Chapter 22 : Fragrance and Guilt
"Permisi" sapa Seth begitu membuka pintu toko, tapi tidak ada orang, toko itu cukup besar saat Seth sudah sampai di dalam, padahal tidak terlihat begitu besar dari luar.
Di dalamnya ada dua rak-rak tinggi di sebelah kanan rak dengan toples-toples berisi bunga-bunga kering, seperti potpouri. Dan sebelah kiri ada rak dengan puluhan botol berisi cairan berwarna-warni hijau, ungu, emas, merah, bening.
Di tengah ruangan berlantai kayu itu ada sebuah meja kayu yang diatasnya ada keranjang susun tiga, keranjang itu berisi botol-botol kecil dan lilin berwarna-warni, di samping kanan meja itu ada tong-tong berisi bunga segar, mawar, chrysant, aster, anggrek, tulip.
Tapi yang membuat Seth betah diruangan itu, ruangan toko itu harum sekali, aroma green tea yang menenangkan dan menyegarkan. Seth menghirup nafas dalam-dalam, menikmati aroma itu.
"Ada yang bisa Aku bantu?" tanya seorang gadis dengan bandana berwarna hitam melilit di kepalanya, Dia memegang toples berisi bunga kering di tangannya.
Seth terlonjak kaget "Ma..maaf" ujar Seth, gadis itu tertawa kecil
"Aku tidak menyalahkanmu setiap orang yang masuk kesini pasti bereaksi seperti mu" kata gadis itu, Aiolia dan Milo juga menahan tawanya.
Bagi mereka wewangian ini sudah biasa, karena mereka pernah memasuki istana yang lebih wangi dari ini, bahkan wangi yang sangat memabukkan.
Melihat reaksi Milo dan Aiolia, Seth langsung mendelik, tapi hal itu malah membuat mereka berdua tambah terkikik.
"Lalu wewangian apa yang Anda cari?" tanya gadis itu lagi
"Maaf kami kemari hanya untuk bertanya" jawab Seth agak sungkan, karena bukan datang kesitu untuk membeli sesuatu
"Bertanya, tentang apa?" tanya gadis itu lagi
"Ini" Seth menyerahkan secarik kertas pada gadis itu "Kami mencari alamat itu"
Gadis itu membaca alamat yang tertera di kertas itu
"Oh, rumah nona Lecca!" seru gadis itu "Syukurlah, bisa aku minta tolong " ujar gadis itu ia lalu meninggalkan Seth, berjalan menuju meja dan membuka lacinya mengeluarkan sebuah botol kecil lalu menghampiri Seth lagi "Ini dia!" serunya menunjukkan botol kecil itu ke hidung Seth
"Tolong antarkan ini ke nona Lecca ya, sudah lama dia memesan wewangian ini dariku" cerosos gadis itu Seth tak bisa memotongnya
"Tapi karena bahannya cukup susah jadi cukup lama bagiku untuk meraciknya,waktu sudah selesai Aku tidak pernah sempat mengantarnya kesana, jadi to...long" tiba-tiba gadis itu berhenti berbicara matanya tertuju, pada seseorang di belakang Seth, botol kecil itu masih bertengger di depan hidung Seth.
"Aku akan mengantarnya, tapi beritahu dimana rumah Lecca" kata Seth tapi gadis itu mengacuhkan Seth, matanya masih memandang sesuatu di belakang Seth, Seth hendak mengambil botol kecil itu dari tangan gadis itu, tapi gadis itu malah menggenggamnya, dan berjalan melewati Seth, dan mendekati Saga, saat berdiri di depan Saga, dia memejamkan matanya, dan mengendus Saga, seakan menghirup 'aroma' Saga.
"Jadi kau" ucap gadis itu lembut sambil tersenyum.
