Chapter 26 : Sakura…..Falling
Saga mengetuk pintu kamar Lecca pagi itu. Seperti yang dilakukannya setiap pagi sejak kedatangan Dokter Shou. Dokter berhidung bangir itu meminta Saga menjadi petugas minum vitamin untuk Lecca setiap pagi supaya daya tahan tubuhnya terjaga. Demi kesehatan Lecca, Saga menyanggupinya.
"Rasanya seperti meminta seorang pemuda untuk segera menikahi putriku saja." Kata Dokter Shou waktu meminta Saga menjadi petugas minum vitamin untuk Lecca. Perkataan Dokter Shou membuat baik Saga dan Lecca memerah.
Acara sarapan pagi itu juga sedikit aneh buat Aiolia dan Milo, pasalnya Lecca dan Saga terlihat sangat kikuk, saat bertemu pandang mereka jadi salah tingkah dan wajah mereka sama merah seperti udang rebus. Milo melirik Aiolia menuntut sebuah jawaban, tapi Aiolia hanya mengangkat bahu. Sementara, sepertinya Ibu Lecca tahu apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, wanita setengah baya itu terus-terusan tersenyum saat Saga dan Lecca terlihat kikuk dan salah tingkah. Sedang Seth, memasang pandangan mengancam pada Saga, seperti kakak lelaki yang overprotektif pada adik perempuannya.
Lecca membukakan pintu kamarnya. Mempersilakan Saga masuk dan meletakkan vitamin dan segelas air di meja di samping tempat tidur Lecca, mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dan meletakkan di telapak tangan Lecca. Lecca menatap pil itu dengan wajah enggan.
"Ayo diminum, kau harus ingat pesan Dokter Shou" Saga mengingatkan.
Lecca melirik Saga lalu tersenyum, melihat ekspresi Saga, yang terkesan sedikit memaksa dengan kedua tangannya bertolak pinggang.
Sambil senyum-senyum sendiri Lecca menelan pil merah itu
"Buka mulutmu" perintah Saga
"Astaga!" ujar Lecca tak percaya, Saga selalu meminta Lecca melakukan hal itu setelah ia meminum vitamin itu, Leccapun membuka mulutnya, Saga membungkukkan tubuhnya dan memicingkan matanya memeriksa kedalam mulut Lecca. Dia tersenyum usai memastikan kalau Lecca benar-benar menelan vitaminnya.
"Kenapa kau selalu melakukan itu?" tanya Lecca penasaran
"Adikku sangat benci minum obat sewaktu dia kecil, dia selalu menyembunyikan obat dibawah lidahnya dan saat punya kesempatan dia membuang obat itu, aku memergokinya dan sejak itu sudah menjadi kebiasaan bagiku memastikan kalau obatnya benar-benar dia telan. Wajahmu barusan sama seperti wajahnya jika dia disuruh minum obat" cerita Saga sambil tertawa.
"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Lecca. Senyum Saga lenyap, wajahnya tersirat kerinduan terhadap adik yang diceritakannya tadi.
"Apakah kau kangen padanya Saga?"
"Terkadang, tetapi dia sudah membuat keputusannya sendiri, aku menghargainya….sudahlah tak perlu membicarakannya" Saga terlihat enggan melanjutkan cerita tentang adiknya itu, tetapi Lecca tahu Saga sangat menyayangi adiknya itu.
"Sebaiknya jika kau bertemu dengannya kau katakan saja apa yang kau rasakan Saga." Kata Lecca.
Saga tak menjawabnya, dia hanya membelai lembut kepala Lecca mengembangkan senyumnya yang biasa.
Pandangan Lecca berpindah keluar jendela, dia bangkit dari duduknya mendekati beranda kamarnya yang tembus ke area perbukitan yang dihiasi oleh pohon sakura yang bermekaran dan mengugurkan bunganya. Warna putih dan pink lembut bercampur menjadi satu, turun seperti salju. Lecca membuka pintu geser beranda kamarnya lebar-lebar, wangi angin musim semi yang hangat langsung menerpa lembut wajah Lecca, dia memejamkan matanya menikmati belaian angin itu. Lecca membuka matanya, pandangannya menerawang langit biru diatasnya, ia membalikkan badannya menghampiri Saga, meraih tangannya, "ikut aku" katanya, Lecca menarik Saga berlari keluar menuju padang rumput yang terhampar bak permadani hijau itu bertelanjang kaki.
