia adalah Kami-sama, untuk melakukan suatu negoisasi."

"Negoisasi?" ulang Sasuke.

"Ya. Pria itu menggantikan kematian gadis itu." Sasori menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan, tatapan sedih dan penuh penyesalan.

"Ada cara seperti itu?" tapi tiba-tiba Sasuke terdiam seakan kesadarannya kembali lagi. 'Tunggu, Sasuke. Kau tidak berniat menukar hidupmu dengan gadis aneh itu, kan? Kenapa juga aku harus menukar hidupku yang berharga demi gadis itu?!'

Sementara Sasuke bergelut dengan dirinya sendiri di dalam pikirannya, Sasori kembali berbicara,

"dan pria itu adalah... kakakmu, Uchiha Itachi."

Sasuke bingung harus bereaksi seperti apa, ia mendengus sinis. "Kau bercanda, kan, Sasori?"

Sasori melanjutkan, "tapi ia tidak pergi ke akhirat seperti arwah lainnya. Yahiko-sama mempunyai rencana yang lebih bagus, menurutnya, ia menjadikan Itachi malaikat sepertiku, dengan tugas yang berbeda."

Seketika itu juga Sasuke langsung mencengkeram kedua bahu Sasori yang lebih tinggi darinya. "Kau benar-benar tidak sedang menipuku, kan?! Itachi meninggal tujuh tahun yang lalu karena bunuh diri!" bentak Sasuke.

"Begitu?"

"Itachi... dia..." tiba-tiba Sasuke terdiam.

"Itachi memalsukan kematiannya. Sekarang ia adalah malaikat yang membuat takdir kehidupan dan juga rasa cinta. Mungkin kau bisa menanyakan siapa jodohmu kepadanya Sasuke, yah jika kau mau." Sasori tertawa sekenanya.

"Temukan aku dengannya sekarang juga!" Sasori menatap Sasuke tidak percaya. "Kau benar-benar serius pada kalimat terakhirku?"

"Bukan, bodoh! Ada yang ingin aku tanyakan kepadanya." Sasuke melepaskan cengkeramannya dari bahu Sasori.

"Sebenarnya aku tidak yakin. Malaikat seperti dia itu adalah salah satu malaikat tersibuk, mungkin kau bisa menemuinya sekitar sebulan kemudian atau bahkan setahun kemudian jika itu tidak memungkinkan." Sasori mengangkat kedua bahunya cuek.

"Kau gila?! Kita tidak punya waktu sebanyak itu!" Sasori hanya menyeringai, "yang tidak punya banyak waktu itu kau, Sasuke. Aku, sih, tidak peduli."

"Sasori, jika kau membantuku kali ini, aku... mungkin tidak akan menyelamatkan Sakura lagi dan kau mungkin bisa melanjutkan kembali tugasmu."

"Benarkah? Bisa kupegang kata-katamu?" kedua mata Sasori berbinar seketika.

"Hn..."

"Baiklah, persiapkanlah dirimu, Sasuke."

Sasuke mengangguk pelan. 'Kakak...'

-Dictionary of Love-

"Iya, Bu. Sakura baik-baik saja di sini," kata Sakura yang menyelipkan telepon pintarnya di antara bahu dan lehernya, kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.

"Eh? Sasuke? Apa peduliku? Kenapa ibu menanyakan hal tidak penting seperti itu?"

Langsung saja Sakura menjauhkan teleponnya dari telinga kanannya karena ibunya membentaknya dengan suaranya yang kencang.

"Adu-duh... Sakura sudah lama tidak bertemu dengannya, Bu..."

"Iya, Bu. Sakura tutup dulu, ya. Aku ingin makan malam dulu. Ya, aku menyayangimu."

Sakura memindahkan piring dan makanannya ke meja makan.

"Ah... makan malam sendiri itu benar-benar tidak seru. Lagipula kenapa aku memasak banyak sekali?" Tiba-tiba sekelebat pikiran menghampirinya. "Kau tidak bermaksud mengajaknya ikut makan malam bersamamu, kan?!" Sakura menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

"Tidak, tidak. Bagaimana bisa itu terjadi?! Tapi..." Sakura mengedarkan pandangannya ke satu persatu ruangan di kamar apartemennya. Kemudian ia mengusap-usapkan kedua tangannya ke lengan atasnya, "akhir-akhir ini aku selalu merinding. Apa boleh buat, lebih baik aku ajak saja dia dan Naruto." Menyadari ia mengucapkan nama Naruto, jantungnya berdegup lebih kencang. Namun ia abaikan dan sesegera mungkin menuju kamar sebelahnya.

