Title: Seme Island

Author: Bluedevil9293.

Part: 27 / ?

Rated: T.

Cast:

Seme….

Jung Yunho, 24 tahun.

Hangeng, 23 tahun.

Choi Siwon, 22 tahun.

Zhoumi, 21 tahun.

Lee Jinki, 20 tahun.

Uke…..

Kim Jaejoong, 23 tahun.

Kim Heechul, 22 tahun.

Kim Kibum, 21 tahun.

Kim Key Bum, 20 tahun.

Henry Lau, 19 tahun.

Genre: Romance, Drama, Mystery, Fantasy.

Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.

Disclaimer: Seme Island Belong to Dean Choi & Dylan Choi.

Summary: Seme Island, pulau yang berisi namja-namja tampan itu akan musnah bila ke lima namja penguasanya tak secepatnya memiliki keturunan. Dan yang akan melahirkan keturunan mereka pun sudah di tentukan. Bisakah mereka mendapatkan keturunan tepat waktu?

_o0o_ Dead _o0o_

Kedua bayi Kibum dan Key tak menangis lagi saat perut-perut kecil mereka terisi susu yang umma mereka berikan, berbeda dengan kedua anak Henry, Jaejoong dan Heechul. Mereka masih menangis tapi tak sekeras sebelumnya, mungkin karena lelah mereka hanya terisak pelan dan terkadang kembali menangis kencang membuat appa mereka meneteskan air mata apa lagi saat umma mereka tampak tak tersentuh sedikit pun walau sudah berkali-kali mereka rayu.

"Jae... Aku tahu kau membenciku tapi apa kau tega membiarkan mereka terus menangis karena kelaparan? Bahkan sejak mereka lahir kau belum sekali pun memberi mereka makan," Ucap Yunho lirih, ia sudah tak ingat berapa tetes air mata yang sejak tadi membanjiri wajahnya tapi sedikit pun Jaejoong tampak tak luluh dengan rayuannya, "Kau boleh membenciku, kau boleh menghukumku, kau bahkan boleh membunuhku kalau kau mau Jae. Tapi kumohon jangan benci darah dagingmu sendiri, jangan biarkan mereka mati hanya karena rasa bencimu padaku Jae." Isak Yunho, ia bahkan sudah berlutut pada Jaejoong yang terbaring menyamping sedikit pun tak ingin menatap kearahnya.

"Chullie..." Seru Hangeng saat keduanya beradu pandang dengan Heechul tapi dengan cepat Heechul mengalihkan tatapannya, "Tidakkah hatimu terasa sakit saat mendengar tangisan lirih anak-anak kita?" Tanya Hangeng.

"MEREKA BUKAN ANAK-ANAKKU!" Seru Heechul kesal dengan cepat ia menutup wajah dan telingganya dengan bantal, ia tak ingin lagi mendengar tagisan bayi-bayinya dan rayuan Hangeng yang membuatnya bingung.

"Kau tahu bukan aku mencintaimu? Sangat mencintaimu Henry. Tak adakah rasa suka sedikit saja untukku? Apakah aku benar-benar tak pernah singah dihatimu?" Tanya Zhoumi pada Henry yang berbaring menyamping memunggunginya. Henry terlihat mengigit bibir bawahnya ragu dan kedua tangannya pun sejak tadi terus bergerak meremas-remas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Henry tampak memikirkan perkataan Zhoumi tadi, ia terus bertanya-tanya tentang perasaannya pada namja tampan yang tengah berlutut sambil meneteskan air matanya kini.

"Hyung, kasihan kedua anakmu," Rayu Key pada kedua hyung tertuanya. Ia meraih salah satu anak Heechul, mengendongnya dan berniat sedikit membuat bayi tadi tenang begitu juga dengan Kibum yang mengambil salah seorang bayi Jaejoong, "Hyung, susuilah anak-anakmu." Pinta Key, ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang Heechul, mengambil bantal yang sang hyung gunakan untuk bersembunyi walau sedikit susah.

"JANGAN GANGGU AKU! PERGI BAWA ANAK ITU MENJAUH DARIKU!" Seru Heechul yang mendorong tubuh sang adik membuat Key terjatuh ke lantai bersama salah satu bayinya.

