Chapter 8: The Other Saint

"Hari keempat" ucap Lecca, Ia terbangun pagi itu, dan merasa bosan sampai hari keempat tempat yang Dia jelajahi hanya kamar Saga, lukanya juga sudah sedikit membaik dan mulai mengering, jadi Dia sangat amat merasa bosan, akhirnya dengan kenekatan yang sama saat Ia memutuskan untuk memasuki Sanctuary, Ia mencoba melakukan petualangan kecil ini, seperti maling Ia perlahan membuka pintu kamar dan melongok ke kanan dan kiri.

"Yak aman" kata Lecca dalam hati, Dia pun keluar dari kamar, dan menyusuri lorong panjang itu, istana ini sepi dan suram, gelap, bagaimana rasanya tinggal disini seorang diri hanya berteman dengan buku, atau dengan rasa sepi, memikirkan itu, hati Lecca seperti tertusuk, rasa sakit yang tak bisa dijelaskan datang menghantamnya ketika, wajah Saga muncul dalam otaknya, tanpa menyadari kemana Dia pergi tahu-tahu Lecca sudah berada di halaman depan istana Gemini, angin pagi menerpa wajahnya, sejuk, Lecca memejamkan matanya menikmati angin itu membelainya dengan lembut.

"Kenapa Kau ada disini!" seru seseorang, membuat Lecca terlonjak, Ia membalikkan badannya, ditemuinya Saga sedang berkacak pinggang, terlihat marah.

"Saga"

"Ya Aku yang muncul, tahu diri sedikit Kau itu buronan, bagaimana kalau Kau ditemukan penjaga itu, Kau tidak hanya akan dipanahnya" dengan kekuatan amarah Saga berjalan mendekati Lecca, Dia memegang pipi Lecca "Kau tahu kan apa yang bakal terjadi kalau penjaga itu menemukanmu, jangan membuatku khawatir Lecca" kata Saga wajahnya cemas sekali.

"Maaf, Aku hanya sedikit bosan" kata Lecca pelan

"Bilang dong, Aku bisa membawamu kesuatu tempat" ujar Saga Ia memegang tangan Lecca dan menariknya "Ikut Aku Lecca"

Tanpa melepaskan pegangannya Saga membawa Lecca ke sisi lain istana Gemini, lalu Ia tiba di sebuah taman bunga yang sangat indah, rumput terhampar luar seperti karpet hijau yang lembut, di tengah taman itu ada pohon sakura yang sedang memekarkan bunganya "Waaahhh sakura!" seru Lecca kegirangan

"Kau menyukainya Lecca?" tanya Saga, Ia tersenyum hal itu membuat Lecca kaget Saga tersenyum, sejak datang ke Sanctuary baru kali itu Lecca melihatnya tersenyum, senyumnya sangat indah lebih indah dari apapun juga di dunia ini

"Kenapa Kau heran begitu melihatku?" tanya Saga jadi salah tingkah

"Tak kusangka, Kau bisa tersenyum juga"

"Kau pikir Aku ini benar-benar ketimun?" kata Saga sambil tertawa, Lecca pun ikut tertawa, "Syukurlah Kau bukan ketimun" balas Lecca, Saga meletakkan tangannya di kepala Lecca dan membelai lembut rambut Lecca.

"Tapi ada satu lagi yang kupikirkan Saga"

"Apa itu?" tanya Saga tangannya masih di atas kepala Lecca

"Tentang Gold Cloth- mu itu, waktu itu Aku bertanya apa Kau selalu memakainya?"

"Memangnya kenapa kalau Aku selalu memakainya?"

"Tidak...hanya saja kalau Kau sedang 'kebelet' apa sempat ya membukanya, atau memang ada reseleting khusus, untuk membuka hanya bagian bawahnya?" kata Lecca polos, mendengar perkataan itu Saga tak bisa lagi untuk tidak menahan tawanya, Ia tertawa sekerasnya, sampai berjongkok, dan keluar air mata, Dia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

"Apa salah ya?" tanya Lecca ikutan berjongkok di samping Saga, beberapa saat kemudian Saga berhenti tertawa, Ia menghapus matanya yang berair.

"Ah, benar-benar melegakan" ucap Saga

"Ya, kalau Kau tertawa seperti itu akan membuat lega semuanya, tapi Aku tidak menyangka Kau bisa tertawa sekeras itu...Saga" kata seseorang yang tahu-tahu sudah ada disamping Saga, berjongkok.

"Aiolia! Sejak kapan Kau disitu" ujar Saga terkejut

Aiolia melirik ke arah Lecca "Kau menyembunyikan sesuatu bernama penyusup Saga" bisik Aiolia, Saga bangkit dari jongkoknya dan memandang Aiolia.

"Lalu, Kau mau mengadu pada Athena atau Pope?" tanya Saga

"Aku?...kemungkinan tidak, tapi orang yang akan kesini, mungkin saja" jawab Aiolia

"Ah, anak itu" ucap Saga, melihat seseorang datang dari kejauhan.

"Saga meski Kau melanggar peraturan dan tidak membunuhnya, Kau tahu apa yang harus Kau lakukan" kata Aiolia, Ia memandang kearah Lecca yang sedari tadi memandangnya tanpa berkedip, Lecca tersenyum pada Aiolia dan Aiolia membalasnya, "Gadis ini" batin Aiolia, entah kenapa hanya dari senyumnya saja Ia mengerti mengapa Saga membiarkannya hidup, Ia memandang Saga

"Saga apakah Kau..." batin Aiolia

"Ah, rupanya kau disin...i" seorang laki-laki datang rambutnya ungu indah seperti batu Amethyst, yang sewarna dengan matanya, laki-laki itu memakai Gold Cloth, memandang Lecca dengan tatapan terkejut, lalu memandang Saga, Saga pun cepat tanggap.