Saga menatap mata besar gadis itu ia tidak mengerti apa maksud perkataan gadis itu
"Maaf, tapi apa maksudmu" kata Saga sopan
"Kaulah orang selalu di ingat nona Lecca" ujar gadis itu
"Enam bulan yang lalu nona Lecca datang kepadaku dan memintaku membuatkan sebuah wewangian yang selalu mengingatkannya pada seseorang, karena katanya nona Lecca sama sekali tidak memiliki suatu benda yang mengingatkan dirinya pada seseorang yang sangat ia cintai, selain wajah, kenangan dan aroma wewangian yang selalu menyelimutinya" jelas gadis itu
"Mungkin kau salah orang" kilah Saga
"Tidak, aku tidak mungkin salah, sebagai ahli pembuat wewangian aku bisa membedakan lebih dari 10.000 wewangian yang ada di bumi ini, setiap wewangin yang diciptakan oleh sang maha pencipta mempunyai karakteristiknya sendiri, bahkan bisa menggambarkan karakter orang yang memakainya...dan kau tahu apa yang nona Lecca bilang?" gadis itu menyambar tangan Saga dan meletakkan botol kecil di tangan Saga "Dia bilang, kau hangat seperti zaitun" kata gadis itu, Saga tertunduk melihat botol kecil di tangannya.
"Nona Lecca pasti akan bahagia kalau ternyata yang mengantarkan wewangian ini, adalah orang yang selalu diselimuti oleh wangi ini, atau mungkin sekarang ini dia tidak membutuhkan wewangian itu, karena kau sudah ada disini" lanjut gadis itu, lalu ia berbalik dan mendekati Seth.
"Kau belok kanan saja kira-kira 200 meter Kau akan menemui rumah di ujung jalan itu rumah nona Lecca" kata gadis itu pada Seth
"Terima kasih" ucap Seth
"Yah sama-sama, kau juga sudah membantuku mengantarkan pesanan nona Lecca" balas gadis itu tersenyum "Kapan-kapan mampirlah lagi" tambahnya
"Kalau begitu kami pergi, sekali lagi terima kasih" ucap Seth
Gadis bandana itu tersenyum.
Sesuai dengan petunjuk dari gadis itu, mereka ber-4 menyusuri jalan yang dimaksud setelah beberapa menit berjalan mereka berhenti di depan sebuah rumah, bergaya minimalis yang sangat asri dengan halaman yang luas, rumah itu tertata rapi kebun bunga yang ada di halaman depan juga sangat terawat.
"Benar yang ini rumahnya?" tanya Aiolia pada Seth
"Besar sekali" kata Milo
"Kurasa ini benar rumahnya, lihat itu" kata Seth sambil menunjuk papan nama yang betengger di atas kotak surat.
"Redwood?" ucap Milo
"Itu nama keluarga Lecca" jelas Seth, ia memasuki halaman rumah yang tak berpagar itu Saga, Milo dan Aiolia mengekor dibelakang
"Kudengar dari Profesor Nathan, keluarga Lecca adalah keluarga keturunan bangsawan Inggris ternama, wajar saja rumahnya besar, ayah Lecca meninggal saat Lecca masih kecil" cerita Seth
"Lalu Lecca adalah anak tunggal begitu?" tanya Milo
"Darimana kau mengetahuinya?" balas Seth
"Dia pernah sekali mengatakannya padaku" kata Milo
Sesampainya di depan pintu Seth langsung menekan bel rumah tersebut, sekali...dua kali..tiga kali
"Tidak ada orang rupanya" kata Aiolia
Seth menekannya sekali lagi, lalu terdengar suara menceklik, seperti kunci yang di buka, benar saja pintu itu terbuka, dari pintu itu muncul seorang wanita.
Seth tidak mengenalnya, jangan-jangan salah rumah, sama seperti di Jepang atau dimana pun suatu nama keluarga tidak hanya dimiliki oleh satu keluarga saja bisa saja dimiliki oleh keluarga lain, meskipun mereka tidak punya hubungan darah sama sekali..