"HEECHUL!" Bentak Hangeng saati ia melihat bagaimana kasarnya Heechul pada Key yang tengah mengendong salah satu buah hati mereka. Key tampak sedikit terkejut atas penolakan Heechul, ditatapnya sang Hyung sedih.

"Kau tak apakan, chagya?" Tanya Jinki yang membantu Key berdiri, Key menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Bayi Heechul yang Key gendong kembali menangis dengan kencang mungkin terkejut mendengar bentakkan dari umma-nya atau malah ia bisa merasakan aura kebencian yang Heechul berikan.

Heechul kembali memunggungi Key, ia tak ingin diganggu dan ia tak ingin melihat bagaimana wajah bayi yang baru ia lahirkan bahkan kurang dari satu hari itu. Hangeng terdiam sambil meremas rambutnya, ia merasa kesal dan sedih secara bersamaan terlebih tak ada yang bisa dilakukannya.

"Hyung, kenapa kalian keras kepala sekali?" Tanya Kibum kesal, bayi Jaejoong yang digendongnya tak berhenti menangis sejak tadi bahkan wajahnya terlihat memerah karena terus menangis. Seolah tak tersentuh sedikit pun mendengar tangisan bayi mereka Jaejoong dan Heechul lebih memilih bungkam.

"Jangan sentuh mereka, letakkan mereka kembali didalam ranjang." Seru Jiyong yang kembali masuk kedalam ruangan.

"Tapi umma..." Seru Siwon yang dengan cepat dibalas Jiyong bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

"KUBILANG LETAKKAN MEREKA! ATAU KAU MAU MELAWANKU?" Tanya Jiyong seraya menatap tajam pada sang anak dan kedua menantunya.

"Bummie, letakkan lagi chagya." Ucap Siwon pada Kibum.

"Tapi Wonnie..."

"Jangan membantah sementara ini, umma sedang dalam keadaan tak bersahabat. Kau tak mau terjadi sesuatu terhadap kau, aku dan anak-anak kita bukan." Ucap Siwon, Kibum pun akhirnya mengalah dan meletakkan kembali bayi Jaejoong didalam ranjang kecilnya. Key pun ikut melakukan hal yang sama pada bayi Heechul.

"Aku sudah menyiapkan kamar terpisah untuk kalian, jadi sekarang bawa kedua anak kalian keluar dari dalam ruangan ini," Perintah Jiyong pada Siwon dan Jinki yang saling bertukar tatapan bingung, "Apa yang kalian tunggu lagi?" Seru Jiyong membuat kedua anak dan menantunya dengan cepat mengendong bayi-bayi mereka dan melangkah keluar dari dalam ruangan walau sedikit tak rela.

"Kalian masih keras kepala juga ternyata," Ucap Jiyong pada Jaejoong dan Heechul yang sedikit pun menatap kearahnya, "Kau juga sama saja," Seru Jiyong pada Henry yang langsung menundukkan kepalanya saat tatapan mata mereka saling bertemu, "Kita lihat saja sampai kapan keegoisan kalian bertahan." Ucap Jiyong sebelum ia meninggalkan ruangan dan dikejar oleh Hangeng dan Yunho.

Henry yang terlihat bingung pun sesekali mencuri pandang pada Zhoumi yang menatapnya sedih. Tak ada kata-kata yang bisa Zhoumi ucapkan pada Henry lagi, percuma saja kalau ia terus merayu tapi namja imut tadi tak tersentuh sedikit pun. Henry kembali menundukkan wajahnya saat melihat Zhoumi meneteskan air matanya tapi tak lama ia segera mencuri pandang kearah ranjang bayinya. Kedua bayinya terus menangis kencang sejak tadi membuat keegoisannya sedikit goyah.

"Aku lebih memilih kau bunuh dari pada melihat kedua anakku mati karena penolakan dari umma mereka." Ucap Zhoumi pelan, ia tak menatap kearah Henry lagi. Ia sudah merasa putus asa kini. Setetes cairan bening jatuh membasahi salah satu pipi Henry yang dengan cepat dihapusnya. Tanpa berpikir kembali Henry segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya berniat turun dari ranjang menghampiri kedua bayinya yang tak juga berhenti menangis.

