Title: Promise
Rated: Fiction T
Pairings: Shikamaru/Kurotsuchi
Chapter(s): 2/…
Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto. But, this fanfic is mine! don't ever dare you claim it as your! ^^
Genre : Romance/Angst/Friendship
Warning(s): OOC, AU, typo(s)
Author: Koushima Purple-Rose
Note: I hope you all will like this fanfiction ^^
-Happy Sunday, 28 Oktober 20-
" groookkk~ groookkk~ " suara apa ini? O_oa *tabok*. Oh! Ternyata seorang lelaki berambut nanas(?) sedang tidur di kasurnya sambil nungging pemirsa ._.a*slap author*. Oh, salah, ternyata Shikamaru tidur sambil ngorok(?) nih ! :Da jiahh! Oke BTS. Tiba –tiba dari arah pintu kamar pemuda berambut pineapple style tadi datang seorang wanita paruh baya, berambut hitam. dari garis(?) wajahnya mirip dengan pemuda bernama Shikamaru itu.
" Ne, Shikamaru.. Shikamaru " panggil seorang wanita berambut hitam, Nara Yoshino.
" Eennnggg~ " erang Shikamaru yang masih bergelut dalam tidurnya.
" Bangun" panggil Yoshino lagi, ibu Shikamaru. Shikamaru masih tetap tidak mau bangun, masih tetap tidur dengan lelapnya. Yoshino dengan kesal menjewer kuping anaknya itu.
" Bangun..bangun.. kalau tidak mau kaa-san siram dengan air dingin? " ancam Yoshino dengan suara yang mengerikan, dalam hatinya Yoshino menyeringai lebar. XD
Mata Shikamaru langsung terbuka. Dengan malasnya ia duduk di ranjangnya, lalu turun dari ranjang berukuran king size –nya. Ia berjalan dengan gontai kearah kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya yang lumayan besar itu.
" Iya. Iya. Kaa-sancerewet " kata Shikamaru, dengan suara nya sengaja ditinggikan agar ibunya mendengar. Tapi, Yoshino tak menghiraukan perkataan anaknya itu. Ia sedang asik sendiri merapikan tempat tidur anak tunggalnya itu. Ibu –ibu jaman sekarang.
Tak berapa menit, akhirnya Shikamaru telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi itu, tubuhnya masih basah dan dipinggangnya terlilit sebuah handuk putih bersih, begitu pula rambut yang biasa ia ikat tinggi layaknya style nanas(?). tapi, kini rambut Shikamaru digerai begitu saja, rambutnya terlihat lepek, sepertinya pemuda ini habis keramas rupanya =_=. Bayangin aja Shikamaru rambutnya digerai terus lepek abis keramas. =A= *sweatdrop kronis*
Mata hitamnya melihat –lihat isi kamarnya. Terlihat olehnya kamarnya kini sudah bersih dan rapi, tidak seperti biasanya.
'pasti kaa-san telah membersihkannya' batin Shikamaru senang.
Ia lalu berjalan menuju sebuah lemari kayu yang terdapat di pojok kamar tersebut. Matanya dengan jeli melihat –lihat pakaiannya yang terlipat rapi disana.
" Aha! Sepertinya yang ini cocok " seru Shikamaru ooc. =_=a
Ia mengambil baju itu yang masih terlipat rapi di dalam lemarinya. Lalu mengenakan baju kaos putih polos, dilapisi dengan kemeja kotak –kotak berwarna merah berpadu dengan hitam, yang tidak dikancing. tak lupa, sebuah jeans casual berwarna dark blue ia kenakan. Sepasang sneakers putih juga menghiasi kakinya. rambutnya yang telah kering, ia ikat tinggi, seperti biasa, style pineapple kebanggannya ._.
Ia segera mengambil ponsel dan dompetnya yang tergeletak di atas meja kecil disamping ranjang nya, lalu memasukannya ke dalam saku jeans miliknya.
Pemuda itu berjalan kearah cermin yang tergantung di dinding kamarnya yang bercat putih.
Shikamaru, kembali merapikan rambutnya yang diikat tinggi itu, lalu menyemprotkan parfum wangi nanas(?) ke tubuhnya. XD
" Haah~ sudah. Aku begini saja sudah tampan dan keren " kata Shikamaru narsis =_= yang membuat author merasa ilpil(?) ama si rusa rasa nanas, pemirsa ._. *disabit(?) shika*
Hari ini hari minggu jadi Shikamaru berencana untuk keluar rumah. Ia merasa sangat bosan dirumah. Bila ia hari minggu terus –terusan berada di rumah, pasti kupingnya akan panas mendengar ocehan dari ibunya yang cerewet itu, sedangkan ayahnya Nara Shikaku, yang biasa menemaninya bermain Shogi sedang ada dinas ke luar kota, tepatnya ke Ame City. Bukankah itu berita baik jika Shikamaru, mau keluar rumah daripada malas –malasan, yang kerjaannya hanya tidur. =_= zZzZ
- LOLOLOL -
" Mau kemana? " Tanya seorang wanita paruh baya yang sedang menonton tv di ruang keluarga. Pemuda berambut yang diikat tinggi itu mendengus.
" Kaa-san.. aku sedang bosan, aku perlu refreshing, hoammm~ " jawab Shikamaru sambil menguap. \(-o-)/
Yoshino sweatdrop mendengar anaknya menjawab sambil menguap. Ia menoleh menatap anak semata wayangnya itu.
" Kenapa kau selalu menguap ketika berbicara, nak? " -_- Tanya Yoshino masih sweatdrop.
" Engg~?" Shikamaru heran mendengar pertanyaan konyol yang dilontarkan ibunya itu. Yoshino mengangguk, ia meletakkan remote tv di atas meja, lalu berbalik menghadap anaknya.
