Chapter 11 : Snow In The Middle Of Summer
"Pagi" sapa Aiolia, pagi itu Ia turun lagi ke istana Gemini
"Kau lagi, tidak biasanya, apa karena ada Lecca?" tanya Saga
"Tidak sebenarnya Aku hanya mengkhawatirkan dirimu"
Saga tersenyum kecut dirinya masih seperti diawasi, dan perkataan Shaka langsung seperti menghantam telingannya.
"Tenang saja Kau ini tak perlu khawatir, Aku tidak akan kehilangan akal sehat, untuk mengahadapi semua ini"
"Siapa yang mempedulikan itu, Aku sih tidak peduli masalah itu, bukan itu yang Aku khawatirkan Saga"
"Lalu apa Kau takut Aku tidak menjalani peraturan dengan baik"
"No, bukan itu juga" kata Aiolia " Kau tahu Saga, Aku hanya ingin membuatmu terus seperti kemarin selalu tertawa, mungkin Lecca juga punya pikiran yang sama dengan ku..."
Saga terdiam "Memang tidak enak, tinggal sendirian di istana yang besar dalam waktu yang cukup lama, kalau bukan karena Athena, Aku pasti sudah gila" jelas Aiolia.
Saga tertawa "Kau ini memang sudah gila selalu membuat keributan di seluruh Sanctuary, dengan Milo"
"Mungkin itu salah satu bentuk pemberontakan hati Kami terhadap peraturan yang pernah Kita bahas tempo hari"
Saga sedikit terbelalak, mendengar kata 'pemberontakan hati' "Jadi Kau juga?" tanya Saga, Aiolia tertawa kecil "Bagaimanapun juga Aku juga manusia" kata Aiolia "Tapi..." kata-kata Aiolia terputus, Ia beranggapan tidak ada yang salah, dengan menjadi Saint dan terikat dengan peraturan, tapi memang benar kata Saga dulu, manusia di luar sana berubah tapi Dia disini tetap seperti ini, rasanya sedih.
"Tapi kalau Dia, Aku yakin pasti mengerti" balas Saga, Aiolia tersenyum
"Kedatangan Lecca seperti oasis di gurun pasir, kurasa bocah itu juga merasakan hal yang sama makanya tumben-tumbennya Dia tidak cerewet seperti biasanya" ucap Aiolia.
"Kau juga merasa seperti itu?" tanya Saga
"Lecca...gadis itu, cuma dengan melihat senyumnya rasanya menyenagkan"
"Ya..Dia itu..." Saga tersenyum lembut
"Wah, rupanya Kau disini, Saga" tegur seseorang dari belakang sontak Aiolia dan Saga langsung menoleh ke belakang, ternyata Lecca.
"Oh, Aiolia Kau sudah disini juga" sapa Lecca
"Ya..ya rupanya Dia disini pantas kucari ke pelosok istana-nya tidak kutemukan" kata Milo yang muncul di sebelah Lecca "Ternyata Dia disini" tambah Milo
"Hai Milo" sapa Lecca, Ia tersenyum, Milo melihatnya, tersenyum kaku, dan langsung menghampiri Aiolia dan Saga, Lecca menghela nafas, rupanya Milo sedikit kaku, tapi Lecca yakin Milo sama menyenangkannya dengan Aiolia atau Saga.
"Kau sendiri mau apa kesini?" tanya Aiolia pada Milo
"Mencarimu tentunya" jawab Milo
Aiolia melirik kearah Lecca, dan memandang Milo, menyipitkan matanya penuh dengan pandangan selidik.
"Kau tidak bohong kan? Apa Kau kemari ingin bertemu dengannya" goda Aiolia, melempar pandangannya kearah Lecca, Milo ikut melihat kearah Lecca, dan wajahnya memerah, hal itu membuat Aiolia terkikik.
