Happy End : There's No Problem

Chapter 1-2 : I Remembered

.

Warning : AU. Genderbend KagaKuro. AoKaga, slight!KiKuro. Abal. OOC. Typo(s)? Quick-typing. Quick-pace. Quick-plot. Unbeta. Lack of description. Tidak sesuai EyD? Tidak segreget yang kemarin.

Disclaimer : Para karakter bersangkutan dimiliki oleh Fujimaki Tadatoshi-sensei. Shaun the Rabbit tidak mendapat keuntungan materiil apapun dari membuat fic ini.

Dedicated for TheTsubasaYuki, Ruvina no Ookami Hime, jesper.s, Faboeloes. RisaSano (Sorry forget to mention you guys before orz) meychan5872628, Leavian, hi doraaadong, BakaFujo, LalaNur Aprilia, Kiseki Arvel

And

You, who already read Once Upon a Time and Happy End chapter 1!

.

Enjoy!

.

.

Di tengah kegelapan malam, hanya dengan penerangan ala kadarnya, di tempat paling berbahaya, mereka bertemu pandang.

"Kau ... Daiki Aomine?!"

Orang yang di seberang sana hanya tersenyum meremehkan. "Heh, tak kusangka kaukenal denganku. Hai, anak klan Bakagami," ejeknya.

Samurai bermanik merah bara api itu menggeram kesal. "Sialan kau! Jangan kaubawa nama klanku! Dasar, Ahomine!" balasnya tidak terima.

Mata biru gelap itu segera menatap tajam lawan yang ada di depannya, " ... Kau berani juga, ayo bertarung denganku!"

.

O.O.O.O.O.O

.

"Ah," mata azure itu langsung terbuka dan disambut oleh sinar matahari yang mengintip dari tirai jendela. "Mimpi? Siapa dia ...? Semua terasa nyata ..." bisiknya sambil menatap kedua telapak tangannya. Sekelebat serpihan mimpinya masih tersisa di ingatannya. "Oh iya ... Tadi, aku memegang pedang, kan ... Mungkin dulu aku seorang pemain kendo, aku sangat ingat rasanya mengayunkan sebuah pedang! Ahahaha!"

"Baka Dai-chan!" Pekik suara melengking yang Daiki sangat kenal, "Kau? Memegang pedang? Pasti kau habis menonton film porno, kan?!" seru Satsuki yang sekarang berada di samping tempat tidur pemuda berambut biru tua itu.

"WAAAAAAAAH?! Satsuki-teme! Apa yang kaulakukan di kamarku?!" Daiki segera merapat dengan dinding yang berada di samping tempat tidurnya.

"Ck," Satsuki berdecak kesal, "Bibi memintaku membangunkanmu! Dan, pasti kau lupa kalau hari ini ada latih tanding dengan Seirin!" Ujarnya mengingatkan teman masa kecilnya itu.

"Tidak mau."

"Aku tidak peduli, cepat pergi."

"Tidak mau. Pergi sana, nenek jelek, gendut, merah muda, norak."

BRUK!

Daiki sudah membuat kesalahan besar membuat seorang gadis marah besar.

"DAI-CHAN! AKU TIDAK PEDULI DENGANMU SAMA SEKALI! DAI-CHAN JELEK!" Teriak gadis yang merupakan manager Akademi Touou itu sambil melemparkan beberapa berkas.

"Oi! Satsuki!" Daiki segera mencoba beranjak dari tempat tidurnya, namun, tertahan ketika melihat isi berkas yang dilempar Satsuki tadi.

.

Taiga Kagami.

Manager Seirin yang lebih sering menangani masalah ibu rumah tangga, seperti, menyiapkan makanan dan minuman bagi timnya, lalu, membereskan pakaian-pakaian kotor mereka, dan lain-lain.

Ia lahir pada tanggal 2 Agustus 19xx di Jepang, tetapi, besar di Amerika.

Ayahnya orang Jepang asli, sedangkan, ibunya orang luar negeri. Ayahnya sering berpindah-pindah kerja saat itu, sehingga, mau tak mau ia juga ikut pindah.

Ia juga merupakan teman masa kecil Tatsuya Himuro, salah satu pemain andalan di SMA Yosen.

Kabarnya, ia juga pandai bermain basket. Konon, saat ia di Amerika, ia sering bermain basket bersama Himuro dan hebatnya, guru basket mereka adalah mantan pemain basket ternama, Alexandria Garcia.

.

"Hmmm," Daiki duduk bersila sambil melihat-lihat isi berkas tim Seirin itu, "Kira-kira berapa ukuran dadanya, ya? E cup? F cup? Hmmm, dilihat-lihat lagi, sepertinya E cup! Lumayan juga ..."