" Hah~ kaa-san, tidur itu sehat, dan sepertinya aku mengantuk karena banyak yang kupikirkan, itu yang membuatku mengantuk " jawab Shikamaru enteng tapi malasnya luar biase.
Ibunya hanya membulatkan bibir, tanda mengerti. Lalu tersenyum.
" Hahh~ baiklah kalau begitu aku pergi dulu kaa-san~ jyaa " pamit Shika pada ibunya, lalu main nyelonong keluar rumah, sambil menguap. -_-"
- LOLOLOL -
-Konoha Flowery Park-
" Ahahaa~ ayo kejar aku Udon –chan, Moegi –chan! " teriak seorang anak kecil dengan sebuah syal panjang melingkar di lehernya. Alhasil syal yang panjang itu terlihat berkibar di terpa angin pagi.
Yah.. hari itu masih pagi. Sekitar pukul 09:08am.
Seorang pemuda berambut hitam yang diikat tinggi berjalan disekitar taman itu. Matanya terlihat sayu namun, dari raut wajahnya tampak cerah. Lelaki bernama Nara Shikamaru, itu berjalan santai menyusuri taman kota, yang kini ramai dengan orang –orang, ada yang sedang jogging, bermain bersama anak –anak, ada pula yang sekedar jalan –jalan saja.
Suasana taman itu sangat sejuk, pohon –pohon rindang meneduhkan tempat itu.
Ada beberapa kedai penjual makanan yang berjualan di sekitar taman itu. Ada kedai penjual makanan seperti, Okonomiyaki, Ramen, Udon, Sushi, Sashimi, May, Teriyaki, Yakiniku, Dango, Takoyaki, dan lain –lainnya. Ada juga penjual stand makanan ringan seperti, stand ice cream, café remaja, burger, kebab, dan lainnya. Sepertinya Shikamaru tak tertarik dengan apa –apa. Ia lebih memilih duduk di salah satu bangku taman yang panjang. Matanya terpaku pada 3 anak kecil yang sedang bermain kejar –kejaran. Sesekali mereka terjatuh, yang membuat Shikamaru terkikik kecil.
" Ahh~ aku jadi mengingat gadis itu " gumam shikamaru, disertai senyuman. Ia kembali mengingat kejadian 10 hari yang lalu yang tidak bisa membuatnya lupa.
-FLASHBACK-
-Happy Wednesday, 17 Oktober 20××-
SHIKAMARU~POV
" Huwaa.. itteeee~ " ringis seorang gadis, berambut hitam pendek. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya, karena ia membelakangiku. Aku jadi penasaran dengan gadis itu. Ah~ dia terjatuh rupanya ==a aku mendekati gadis itu. Eh? I-ini, bukannya, murid baru itu, tebakku dalam hati. Ia mendongakkan kepalanya menatapku.
" E-eh? " aku terdiam menatap kedua bola mata hitamnya, gugup. Sial! Apa yang terjadi padaku. Ia menatapku heran.
Kini koridor sekolah sudah sepi, tapi bukannya orang pulang, hanya saja rata-rata semuanya ke kantin atau ke taman belakang sekolah.
" Mari kubantu " aku menyodorkan tanganku, ia mengangguk lalu meraih tangan ku.
'Ahh~ kenapa wajahku tiba-tiba memanas? Apakah sudah merah sekarang mukaku?' batinku seperti orang gila. Yah gila. Gila karena gadis yang baru 5 hari bertemu, tapi ia sudah membuat jantungku jadi deg-deg'a gini.
" Eh? Lo sakit? " tanyanya polos. 0_0a
" E-eh nggak kok " aku menggeleng cepat, lalu mengalihkan pandangan ku kearah anak-anak kelas XI-C yang sedang main bola basket di lapangan.
Tiba-tiba aku tersentak, tanganku masih mengenggam tangan gadis itu. Aku langsung menoleh padanya.
WHAT THE~~! Wajahnya merona. O-Oa ia menunduk risih, dengan tangan kami bertautan ini. Aku segera melepaskan genggaman ku padanya.
Kyaa~ manisnya *lho? Kok shika jadi kayak cewe yaw!? =='*
" E-etto, aku ke kelas dulu Shikamaru-san " pamitnya lalu berlalu meninggalkanku. Haaah~ ada rasa menyesal pada diriku sendiri karena, aku terllau gugup. Hu~ dia sudah pergi meninggalkanku T_T. eh, tiba-tiba mataku melihat sebuah benda persegi yang terlihat seperti buku, dengan warna sampul coklat terang. Aku memungutinya.
" Ah! " aku tersentak melihat Kurotsuchi –gadis tadi- tiba-tiba mengambil buku yang bertuliskan 'My Diary' dari tanganku. gerakan tangannya sangat cepat.
" Ah, sumimmasen Shika-san. Ini milik saya " katanya dengan wajah yang merona pink, dia berbalik ingin pergi tapi tiba-tiba.
Bruukk!
" Iitteee~ " ringisnya. Owalah, ternyata ia terinjak tali sepatunya sendiri toh. Mungkin saja ia tadi juga menginjak tali sepatunya sendiri lalu terjatuh =_=a, dasar ceroboh. Aku kembali menolongnya, eh? Pipinya merona lagi? Ah mungkin ia sakit. Pikirku cuek.
Ia berdiri atas bantuanku, lalu merapikan roknya nya yang agak kusut karena terjatuh tadi. Ia langsung membungkuk padaku.
" Tottemo hontou arigatou, Shika-san " ucapnya. Ia tiba-tiba mengecup pipiku cepat, lalu pergi setengah berlari meninggalkan ku, yang sedang cengok dibuatnya. heeeeee~ apa! Dia mencium pipiku? Tiba-tiba
Blush!
