Because Love Is Not Always Sweet

By Chocolate Bubbletea

Boboiboy © Animonsta

Warning: OOC, Typo, Grown Up Boboiboy, and more

oOo

Don't Like Don't Read

oOo

Just for today, I hope that this day never end.

oOo

Upacara penerimaan telah berlalu tiga hari yang lalu dan hari ini seluruh anak kelas satu akan melaksanakan kemping orientasi. Fang tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan kembali satu sekolah dengan teman-teman sekolah dasarnya, terlebih lagi sekelas dengan mereka. Walaupun sebenarnya Fang sudah tahu bahwa kemungkinan besar Boboiboy, Yaya, dan Gopal akan masuk ke sekolah ini tapi entah mengapa ia tetap saja masuk ke sekolah ini. Mungkin ia ingin menghindar dari Ying karena dalam benaknya gadis itu mungkin akan masuk lagi ke sekolah elite seperti saat sekolah menengah kemarin tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Ia masuk ke sekolah biasa sama sepertinya. Dan yang lebih parah lagi mereka satu kelas, sepertinya Fang memang tidak bisa menghindar darinya.

Setelah pengumunan dari guru pengawas dan setelah mengambil kertas yang dibagikan oleh para senior, Fang memutuskan untuk mencari rekan satu regunya. Dan seolah dewi fortuna sedang marah padanya atau apa, ia harus satu regu dengan orang-orang yang paling tidak ingin ia jadikan teman seregu dalam kemping ini. Boboiboy dan Ying. Fang tidak ingin satu regu dengan Ying karena ia masih belum sepenuhnya dapat mengontrol perasaanya pada gadis itu. Dan sejujurnya ia sebenarnya tidak begitu keberatan satu tim dengan Boboiboy hanya saja Fang tahu kalau ujung-ujungnya ia dan pemuda dengan topi jingga itu pasti akan bertengkar.

Dan benar saja perkiraannya. Satu jam pertama mereka berhasil menyelesaikan setiap pertanyaan di setiap checkpoint dengan cepat namun akhirnya pada pertanyaan terakhir ia dan Boboiboy mulai bertengkar. Tak ada yang mau mengalah hingga tiba-tiba tanpa diduga seekor beruang besar datang menyerang. Ia sudah bersiap untuk menyerang beruang besar itu tapi Yaya menghentikannya dan akhirnya ia justru diseret oleh Ying berlari menjauh dengan kekuatan manipulasi waktunya.

"Haaah... haaah... kalau kau mau menyeretku... haah... berlari... sebaiknya kau... pikir terlebih.. dahulu..." ucap Fang dengan nafas tersenggal. Ia berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal.

Ying sendiri hanya tersenyum tidka bersalah. "Ehehe... maaf. Aku panik."

Setelah mengatur nafasnya menjadi normal, Fang mengedarkan pandangannya. Ia tidak mengenali tempat ini. Jika firasatnya benar maka saat ini Ying membuat mereka tersesat. "Sepertinya kita tersesat."

"Eh? Benarkah?" Ying melihat sekelilingnya dan benar seperti kata Fang. Sepertinya mereka tersesat. "Bagaimana ini?"

"Kau tidak perlu khawatir." Fang pun membentuk seekor burung dengan jarinya. "Elang bayang." Dan seekor elang pun muncul di hadapan mereka. "Kita sebaiknya terbang kembali ke kemah saja."

"Tapi bagaimana dengan Yaya dan Boboiboy?"

"Tenang saja. Mereka kan bisa terbang, nanti juga pulang sendiri." Ucap Fang santai. Ia menengadahkan kepalanya menatap kumpulang awan cumulonimbus yang siap menurunkan rintik hujan kapanpun. "Dan lagi sepertinya sebentar lagi juga hujan."

Mendengar ucapan Fang, Ying pun mengangguk. Ia naik ke punggung elang tersebut setelah Fang. Awalnya ia berpegangan pada tubuh elang tersebut namun begitu makhluk hasil ciptaan sang pengendali bayang itu terbang dengan cepat Ying memeluk tubuh Fang. Gadis itu memeluk tubuh Fang seolah tubuh pemuda itu adalah pegangan hidupnya.

