Chapter 24 : Surprise
Saga masih duduk di sebelah Lecca, gadis itu tidak membuka matanya sepertinya sesuatu menganggu tidurnya, sebab walaupun matanya terpejam butir-butir airmata menggelinding di pipinya, Saga pun menyeka airmata itu dengan tangannya. Lecca pun perlahan membuka matanya, pandangannya buram karena airmatanya, ia merasa ada tangan hangat yang menyeka pipinya, dan seseorang memegang tangannya, dia mengerjap-ngerjapkan matanya, pandangannya mulai terang, wajah seseorang terlihat di depannya, wajah seseorang yang sangat ia cintai, wajah seseorang yang sangat ingin ia temui di ujung waktunya. Matanya melebar tak percaya, Lecca menegakkan tubuhnya dan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh Saga yang begitu nyata di depannya, ia bisa menyentuhnya...ia bisa menyentuhnya!
"Ya..ini aku..Lecca" ucap Saga
"Ak..aku tidak bermimpi kan?' kata Lecca terbata-bata
"Tidak, kau tidak bermimpi Lecca, aku ada disini..." balas Saga memegang tangan Lecca, mata Lecca mulai berkaca-kaca, ia langsung memeluk Saga erat bahkan sangat erat, tangis Leccapun pecah seketika, Lecca begitu bahagia sampai ia tak bisa mengatakannya, selain dengan tangisannya. Hati Saga mencelus mendengar isakan Lecca, rasa bersalah di dalam hatinya semakin membesar.
"A, aku pikir aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi" kata Lecca disela tangisnya
"Ma...Maafkan-"
"Tidak, jangan minta maaf" potong Lecca dalam pelukan Saga.
Bahu Saga lebar dan hangat, pelukan yang luas dan terlindungi, wangi yang menyelimutinya semua sangat Lecca rindukan. Lecca melepas pelukannya. Menatap Saga seakan mengatakan bagaimana dengan Sanctuary?
Saga tersenyum, "jangan khawatir tentang Sanctuary" ucapnya, membuat Lecca mengerutkan keningnya.
"Tapi….tapi kau akan kesulitan jika kau meninggalkan tempat itu bukan?" Lecca terlihat susah.
"Aku tidak peduli Lecca," kata Saga, menyeka pipi Lecca yang basah dengan tangannya, "aku tak peduli dengan sanctuary atau yang lainnya selain kau, Lecca"
Lecca tertunduk mendengar perkataan Saga, airmatanya kembali membasahi pipinya, perasaannya campur aduk sampai dia tidak lagi bisa berkata-kata, bahkan membalas perkataan Saga, tapi, meski Saga berkata demikian Lecca tahu kesetiaannya pada Athena tidak akan hilang begitu saja hanya untuk dirinya, meski Saga ada disisinya sekarang dan membuat keputusan yang cukup ekstrim untuk dirinya, tetapi gadis bermata kelabu ini tahu, untuk siapa Saga mati dan untuk siapa Saga hidup. Tapi Lecca sangat bahagia dengan adanya Saga disini.
Saga mengangkat wajah Lecca kembali menyeka pipi Lecca lembut, mereka berdua saling pandang dalam diam lalu keduanya tersenyum, mereka tak perlu banyak kata-kata untuk mengungkapkan isi hati mereka.
Mata Lecca menangkap lebam keunguan yang ada di pipi Saga, saat Lecca menyentuh lebam itu Saga berjengit.
"Pipimu?" tanya Lecca
"Terjatuh" jawab Saga berbohong
Lecca menyipitkan matanya, "kau berbohong" kata Lecca "Saga kau tak pandai berkilah dan berbohong" sekali lagi tangan Lecca menyentuh lebam itu lagi, kali ini Lecca agak menekannya. "Aduh!" kata Saga, lebam yang didapat dari Seth itu masih terasa berdenyut sampai sekarang.
