Chapter 25 : Promise
Kalau kalian menyangka sejak kedatangan Saga, Seth, Milo dan Aiolia, suasana rumah Lecca menjadi canggung? Sebaiknya kalian singkirkan hal itu, sebaliknya suasana rumah yang terbilang besar dan luas itu malah semakin ramai, rasanya setiap hari ada saja 'keributan' yang terjadi di rumah Lecca, mulai dari Milo bersama Aiolia memainkan game Hades Palace yang dengan suksesnya, Aiolia selalu mati karena dimakan zombie atau karena Aiolia selalu terlonjak jika tiba-tiba zombie atau monster-monster muncul di depannya atau mungkin karena Aiolia tidak cakap memainkan jarinya.
"Ganti permainannya, gak seru main ini!" protes Aiolia
"Bilang saja kau takut" ejek Milo
"Siapa bilang aku takut!" Aiolia memainkan game itu lagi dan diakhiri 'aaahhhh'-nya Aiolia karena cyclops menginjaknya sampai penyet dan gelak tawa Milo.
Sampai acara debat serunya Saga dan Seth tentang terjemahan bahasa Yunani kuno pada manuskrip kecil yang ditemukan Seth beberapa waktu lalu bersama dengan manuskrip tentang wilayah atas di reruntuhan kuil Athena. Manuskrip kecil itu tertulis dalam bahasa Yunani Kuno sama seperti manuskrip besar tetapi ada beberapa huruf yang tak dimengerti Seth, karenanya dia meminta bantuan Saga untuk menerjemahkannya. Saga dengan senang hati membantu Seth, tapi begitu melihat manuskrip itu Saga malah tertawa seakan mengingat sesuatu yang konyol dan berkata manuskrip itu tidak ada dengan manuskrip besar, tetapi Seth penasaran dan ngotot meminta Saga menerjemahkannya.
"Sudah kubilang isinya tak penting Seth, percuma kau menerjemahkannya bikin capek saja"
"Kau mau menyembunyikan tentang Sanctuary lagi sementara aku tahu kalau kalian nyata? Yang benar saja"
"Baiklah kalau kau memaksa" Saga mengambil secarik manuskrip, "bahan-bahan yang harus disiapkan, cabe merah, tomat, terasi sesuai selera, terasi adalah suatu penyedap rasa terbuat dari udang yang diolah sedemikian rupa sehingga mempunyai rasa dan bau yang khas yang berasal dari Asia….." Saga terdiam sejenak mengerenyitkan hidungnya seakan ada bau tak disukainya "bakar terasi sebelum dihaluskan bersama bahan yang lain supaya rasa khasnya lebih kuat." Kali ini Saga membuat gerakan muntah-muntah "maaf Seth…bau terasi terbakar itu buatku adalah mimpi buruk, tapi entah kenapa Deathmask sangat menyukainya" katanya
"Kau bercanda kan? Kenapa isinya seperti resep makanan" balas Seth
"Memang itulah yang ada dikertas-kertas itu, semuanya hanya resep masakan eksperimen pope Shion" Saga mengambil secarik lagi "ini resep nasi goreng Hongkong" meletakkan lagi dan mengambil beberapa yang lain, "semur jengkol, urap, tempe bacem, kelepon, kue cucur, kue rangi"
Seth ternganga, "cu…cukup Saga, hentikan sebelum aku pusing dengan nama-nama itu" katanya. Mereka sama-sama terdiam lalu tergelak.
"Tapi Seth….kue rangi itu enak lho" aku Saga, lalu Seth tertawa lagi.
Menggoda Milo juga menjadi agenda yang tak terlewatkan di dalam rumah Lecca setelah kedatangan mereka berempat.
"Kalau kau mau membangunkannya Lecca paling tidak kau harus punya seratus jurus, dia ini paling males bangun pagi." Kata Aiolia sambil tertawa, Milo memelototi Aiolia, kalau-kau-bicara-lagi-kutusuk-kau-dengan-scarlet-needle! Kurang lebih itu arti pelototan Milo pada Aiolia.