Ughh! =з= , kenapa wajahku memerah begini? Ngg~ lalu, kenapa ia menciumku? Dan kenapa menciumku hanya sebentar saja alias kilat? Batinku, err yang terakhir sepertinya itu setan yang bicara *tunjuk author #slap kpla Shika =_=a#
Kyaaa! Kenapa rasanya berbunga-bunga gini. ( o )∂
ah~ lupakan saja, sebaiknya aku segera ke kelas, sebentar lagi bell masuk, aku lalu bergegas ke kelas, dengan hati berbunga-bunga *lebeh =="*
SHIKAMARU~POV OFF
-FLASHBACK OFF-
Shikamaru pemuda berambut nanas, itu kembali tersenyum. Ia menyentuh pipinya. Panas. XD
" pyuuhhh~" ia menghembuskan nafasnya pelan. ia berfikir bahwa ia benar-benar bodoh waktu itu. Kenapa ia bisa-bisanya diam saja? Pasrah? ==a. dan, kenapa sejak bertemu dengan gadis bernama Kurotsuchi itu jantungnya selalu deg-degan?
" Hu?~ ittee~ " eluh suara seorang perempuan, yang membuat lamunan indah shikamaru buyar. Shikamaru menatap ketiga anak itu. Memang ada anak perempuan disana yang bermain bersama dengan dua orang teman laki –lakinya.
Tapi…
Masalahnya bukan anak kecil yang dipanggil Moegi itu yang meringis, anak itu masih asik bermain bersama kedua temannya. Sepertinya suara seorang gadis remaja. Tapi…
Shikamaru langsung menoleh ke sisi kirinya.
Kedua mata hitamnya terbelalak, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, saat kedua kornea matanya mendapati sesosok yang ia kenal jatuh tersungkur, sambil memegangi dadanya. Ah~ tidak ia tengah meremas dadanya kuat, seperti menahan sakit.
" A ahh~ Kurotsuchi? " panggil Shikamaru tak percaya. Ia beranjak dari bangku taman itu langsung berlari kearah gadis berambut hitam sebahu yang dipanggil Kurotsuchi. Shikamaru segera menahan tubuh gadis itu, ia menyibakkan rambut Kurotsuchi pelan.
" Uhhh.. sakitt~ " hanya suara ringisan kembali keluar dari bibir mungil gadis, bernama Kurotsuchi itu.
" Apanya yang sakit? " Tanya Shikamaru khawatir. Kurotsuchi hanya diam, wajahnya memucat, tangannya mulai dingin, keringat dingin mengalir deras di keningnya.
" A aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit " kata Shikamaru, yang langsung menggendong Kurotsuchi di punggungnya.
" Bertahanlah "
Kurotsuchi hanya mengangguk dalam diam. Ia hanya dapat menahan rasa sakit pada dadanya.
Shikamaru segera memanggil taksi untuk mengantarkan mereka ke RSU Konoha.
-LOLOLOL-
Seorang lelaki berambut nanas, terlihat gelisah menunggu seseorang yang ada di dalam kamar rawat rs dengan nomor. 96.
Wajahnya terlihat pucat pasi. Sesekali ia beranjak dari bangku panjang yang didudukinya dari tadi, lalu berjalan mondar –mandir di depan pintu kamar no. 96 itu. Bulir –bulir keringat dingin menuruni pelipisnya.
Khawatir. Itulah yang dirasakan pemuda satu ini.
Entah. Padahal mereka baru saja sehari bertemu. Tapi rasa khawatir yang menyelimuti pikirannya sangatlah besar.
Dan, satu pertanyaan lagi.
Mengapa jantung shikamaru selalu saja berdegup kencang saat melihat ataupun dekat dengan gadis, bernama Kurotsuchi itu?
Entah. Sepertinya hanya Shikamaru yang tau.
Tapi..
Apakah ini yang dinamakan cinta? C.I.N.T.A?
Konyol. Satu kata yang dipikirkan Shikamaru. Konyol.
Ia merasa ini semua adalah jebakan. Ia merasa dipermainkan oleh dunia ini.
Argghh!
Rasanya ia ingin berteriak sekuat tenaga. Ia ingin membuang semua masalahnya dengan sekejap. Tapi, itu tidak bisa. Tentu saja.
Krieettttt~
Terdengar deritan pintu kamar no. 96 itu terbuka. Seorang dokter muda errr~ paruh baya keluar dari dalam kamar rawat Kurotsuchi itu. Rambut pirang pucatnya yang diikat kuncir dua itu membuatnya terlihat cantik. Sontak Shikamaru langsung menoleh pada dokter cantik itu. Kedua tangan dokter itu dimasukan ke dalam saku jas kedokterannya, ia menatap Shikamaru dengan tatapan ambigu.
" Bagaimana keadaan Kurotsuchi, dok? " Tanya Shikamaru tak sabaran. Dokter yang bernama Tsunade itu tersenyum kaku. Shikamaru menautkan alisnya. Seakan tau apa yang dipikirkan shikamaru, dokter Tsunade angkat bicara.
" Apa anda keluarga Kurotsuchi-san? " Tanya dokter itu sebelum menjawab pertanyaan Shikamaru.
Shikamaru mengangguk cepat. Ia ingin segera tau bagaimana keadaan gadis itu sekrang juga. Rasanya jantungnya berdetak cepat, seakan ingin copot dari tempatnya.
" Baik. Ikut aku sekarang " kata dokter Tsunade ramah. Shikamaru kembali mengangguk mengiyakan ajakan dokter cantik itu.
