Chapter 12 : Please Remember Us
Pagi itu Saga menuju ke kamarnya, ia terkejut melihat Lecca sedang membereskan tasnya beserta barang bawaannya.
"Untuk apa kau bereskan tas itu Lecca?" tanya Saga
Lecca menghentikan pekerjaannya, lalu memandang Saga
"Kau lupa sesuatu Saga, aku dan kau punya perjanjian, kalau aku hanya bisa tinggal di Sanctuary selama 7 hari tidak lebih" jelas Lecca
Saga terenyak mendengarnya, ia sama sekali lupa dengan perjanjian itu
"Sesuai perjanjian, hari ini tepat hari ke-7" Lecca terdiam sejenak, rasanya ada besi baja, jatuh ke peutnya, berat sekali mengatakan ini pada Saga
"Aku akan pergi hari ini" lanjutnya, sambil memasukkan bajunya ke ransel dan mengancingkan ransel itu. Rasanya ransel itu juga jadi 10 kali lebih berat dari biasanya, hari ini, hari terakhir dirinya ada di Sanctuary, hari terakhir dirinya melihat wajah Saga, Milo dan Aiolia, Lecca berpikir apakah ia diijinkan sekali lagi atau bahkan tinggal di Sanctuary, tapi Lecca tahu keberadaannya di Sanctuary, hanya menyulitkan Saga, Milo dan Aiolia sekali lagi karena peraturan itu begitu mengikat mereka.
"Lukamu belum begitu sembuhkan" kata Saga mencari alasan supaya Lecca bisa tinggal paling tidak beberapa hari lagi, Lecca menunjukkan lukanya, luka itu memang belum sembuh benar tetapi sudah kering, tak ada alasan untuk Lecca menunda kepergiannya kalau menurut perjanjian yang di buat dengan Saga waktu dia datang
"Sudah sembuh total" ucap Lecca lalu menutup bajunya lagi.
Saga tak bisa berkata apa-apa lagi, penyesalan selalu datang belakangan, ia menyesali kenapa hari itu Dia membuat perjanjian bodoh itu, ia tertunduk tangannya mengepal Saga kesal, sangat kesal pada dirinya, pada peraturan bodoh itu. Dan hari ini juga ia harus menghapus ingatan Lecca tentang semua yang terjadi di Sanctuary.
Lecca berdiri di depan Saga, ia mengangkat wajah Saga menyentuh lembut wajah Saga yang sedih, ia tersenyum.
"Aku mohon, jangan berwajah seperti itu" ucap Lecca "Dan, tolong jangan hapus ingatanku, kenanganku selama aku ada disini, biarkan aku menyimpannya di sini" Lecca memegang dadanya "Perasaan ini sangat berharga bagiku, Saga, karena aku ingin selalu mengenang kalian, Milo, Aiolia...kau..Saga..jadi to..tolong jangan lakukan itu" matanya sudah berkaca-kaca tetapi dia menahannya, dia tidak ingin perpisahannya dengan Saga dihiasi dengan airmata, tapi dengan senyuman. Lecca memeluk Saga erat, wangi tubuh Saga sangat menyenangkan bau zaitun yang hangat, mata hijau yang meneduhkan, senyum yang selalu Lecca sukai, kenapa dada ini rasanya sesak. Lecca melepaskan pelukkannya, berjinjit dan mencium pipi Saga dengan lembut.
"Aku...mencintaimu Saga..." ucap lecca "Kuharap, aku bisa bertemu denganmu sekali lagi" Lecca pun mengambil tasnya, dan melewati Saga tanpa bicara lagi atau melihat kearah pria itu, Saga pun hanya terdiam, kesal dan sedih rasa itu bercampur aduk dalam dada Saga, terdengar pintu terbuka dan menutup, Saga mengepalkan tangannya sampai sakit, dia tak bisa mengucapkannya, dia tidak bisa mencegahnya, cintanya sudah di tangan tapi seperti terlepas begitu saja, ia memejamkan matanya, airmata membasahi pipinya. "Maaf..maaf Lecca" ucapnya lirih.
Di luar ternyata sudah ada Milo dan Aiolia. Aiolia membawa keranjang buahnya, sedang Milo seperti membawa botol berisi minuman, saat melihat Lecca dengan bawaannya Milo langsung menghampirinya begitu juga Aiolia.
"Lecca, kau ini mau kemana?"tanya Milo, Lecca memandang Milo dan Aiolia
"Aku harus pergi dari sini" jawab Lecca
"Pergi? Tapi kenapa?" kata Milo wajah sumringahnya berubah drastis ia terlihat kecewa. Lalu Lecca menceritakan soal perjanjian yang ia buat dengan Saga saat ia pertama kali datang ke Sanctuary. Mendengar itu Milo hanya bisa terdiam, tapi sepertinya dia sedikit kesal.