Fang sendiri hanya dapat terpaku. Seluruh tubuhnya menegang dan berbagai pikiran liar mulai menyelimuti otaknya. Ia tahu kalau saat ini Ying pasti sedang ketakutan tapi jika Fang tidak melakukan sesuatu agar Ying melonggarkan pelukannya, Fang tidak yakin apa yang akan ia lakukan pada gadis itu nantinya. Ia harus mengatakan sesuatu. "Ternyata kau rata ya?"

Seketika Ying melonggarkan pelukannya. Fang merutuki dirinya karena kalimat itulah yang pertama kali terlintas dalam otaknya. Setelah ini pasti Ying akan membencinya lalu akhirnya-

"Aw aw aw aww..."

Ying mencubit pinggangnya dengan kuat, tidak memberi ampun sedikit pun pada Fang. "Apa yang kau katakan hah?"

"MAAF MAAF... Aku hanya bercanda ok? Lepaskan cubitanmu kalau tidak aku tidak bisa mengendalikan elangku."

Benar saja seperti ucapan Fang, elang yang mereka tumpangi kehilangan kendalinya dan mereka pun terbang terombang-ambing. Ying kembali mengeratkan pelukannya tanpa ia sadari. Sedangkan Fang sendiri terus berdoa dalam hatinya agar ia dapat mengendalikan setan apapun yang ada di dalam dirinya.

Oh tuhan... tolong aku.

oOo

Setelah sampai di perkemahan, Ying segera turun dari elang bayangnya dan berjalan menjauh dari Fang. Gadis itu sepertinya masih marah gara-gara kejadian tadi.

Fang menghela nafasnya. Percuma saja ia berbicara pada Ying saat ini, ia pasti akan diacuhkan. Lebih baik ia menemui guru pengawas untuk melaporkan kejadian yang telah terjadi padanya. Mungkin setelah itu ia dapat menemui Ying dan meminta maaf pada gadis itu –walaupun ia sendiri tidak yakin apa Ying mau memaafkannya atau tidak.

Kejadian tak terduga lainnya terjadi. Tepat setelah ia melaporkan kejadian tadi, hujan lebat tiba-tiba turun. Niatannya untuk menemui Ying dan meminta maaf padanya terpaksa harus ditunda terlebih dahulu. Apalagi hujan ini cukup lebat dan tak ada tanda-tanda kalau Boboiboy dan Yaya kembali ke kemah.

Fang terdiam di tendanya. Pikirannya melayang pada gadis dengan kacamata bulat yang selama setengah tahun terakhir berhasil mencuri perhatiannya. Gadis yang telah merebut apa yang Fang sebut sebagai cinta dalam dirinya. Ia tersenyum miris begitu mengingat kalau dulu ia sempat berharap gadis itu akan melihat dirinya seperti ia melihat gadis itu namun begitu ia ingat seorang pemuda dengan rambut coklat berantakan, Fang tahu kalau ia mungkin tidak memiliki kesempatan.

Kadang Fang selalu berkhayal bagaimana kalau pria itu adalah dirinya. Bagaimana kalau pria yang mengusak rambut Ying dengan sayang saat upacara kelulusan itu adalah dirinya. Bagaimana kalau orang yang mencuri perhatian Ying adalah dirinya. Apa mungkin ia tidak akan semenyedihkan ini? Hanya dapat berkhayal dan tidak bisa melakukan apapun.

"F-Fang..." tanpa diduga suara kecil Ying memanggilnya dari luar tenda. Sepertinya Fang melamun terlalu lama hingga ia tidak sadar kalau hujar sudah reda.

Fang keluar dari tendanya dan melihat Ying menatapnya dengan ekspresi takut sekaligus khawatir. "A-ada apa?" tanya Fang panik. Tidak biasanya Ying bersikap seperti ini di hadapannya.

"Yaya dan Boboiboy belum kembali."

"Apa guru-guru sudah melakukan pencarian?" tanya Fang. Ying mengangguk kecil. "Kalau begitu kita juga harus ikut mencarinya." Ajak Fang dan Ying kembali hanya menganggukan kepalanya.

Ia, Ying, Gopal dan beberapa senior membantu para guru untuk mencari keberadaan dua sahabatnya itu. Sejujurnya ini sedikit aneh bagi Fang. Ia tahu kalau Boboiboy tidaklah sebodoh itu, selain itu Yaya juga bersamanya jadi tentu saja mereka tidak akan mungkin tersesat begitu saja di hutan tanpa bisa kembali. Selain itu kedua orang itu dapat terbang bebas. –atau mungkin... mereka lupa kalau mereka bisa terbang?