"Jangan tertawakan Aku, ini tidak seperti yang Kau pikirkan"
'Ah, Kau ini wajahmu saja sudah menjelaskan banyak, kenapa Kau tumben datang kesini, lagi pula kalau tidak salah dengar kemari itu Kau bilang, kalau kau minta izin pada Saga untuk mengunjunginya" goda Aiolia, sambil menyodok tulang rusuk Milo, wajah Milo, makin merah rasanya sebentar lagi Dia bakal meledak
"Bu..bukan itu hanya" elak Milo
"Wah..wah..bocah ini jatuh cinta, jangan begitu sainganmu itu senior kita" kata Aiolia sambil memegang kepala Milo.
'Diam!" bentak Milo sambil menghantarkan tinjunya, dengan mudahnya Aiolia, menangkapnya..
"Dasar-dasar bertarung, pertama jangan biarkan emosi yang mengendalikan pertarunganmu adik kecil" ejek Aiolia
"Diaaam...!" balas Milo
Saga langsung saja meninggalkan Aiolia dan Milo, mereka tidak akan berhenti sampai mereka capek atau ada yang memisahkannya. Saga berjalan mendekati Lecca.
"Dasar konyol dua orang itu" kata Saga sambil menggelengkan kepalanya, Ia berdiri di sebelah Lecca, yang sedang asyik memperhatikan Aiolia dan Milo.
"Mereka akrab ya?" kata Lecca sambil tertawa,
"Apa tidak apa-apa dibiarkan begitu saja?" tanya Lecca yang melihat Milo dan Aiolia kini tendang-tendangan.
"Tidak apa-apa, mereka tidak akan terluka sama seperti anak kucing yang sedang bercanda" jawab Saga
"Hai Saga! Aku dengar itu, setelah Aku selesai dengannya, giliranmu kubikin jadi perkedel!" maki Milo, lalu Ia kembali melempar bogem mentah tapi Aiolia berhasil mengelak lalu kembali mengejeknya.
Saga menghela nafas "Dia memang sedikit tempramental" kata Saga
"Aku juga dengar yang itu orang tua!" teriak Milo
Lecca tertawa geli.
"Milo itu adalah Gold Saint termuda diantara 12 lainnya, makanya kadang Aiolia suka menggodanya, biasanya kalau lagi seperti ini kami selalu membiarkannya, nanti mereka juga berhenti sendiri, tapi kadang juga ada yang memisahkannya"
"Siapa? Kamu Saga?" tanya Lecca
"Bukan, Aku sih tidak peduli, kadang Aiolos atau Mu yang memisahkannya"
"Aiolos dan Mu?"
"Aiolos adalah kakak Aiolia yang juga Gold Saint Sagitarius, dan Mu adalah Gold Saint Aries murid dari Pope Shion"
"Lalu apa mereka ada disini?" tanya Lecca
"Aiolos memang ada, tapi Mu sedang kembali ke tempat latihannya dulu, Jamir"
"Untuk apa?"
"Tugas kecil dari Athena, beberapa Saint lainnya juga tidak berada disini sekarang, mereka semua punya tugasnya masing-masing" jelas Saga
"Tugas seperti apa?"
"Melatih Saint, atau memilih seseorang..." kata-kata Saga terputus
"Memilih seseorang untuk apa?" lanjut Lecca
"Menjadi seperti kami" ucap Saga pelan, sekali lagi Dia terlihat sedih waktu mengatakan itu. Lecca tidak membalas omongan Saga tapi Dia paham apa maksudnya kata-kata 'seperti kami' tadi, suatu kesetian memang bagus, tapi kadang kesetiaan seseorang terhadap sesuatu, bisa membuat orang itu gila dan mengerikan. Lecca memperhatikan Milo dan Aiolia kini mereka kejar-kejaran, Lecca langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat mereka.
"Sebaiknya, Kau pisahkan saja mereka Saga" kata Lecca mengusap airmatanya karena kebanyakan tertawa.
Saga pun menghampiri Aiolia dan Milo, Lecca mengekor di belakangnya.
"Kalian berdua cukup!" seru Saga seraya menarik rambut Milo yang panjang dan jubah Aiolia.