"DAI-CHAN!"

Glek.

.

O.O.O.O.O.O

.

Di depan pintu gerbang SMA privat Seirin, terlihat rombongan tim basket Touou yang berbaris memasuki sekolah baru tersebut. Angin berhembus dengan kencangnya, ciri khas musim gugur. Hal ini juga yang membuat Daiki malas keluar untuk menghabiskan tenaganya.

"Tetsu-chaaaan~! Lama tidak berjumpaaaaaa!" Satsuki segera menghambur pelukan kepada salah satu teman SMPnya itu.

"Ck, Tetsu, pergilah sebelum kau mati karena kehabisan napas," saran Daiki sambil berjalan melewati kedua teman dekatnya itu.

"Ah, Aomine-kun?" Tetsuna segera menatap pemuda setinggi 192 cm itu dengan tidak percaya, "Kupikir kau tidak akan datang di pertandingan latihan seperti ini,"

Daiki mengalihkan pandangannya. "Aku ditarik paksa Satsuki. Dia ribut masalah berkas managernya yang kuhambur tadi pagi,"

"Dai- maksudku, Aomine-kun bohong!" Pekiknya tanpa melepaskan pelukan eratnya dari gadis berambut biru muda itu. "Tetsu-chan! Sepertinya dia menyukai Kagamin!"

"Hah? Cerita darimana itu?!" Sergah pemuda yang tengah dibicarakan.

"Dia mengomentari masalah," Satsuki segera berbisik di telinga Tetsuna, "Dadanya Kagamin yang termasuk besar,"

"JANGAN MELIHATKU DENGAN TATAPAN AKU ITU MENJIJIKAN!"

"Oh, Kuroko! Kau disini rupanya ..." Jeda. "Dengan orang-orang dari Touou ini," lanjut Taiga yang baru saja datang.

"Hai, Kagamin! Dai-chan datang hanya untuk menemuimu, lho!" Seru Satsuki girang.

Ah,

Daiki ingin sekali menyikut teman masa kecilnya itu, tapi, karena Daiki itu gentleman, iapun mengurungkan niatnya tersebut.

"Oi, jangan mengatakan hal-hal aneh, Satsuki-teme,"

"Huh," dengus Satsuki. "Ayo kita pergi ke gymnya langsung, Tetsu-chan! Tinggalkan saja, Dai-chan yang dekil ini di depan sekolah Tetsu-chan!" Sindir gadis itu sambil melenggang pergi bersama Tetsuna.

Namun, ada yang salah di sini.

"OI, AKU TIDAK TAHU DI MANA GYMNYA, SATSUKI!" geramnya.

"Aku dapat mengantarmu ke sana, Aomine," tawar gadis berkuncir satu itu. Daiki menatapnya, tidak, bukan dadanya, mata gadis itu.

"Malaikat,"

"Apa?"

"Tidak, tidak ada,"

Daiki tidak menyangka gadis yang terlihat tangguh, garang, ataupun galak seperti Taiga itu ...

Polos.

Naif?

Baik?

Satu kata yang tepat hanyalah,

Seorang malaikat.

.

O.O.O.O.O.O

.

"Tetsu, aku lapar. Kau masih punya makanan?" Tanya Daiki setelah latihan tanding selesai kepada Tetsuna, "Ah, jangan beri aku telur rebus," pinta pemuda rambut biru itu.

"Kalau begitu, akan kuberikan masakan Momoi-san saja," balas Tetsuna yang merasa tersindir.

"KAU MAU MEMBUNUHKU?!"

"Kuroko, ayo kita pulang! Hm? Kenapa dia masih di sini?" Taiga yang sudah selesai berbenah menghampiri manager kecil Seirin untuk mengajaknya pulang.

"Aku menunggu Satsuki. Dia sedang berbicara dengan pelatihmu. Kalau aku pulang duluan, aku tidak akan diberinya contekan PR,"

Semua sweatdrop.

"Oh, kalau begitu seharusnya tidak apa, bukan, kalau Kuroko pulang sekarang?" Komentar Taiga polos.

Daiki menatapnya kaget, "Apa temanmu selalu begini, Tetsu?" Tetsuna mengangguk.

"APA YANG KALIAN MAKSUD?!" Protes gadis berambut merah api itu, bahkan, alis bercabangnya turun.

"Tetsunacchi~! Aku datang untuk menjemputmu!" Suara melengking yang penuh dengan keceriaan memenuhi gym Seirin seketika. "Eh?" Jeda. "AOMINECCHI?! Apa yang kaulakukan di sini?!"

