Chapter 21 : Death Wish
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Aiolia, pada Seth sejak lepas landas tadi dia terus memperhatikan Aiolia, bahkan mencuri-curi pandang, sepertinya ada yang ingin ditanyakannya.
"Tidak tidak apa-apa" jawab Seth, lalu memandang ke luar jendela pesawat lagi
"Aku masih menebak-nebak Seth, kenapa kau melakukan ini?" tanya Aiolia
"Melakukan apa maksudmu?" Seth balik bertanya
"Mempertaruhkan nyawa, mencari Saga sampai datang ke Sanctuary"
"Sudah kubilang semua ini demi janjiku pada Lecca"
"Sungguh cuma itu?" desak Aiolia
Seth memandang Aiolia cukup lama, dia tidak tahu maksud Aiolia bertanya seperti itu.
"Jika kau berpikir aku juga mempunyai rasa seperti yang Saga rasakan kau salah besar Aiolia" kata Seth pada akhirnya.
"Lalu?" " kata Aiolia kalem, sambil membuka bungkusan gula dan menuangkannya ke kopi yang disediakan oleh pramugari tadi.
Seth terdiam sejenak, dia melirik kearah Saga, yang dari mulai lepas landas tidak memalingkan wajahnya sama sekali dari jendela, dan sama sekali tidak berbicara, Milo hanya asyik membaca majalah yang ada di depan kantong bangku penumpang.
"Anggap saja ini adalah penebusan dosaku" ucap Seth
"Penebusan dosa?" Aiolia tidak mengerti
Seth mengangguk pelan "Aku seperti melihat diriku sendiri di dalam diri Saga, sehingga aku menyesali apa yang sudah terjadi, aku lebih mementingkan hal lain yang menurutku lebih penting ketimbang perasaanku sendiri, setelah tersadar semuanya sudah terlambat, tidak ada yang tersisa, hanya penyesalan. Mungkin dengan mempertemukan Saga dan Lecca, semua yang menjadi penyesalan dalam diriku sedikit menjadi ringan" jelas Seth
"Jadi karena itu kau memukulnya?" tanya Aiolia lagi
"Mungkin"
"Kurasa itu baik juga untuknya"
Kening Seth berkerut "Tak perlu heran" kata Aiolia seakan mengerti apa yang dipikirkan Seth.
"Saga itu memang orang yang keras, bahkan pada dirinya sendiri, sangat tertutup, yah walaupun dia kooperatif, Saga jarang menunjukkan emosinya depan orang banyak, dan sangat tegas, kaku, jarang tersenyum. Tapi hanya dalam waktu tujuh hari semua sifatnya itu berubah 360 derajat, seperti pintu yang tadinya tertutup dia perlahan mau membuka hatinya, yang mungkin sudah membatu, sejak hari itu" jelas Aiolia
"Maksudmu sejak hari itu?" tanya Seth
"Sejak kami harus menyembunyikan diri dari semua orang, semua manusia yang ada di dunia ini" jawab Aiolia
Seth terbelalak "Kau tahu bagaimana rasanya tidak diakui, walaupun kau ini nyata Seth?" tanya Aiolia Rasanya tidak enak sekali mendengar kata-kata itu dari Aiolia
"Tapi Lecca, bisa melihat itu semua hanya dalam sekali lihat saja, dia menghangatkan hati kami semua, Milo dan mungkin tanpa sadar juga diriku ini" ucap Aiolia
Seth tersenyum memandang Aiolia
"Sekuat apapun Saga dia tetaplah manusia yang sangat rapuh, Lecca mengetahui itu waktu pertama kali melihatnya, dia begitu kesepian, dan sedih, ingin lepas dari semua yang merantainya, ingin hidup sebagai manusia biasa" kata Aiolia
Seth hanya tertunduk memandang tangannya, dan berpikir betapa menyedihkannya cinta mereka ini.
Sementara itu di rumah sakit pada saat yang bersamaan.
Lecca sadar dari komanya secara ajaib setelah ia tiga hari tidak sadarkan diri setelah serangan terakhir sebelum Seth pergi.