"Aiolia tolong jangan menggoda adik kita ini" kata Saga kalem, kata-kata Saga bukan menenangkan Milo, sebaliknya malah membuatnya kesal langsung saja Milo menjitak kepala Saga, Saga mengelus kepalanya yang sedikit berdenyut, Ia tidak marah Ia meletakkan tangannya di atas kepala Milo dan langsung di tepiskan oleh Milo, Milo paling benci di perlakukan seperti anak kecil, oleh 11 Gold Saint lainnya. Milo melirik Lecca yang masih tersenyum memandang Milo.
"Aku jadi iri" kata Lecca pada Milo
Milo mengangkat alisnya tak mengerti
"Kau punya kakak-kakak yang memperhatikanmu, Aku ini anak tunggal dan hanya tinggal dengan ibuku, mungkin sedikit banyak Aku paham perasaanmu Milo" kata Lecca. Milo terdiam sejenak, lalu Ia tersenyum pada Lecca,
"Ah ternyata pada akhirnya Aku punya pendukung" kata Milo, Aiolia dan Saga saling berpandangan dan tertawa.
Pagi itu istana Gemini lebih ramai dari biasanya, Milo sudah mulai akrab dengan Lecca, juga karena sifatnya yang klop sekali dengan Lecca, selain itu Milo dan Lecca sama-sama penggemar cerita yang berbau horor, sesuatu yang sangat enggan di dengar Aiolia yang tidak percaya hantu. Menurut Aiolia hantu itu hanya proyeksi seseorang yang sedang ketakutan.
Tapi keceriaan itu ibarat salju di tengah musim panas, sangat cepat menguapnya.
Malamnya Saga kembali duduk di tempat favoritnya, salah satu reruntuhan pilar di halaman istana, malam itu langit jernih bertabur bintang
"Indah ya" kata Lecca yang tiba-tiba saja sudah duduk disebelah Saga
"Lecca kenapa Kau kesini?" tanya Saga
"Tidak boleh ya? Kau ini curang melihat pemandangan indah seperti ini sendirian saja, apa enaknya melihat bintang yang indah ini sendirian jikalau ada orang yang bisa Kau ajak untuk melihatnya bersamamu" kata Lecca
Saga tersenyum lembut pada Lecca, lalu meletakkan tangannya dengan lembut ke kepala Lecca.
"Selain itu Aku juga ingin menemanimu" ucap Lecca pelan
"Terima kasih" balas Saga, Ia melepaskan mantelnya, dan menyelimuti tubuh Lecca
"Disini agak dingin" kata Saga, mantel Saga terasa hangat sehangat perasaan Lecca, Ia pun merapatkan duduknya ke Saga
"Saga" panggil Lecca
"Ya"
"Apa Kau tidak kesepian disini, sendiri?" tanya Lecca
Saga tidak menjawab dan tidak memandang Lecca, Ia terdiam.
"Apakah Kau pernah jatuh cinta?" tanya Lecca lagi
Saga masih terdiam, tapi kali ini Dia memandang Lecca, dengan tatapan lembut, namun kesedihan terlukis di wajahnya, lalu Ia tersenyum, tapi bukan senyuman bahagia, Ia membelai lembut kepala Lecca, lalu merangkul Lecca, meletakkan kepala Lecca di dadanya.
Lecca mengerti, inilah jawaban Saga, rasanya menyedihkan sekali, Ia mengetahui perasaanya sama seperti apa yang Saga rasakan. Saga pun juga mengerti cinta ini cinta yang menyedihkan, dirinya terantai, terpenjara di tempat ini berharap suatu hari bebas seperti burung yang terbang di langit, tapi kesetiaan itu begitu melekat dihatinya. Sampai Ia harus membuang semuanya, termasuk perasaan cintanya pada Lecca.
"Maaf" bisik Saga di telinga Lecca
Lecca tak menjawabnya, perlahan airmatanya turun, Ia tidak bisa membendungnya lagi, rasanya menyakitkan membayangkan Saga sendirian disini, istana yang besar, suram, taman bunga yang indah tapi terlihat tak bernyawa, Saga memandang bintang seorang diri, yang buat Lecca semakin sedih waktunya di Sanctuary sudah habis.
Lecca pun segera menghapus airmatanya sebelum Saga melihatnya.
