Chapter 10 : Profesor Shion Aries
Lecca terbangun waktu matahari belum terbit, bintang masih menggantung di langit berwarna ungu tua, namun di bagian timur langit sudah berwarna jingga, Dia turun dari tempat tidurnya, menemukan Saga tertidur di bangku besar dekat jendela, kepalanya terkulai ke samping, sepertinya nyenyak sekali, Lecca memperhatikan Saga, saat tidur pun Saga masih memakai Gold Clothnya, Lecca memandangnya sedih.
"Apa hatimu juga seperti tubuhmu Saga?, terpenjara dengan jubah emasmu?, apa Kau merasa terbebani dengan jubah itu?" ucap Lecca pelan. Menyentuh lembut wajah Saga.
Saat Saga terbangun Ia menemukan Lecca sedang ada di meja kerja milik Saga Dia sedang menulis, di sampingnya tertumpuk beberapa buku tebal, Saga mengucek matanya meski masih mengantuk, Dia mendekati Lecca, Ia mengambil salah satu buku yang menumpuk.
"Kau sudah bangun, ah, maaf Aku lancang sudah mengambil beberapa bukumu tanpa izin" kata Lecca
Saga menguap, Ia masih membuka-buka buku yang diambil oleh Lecca
"Tidak apa-apa, tapi buku ini cuma tentang Athena" kata Saga "Tak akan ada yang percaya kalau Dia ada, bahkan kami..." kata-kata Saga terputus, Lecca memandang Saga lalu Ia berdiri, memegang pipi Saga lembut.
"Bagiku, Kau ini sangat nyata karena Kau ada di depanku sekarang, Aku bisa melihatmu, bisa menyentuhmu, jadi jangan bilang kalau Kau tidak nyata, Kau ini nyata Saga" kata Lecca.
Saga memegang tangan Lecca yang ada di pipinya, tersenyum sedih
"Terimakasih Lecca" ucapnya pelan
tiba-tiba saja pintu kamar Saga menjeblak, Saga dan Lecca sama-sama kaget, Aiolia langsung menghambur masuk
"Selamat pagi Lecca, Saga!" serunya ceria, Aiolia membawa keranjang berisi buah-buahan.
"Jangan bikin kami mati jantungan!" ujar Saga, Lecca masih mengelus dadanya sangking kagetnya.
Aiolia tertawa kecil "Maaf" katanya, Ia mendekati Lecca dan menyorongkan keranjang buah-buahan itu pada Lecca "Untukmu, makanlah" katanya, Lecca menerima keranjang itu dan meletakkannya di meja.
"Sepertinya sedang sibuk?" tanya Aiolia,melirik buku yang menumpuk di meja.
"Tidak hanya melengkapi sedikit literatur, banyak buku yang menarik disini" kata Lecca, Ia menutup pekerjaannya yang sudah selesai, dan mengembalikan buku ke raknya, Saga ikut membantunya.
"Lecca, Aku penasaran sebenarnya apa yang mendasarimu nekat memasuki Sanctuary ini?" tanya Aiolia
"Sebenarnya hanya karena sebuah buku tua tentang kalian para Gold Saint yang ditulis oleh seseorang bernama Profesor. Shion Aries" jawab Lecca sambil mengembalikan buku ke rak nomor tiga yang cukup tinggi
"Apa katamu!" seru Saga dan Aiolia bersamaan, Saga menghentikan pekerjaannya, Aiolia ternganga.
"Lho kenapa kalian sekaget itu?" tanya Lecca terheran-heran
"Coba Kau ulangi lagi siapa nama profesor itu?" pinta Aiolia
"Profesor Shion Aries" ulang Lecca
Saga dan Aiolia saling berpandangan
"Kau tahu di buku itu lengkap di ceritakan tentang Sanctuary, Gold Saint, bahkan ada sketsa Gold Cloth bersama pemakainya, yang Aku lihat waktu itu, Taurus, Aquarius dan Virgo, dan di dalam buku itu, ada sebuah peta, cocok sekali dengan peta yang di temukan dalam manuskrip kuno di dekat reruntuhan kuil Athena, di bawah, dan yang bikin Aku yakin, peta itu juga cocok dengan peta yang kudapat dari buku panduan wisata, salah satu penyelenggara tour" jelas Lecca.