"Bagaimana keadaannya Shou?" tanya ibu Lecca pada dokter Shou, usai dia memeriksa Lecca.
"Aku tak bisa bilang semua baik-baik saja Sasha, Lecca masih dalam keadaan yang rentan, serangan itu bisa datang sewaktu-waktu, tetapi saya menganggap ini adalah sebuah mukjizat dia bisa sadar dari komanya"
Ibu Lecca tersenyum sedih, dia yakin yang membuat Lecca bertahan adalah Saga, ibunya tahu kalau Lecca sangat ingin bertemu dengan Saga dan dia juga yakin Lecca mendengar ucapan Seth sebelum dia pergi ke Yunani.
"Sasha, apa kau mau aku terus melanjutkan prosedur yang kau inginkan itu? Keadaan Lecca saat ini cukup stabil, tetapi sekali lagi kita tidak tahu kapan hal itu kembali menyerangnya" jelas dokter Shou
Ibu Lecca tersenyum "Kau bisa meneruskannya Shou" katanya
"Baik akan kuatur semuanya Sasha"
"Terimakasih Shou"
Usai berbicara dengan dokter Shou ibu Lecca kembali ke kamar perawatan, dia mendapati anak semata wayangnya terduduk, dan membuka-buka buku sketsa miliknya.
"Lecca!" serunya "Kau tidak boleh bangun dulu, sadarlah sedikit nak kau itu baru saja sadar dari koma!"
"Maaf bu" ucapnya. Ia menutup bukunya dan meletakkannya di samping meja di samping tempat tidurnya.
Ibunya melirik buku yang teronggok itu "Kalau ibu mau lihat silakan" kata Lecca tiba-tiba "Toh, kelak ibu akan membacanya saat aku tidak ada nanti" tambahnya sambil tersenyum.
"Anak bodoh kau ini bicara apa, kau pasti sembuh jadi jangan bicara seakan-akan kau akan mati sebentar lagi" ucap Ibu Lecca
Lecca tertawa kecil "Jangan berbohong bu, tubuh ini adalah milikku, jadi aku yang paling tahu apa yang terjadi dengan tubuhku ini" Lecca terdiam sejenak "Waktuku tak lama lagi kan bu?" lanjutnya, perkataan Lecca membuat ibunya tersontak, terdiam tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Kenapa diam bu, jawab saja" desak Lecca
Ibu Lecca masih terdiam tidak menjawab. Lecca menghela nafas
"Kalau ibu diam berarti jawabannya iya kan?"
"Lecca tolong jangan katakan itu!" pinta ibunya
"Kenapa bu? Semua yang hidup di dunia ini pasti mengalami kematian cepat atau lambat" balas Lecca tenang
"Jangan bicara kematian, keajaiban itu pasti ada Lecca kalau kau tetap optimis menghadapi hal ini dan tidak menyerah" ujar ibunya
Lecca memandang keluar jendela "Aku sudah kehilangan harapan bu, dan tak mengharapkan keajaiban" ucap nya pelan
"Le..."
"Cukup bu, aku sudah tahu semuanya" potong Lecca
"Apa yang kau bicarakan?" tanya ibunya pura-pura tak mengerti
"Aku dengar pembicaraanmu dengan dokter Shou, tentang penyakitku ini, tak ada harapan bukan? Semua pengobatan yang dilakukan pun sudah percuma, yang ibu dan dokter Shou lakukan sekarang ini hanya memanjangkan waktuku saja...sedikit lebih lama..." wajah Lecca berkabut sedih, kata-katanya tenggelam begitu saja
Ibu Lecca memalingkan wajahnya ia tak bisa memandang anaknya, dia tidak bisa menangis depan anaknya ini, Lecca memegang pipi ibunya dan mengarahkan wajahnya sehingga bertatapan dengan wajahnya, wajah ibunya kini sudah berkilau dengan airmata, Lecca menyeka pipi ibunya yang basah dengan tangannya.