-Dictionary of Love-

"Sasuke, kau kenapa?" tanya Naruto yang baru saja datang.

Ketika Naruto baru saja masuk ke kamar apartemen Sasuke, ia melihat mantan kakak kelasnya itu sedang marah-marah tidak jelas.

Sebelum Naruto menutup pintu kamar Sasuke, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggil namanya.

"Naruto!"

"Ah, Sakura?" sahut Naruto, kemudian tersenyum ramah. Mendengar Naruto menyebut nama Sakura, Sasuke langsung keluar dari kamar untuk memastikan.

"Sakura?" sapanya.

-Dictionary of Love-

"Hahaha lain kali kau harus sering-sering mengajak kami makan malam bersama, Sakura!" ujar Naruto sambil menepuk-nepuk bahu Sakura yang duduk di sampingnya.

Sasuke hanya diam tidak berkomentar apa-apa. Walaupun sebenarnya ia kesal karena dari tadi Sasori memandangi terus wajah Sakura di depannya. Ia tidak tahu apakah dia memang tidak suka setiap tingkah laku Sasori atau... cemburu?

Menyadari pemikirannya yang terlalu jauh itu ia pun terbatuk, "Uhuk!"

"Sasuke? Kau baik-baik saja?" tanya Sakura di depannya yang langsung menawarinya segelas air putih.

"Ehm... terimakasih,"

Melihat hal tersebut Sasori langsung tertawa. Sasuke langsung mendelik ke arah Sasori, 'kau bisa membaca pikiranku?!'

Sasori mengangkat bahu tidak peduli, "Mungkin?"

'Sial, kau, Sasori!'

Sedangkan Naruto menatap heran Sasuke yang kini sedang mengumpat pelan. 'Sasuke kenapa,sih?'

"Lebih baik aku cuci dulu piringnya." ujar Sakura lalu mengambil piring Sasuke dan Naruto kemudian berjalan ke dapur.

"Hei, Naruto. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," kata Sasuke dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik.

"Hm? Apa itu Sasuke?" tanyanya sambil meneguk air putihnya.

"Kau ingat apa yang dikatakan oleh Itachi sebelum dia meninggal?"

"Dia memang mengatakan hal yang aneh sebelum ia meninggal, tapi aku tidak yakin apakah itu semacam pesan terakhir atau hal lainnya. Kenapa Sasuke? Kau tiba-tiba mengungkit Itachi..." setahu Naruto, Sasuke paling tidak suka jika seseorang sudah membahas tentang kakaknya. Itu karena Sasuke membenci Itachi yang sudah memalukan nama keluarga Uchiha, Itachi bunuh diri dengan alasan yang sangat konyol menurutnya. Menyelamatkan orang-orang yang dicintainya. Dia pikir bunuh diri adalah jalan terbaik? Omong kosong! Setidaknya itulah kata-kata Sasuke yang Naruto ingat perihal kematian Itachi.

"Apa yang dia katakan kepadamu?"

"Dia berkata... kalau dia mungkin akan senang jika mengetahui siapa cinta sejatiku. Nah, menurutmu apakah itu sangat aneh?" tanya Naruto seraya mengangkat salah satu alis pirangnya. Sasuke mencoba meyakinkan dirinya. "Begitukah?"

Naruto mengangguk sangat yakin. "Ya! Apa Itachi juga menanyakan hal yang sama denganku?" Sasuke menggeleng pelan. "Hanya saja, dia sempat berpesan kepadaku bahwa sebenarnya kematian itu tidak benar-benar meninggalkan orang yang kita sayangi. Ada saatnya seseorang harus mengorbankan segalanya demi seseorang dan kita sendiri.

Kupikir ia sedang bergurau atau iseng seperti biasa. Setelah keesokan harinya ia aku temukan tewas bunuh diri di kamarnya." Kata Sasuke.

Naruto menepuk pergelangan tangannya seakan mendapatkan sesuatu, "jadi maksudmu dia tidak meninggal sia-sia?"

Sasuke terperangah. Benar apa yang dikatakan Naruto. Kalau hal ini dihubungkan dengan cerita Sasori, kematian Itachi memang tidak sia-sia. Kakaknya itu telah menyelamatkan satu nyawa yang berharga baginya.