◄~~~~~••~~~~~~
" A-APA!? " pekik Shikamaru shock, saat mendengar penjelasan dokter Tsunade yang kini tengah duduk didepannya dengan menopang dagunya dengan tangan di atas meja, saat ini mereka telah berada di tuangan pribadi milik dokter Tsunade. Menatap Shikamaru dengan tatapan sendu.
" Begitulah kenyatannya" katanya pelan.
Shikamaru menunduk dalam.
" Ke-kenapa? " tanya Shikamaru pelan yang lebih merujuk pada dirinya sendiri. Matanya terasa panas. Jantungnya berdegup kencang. Air matanya kini sudah menggantung di pelupuk matanya. Dengan sedikit goncangan air bening itu bisa meluncur kapan saja. Aneh. Tentu saja aneh. Kenapa ia bisa sangat terpukul seperti ini? Padahal gadis itu adalah orang yang baru saja dikenalnya? (author: silahkan tanyakan pada rumput yg bergoyang *slap again* ._.
" Ka-kanker jantung? " gumam Shikamaru pelan. Dokter Tsunade mengangguk, ia menyibakkan poni pirangnya.
" Apa, ada pengobatan yang dapat membuatnya cepat sembuh? " Tanya Shikamaru, lagi.
Tsunade, dokter cantik itu menghela nafas sejenak. Ia lalu menatap lekat pada pemuda yang ada didepannya kini.
" Sebaiknya ia harus menjalani cemotheraphy(tulisannya bener kan? ==a) " ucap dokter Tsunade pada Shikamaru.
" Eh? " Shikamaru mendongak menatap kedua iris coklat mata dokter Tsunade.
'ce-cemotheraphy?' batin Shikamaru kembali shock.
" A-apa!? Tapi apa tidak apa-apa? " Tanya Shikamaru gugup.
Tsunade menggeleng pelan.
" Sebenarnya, kemungkinan sembuhnya hanya 55%, selebihnya mungkin….tidak menjanjikan" Kata dokter Tsunade menggantung. *author cuma ngarang + ngawur XDDD*
Shikamaru semakin terpukul, akan penuturan dokter Tsunade. Ia menundukkan kepalanya dalam.
" Baik " shikamaru beranjak dari kursi yang didudukinya dari tadi. Ia benar-benar tidak tahan berada di ruangan ini. Menurutnya ruangan pribadi milik dokter Tsunade ini seperti neraka. Tidak! Bukan! Ruangan ini tidak panas. Tapi, ruangan ini menyiksa batin shikamaru, mendengar semua penjelasan dokter Tsunade, yang membuat telinganya panas. Tidak hanya panas, tapi nyeri di hatinya. Sangat nyeri malah.
Sebelum benar-benar keluar, ia menoleh pada dokter yang masih setia pada posisi duduknya (ingat! Posisi tsunade. Menopang dagu dengan tangan di atas meja, sambil menatap sendu pada shika)
" Anno. Sankyuu, atas penjelasan anda Tsunade-sensei" kata Shikamaru, sambil membungkuk hormat pada Tsunade, lalu menegakkan badannya. Ia membuka paksa pintu ruangan itu lalu dengan cepat keluar dari ruangan pribadi dokter cantik berambut pirang itoeehh~ =_=
Shikamaru berlari. Terus berlari. Tapi tiba-tiba kakinya terhenti di depan sebuah kamar rawat yang bernomor 96.
96? Bukan 69 kan #plakkk!plakkk! plakkk! *angka sukebe ituuuuu~ mah =_=a
Bola mata shikamaru bergulir kearah pintu kamar rawat bercat putih yang tertutup itu. Dengan langkah yang mantap ia mendekati daun pintu tersebut. Tangannya bergetar hebat saat bergerak menyentuh gagang besi pintu itu.
Dingin.
Shikamaru memutar knop pintu perlahan.
Kriieett~
Pintu bercat putih itu terbuka perlahan. Memperlihatkan sebuah ruangan serba putih, dan bau obat-obatan menyeruak masuk, menusuk ke indra penciuman Shikamaru. Shikamaru masuk kedalam ruangan itu, sebelumnya ia menutup pintu itu perlahan.
Kornea matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak menyenangkan. Seorang yang mungkin ia cintai kini tengah berbaring lemah, tak berdaya. Dengan beberapa alat medis menempel pada tubuhnya. Juga ia harus bernafas melalui tabung oksigen.
Miris. Rasanya miris hati Shikamaru, melihat gadisnya ahh tidak temannya yang terbaring lemah seperti itu.
Bibirnya ranumnya yang merah kini pucat pasi begitu pula pada wajahnya yang biasanya bersinar kini terlihat pucat. Tangannya yang putih dan hangat kini dingin. Pemuda berambut yang yang diikat tinggi itu berjalan mendekati ranjang ukuran single itu perlahan.
" Huuufftt~ " shikamaru menghela nafas, lalu tersenyum tipis.
Ia mengelus pelan rambut hitam gadis cantik itu.
" Kurotsuchi-chan, cepat sembuh yah " gumam shikamaru, lalu mengecup lembut kening gadis yang dipanggil kurotsuchi itu.
Diam. Tak ada jawaban dari sang empu. Kini senyuman shikamaru hilang seketika. Hanya isak tangis yang menggema di ruangan rawat serba putih itu. Pemuda berambut nanas itu menunduk, menahan isakan yang sudah daritadi ia tahan. Ia berusaha tegar namun tak bisa.
Hening kembali.
Hanya terdengar deruan mesin medis yang menggema.
Shikamaru merasakan kantuk yang luar biasa. Ia berjalan pelan, kearah sofa. Lalu merebahkan tubuhnya disana. Melepas semua kantuk yang menyerangnya.
