Chapter 23 : Hades
"Wangi ini..." batin Lecca.
Lecca membuka matanya, wangi zaitun hangat yang selalu menyelimuti Saga membuatnya terbangun, dia memandang ke sekeliling tempat itu, sejauh mata memandang hanya ada banyak pohon sakura yang berbunga, bunganya berguguran seperti salju..tidak ini bukan halaman belakang rumahnya ataupun taman bunga milik Saga di istana Gemini, langit begitu biru seperti warna rambut Saga, Lecca memandang sedih langit itu ia berpikir apakah ia bisa bertemu dengan Saga, sepertinya waktunya tidak akan lama kagi di dunia ini. Lecca menadahkan tangannya, sebuah kelopak sakura mendarat di tangannya.
"Ah, kau sudah bangun?" kata seseorang, Lecca menoleh dan menemukan seorang laki-laki duduk di kursi rotan besar beralaskan bantal duduk yang kelihatannya empuk, disebelahnya ada meja lengkap dengan secangkir teh yang masih mengepul.
Lelaki itu langsung menutup buku tebal bersampul kulit berwarna hitam yang sedang dibacanya dan bangkit dari duduknya, menghampiri Lecca. Dia menengadahkan tangannya menangkap kelopak-kelopak sakura yang berguguran.
"Indah bukan? Bunga itu walaupun sudah gugur jatuh ke tanah, masih memiliki keindahannya, bahkan setiap manusia menantikan saat bunga itu berguguran...mereka bahkan tidak tahu kalau itu adalah kematian" ucapnya
"Siapa kau?" tanya Lecca, menatap lelaki yang berdiri di sampingnya, tubuhnya dibalut setelan jas berwarna hitam pekat, rambut hitamnya tergerai sedikit melewati telinganya. Meski wajahnya tak terlihat menakutkan bahkan bisa dibilang tampan, aura yang dipancarkannya terasa sedikit mengintimidasi, kelam dan suram.
"Aku..Hades" jawab pria itu
Mata Lecca melebar "Hades, dewa orang mati, dalam mitologi dewa-dewi Yunani itu?" tanya Lecca
"Ya" balas Hades
"Jadi, kaukah yang akan menjemputku?" tanya Lecca tenang, tapi berwajah sedih.
"Tidak" jawab Hades singkat
"Jadi kenapa kau datang kemari? Apakah waktuku sudah habis?" tanya Lecca lagi
Hades melirik Lecca, menyunggingkan bibirnya
"Kau tidak takut?" tanya Hades
"Apa kau ingin aku takut?" Lecca balik bertanya
"Kematian buat seorang manusia adalah hal yang sangat menakutkan, sepanjang pengetahuanku"
"Bagiku kematian tidaklah menakutkan, bukankah itu hanya bagian dari siklus besar dunia ini, ada yang mati maka akan ada yang lahir, yang hidup pasti akan mati, itu sudah hukum yang ada di dunia ini" kata Lecca dan mengembangkan senyumnya. "Jika kau mempersiapkan segalanya, kematian bagimu hanyalah bagian dari perjalanan menuju hidup yang kekal" tambah Lecca
Hades menaikkan sebelah alisnya tidak menjawab perkataan Lecca, baru kali ini ia menemui manusia yang bahkan tidak gentar menghadapi kematiannya, bahkan dia masih bisa tersenyum, orang-orang besar, sekalipun pasti gentar dengan yang namanya kematian.
"Jadi kau siap meninggalkannya?" kata Hades
Lecca terdiam, tertunduk, dia tahu siapa yang dimaksud oleh Hades. Ya, orang itu adalah Saga.
"Tidak, aku tidak siap" kata Lecca
"Jadi kau ingin hidup?"
"Ya, untuk dia….Ya aku ingin hidup"
"Aku bisa berikan dirimu dua tawaran Lecca. Hidup abadi atau mati terhormat sesuai dengan batas waktu yang sudah ditentukan"
"Hidup abadi?"