"Latih tanding, Kise. Kau ribut," jawab Daiki cuek.

"Oh? Tumben sekali, apa karena Kagamicchi-uhuk!" Perut tak bersalah milik Ryota Kise menjadi sasaran amuk Daiki.

"Aku? Kenapa?" Tanya si objek pembicaraan.

"Tidak apa-apa, dia memang suka meracau. Diam kau, Kise," hardiknya.

"Ck, Aominecchi ketularan tsunderenya Midorimacchi, ya?"

"Jangan samakan aku dengannya,"

"Tapi, Aominecchi tidak mau jujur-ssu, hahaha!" Si model itu malah tertawa renyah. "Kalau begitu, aku dan Tetsunacchi akan pulang sekarang,"

"Aku titip salam untuk Momoi-san dan kantoku, sampai besok, Kagami-san, sampai nanti, Aomine-kun," ucap Tetsuna dengan tersenyum penuh arti.

"Ah, benar! Titip salam untuk Momocchi, ya! Sampai nanti, Aominecchi, Kagamicchi!" Ryota segera menghampiri sang kekasih hati dan keluar gym bersama.

Hingga akhirnya, hanya tersisa mereka berdua,

Daiki Aomine dan Taiga Kagami.

"Sial, pasti mereka merencanakan ini!" Daiki mengacak surai birunya kesal, tidak peduli saat ia diberi pandangan aneh oleh gadis yang berada tidak jauh dengannya.

"Kalau begitu, aku pulang sendiri saja, sampai nanti," seru Taiga mengambil tasnya dan bersiap untuk melangkahkan kaki,

"KRUYUK KRUYUK!"

...

"Ya, sampai nanti ..." Daiki melambaikan tangannya.

Taiga menatapnya dengan terkejut, ekspresinya sangat mudah dibaca. "Kau lapar? Aku masih punya cadangan bekal kalau kau mau makan,"

"Kalau kau mau memberikannya,"

"Kenapa tidak?" Taiga akhirnya mengurungkan niatnya untuk pulang dan membuka tasnya untuk mencari bekal yang ia buat tadi pagi.

Setelah diketemukannya bekal tersebut, Taiga segera memberikan kotak bekal tersebut kepada pemuda yang kelaparan itu.

"Terima kasih," Daiki segera duduk di kursi gym dan membuka bekal yang akan dia santap.

Entah apa itu kebetulan atau bagaimana, bekal yang ia dapatkan memiliki lauk kesukaannya, teriyaki. Daiki menatapnya dengan mata berbinar, ia tetaplah manusia yang bahagia jika diberi makanan yang ia suka.

"Jangan tertipu dari luar," batinnya sebelum menyuapkan sesumpit nasi ke dalam mulutnya. Santapan pertama membuatnya jatuh cinta, pada masakan gadis itu. "Enak, aku serius, aku tidak bisa berhenti memakannya,"

"Well, thanks for the praise," balas gadis yang berada di sampingnya itu dalam bahasa Inggris.

Lalu, percakapan mereka terhenti sampai di sana, membuat keadaan menjadi canggung, hingga,

"Kenapa kau tidak ikut bermain?"

Baru saja Daiki ingin memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Segera dihentikannya kegiatan makannya. "Membosankan," ekspresinya pemain Akademi Touou nomor 6 itu segera berubah. "Aku malas bermain dengan orang lemah,"

Manik merah api Taiga menatapnya tidak percaya, ia pikir Daiki adalah seseorang yang dicintai oleh Dewi Basket, seperti yang diceritakan Alex kepadanya.

Daiki mempunyai semuanya,

Kelincahan,

Ketepatan,

Kemampuan,

Daya tahan tubuh.

Apa lagi yang dia inginkan?

"Kau ..." Geram gadis itu, "Seniorku tidak ada yang lemah, mereka itu kuat! Kami kuat karena kami bersama!" Serunya. Terselip nada kemarahan di setiap katanya, mata api itu berkilat-kilat.

"Karena itu artinya," Daiki segera meletakkan bekal yang ia makan, "Mereka hanya kumpulan orang lemah yang menjadi kuat, kan?"

Taiga menahan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Ada apa dengan pemuda ini?! Menganggap seniornya adalah orang lemah! Tidak tahan dengan cercaan yang dikeluarkan pemuda berkulit tan itu, segera diambilnya tas sekolah dan tas bekalnya, lalu, berlari keluar gym.

"Oi, kau mau pulang sendirian?!" Seru Daiki.

"Ya, apa urusanmu?" Balas Taiga dingin.

"Kau itu perempuan."

Kau itu perempuan, Taiga.

Bagaimana kalau kau diapa-apakan orang tak dikenal?

