Because Love Is Not Always Sweet
Boboiboy © Animonsta
Warning: OOC, Typo, Grown up Boboiboy, and more.
oOo
Don't Like Don't Read
oOo
When I think it just some silly crush, the truth is... what I feel for you is far beyond that.
oOo
Fang bukanlah Nova. Rekan satu klubnya di sekolah menengah pertama. Seseorang yang dengan mudah mengumbar kata-kata cinta pada setiap gadis yang ia temui. Tidak. Baginya butuh waktu dan sebuah bukti kuat untuk menunjukan kalau ia tengah jatuh cinta.
Suka mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Ying, gadis keturunan china dengan kacamata bulat membingkai iris birunya. Sebagai remaja normal seperti yang lainnya, wajar jika ia menyukai seorang gadis. Dan hal yang wajar pula bagi seorang pria remaja jika ia memimpikan sesuatu yang –ehem- tidak tidak dengan gadis yang ia sukai.
Fang merasa seperti orang bodoh, setiap kali ia bertatap muka dengan Ying hal pertama yang melintas dalam otaknya adalah untuk memeluknya dan mengecupnya seperti apa yang ia lakukan dalam mimpi. Tapi tentu, seperti kebanyakan mimpi, itu hanya bunga tidur dan kemungkinan untuk menjadi sebuah kenyataan sangat tipis. Fang hanya dapat menahan air mukanya agar tetap tenang dan terlihat normal. Ia tidak mau dicap sebagai pria aneh oleh gadis yang ia sukai.
"Fang, kerjain tugas kelompok sekarang yuk!"
Pertanyaan Ying membangunkan Fang dari lamunan dan imajinasi liarnya tentang gadis berkamata bulat di depannya ini. "Oh! YA! Tentu! Um… maksudku, boleh." Jawab Fang cepat.
Ying menatapnya aneh sebelum akhirnya ia mengendikan bahunya acuh. "Kalau begitu aku tunggu di perpustakaan ya? Bye!"
"Bye!" Setelah Ying keluar, Fang menjatuhkan dirinya di atas meja.
Bodoh! Bagaimana bisa aku bersikap aneh begitu?
"Mau sampai kapan kau malas-malasan? Cepat kerjakan tugas piketmu!" kali ini panggilan ketua kelas yang membuat Fang bangun. Lebih baik ia segera selesaikan piketnya dan pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompoknya bersama Ying. Walaupun sejujurnya Fang sendiri tidak yakin jika ia masih bisa fokus pada apa yang akan mereka kerjakan selama mimpi tentang dirinya dan Ying masih melayang bebas dalam otaknya.
Setelah selesai dengan piketnya dan beberapa pelarian diri dari fansnya yang seolah tanpa batas akhirnya Fang sampai di perpustakaan. Di meja belakang perpustakaan Ying terlihat fokus dengan apa yang ia cari dalam buku tebal di depannya.
"Maaf aku telat."
"Tidak apa-apa. Tapi aku sudah mulai duluan, tidak masalah kan?" tanya Ying tanpa mengalihkan fokus matanya dari buku tebal tentang biologi di depannya.
"Tidak masalah bagiku. Kau sudah sampai mana?"
"Baru pada soal kedua."
Fang mengangguk mengerti dan membantu Ying mencari jawaban yang mereka perlukan untuk tugas kelompok mereka. Berjam-jam berlalu, dan selama berjam-jam itu pula Fang berusaha keras untuk menghilangkan setiap pikiran aneh yang melintas di kepalanya saat ia melihat betapa seriusnya gadis di depannya ini jika sudah berhubungan dengan pelajaran. Membuatnya terlihat jauh lebih manis dari sebelumnya. Terkadang Fang merasa heran apa yang sebenarnya membuat Ying begitu terobsesi untuk menjadi nomor satu dalam segala mata pelajaran.
"Aaaah! Akhirnya selesai juga! Kita hanya perlu mengklipingnya dan mempresentasikannya minggu depan!" ucap Ying senang saat semua tugasnya selesai. "Kau jangan mengacau saat presentasi nanti mengerti?"
"A-ah... aku mengerti."
Walaupun tiga tahun berlalu semenjak Ying dan Yaya berpisah tapi sifat gadis ini masih belum berubah. Ia tetap saja ingin semuanya sempurna walau tak ada satu pun murid yang bisa –dan berani- untuk mengalahkannya dalam hal mata pelajaran.
