Chapter 7 : 1st and 2nd Day
Entah sudah berapa lama Lecca tertidur, Dia pun membuka matanya, sinar matahari pagi menyeruak dari balik jendela, Lecca menguap, dan bangkit dari ranjang menuju ke jendela. Pemandangan dari kamar ini begitu indah, Kau bisa melihat laut langsung yang terhampar seperti permadani biru, yang misterius, matahari sudah terbit di ufuk timur, pemandangan yang mengugah emosi, seperti harapan yang terus selalu ada. Lecca duduk kembali di tepi tempat tidur, di meja sebelah ranjang ada sebuah nampan berisi perban dan kapas "Orang itu" gumam Lecca, lalu Ia meraih perban dan kapasnya, mencoba mengganti perban yang membalut lukanya. Ternyata tidaklah mudah mengganti perban itu sendirian satu tangan dan dengan bantuan mulut, ketika Lecca berkutat dengan perbannya, Saga muncul dari balik pintu. Tanpa banyak bicara Ia langsung duduk di sebelah Lecca dan membantunya mengganti perban Lecca.
"Aku bisa sendiri" kata Lecca
"Diamlah sebentar, kalau tidak dibalut dengan benar akan infeksi" ucap Saga
Wajah Lecca memerah karena malu Saga yang kemarin berbeda dengan Saga yang sekarang, diluar dugaan Dia sangat perhatian, meski sikapnya kadang dingin, apakah ini sifat Dia yang sebenarnya? Ia terus memandangi Saga tanpa berkedip
"Soalnya kalau Kau infeksi, Kau pasti akan tambah lama disini" tambah Saga, Lecca jadi keki dengan perkataan Saga, Dia kira Saga memang perhatian sampai-sampai Dia mau membantu dirinya mengganti perban, ternyata ada maksudnya.
"Kau itu pelawak yang tidak lucu" balas Lecca kesal
"Kenapa Kau terlihat kesal?" tanya Saga santai sambil meneruskan pekerjaannya.
Lecca masih memandangi Saga, rasa yang tadi malam Ia rasakan semakin kuat ini. "Kau belum jawab pertanyaanku Saga"
"Pertanyan yang mana lagi"
"Semuanya, tapi jawab yang ini saja, apa Kau sama sekali tidak pernah tersenyum?"
Saga menghentikan pekerjaannya, dan memandang Lecca sejenak, tanpa menjawabnya Dia langsung meneruskan pekerjaannya
"Apa Kau sendirian di istana ini?"
"Apa Kau selalu memakai Gold Cloth - mu? Hei ayo jawab Aku!" gerutu Lecca
"Sudah selesai, dan istirahatlah sekarang Aku akan membawa sesuatu yang bisa dimakan untukmu"
"Kau ini budek atau pura-pura tidak tahu sih, Aku ini bertanya padamu" kata Lecca semakin kesal, karena di cuekin
"Aku tidak lapar, dan jawab pertanyaanku!" seru Lecca
"Untuk tesismu?" balas Saga dingin
Lecca langsung terdiam, Dia memang pernah bilang pada Saga kalau Dia datang kesini sampai membahayakan nyawanya adalah untuk menyelesaikan tesisnya.
"Kalau untuk itu, Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya" kata Saga lagi,
"Bu..bukan ini berbeda" balas Lecca
"Apa untuk sebagai bahan tulisan? Lupakan saja!"
"Tidak Saga, tapi Aku ingin sekali mengetahui semua hal tentang dirimu, Aku sudah melupakan tesis itu saat Aku bertemu denganmu" Lecca memandang Saga lekat-lekat, ekspresi Saga melunak, sekali lagi mata hijau yang indah itu mencerminkan kesedihan, yang tak terkatakan. Lama mereka saling pandang, Saga tahu apa yang dikatakan Lecca bukan pura-pura, Saga punya kemampuan untuk mengintip hati seseorang, dari kosmo yang dipancarkan lawannya, tapi Dia tidak mau, memberi angin kepada Lecca, Dia tidak mau terluka, atau membuat gadis yang ada di depannya ini bersedih. Tanpa menjawab Lecca, Saga langsung berbalik dan keluar dari kamar.