"Ada yang bisa saya bantu tuan-tuan?" tanya wanita itu sopan
"Ng... benar ini rumahnya Lecca?" tanya Seth ragu-ragu
"Benar tuan" jawab wanita itu
Seth menghela nafas lega "Bisa aku bertemu dengan nyonya Sasha?" kata Seth
"Masuklah" kata wanita itu, dia melebarkan pintunya dan memepersilakan Seth dan yang lainnya masuk kemudian mengantarkan mereka menuju ruang tamu.
"Silakan tunggu disini, Saya akan panggilkan nyonya, dan maaf siapa nama anda?" tanya wanita itu.
"Seth" jawab Seth, kemudian wanita itu pergi meninggalkan mereka ber-4
"Permisi nyonya" kata pelayan itu, sambil mengetuk pintu ruang kerja
"Masuklah" sahut seseorang di dalam
Pelayan itu pun membuka pintu, menemui majikannya sedang asik membaca sebuah buku di meja kerjanya
"Ada apa Rui?" tanya wanita itu
"Nyonya ada tamu sedang menunggu anda di depan"
"Tamu?" ulang wanita itu
"Ya nyonya seorang pemuda bernama Seth"
Serta merta wanita itu menutup buku yang tengah dibacanya wajahnya tegang bercampur gembira, dia langsung bangkit dari duduknya dan menghambur keluar ruang kerja membuat Rui heran melihatnya, apakah orang yang bernama Seth itu punya urusan sangat penting sampai-sampai nyonya Sasha melesat begitu cepat begitu namanya di sebut.
Sementara itu diruang tamu, suasana begitu sunyi meski ada empat orang disana, mereka tidak bicara, Seth terus melihat keluar jendela, Saga asyik dengan perasaan dia sendiri yang bercampur aduk, sedih, marah, takut dan bersalah, dia menundukkan kepalanya.
Milo, ia sibuk melihat ke sekeliling ruangan besar itu, Aiolia tak beda dengan Saga, dia memangkukan kakinya dan melipat tangannya terlihat sedang menikmati suasana sunyi ini.
"Seth!" seru Ibu Lecca seketika itu kesunyian itu pecah Seth langsung berdiri, Saga mengangkat kepalanya, Milo dan Aiolia spontan langsung menoleh kearah wanita yang baru saja datang, seorang wanita anggun yang wajahnya sangat mirip dengan Lecca, wanita itu menghambur menghampiri Seth dan memeluknya.
"Syu..syukurlah Seth, aku jadi lega kau kembali, Lecca hampir tidak bisa bertahan lagi" isaknya, ia melepas pelukannya.
Dan memegang kedua pipi Seth dengan tangannya.
"Dia….Dia sudah mengetahuinya Seth, mengetahui kalau sebenarnya usianya tak lama lagi dan Dia juga mengetahui, pengobatan yang dilakukan hanya untuk memanjangkan waktunya saja aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan lagi sungguh..." kata-kata Ibu Lecca terputus tangannya mencengkeram erat kerah baju Seth, isak tangis Ibu Lecca makin membuat perasaan Saga campur aduk, Saga makin merasa bersalah, Aiolia yang berdiri di sebelah Saga sangat mengerti perasaan saga, bagaimana tidak semuanya terlukis sempurna di wajahnya, padahal selama ini Saga termasuk tipe orang yang jarang menunjukkan perasaannya, tak ada yang tahu dia itu sedang gembira atau sedang sedih. Yah, kecuali orang yang benar-benar mengenal Saga.
Seth pun juga tidak bisa membalas perkataan Ibu Lecca, dia hanya terdiam.
"Lalu..Seth apa kau berhasil membawanya?" tanya Ibu Lecca mata cokelatnya memandang Seth penuh harap. Seth memegang kedua bahu Ibu Lecca.
"Nyonya, anda sedang berdiri di sampingnya sekarang" ucap Seth
Ibu lecca langsung mengalihkan pandangannya kearah seorang pemuda tampan berambut panjang sewarna dengan langit biru yang indah dan mata hijau yang meneduhkan, lalu ia mendekatinya, Saga menunduk dia tidak berani memandang wajah Ibu Lecca, sungguh dia sangat merasa bersalah karena kepengecutannya.