Di sini hanya ada tim basket untuk putra.

Kalau kau seorang pria, kau pasti akan menjadi pemain yang hebat.

Taiga teringat dengan kata-kata yang mengikatnya dari dulu, ia menggeram kesal,

"Apa salahnya aku menjadi seorang perempuan?! Andaikan saja aku seorang laki-laki, pasti aku akan mendaftar masuk tim basket putra! Tidak terjebak dengan tugas manager tim basket! Jangan remehkan aku karena aku perempuan!" Teriaknya.

"Oi," Pemuda berkulit gelap itu tersentak.

"Andaikan aku terlahir sebagai seorang laki-laki!"

Mata Daiki terbuka lebar, sekali lagi ia melihat kilasan seorang pemuda yang memiliki rambut berwarna api dengan manik mata yang senada dengan rambutnya itu.

"Hahaha, andaikan aku terlahir menjadi seorang perempuan, apa kau rela meninggalkan keluargamu demi aku, Daiki?"

"Untuk beberapa hal, aku ingin terlahir menjadi seorang perempuan ..."

"Daiki, menurutmu, jika aku menjadi seorang perempuan, aku akan menjadi perempuan yang bagaimana?"

Daiki segera pergi mengejar gadis yang belum jauh dari gedung gym Seirin, memegang tangannya dari belakang. "Perhatikan ucapanmu, bukankah dulu kau yang ingin menjadi seorang perempuan?!"

"Apa maksudmu dulu?! Kita tidak pernah bertemu sebelumnya!"

"Kita ...!" Ucapan Daiki segera terpotong ketika ia merasakan ponsel di kantongnya bergetar.

Caller ID ...

Satsuki

"Yo," jawabnya.

"Dai-chan? Itu, maaf ya, aku lupa kalau kau menungguku, aku pulang bersama Riko-san tadi! Ahaha, maaf ya, Dai-chan! Hati-hati di jalan!"

Lalu, sambungan telepon segera terputus.

"Satsuki-teme ..."

"Ah, apa kau ditinggal pergi?" Tanya Taiga yang sepertinya sudah tenang.

"Ya," jawab Daiki kesal. "Kuantar kaupulang,"

"Tidak perlu, jangan memperlakukan sebagai seorang perempuan," tolak gadis beralis cabang itu.

"Bagaimana aku bisa memperlakukan seorang Taiga Kagami sebagai seorang laki-laki?!"

"Aku tidak suka diperlakukan sebagai seorang perempuan!"

"Aku tidak mau memperlakukan seorang perempuan, terutama kau, seperti aku memperlakukan laki-laki!"

Kemudian, mereka berdua sendiri sama-sama terengah-engah. Berteriak benar-benar menghabiskan tenaga mereka. Mereka benar-benar membuang tenaga mereka percuma.

"Kau tidak boleh menolak, ini sudah jam 6, aku akan menemanimu, tidak peduli kau akan memukuli atau apa," Daiki segera berjalan di samping Taiga dengan kedua tangan masuk di kantong celana jersey Touou.

"Dasar aneh ... Ngomong-ngomong ... Kau tidak membawa barang apa-apa?"

"Tidak, bermain basket itu hanya perlu membawa diri sendiri,"

.

O.O.O.O.O.O

.

"Bulan selalu memperlihatkan jalan untuk kita, bukan begitu, Daiki?" Kehangatan mulai menjalar dari ujung jari mereka yang saling bertautan.

"Ya, bulan itu selalu memperlihatkan jalan untuk kita ..."

"Mmm, Aomine? Kaubicara apa dan apa yang kaulakukan dengan tanganku?" Tanya gadis setinggi 170 cm itu.

Daiki yang sepertinya sempat tertidur segera tersentak. "Apa?" Sadar akan apa yang dia lakukan, segera dilepaskannya tautan tangan mereka. "Aku tidak sadar, mungkin aku mengigau," ujarnya sambil menguap.

Taiga hanya mengernyitkan jidatnya, bingung.

"Tadi ... Kubilang, bulannya terang sekali. Mengingatkanku dengan suasana hutan yang gelap gulita," ulang Taiga sambil terus berjalan.

"Ah, kau benar, aku juga familiar dengan perasaan itu," Daiki menatap kosong bulan itu.

Pemuda itu, pemuda yang sering ia lihat belakangan ini, mirip dengan gadis yang di sampingnya, bukan? Namanya juga sama. Apa ini kebetulan?

"Apa kaupunya saudara, Kagami?" Tanya Daiki iseng.

Taiga hanya menggeleng. "Aku anak tunggal," jawabnya. Daiki hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka berdua kembali tenggelam dalam kesenyapan, disinari oleh bulan purnama yang jernih.