"Eh? Masa? Tapi dia bangun pagi sekali tadi." Kata Lecca
Aiolia berdeham, dia sebenarnya tahu kenapa Milo bisa bangun pagi selama dia berada dirumah Lecca, "yah, itukan….karena…BWAAAH!-" belum sempat Aiolia bicara bantal duduk mendarat di wajah Aiolia.
"Kukuliti kau kalau berani mengatakan hal itu!" ancam Milo. Aiolia terkikik melihat ekspresi Milo, Lecca memandang Milo mencoba untuk tidak tertawa, saat Aiolia menggodanya tetapi Lecca jadi penasaran apa sebenarnya yang membuat Milo yang katanya terkenal malas bangun pagi bisa bangun sepagi itu. Ya, Lecca menemukan Milo hampir setiap pagi duduk di meja makan bahkan saat Ryusei dan Rui mulai bekerja, itu artinya matahari sekalipun belum tinggi.
"Jangan-jangan kau lupa membawa sesuatu Milo?" Celetuk Seth yang duduk diseberang Lecca dan Saga, dia mengatakan itu tanpa melepas pandangan dari buku tebal yang sedang dibacanya.
"Lupa membawa sesuatu?" ulang Lecca
"Yah, misalnya seperti…." Seth terdiam sejenak melirik Milo yang pasang tampang aku-akan-memakanmu-dan-menggantungmu-di-coloseum
"Seperti?"
"Boneka jenglot" sambung Saga tanpa tedeng aling-aling.
Seth membenamkan wajahnya ke buku tebalnya, berusaha untuk tidak tertawa sedang Aiolia menutupi wajahnya ke bantal yang tadi dilempar Milo, berusaha untuk tidak ngakak
"Sagaaaa….ituuu bukan boneka jenglot!" kata Milo, membela diri, "apa kau tidak tahu itu Freddy Kruger!"
Aiolia berusaha lebih keras untuk tidak tertawa dia membungkuk, masih menutupi wajahnya dengan bantal, tangannya meremas-remas pinggiran sofa sepertinya dia sedang susah payah menahannya.
"Ah, bagiku itu terlihat seperti boneka jenglot" balas Saga, sama sekali tidak tertawa, "bisa-bisanya kau pulas tertidur dengan boneka seseram itu di tempat tidurmu"
Dari balik buku tebalnya Lecca yakin Seth sudah tertawa keras tetapi karena dia menahannya, suara yang keluar seperti saat kau memompa ban sepedamu PPPFF!...PPPFF!...PPPFF!
Acara makan bersama di meja makan panjang itu juga menjadi ramai dari biasanya, bahkan Saga mencoba mempraktekan masakan dari manuskrip pope Shion yang di temukan Seth, Saga mencoba membuat kelepon dan kue rangi.
Orang pertama yang datang setelah Seth, Saga, Milo dan Aiolia adalah Dokter Shou. Dokter muda yang tampan itu datang memkai kemeja hijau daun dan celana bahan hitam, rambutnya yang sedikit gondrong dibiarkan berantakan. Doter Shou memang datang untuk pemeriksaan rutin Lecca setelah gadis itu memutuskan untuk keluar dari rumah sakit.
"Aku tidak mau minum obat lagi!" tegas Lecca.
"Oh! Ayolah Lecca ini bukan obat ini hanya…."
"Vitamin?" kata Lecca, melipat tangannya dan memandang Dokter Shou dengan wajah cemberut.
Dokter Shou menghela nafas dan duduk disebelah Lecca "Aku sangat terkesima dengan perkembangan kesehatanmu Lecca, kau berhasil melewati komamu, serangan yang bertubi-tubi bahkan kau terlihat jauuuuh lebih sehat ketimbang waktu aku bertemu denganmu Lecca, tetapi paling tidak kau juga harus menjaga daya tahan tubuhmu dengan ob….maksudku vitamin ini" jelas Dokter Shou setengah memaksa Lecca.
"Baiklah" ucap Lecca singkat.