-LOLOLOL-
- Monday, 29 Oktober 20-
Tak terasa hari telah berganti. Sang Surya kini telah menampakkan sinarnya. Menyinari dunia. Cahaya nya yang terang menerobos gorden putih yang menggentung di kusen jendela sebuah kamar bernuansa putih itu. Bau obat-obatan tercium sangat kuat. Kita, bisa tau kalau kamar itulah adalah kamar rawat yang ada di rumah sakit.
Seorang gadis berambut hitam gelap, kini terbaring tak berdaya di sebuah ranjang ukuran single, yang ada di ruangan itu. Matanya terpejam rapat. Kulitnya pucat, juga bibirnya.
Gadis cantik itu bernama Kurotsuchi. Gadis cantik berumur 17 tahun tengan mengalami masa komanya.
Di sudut kamar, tepatnya di atas sebuah sofa berwarna coklat itu. Seorang anak adam, tengah tertidur dengan lelapnya. Tangannya menutupi wajah rupawannya.
Kriieettt~
Suara pintu yang terbuka membuat mata lelaki yang tengah tertidur itu terbuka, dengan malas. =_=
" Sepertinya tertidur cukup lama, sangat lama malahan " gumam shikamaru pelan.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah ringan seseorang, membuat kepala shikamaru menoleh pada orang itu.
" E h? "
Shikamaru segera bangkit dari posisi tidurnya. Seorang dokter toh, yang datang. Ia adalah dokter spealis kanker, yang menangani Kurotsuchi. Dokter itu bernama Dr. Tsunade. Dokter senior yang ada di rumah sakit itu.
Kini dokter itu tengah memeriksa, keadaan kurotsuchi.
Shikamaru's POV
Aku beranjak dari sofa. Menedekati, dokter Tsunade, yang tengah memeriksa kondisi Kuro. Hmm, kulihat dari raut wajahnya ia tampak kecewa. Daripada aku penasaran sebaiknya aku bertanya saja padanya.
"bagaimana, keadaan Kuro, dok?" tanyaku langsung. Ia menatapku dengan tatapan kaget. Ah, mungkin ia terkejut karena aku datang tiba-tiba.
" Pyuuh~" ia menghembuskan nafasnya pelan.
"sepertinya ia akan lama koma" lanjut dokter cantik itu. Aku terdiam.
Koma. Ya koma. Aku tau akan hal itu. Aku sudah mendengar penjelasan dokter Tsunade, kemarin.
Kualihkan pandanganku dari dokter itu, kearah kuro, lalu mengelusnya pelan.
" Aku yakin kau akan cepat sembuh " kataku yakin. Dokter Tsunade, menatapku dalam.
" Lakukan saja proses pengobatan cemotheraphy itu, dok" kataku mantap.
Hey! Apa-apan aku ini!? Aku baru mengenalnya 2 minggu 4 hari. Kenapa aku bisa seenaknya menyuruh dokter melakukan cemotheraphy itu pada Kuro!? Aku rasa aku sudah gila. Dan! Kenapa juga aku mengaku sebagai keluarganya? Bukankah itu gila!
Argghhhh~ aku tergila-gila akan cintanya. Sepertinya aku menyukai nya ahh tidak , tapi, aku mencintainya.
Peduli setan! Aku akan menjaganya. Aku berjanji. Aku akan selalu ada disampingnya. Setelah ia sadar aku akan menyatakan cintaku, perasaanku padanya~! Aku berjanji.
Dokter Tsunade, menatapku tak percaya.
" Tapi~ "
" Sudahlah, dok! Lakukan saja " sanggahku cepat. Aku mengenggam tangan pucat Kurotsuchi.
Jantungku seakan dihantam batu besar.
Sakit.
" Huuuftt baiklah. Tapi, terapi itu tidak menjamin sepenuhnya. Aku takut dia tidak sanggup menjalani terapi itu. Tunggu keadaannya membaik dulu, baru ia bisa melakukan terapi itu " jelas dokter cantik itu.
Ck, merndokusai. Inilah yang tak kuinginkan.
Aku hanya mendengus. Dokter cantik itu lalu pamit, keluar. Aku hanya diam, sambil menatap wajah kuro.
Hari ini aku tak masuk sekolah, sebaiknya aku menelpon naruto saja.
Dengan lincah aku menekan tuts ponsel ku. Mataku beregrak-gerak mengamati contactlist, mencari nama Naruto.
'Naruto Duren'
Ah! Dapat. Aku langsung saja menekan tombol call untuk menghubungi bocah duren itu.
Tuttt.. Tuutt..
5 detik tak ada jawaban.
Tuuttt.. Tuutt..
Detik ke 9 tak ada jawaban.
Tuutt.. Tuutt.. cklekk~
Ah! Akhirnya diangkat.
" Moshi-moshi " jawab Naruto dari line telepon.
" Naruto, bisa bilang ke Anko-sensei, kalo aku masuk hari ini? Bilangin kalo aku lagi izin, ada acara keluarga " ucap Shikamaru.
" Oke, Shika! Tenang aja ama aku " jawab Naruto lagi.
" Hm, baik "
Tlekk!
Aku langsung memutuskan line teleponku dengan Naruto. Aku tak mau buang-buang pulsa ku hanya untuk menelpon anak cildish dan berisik sepertinya. Segera ku masukan ponsel ku ke dalam saku jeansku.
Sementara di kelas..
" Gyahh~ dasar nanas! Dia langsung end call, padahal aku pengen nanya jawaban pr hari ini T_T " kata Naruto sambil mewek.
" Su-sudahlah Naruto-kun, pr ku sudah jadi. Mau lihat punyaku? " tawar Hinata, pada kekasihnya Naruto.
Naruto menoleh pada kekasihnya, Hinata.
" Kyaa! Hinata-chan! Kamu memang baikkk~! " teriak Naruto, dan langsung memeluk erat tubuh kecil hinata. Hinata yang dipeluk Naruto, langsung merona, daann~
Brukk!