"Ah, Taigaaaa!"

"... Alex?!"

"Aku sudah lama menunggumu!" CHU. Tanpa tahu tempat dan waktu, Alexandra Garcia segera mencium Taiga di bibir, di depan seorang Daiki Aomine yang sekarang menatap cengo dua gadis itu.

Bayangkan 2 perempuan yang sama-sama berdada besar, saling berpelukan, dan saling berciuman.

Dasar laki-laki ...

"Alex! Hentikan!" Taiga mendorong mantan guru basketnya itu menjauh.

"Tidak mau, Taigaaaaa~!" Rengek wanita Amerika itu hingga ... "Hm ... Siapa pemuda ini?" Alex akhirnya sadar akan keberadaan pemuda tinggi itu, dan melepaskan pelukannya. "Kulit tan ... Rambut biru ... Mata biru ... OH! KAU! Ini pemuda yang kaubilang sering muncul di mimpimu, bukan? Yang mungkin kekasihmu di masa dulu itu, kan?!"

"A-A-A-Alex!"

Muncul di mimpinya.

Bukan Daiki saja yang pernah memimpikan sesuatu yang-entah-masa-apa-itu.

"Kau juga bermimpi tentangku? Sebenarnya kau itu siapa?"

"Aku? Taiga Kagami,"

"Bakagami?"

"OI?!"

Berubah lagi ... Bayangan pemuda itu segera muncul dan berada tepat di depannya, berada di rangkulannya.

"Taiga Kagami, kau memang Bakagami, kan?"

"Kau Daiki Aomine, jadi kau Ahomine, kan?"

"Kita berdua sama-sama bodoh, bukan begitu? Kenapa kita bisa kita saling menyukai satu sama lain dari beribu-ribu kemungkinan yang ada di dunia ini ..."

"Tapi ..." Jeda. "Kita saling melengkapi kebahagiaan satu sama lain, bukan?"

Ah, ingatan yang menyesakkan dada.

"Aomine? Kau yakin kau tidak apa-apa? Pandanganmu benar-benar kosong," ujar Taiga.

"Kau merindukan seseorang?" Tanya Alex.

Daiki mengangguk pelan, "Pemuda itu tidak bisa lepas dari bayanganku. Semua hal ini terjadi tepat setelah aku bertemu denganmu. Kenapa?"

"Hah?"

"Kalau aku bisa bertemu pemuda itu, mungkin masalah ini akan selesai ... Kau yakin kau bukan seorang laki-laki? Atau kau memiliki saudara laki-laki yang mirip denganmu?" Daiki segera mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi.

"Aku tidak mengerti, jangan kautanyakan kepadaku. Sebaiknya kaupulang istirahat saja, terima kasih sudah mau mengantarku pulang. Hati-hati di jalan," gadis dengan ikat ekor kuda itu segera berbalik dan pergi menuju apartemennya yang sisa melewati berapa blok lagi.

"Bye, sexy~!" Wanita berambut pirang itu segera mengejar mantan muridnya.

"Pulanglah," ucap pemuda beralis cabang itu.

"Kau mengusirku?"

"Kau harus pulang sekarang, bukan begitu?" Pandangan sendu yang diberikan pemuda lawan bicaranya cukup untuk membuat Daiki ingin memeluknya.

"Ah ..." Saat Daiki tersadar, ia hanya melihat dua punggung yang telah menjauh darinya akhirnya Daiki hanya mengangkat bahunya, merapatkan jaketnya, dan berjalan pulang, dia akan mencari tahu masalah ini lebih lanjut.

.

O.O.O.O.O.O

.

Malam hari, di kediaman Aomine dan Momoi,

"Jadi ..." Daiki membuka pembicaraan dengan canggung, tidak biasanya dia berkonsultasi dengan teman masa kecilnya, parah-parah ini tentang cinta ...

Ah, tidak, bukan begitu. Lebih tepatnya tentang, Kagami.

"Aku masih tidak ingat apa yang terjadi di masa lalu! Lalu, aku harus apa untuk bisa mengingat semuanya, aku bisa gila dihantui oleh siapa-itu-pemuda-yang-mirip-Kagami terus, Satsuki!"

"Hahaha! Senang sekali melihat Dai-chan terpuruk karena seorang wanita! Bweeh!" ejek Satsuki dari balkon rumahnya.

Si pemuda biru itu langsung berkedut matanya, "Aku serius, Satsuki, aku bisa gila," lanjutnya.

"Baik baik! Kauingat apa yang pernah dibicarakan Tetsu-chan dan Ki-chan?" Tanya Satsuki sambil bersandar pada pagar besi balkonnya.