"Lecca sebenarnya kita mau kemana!?" seru Saga mengatasi angin yang mengelepak di telinganya, rambut biru langitnya berkibar.
"Ikut saja!" balas Lecca tangannya erat sekali menggenggam tangan Saga, dia tak menghentikan langkahnya, mereka berlari kecil membelah hamparan padang rumput, Lecca terlihat begitu gembira, mereka menaiki bukit dan Saga terpesona melihat pemandangan yang ada di depannya.
Di depannya terhampar danau berwarna hijau kebiruan, tepi danau itu dikelilingi oleh pohon sakura. Saga berdiri di samping Lecca tangan mereka masih bertautan, Saga tak menyangka dibalik bukit ini ada tempat seindah ini. Lecca melepasakan pegangannya dan berlari menuruni bukit berhenti tak jauh dari tepi danau yang masih beralaskan rumput, dibawah gerumbulan pohon sakura, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi menikmati udara yang ada di danau itu, Lecca menyukai musim semi. Dia mengedarkan pandangannya, beberapa bulan yang lalu danau ini hanya berwarna hitam dan putih karena terutup salju tapi kini semuanya terlihat begitu hidup dan berwarna.
Saga menghampiri Lecca, mengenyakkan pantatnya di rumput empuk, dia meraih tangan Lecca dan menariknya hingga Lecca jatuh terduduk di pangkuannya.
"Hei aku bisa…."
"Jangan bergerak!" potong saga melingkarkan tangannya di pinggang Lecca, membuat Lecca bersandar pada tubuhnya, Saga mencium belakang kepala Lecca rambut gadis itu berbau seperti buket bunga mawar, wangi yang menyenangkan. Mereka sama sekali tidak bicara, hanya memandangi sekeliling, menikmati setiap detiknya saat mereka bersama.
"Waaa! Benar ada danau, bisa berenang nih!" Lecca dan Saga spontan menoleh kebelakang mendengar suara itu, Aiolia berdiri diatas bukit sambil membawa keranjang piknik, ia menyampirkannya seperti membawa ransel.
"Aiolia kau menemukan mereka?" teriak seseorang yang Lecca kenali suaranya sebagai Milo. Tak menjawab Aiolia hanya mengacungkan jempolnya pada orang dibelakangnya.
Benar saja tak lama kemudian Milo datang membawa cooler box disusul Seth dan Ibu Lecca. Seth membawa sebuah gulungan kain flannel bermotif kotak-kotak merah. Ibu Lecca memakai topi jeraminya yang berhiaskan bunga matahari di salah satu sisinya.
"Astaga mereka semua datang" Lecca nampak sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.
Aiolia dan Milo menghampiri Lecca dan Saga.
"Biar kubantu Milo" kata Lecca hendak bangun dari duduknya.
"Jangan, tetaplah duduk" cegah Milo, dia menaruh cooler box yang lumayan besar itu di rumput.
"Benar sudah cocok kalian seperti itu" goda Aiolia "Mesra sekali"
Wajah Lecca merona, "makanya buru-buru deh" celetuk Saga
"Apa maksudmu? " tanya Aiolia tak mengerti
"Segera ungkapkan perasaanmu pada Marin" jawab Saga, lalu mengalihkan pandangannya pada Milo, "kau juga, jangan kelamaan nembak Shaina, kudengar dia menyukai salah satu bronze saint yang baru saja masuk"
Saga membisikkan, "wanita yang disukai oleh Milo dan Aiolia, mereka berdua silver saint" pada Lecca.
Wajah Aiolia dan Milo memerah bersamaan, melihat reaksi Milo dan Aiolia membuat Lecca tertawa geli, "jangan tertawa Lecca,ini tidak lucu!" kata Milo "dan pak tua hentikan cengengesanmu itu!" ujar Milo pada Saga. Tawa Saga dan Leccapun meledak dan baru berhenti ketika Seth dan Ibu Lecca datang.
Seth menggelar kain flannelnya , Milo, Aiolia dan Ibu Lecca langsung mendudukinya.
"Seru sekali, ngobrolin apa sih?" tanya Ibu Lecca, sambil membuka keranjang piknik dan mengeluarkan isinya. Kue tart, pie apel, sosis, roti, selai dan kue mochi.