Tiba-tiba saja Hinata, gadis imut itu pingsan. Naruto, jadi cengok dibuatnya.
" Hinata~ Hinata-chan " panggil Naruto sambil menepuk-nepuk pelan pipi Hinata. Daaann~
Mari kita tinggalkan mereka sejenak. XDD
-Tuesday, 6 November 20-
Normal POV
Sudah genap 1 minggu Kurotsuchi dilanda koma, 1 minggu pula Shikamaru tidak masuk sekolah, ia ingin menjaga Kurotsuchi sampai siuman. Alasannya tidak masuk sekolah cukup simple, ia hanya meminta izin bahwa ia ingin mengunjungi rumah neneknya karena ada acara keluarga selama beberapa hari atau beberapa minggu, teman-temannya hanya mengiyakan tanpa curiga pada Shikamaru, sedangkan Kurotsuchi, teman –temannya sudah tau kalau ia tidak masuk sekolah, keluarganya telah memberikan surat keterangan dari dokter pada sekolah kalau Kurotsuchi sedang dirawat di rumah sakit. Tapi, sampai saat ini masih belum ada yang menjenguknya, mungkin karena ujian sekolah semakin dekat jadi mereka semua sibuk belajar. ==d
Kini di ruang kamar rsu Konoha bernomor 96, suasananya berbeda. Orang tua Kurotsuchi, Kitsuchi, datang menjenguk anaknya.
Sebenarnya Shikamaru yang menelpon mereka, menggunakan ponsel Kuro. Karena, Shikamaru tidak memiliki nomor ponsel orang tuanya. XD
Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Kuro. Raut kecewa, sedih, tercampur jadi satu. Kasian mereka.
Shikamaru hanya duduk diam, di sofa meperhatikan kerabat Kurotsuchi yang datang menjenguk gadis cantik itu.
Tapi, sepertinya Shikamaru tak dihiraukan keberadaannya oleh kerabat Kuro. Mereka hanya mendiami Shikamaru, tatapan mereka pun begitu dingin.
Sudah pukul 17:09pm. Semua kerabat yang menjenguk keadaan Kuro kini berangsur-angsur pulang. Hingga akhirnya ruang kamar rawat itu menjadi sepi. Hanya seorang pemuda berambut nanas saja yang masih setia menunggui seorang gadis yang dirawat itu. Kini Shikamaru hanya duduk diam di sofa sambil menatap kearah layar ponselnya.
" Eng~ " lenguhan kecil, itu membuat kepala shikamaru menoleh pada ranjang yang ditiduri oleh gadis cantik yang tengah koma selama satu minggu.
Shikamaru dengan cepat mendekati ranjang itu, ia menggenggam erat tangan gadis itu.
' Um? Hangat? ' batin Shikamaru, ketika tangannya mengenggam tangan Kuro.
" Kuro, apa kau udah siuman? " Tanya Shikamaru. Tapi hanya lenguhan kesakitan yang keluar dari bibir mungil kuro. Shikamaru mendadak panic. Ia segera keluar kamar itu dan menanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan kuro.
Benar saja. tak selang beberapa lama Shikamaru kembali ke kamar rawat no. 96 itu dengan seorang dokter cantik. Eh? Tapi kali ini bukan dokter yang biasa menangani kuro. Tapi, ini adalah asisten dokter Tsunade. Namanya Dr. Shizune, terlihat dari tag name –nya.
Dokter muda itu mengeluarkan stetoskop dari dari dalam tas jinjingnya.
" Oh tidak " guammnya pelan yang dapat didengar oleh telinga Shikamaru.
" Apa? Ada apa, dok? " Tanya Shikamaru cepat. Dokter itu hanya menggeleng, lalu memanggil suster dan beberapa perawat lainnya.
Shikamaru hanya terpaku, melihat beberapa perawat masuk ke dalam kamar itu. Dokter muda, tadi mengeluarkan alat kejut jantung, yang membuat tubuh Shikamaru membeku.
Deg deg deg
Jantung Shikamaru berdetak kencang. Seorang perawat wanita menatap Shikamaru, lalu menyuruhnya keluar. Shikamaru hanya menurut. Ia tak dapat mengontrol detak jantungnya.
Shikamaru's POV
" Ayo sekali lagi " terdengan komando Dr. Shizune meng-echo di telingaku. Aku hanya menatap mereka melalui kaca transparan pintu kamar rawat Kuro. Kulihat merekasedang menempelkan alat kejut jantung di dada Kuro.
Tapi, kenapa aku yang merasakan sakitnya. Samar-samar aku mendengar erangan kesakitan dari dalam.
Oh GOD! Aku seakan tak becus menjaganya.
Tap tap tap
Kualihkan pandangan ku kearah suara langkah kaki yang terdengar buru-buru itu.
Dr. Tsunade? Eh? Kenapa ia?
Dokter Tsunade, mendekati ku, lalu membuka pintu kamar itu, tanpa berbicara, menoleh, ataupun tersenyum padaku. Sepertinya ia tegang sekali. Dengan keras ia menutup pintu kamar rawat itu, hingga aku tak sempat apa-apa.
Aku kembal menatap kaca didepanku yang mengarah tepat kearah ranjang kuro. Kulihat dokter tsunade tengah berbicara pada Dr. Shizune. Aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Dr. Shizune mengangguk, lalu mendekat kearah ranjang Kuro, sekilas kulihat ia tersenyum, menatap alat pendeteksi detak jantung yang kini sudah normal. Tapi senyumannya itu aneh! Seperti senyuman kecut yang sangat menyedihkan, aneh. Para perawat itupun keluar. Menyisakan dokter Tsunade, dan dokter Shizune di dalam. Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi, nihil. Aku tak dapat mendengar apa-apa.