"Mereka bilang, mereka juga pernah terikat di masa lalu. Tanda lahir yang ada merupakan penyebab kematian di masa lalu. Itu garis besar yang mereka ucapkan," jawab pemuda pencinta dada besar itu sambil menggaruki daun telinganya.

"Dai-chan jorok! Kalau begitu, kenapa tidak kautanyakan langsung pada mereka? Aaah~ Coba Tetsu-chan itu laki-laki! Pasti aku akan menyukainya!" Gadis berambut merah muda itu bergumam sendiri tanpa mempedulikan pemuda yang tengah mengenakan kaos oblong warna putih.

Pemuda berambut biru itu mengabaikan teman masa kecilnya sambil menatap langit malam yang bertabur bintang.

Daiki merasakan dirinya tengah bersandar pada batang pohon yang sangat besar, di sisinya, terasa kehangatan yang diberikan dari seorang pemuda, "Lihat! Bintang jatuh! Buat permintaannya!" Seru pemuda yang berada di sampingnya.

"Aku ingin Daiki bersamaku selamanya ..." adalah pintanya.

"... ai-chan?! Dai-chan!" Teriakan Satsuki menghilangkan kilas balik bintang jatuh tersebut. "Aku masuk ya! Dingin sekali!" Satsuki memeluk dirinya yang tengah menggunakan baju tidur terusan berwarna putih.

"Hm," jawab Daiki tidak bergeming sama sekali dari kegiatan menatap langit malam. Lalu, Satsuki pun masuk ke dalam kamarnya dan mematikan lampu.

Tanpa terasa sudah jam 10 malam saja ...

.

O.O.O.O.O.O

.

Daiki akhirnya mencoba berkonsultasi dengan kedua teman SMPnya tersebut.

"Beritahu padaku kenapa kalian bisa mendapat ingatan masa lalu kalian!"

Siapa yang tidak takut ketika seorang ganguro datang dengan wajah berantakan di meja tempat kalian makan. Itu yang sekarang terjadi dengan pasangan Ryota-Tetsuna.

"A-Aominecchi ...!" Seru kepala kuning tersebut. "Hm ... Kalau waktu itu kita ... Ah! Coba ... Kalian habiskan waktu bersama lebih lama. Mungkin itu akan membantumu, Aominecchi," saran Ryota. Tetsuna hanya mengangguk menyetujui.

"Maksud kalian?!"

Ryota dan Tetsuna saling berpandangan, sedih melihat teman SMP mereka itu begitu aho.

"Saat kita SMP dulu, aku tidak pernah berpikir mempunyai kehidupan di masa lalu. Namun, semua berubah ketika, Ryota-kun masuk tim basket,"

"Meski kami berdua tidak saling dekat dulu, setelah awal pertama kali bertemu, kami pernah melihat kilasan-kilasan hidup kami yang lalu," jelas Tetsuna.

"Dan kilasan itu semakin banyak ketika kami semakin dekat. Memang tak wajar ketika seorang KiseRyo menyukai gadis yang eksitensinya kadang masih dipertanyakan-UKH!" Sebuah siku segera menghantam keras perutnya.

"Jadi, ajaklah Kagami-san kencan," saran gadis pelaku penyikutan itu.

"Hoooh ..." Hanyalah yang keluar dari mulut kepala biru itu, lalu, dia merubah posisi berdirinya dan berjalan menuju tempat Tetsuna (Tetsuna dan Ryota duduk saling berhadapan) "Ayo kencan denganku, Kagami!"

"Nyem nyem ... Hoh?" Taiga yang tengah menyumpal mulutnya dengan cheese burger kesukaannya hanya menatap orang itu bingung.

"Ahominecchi ... Perhatikan timing-ssu yo ..."

Jadi, sebenarnya Daiki sedang mengganggu acara makan bersama Ryota, Tetsuna, dan Taiga.

.

O.O.O.O.O.O

.

Akhirnya di sinilah mereka, taman bermain.

Daiki datang mengenakan kaos putih dengan jaket berhoodie hitam dan jumper hitam. Dia ingin menjadi assasin sepertinya.

"Maaf, kau lama menunggu?" Sapa Taiga.

"Hm, tidak aku baru saja ..." Ucapan pemain basket dari akademi Touou itu terhenti ketika ia menemukan sang gadis yang menggunakan pakaian kasualnya. Dengan sweater sepanjang lututnya berwarna putih polos dipadukan dengan celana legging kain hitam. Rambut merah apinya tetap dikuncir kuda tetapi kali ini dengan pita berwarna hitam.

Simpel.