"Terima kasih bu..terima kasih..." ucap lecca sambil memeluk ibunya "Terima kasih telah memanjangkan umurku...tapi tolong hentikan ini semua" pinta Lecca dalam pelukan ibunya. Airmata ibu Lecca semakin bergulir dia begitu sedih bahkan anaknya meminta kematian itu sendiri, dia merasa sedih karena tidak rela melihat Lecca pergi begitu saja tanpa bisa bertemu dengan seseorang yang sangat dicintainya.
Lecca melepas pelukannya "Aku mengerti maksud ibu melakukan ini semua tapi...aku mohon, hentikan ini semua, relakan aku pergi bu" kata Lecca, bahkan ia tak menangis waktu mengatakan itu "Aku akan bertahan sedikit lebih lama dengan kekuatanku sendiri, kalau Tuhan mengizinkan aku bertemu dengannya, aku pasti akan bertemu dengannya" jelas Lecca,ia tersenyum lagi.
Ibu Lecca memeluk anaknya lagi "Bertahanlah sampai Seth datang Lecca" ucap ibunya pelan
"Iya bu" balas Lecca
Sesuai dengan permintaan Lecca, semua alat penunjang yang selama ini di pakaikan ke Lecca semuanya dicabut, dan pemberian obat juga dihentikan, terapi semuanya juga di hentikan.
"Aku sudah memenuhi semua keinginanmu Lecca tapi aku juga punya permintaan padamu" kata dokter Shou
"Memangnya aku bisa berikan apa pada dokter?" tanya Lecca
"Tetaplah tinggal disini, supaya aku bisa terus memantaumu" jawab dokter Shou
"Maksud dokter memanjangkan umurku lagi" balas Lecca kalem
"bukan itu Lecca, kau itu..."
"Aku menolak..." potong Lecca "Aku ingin pulang, hmmm...sakura pasti sedang menggugurkan bunganya" lanjut Lecca sambil memandang keluar jendela.
"Pasti indah sekali" tambahnya, Lecca memandang dokter Shou sambil tersenyum, senyum itu tak bisa ditolak oleh dokter Shou yang hatinya langsung luluh
Ia menghela nafas, dan membelai lembut kepala Lecca
"Baiklah..kukabulkan permintaanmu ...Lecca" kata dokter Shou
"Terima kasih dokter" balas Lecca, ia terlihat senang.
Matahari hampir tenggelam saat pesawat Seth, tiba di Jepang, Seth langsung menyalakan ponselnya, ternyata ada satu e-mail yang datang, Seth pun membukanya, ternyata dari Ibu Lecca, dia memberi tahu kalau Lecca sudah pulang kerumahnya kalau memang Seth berhasil membawa Saga serta bersamanya, Ibu Lecca meminta Seth membawa Saga kerumahnya dan Ibu Lecca pun memberikan alamatnya, jujur saja Seth tidak paham daerah Jepang, selagi membaca e-mail itu kening Seth berkerut, pada siapa dia meminta tolong pergi kerumah Lecca? Ia pun menutup ponselnya, dan menghela nafas.
"Kenapa Seth?" tanya Aiolia
"Ada sedikit masalah" jawab Seth, menggaruk kepalanya, melipat tangannya dan bertopang dagu.
"Masalah apa?" tanya Milo
"Lecca"
"Ada apa dengannya?" tanya Saga cemas, Seth melirik Saga
"Dia tidak apa-apa, hanya saja dia sudah kembali kerumahnya, dan masalahnya aku sama sekali tidak tahu dimana letaknya meski ibunya sudah memberiku alamat" jelas Seth
"Apa kau punya kenalan lain di sini?" tanya Saga
"Kenalan?" Seth menggaruk dagunya, berpikir sejenak siapa seseorang yang bisa ia mintai tolong, lama terdiam lalu Seth menyadari sesuatu "Aha!" serunya, membuat Milo dan Aiolia kaget, Ia membuka ponselnya dan menekan nomer telepon seseorang, ya, cuma dia yang bisa menolongnya, Profesor Nathan.