Setelah membereskan setiap barang mereka, mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama. Selain karena arah rumah mereka sama, Fang masih ingin menghabiskan waktunya dengan Ying.
Selama perjalan keduanya membungkam mulutnya masing-masing. Fang tidak tahu apa yang harus ia bincangkan dengan Ying. Mereka tidak pernah benar-benar memiliki percakapan akrab sebelumnya, wajar jika Fang tidak tahu apa yang ingin ia bincangkan dengan Ying. Dalam perjalanan ia melihat sebuah kafe yang baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu.
"Mau mampir kesana?" tunjuk Fang pada kafe di sebrang jalan. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya berani mengajak Ying dengan santai seperti ini. "Katanya donat lobak merah di sana enak."
Ying memperhatikan Fang dari atas hingga bawah. Sepertinya ia curiga dengan sikap baik Fang yang terkesan tiba-tiba. "Aneh. Tidak biasanya kau mengajakku pergi ke kafe. Pasti ada-"
"Kalau tidak mau ya sudah." Potong Fang cepat. Ia tidak bisa membiarkan Ying berpikiran yang tidak tidak tentangnya.
"Aku mau, aku mau. Jarang-jarang kan kamu mengajakku pergi ke kafe. Sekalian aku juga ingin bertanya sesuatu padamu."
Setelah keputusan diambil, kedua remaja itu masuk ke dalam kafe dengan nuansa coklat dan putih tersebut. Mereka mencari-cari tempat duduk karena tanpa terduga kafe tersebut sudah sangat penuh, hingga akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk di tengah kafe.
Fang memesan donat lobak merah dan secangkir cappuchino sedangkan Ying memesan red velvet dan secangkir teh susu. "Memang kau mau menanyakan apa padaku?"
Seketika setelah Fang bertanya seperti itu, mata Ying memicing tajam ke arahnya. Ia menyondongkan tubuhnya dan membuat Fang harus berusaha keras menahan air mukanya agar tetap tenang. Posisi mereka sungguh membuat Fang canggung. "Waktu itu kau lihat apa yang ada di dalam pohon itu kan?"
Fang mengedip-ngedipkan matanya bingung. Pohon? "Pohon apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Pohon besar yang waktu itu! Yang ada lubang kecilnya. Yang..." Ying menengok ke arah kanan dan kiri kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi dan berbisik. "Yang ada rajutannya itu..."
Fang ingat pohon besar itu. Tapi kenapa Ying bertanya dan bertingkah seolah fakta bahwa Fang melihat apa yang ada di dalamnya itu adalah hal yang paling penting di dunia. Seolah apa yang dilihat Fang adalah sebuah rahasia besar. "Memangnya kenapa kalau aku lihat?"
"Jadi kau benar-benar lihat?!" tanpa sadar Ying meninggikan suaranya, mengundang perhatian dari setiap pengunjung kafe. Melihat setiap pengunjung menatap mereka, Ying dengan cepat menunduk dan meminta maaf lalu kembali menatap Fang penuh amarah.
"Memangnya kenapa kalau aku lihat? Kau tidak pernah melarangku untuk melihatnya kan?"
Ying menepuk wajahnya keras. Merutuki kecerobohan yang ia buat. "Pokoknya, jangan katakan pada siapapun soal rajutan itu, mengerti?"
Entah ada setan apa yang tengah berbisik pada Fang saat itu, sebuah ide konyol terlintas di kepalanya. Ia menyeringai dan menatap Ying remeh. "Memangnya kenapa aku tidak boleh mengatakannya pada siapapun? Ini mulutku, jadi aku bebas mau mengatakan apapun yang aku mau." Tantang Fang.
Ying menjamak rambutnya frustasi. "Pokoknya jangan katakan pada siapapun! Titik!"
Seringai Fang masih terpampang di wajah tampannya. Melihat ekspresi frustasi Ying justru membuatnya senang, dan ia ingin melihatnya lagi. "Tidak mau. Kau tidak punya hak untuk melarangku."
