Chapter 17 : Dream Of Death

Sementara itu di Sanctuary, suasana di daerah itu sama seperti biasanya sunyi dan suram, tapi malam itu berbeda dari biasanya.

"Aiolia" tegur Milo, yang sengaja turun ke istana Leo.

"Lho, belum tidur adik kecil?" goda Aiolia

Milo menghela nafas "Aku lagi malas meladenimu kakek tua" balas Milo

"Kenapa kau turun kemari?" tanya Aiolia

"Entah, aku hanya ingin jalan-jalan saja untuk melepaskan kecemasanku yang tidak jelas ini"

"Kecemasan yang tidak jelas"

"Jangan menutupinya, aku yakin kau juga merasakannya"

Aiolia melirik Milo, ia tersenyum "Ketahuan ya"

"Pastinya lah, dasar bodoh, kalau soal 'dia', kau tidak bakal bisa menutupinya, sebab semua terlihat jelas...apa yang terasa dalam hatimu "

"Kata dia, lebih baik begitu daripada kau harus menyimpannya" balas Aiolia

"Apa kau juga merasakannya Aiolia?" tanya Milo

Aiolia terdiam dan tidak menjawab

"Semoga ini semua hanya perasaan kita saja, dan semoga dia baik-baik saja" kata Milo

"Ya...semoga" balas Aiolia singkat

Milo menghela nafas panjang, dan meninggalkan Aiolia, "Milo" Tegur Aiolia membuat Milo menghentikan langkahnya "Arah istanamu kesini bukan kesana" lanjut Aiolia sembari menunjuk arah yang berlawanan dengan arah Milo berjalan.

"Siapa bilang aku mau kembali ke istanaku" kata Milo, kembali berjalan. Aiolia memerhatikan Milo, dia tahu Milo hendak kemana, pasti Saint Scorpio itu mau ke istana Gemini. Tanpa banyak bicara Aiolia mengekori Milo.

"Saga..Saga" panggil seseorang dari kejauhan, Saga saat ini ada di taman bunga yang luas, langit begitu gelap, hanya ada bulan yang berwarna kemerahan yang terlihat begitu dekat sekali, dan membuat Saga merasa sesak dengan melihatnya, seakan bulan itu akan membawa semua dari dirinya. Saga melihat ke sekeliling, taman itu bukan miliknya, kenapa tumbuhan dan bunga yang tumbuh di taman itu semuanya hitam, taman itu lebih mirip pemakaman daripada taman bunga, suram sekali, dan di tengah taman itu berdiri pohon oak besar yang sudah mati, dan seseorang berdiri di bawahnya,dan memanggil dirinya, Saga menghampiri orang tersebut,ternyata seorang wanita Ia berdiri membelakanginya, Saga memegang bahunya dan membalik wanita itu, bukan main terkejutnya Saga wajah itu...LECCA! Saga mundur selangkah, wajah Lecca terlihat sedih, sekaligus marah, dia menangis, tapi bukan air mata yang keluar dari matanya, tetapi darah.

"Le..Lecca" kata Saga tergagap

"Tolong aku Saga" ucap Lecca, tangannya mencoba meraih Saga "Tolong aku!" pinta Lecca, Saga mencoba meraih tangan Lecca tapi sebuah sabit menghalanginya dan membuatnya menarik tangannya kembali.

"Kau tidak boleh menyentuhnya" kata pemilik sabit itu, mata Saga mengikuti sabit itu yang berakhir pada pemiliknya, rambut hitam legam, mata indah berwarna dark blue.

"Hades!" ujar Saga terbelalak, Hades, dewa orang mati

Hades tersenyum "Saga, gadis ini sebentar lagi akan menjadi penghuni underworld, jiwanya sudah ada di tanganku akan kuambil kapan saja aku mau, dan dia akan mekar seperti bunga mawar merah yang indah, di taman underworld" ucap Hades dingin

"Ja..jangan, lepaskan dia"

Hades tertawa "Kematian tidak bisa menunggu Saga" Hades mengayunkan sabit besarnya, langsung telak mengenai leher Lecca, kepala Lecca terlepas dari badannya, dalam gerakan lambat Saga melihat kepala itu terlempar ke udara dan mendarat tepat di kakinya, Hades tertawa keras

"tidaaaaaaaaakkkkk!" jerit Saga

Saga langsung membuka matanya di depannya ada Milo, berusaha menahan Saga dengan memegang bahunya.

"Kau bermimpi buruk?" tanya Milo, melepaskan pegangannya dari bahu Saga.

Saga terduduk, nafasnya masih tersengal-sengal, keringat membasahi tubuhnya.

"Syukurlah itu hanya mimpi" ucapnya, sambil menyeka keringat di pelipisnya, Saga membenamkan wajahnya ke tangannya, sudah berkali-kali dia memimpikan ini mimpi yang sama, Hades membawa Lecca, apakah ini suatu pertanda dan peringatan untuk Saga tentang Lecca, dan wajah itu..wajah Lecca, terlihat sedih dan marah apakah dia marah pada Saga yang pengecut ini, selama setahun ini dia hanya asyik dengan perasaannya sendiri terhadap Lecca tanpa berusaha untuk memahami perasaan Lecca atau menemui gadis itu.

"Apakah Hades?" tanya Milo

Saga terbelalak melihat Milo "Kenapa kau bisa tahu?" tanya Saga

Milo bangun dan mengambil handuk basah lalu menyerahkannya pada Saga.

"Sebab, aku juga memimpikan hal yang sama" jawab Milo, dengan wajah sedih

"Lecca seperti ingin lepas dari Hades, dia berkali-kali minta tolong padaku" kata Milo "tapi," Milo melihat kedua tangannya "Meskipun bisa diraih dengan tangan, tapi aku...aku tidak bisa meraihnya"

Pintu kamar Saga terbuka dan Aiolia masuk memandangi Saga dan Milo

"Sebaiknya kau menemui Lecca, katakan alasan yang sebenarnya pada Athena, dia pasti mengijinkan dirimu pergi dari sini"ucap Aiolia

"Tidak, kita punya urusan yang lebih besar dari ini" tegas Saga keras kepala

"Ini bukan urursan yang kecil Saga!" ujar Aiolia "Sampai kapan kau terus mau mengelak, jangan keras kepala"

"Dia itu bukan keras kepala tapi keras hati, kau tahu suatu saat kau akan hancur oleh kekerasan hatimu itu, dasar bodoh!" maki Milo, usai mengatakan itu Milo langsung meninggalkan Saga, Milo terlihat sangat kesal dengan kekerasan hati Saint Gemini yang satu ini.

"Milo benar, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, kurasa Athena juga mau mengerti" ucap Aiolia, memegang bahu Saga, dan meninggalkannya.

"Oh, Saga" kata Aiolia begitu sampai di depan pintu "Hades juga datang kepadaku" ucapnya, lalu ia menutup pintu kamar Saga.

Saga masih menatap pintu tempat Aiolia keluar, mimpi tadi seakan begitu nyata, apa yang sebenarnya terjadi pada Lecca? Saga ingin mengetahuinya. Tetapi, kepatuhannya terhadap hukum Sanctuary membuatnya mengurungkan niatnya.

"Lecca…Maafkan aku…" ucap Saga.