"Cuma Shaina dan Marin" jawab Lecca singkat melempar senyum jahil pada Milo dan Aiolia. Wajah kedua Gold Saint itu kembali memerah.
"Shaina dan Marin?" ulang Ibu Lecca
"Mereka wanita yang disukai oleh Milo dan Aiolia" jelas Lecca
"Hooo…" Ibu Lecca memotong pie apel dan memberikannya pada Seth.
"Terimakasih Nyonya" ucap Seth, dia langsung memakannya.
"Kejutan sekali kalian mengadakan piknik ini" kata Lecca, "kenapa tidak memberitahuku bu, aku kan bisa membantu"
"Kalau memberitahumu itu bukan kejutan namanya" kata Seth menyuap potongan besar pie apel kedalam mulutnya, "ibumu bercerita kalau kau sangat menyukai bunga sakura setiap musim semi datang setiap tahun kau selalu melakukan..ng..apa namanya itu…"
"Ohanami" sambung Ibu Lecca, sembari mengoleskan roti dengan selai strawberry untuk Milo, dan menyiapkan sandwich keju daging asap untuk Aiolia.
"Itu dia maksudku….jadi kami memutuskan untuk mengadakan ohanami untukmu"
Lecca menatap ibunya, wajahnya penuh ungkapan rasa terimakasih.
"Lecca kau mau sesuatu?" tanya Ibunya
Lecca membalasnya dengan senyuman dan gelengan kepalanya, "kau yakin?", Lecca mengangguk.
"Seth, bisa kau ambilkan kue ketan yang ada disampingmu" pinta Milo.
"Milo ini bukan kue ketan tapi namanya kue mochi" jelas Seth
"Oh kue mochi, maaf aku lupa namanya" kata Milo sambil tertawa.
Acara ohanami berlangsung ramai, usai makan Milo, Seth dan Aiolia, turun ke tepi danau bermain air seperti anak kecil, saling menciprati satu sama lain dan kembali dengan baju mereka yang basah semua. Ibu Lecca memaksa mereka bertiga untuk melepas baju atasan mereka dan mengeringkan dibawah sinar matahari. Mereka kembali duduk melingkar, (Saga tentunya masih menarik Lecca dalam pangkuannya) mengobrol sembari memakan camilan yang lain yang disediakan oleh Ibu Lecca.
Lecca memandang Seth, Milo, Aiolia dan ibunya bergantian, Milo dan Aiolia yang mulai saling mencela soal Shaina dan Marin, Seth dan Saga yang menanggapinya dengan celetukannya yang tanpa basa-basi, terkadang membuat wajah mereka merona atau membuat mereka bersungut. Ibunya yang tertawa melihat tingkah mereka bertiga, ekspresi mereka benar-benar jujur, hari itu dia banyak mendengar suara tawa Saga yang begitu indah di dengar. Ia memegang tangan Saga yang melingkari zaitun yang menyelimuti pria ini sangat Lecca sukai.
Rasa kantuk mengganggu Lecca, ia menyandarkan tubuhnya ke dada Saga. . Hatinya penuh dengan kebahagiaan, tapi, disaat yang bersamaan dia merasa sedih Lecca tahu dia harus pergi suatu hari meninggalkan semuanya, mungkin saja hari ini. Leccapun memejamkan matanya. Suara Seth, Milo, Aiolia dan ibunya serta tawa Saga terdengar seperti diredam sesuatu, terasa menjauh perlahan. Lalu berakhir dengan kesunyian.
"Lecca…apa kau tertidur?" kata Saga ia mendapati mata Lecca terpejam, wajahnya terlihat sangat damai. "Kalau kau lelah kita kembali sekarang Lecca" bisik Saga di telinga Lecca, tetapi Lecca tidak bergeming meskipun Saga menepuk pipinya mencoba membangunkannya, dia merubah posisi Lecca, sekali lagi membangunkannya, tetapi Gadis itu tetap tak bereaksi.
"Tidak…." Ucap Saga "Tidak Lecca tidak sekarang, tidak!" Saga memegang sisi leher Lecca tangan gemetar dan rasa sedih membungkusnya dengan sempurna.
Semua berhenti bicara, Seth langsung menghampiri Saga dan berjongkok di depannya.
