Title: Promise

Rated: Fiction T

Pairings: Shikamaru/Kurotsuchi

Chapter(s): 4/END

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto. But, this fanfic is mine! don't ever dare you claim it as your! ^^

Genre : Romance/Angst/Friendship

Warning(s): OOC, AU, typo(s)

Writer: eruchaa

Note: I hope you all will like this fanfiction ^^

"Shikamaru, apa kau yakin dengan keputusan mu itu nak? Ibu tidak ingin kau sampai mendonorkan jantungmu untuk orang lain, nak. Okaasan tidak rela, kaasan tidak mau kau kenapa-napa, nak. Resiko itu cukup besar!" Yoshino Nara menatap nanar putra tunggalnya. Air mata nya berderai. Wanita pauh baya itu terisak sambil memeluk putranya. Ia benar-benar shock dengan keputusan Shikamaru yang ingin mendonorkan jantungnya pada orang lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kekasih putra nya.

"Sudahlah kaasan. Izin kan lah aku. Aku sangat mencintai, Kuro -chan." Pinta Shikamaru, ia mengelus lembut punggung ibunya.

"Tapi, kaasan tidak ingin kehilangan kamu nak. Kaasan sangat mencintai kamu, kaasan sangat sayang padamu. Tolong batalkan keputusan mu itu" Yoshino mengelus pipi tirus putra nya. Tatapan dari onyx nya memancarkan kecemasan pada putranya. Ia benar-benar takut. Saat itu Shikaku Nara –ayah Shikamaru– belum pulang dari luar kota. Ayah Shikamaru bahkan tidak tau tentang keputusan Shikamaru yang sudah bulat ini.

"Kaasan, tenanglah. Aku akan baik-baik saja kok. Kaasan tenang saja." Ucap Shikamaru seraya tersenyum teduh. Ia sebenarnya benar-benar tidak tega meninggalkan ibu nya sendirian. Tapi, itulah resiko yang mungkin akan didapatnya.

"Hick. . Hick. . berjanjilah dengan kaasan bahwa kau tidak akan meninggalkan kaasan." Lirih Yoshino masih dengan air mata yang mengalir di pipi nya.

Shikamaru mengangguk pelan. " Jangan khawatirkan aku kaasan, aku akan berusaha untuk tetap bisa bersama dengan kaasan." Tambah Shikamaru. Sebenarnya, pihak rumah sakit Konoha sudah melakukan percobaan dengan kecocokan jantung, dan golongan darah Kurotsuchi dan Shikamaru. Dan, hasilnya kecocokan hampir 97% dan itu memungkinkan sang pasien untuk bisa tetap berada di dunia, namun, sang pendonor belum diketahui apa ia dapat tetap hidup atau akan mengantikan sang pasien, dalam arti kata sang pendonor akan menginggal dunia apabila fisik nya tidak kuat dan fit. Namun, jika belum ada persetujuan dari keluarga pendonor maka sang pendonor tidak akan bisa mentransplatasikan jantung, atau organ tubuh miliknya.

"Ja-jangan pernah ingkari janji mu, bodoh hick" kata Yoshino dengan nada sesenggukan. Shikamaru tersenyum kecil. Ia memeluk erat tubuh ibu nya.

"Apa kaasan menyetujui kalau aku akan mentransplatasikan jantungku?" Tanya Shikamaru memastikan.

Dengan berat hati Yoshino mengangguk pelan. Ia sangat sedih jika putra semata wayangnya itu kenapa-napa apalagi sampai meninggalkannya.

"Aku sangat mencintai kaasan" ucap Shikmarau tulus. Kembali Yoshino mengangguk. Ia benar-benar tak menyangka hal ini akan terjadi. Sebenarnya apa yang ada di pikiran putra nya ini. Apa ia sudah gila, rela mentransplantasikan jantung miliknya hanya untuk seorang gadis –kekasihnya- . Yoshino benar-benar tak habis pikir.

Tap.. Tap.. Tap..

