Chapter 6: 3rd Castle
"Bau zaitun yang sangat menenangkan, hangat, apa Aku sudah mati apa ini di surga, kenapa semuanya terasa begitu nyaman" Lecca serta merta membuka matanya, dan langsung terduduk, Dia memperhatikan di sekelilingnya, Dia tidak lagi di luar tapi ada di sebuah kamar besar, Dia ada diatas ranjang bergaya Yunani Kuno, kamar dengan lantai batu, disebelah kiri ranjang ada cermin besar dan lemari pakaian yang berjejer dengan rak buku tinggi di kanan ada empat jendela besar.
Keterkejutan Lecca belum selesai, Dia melihat seseorang berdiri di salah satu jendela itu, seorang pria, berambut panjang berwarna biru seindah langit, mata hijau yang meneduhkan, wajah tampan, sempurna, wajahnya serius, tapi bukan wajahnya yang membuat Lecca terkejut tetapi sesuatu yang dipakainya, Gold Cloth.
"Gold Saint jadi kalian itu ada!" ujar Lecca
Lelaki itu mendekati Lecca, dari dekat wajahnya benar-benar tampan tapi dingin dan terlihat kaku, tapi Lecca merasa dulu wajah itu tidak seperti itu, Lecca merasakan sesuatu telah terjadi dalam diri pria itu.
"Kau sudah sadar?" tanyanya dingin
"Dimana Aku?"
"Ini adalah istana ketiga dalam Sanctuary, istana Gemini, Aku, Gold Saint yang menjaga istana ini, Saga" kata pria itu memperkenalkan diri
"Saga, Gold Saint Gemini" Lecca mengulangi
"Mumpung Kau sudah sadar, sebaiknya Kau segera pergi dari sini" kata Saga
"Kau mengusirku?! Aku yang seorang wanita dan terluka, tidak gentlemen banget!" ujar Lecca tak percaya.
"Seharusnya malah Aku tidak boleh membawamu kemari! Seharusnya kubiarkan Kau mati dibunuh oleh para penjaga itu" balas Saga dingin
"Lalu kenapa Kau tidak biarkan saja Aku mati tadi!, kenapa Kau malah menyelamatkanku?!" kata Lecca keras, Saga memandang Lecca dengan mata hijaunya, Lecca pun tidak mau kalah, tapi ekspresi Lecca melunak setelah melihat Saga, sewaktu memandangnya tadi Lecca melihat ada kesedihan di mata hijau yang indah itu, wajahnya pun walau sedetik saja berubah menjadi sedih. Begitu Lecca menyadari ekspresi aneh Saga, Saga langsung memalingkan wajahnya.
"Aku... belum tahu namanu" kata Saga
"Namaku Lecca, Aku adalah salah satu mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jepang, Aku datang kemari untuk menyelesaikan tesis yang sedang kubuat" jelas Lecca
"Lalu apa yang sebenarnya Kau cari, sampai Kau mau membahayakan nyawamu?" tanya Saga
"Sebuah kebenaran, tentang kalian, dan tempat ini" jawab Lecca
"Kebenaran tentang kami?" Saga mendengus
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa disini, kami yang ada disini hanyalah mitos dan legenda saja, kebenaran seperti apa yang Kau cari, disini sama sekali tidak ada apa-apa" kata Saga
Lecca mengerutkan keningnya kenapa kata-kata Saga terdengar seperti kesepian, dan penuh dengan kesedihan
"Kalian ini nyata bukan"
"Nyata?" ucap Saga, Dia terdiam, kali ini tidak salah wajahnya...wajahnya berkabut sedih, rasa sakit menusuk dada Lecca saat melihat wajah itu "Kenyataan yang ingin Kau cari hanyalah kenyataan yang semu, bahkan kami tidak pernah ada di dunia ini" lanjut Saga
"Tapi..."
"Semua hanya ilusi" potong Saga
"Ah, Aku ini sedang tidak bermimpi atau masuk dalam pembengkokan dimensi ruang dan waktu kan?"
"Kau harus segera pergi dari sini" kata Saga mengacuhkan omongan Lecca, membuat Lecca jadi keki
"Aku tidak mau!" ujar Lecca "Aku masih mau disini, paling tidak beri Aku waktu tujuh hari sampai lukaku sembuh" kata Lecca menunjuk lukanya "Kau harus bertanggung jawab!"