"Arght!" Pekik Henry saat tubuhnya lemasnya tak bisa berdiri dengan seimbang membuat ia terjatuh tapi untung saja Zhoumi merespon dengan cepat dan menahan tubuh sang istri dengan kedua lengan kekarnya.

"Kau tak apa?" Tanya Zhoumi khawatir bercampur dengan rasa bingung dan bahagia.

"Mereka, aku ingin menyusui mereka." Balas Henry pelan bahkan hampir seperti bisikan angin, kalau saja Zhoumi manusia biasa dia pasti tak akan mendengar ucapan Henry tadi. Zhoumi tersenyum bahagia mendengar perkataan Henry, dengan perlahan ia kembali mendudukkan Henry diatas ranjang sebelum ia meraih salah satu anaknya dan memberikannya pada sang istri. Zhoumi tak bisa menghentikan air mata bahagia yang terus menetes dari kedua matanya.

"Gomawo, gomawo Henry-ah. Aku sangat menyayangimu." Ucap Zhoumi yang sudah berlutut dikaki Henry yang tengah menyusui salah satu bayinya.

"Jangan menangis lagi, Mimi jadi jelek kalau menangis." Ucap Henry sambil menghapus air mata Zhoumi.

"Aku menangis karena aku terlalu bahagia," Ucap Zhoumi yang meraih tangan Henry dan mengecupnya bertubi-tubi membuat Henry tersenyum tulus, "Aku mencintaimu Henry, sangat mencintaimu." Seru Zhoumi lagi. Henry meraih wajah Zhoumi dan menatapnya dalam.

"Nado Mimi." Balas Henry membuat Zhoumi terdiam dengan air mata yang kembali mengalir. Zhoumi terlihat gagap ingin membalas perkataan Henry yang terlalu membuatnya bahagia, semua kata-katanya seakan tak berguna lagi saat kata indah tadi terlontar dari bibir kecil Henry. Zhoumi memeluk Henry bahagia tapi tak lama ia segera melepaskannya saat salah satu bayi mereka kembali menangis dan Zhoumi dengan cepat mengendongnya. Jaejoong dan Heechul bukannya tak melihat apa yang sudah terjadi pada Zhoumi dan Henry dan bukannya mereka sama sekali tak tersentuh tapi karena ego yang terlalu besar menutup hati mereka apa yang terjadi disekitar mereka terasa bagai angin lalu saja.

_o0o_

Setengah hari terlewati bagaikan setengah abad bagi Hangeng dan Yunho, kedua istri mereka masih terlihat egois dan kedua bayi mereka masing-masing masih terdengar menangis walau tak sekeras beberapa jam yang lalu. Heechul dan Jaejoong bahkan tak sedikit pun berniat melirik kearah bayi mereka seolah-olah bayi-bayi kecil yang mereka lahirkan tak ada disana dan suara tangisan mereka hanya dianggap angin lalu saja.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Seungri yang datang bersama Daesung. Yunho dan Hangeng langsung berlari mendekati kedua umma-nya tadi.

"Umma kumohon kasihani aku. Kalian pasti bisa menghancurkan perisai yang Jiyong umma buat bukan?" Tanya Hangeng. Seungri dan Daesung mengelengkan kepala mereka pelan.

"Maaf, perisai itu Jiyong yang membuat. Hanya dia atau appa kalian yang bisa menghancurkannya." Jelas Daesung membuat Yunho dan Hangeng sedih.

"Lalu apa yang harus kami lalukan. Hatiku terlalu sakit umma setiap kali mendengar mereka menangis, bahkan suara tangisan mereka tak sekeras beberapa jam lalu. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka." Ucap Yunho.