"Ya, tetapi dengan syarat"
"Syarat?"
"Jiwamu akan menjadi milikku"
Lecca menatap Hades lama, tawarannya begitu menggoda "Aku bisa hidup selamanya bersama Saga? Selama yang aku mau? " kata Lecca
"Betul tetapi tanpa jiwa"
"Itu artinya, aku akan kehilangan semua rasa manusia? Takut, marah, sedih, gembira bahkan rasa cinta pada Saga?"
Mengiyakan perkataan Lecca, Hades tersenyum dan mengangguk.
Lecca tertawa pelan, tawaran Hades memang bisa membuatnya hidup, tetapi Hades akan membuatnya seperti manyat hidup, hanya tubuh dan roh saja tanpa secuil jiwa untuk merasa seperti manusia.
"Kenapa kau menawarkan ini padaku, Hades?" tanya Lecca
"Karena aku menyukaimu…Lecca" jawab Hades enteng
"Kau bercanda?"
"Aku serius!"
"Maaf tapi kau bukan tipeku"
"Aw! Telingaku sakit mendengarnya. Jadi kau menolak tawaranku?"
"Lebih baik aku mati terhormat sampai waktuku tiba daripada aku harus menjadi mayat hidup. Jadi, ya, aku menolaknya. Waktu yang tinggal sedikit itu akan lebih berharaga daripada waktu yang kau tawarkan"
Hades tersenyum "Itulah sebabnya aku menyukaimu Lecca, selain itu-" Hades menghentikan bicaranya.
"Selain itu?" Lecca menyipitkan matanya, Hades berhenti bicara disaat yang tidak tepat, sepertinya Dewa Orang Mati ini enggan mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Tidak, bukan apa-apa." Kilah Hades. Dia menatap gadis bermata kelabu itu. Rumor tentang Lecca sudah santer terdengar di Purgatory Hall, jika memang rumor itu benar pasti akan menarik sekali, Hades menyunggingkan bibirnya.
"Jadi, berapa lama lagi waktuku tersisa, Hades?" tanya Lecca.
"R.A.H.A.S.I.A." jawab Hades
Lecca memandang Hades tak percaya "Kau tak mau memberitahuku?"
"Ya," kata Hades "Dengar Lecca, kematian itu selalu datang tiba-tiba. Tanpa peringatan, tanpa permisi. Tidak ada manusia yang mengetahui kapan 'dia' akan datang, dimana, dan bagaimana. Kematian adalah rahasia yang tidak bisa manusia bocorkan, bahkan seperti kau yang sedang dibayangi oleh kematian, kau tak akan pernah tahu kapan dia akan benar-benar menjemputmu"
"Aku hanya ingin tahu!" tukas Lecca "be..berapa lama lagi aku bisa bersamanya!" Lecca mengerjapkan matanya mencoba mengenyahkan air yang menumpuk di pelupuknya.
Hades meraih tangan Lecca, menyodorkan tangan itu kedepan wajah Lecca, membuat gadis itu terbelalak melihatnya. Lecca melihat tangannya sudah mulai transparan dia bisa melihat wajah Hades menembus telapak tangannya.
Lecca tertunduk tak perlu bertanya lagi pada dewa yang satu ini dia sudah memahami kenapa Hades menunjukkan hal ini padanya. Hades mengangkat wajah Lecca, pipinya basah, kali ini dia gagal menahannya. Dengan tangannya yang kurus Hades menyeka pipi Lecca lembut dan tersenyum.
"Kau sudah membuat keputusan, karena itu sampai waktunya tiba Lecca, buatlah kenangan indah bersamanya" kata Hades
"Apakah ini surga?" tanya Lecca, memandang ke sekeliling.
"Sayang sekali ini bukan surga ataupun neraka" jawab Hades
"Lalu?"
"Ini hanya dalam mimpimu...Lecca" kata Hades ia memegang lembut pipi Lecca, lalu mencium keningnya.