Sekarang dirinya menyesal karena merasa perbuatan Itachi waktu itu sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Sasuke hanya menundukkan kepalanya.

Sementara itu, mereka berdua tidak menyadari bahwa Sakura mendengar seluruh percakapan mereka. 'Eh? Kakak Sasuke sudah meninggal?'

-Dictionary of Love-

Sudah berhari-hari Sasori tidak muncul di hadapannya dan ini membuat Sasuke jengkel. Setelah pertemuannya dengan Sasori, ia merasa bahwa setiap detik hidupnya benar-benar tidak boleh terbuang begitu saja dengan sia-sia.

"Kemana perginya Sasori itu?"

"Yo, Sasuke. Kau merindukanku?" sapa Sasori yang muncul tiba-tiba.

"Kemana saja kau?! Kau bilang kita akan segera menemuinya tetapi tiba-tiba saja kau menghilang!" kata Sasuke sambil menunjuk-nunjuk Sasori.

"Oh... aku baru saja membuat janji untuk sebuah pertemuan yang bersifat pribadi. Pertemuan kita dan Itachi tentu saja." Sasuke tidak bisa menahan senyum di wajahnya, sedikit bersalah karena sudah memarahi Sasori.

"Kerja bagus, Sasori."

"Kau berkata seakan kau adalah bosku," Sasori langsung berkacak pinggang dan memasang tampang bosan.

Sasuke berlagak tidak peduli. "Jadi, kapan kita akan mengadakan pertemuan itu?"

"Malam ini..." Sasuke sedikit terkejut, namun setelahnya ia langsung menyeringai. Tanpa ia sadari jantungnya berdegup kencang. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi ini. Rasanya ia begitu semangat dan gugup sekaligus.

"Apakah kita perlu menyiapkan sesuatu?"

"Tidak. Tapi kau perlu menandatangani surat ini," kata Sasori.

"Hn? Surat apa ini?" tanyanya kemudian mengambil surat yang diserahkan oleh Sasori. Lalu Sasori memberikan sebuah stik berukuran sangat kecil dan panjang, di ujung bawahnya terdapat jarum kecil. "Surat Kontrak Akhirat?"

"Kau telah dikontrak untuk mengadakan pertemuan yang diadakan olehku. Tandatangani surat ini dengan darahmu," ujar Sasori.

Sasuke menusukkan jarum tersebut ke jempol tangan kirinya, tiba-tiba darahnya langsung terserap begitu saja. Ia menandatangani surat tersebut kemudian menuliskan namanya, "Uchiha Sasuke..."

Sasuke mengembalikan suratnya kepada Sasori, tapi Sasori langsung membakar surat tersebut sampai menjadi debu dan menghilang dengan api yang muncul tiba-tiba dari tangan kanannya.

"Apa yang–" kata-kata Sasuke terpotong karena Sasori langsung menarik lengan Sasuke. "Aku sudah mengirim suratnya kepada malaikat yang bertugas menjaga gerbang antara dunia akhirat dan duniamu,"

Seketika itu juga Sasuke dan Sasori menghilang.

"Sasuke, maaf aku baru pulang. Tadi aku..." Naruto menghentikan kalimatnya ketika menyadari Sasuke tidak menjawabnya.

Naruto berjalan ke arah dapur, lalu ke kamar mandi. "Sasuke? Kau belum pulang?"

"Aneh sekali, padahal tadi Sasuke mengirimku pesan agar segera pulang. Sepatunya juga sudah ada di depan." Naruto hanya mengerutkan dahinya dan bersedekap dada.

-Dictionary of Love-

"Uchiha... Sasuke?" tanya Kakuzu sekali lagi.

"Hn," jawab Sasuke dengan tampang datarnya.

"Begitu... sebelum kau masuk, tandatangani dulu buku daftar tamu akhirat ini," kata Kakuzu seraya menyerahkan sebuah bolpoin kayu yang aneh.

"Kali ini pakai bolpoin?" gumam Sasuke, Sasori mengangguk sebagai jawaban.