Senyum Dokter Shou merekah, dia mengambil buku notesnya "kurasa aku tahu apa obat mujarabmu Lecca" kata Dokter Shou sambil menulis resep di buku notesnya, Dokter Shou melirik Lecca yang wajahnya merona merah "wah, ternyata tebakanku benar! Pria yang kutemui tadi di ruang tamu, yang punya mata yang teduh dan rambut sebiru langit cerah itukah obat mujarabmu?" wajah Lecca makin merah, Dokter Shou tertawa "cukup jujur…cukup jujur" katanya.
"Cepat berikan resepnya Dokter" ujar Lecca mengalihkan pembicaraan.
Dokter Shou menyobek buku notesnya dan memberikannya pada Lecca. "Satu kali sehari. Pagi hari" pesannya "dan bagaimana kalau obat mujarabmu yang memberikannya" kontan wajah Lecca kembali memerah. Melihat itu Dokter Shou tertawa sambil menepuk lembut kepala Lecca.
Orang kedua yang datang adalah Profesor Nathan. Profesor nyentrik dosen di unversitas tempat Lecca menimba ilmu.
Pria yang usianya diawal 50 tahun, datang memakai kemeja bermotif kotak-kotak biru-ungu dengan celana jeans hitam, rambut hitamnya yang panjang dikuncir kuda, cuek namun tetap terlihat sopan. Sebelah tangannya membawa buket bunga mawar berwarna oranye dan sebelah tangannya lagi membawa kotak berisi cokelat.
"Profesor Nathan!" seru Ibu Lecca yang menyambut kedatangan Profesor Nathan sore itu dan terlihat senang dengan kedatangan pria itu.
"Nyonya, apa kabar." Dia melangkah maju, meraih tangan Nyonya rumah dan mencium tangan Nyonya rumah itu lembut, "dimana dia, aku ingin bertemu dengannya"
Nyonya Sasha melebarkan pintu dan memperisilakan Profesor Nathan masuk, membawanya keruang tengah, samar Profesor Nathan mendengar suara percakapan yang seru, ada gelak tawa di dalamnya.
"Lecca, coba tebak siapa yang datang" kata Ibu Lecca menghentikan percakapan Seth, Saga, Milo dan Aiolia bersama Lecca.
"Astaga Profesor Nathan!" seru Lecca.
Profesor Nathan memeluk Lecca, "bagaimana kabarmu Nak?" tanyanya.
"Tak pernah sebaik ini," Lecca melepaskan pelukannya, "angin apa yang membawamu kemari?"
"Kau…anakku" katanya tersenyum
Pandangan Profesor Nathan beralih pada Saga. Milo dan Aiolia serta Seth "Halo semuanya!" dia langsung menghampiri Saga dan memeluknya rasanya tulang rusuk Saga berbunyi KREK! Saat Profesor Nathan memeluknya. Usai memeluk Saga, dia melakukan hal yang sama pada Milo, Aiolia dan Seth.
"Tak kusangka aku bisa bertemu dengan kalian lagi disini"
"Ehm….yah, eh, kami memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi disini, kami butuh bantuan Lecca untuk beberapa literature untuk penelitian kami" Seth beralasan.
"Lho, bagaimana dengan penelitianmu tentang Sanctuary Seth?" tanya Profesor Nathan
"Penelitian itu sudah selesai….kuputuskan begitu" jawab Seth, melirik Milo, Aiolia dan Saga. "Jadi aku memutuskan untuk mencari tema penelitian yang baru" pungkas Seth.
Profesor Nathan mengangguk mengerti. Setelah sedikit basa-basi, beberapa menit kemudian Profesor Nathan terlibat pembicaraan dengan Saga dan Seth, mereka membicarakan tentang beberapa situs arkeologi dan mitos yang menyebar di seluruh dunia. Jika pembicaraan itu nyerempet mengenai Sanctuary Seth langsung mengalihkannya.
Aiolia dan Milo langsung menyingkir ke dapur, menurut mereka pembicaraan ini terlalu berat dan bukan pembicaraan yang menarik. Di meja makan, Lecca dan Ibunya bersama Milo dan Aiolia, memperhatikan mereka bertiga yang kelihatan kompak sekali memantul-matulkan pembicaraan dari topik satu ke topik yang lain, Lecca bertopang dagu melekatkan pandangannya pada Saga. Tersenyum sendiri.