"Katakan padaku atau kupencet luka itu sekali lagi" ancam Lecca, Saga tertawa renyah mendengar ucapan Lecca itu, dia mengehela nafas.
"Seth" jawab Saga pada akhirnya
"Seth?" ulang Lecca tak percaya.
"Dia datang ke Sanctuary dan….." Saga menunjuk lebam yang ada di wajahnya.
Lecca membekapkan tangannya ke mulutnya, wajahnya terlihat takjub.
"Tapi..." Saga mencondongkan tubuhnya, mendekati Lecca. Ini tidak bagus bagi jantung Lecca, wajah Saga begitu dekat, membuat jantung Lecca berdebar keras, sepertinya sebentar lagi jantung itu bahkan melompat dari tempatnya."Aku berterima kasih pada Seth untuk semua yang dia lakukan padaku"
Lecca tersenyum lebar, "bagaimana kalau aku pencet sekali lagi untuk memastikan kau tidak mengigau datang kesini Saga" kata Lecca.
"Jangan lakukan itu, kau tidak tahu dia menonjokku dengan sekuat tenaga, beruntung gigiku tidak tanggal dibuatnya" balas Saga, lalu mereka terdiam sejenak lalu tertawa.
Tak jauh dari tempat Lecca dan Saga. Di beranda belakang rumah besar itu Milo, Aiolia Seth dan Ibu Lecca tersenyum melihat adegan demi adegan antara Saga dan Lecca, meski mereka tidak tahu isi pembicaraan dua sejoli itu, tetapi pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan.
Seth bersandar di salah satu pintu masuk, matanya melekat pada Saga dan Lecca, dia menyungingkan senyumnya, ada rona lega menghiasi wajahnya, seakan dia sudah menyelesaikan misinya dengan baik.
Tidak berbeda dengan Seth, Ibu Lecca tersenyum, sembari menutul pipinya dengan tissue dia tak bisa menahan airmata bahagia untuk putrinya yang bisa bertemu dengan seseorang yang sangat dicintainya. Pandangan ibu Lecca jatuh pada dua orang pemuda yang berdiri di depan Seth. Pemuda yang berambut cokelat ikal bertemu pandang dengannya dan tersenyum ramah, membungkukkan badannya sedikit padanya, ibu Leccapun berjalan mendekati Seth yang masih asyik melekatkan pandangannya pada Saga dan Lecca.
"Seth siapa mereka?' tanya Ibu Lecca
"Mereka?" tanya Seth tak mengerti.
"Yah, dari tadi memang kita sepertinya tak pernah ada" celetuk Milo yang berdiri di sebelah Seth, membuat Seth terlonjak kaget.
"Tak usah kaget begitu, kami memang sudah biasa di perlakukan seperti batu kerikil" kata Milo pedas, melirik Seth judes
Seth tersenyum canggung, lalu menepuk punggung Milo keras "Maaf..maaf.." ucapnya sambil tertawa.
"Nyonya Sasha, mereka ini sahabat Saga" Seth memperkenalkan " Yang ini namanya Milo" kata Seth sambil menepuk bahu Milo "Dan yang ini namanya Aiolia" Seth memegang bahu Aiolia juga. Ibu Lecca tersenyum pada Aiolia dan Milo, langsung saja wajah Milo memerah, seperti tersipu, ia langsung menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya.
"Kenapa kalian tidak menghampiri mereka?" tanya Ibu Lecca
"Pengennya sih kesana" ucap Milo, Aiolia langsung menyikut rusuknya, membuat Milo langsung mendelik pada Aiolia.
"Kami rasa Lecca lebih membutuhkan Saga daripada kami" ucap Aiolia
Milo mengerucutkan bibirnya, padahal dia ingin sekali bertemu dengan Lecca, tetapi kalau Aiolia sudah berkata demikian tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti meskipun dia tidak ingin.
"Kalau begitu sebaiknya kita masuk, Rui sudah menyiapkan teh untuk kita" ajak Ibu Lecca sambil memegang bahu Milo dan Aiolia. Mereka berdua saling berpandangan.