"Kenapa, kau tundukkan kepalamu nak?" tanya ibu Lecca, Saga masih tetap menunduk bahkan ia memalingkan wajahnya. Ibu Lecca memegang wajah Saga dan membuat Saga mau tak mau menatap wajahnya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah nak " kata Ibu Lecca sambil memegang pipi Saga dengan lembut, kemudian Ibu Lecca memeluknya.
Saga hanya bisa terdiam dalam pelukan wanita ini. Kenapa dia bersikap ramah untuk aku yang pengecut ini? Pikir Saga.
"Akan lebih melegakan jika dia menamparku atau menonjokku seperti apa yang dilakukan Seth padaku, tetapi dia tersenyum dan berterimakasih padaku, menepiskan semua rasa bersalahku pada Lecca" batin Saga.
"Aku paham, pasti sangat sulit untukmu membuang sesuatu yang tidak bisa kau buang, Lecca pasti paham itu, jadi jangan merasa bersalah dan pasti butuh keberanian besar melakukan hal yang kau lakukan sekarang...tapi syukurlah nak, kau sudah ada disini" kata Ibu Lecca dalam pelukan Saga, dia membelai punggung Saga lembut, menghilangkan kecemasan lelaki bermata hijau itu. Seperti seorang ibu yang memaafkan kesalahan anaknya.
"Te..terima kasih" ucap Saga lirih, Ibu Lecca melepas pelukannya dan tersenyum pada Saga.
"Ap..apa aku bisa bertemu dengan Lecca? Dimana dia sekarang?" tanya Saga
Ibu Lecca memegang tangan Saga "Kemarilah nak" katanya menuntun Saga ke suatu tempat, Ibu Lecca membawa Saga ke halaman belakang rumah besar itu, halaman belakang rumah itu sangat luas, banyak bunga sakura yang sedang mengugurkan bunganya tumbuh di halaman belakang itu, dari halaman itu Kau bisa melihat bukit-bukit yang tertutup rumput hijau seperti kain beludru yang halus.
Di salah satu pohon sakura, ada sebuah ayunan besar terbuat dari rotan.
Ibu Lecca menarik tangan Saga dan menghampiri ayunan besar itu, Lecca terduduk di sana, kepalanya terkulai kesamping sambil memegangi sebuah buku sketsa di tangan kirinya dan pensil di tangan kanannya Ia terlihat sangat damai.
"Lagi-lagi dia tertidur disini" ucap Ibu Lecca mengambil pensil dan buku yang di genggamnya, Lecca bergeming sepertinya tidurnya nyenyak sekali.
Ibu Lecca memandang Saga dan memegang bahu Saga lembut
"Kutinggalkan kau bersamanya disini nak" katanya sambil tersenyum pada Saga, Saga mengangguk dan tersenyum, lalu Ibu Lecca pergi meninggalkan Saga dan Lecca.
Saga pun duduk di sebelah Lecca di ayunan besar itu, ia memperhatikan wajah Lecca, wajahnya sedikit lebih tirus daripada terakhir ia melihat Lecca, saat gadis ini meninggalkan Sanctuary, ia membelai lembut pipi Lecca, dan menggengam tangan Lecca, tangan kecil yang begitu rapuh dan lembut, Saga mengangkat tangan Lecca dan meletakkannya di pipinya, menciumnya, dadanya tersa sesak sekali, rasa bersalah makin memenuhi hatinya seperti racun yang menjalar dengan cepatnya, ia tak bisa menahan airmatanya, tak bisa menahan rasa sedihnya.
"Lecca maaf..." ucap Saga lirih
"Aku memang pengecut tak pantas meminta cintamu, tapi sungguh Aku..sungguh mencintaimu" Ia menggenggam erat tangan Lecca, bahunya berguncang pelan.