"Saga?" panggil Seth, Saga menatap Seth, airmata itu turun begitu saja tanpa pertahanan dari mata hijaunya. Dia memeluk tubuh Lecca, "kumohon buka matamu Lecca, kau janji akan selalu bersamaku bukan, buka matamu Lecca!" ucap Saga lirih, tapi Lecca tetap tidak bergerak.
Seth menoleh, ia memandangi Aiolia, Milo dan Nyonya Sasha bergantian, wajah mereka seakan menuntut suatu jawaban. Berat sekali untuk mengatakan ini pada mereka semua.
"Dia sudah pergi…." Ucapnya pelan.
"Tidak mungkin, dia baik-baik saja tadi tidak mungkin dia pergi!" seru Milo tak percaya
"Tidak…." Kata-kata Milo terputus kepalanya tertunduk, tak bisa menahan semuanya mutiara bening itupun turun menggelinding di pipinya. Aiolia mendekati Milo meraih kepalanya dan meraihnya menyandarkannya di bahunya. Menepuk-nepuk lembut kepala Gold Saint Scorpio itu, menenangkannya, Aiolia tahu bagi Milo Lecca seperti sahabat baginya, meski perkenalan mereka singkat.
Seth berada di samping Ibu Lecca, dia terlihat tegar meskipun dia menangis.
Pelukan Saga semakin erat, dia tenggelam dalam kesedihannya, dalam diam airmatanya mengalir semakin deras, airmata untuk seseorang yang sangat ia cintai.
Seakan ikut berduka bunga sakura semakin lebat mengugurkan bunganya.
"Ga...Sagaaaa!" teriak Milo ditelinga Saga membuat Saga kembali ketempatnya berada.
"Tak perlu berteriak" balas Saga mengusap telinganya yang berdenging
"Pemakamannya sudah selesai" kata Aiolia datar, masih memandang gundukan yang dipenuhi dengan karangan bunga di depannya.
Saga pun memandang gundukan itu, tak sadar pemakaman Lecca sudah selesai, sedari tadi ia melamunkan kejadian terakhir sehari sebelum Lecca menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Saga, ia terlihat sedang tertidur dengan tenangnya seperti biasa. Tepat tujuh hari setelah kedatangan Saga, Milo dan Aiolia.
"Lalu kau akan kemana setelah ini?" tanya seseorang di belakang Saga, Saga pun menoleh, ternyata Seth.
"Apa kau akan kembali ke sanctuary? Menjadi Gold Saint lagi? Terikat lagi dengan peraturan yang dibuat sang dewi untukmu?" tanya Seth
"Aku..."
"Bukankah hanya Sanctuary tempatmu kembali, bersama sang dewi" potong Seth
Saga memandang Seth, sepertinya Seth sedang menyindir Saga
"Kau sendiri?" Saga bertanyya balik
"Aku?...Aku akan tinggal disini, bersama Profesor Nathan, sesuai dengan keinginan Lecca tentunya, Aku akan mengajar di universitas tempat Lecca menjalankan studinya"
"Sesuai dengan keinginan lecca? Apa yang kau maksud itu?" tanya Milo yang ikutan nimbrung
Seth melirik Milo..
"Itu..." kata-kata Seth terputus, ingatannya terbang pada kenangannya bersama Lecca
"Jadi kau sudah tahu, kalau Profesor Nathan tinggal sendiri?" tanya Lecca, masih menggambar sesuatu di buku kecilnya
"Ya, ini semua gara-gara kau, pake minta pulang, ibumu memberi alamatnya sih, tapi mana Aku tahu, daerah Jepang selain hotel dan rumah sakit dan universitasmu" gerutu Seth, Lecca tertawa "Hei tidak lucu tahu" omel Seth
"Seth, kenapa Kau tidak tinggal bersama dengan profesor Nathan?"
Seth memandang Lecca tak percaya, menyarankan tinggal bersama profesor nyentrik itu, terlebih lagi dia itu pria, lain soal kalau Dia wanita.
"Maaf saja aku masih normal Lecca" kata seth, Lecca mengambil bantal di sampingnya dan melemparnya ke arah Seth
"Memangnya apa yang kau pikirkan bodoh!" maki Lecca
"Lalu kau ingin bereaksi seperti apa Lecca?!"