Tapi,

Dia semakin terlihat seperti malaikat! Batin Daiki yang tidak bisa berhenti menatap gadis yang menjadi teman kencannya tersebut.

"Kau kenapa, Aomine? Wajahmu aneh ..."

"Tidak apa-apa, kau ingin kemana dulu?"

.

O.O.O.O.O.O

.

Bermain roller coaster.

"GYAAAAAAAAAAAAA!" "WOOOOOOOOOOOOH!"

Mereka berdua sama-sama tidak menjaga image.

"Buh! Kaulihat wajahmu, Aomine?! Hahahaha! Sangat lucu!"

"Kaulihat wajahmu sendiri, Bakagami! Lihat! Hahahaha! Mana ada gadis yang wajahnya seperti itu!" Ejek pemuda kelahiran awal September itu.

Diam-diam, merekapun membeli foto yang berisi wajah lawak mereka berdua.

Bermain rumah kaca.

"GYAAAA! Buntu! Kita tidak akan keluar hidup-hidup dari rumah ini?! GYAAAA!" Pekik Taiga panik.

"Tenanglah, dasar kau wanita burger. Sini," Daiki segera menggenggam tangan kanan milik Taiga, dan menuntunnya menuju jalan keluar. Taiga bersyukur dengan cahaya remang-remang di dalam rumah kaca tersebut. Ia tidak mau pemuda itu melihat wajahnya sekarang.

Bermain komedi putar.

"Maaf, kalian tidak diperbolehkan untuk masuk ke komedi putar ini, ah, kecuali, kau nona cantik," goda penjaga komedi putar.

"Kita pergi, Kagami."

Bermain rumah hantu.

"Aku tidak mau."

"Aku juga."

Makan siang.

"Aku pesan ... Spaghetti. Ah, nasi dengan bistik ayam juga. Lalu, steak sapi ini. Untuk penutupnya? Gratis banana split? Wah! Terima kasih!" Wajah gadis itu sangat berseri-seri jika mengenai makanan.

"... Aku pesan air putih saja."

"Hah?" Wajah tak percaya segera ditunjukkan manager Seirin itu. "Makanlah sesuatu, Ahomine!"

"Tidak, tidak apa."

"Hm, untuk dia, nasi dengan ayam teriyaki. Minumannya mungkin ... Soda saja. Ya, terima kasih,"

"Glek. Apa yang kaulakukan, Bakagami?!

"Kau harus makan atau kau mati,"

"... Pasti dia sedang PMS ..."

"Kaubilang sesuatu?"

"Tidak."

Akhirnya, mereka berdua mendapat makanan dan makan dengan tenang dan damai. Yang membayar? Taiga.

"Ah, aku kenyang sekali!" Girang gadis itu. Daiki hanya melirik dari sudut matanya.

"Ah," tangannya langsung bergerak menuju wajah si gadis. "Ada sisa makanan ..."

BLUSH.

"A-ah, terima kasih ..." Wajah Taiga merona. "Jadi, ini yang dibicarakan Alex tentang shoujo manga!" Ucapnya tiba-tiba.

"Ha?"

"Tidak, lupakan saja. Apa kauingin naik bianglala?" Ajak Taiga sambil menunjuk sebuah lingkaran besar yang dihiasi lampu-lampu hias.

.

O.O.O.O.O.O

.

"Selamat menikmati!" Kemudian pintu bianglala ditutup.

Mereka berdua duduk berseberangan. Saling diam. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk bertukar kata sedikitpun. Gadis bermarga Kagami itu hanya menatap luar jendela dengan pandangan kosong. Sedangkan, Daiki hanya menguap karena bosan.

Yah, penutup kencan mereka tidak harus sedingin ini, bukan?

"Kauingat pertemuan pertama kita?" Tanya Daiki berusaha memecah keheningan. Taiga yang masih sibuk dengan menatap pemandangan di luar akhirnya menatap iris berwarna batu azure itu, lalu, mengangguk. "Apa hal itu tidak menganggumu?"

Hening kembali di tengah-tengah mereka.

Taiga ingin segera pergi dari sini. Sialnya, bianglala yang mereka tumpangi baru saja seperempat jalan.

"Tentu itu mengganggu," jawabnya. "Kadang orang yang mirip denganmu itu muncul di mimpiku atau bahkan saat aku tengah melamun."

Daiki tetap mendengarkan.

"Aku tidak mengerti, pemuda itu ... Benar-benar mengisi hatiku mungkin? Aku cukup senang dapat melihat pemuda itu, meski sebenarnya, aku tidak tahu siapa dia ataukah ia dan kau benar-benar orang yang sama," jeda. "Dadaku sesak saat melihatmu," tangannya mencengkram ujung sweater putihnya.