"Terima kasih Nyonya Sasha sebaiknya kami tunggu disini saja" kata Aiolia sopan, ibu Lecca melipat tangannya memandang Aiolia dan Milo bergantian, lalu ia tersenyum seakan mengerti keinginan mereka.
"Baiklah, aku mengerti. Kalian memang sahabat yang baik" kata Ibu Lecca, lalu bersama Seth dia meninggalkan Aiolia dan Milo.
Sepeninggal Ibu Lecca dan Seth, Milo mengenyakkan dirinya ke kursi empuk yang ada di beranda yang lumayan luas itu, matanya masih terpancang pada Saga dan Lecca wajahnya mengatakan: Aku mau kesana!.
"Aku paham apa yang kau inginkan Milo." Kata Aiolia yang duduk disebelah Milo, Milo melirik Aiolia dan menghela nafas panjang.
"Aku juga paham maksudmu, Aiolia." Kata Milo, ia menyandarkan badannya ke punggung kursi yang berlapis bantalan empuk, menegadahkan kepalanya memandangi langit yang cerah tanpa setitik awan. Semnilir angin musim semi membuatnya nyaman dan sedikit mengantuk, Milopun memejamkan matanya.
Kembali pada Lecca dan Saga.
"Aku punya kejutan untukmu Lecca" kata Saga
"Kejutan?" mata Lecca berbinar senang, Saga meraih tangan Lecca dan membuat tangan gadis itu menutupi kedua matanya.
"Jangan kau turunkan sampai aku memberitahumu, aku akan segera kembali, jangan mengintip!"
Lecca tersenyum, "baiklah!" katanya. Lalu Saga pergi meninggalkan Lecca menuju rumah, untuk mengambil kejutan untuk Lecca. Sesampainya di beranda, Saga tidak menemukan Seth dan ibu Lecca, yang dia temui hanya Aiolia dan Milo. Mereka berdua tertidur di kursi beranda, duduk bersebelahan, tangan Aiolia terlipat di dadanya, kepalanya tertunduk, kedua kakinya selonjor menjaga posisinya tetap stabil. Sedangkan kepala Milo, bertengger di bahu Aiolia, mereka berdua terlihat cukup pulas.
Saga tertawa geli melihat pemandangan ini, dua orang ini Gold Saint yang disegani di Sanctuary, meski agak kelakuan mereka agak konyol menurut Saga, tetapi tetap saja pemandangan ini jarang ia lihat kalau masih berada di Sanctuary. Mereka terlihat seperti adik-adik yang lelah dan tertidur selagi menunggu kakak mereka kembali.
Sagapun mendekati mereka dan mengguncangkan bahu mereka. Milo dan Aiolia, terlonjak langsung membuka matanya, terlihat ling lung. Akibat kagetnya Aiolia, Milopu ikut terbangun, ia mengucek-ngucek matanya, lalu menguap lebar.
"Maaf, membangunkan kalian" kata Saga masih tertawa geli melihat Aiolia dan Milo.
"Kenapa kau kesini? Apa kau sudah selesai dengan Lecca?" tanya Aiolia
Milo bangkit dari duduknya, merentangkan tangannya keatas, meluruskan badannya sampai berbunyi. KREK!
"Ikutlah denganku, kalian ingin bertemu dengannya bukan?" kata Saga
Milo dan Aiolia membelalakan matanya tak percaya, "eh? Bolehkan begini Saga?" kata Milo ragu.
Saga menepuk bahu Milo, "bukankah untuk itu kalian datang kemari, untuk bertemu dengannya" katanya. Tanpa banyak bicara, Milo dan Aiolia mengikuti Saga.
"Saga... sampai kapan kau menyuruhku menutup mata? Kejutan apa sih yang mau kau tunjukkan" kata Lecca penasaran, Saga memintanya menutup matanya sampai ia kembali, dan tidak boleh mengintip.