Ia makin heran melihat Saga dan Aiolia masih terbengong
"Kalian ini kenapa? Apa nama yang kusebut tadi mengingatkan kalian pada seseorang?" tanya Lecca
"Apa yang terakhir di tulis di buku itu Lecca?"tanya Aiolia
"Sebuah kalimat seperti tantangan pada orang yang membaca buku itu, begini bunyinya 'sampai saat ini belum ada yang membuktikan kalau Sanctuary itu benar ada atau tidak tetapi orang yang terusik dengan penjelasan di atas pasti mencari kebenarnyanya meski pada akhirnya disimpulkan bahwa ini cuma mitologi dan legenda belaka' jujur saja Aku sempat kesal dengan kalimat itu makanya Aku nekat datang kemari, kupikir profesor itu pasti sinting" kata Lecca
Lagi-lagi Saga dan Aiolia saling berpandangan, lalu sama-sama tertawa, mereka tidak tahu kapan Shion menjadi penulis, dan membeberkan rahasia Sanctuary secara bersamaan menentang seseorang untuk datang sekaligus menutupinya.
"Hei kenapa kalian tertawa?" tanya Lecca
"Bagaimana tidak Shion Aries itu bukanlah profesor, tapi Dia adalah penguasa Sanctuary ini, yang merupakan pem.."
"Pemimpin 12 Gold Saint, yang ada di Sanctuary, orang terdekat dengan dewi yang disembahnya Athena, julukan ketua itu adalah Pope." potong Lecca
"Ya, apa Dia juga menulis itu dalam bukunya" jawab Saga, Lecca mengangguk
"Maksudmu Shion Aries itu"
"Benar, Lecca, Shion aries adalah sang Pope" sambung Aiolia
Lecca ternganga tidak percaya.
"Makanya kami kaget mendengar nama itu darimu, tapi tantangannya itu, mempan ya padamu" kata Aiolia, terlihat takjub dengan kepolosan Lecca.
Rasa terkejut Lecca belum hilang Dia tidak menyangka yang menulis itu ternyata adalah sang Pope, dengan kata lain oarng yang benar-benar mengetahui Sanctuary itu, sama seperti Saga, Aiolia atau Milo.
"Lecca?" tegur Aiolia, membuyarkan keterkejutan Lecca
"Maaf ini terlalu mengejutkan bahkan jauh mengejutkan, daripada Aku waktu pertama kali melihat istana Aries" jelas Lecca
Saga dan Aiolia saling berpandangan lalu menghela nafas, sepertinya sudah paham dan tidak terkejut dengan sikap Shion.
"Orang tua itu memang nggak sembuh-sembuh, sempat-sempatnya mengaku sebagai profesor memangnya Dia dapat gelar itu dimana sih?" kata Aiolia
"Aku sudah tidak kaget Aku hidup lebih lama dengannya jauh sebelum Kau diangkat jadi Saint, Aiolia" balas Saga
"Sifatnya itu lho Saga"
"Memangnya apa?" sambung Lecca
"Narsis" kata Saga dan Aiolia bersamaan.
Sementara itu di pope chamber, istana yang menjadi kediaman Athena dan Pope, Shaka, Camus dan Aphrodite sedang bersantai.
"Hatsyiiiim!"
"Anda flu yang mulia?" tanya Camus, seraya menurunkan buku yang sedang dibacanya.
"Ah, tidak pasti ada yang sedang membicarakan diriku yang tampan dan jenius ini" kata Shion
"Jangan berbicara seperti itu tuan" celetuk Shaka, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
"Nyata kok Shaka, itu kenyataan semua orang mengetahui Aku tampan dan jenius"
"Bagaimana bisa tuan bilang seperti itu? Sedang selama ratusan tahun Anda tidak pernah bertemu dengan orang lain selain kami, dan juga tuan selalu menutupi wajah tuan dengan topeng kalau Anda bertemu dengan para saint lainnya selain kami, jadi katakan padaku apa ada orang lain yang tahu kalau Anda itu tampan?" ucap Shaka pedas.