"Hei kalian….apakah dia seperti itu sebelum perintah terakhir Athena turun?" tanya Lecca, tanpa melepaskan pandangannya pada Saga.
"Yap!" jawab Milo dan Aiolia bersamaan.
"Kau tidak tahu, kalau dia sudah memakai kacamatanya" jari Milo membentuk huruf O dan menempelkannya ke kedua matanya, "dia jauh lebih menyeramkan daripada Shaka dan Camus"
"Apalagi kalau sudah marah" Aiolia bergidik seakan membayangkan sesuatu yang mengerikan "kau bakal dikirim entah kemana dengan another dimension miliknya dan baru muncul berminggu-minggu setelahnya"
"Kami juga pernah kena jurus itu, untungnya kami hanya dikembalikan ke istana masing-masing" cerita Milo.
"Tapi efek sampingnya membuat kami tidak bisa pup selama seminggu…." Aiolia berhenti bicara dan memandang ibu Lecca, "maaf nyonya" tambahnya, Nyonya Sasha hanya tersenyum membalas Aiolia. Sedang Lecca tertawa.
Lecca memijat keningnya, kepalanya terasa pening, ia juga memijat lehernya yang terasa kaku. Dia harus menyingkir dari sini sebelum Aiolia, Milo atau Ibunya mencium sesuatu yang salah pada dirinya. Leccapun bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Aiolia
"Keluar sebentar" jawab Lecca, kini kepalanya terasa panas.
"Tapi ini sudah malam"
"Sebentar saja, kurasa aku butuh udara segar"
"Kutemani" tawar Aiolia
"Tidak perlu"
"Kupanggil Saga?" kata Milo
"Jangan ganggu mereka Milo" Lecca menepuk-nepuk bahu Milo.
Ibu Lecca juga ikut bangkit dari duduknya, dia menghilang dibalik lemari tempat menyimpan jaket dan mengambil cardigan abu-abu dan menyerahkan pada Lecca, "terimakasih bu" ucap Lecca dia memakainya dan keluar lewat pintu belakang.
Dari sudut matanya Saga melihat kursi yang di duduki Lecca kosong, tanpa berlama-lama Saga langsung meninggalkan Profesor Nathan dan Seth. Mendekati meja makan.
"Dia ada di tempat biasa, Saga" kata Ibu Lecca, sebelum sempat Saga menanyakan kemana Lecca pergi.
"Terima kasih Nyonya, saya permisi." Pamit Saga. Saga bergegas keluar menuju tempat yang dimaksud. Benar saja, Saga menemukan Lecca di ayunan rotan favoritnya, dia menyandarkan tubuhnya, ayunan itu berayun pelan, sambil menyenandungkan sebuah lagu mata Lecca tak lepas dari langit malam yang bertabur bintang berkerlip keperakkan berlatar warna ungu gelap. Saga tahu lagu itu belakangan ini, Lecca sering sekali bersenandung dengan lagu itu.
Saga berdeham. Lecca menghentikan senandungnya. Begitu tahu siapa yang datang senyum langsung merekah diwajahnya.
"Boleh aku duduk?" kata Saga
Lecca tertawa, sekan Saga baru saja mengatakan hal yang konyol, "tentu" kata Lecca menepukkan tangannya ke samping tempatnya duduk.
Tanpa berlama-lama Saga langsung mengenyakkan pantatnya di ayunan rotan itu.
"Kau lihat bintang yang itu Saga?" tanya Lecca menunjuk langit tepat diatas kepala mereka. "Dia terlihat sangat terang dan besar, apa kau tahu apa nama bintang terang itu?"
"Ah, dia.."
"Dia?"
"Langit dikuasai rasi bintang Taurus, bintang terang itu bernama Aldebaran, bintang paling terang dalam gugus rasi bintang Taurus" jelas Saga
"Apakah Gold Saint Taurus juga besar dan terang?"