"Maaf, umma tak bisa membantumu sama sekali sayang. Kalian hanya bisa berdo'a semoga hati istri kalian sedikit tersentuh." Balas Seungri dengan wajah sedihnya. Yunho, Hangeng, Seungri dan Daesung sedikit terlonjak kaget saat salah satu bayi Jaejoong tiba-tiba menangis dengan keras di susul kembarannya dan kedua bayi Hangeng tapi diantara bayi-bayi tadi terdengar suara tangisan yang sedikit berbeda dari biasanya.

"Umma apa yang terjadi pada bayiku? Kenapa suara tangisan mereka seperti itu?" Tanya Hangeng yang tampak khawatir dengan kedua anaknya.

"Umma juga kurang mengerti." Balas Daesung yang diangguki Seungri.

"Umma, kumohon lakukan sesuatu." Pinta Hangeng yang bahkan sampai berlutut didepan kaki kedua umma-nya tadi yang ikut meneteskan air mata mereka.

"Umma! Hyung! Apa yang terjadi? Kenapa suara tangisan bayinya terdengar berbeda?" Tanya Siwon yang berlari masuk kedalam ruangan bersama kedua adik dan para istri lainnya.

"Tangisan bayinya berhenti." Seru Zhoumi yang kini sudah berada didekat ranjang bayi milik Hangeng dan Yunho bersama Jinki.

"Tapi kenapa salah satu bayi milik Hangeng hyung tak bergerak?" Tanya Jinki membuat semua orang merasa khawatir terlebih Hangeng yang langsung berlari mendekati ranjang bayinya. Selama beberapa detik keterkejutan terjadi saat Hangeng bisa melewati perisai yang Jiyong buat bahkan Hangeng sendiri pun terlihat terkejut namun rasa khawatirnya mengalahkan semua.

"Umma, apa yang terjadi pada bayiku? Aku tak bisa merasakan hambusan nafasnya." Tanya Hangeng sambil memeriksa tubuh salah satu bayinya. Hangeng nampak sangat khawatir pergerakannya tak terkontrol lagi, sedangkan Heechul terlihat menatap kearah Hangeng dan bayi mereka.

"Apa yang kau katakan?" Tanya Daesung yang langsung mendekati cucunya dan memeriksa keadaan bayi kecil tadi.

"Umma, katakan kalau ini semua bohong. Bayiku... Bayiku..." Isak Hangeng pada Seungri yang memeluknya erat sambil ikut menangis.

"Mianhae, mianhae." Balas Seungri tak tega.

"Andwae! Andwae!" Ucap Hangeng keras, didorongnya tubuh Seungri menjauh lalu berjalan mendekati Heechul, "Kau lihat, apa yang sudah kau lakukan pada bayiku!" Seru Hangeng yang menarik paksa Heechul lalu menyeretnya kearah ranjang bayi mereka.

"AKU TAHU KAU MEMBENCIKU, TAPI KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH BAYIKU? KENAPA BUKAN AKU SAJA YANG SAKU BUNUH!" Bentak Hangeng sambil mendorong wajah Heechul kearah salah satu bayinya yang kini tak lagi menghembuskan nafasnya. Akibat suara bentakan Hangeng tadi ketiga bayi lainnya kembali menangis dengan suara pelan mereka.

"KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN SEMUA INI PADA BAYIKU! PADA DARAH DAGINGMU SENDIRI!" Dengan kasar Hangeng mendorong Heechul kelantai, ditatapnya namja cantik tadi dengan penuh rasa benci dan emosi yang tinggi.

"Hyung berhenti, kasihan Heechul hyung." Seru Jinki yang mencoba menenagkan Hangeng.

"NAMJA HINA SEPERTINYA TAK PERLU DIKASIHANI, DIA SAJA TAK SEDIKIT PUN MERASA KASIHAN PADA DARAH DAGINGNYA!" Ucap Hangeng emosi, Heechul menundukkan kepalanya takut saat melihat tatapan tajam yang Hangeng berikan.

"KAU! KAU JAUH LEBIH HINA DARI HEWAN! HEWAN SAJA TAK AKAN TEGA MENYAKITI DARAH DAGING YANG SUDAH DILAHIRKANNYA TAPI KAU! KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MUAK! APA KAU PUAS SEKARANG?" Bentak Hangeng ke Heechul, dada Hangeng terlihat naik turun menahan amarahnya sedangkan Heechul tak berani menatap kearah namja tadi walau hanya mencuri pandang saja.