"Kau ini..." aura mengerikan mengelilingi gadis itu. Aura itu sama mengerikannya seperti ketika Fang secara tak sengaja menyalip nilai Ying. Mungkin Fang sudah salah ambil langkah namun tak lama secara mengejutkan aura itu menghilang dan kali ini wajah manis Ying lah yang menatapnya. Tatapannya sangat manis, persis seperti apa yang ia lakukan ketika dulu ia meminta uang raya pada Papa Zola. Puppy eyes. "Aku mohon... jangan katakan pada siapapun..."
Ugh. Apapun asal jangan tatapan itu. Fang merutuki dirinya sendiri karena jantungnya berpacu cepat dan entah kenapa pipinya terasa panas. Jika saat ini pikiran liar Fang yang mengusai, mungkin ia sudah menerkam gadis di depannya ini. "Baiklah baiklah... aku tidak akan mengatakannya siapapun."
Seketika Ying menghela nafasnya lega dan tersenyum senang. "Syukurlah."
"Tapi kenapa kau tidak ingin ada yang tahu? Menurutku kau tak perlu menyembunyikan hal sepele seperti itu."
Ying memicingkan matanya kembali. "Kalau tidak aku sembunyikan, tidak akan jadi kejutan nantinya." Ucap Ying tapi dengan cepat ia menutup mulutnya. Sepertinya Ying sudah terlanjur mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan.
"Kejutan? Kau ingin membuat kejutan? Untuk siapa?" tanya Fang sedikit panik. Ying memalingkan wajahnya. Pipinya memerah. Tiba-tiba kalimat Ying tentang ia yang kemungkinan tengah jatuh cinta pada seniornya itu melintas dalam otaknya. Mungkinkah... "Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku akan ceritakan soal rajutanmu itu pada semua anak kelas!" ancam Fang.
"JANGAN!" Teriak Ying. Melihat Fang yang masih tidak ingin menyerah, Ying pun menghela nafasnya. Ia memain-mainkan jemarinya gugup. "Um... sebenernya aku ingin membuat kejutan untuk anak kelas. Sebentar lagi kan kita lulus, jadi aku ingin membuat sebuah kenang-kenangan untuk mereka."
Mendengarnya Fang merasa lega. Ia senang kalau pemikirannya salah. Tanpa sadar ia tersenyum simpul. Walaupun Ying itu termasuk gadis yang cerewet tapi ia adalah gadis yang baik. Sangat baik. "Baiklah, aku mengerti. Tapi izinkan aku membantumu!"
Ying membulatkan matanya, menatap Fang tidak percaya. "Ta-tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian atau aku akan mengacaukan kejutanmu." Ancam Fang sekali lagi dan kali ini Ying tidak punya banyak pilihan selain menuruti apa yang Fang katakan.
oOo
Akhir pekan ini Fang dan Ying memutuskan untuk pergi ke mall bersama. Mungkin lebih tepatnya Fang yang memaksa untuk ikut Ying membeli benang wol dan beberapa peralatan untuk rajutannya. Mereka pergi bersama secara diam-diam tentu saja, tidak ingin salah satu teman mereka tahu.
Satu jam pertama mereka membeli benang wol seperti apa yang Ying katakan tapi berjam-jam selanjutnya mereka berjalan tidak tentu arah. Mengikuti kemanapun langkah dan hati Ying ingin pergi. Kadang ke toko baju, kadang ke toko sepatu, kadang ke toko aksesoris, kadang pula ke toko buku. Fang merasa seperti seorang pria yang mengantarkan kekasihnya berbelanja.
-Walaupun sejujurnya ia tidak keberatan jika ia memiliki title itu.
"Kita makan dulu yuk! Aku lapar." Ajak Ying.
Mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran cepat saji. Keduanya duduk di dekat jendela dan memakan makanan mereka dalam diam.
"Oya, kenapa kau ingin membuat hadiah kejutan untuk anak kelas? Tumben." Tanya Fang tiba-tiba.
"Yang tumben itu justru kau, tidak biasanya kau mau menolongku aku. Kupikir kau sudah membocorkan rahasiaku."
Fang memutar matanya kesal. "Memangnya kau pikir aku ini sejahat itu."
"Kau kan memang jahat." Ucap Ying santai sembari memakan burgernya namun tak lama ia terkikik geli begitu melihat ekspresi kesal sekaligus tidak percaya Fang. "Aku cuma bercanda. Aku membuat hadiah itu karena aku ingin berterima kasih pada teman-teman saja. Mereka sudah mau berteman denganku dan membantuku. Selain itu... ternyata merajut itu menyenangkan. Yah... walaupun aku masih belum terlalu pandai."