"Dasaar teripang!" teriak Lecca ketika pintu itu menutup, di balik pintu Saga mendengar makian Lecca, lalu pergi menuju halaman depan istana tempat favoritnya, hatinya sedikit menghangat, ternyata ada orang yang masih mau tahu tentang dirinya, tentang eksistensi dirinya, yang selama ini Ia inginkan, hanya satu keinginan Saga, ada seseorang yang mengingatnya. Pertanyaan Lecca berputar di kepala Saga.
"Apa Kau tinggal sendiri disini?"
"Apa Kau selalu memakai Gold Cloth-mu?"
"Apa Kau tidak pernah tersenyum Saga?"
Saga tersenyum sendiri, mengingat pertanyaan itu, pertanyaan yang mencairkan hatinya, tapi senyumnya lenyap secepat es mencair di musim panas, teringat peraturan itu, tidak seharusnya Dia membiarkan gadis itu,tapi hatinya...hatinya memberontak, Dia ingin bersama dengan Lecca beberapa lama lagi, gadis itu, cuma gadis itu, tapi kenapa? Setelah merenung Saga mengerti.
"Tidak..tidak semua itu tidak akan terjadi, tapi..." gumam Saga
perasaan ini..cinta yang begitu menyedihkan.
Esok paginya Saga datang lagi ke kamarnya, lagi-lagi Ia menemui Lecca sedang berkutat dengan perbannya, Saga pun sama seperti kemarin membantu Lecca mengganti perbannya. Hanya saja Lecca hari ini lebih banyak diam, Saga mengerti rupanya Lecca marah karena Saga tidak menjawab pertanyaannya kemarin, padahal setelah semalaman merenung Saga kini perlahan mau membuka dirinya untuk Lecca.
"Kau diam sekali hari ini sakit gigi?" tanya Saga mencoba bercanda, tapi Lecca hanya memandangnya judes.
"Apa pertanyaan kemarin mau kujawab, Kau tidak menanyakannya lagi" kata Saga lagi. Lecca masih memandang Saga dengan pandangan judes.
"Huh!" dengus Lecca "Untuk apa, Kau pasti akan menjawab Aku tidak ada kewajiban untuk menjawab kalau itu untuk tesismu, Kau tidak perlu tahu tentang diriku, atau sejenisnya, jadi untuk apa kutanyakan lagi, kalau jawabanmu seperti itu, capek tanya sama orang yang kaya teripang!" gerutu Lecca, sikap Lecca itu membuat Saga geli sikapnya kekanak-kanakan sekali tapi justru itu daya tariknya, gadis yang polos.
"Teripang, maksudmu ketimun laut itu ?" tanya Saga menyambung pembicaraan Lecca.
"Ya teripang, tidak berasa, diam, kaku, huh! Kurasa semua Gold Saint kaku karena keseringan pake Gold Cloth ini" kata Lecca sambil menunjuk Gold Cloth yang Saga kenakan "Dan coba Kau bayangkan ketimun itu berkepala dirimu, dan teman-teman-mu!" tambah Lecca
Lalu dalam kepala Saga terjadi ilustrasi ketimun berkepala Milo, Shura, Aiolia, Shaka, Saga menghentikan pekerjaannya, Ia menundukkan kepalanya menutupi wajahnya dengan tangannya Dia tidak marah tapi akibat ilustrasi yang timbul tadi Ia jadi menahan tawanya , dengan susah payah, Lecca heran melihatnya Lecca beranggapan Saga bakal meledak karena Dia mengatainya teripang. Saga membelakangi Lecca, membungkuk memegang perutnya, berusaha menahan tawa, selang beberapa menit bergelut menahan tawa, Saga berdeham, dan melanjutkan pekerjaannya membantu Lecca membalut bahunya. "Sudah selesai" katanya lembut "Istirahatlah" tambahnya memegang kepala Lecca dengan lembut lalu Ia meninggalkan Lecca yang terheran-heran dengan tingkah laku Saga tadi, Lecca memegang kepalanya rasa sentuhan tadi berbeda dari yang biasa.