Cukup lama mereka mencari-cari keberadaan Boboiboy dan Yaya akhirnya Fang mendengar suara khas Boboiboy memanggil-manggil namanya dan semua teman-temannya. Dengan segera Gopal berlari ke arah Boboiboy dan memeluk pemuda dengan topi jingga itu erat dan penuh dramatisasi disana sini. Disisi lain ia juga melihat Ying berlari ke arah Yaya dan memeluk sahabatnya itu.

Tapi tunggu dulu! Apa itu jaket Boboiboy? Kenapa jaket pemuda itu ada pada Yaya? Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi di antara Boboiboy dan Yaya.

"Hei Boboiboy, kenapa jaketmu ada pada Yaya?" tanya Fang penasaran yang ditimpali oleh Gopal.

"Iya. Kenapa jaketmu ada pada Yaya? Apa terjadi sesuatu?"

Seolah ingat akan sesuatu, Boboiboy melirik tubuhnya sendiri. Walau sekilas, Fang dapat melihat semburat merah di pipi pemuda itu. Memang terjadi sesuatu.

"Bukan apa-apa. Tadi hujan jadi aku berikan saja jaketku padanya."

"Kau yakin tidak terjadi apapun selain itu? Wajahmu merah loh! Apa jangan-jangan..."

"Sudahlah. Sebaiknya kita segera kembali." potong Boboiboy. Ia segera berjalan menjauh dan mengikuti kemana guru pengawas akan membawa mereka kembali ke tempat perkemahan.

Mungkin Fang harus menanyakan hal ini langsung pada Boboiboy.

oOo

Malam harinya, mereka menyalakan api unggun. Siswa laki-laki dan perempuan kembali dipisah. Semua murid berkumpul melingkar dan saling berbagi pengalaman saat melakukan permainan checkpoint tadi. Hampir semua murid laki-laki menggoda Boboiboy yang tadi tersesat bersama Yaya. Mereka semua memaksanya menceritakan apa terjadi 'sesuatu' saat ia bersama dengan gadis berhijab pink itu namun Boboiboy terus mengelak hingga para senior yang mulai merasa bosan memutuskan untuk mengakhirinya.

Acara berbagi pengalaman malam itu berubah mencari acara bercerita cerita hantu. Satu persatu bercerita pengalaman seram mereka namun Fang sama sekali tidak peduli. Matanya terfokus pada sosok gadis berkacamata bulat yang duduk tak begitu jauh darinya. Tempatnya duduk adalah tempat yang pas bagi Fang untuk melihat Ying dengan jelas tanpa ketahuan kalau ia tengah memperhatikan gadis itu oleh siapapun.

Fang memang tidak tahu apa yang dibicarakan kelompok siswi perempuan tapi sepertinya mereka begitu menikmatinya. Ying bahkan sampai tertawa lepas. Manis.

"Baiklah! Pemenang kontes cerita hantu ini adalaaaah... GOPAL!" teriakan salah seorang senior membangunkan Fang dari lamunannya.

Gopal melompat-lompat senang dan memeluk erat sang senior, membuat pria malang itu sesak nafas. Setelah sang pemuda berketurunan india itu melepaskannya, sang senior pun memerintahkan semua siswa untuk membereskan api unggun karena sudah mau memasuki waktu tidur.

Setelah semuanya beres, akhirnya semua murid masuk ke tenda masing-masing untuk tertidur. Salah satu rekan satu tendanya langsung memasuki alam mimpi begitu kepalanya menyentuh bantal, satu rekan lainnya mengambil makanan ringan dari tasnya dan satu lagi mengambil PSP dan bermain sambil tiduran. Fang sendiri tidak bisa tertidur dan tidak tertarik melakukan apapun.

Fang benar-benar tidak bisa tertidur. Mungkin ia harus sedikit berjalan-jalan terlebih dahulu baru ia bisa tidur. Ia pun memutuskan untuk keluar dari tendanya dan seolah takdir sedang bermain-main dengannya, di saat yang bersamaan sosok seorang gadis dengan kacamata bulat khasnya pun keluar dari tendanya yang berada di seberang.

"Fang?"

"Ying?"

"Apa kau tidak bisa tidur?" tanya Ying.

"Begitulah. Kau sendiri? Apa kau juga tidak bisa tidur?"

Ying menangguk sebagai jawan iya. "Kau mau jalan-jalan?"