"Apa kau akan menghapus ingatanku Milo?" tanya Lecca
"Tidak" jawab Milo singkat tanpa berpikir, Lecca langsung memeluk Milo
"Terima kasih Milo" bisik Lecca, lalu mencium pipi Milo
"Selamat tinggal Milo, tapi aku berharap Aku dapat bertemu denganmu lagi" kata Lecca, ia tersenyum, Milo tak memandang Lecca, tapi Lecca tahu wajahnya sedih. Lecca pun menghampiri Aiolia.
"Aku akan mengantarmu sampai coloseum" kata Aiolia, menyerahkan keranjang buahnya pada Milo.
Mereka pun berjalan meninggalkan istana Gemini, Lecca memandang istana Gemini untuk terakhir kalinya, sepertinya dia tidak akan menginjakkan kakinya ke tanah ini.
"Nah sudah sampai" kata Aiolia,"aku mengantarmu sampai sini"
Coloseum ini adalah tempat dimana Lecca dulu diserang oleh orang-orang yang menjaga Sanctuary, saat Ia diselamatkan oleh Saga. Lecca berdiri berhadapan dengan Aiolia, kepalanya tertunduk, Aiolia maju selangkah.
"Ja..jangan Aiolia" kata Lecca, ia tak bisa menahan lagi air yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, hanya pada Aiolia, Lecca bisa menunjukkan wajah sedih dan airmatanya. "Jangan hapus ingatanku, kumohon!" pinta Lecca, Aiolia mengangkat wajah Lecca, dan menghapus airmatanya, tangan Aiolia begitu lembut, ia tersenyum pada Lecca.
"Aku...tidak akan menghapus ingatanmu Lecca" ucap Aiolia lembut "Akan kubiarkan ingatanmu apa adanya, bagaimanapun juga kami ini cuma manusia biasa, kami juga ingin diakui keberadaannya, walaupun hanya satu orang, karena itu Lecca jangan lupakan kami, simpan kami di hatimu, karena hanya kaulah yang mengetahui kebenarannya, tentang kami, kalau kami itu nyata. Lagipula, kalau aku menghapus ingatanmu itu artinya aku membunuh sebuah cinta yang tulus antara dirimu dan Saga, selama perasaan itu masih ada selalu ada harapan, Lecca" kata Aiolia lembut. Lalu memeluk Lecca erat, Lecca pun menangis sesenggukan dalam pelukan Aiolia, Aiolia mengerti perasaan Lecca, sedikt banyak ia juga merasa sedih atas kepergian Lecca, dan dia juga tidak bisa menyalahkan Saga, karena ia tidak bisa membuang kesetiaannya, sumpahnya.
Aiolia pun melepas pelukannya, sekali lagi mengeringkan airmata Lecca dengan tangannya.
"Selamat.." Aiolia meletakkan jarinya di bibir Lecca
"Jangan ucapkan itu, tapi sampai jumpa lagi Lecca" lalu Aiolia mengecup kening Lecca dengan lembut. Lecca pun berbalik, dan tidak menoleh kebelakang lagi, Aiolia masih memandangi Lecca sampai gadis itu menghilang.
"Walau aku bilang seperti itu Lecca, mungkinkah kita bisa bertemu lagi" batin Aiolia, ia mendongakkan kepalanya, langit begitu biru dan indah, tapi pemandangan itu menjadi buram matanya terasa panas, Aiolia menyeka matanya dan segera kembali ke istana Gemini.
Sementara itu di istana Gemini, pintu kamar Saga menjeblak terbuka, Milo menghambur masuk, ia menemui Saga sedang berdiri di jendela, memandang keluar dengan pandangan kosong, seperti boneka yang rusak. Milo mendekatinya
"Kenapa kau tidak menahannya!" tukas Milo, mencengkeram lengan Saga
"Peraturan" balas Saga pelan tanpa emosi, dan tidak memandang Milo yang memandangnya dengan pandangan murka.
"Kau tidak lebih dari pecundang, pengecut, yang tidak bisa menjaga apa yang kau cintai, apa peraturan apa!" maki Milo, sambil mengoncangkan Saga, Saga tidak membalas, ia masih tertunduk, sepertinya dengan kepergian Lecca, separuh nyawanya pergi, lalu tiba-tiba Aiolia muncul melihat Milo sedang menjenggut Saga.
"Milo hentikan!" seru Aiolia
"Apa kau benar- benar mencintainya!" seru Milo
Saga masih terdiam tak peduli, Milo mendorongnya hingga Saga terhuyung menabrak tembok.
"Bodoh dasar bodoh, hanya karena peraturan! Kau membiarkannya pergi" maki Milo, Saga pun merasa terusik, ia menarik kerah jubah Milo
"Lalu katakan padaku apa kau bisa membuang ATHENA!"teriak Saga
Milo melotot melihat Saga, Saga pun mendorong Milo menjauh, ia menjatuhkan dirinya ke kursi besar, menutupi wajahnya dengan satu tangannya, ia menangis.