"Kau! Arght!"

"Hyung!"

"Hangeng!"

Brak!

Hangeng yang murka tanpa sadar mengerahkan setengah kekuatannya pada Heechul tapi untung saja Seunghyun, sang appa, datang pada waktu yang tepat. Seunghyun melawan kekuatan Hangeng membuat tubuh sang anak terpental hingga menabrak dinding. Melihat Hangeng yang memuntahkan darah Siwon, Zhoumi dan Jinki dengan cepat mendekati sang hyung lalu membantunya berdiri begitu pula dengan Kibum, Key dan Henry yang langsung berlari kearah Heechul lalu memeluknya erat. Heechul terlihat ketakutan sekali.

"A-appa, kenapa kau menghentikanku?" Tanya Hangeng yang kembali terduduk dengan air mata membasahi wajahnya.

"Aku hanya tak ingin kau menyesal setelah melakukan hal yang kau inginkan." Balas Seunghyun yang datang bersama Taeyang.

"Bayiku..."

"Kehilangan satu bayi bukan berarti kau juga harus kehilangan dia bukan," Potong Seunghyun sambil menatap kearah Heechul dengan tatapan yang sulit diartikan, "Kau harus ingat, kau masih punya satu bayi lagi." Sambung Seunghyun, Hangeng pun menundukkan kepalanya menangis dalam diam.

"Appa..." Ucap Yunho mendekati Seunghyun.

"Lihatlah bayimu." Balas Seunghyun cepat.

"Tapi..."

"Lihat saja, tenangkan mereka yang sedang menangis." Potong Seunghyun lagi, Yunho menganggukan kepalanya pelan, sebuah senyuman terpasang dibibir tebalnya. Dengan cepat Yunho mendekati ranjang bayinya, tak ada lagi perisai yang menghalanginya, Seunghyun sudah melepas semua perisai yang dipasang Jiyong.

"SIAPA YANG MEMPERBOLEHKANMU MENYENTUH BAYI ITU!" Bentak Jiyong yang baru masuk kedalam ruangan membuat Yunho yang tadi berniat mengendong salah satu bayinya pun membatalkan niatnya. Semua orang yang ada didalam ruanga tampak menatap kearah Jiyong yang terlihat murka.

_o0o_ To Be Continue _o0o_

Date: 25 June 2013, 02.38 AM

Buat yang kesal karena Dean update-nya lama n sekali update Cuma sedikit, jeongmal mianhaeyo *DeepBow. Kemarin-kemari Dean sempat nggak minat ngetik FF n mood.a baru balik beberapa hari terakhir disaat lagi sibuk-sibuknya UAS. Dean tahu kok kalau kalian pengen FF ini cepat selesai karena Dean juga pengen FF ini segera selesai.

Q: Kenapa Kris ga pakai marga Choi.
A: Kan itu di Seme Island bukan di Korea jadi nama marga nggak ada pengaruh sama sekali, orang marga para appa dengan para halmonie & harabojie aja beda" kan. Lagian nama mandarin Kris itu Wu Yi Fan & nama mandarin Kibum itu Ji Fan, yah 11-12 lah ya...

Q: Banyakin YunJae-nya ya.
A: Buat Chap ini masih ke HanChul tapi setelah ini bakal banyak YunJae.a kok yang lain Cuma jadi selingan sesekali aja. HanChul.a ga akan Dean siksa lama" *DiBunuhYunJae.

Q: Siapa yang bakal jadi 3 nyawa melayang itu?
A: Satu udah kejawab dichapter ini dan otomatis sedikit mudan menebak siapa satu nyawa lagi.

Q: Diakhir cerita buatan special chapter tentang anak-anak mereka dong.
A: Iya nanti Dean usahain buat.

Q: YunJae moment buat scene romantis.a dong.
A: Ga janji ya.

Q: Kira-kira End sampai chap berapa?
A: Nggak bisa memperkirakan yang jelas nggak akan lama lagi. Semoga nggak nyampai 5 / 6 chapter deh.