Setelah Fang menangguk setuju, mereka berdua pun berjalan-jalan bersama tanpa arah. Karena mereka kerap kali berpapasan dengan senior yang selalu menanyakan 'Kalian mau kemana?' akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke dapur umum. Mungkin meminta secangkir susu jahe hangat dapat membuat pikiran mereka tenang dan akhirnya mereka pun bisa tidur dengan nyenyak.

"Kalian berdua begitu manis. Pergi kemari bersama-sama hanya untuk meminta segelas susu jahe. Apa kalian janjian dulu?" goda guru pengawas yang bertugas di dapur umum. Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti pada mereka berdua.

Jika boleh Fang ingin mengatakan kalau ya, mungkin tanpa sadar mereka sudah saling sepakat untuk mengalami masalah tidur dan akhirnya memutuskan untuk bertemu dan berbagi secangkir susu jahe hangat. Tapi itu hanya angan-angan yang dihancurkan oleh Ying sendiri. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.

"Tidak. Kami hanya kebetulan saja berpapasan."

"Waah... sayang sekali. Kupikir kalian berpacaran, padahal kalian kelihatan cocok. Kalian berdua mengingatkan ibu saat ibu masih bersekolah dulu." Ucapan guru wanita itu sontak membuat Fang dan Ying tersedak. Wajah mereka memerah dan mereka saling bertatap muka. Ying dengan cepat memotong kontak mata.

Saat itu entah mengapa Fang berharap kalau ia masih memiliki kesempatan untuk menjadikan kata-kata sang guru pengawas tadi menjadi kenyataan. Tapi seketika memori dalam otakna menuntun Fang pada sebuah kenyataan bahwa Ying sudah memiliki seorang pemuda yang ia cintai. Dan pemuda itu bukan dirinya.

"Ibu tinggal dulu ya? Kalau sudah habis gelasnya simpan saja di meja sana." ucap sang guru pengawas dan ia pun pergi meninggalkan Fang dan Ying yang masih berada dalam keadaan canggung.

Ying masih menolak untuk menatapnya. Ini membuat Fang merasa tidak nyaman. Ia harus melakukan sesuatu untuk mencairkan suasana canggung ini.

"Ying, maaf soal yang tadi siang."

Setelah beberapa saat, Ying pun kembali menatap Fang. Gadis itu terlihat kebingungan. "Tadi siang? Memang kau melakukan apa?"

"Um... kau tidak ingat?"

Ying berpikir sejenak, namun tak lama gadis itu pun mengingatnya. Wajahnya kembali memerah namun kali ini ia justru kembali mecubit pinggang Fang.

"Aw aw aw aw! Apa yang kau lakukan?!"

"Pembalasan untukmu karena kau seenaknya."

Ying pun kembali membuang mukanya, namun kali ini Fang tahu kalau mereka tidak dalam keadaan canggung lagi. Dan Fang juga tahu kalau Ying sudah memaafkannya.

"Hmm... tapi aku tidak menyangka kalau kau benar-benar akan serata itu." ucap Fang dengan seringai jahil menghiasi wajah tampanya. Entah apa yang memicunya tapi Fang ingin kembali lagi bercanda dengan gadis di sampingnya ini.

Mendengar itu Ying kembali menyerangnya. Kali ini gadis itu memukul-mukulnya. Tidak seperti saat ia mencubit Fang, kali ini sebuah senyum menghiasi wajah manis Ying. Mereka saling bercanda gurau, sama seperti saat dulu Fang membantu Ying dengan projectnya dan Fang benar-benar menikmatinya.

Untuk kali ini Fang berharap kalau hari ini tidak pernah berakhir agar ia dapat terus bersenang-senang dengan Ying tanpa perlu berpikir kalau ada orang lain dalam hati Ying.

oOo

TBC

oOo

A/N: Sorry it took me so long to update this. Work has been stressing me out lately, and I can't even write anything. Baru kemaren-kemaren saya bisa ngetik lagi dan saya masih agak-agak gak nyaman ngetiknya jadi gak bisa nulis panjang-panjang (padahal niatnya pengen jadi panjang banget). Anyway, ini chapter barunya. I hope you all like it.

Anyone know where this scene take place? Yup! That's right. Setting ini diambil dari fanfic saya yang terdahulu. Smaller. Entah kenapa pengen aja ambil scene yang itu.

Seperti biasa, terima kasih bagi semua orang yang mau membaca fanfic saya ini.

For last

If you don't mind

Review please?