Arghh~!
Kini aku hanya termenung di di luar kamar rawat Kuro. Aku hanya bisa duduk diam di kursi tunggu diluar. Kutundukkan kepala ku untuk menutupi wajahku yang kini sangat kacau. Di pikiran ku hanya ada Kuro, Kuro, dan Kuro.
Shit!
Kuremas kuat bajuku, jantungku berdetak kencang. Seakan berontak ingin melompat keluar dari sarang(?)nya.
Cukup banyak orang yang berlalu lalang di koridor rs situ menatapku heran. Tapi aku tak perduli. Yang aku perdulikan hanya keadaan Kurotsuchi! Gadis yang selama ini selalu menggagu pikiran ku.
Ckleekk!
Aku langsung mengalihkan pandangan ku kearah pintu kamar rawat bernomor 96 itu. Yang tertangkap di kornea mataku adalah sosok dokter Tsunade yng keluar dari dalam diikuti oleh asistennya dokter Shizune. Aku segera beranjak, dan menatap kedua mata coklat dokter Tsunade lekat.
Sedangkan dokter Tsunade hanya menatapku ku balik dengan tatapan datar.
" Bagaimana keadaan Kurotsuchi, dok!? " tanyaku pada dokter cantik itu. Ia mengalihkan pandangannya dariku. Sepertinya ada yang ia sembunyikan dariku.
" Sepertinya ia tidak bisa menjalani kemoterapi itu " ujar dokter Shizune pelan. ia menatapku.
Dan kali ini dokter Tsunade juga menatapku lekat.
" Gomen " gumam dokter Tsunade pelan.
E-EHHHHH~~~! APA!?
Tenggorokanku serasa tercekat. Apa maksud dokter Tsunade? Apa maksud dokter Shizune?
Oh God!? Apa kini dunia tengah mempermainkan ku? Kenapa harus cinta pertama ku yang engkau berikan cobaan? Cinta pertama? Yah! Kurotsuchi adalah first love ku. Aku hanya bisa doki-doki jika aku berada di dekatnya! Ugh! Dunia begitu kejam padaku.
Aku menatap mata dokter Tsunade dan dokter Shizune dalam.
" A-apa maksud kalian? " Tanyaku.
Mereka diam sejenak, lalu dokter Shizune menjawab dengan ragu.
" E-eh~ sebenarnya keadaan Kurotsuchi semakin memburuk. Ia tidak bisa menjalan kemoterapi itu. Lalu~" ucapan dokter muda itu menggantung, membuatku semakin penasaran.
" Lalu?" aku mencoba untuk tenang, menyembunyikan detak jantungku yang sudah tak beraturan.
" Eeh?" dokter Shizune menggigit bibir bawahnya. Aneh. Sedangkan dokter Tsunade diam membisu. Tatapan matanya kelihatan kosong, lalu berlalu meninggalkan aku dan dokter Shizune. Dokter muda didepanku menoleh kea rah dokter Tsunade yang sudah menjauh drai mereka.
" Tsunade-sensei!" panggil dokter Shizune keras, membuat dokter Tsunade berbalik mengahadapnya.
" Ssstt! Jangan berisik " sahut sokter Tsunade, sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Kulihat dokter Shizune, mengangguk.
" Anno. Apa perlu saya beritahukan pada orang ini? Bukankah ia telah berbohong" ujar dokter Shizune, seraya menatapku. Dokter Tsunade lalu berjalan meninggalkan kami, hingga tak terlihat di belokan koridor rs itu.
'Berbohong? Memangnya aku berbohong apa?' batinku heran.
Aku, menautkan kedua alisku, tanda heran.
" Bukannya kau telah mengaku –ngaku sebagai keluarga Kurotsuchi-san ? " selidik dokter Shizune. Ia menatapku tajam.
AH! Ternyata itu. Hahh~ aku memang berbohong, demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada gadis itu.
Aku menundukkan kepala ku dalam. Aku merasa bersalah pada mereka, pada Kurotsuchi, pada dokter Tsunade dan dokter Shizune, juga pada keluarga Kurotsuchi itu sendiri.
" A-aku salah, mendokusai " gumamku. Aku tak tau bagaimana ekspresi dokter Shizune mungkin dia akan tambah marah.
" Haa~ kau har–" belum sempat dokter Shizune melanjutkan perkatannya aku sudah memotongnnya.
" Anda tadi ingin berbicara apa, dok? Tentang apa? Kurotsuchi?" tanyaku tak sabaran, aku mendongak menatap kedua mata hazel dokter cantik itu. Kudengar ia menghela nafas sejenak.
" Terpaksa. Karena kau kelihatannya sangat menyayangi Kuro. Ehmm~ aku berpikiran seperti itu karena kau selalu menemani Kurotsuchi-san dimasa –masa ia sakit. Kau hanya pulang untuk ganti baju, lalu kau seharian di s ini menungguninya" kata dokter Shizune bertele-tele, yang membuatku muak!
" Sudahlah dok! Tidak usah basa –basi. Aku hanya ingin apa yang ingin dokter sampaikan" kataku lantang. Kulihat dari mimic wajahnya dokter itu agak terkejut mendengar suara ku yang keras.
" Cih, mendokusai "
" Sebenarnya, Kurotsuchi-san keadanya buruk. Hanya saja sepertinya ia terlalu memaksakan diri. Kami akan mencari pendonor jantung untuknya" jelas dokter Shizune.
Eh? Pedonor jantung?
" Apa maksud anda? " tanyaku. Aku sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan dokter ini. Walaupun IQ –ku 200+ tapi kalau pikiran ku sedang kalut begini mana mungkin aku bisa berpikir jernih, walau sejenak.