Setelah selesai menandatangani buku daftar tamu akhirat, Sasuke dan Sasori pergi menuju sebuah gerbang dengan Kakuzu di depan mereka. Kakuzu membuka gerbang dengan segel tertentu dan gerbang besar itu pun terbuka. Sasuke bisa melihat ada antrian panjang di depan sana. Sebuah antrian panjang manusia. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang dikenalinya berada di dalam antrian tersebut. 'Dia... Matsuri? Mahasiswi KU yang meninggal dua hari lalu. Sepertinya dia tidak mengingatku,' ujar Sasuke dalam hati.

"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya Sasuke pada Sasori yang berada di depannya.

"Ah, mereka? Mereka sedang mengantri untuk menentukan dimanakah mereka akan pergi selanjutnya. Surga atau nerakakah tujuan akhir mereka..." kata Sasori tanpa melihat Sasuke dan terus berjalan menuju ke sebuah lorong gelap.

Sasuke mensejajarkan langkahnya dengan Sasori. Di sebelah kanan mereka dapat melihat pintu besar berwarna putih. Sasori dengan perlahan membuka pintu tersebut, "Baiklah, kita akan masuk..."

Tanpa disadari Sasuke menjadi tegang. Sudah tujuh tahun Sasuke berusaha melupakan kakak tersayangnya itu. Dia bingung harus menyapa Itachi bagaimana. Sasuke benar-benar gugup dan takut sekarang.

"Tidak usah tegang begitu." ujar Sasori mencoba menenangkan sambil menepuk pelan bahu Sasuke yang sedikit gemetar itu.

"Hn..." gumamnya.

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruangan yang luas. Ruangan tersebut terlihat seperti perpustakaan raksasa. Rak-rak buku menjulang sangat tinggi dan bahkan panjangnya tidak sampai kelihatan ujungnya.

"Kami sudah datang, Itachi," kata Sasori memecah keheningan.

Sasuke melihat seseorang muncul dari balik rak-rak berukuran raksasa itu. Sasuke bisa mengenali postur tubuh dan juga wajahnya. Wajah seseorang itu sama sekali tidak berubah sejak tujuh tahun lalu. Seseorang itu mengangkat tangan kanannya seolah hendak menyapanya.

"Lama tidak bertemu, Sasuke..."

-TBC-

Akhirnya chap ini bisa selesai juga... maafin karena passion nulis fic aku lagi turun banget!

Oh iya, aku udah pernah ngasih tau umur-umur mereka belum? Kalau belum ini aku kasih datanya beserta sekolahnya juga.

Temari (25) bulan Agustus nanti mau 26

Neji (25)*

Sasuke dan Shikamaru (24)*

Naruto dan Ino (21) bulan Oktober nanti Naruto 22, bulan September nanti Ino 22

Sakura dan Hinata (19)*

Hanabi (13)*

(*) Anggap aja mereka semua udah ulangtahun jadi tahun ini mereka umurnya segitu, biar sesuai sama tingkatannya. Soalnya di fic ini, mereka diceritain adik-kakak kelas.

Sekolah Menengah (SMP);

Hanabi, Hinata, Neji dan Naruto (Konoha Academy, Konoha)

Sekolah Lanjutan (SMA);

Sakura (Konoha High School: Girls Boarding School, Konoha)

Hinata (Manchester High School for Girls, Fallowfield)

Ino, Temari, Shikamaru, Naruto dan Sasuke (Konoha High School, Konoha)

Kuliah;

Sakura dan Ino (Kedokteran, KU)

Hinata (Hukum, KU)

P.S. Setelah dipikir-pikir lagi, fiction ini lebih ke Supranatural daripada Fantasy. Readers juga berpikiran gitu? Soalnya kayaknya genre-nya bakal diubah lagi. Awalnya yang jadi malaikat pengantar arwah bakal Hidan, tapi karena pengen memunculkan tokoh Sasori di sini, akhirnya Sasori yang jadi malaikatnya fufufu lagian aku kepingin bikin slight SasoSaku hahahaha tapi sebenernya aku lebih suka interaksi SasoSasu di sini.

Untuk balesan review maaf kalau ternyata masih banyak typos, sumpah padahal aku udah re-read T-T, tenang fic 'Real Life' ngga bakal discont kok, sebenernya kayaknya fic ini lebih ke Supranatural ya daripada Fantasy (genre-nya udah mulai berubah di chap 5 akhir) dan selebihnya bisa mengikuti ceritanya dulu hehe

Mohon dukungannya dan pendapat kalian sangat berarti untuk kelancaran fic ini!

Yosh! Mind to review?