"Ooo jadi kalian adalah teman satu universitas dengan Seth" kata Profesor Nathan pada Saga, Milo, Aiolia dan Seth saat di dalam mobil menuju rumah Profesor Nathan. Saga, Milo dan Aiolia berdesakan di belakang mobil VW kodok milik profesor Nathan
"Ya begitulah" jawab Saga ramah, Seth kagum pada Saga, pembawaannya begitu luwes, dan tenang, meski Seth tahu sisi lain Saga, tapi kharismanya benar-benar mengerikan bahkan bisa terlihat kalau Profesor Nathan langsung suka pada Saga begitu pertama kali berkenalan saat di bandara tadi.
"Terima kasih, sudah mau menampung kami " kata Seth
"Ah, kau ini Seth jangan pakai kata menampung dong, tak enak itu di dengarnya, bagaimana kalau meminjamkan tempat" lalu Profesor Nathan terbahak sambil menepuk bahu Seth dengan tangan besarnya, yang membuat Seth terbatuk-batuk tenaganya tenaga kuda.
Milo dan Aiolia, saling berpandangan melihat Profesor Nathan, mereka jadi teringat Aldebaran, Gold Saint Taurus, tubuhnya tinggi besar, sepertinya mobil VW kodok ini tidak pantas dengan perawakannya, penampilan profesor Nathan bisa dibilang nyentrik, rambutnya panjang dikuncir kuda, dengan jambang membuatnya kelihatan sedikit seram, tapi setelah mengenal orangnya ternyata dia adalah orang yang menyenangkan.
"Selamat datang di rumahku" kata Profesor Nathan, begitu sampai di rumahnya, rumahnya besar dengan banyak kamar, rumah bergaya Jepang dengan taman yang asri di tengah rumah itu., Saga memandang ke sekeliling rumah itu, sepertinya tidak tampak tanda-tanda orang lain yang tinggal bersama Profesor Nathan.
"Apa anda tinggal sendiri?" tanya Aiolia
"Ya, aku tinggal sendiri disini" jawab profesor Nathan singkat
"Apa anda tidak merasa kesepian tinggal sendiri disini? Memangnya dimana keluarga anda?" tanya Saga spontan, Seth, Milo dan Aiolia langsung menoleh kearah Saga, tak menyangka Saga bakal bertanya se-tidak sopan itu (menurut mereka) pada Profesor Nathan, alis profesor Nathan naik, ia memandang Saga dan ia terbahak-bahak, sambil menepuk punggung Saga sampai Saga terbungkuk-bungkuk.
Saga jadi heran kenapa dia tertawa seperti itu.
"Aku serius" kata Saga, wajahnya memang jadi serius.
"Karena itulah aku jadi tertawa, aku jadi ingat dia, dia mengatakan hal yang sama seperti dirimu nak, dan sejak tahu aku tinggal sendiri, dia selalu datang setiap hari, untuk mengunjungiku, apa saja dibawa kerumah ini" Profesor Nathan masih tertawa "Kalau dia sudah datang, rumah ini jadi ramai dan berantakan" tambah Profesor Nathan, mengusap matanya yang berair.
"Anda membicarakan siapa?" tanya Seth
Wajah profesor Nathan berubah sedih, Saga tambah heran dengan perubahan wajah itu "Anak itu...Lecca" ucapnya pelan, sambil tersenyum
"Nah, silakan pilih saja kamar yang kalian suka, disini banyak kamar kosong, kamar mandinya ada di setiap kamar, kalau kalian butuh apa-apa, banyak makanan di kulkas, jadi jangan sungkan untuk memakannya, dan kalau ada perlu lainnya aku ada diruang kerjaku di paviliun paling ujung" jelas Profesor Nathan riang kembali.
"Aku tidak tahu kalau dia tinggal sendiri" ucap Seth
Saga membisu dia hanya memandang punggung profesor Nathan sepertinya dia melihat sosoknya dalam profesor Nathan.
Paginya Seth, Saga, Milo dan Aiolia disambut oleh Profesor Nathan di ruang makan
"Sarapan!" katanya riang, dia sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berempat
"Sudah diberi tumpangan sekarang malah dibuatin sarapan, kami benar-benar merepotkan anda" kata Seth
Profesor Nathan melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Lalu Seth apa yang bisa kubantu lagi?" tanya Profesor Nathan
"Waktu di telefon sepertinya kau ingin menanyakan..ng...alamat"
Seth merogoh kantong bajunya dan menyerahkan secarik kertas, Profesor Nathan menggaruk dagunya membaca dengan teliti alamat yang tertulis di kertas itu
"Yah, aku tahu tempatnya, beberapa kilometer di luar Tokyo, setahuku ini adalah alamat rumah Lecca" selidik Profesor Nathan
"Benar itu alamatnya, kami ingin mengunjungi Lecca, untuk berterimakasih padanya" Seth membuat alasan, tak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya.