"Milo, sebaiknya kita segera berangkat yang mulia pasti sudah menunggu" kata Saga sambil mendorong Milo menjauhi Lecca, sebelum Dia bicara yang tidak-tidak.

"Aku akan segera kembali Aiolia, tolong ya" kata Saga sambil mengedipkan matanya

"Oke" balas Aiolia

Sepeninggal, Saga, Lecca masih memandangi Aiolia dengan penuh minat, Dia tidak percaya laki-laki ini yang berdiri di depannya, Gold Saint kedua yang Ia temui, dan laki-laki yang di panggil Milo oleh Saga pasti juga seorang Gold Saint.

"Siapa namanu?" tanya Lecca

"Aku penjaga istana ke-5, istana Leo, Aiolia" jawabnya memperkenalkan diri

"Aiolia?, nama yang indah" balas Lecca

"Lalu siapa namamu?" Aiolia balik bertanya

"Lecca"

"Lalu siapa yang baru saja datang tadi?"

"Oh dia, namanya Milo penjaga istana Scorpio, istana ke-8"

"Sepertinya, Dia kaku seperti Saga" kata Lecca

"Yah, mungkin karena peraturan disini semua orang jadi kaku, mohon dimaklumi" kata Aiolia, sambil tersenyum

"Aneh, peraturan memang dibuat untuk dipatuhi tapi bukan dibuat untuk mengubah pematuhnya kan?"balas Lecca, Aiolia tidak membalas perkataan Lecca.

"Ah, Lecca ngomong-ngomong soal aneh, bagaimana bisa Kau membuat si spartan itu sampai tertawa sekeras itu?"

"Maksudmu Saga?" , Aiolia mengangguk

"Entah, Aku hanya bertanya tentang bagaimana membuka Gold Cloth saat kalian lagi kebelet, tahu-tahu Dia sudah tertawa" jelas Lecca dengan wajah polosnya.

Mau tak mau Aiolia juga menahan tawanya "Kau tahu Lecca, baru kali ini Aku melihat Saga tertawa sekeras itu" ucap Aiolia, Ia memandang Lecca lalu wajahnya berubah serius

"Sepertinya, Aku memang harus melakukan sesuatu padamu, Lecca" kata Aiolia

"Melakukan apa, melenyapkanku?" kata Lecca tanpa basa-basi membuat Aiolia melebarkan matanya.

"Ya, Aku memang akan melenyapkanmu Lecca tapi hanya ingatanmu saja, ingatanmu tentang Sanctuary, dan juga tentang Saga" jelas Aiolia

Lecca terbelalak mendengar penjelasan Aiolia, Ia tertunduk, sekarang Ia paham perkataan Saga, kalau Dia tidak akan mendapat apa-apa di Sanctuary ini, dan bahwa kenyataan yang ada disini adalah kenyataan yang semu, dan semua hanya ilusi.

"Sebaiknya Kau bunuh saja Aku, daripada Aku harus kehilangan ingatan tentang tempat ini, terutama tentang dirinya!"

"Kurasa itu..."

"Apa enak, dilupakan seseorang yang Kau inginkan selalu mengingatmu, kalian ini nyata dan masih hidup kenapa kalian ingin sekali dilupakan seseorang, Kau tahu bahkan orang yang sudah mati tidak akan benar-benar mati saat Kau masih mengenangnya dalam hatimu, kalau begini, apa bedanya kalian dengan orang mati yang kemudian benar-benar mati!" kata Lecca, sambil memandangi taman bunga di depannya, tapi kenapa pemandangan indah di depannya terlihat sangat menyedihkan, inikah pemandangan yang dilihat Saga, SENDIRIAN, tak diingat, nyata tapi tak nyata, ada tetapi tidak ada.

Tak heran waktu pertama bertemu Saga, Lecca merasakan kesedihan yang dalam terlukis di wajah Saga, tanpa sadar airmata Lecca bergulir di pipinya, hatinya terasa sakit dadanya sesak memikirkan Saga yang sendiri disini, sambil melihat taman bunga ini, tidak ini bukan rasa iba tapi ini cinta..cinta yang begitu menyedihkan.

Aiolia memandang Lecca dan tidak membalas perkataan Lecca , karena benar itulah yang selama ini dirasakan Saga, pembicaraannya dengan Saga berpuluh-puluh tahun lalu, tentang peraturan yang membuatnya 'kesepian'

"Sekarang, Aku mengerti kenapa...kenapa Dia bicara seperti itu, Aku paham sekarang" airmata makin deras mengalir di mata Lecca.

"Ternyata ini maksudnya, menyedihkan sekali" ucapnya lirih tertelan isak tangisnya

Aiolia merangkul Lecca, Gold Cloth, milik Aiolia yang dingin menyentuh pipi Lecca, entah kenapa kesedihan ini begitu menyelimuti dirinya, airmatanya tak bisa berhenti

Aiolia melepaskan pelukannya, dan menghapus airmata Lecca.

"Jangan menangis lagi Lecca, kalau Saga tahu, Aku bisa dilemparnya ke dimensi lain" canda Aiolia, tapi itu tidak berpengaruh, Lecca tetap tidak berhenti mennagis.

"Maaf" ucap Lecca lalu Ia berlari meninggalkan Aiolia

Aiolia memandang kearah taman bunga, dan wajahnya berkabut sedih.

"Saga, ada seseorang yang menangisi kita, mempedulikan kita, apa Kau merasakan yang sama Saga, tidakkah itu membuat hatimu hangat" gumam Aiolia