Demi kesetiaannya pada sang dewi, dia rela membuang apapun dan melakukan apapun juga walaupun itu menyakiti dirinya dan hatinya.
Milo tak bisa membalas makian Saga itu, kini dia mengerti perasaan Saga.
Sesampainya Lecca di komplek kuil utama, Lecca langsung kembali ke universitas, ia mengetuk pintu kamar Seth. Seth membukanya dan terbelalak, bukan main ia terkejutnya, "Demi Athena!" katanya spontan, ia meraih tangan Lecca kasar dan menghempaskan Lecca ke dalam kamarnya, Lecca terbelalak kaget dengan reaksi Seth, nampaknya pria satu ini sangat marah dengan tindakan Lecca yang menghilang begitu saja tak memberinya kabar, tapi Lecca kira Seth akan memakinya tetapi dia malah memeluknya, Seth melepaskan pelukannya sejenak memandang Lecca memastikan apa yang dilihatnya benar-benar Lecca, lalu dia memeluk gadis itu lagi. "Syukurlah Lecca" ucapnya pelan. Seth melepaskan pelukannya dan membinng Lecca duduk, memberinya segelas air, rona kelegaan terlukis sempurna di wajahnya. Melihat itu Lecca jadi merasah bersalah pada Seth.
"Maaf aku membuatmu khawatir karena tidak memberimu kabar selama seminggu ini" kata Lecca sebelum Seth mulai bicara. Seth duduk di depan Lecca, memangkukan kakinya, rona kelegaan itu berubah menjadi wajah serius.
"Hal itu memang sudah wajib kau lakukan Lecca…minta maaf" kata Seth sinis
"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Seth, tanpa memberi Lecca nafas panjang, Lecca terdiam sejenak Dia sudah mengira Seth pasti akan menagih janjinya dan menanyakan tentang Sanctuary, bagaimanapun juga Sanctuary adalah sebuah rahasia, Lecca memutuskan untuk menyimpannya untuk dirinya sendiri, dan mengarang cerita yang akan membuat Seth tidak banyak bertanya tentang Sanctuary, sedikit banyak Lecca mengerti kenapa Athena menyembunyikan Sanctuary, dan para Saintnya yang berharga.
Lecca menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu dengan gelengan itu Lecca?" tanya Seth tidak mengerti.
"Yah disana itu seperti yang diberitakan hanya ada kuil-kuil kuno dan tidak ada apa-apa" jawab Lecca
"Apa!?" ujar Seth "Kalau memang tidak ada apa-apa disana kenapa Kau baru pulang sekarang? Tujuh hari" dari nadanya Seth sama sekali tidak percaya dengan perkataan Lecca "Dan Aku juga nyaris mati ketakutan karena Kau juga sama sekali tidak memberiku kabar" tambah Seth
"Maaf" ucap Lecca
"Aku tidak perlu maafmu, aku perlu penjelasan" kata Seth, melipat tangannya, dan memandang Lecca serius. Lecca menghela nafas Ia sudah tahu bakal jadi seperti ini.
"Baiklah aku akan jelaskan" kata Lecca tenang
Lalu Lecca menceritakan, yang pasti bukan kejadian sebenarnya, tetapi ia menjelaskan kalau hari itu juga ia sudah turun dari wilayah atas dari kompleks kuil Athena, tapi karena dia rasa bahannya hanya sedikit dia mencoba mencari data ke tempat lain yang masih berhubungan dengan legenda dan mitologi Saint tersebut, Lecca juga bercerita karena kecerobohannya, kamera digital yang dibawanya hilang dicuri orang, saat ia sedang lengah. Pastinya Seth tidak mungkin tidak percaya dengan cerita Lecca.
"Jadi begitu ceritanya?" kata Seth masih memandang tajam Lecca, selama Lecca berbicara Ia tidak berkedip memandang Lecca dengan pandangan tajam. Kau akan tahu seseorang berbohong atau tidak saat Kau memandang matanya ketika Ia berbicara, Seth tidak menemukan tanda-tanda itu pada Lecca saat Lecca berbicara, tapi sepertinya Lecca menyembunyikan sesuatu.
"Ya, jadinya aku sama sekali tidak mendapatkan apa-apa, gambar pun tidak" jelas Lecca
Seth menghela nafas panjang "Yah sudah yang penting sekarang kau sudah kembali, lain kali jangan berbuat seenaknya Lecca" kata Seth, ia meletakkan tangannya di kepala Lecca, entah kenapa dia tak bisa marah pada Lecca, Lecca pun tersenyum "Kalau begitu aku akan mulai dari awal"
"Mulai dari awal apa maksudmu"
"Yah, aku kan sudah kehilangan data dan gambar, mau tak mau aku harus memulainya dari awal"
Seth tersenyum nakal "Ah, kau tak usah membingungkan soal data tempat itu, aku punya koneksi"
"Maksudmu kau akan mengurus perijinan aku untuk naik ke daerah itu?"