"Sayang sekali hari ini aku ada pertemuan, kalau tidak aku akan mengantar kalian sampai sana"
"Kami bisa pergi sendiri, asal anda tunjukkan saja kemana arahnya kami harus pergi" kata Seth buru-buru, Profesor Nathan memang terkenal punya insting tajam, Seth mencoba seminimal mungkin interaksi Saga, Milo dan Aiolia dengan Profesor yang satu ini, supaya professor Nathan tidak mencium suatu kebenaran dibalik semua kejadian ini, bagaimanpun juga hal sebenarnya harus tetap menjadi rahasia, kalau sebenarnya Saga, Milo dan Aiolia adalah para Gold Saint.
"Baiklah"
Segera setelah mendapat petunjuk dari Profesor Nathan, Seth, Saga, Milo dan Aiolia, langsung meluncur menuju rumah Lecca.
Mereka ber-4 sampai di sebuah desa yang asri, damai tenang jauh dari kebisingan kota, dan bisa dibilang cukup sepi, desa itu benar-benart teratur, jalanan-nya bersih, rumah yang seragam tertata rapi. Seth memperhatikan peta yang di beri oleh Profesor Nathan, lalu melihat kearah kanan melihat kertas itu lagi dan melihat kearah kiri.
"Kau ini tahu tidak kita harus pergi kemana?" tanya Milo yang memperhatikan Seth sejak tadi sepertinya sedang bingung menentukan kearah mana mereka harus berjalan.
Seth masih memandangi kertas petunjuk itu "Kalau menurut kertas ini kita harus jalan ke kanan sekitar 700 meter, katanya melewati sebuah toko wewangian" jelas Seth
Milo memicingkan matanya sejauh mata memadang Dia tidak melihat toko atau pun papan nama sebuah toko wewangian.
"Sudahlah sebaiknya kita ikuti petunjuknya ke arah kanan" sela Aiolia
"Dia benar" tambah Saga yang tak ingin buang waktu lebih lama lagi, lalu mereka menyusuri jalan setapak itu yang kiri kanannya di tumbuhi pohon sakura yang sedang menggugurkan bunganya, semuanya jadi terlihat berwarna merah muda yang indah. Setelah beberapa menit berjalan mereka bertemu sebuah pertigaan.
Milo dan aiolia langsung melirik Seth "Kita belok kiri atau kanan?" tanya Milo
Seth mengangkat bahu "Entah" katanya
"Apa maksudmu? Kau kan pegang kertas petunjuknya" kata Milo
"Ya pasti orangtua itu lupa memberitahu kita kalau harus lewat simpang tiga ini, parahnya dia tidak memberitahu kita harus belok mana" jelas Seth kesal, sedikit paham kalau Profesor Nathan memang sedikit pikun.
"Hei kalian, mungkin ini toko wewangian yang disebut-sebut tadi" kata Aiolia menunjuk sebuah rumah kecil, bercat biru muda yang persis ada di sebelah kiri jalan
"Kalau begitu kita masuk, mungkin saja pemiliknya bisa beritahu kita dimana rumah Lecca" kata Seth
"Saga ayo masuk!" seru Aiolia, saat Saga hanya terbengong di depan toko itu, entah kenapa, semakin dekat menuju rumah Lecca, perasaan bersalahnya semakin besar apa Ia masih punya muka untuk bertemu dengan gadis itu, apakah Lecca membencinya, meski Seth, Milo ataupun Aiolia bilang tidak tapi tetap saja Saga belum merasa tenang kalau bukan Lecca sendiri yang bicara.
Kakinya terasa berat menuju toko itu, tapi kali ini dia tidak akan lari lagi.