Saga memandang lecca lama sekali seakan menimbang-nimbang apakah Ia akan mengijinkan Lecca tinggal atau tidak, "Baik, tujuh hari, setelah itu Aku tidak mau dengar alasan kalau Kau masih mau tinggal disini" tegas Saga,
"Terima kasih kalau begitu" balas Lecca kalem
Saga melihat ransel Lecca yang teronggok di meja, Dia pun mengeledahnya dan mengambil kamera digital milik Lecca "Kau tidak memerlukan ini disini" kata Saga, Lecca tidak membalas, saat ini Ia tidak peduli dengan tesisnya, Dia hanya ingin tahu segala hal tentang pria yang ada di depannya ini.
Saga pun berbalik tapi "Tunggu!" panggil Lecca, Dia berusaha berdiri tapi pandangannya langsung gelap, Ia terhuyung Saga pun langsung menangkapnya, dan menidurkan Lecca kembali ke ranjang.
"Gadis bodoh! Kau itu terluka, dan kehilangan banyak darah, wajar kalau Kau masih lemah! Jangan bertindak seenaknya" kata Saga sepertinya Dia nampak cemas, Lecca dapat merasakan kehangatan hati Saga dibalik sikap dinginnya. Selesai menidurkan Lecca, Saga menyelimuti gadis itu, begitu Saga mau pergi, Lecca menangkap tangannya "Aku belum dengar jawabanmu, Saga"
"Tentang apa? Sudah kubilang Kau tidak akan mendapatkan apa-apa disini"
"Bukan itu Saga, tapi tentang kenapa Kau menyelamatkanku"
Saga terdiam membisu, Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena kesepian dirinya, Dia menjadi gila, Dia melanggar peraturan, tapi kehadiran Lecca bagai oasis baginya, tapi Dia tidak ingin mengakuinya, Ia mulai menyukai gadis yang ada di depannya ini
"Jangan banyak tanya, istirahatlah!" ujar Saga melepas tangannya dari Lecca, lalu Saga meninggalkan Lecca sendirian. Sepeninggal Saga, Lecca terduduk di ranjang besar itu "Dasar munafik, tidak mau mengakui perasaannya sendiri!" gerutu Lecca, Lecca menghela nafas, Ia tidak habis pikir, kesan pertama dirinya terhadap Saga adalah Saga orang yang sangat kesepian dan sedih, Lecca menggeleng-gelengkan kepalanya Dia mencoba membuang semua tebakannya tentang apa yang ada di kepala Saga tentang sikap Saga, tentang perubahan wajah Saga, karena Lecca merasa sebenarnya Saga adalah orang yang menyenangkan, sesuatu telah merubahnya jadi orang yang dingin, dan membuatnya sedih, sehingga sikapnya jadi aneh, disisi lain Saga mencoba cuek tapi di saat yang bersamaan Saga menjadi sangat perhatian tanpa Dia sadari.
Lecca menghela nafas, dan memandangi pintu tempat Saga keluar tadi, ada rasa yang aneh berdesir di dadanya, apa ini rasa iba terhadap Saga? Tidak, apa ini cinta?
"Dasar buodoooooh, Kau gadis ingusan, Dia itu legenda hidup, Gold Saint, masa jatuh cinta..tidaaaak!" Lecca jadi heboh sendiri "Eh, tapi Dia kan juga manusia, berarti masih ada" Lecca mengucek-ngucek kepalanya "Jangan mikir yang tidak-tidak!" ujarnya, lalu Ia merebahkan diri di ranjang yang empuk itu, ranjang itu wangi, bau zaitun, Saga tidur disini, Lecca memandang ke jendela, matahari hampir mati, langit berwarna ungu muda dan bintang sudah turun "Tapi Saga, kenapa terasa begitu sedih" gumam Lecca, lalu Ia tertidur.
Sementara itu di luar istana Gemini, Saga terduduk di salah satu pilarnya, di menundukkan kepalanya memandang lantai batu di bawahnya, Dia sudah melanggar peraturan, tapi hatinya yang selama ini membeku, perlahan sedikit mencair, apa karena kehadiran Lecca? Mungkin saja, tapi Saga segera membuang pikiran itu, bodoh bagaimana bisa Dia mencintai gadis itu, sedang Ia terikat aturan supaya Dia menyembunyikan identitasnya dari manusia manapun, Saga berpikir Dia hanya akan menyakiti Lecca sebab suatu hari Saga akan meminta Lecca melupakannya membuangnya, sanggupkah Dia, Saga untuk terluka, dan melukai Lecca.
Saga membenamkan wajahnya ke tangannya, perlahan perasaan itu menghangatkan sekaligus menyakitkan dan menyedihkan.