"Aku tak akan melakukan hal sinting itu sekali lagi Lecca"
Lecca tertawa
"Maksudku, aku akan menolongmu mengambil data dan sedikit gambar daerah kuil Athena, untuk keperluan tesismu itu Lecca" jelas Seth
"Wah, aku merasa tertolong sekali" ucap Lecca senang
"Dasar, enak sekali kau sudah membuat keributan, udah gitu aku tolong lagi, pokoknya kau harus membayarnya saat aku pergi ke Jepang nanti" kata Seth mengerucutkan bibirnya.
"Iya..iya deh, nanti kalau kau berkunjung ke Jepang akan kukabulkan apapun maumu" balas Lecca "Lalu Seth, bagaimana tentang penelitianmu tentang Sanctuary, dengan begini semua teorimu runtuh dan tak terpakai kan?"
"Yah kalau dibilang kecewa pastinyalah aku kecewa, apalagi aku yakin kalau manuskrip itu asli, dan peta itu sangat cocok, tapi ada kekurangannya sih, tak cukup kuat kalau kecocokan itu ada hanya pada guide book tour, dan buku yang ditulis profesor sinting itu" Seth terdiam sejenak, dan memandang Lecca "Jujur saja aku sangat mengharapkan data darimu Lecca, tapi hasilnya pun nihil, meski aku belum percaya dengan ceritamu 100% Lecca" lanjut Seth
"Jadi kau tidak percaya padaku?" tanya Lecca
"Apa boleh buat, prinsip tetap prinsip sepertimu aku tak akan percaya kalau belum lihat sendiri, aku ini agak keras kepala" jawab Seth
"Aku tidak protes, kalau aku jadi kau juga tak akan percaya begitu saja, lalu kenapa kau tidak mecoba saja pergi daerah itu" tantang Lecca
"Aku ini tidak sinting sepertimu Lecca" cela Seth "Mencari kebenaran di balik mitos atau legenda sudah seperti kewajiban bagiku, tapi..." kata-kata Seth terputus
"Ya...tapi apa Seth?" tanya Lecca
"Tapi, terkadang suatu mitos dan legenda itu dibuat, untuk melindungi kenyataan sebenarnya, atau melindungi sesuatu supaya tidak dirusak oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan kadang kenyataan yang sangat menyedihkan" jawab Seth.
Wajah Lecca berubah sedih, Seth benar mitos dan legenda memang dibuat untuk menutupi kenyataan dan cerita yang sebenarnya bahkan untuk melindungi sesuatu, seperti yang Athena lakukan, sampai membuat yang dilindunginya tersakiti, keberadaan mereka sama dengan ketiadaan tidakkah itu menyedihkan, ada tapi dianggap tidak ada. Seth memandang perubahan wajah Lecca, ia masih merasa suatu disembunyikan Lecca.
"Dan dengan ini, aku resmi menutup pencarian ku tentang Sanctuary dan Gold Saint, kesimpulannya seperti banyak dalam literatur yang aku baca mereka tidak lebih hanya sekedar mitos dan legenda dalam sebuah buku saja" kata Seth
"Ya itu benar Seth" Lecca membenarkan, ia tertunduk dan berpikir lebih baik begini, wajah Saga ,Milo dan Aiolia berenang-renang dalam kepalanya. Airmata Lecca kembali menumpuk di pelupuknya, ia buru-buru menahannya, sebelum air itu benar jatuh.
"Baiklah Seth, aku kembali ke kamarku dulu" kata Lecca sambil meraih ranselnya dan menyampirkannya lagi di bahunya.
"Lalu apa kau masih membutuhkan literatur yang kuberikan padamu?" tanya Seth
"Tentu saja, tapi tidak dengan buku Profesor Shion itu, sampai semua data lengkap sepertinya aku akan merepotkanmu Seth, mungkin empat atau lima hari kedepan" jawab Lecca.
"Baiklah, aku akan membantumu sampai semuanya selesai" balas Seth
"Terima kasih Seth" Lecca pun kembali ke kamarnya ia terduduk di tepi tempat tidur, rupanya malam sudah turun, sama seperti malam sebelumnya langit yang sama yang ia lihat di istana Gemini, tampak cerah dan bertabur bintang. "Apa Saga juga sedang melihat ini semua?" pikir Lecca, baru beberapa jam saja ia sudah merindukan Saga. Sedang apa dia, apa dia kembali bersedih, atau bahkan lebih sedih, sendirian, apa dia kesepian. Pikiran itu berputar di kepala Lecca.