Suara langkah kaki yang terdengar berat itu tengah menyusuri koridor rumah sakit Konoha dengan tergesa. Seorang pemuda berambut hitam yang diikat tinggi itu berjalan dengan tergesa-gesa untuk mencapai tempat tujuannya. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Ia cemas, ia panic, ia takut. Beberapa menit yang lalu pihak rumah sakit konoha meneleponnya, dan mengatakan bahwa kekasihnya Kurotsuchi sedang mengalami kritis setelah beberapa saat ia siuman dari koma nya. Kini, keadaan gadisnya itu semakin memburuk, detak jantung dan nafas nya sangat tidak teratur. Shikamaru mendadak berhenti di depan pintu UGD. Ia menatap nanar kea rah pintu kaca buram itu. Tangan nya terjulur untuk meraih handle pintu itu, namun mendadak berhenti.

Lelaki berumur 17 tahun itu memegang dada sebelah kirinya yang terasa sakit. Bukanlah sakit fisik melainkan sakit bathin lah yang ia derita. Shikamaru kembali ber focus pada pintu itu, ia memutar perlahan handle pintu UGD dimana Kurotsuchi sekarang tengah dirawat.

Suara deritan pintu kaca itu tak begitu terdengar karena suara bising lain yang terdengar dari medical machine di ruangan steril itu. Kedatangan Shikamaru sukses mendapat perhatian dari seluruh staff, perawat dan dokter yang tengah menangani Shikamaru.

Salah satu perawat berambut hitam sebahu persis seperti Kurotsuchi mendekat pada Shikmaru; "Apa yang kau lakukan disini? Kami sedang bekerja" ketus nya. Shikamaru hanya meliriknya sekilas lalu beralih menatap dokter Tsunade yang tengah sibuk menangani Kurotsuchi yang tengah kritis.

"Tsunade-sensei…" panggil Shikamaru pelan. tak ada sahutan, Tsunade masih sibuk dengan medical tool ditangannya.

"Tolong, sebaiknya anda keluar dulu, Nara-san" kata perawat tadi yang tak lain adalah asisten dokter Tsunade, Shizune.

"Uso!" pekik Shikamaru, sambil menjambak rambut nya keras. Ia jatuh berlutut dilantai.

"Sensei~ aku siap. Aku bersedia bila jantungku ditransplantasikan untuk Kuro-chan…" lirih Shikamaru, ia menunduk menyembunyikan air matanya yang sudah menggantung di pelupuk matanya.

"Onegai" Shikamaru membungkukan badannya dalam, ia benar-benar sudah putus asa. Lelaki cuek seperti Shikamaru benar-benar bertekuk lutut pada seorang Kurotsuchi ia benar-benar mencintai gadis manis itu. Sangat mencintai nya bahkan.

Tsunade terlihat berbisik pada asisten nya –Shizune– , lalu dokter paruh baya itu menghentikan aktifitas nya. Ia berjalan ringan kea rah Shikamaru yang masih berlutut.

"Nara-kun bisa ikut saya sebentar" pinta dokter Tsunade. Shikamaru mengangguk pelan, ia lalu beranjak dari berlututnya, tak lupa lelaki itu mengusap jejak air matanya yang sudah mulai turun.

"Bagaimana Nara-kun? Kau setuju?" Tanya dokter Tsunade seraya menatap lurus pada Shikamaru yang tengah tertunduk.

Lelaki berambut nanas itu tampak mengangguk walau pelan.

" Kau yakin?" kini dokter Tsunade mencoba menyakinkan.

Lagi, Shikamaru mengangguk.

Tsunade menghela nafas berat, ia menopang dagunya dengan kedua tangannya.

"Aku benar-benar tak habis fikir." Dokter paruh baya itu bergumam. Shikamaru masih bungkam.

" Kuharap keputusanmu itu adalah yang terbaik."

"Aku harap." AKhirnya Shikamaru buka suara, ia mengangkat wajahnya untuk menatap kedua bola mata hazel Tsunade.

"Wakatta, mari besok kita lakukan transplantasi nya." Tsunade meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

"Hai…" Shikamaru hanya menjawab dengan sekenanya. Ia sudah pasrah pada takdir.

Someone POV

Pagi cerah ini tidak seperti pagi cerah yang biasanya. Hanya diam. Tak bersuara. Tawa renyah sudah tak pernah terdengar lagi. Hiruk pikuk keramaian kini bagaikan kota mati. Senyap.