Fang mengangguk mengerti. "Tapi kamu belajar merajut dari siapa? Nenekmu?"
Ying mengibas-ngibaskan tangannya dan tertawa kikuk. "Bukan, kalau aku belajar dari dia pasti tidak akan pernah bisa. Nenekku kan pelupa jadi aku belajar dari Yaya."
"Yaya? Dia bisa merajut?" tanya Fang tidak percaya. Fang memang selalu tahu kalau gadis dengan hijab pink itu pandai dalam berbagai macam hal –terkecuali membuat biskuit-, tapi merajut? Sebenarnya sampai mana kemampuannya itu?
Ying mengangguk antusias. "Aku sendiri tidak menyangka kalau dia pandai merajut, tapi dia memang feminime sih... jadi tidak aneh juga." Walau hanya sekilas tapi Fang melihat Ying menunduk sedih. "Tidak sepertiku..."
Fang mengerti. Ying sepertinya tengah membanding-bandingkan dirinya dengan Yaya, sahabatnya. Dan ia tidak suka melihat Ying menganggap dirinya tidak lebih pandai dari Yaya. Ia ingin Ying menganggap dirinya setara atau bahkan di atas gadis itu, sama seperti saat mereka bersaing dalam hal belajar. "Tapi menurutku rajutanmu itu juga bagus."
Ying membulatkan matanya kemudian tersenyum manis. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kalau kau sebaik ini."
Fang menyeringai penuh kemenangan walaupun sebenarnya hal itu ia lakukan untuk menutupi rasa malu dan senangnya. Siapa juga yang tidak akan senang saat orang yang disukai menyanjungmu. "Heh. Aku ini kan memang baik hati."
"Terserah kau sajalah." Ucap Ying sembari kembali melahap burgernya.
Setelah selesai makan, Ying mengajak Fang untuk pergi ke tempat rahasianya. Ia meminta Fang untuk menyimpan benang-benang wol itu di sana.
"Kenapa tidak kau simpan saja di rumah? Kenapa kau harus menyimpannya di tempat ini? Apa kau tidak takut semua benda ini akan hilang?" tanya Fang beruntun.
"Karena rahasia jadi tidak mungkin aku menyimpannya di rumah. Dan tenang saja, tidak akan hilang kok. Aku menutupnya dengan ini!" Ying pun menunjuk sebuah penutup yang telah di hiasi berbagai rumput dan dedaunan. Benda itu akan menuntupi lubang kecil di pohon itu sekaligus mengkamuflasekan lubang tersebut.
"Cerdas." Puji Fang tanpa sadar.
Kali ini Ying yang tersenyum bangga pada Fang. "Aku memang cerdas."
"Terserah kau sajalah."
Merasa seperti sebuhan de javu keduanya pun tertawa lepas bersama. Hal yang hampir tidak pernah mereka lakukan selama bertahun-tahun mereka benteman. Fang merasa senang menemukan tempat ini. Karena tempat ini membuatnya lebih dekat pada Ying.
oOo
Berminggu-minggu berlalu dan selama berminggu-minggu itu pula Fang sering membantu Ying dengan projectnya. Mereka sering bercanda bersama dan tertawa bersama. Kadang kala ia menjahili Ying dengan menyembunyikan beberapa benang Wol, kadang pula Ying membuantnya berlari berputar-putar sebagai balas dendam. Namun mereka menikmatinya dan harus Fang akui, Ying adalah gadis pertama yang sangat dekat dengannya.
Persis seperti apa yang dikatakan oleh Ying. Tidak terasa mereka telah menyelesaikan ujian akhir mereka dan sebentar lagi mereka akan melakukan upacara kelulusan. Seperti apa yang dijanjikan oleh Ying, semua anak di kelasnya mendapatkan sebuah rajutan darinya. Entah itu topi atau sekedar syal biasa. Semuanya merasa senang dengan pemberian Ying termasuk Fang.
Walaupun Fang sering membantu Ying tapi ia tidak pernah benar-benar tahu rajutan apa dan untuk siapa gadis itu membuatnya. Ying tidak pernah menjelaskan siapa yang akan mendapatakan apa nantinya, karena itulah Fang tidak pernah menyangka kalau ia akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Jika kebanyakan teman sekelasnya –tertutama pria- mendapatkan topi atau syal, apa yang Ying berikan padanya sedikit lebih besar. Sebuah sweater tanpa lengan. Ia tidak pernah melihatnya.