Ah,

Aku juga merasakan hal yang sama.

Tapi, Daiki tidak berniat untuk mengeluarkan kata-kata itu. Belum waktunya ... Dan juga, belum tentu gadis di depannya itu berjiwa sama dengan pemuda itu.

"Salju ..." Sebuah kata terucap dari bibir Taiga. Daiki mendengarnya dan menatap keluar jendela.

"Daiki! Bertahanlah!"

Daiki tersentak, matanya membulat. Di depannya, wajah pemuda itu terlihat panik.

"Kenapa kau melindungiku?! Aku akan mencari bantuan!"

"Ah?" Mata birunya menatap gadis di depannya dan wajah pemuda itu juga muncul.

"Ahomine!" Kedua wajah itu sama-sama memanggilnya.

"Kau, Daiki Aomine. Penerus klan Aomine. Akan membunuh penerus klan Kagami, yaitu, Taiga Kagami,"

Jangan katakan hal itu, Otou-sama...

"Bukankah itu bagus? Gadis itu merupakan tipemu, bukan begitu?"

Jangan berwajah seperti itu, Taiga!

"Biarlah malam ini menjadi malam terakhir kita ... Daiki,"

Jangan pergi.

Kumohon ...

Jangan pergi!

"Taiga, jangan pergi!" Dunia nyata kepada Daiki. Daiki tanpa sadar menarik pergelangan tangan Taiga.

Iris merah Taiga menatap iris biru Daiki. Matanya membulat. "A-aku tidak kemana-mana. Lagipula, kita ada di ketinggian entah berapa meter," jawabnya polos.

"Aku ingat."

"Ingat apa?"

"Aku ingat semuanya, aku, kau, klan, desa, perebutan wilayah, perjodohan, cinta terlarang ..." Ujar Daiki.

Hening kembali.

Suasana canggung ini benar-benar ...

"Oh ... Baguslah ..." Gumam Taiga sambil menghilangkan rasa canggungnya. "Sebenarnya ... Ya, aku mengingatnya sebelum kauingat ... Jadi ..." Taiga berdehem, berusaha melancarkan tenggorokannya. "Kau tidak mau melanjutkannya? Kelanjutan cerita cinta kita yang berakhir tragis. Kita buat menjadi akhir yang bahagia," tanya Taiga dengan wajah bersemu merah.

"Ck, aku tidak mau melanjutkannya," ujarnya cuek. "Kita buat yang baru dengan akhir yang bahagia. Lagipula ... Kau kekasihku, bukan?"

"Apa?! Tunggu, aku, kau belum mengatakan apa-apa kepadaku!" Seru manager Seirin itu.

Daiki segera maju mendekati Taiga, melihat pantulan dirinya di manik mata gadis itu, matanya juga tidak bisa melepaskan gadis itu,

CHU.

"Kau masih butuh kata-kata untuk itu?" Daiki tersenyum mengintimidasi Taiga.

"Kau ..." Geramnya.

Syukurlah semua terselesaikan di ujung putaran takdir ini.

.

O.O.O.O.O.O

.

"Syukurlah akhirnya mereka bersama lagi ..."

"Tetsunacchi ..." Pemuda berambut kuning itu mengelus lembut kepala kekasihnya. Memperlihatkan sebuah bekas luka yang fatal, namun, karena tertutupi surai biru mudanya, bekas luka itu tidak terlihat sama sekali.

"Ya, Ryota-kun ... Mereka seperti kita, bukan begitu?" Gadis berambut biru muda itu tersenyum lembut sambil menggenggam tangan kiri kekasihnya, yang memiliki bekas goresan di pergelangannya.

.

Akhirnya,

Kita menemukan di mana ujung benang merah.

.

A/N : Ooooooooh, selesai juga X3 Maaf untuk yang saya sebut di atas, kemaren saya cuma buka review terbaru, belum sampe ke bawah-bawahnya X'D

Pertama, saya minta maaf atas lamanya update (semua) MC ... Bener-bener ga bisa ngetik fic baru kemarin X"D *ngetik fic yang ga kelar-kelar aja kemaren*

Kedua, fic chapter ini mengecewakan? Full of OOC, different writing type, right ... :') saya minta maaf ...

Ketiga, terima kasih sudah mendukung fic ini! Masih ada satu chapter headcanon ato canon, wkwk.

Last, seriously. Balasan review untuk hi doraaadong : ini saya udah update :D mari berteman tapi ... anu, ini siapa X'D bisa hubungi saya di twitter ato fb mungkin? :D

Thanks for reading and have a nice day!

Shaun.