"Jangan kejam seperti itu! " balas Shion merasa sebal
"Tuan, Aku tidak kejam itu kenyataan " kata Shaka kalem
"Aku setuju" tambah Camus, dari balik bukunya
"Jangan ikut-ikutan Kau baca saja bukumu" maki Shion
"Kalau begitu, Aku buka saja topeng ini" kata Shion
"Tolong jangan lakukan itu tuan" kata Aphrodite sambil meletakkan cangkir tehnya
"Memangnya kenapa?"
"Itu akan membuatku merasa terhina" cela Aphrodite
Shaka dan Camus menahan tawanya, bagi para Gold Saint mencela kenarsisan Pope mereka adalah salah satu hal yang paling manjur untuk menghilangkan kepenatan.
Terdengar tawa kecil dari ruangan yang ada di belakang, singgasana Pope
"Athena, Anda juga mentertawakan Aku?" tanya Shion
"Tidak" jawab Athena dari balik tirai "Hanya..."
"Hanya tidak salahkan, Athena, begitu maksud Anda?" lanjut Shaka
"Kalian ini! Semakin mirip dengan si spartan itu" geram Shion, membuat Athena semakin geli mendengarnya.
Camus masih menahan tawanya, begitu juga dengan Aphrodite, Shaka hanya tersenyum.
"Ah, ngomong-ngomong soal si spartan itu, belakangan ini Dia sedikit berubah" kata Shion
"Berubah bagaimana maksud Anda?" tanya Camus
"Yah, sedikit lebih ceria, meski masih kaku" jawab Shion
"Ceria?!" ujar Camus "Jangan bercanda tuan, spartan bermuka kaku itu ceria, dunia pasti mau kiamat" kata Camus tidak percaya
"Terserah Kau mau percaya atau tidak, tapi kemarin Aku baru saja bertemu dengannya, memang Dia sedikit berubah, tapi yang jelas sekali dua biang onar itu juga makin sering main ke istana Gemini belakangan ini"
"Mereka itu kan memang sering keluyuran tak ada di tempat, apalagi bocah satu itu" tambah Aphrodite sambil menghirup tehnya.
"Tapi mereka juga sama dengan si spartan itu, makin ceria, kabar baiknya, frekuensi membuat onarnya makin jarang" kata Shion
"Apa yang merubah mereka ya?" tanya Camus, Shion bertopang dagu, dan mengerutkan keningnya, seakan mencari jawaban.
Shaka menyandarkan tubuhnya, ke kursi besar yang Ia duduki, dan memandang satu persatu kearah, Shion, Camus dan Aphrodite
"Kenapa kalian pusing, bukan kah itu kabar yang baik. Apa pun yang menyebabkan perubahan mereka kalau membawa kebaikan buat mereka bukankah itu bagus. Terutama untuk si spartan itu, yang kehilangan senyumnya sejak peraturan itu di buat, si spartan itu...Saga...Ia tersenyum kembali" ucap Shaka, seakan mengerti apa yang selama ini Saga rasakan
Shion memandang Shaka lekat-lekat, peraturan itu...sepertinya juga telah membuatnya gila, sampai-sampai Ia menulis semuanya tentang Sanctuary, satu hal yang Shion inginkan, di akui, tentang keberadaannya di dunia ini. Apakah itu sulit, sebenarnya tidak, hanya saja, Dia tidak diijinkan untuk menunjukkan eksistensinya.
Shion pun bersandar dan membuka topengnya, lalu meletakkannya di pangkuannya, Ia tersenyum, dan paham perasaan Saga, samar Ia merasakan kosmo yang hangat jauh hangat dari milik Athena.
"Anak sialan itu!" ucap Shion pelan
Shaka hanya tersenyum mendengar perkataan Shion.
"Yah, itu kabar yang bagus, mereka tak perlu mengobrak-abrik perpustakaanku lagi" kata Camus melanjutkan membaca
"Taman bungaku juga aman" tambah Aphrodite, menghirup tehnya lagi.
Kembali ke istana Gemini, mendengar perkataan Saga dan Aiolia, Lecca tertawa geli, kalau diijinkan ia jadi ingin menemui sang Pope itu.