"Rumah sebesar itu kan sangat besar untuk ditinggal sendirian" kata Lecca, sambil memainkan tangannya. Seth terdiam dan mendekati Lecca, ia mengerti apa yang dipikirkan Lecca, gadis itu hanya tidak ingin kalau profesor Nathan kesepian, ia menepuk-nepuk kepala Lecca lembut dan tersenyum
"Ng...kau kan bisa membantu dia di universitas" tambah Lecca
"Iya..iya aku mengerti maksudmu" balas Seth
Mereka terdiam sejenak "Lalu apa kau juga akan menyarankanku untuk tinggal bersama Saga?"
Lecca memandang Seth, wajahnya terlihat sedih lagi tapi ia tersenyum
"Tidak...Saga tidak akan apa-apa Seth, dia masih punya...Athena, satu-satunya orang yang selalu ada dihatinya" ucap Lecca pelan
"Kau salah Lecca, satu-satunya yang menghubungkan dia dengan Athena hanya kepatuhannya dan kesetiannya, sebagai salah seorang Gold Saint, tapi tidak dengan cintanya, kau mengerti maksud kan?" jelas Seth
Lecca tersenyum dan mengangguk pelan.
"Itu apa?" tanya Milo tak sabar
Kenangan itu selesai dengan pertanyaan Milo
"Itu, karena Lecca lebih mengetahui arti dari kesepian dan kesendirian dari siapa pun juga" kata Seth
Saga sama sekali tidak menjawab perkataan Seth, ia mengetahui hal itu. Sama seperti Saga, Milo juga mengetahui hal itu sebab Lecca mengatakannya sendiri padanya, Milo tertunduk, kenangannya bersama Lecca berenang-renang di kepalanya.
"Rupanya kau memang ada disini Lecca" sapa Milo yang menemukan Lecca sedang duduk di padang rumput yang terletak tepat di belakang rumah Lecca, ia menemui gadis itu sedang asyik dengan buku dan pensil di tangannya, begitu Milo menyapanya ia langsung menghentikan pekerjaannya, dan meletakkan pensil dan buku itu di sebelahnya.
"Darimana kau tahu aku disini?" tanya Lecca
"Tentu saja dari Saga" jawab Milo singkat, lalu ia duduk di sebelah Lecca.
Ia memandang kedepan sejauh mata memandang hanya ada perbukitan yang diselimuti rumput, dan langit biru yang begitu luas.
"Apa kau tidak bosan terus-terusan memandangi pemandangan seperti ini?" tanya Milo
"Tidak" jawab Lecca "Sebenarnya banyak yang dilihat kok tidak hanya seperti yang terlihat, kau tahu Milo melihat pemandangan seperti ini kepalaku dan mataku seperti bebas melihat segalanya lebih dalam, langit, padang rumput, bunga sakura berguguran, juga hati seseorang" jelas Lecca
"Maksudmu hati seseorang itu Saga?" kata Milo, melirik Lecca
Lecca tidak menjawab matanya masih menerawang memandang langit dan padang rumput yang luas di depannya, senyum tersungging di bibirnya.
"Rumahmu besar juga ya" kata Milo
"Ya, tapi tak sebesar istanamu kan Milo" balas Lecca sambil tertawa
"Lalu dirumah sebesar itu hanya ada kau dan ibumu?" tanya Milo
"Tidak, ada dua orang lagi disini...Rui dan adiknya yang tampan bernama Ryusei"
"Ryusei? Maksudmu dia itu lelaki yang memakai pakaian butler itu?" tanya Milo
"Ya" wajah Lecca berseri-seri "Dia itu butler serba bisa, pandai merawat tanaman, pintar masak, dessert buatan dia itu nomer satu" puji Lecca, "aku sih tak pernah menganggapnya seorang butler, tapi lebih pada seorang teman" wajah Lecca melembut ketika membicarakan Ryusei.
"Kau sudah pindah kelain hati ya? Saga atau Ryusei sih?" tembak milo
"Tentu saja aku pilih saga" kata Lecca spontan, Lecca langsung membekap mulutnya seakan bilang 'tak seharusnya aku langsung bicara seperti itu'
Lecca langsung memandang Milo, "A..Aku.." gagap Lecca, tiba-tiba saja wajah Lecca memerah.