"Ah, Aku tahu….pasti…..agak muluk sih apa kau mengajak dua pembuat onar itu" tebak Lecca
"Siapa yang pembuat onar, kami punya nama tahu!" tukas seseorang dari belakang Lecca duduk, Lecca menurunkan tangannya, membuka matanya dan menoleh kearah suara itu berasal, matanya melebar begitu melihat siapa yang berdiri di belakangnya, ia langsung bangkit dari duduknya. Menghambur, menghampiri mereka...Aiolia dan Milo.
"Miloooo!" seru Lecca ia langsung menubruk Milo memeluknya erat "Syukurlah…..aku bisa bertemu denganmu lagi Milo" ucapnya, Lecca melepaskan pelukannya dan memandang Milo, tersenyum, seakan tak percaya ia memeluk Milo sekali lagi, ia begitu gembira sekali.
"Lecca kalau kau seperti itu bisa ada yang cemburu nanti" ucap Aiolia, yang berdiri di samping Saga.
Sama seperti yang Lecca lakukan pada Milo ia lakukan juga pada Aiolia, ia memeluk Aiolia seperti adik perempuan yang sudah lama tidak bertemu dengan kakak laki-lakinya.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Aiolia
"Aku tak pernah merasa sebaik ini Aiolia" balas Lecca dalam pelukan Aiolia, Aiolia melepas pelukannya, dan mencium lembut kening Lecca.
Milo pun berdeham melihat kemesraan Aiolia dan Lecca, Aiolia melihat kearah Milo dan tersenyum nakal.
"Ah, Lecca Kau tahu kejadian terlucu waktu kita datang kemari..waktu di pesawat...ummmph!" Milo langsung membekap mulut Aiolia sebelum dia menceritakan kejadian memalukan waktu lepas landas itu
"Di pesawat?" tanya Lecca
Aiolia mencoba melepaskan bekapan Milo
" Ya di pesawat, waktu lepas landas anak ini.."
"Hentikaaaan!" seru Milo "Memangnya kenapa kalau aku begitu, kau sendiri! kau tahu Lecca, dia bahkan tak bisa memasang sabuk pengamannya malah mengikatnya menjadi simpul, pramugari yang menolongnya sampai menahan tawanya" cerocos Milo
Aiolia terdiam, memang ia melakukan itu karena buat dia naik pesawat umum seperti itu baru pertama kalinya biasanya untuk pergi kemana-mana di luar Sanctuary dia hanya melakukannya dengan teleport, wajah Aiolia memerah, niatnya mempermalukan Milo malah berbalik malah mempermalukan dirinya sendiri, dia sampai lupa kejadian sabuk pengaman itu..
"Kau ini ngajak berantem ya?" geram Aiolia
"Memangnya kenapa, kalau iya" balas Milo, sambil menjulurkan lidahnya
"Kalau begitu bersiaplah" Aiolia langsung mengejar Milo, yang melarikan diri, hal itu membuat Lecca tertawa sampai keluar air mata, Saga menghampiri Lecca.
"Mereka sama sekali tidak berubah ya" kata Lecca mengusap matanya yang basah, lalu ia tertawa lagi "Sebaiknya kau pisahkan mereka, sebelum mereka babak belur" kata Lecca pada Saga.
Saga tersenyum dan menghampiri Aiolia dan Milo, entah apa yang dikatakan Saga pada mereka berdua, Saga malah kena jitak Milo dan Aiolia, Lecca tertawa lagi, Saga mengelus-elus kepalanya.
"Seth, kenapa kau tidak ikut bergabung?" tanya Ibu Lecca menyodorkan secangkir teh pada Seth.
"Tidak pernlu Nyonya, sepanjang Aku mengenal Lecca Aku tak pernah melihat senyum dan tawanya seindah itu " ucap Seth sambil menyesap tehnya. "Juga orang itu.." tambah Seth
"Orang itu?" tanya ibu Lecca
"Saga...mungkin hanya Lecca yang bisa membuatnya seperti itu" jawab Seth.