"Ya, besar, cerewet sama yang namanya sopan santun, aku sampai merinding waktu dia menatar aku dan gold saint lainnya tentang table manner, Milo dan Aiolia selalu kena sentilan Great Hornnya kalau sudah masalah table manner, Aiolia dan Milo berpendapat makan dengan tangan lebih enak ketimbang pakai besi, dan itu membuat Aldebaran gemas, alhasil mereka sering kena sentilan itu"
"Memangnya seperti apa latihan table manner dari Aldebaran"
"Oh, kau tak akan mau mendengarnya" Saga begidik seakan mengingat kejadian yang sangat tak menyenangkan baginya.
Lecca tertawa geli mendengar cerita Saga, sedikit banyak Lecca jadi tahu keluwesan Saga soal sopan santun dan tata krama berasal dari siapa. Cerita dan obrolan itu berlanjut seperti air mengalir, Saga banyak bercerita tentang Santuary, mereka berbicara tentang peta langit, Saga menunjukkan pada Lecca nama bintang yang tersebar di planetarium alam itu. Diakhir obrolan mereka, mereka terdiam dan memandangi langit. Jemari mereka saling bertautan,
Saga menyandarkan tubuhnya, tangannya mengalungi tubuh Lecca dan menariknya mendekat, Lecca menyandarkan kepalanya ke dada Saga, dia bisa mendengar irama detak jantung Saga, tubuhnya yang wangi, membuat Lecca nyaman, ia memandang langit. Meski semua kelihatan baik-baik saja Lecca tahu semuanya tidak benar-benar baik. Lecca berpikir, berapa lama lagi ia bisa seperti ini dengan Saga disampingnya, berapa lama lagi waktu untuknya
"Saga" ucap Lecca
"Ya" balas Saga
"Kau tahu apa yang kusuka darimu?" Lecca menegakkan duduknya.
Saga menggelengkan kepalanya.
"Semuanya" kata Lecca, "terutama senyummu, kau punya senyum yang sangat indah dan aku ingin kau selalu seperti itu, meskipun aku sudah…." Belum Lecca menyelesaikan kalimatnya Saga memeluknya.
"Jangan berkata kau akan meninggalkanku, aku tidak akan membiarkan kau pergi lagi seperti yang kulakukan waktu kau meninggalkan dari Sanctuary, tetaplah bersamaku Lecca"
Lecca terdiam dalam pelukan Saga, rasanya begitu menyedihkan, Lecca tak bisa lagi menyangkal bahwa fakta kalau penyakitnya makin hari makin membuatnya lemah, ia tidak tahu kapan Hades bakal datang dan mejemputnya, Lecca jadi ingat ucapan Hades dalam mimpinya. "Kematian datang tiba-tiba tanpa peringatan".
Saga melepaskan pelukannya.
"Berjanjilah padaku Lecca, berjanjilah kau akan tetap bersamaku"
Lecca tersenyum, "aku tidak akan pernah meninggalkanmu Saga, selama kau selalu mengingatku disini" Lecca meletakkan tangannya di dada Saga, "meskipun tubuh ini menghilang, aku akan selalu bersamamu Saga"
Saga memandang Lecca lekat-lekat, ia ingin selalu seperti ini bersama Lecca, dia ingin tertawa dan menangis bersamanya, menua bersama, tapi di sudut hatinya yang ingin ia buang jauh-jauh Saga merasa, waktunya dengan Lecca tak seperti yang ia inginkan. Saga teringat lagu yang sering disenandungkan Lecca belakangan ini, meski Lecca sangat pelan menyenandungkannya tapi Saga bisa mendengar penggalan syair lagu itu:
Eternity really doesn't exist.
I wonder when I first realized that.
But I'm prouder than anyone else that
the days we spent together weren't lies.
I've lived up to now. Although the length of time is a little different.
Just having met you, just having loved you,
just having shared our thoughts...I won't forget you.
Meski terdengar sedih tetapi terselip kebahagiaan di dalamnya, sesuatu yang berharga yang tak tergantikan, kenangan bersama orang yang dicintainya bukan mimpi tapi sesuatu yang sangat nyata.
Jari panjang Saga menelusur rambut Lecca membelainya lembut, lalu ia mencium gadis itu.