"Lho, kenapa mukamu jadi merah begitu?" mata Milo menyipit
"Sa..Saga.." ucap Lecca lagi tapi wajahnya semakin memerah persis udang rebus
Milo mendekatkan wajahnya ke Lecca, lalu ia tersenyum nakal.
"Nah, apa kau mau menceritakan apa yang terjadi antara kau dan Saga" selidik Milo
Kontan saja wajah Lecca makin merah rasanya sebentar lagi dia akan terbakar, sangking panasnya wajahnya, ia tak mungkin menceritakan kejadian semalam, ya Saga menciumnya, dan itu ciuman pertama dalam sejarah hidupnya.
"Mmmph" Milo menahan tawanya
"Ja..jangan tertawa!" maki Lecca "Ba..bagaimana kalau kau sendiri yang mengalaminya!"
Tawa Milo meledak dia tertawa terpingkal-pingkal, tertawa sampai keluar air mata
"Diam..diam!" jerit Lecca, tapi Milo tertawa makin keras
"Pan..pantas saja wajah Saga jadi merah saat melihat ke arahmu pagi tadi waktu sarapan, ternyata..ini gara-gara semalam..ha...ha..ha...ha.." kata Milo
Lecca tidak membalas Milo lagi ia melihat Milo tertawa Dia tersenyum sendiri, selama dia bertemu dengan Milo baru kali ini dia melihat Milo tertawa seperti itu sama seperti Saga, Lecca mengerti rupanya itu tawa pertama yang terdengar begitu indah di telinga Lecca.
Milo berhenti, tertawa Ia mengusap matanya yang berair
"Maaf..maaf bukannya aku mau mentertawakanmu Lecca, hanya saja ekspresi si spartan wajahnya yang jadi merah malu-malu seperti itu jadi ekspresi cukup langka, biasanya dia itu selalu serius, kaku dan keningnya selalu berkerut, aku jadi benar-benar geli melihat ekspresi wajahnya itu" Milo menahan tawanya lagi
"Kau juga Milo, ini ekspresi wajahmu yang paling langka"
"Maksudmu?" tanya Milo tidak mengerti
"Kapan terakhir kau tertawa seperti itu Milo?' tanya Lecca
Senyum Milo langsung lenyap, Lecca jadi merasa tidak enak.
"Maaf kalau aku salah bicara" kata Lecca buru-buru melihat perubahan wajah Milo
"Jangan minta maaf, memang aku tak tahu kapan terakhir kali aku tertawa seperti itu" ucap Milo ia memandang Lecca dan tersenyum
"Lecca, ada yang ingin kutanyakan padamu"
"Ya apa itu Milo?"
"Apa kau tidak kesepian tinggal dirumah sebesar itu?"
Lecca terdiam sejenak, Ia masih memandang Milo
"Tentu saja Milo, Aku ini memang kesepian" jawab Lecca, matanya berkabut sedih ketika mengatakan itu. Sama seperti mata Saga yang menginginkan suatu pengakuan tentang keberadaannya.
"Hei Saga, katakan padaku sekali lagi...apakah Kau benar-benar mencintai Lecca?" tanya Seth, Aiolia langsung membalikkan badannya dan memandang Seth.
Dan pertanyaan itu pula yang membuyarkan kenangan Milo tentang Lecca, Ia langsung mendelik kearah Seth.
"Untuk apa kau tanyakan itu lagi bukan kah kau mengetahui jawabannya Seth" sela Aiolia
"Aku tidak bertanya padamu Aiolia" balas Seth kalem "Ayo jawab Aku Saga"
"Jawabanku tidak berubah Seth kau sudah mengetahunya bukan? Aku mencintainya" jawab Saga tanpa ragu.
Seth mendengus "Kau yakin?" kata Seth sinis.
"Yang kuucapkan tadi bukan sekedar omong kosong!" balas Saga tegas
"Yah… aku tahu itu...dan pasti Lecca juga mengetahui itu..." Seth menghela nafas "Selamat tinggal Gold Saint" kata Seth lagi lalu, ia berbalik meninggalkan Saga, Milo dan Aiolia.