"Kenapa kau memberikan ini? Apa kau membelinya?" tanya Fang penasaran.
"Tentu saja tidak. Sudah kukatakan kan kalau aku ingin memberikan hadiah kejutan untuk semua orang, dan karena kau selalu bersamaku saat merajut semua ini jadi terpaksa aku menyembunyikan milikmu di rumahku." Jelas Ying.
"Tapi... kenapa sweater?"
Ying berpikir sejenak. Bibirnya mengerucut lucu dan ia mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jemari lentiknya. "Hmm... entahlah. Mungkin karena kau telah membantuku. Sudah ya! Aku masih harus menemui Amy. Bye!"
"B-bye!" Fang menatap rajutan sweater tanpa lengan itu dalam diam. Ia tersenyum.
Ia berbeda. Ying membuat hadiah yang berbeda untuknya. Walaupun masih sama-sama rajutan tapi tetap saja miliknya jauh berbeda dari teman-temannya. Dan itu membuatnya senang.
Sepulang dari sekolah untuk melihat-lihat dekorasi ruangan upacara kelulusan mereka, Fang memutuskan untuk melakukan pembicaraan serius dengan Ying. Apalagi setelah gadis itu memberikan hadiah yang berbeda untuknya, mungkin sudah saatnya Fang mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan pda gadis itu. Walau ini hanya sebuah perasaan suka, tapi ia harus mengatakannya.
Fang melihat gadis itu berjalan keluar dari gerbang sekolah. Jika berlari mungkin ia dapat menyusul gadis itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda dengan seragam sekolah menengah atas tersenyum cerah dan bercanda dengan Ying di depan gerbang sekolah. Wajah gadis itu memerah saat pemuda itu mengusak rambutnya. Mungkinkah...
Fang hanya terdiam di tempat tanpa dapat bergerak hingga pemuda itu pergi. Jika boleh jujur, dadanya terasa sesak dan kakinya lemas. Apa yang ingin ia ungkapkan pada Ying semuanya lenyap begitu saja. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia hanya bisa tersenyum canggung saat Ying menangkap basah dirinya yang tengah berdiri dan terdiam di tempat.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"T-tidak ada. A-aku hanya ingin pulang saja." ucap Fang berusaha menutupi rasa panik dan terlihat normal.
"Kalau begitu mau pulang bersama?" tanya Ying. Fang ingin menolaknya, ia ingin sendirian tapi ia tidak bisa. Ia tidak ingin mengecewakan Ying. Akhirnya Fang hanya mengangguk dan berjalan di samping Ying. Mendengarkan gadis itu membicarakan tentang upacara kelulusan walaupun pikirannya melayang entah kemana.
Fang selalu berpikir bahwa apa yang ia rasakan pada Ying hanyalah sebuah perasaan suka biasa yang dirasakan seorang remaja pria saat melihat gadis cantik nan manis. Tapi sepertinya ia salah. Ia salah besar karena rasa sakit di dadanya terlalu kuat hingga ia ingin berlari menjauh dari Ying.
Ia mungkin... memang telah jatuh cinta pada Ying
oOo
TBC
oOo
A/N: Saya bikin ini setengah mati. Seriusan susah banget buat ngelanjutinnya. Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi gak bisa bikin romance. Aneh banget! Kenapa ya? Tapi yasudahlah, gimana? Aneh ya? Kurang puas? Kalau saya sih entah kenapa kurang puas. Kurang greget gitu. -_-
Awalnya ini bahasanya pengen dibikin lebih nyantai gitu, kayak pake kata 'gak' dan semacamnya tapi setelah dibaca berulang-ulang... kok rasanya aneh gitu, kayak bukan punya saya. Jadi saya ubah lagi deh. Dan kayaknya ini gak bakal jadi three-shot seperti yang udah saya rencanakan deh. Mungkin bakal jadi four-shot (?) atau mungkin lebih. Entahlah, pokoknya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca, mereview, mem-favourite, dan mem-follow fanfic ini. Maaf saya gak bisa jawab review satu-satu.
For last
If you don't mind
Review please?