" Haah~ Kurotsuchi-san tidak bisa bertahan lama jika tidak dapat menemukan jantung yang baru. Dalam kata lain, ia membutuhkan jantung pengganti. Kau tau sendiri bagaimana ganasnya penyakit kanker jantung itu " jelas dokter Shizune lagi.
Aku terdiam.
" Kuso " geram ku, tertahan.
" Aku permisi dulu" pamit dokter Shizune padaku, lalu berjalan melewati ku. Aku diam.
Sial! Apa seberat inikah cobaan yang diberikan tuhan? Oh Kami –sama! Kenapa harus dia?
" Anno " aku menalihkan pandangan ku kearah dokter Shizune.
" Ne? "
" Sekarang Kurotsuchi sudah siuman ?"
Dokter Shizune, tersenyum padaku.
" Ya. Dia sudah sadar dari komanya, namun ia masih sangat lemah "
" boleh aku masuk ?" tanyaku ragu.
" Tentu. Tapi bila apa –apa panggil saja aku, atau suster " jawabnya, lalu berlalu meninggalkan ku yang terpaku di depan kamar rawat itu.
Shikamaru's end of POV
Seorang lelaki berambut hitam yang diikat tinggi itu kini tengah berdiri di depan sebuah ranjang ukuran single itu. Bibirnya keringnya mengatup rapat, mata coklatnya kelihatan memerah.
Ia menggenggam tangan gadis yang terbaring di kasur itu. Mata hitam gadis itu, terlihat sayu.
" Bagaimana perasaanmu ?" Tanya lelaki yang bernama Shikamaru, membuyarkan keheningan yang menguar di ruangan serba putih itu.
Gadis cantik berambut hitam klimis itu tersenum getir.
" A-aku tak apa"
" Baguslah "
Hening~
" Daisuki desu "
" Eh? "
" Daisuki desu " ulang Shikamau yang membuat gadis bernama Kurotsuchi itu cengok dibuatnya.
" Kau bercanda "
" Tidak "
" Lalu? "
" Mendokusai "
" Ughh~ =З= " Kurotsuchi menggembungkan pipi chubby –nya.
" ehehehehehehehe~ " Shikamaru hanya cengengesan gaje. ==a
" Tapi kau serius?"
" Ya "
" Daisuki desu "
" Eh? "
Kening Kuro berkedut. Urat –urat bermunculan di kepalanya.
" Aku mengerti " sanggah Shikamaru.
" Apanya ?"
" Aku menyukaimu. Kau mau jadi kekasihku?" tembak Shikamaru, yang membuat Kurotsuchi langsung shock aku dibuatnya.
" Mau tidak?" goda Shikamaru, sambil toel –toel idung Kurotsuchi. Jiahh! =_=a
Blush. Pipi Kurotsuchi langsung merona. Ia jadi gelagapan mendengar penuturan Shikamaru yanglangsung to the point itu.
" A-aku~" kalimat Kurotsuchi menggantung mmebuat Shikamaru harap –harap cemas.
" Aku?"
" A-ku~~"
" Aku?"
" A-aku~~~"
" Arghh~ Mendokusai" sungut Shikamaru sambil manyun. Jiakakakakak~ *author ngakak gelundungan XD*
" Aku mau " jawab Kurotsuchi cepat.
" Hontou desu ka?" yakin Shikmaru.
" umm~" Kuro hanya mengangguk.
" Yaatta! Sekarang kau kekasihku!" seru Shikamaru ooc kumat. =o=a
Kedua pipi Kurotsuchi semakin merona. Sedangkan Shikamaru lompat –lompat geje di atas sofa *plakkk!*
" … " = Kuro =_=a
" … " = Shika (/^O^)/
" Apa? " Tanya Kuro gondok.
" Aku minta hadiah "
" Dari?"
" Kau "
" Aku sedang sakit, mana bisa memberimu hadiah" kata Kuro, pelan.
" Mudah "
" Caranya?"
Shikamaru mendekatkan wajahnya kearah Kuro.
" Apa?"
"Hanya menagih" kata Shikamaru.
" Menagih Ap –" belum sempat Kurotsuchi melanjutkan perkatannya. Bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Shika.
Lembut dan manis.
" Ngg~" lenguh Kuro disela sela kegiatan(?) Shikamaru.
"….."
" Ummhh – ah Shika~" desah Kurotsuchi.
Shikamaru tak mau tinggal diam, ia memanfaatkan kesempatan saat Kurotsuchi membuka mulutnya. Ia segera menelusupkan lidahnya, mengekspos rongga mulut Kuro.
" Engg~ Shikahh~" desah Kuro tertahan.
" stttt~" Shikamaru menekan tengkuk Kurotsuchi untuk memperdalam kissu –an mereka XD
Kurotsuchi meremas rambut Shikamaru kuat, ia masih terbaring di ranjang rawatnya.
Tangan kiri Shikamaru yang masih bebas, menjalar(?) kearah leher jenjang Kuro, ia mengelusnya, sesekali ia cubit. XD
" Eng~ cuh – khuupph~~ " desah Kurotsuchi, sambil menggigit bibir bawah Shikamaru.
" Ittee! " ringis Shikamaru, langsung melepaskan ciuman hottie(?) mereka.
" maaf " Kurotsuchi, mencoba mendudukkan dirinya. Ia menatap keuda bola mata Shikamaru.
" Giliranku " desis Kurotsuchi yang membuat Shikmarau begidik ngeri. Dan berlanjutlah adegan –adegan Hottie mereka di kamar 96 itu. XDD
-TBC-
Note: seperti biasa hehe Review nya yak ^^ beri semangat saya buat nulis ff lagi nyan ^^ *hug reader*