"Ah rupanya kalian disini" tegur Ibu Lecca "Aku mencarimu Saga"
"Nyonya Sasha" kata Saga sopan
Ibu Lecca tersenyum. "Ini", ibu Lecca menyodorkan buku bersampul biru langit kepada Saga "Apa ini bu?" tanya Saga
"Kurasa Lecca ingin Kau memilikinya, itu buku harian Lecca" kata ibu Lecca
"Kenapa anda berikan kepada saya?" tanya Saga
"Bukalah dan baca kau akan mengerti, kalian juga" jelas Ibu Lecca sambil memegang bahu Milo dan Aiolia. lalu Ia pamit pergi.
Sepeninggal ibu Lecca, Saga membuka buku itu tidak banyak kata-kata disana hanya banyak gambar sketsa, dirinya, Milo, Aiolia, dan kenangan-kenangan yang Lecca alami setiap lembar buku itu seakan mewakili perasaan Lecca, Saga terus membuka buku itu satu persatu, pandangannya makin buram, matanya terasa panas, butir air mata menggelinding di pipinya seperti mutiara bening yang besar.
Saga menghapus airmatanya, lalu Ia menutup buku itu, ia menyerahkan buku itu pada Aiolia dan Milo.
"Kalian juga harus melihatnya" ucapnya ia melewati Aiolia dan Milo mendekati gundukan yang tertutupi bunga itu, lalu berjongkok, kepalanya tertunduk dan tangannya terlipat.
Aiolia melirik Saga, ia memutuskan tidak mengganggunya sementara dan membuka buku yang diberikan Saga, Milo ikut melihatnya bersama Aiolia, Aiolia melihat buku itu, lembar demi lembar membawanya pada kenangannya pada Lecca.
"Ah, Aiolia kau disini, aku keduluan" kata Lecca yang datang saat Aiolia sudah sampai di tempat favoritnya, merebahkan dirinya di rumput yang empuk sambil memandang langit.
"Kuperhatikan selama aku disini, kau selalu kemari"
"Ya"
"Memang tempat yang cocok untuk cari wangsit"
"Sembarangan aku kesini bukan untuk cari wangsit" Lecca duduk di sebelah Aiolia, dan mulai membuka buku bersampul biru langit dan menggoreskan pensilnya diatas buku itu.
"Sebenarnya kau itu sedang mengerjakan apa dengan buku itu?" tanya Aiolia
Lecca meletakkan pensilnya lalu memandang Aiolia lalu tersenyum
"Kau tahu Aiolia, otak manusia diciptakan tanpa batasan penyimpanan memori, kenangan buruk, baik, menyenangkan dan tidak menyenangkan semuanya bertumpuk bercampur aduk mungkin hanya kenangan tertentu, yang mempunyai ruang tersendiri, tetapi terkadang suatu saat ruang itu akan tertutup, terdesak oleh kenangan-kenangan lain, dan mulai perlahan menghilang dan terlupakan...lalu setelah terlupakan suatu hari nanti, kita akan mengingatnya kembali...tapi saat kau mengingatnya kembali, semua itu menjadi tak berharga sama sekali...buku ini adalah kotak memori kenanganku yang tak akan bisa terhapus sampai kapan pun juga meski otak ini sudah berhenti bekerja nanti" jelas Lecca
"Jadi kau ini.."
"Ya Aiolia...aku sedang menggambar kenanganku"
Halaman terakhir buku yang tak terlalu tebal itu, mengakhiri pula kenangan yang terlintas di kepala Aiolia, matanya melebar saat membuka halaman terakhir, begitu juga Milo, mereka berdua saling berpandangan, lalu Aiolia menghampiri Saga yang masih berjongkok di samping makam Lecca, Aiolia menepuk bahu Saga, Saga pun menoleh.
"Sebaiknya kau lihat ini" kata Aiolia, menyerahkan buku itu sambil tetap membuka halaman terakhir, Saga menerimanya dan melihatnya di halaman terakhir buku itu ada gambar sketsa wajah Saga sedang tertawa dan ada sebuah tulisan dibawahnya:
"a song that is more kind than tears,take that warm rather than the sorrow, until the day i reach eternal sleep that smiling face will have to stay with me without fail…..and Saga….I Love You"
Saga tersenyum melihat halaman terakhir itu
"Sebaiknya kita kembali" kata Milo "ke Sanctuary" tambahnya.
"Tidak ada seorang pun yang akan kembali ke Sanctuary" kata seseorang yang tiba-tiba muncul, spontan Aiolia, Milo dan Saga menoleh. Dan mereka sangat terkejut.