Aku melangkahkan kakiku memasuki area taman kota ini sudah mulai sepi. Aneh nya, taman kota yang biasanya ramai ini sekarang tak ada yang mengunjungi.

Aku mendudukkan diriku di salah satu bangku taman yang kosong. Menatap, penjuru taman kota yang benar-benar sunyi. Hanya segelintir orang-orang saja yang berjalan menyusuri trotoar. Aku mungkin tak tau apa sebab setiap tanggal 13 February kota Konoha ini selalu sepi. Yang kudengar dari tetangga ku sih, katanya ini "Promise Day" entah apa maksudnya. Aku hanya penduduk baru di kota ini, walau saat masih kecil aku pernah ikut ayahku dinas disini, ya hanya seminggu.

Kulayangkan mataku pada sebuah iPhone silver metallic yang sedari tadi kupegang. Bibirku tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis.

"Moegi-chan…" gumam ku, ketika melihat sebuah e-mail masuk.

[Kono-kun! Kemana saja sih, aku sudah menunggu di café Sandaime, nih! ]

Aku tertawa kecil melihat isi pesan dari gadisku itu. Aku tergerak untuk membalas pesannya.

[ Sabar Moe-chan, tunggu aku sebentar saja yah ] send!

Yokatta! Sudah kukirim.

Aku kembali memperhatikan kota ini. Kota yang baru seminggu aku tinggali. Aku baru tahu bahwa setiap tanggal 13 February ada hari peringatan " Promise Day" yah, hari Janji. Dari teman ku yang bernama Udon yang memang sudah lama tinggal disini katanya Promise Day adalah hari dimana penduduk kota tidak keluar rumah dalam waktu 13 jam, dan melakukan doa. Mereka juga akan bernjanji di hari peringatan ini, biasanya ini dilakukan oleh pasangan yang akan mengikat janji mereka. Bisa di sebut juga hari perjanjian sebelum hari Valentine. Malamnya baru mereka akan keluar rumah dan akan mengadakan malam Valentine bersama.

Aku dengar katanya sekitar 21 tahun yang lalu ada lelaki yang rela mentransplantasikan jantungnya demi gadis nya yang menderita kanker jantung, dan lelaki itu meninggal setelah 24 jam kritis, dan ajaib nya ia meninggal dalam keadaan tersenyum di pelukan kekasihnya yang saat itu terselamatkan oleh jantungnya. Benar-benar kisah cinta yang mengharukan.

Aku kembali teringat akan Moegi, kekasihku. Segera saja aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan menuju kea rah moge ku yang sengaja aku parkirkan di bawah pohon Sakura.

"Tunggu aku Moegi-chan. Aku sangat mencintai mu, baby," teriakku keras, sambari tersenyum menatap display iPhone ku yang menampilkan screen saver foto–foto Moegi tengah tersenyum bersamaku.

"Aku Berjanji Akan Selalu Mencintai Mu. Dalam Keadaan Apapun. Aku Mencintai Mu Apa Adanya. Tak Memandang Seberapa Hebatnya Kamu, Tapi Seberapa Kuatnya Kamu Dalam Menjalani Hidup. Aku Mencintai Kamu Karena Itu Kamu, Karena Takdir Yang Mempertemukan Kita. I'm Promise, I'm Promise To Keep You Forever"

OWARI

Note: AKhirnya owari juga. Gaje sekali nih fic. Ano, makasih yang udah mau baca o(*^*)o *terharu*

Cerita si Shikamaru itu udh saya selipkan di someone POV yang gak bukan gak lain adalah Konohamaru. (/^0^)/ dan kesimpulannya si Shikamaru metong pas transplantasi jantungnya buat Kuro (T/_\\T) gomen, kalo jelek dan gak detail alur loncat-loncat jangan salahkan saya, salahkan otak saya! *plak* Yeah! (^ω^)

Maaf jika typos bertebaran bagaikan debu T^T/ saya males pake banget ngeditnya, soalnya ini fic lawas yang di publish di akun saya.

Arigacchu yg udh baca, termasuk silent rider...

REVIEW please… ^^/