"Shaka!" seru Saga, Milo dan Aiolia bersamaan
"Tidak usah kaget begitu" kata Shaka kalem
"Ba..bagaimana kami tidak kaget dasar bodoh, Kau tiba-tiba muncul disini, dan kalian juga" kata Milo tambah kaget melihat Camus dan Aphrodite muncul juga.
"Apa maksudmu dengan perkataanmu tadi Shaka?" tanya Saga tak mempedulikan reaksi Milo.
"Athena, sudah menyegel Sanctuary, dan akan membukanya kembali saat kita akan berkumpul kembali...suatu hari nanti"
"Suatu hari nanti?" ulang Aiolia
"Suatu hari nanti itu berarti dalam waktu tidak terbatas" ucap Camus
"Dunia ini dan penghuninya saat ini, sudah bisa menjaga diri mereka masing-masing, Gold Saint ataupun dewi Athena, hanyalah sebuh mitologi saja, tapi manusia bernama Saga, Milo, Aiolia, Camus, Aphrodite tetap ada, begitu juga dengan Saori Kido" jelas Shaka
"Jadi Athena..." kata Milo
"Benar saat ini Athena telah kembali ke Jepang, menanggalkan gelar dewinya dan hidup seperti manusia biasa bernama Saori Kido, maka itu ia juga memerintahkan semua Saint-nya turun dari Sanctuary seperti dirinya, selain itu semua Cloth serta Gold Cloth kita sudah disegel semua, nah, Aku kemari ingin memberitahu kalian, sekaligus menanyakan kalian kemana tujuan kalian, sebab yayasan yang di pimpin oleh nona Saori akan mengurus semua kebutuhan kalian" jelas Shaka
"Lalu kau sendiri?" tanya Saga pada Shaka
Shaka terdiam sejenak "Aku akan kembali ke tanah kelahiranku India, Mu dan Pope Shion sudah kembali ke Jamir, Aldebaran, Shura juga sudah kembali ke tanah kelahiran mereka, dan kau Aiolia" Shaka memandang Aiolia "Aiolos, sudah berada disini dia memutuskan untuk tinggal bersama nona Saori dan Camus akan berangkat kembali menjaga segel yang ada di Bluegard dan…."
"Aku akan tetap disini" potong Saga sebelum Shaka mulai bicara lagi
"Berada di dekat Athena dan dirinya" ucap Saga sambil melihat kearah makam Lecca, ia tersenyum kali ini senyum yang benar-benar jujur dari dalam hatinya, wajahnya terlihat lega.
"Apa itu cukup Saga?" tanya Shaka
"Tidak ada hal yang lebih indah selain kebebasan bukan Shaka" jawab Saga
Aiolia dan Milo tersenyum memandang Saga.
"Saga...aku juga menyampaikan pesan Athena padamu" kata Shaka
"Apa itu?"
"Saga, hiduplah bahagia sebagai manusia bernama Saga, bukan Gold Saint bernama Saga" ucap Shaka
Saga tidak membalas perkataan Shaka, Ia hanya tersenyum saja. Lalu berkata pelan
"Baik..dan terima kasih Athena"
Ia melihat makam Lecca sekali lagi "Sampai jumpa lagi Lecca" katanya dalam hati, meski hanya dalam bayangannya, Saga bisa melihat Lecca berdiri disana dan tersenyum padanya.
END
Author : Akhirnya selesai jugaaaa! *tebar tebar bunga
Saga: Dasar author edan! kenapa lu bikin pacar gue modar *mendekatkan wajahnya ke author
Author : S..Saga-san jangan terlalu dekat i..ini tidak bagus buat jantungku (author demen banget sama Saga), saya janji Saga-san pasti nanti sampean sama Lecca...
BWUUUNGG! BLETAKKK! *perisai Libra melayang kena kepala author
Lecca : Wooi..spoileeer..jangan dikasih tauuu! Bego!
Author : Ahhhh Lecca-san mangap eeh maap...hampir saja *sungkem sama Lecca
Makasih yang udah baca, yang udah ngereveiw makasiiih banget, itu harta tak ternilai buat saya.
Disclaimer : Saint Seiya bukan punya saya tapi punya penulisnya.
