Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama
Rate : T
Genre : Romance, Humor
Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please
DON'T LIKE DON'T READ
CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon
Cast lain menyusul
.
Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!
.
.
Anneyong,
Hahaha...ternyata saya cepat sekali baliknya yah, bikin kuenya belum mulai ya adek-adek, jadi kesempatan saya pergunakan buat ketik ff ini. Saya ngetiknya kayak kesetanan jadi maklum saja kalo banyak typo. Tolong dikoreksi ya...jgn lupa tinggalin jejak eoh, gomawo buat yang udah ngasih review dari chap sebelumnya...*bow
Happy reading^^
.
.
SUMMARY
Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?
.
.
Previous Chap
Yunho tampaknya sudah tak sabar lagi menghadapi tingkah rewel sanderanya itu. Kali ini tak dihiraukannya rengekan manja sicantik yang ingin melepaskan hajatnya, sampai...
Cuurrrrr~
"YAH MENGAPA KAU SEENAKNYA BUANG AIR DISANA? AHHHHH"
.
.
.
.
LOVE ME?
.
.
.
.
"AHJUSSI BAGAIMANA SIH! MENGAPA BISA TERLAMBAT MENJEMPUT JOONGIE!"
"Mi-mian H-Heenim ah, jalanan seoul sangat macet sekali, m-mian nyonya"
"Hiks...Wonnie ottokhe, uri Joongie ottokhe Wonnie ah, hiks...uri Joongie tidak pernah keluar rumah tanpa ditemani, hueee..."
"Umma uljima, Sun Hee eonnie sedang mencarinya, siapa tahu uri Joongie bermain ditempat temannya, umma uljima eoh? nanti penyakit umma kambuh lagi"
"Aniya Youngie, umma tidak bisa tenang, hiks...kau tau sendiri uri Joongie tidak pernah keluar rumah, biasanya setelah bubar sekolah uri Joongie selalu pulang langsung kerumah, temannya cuma Junsu saja, hiks...andai Joongie tidak berada dirumah temannya itu ottokhe? hueee..."
"Hhhh...itulah sekarang Sun Hee eonnie tengah mencarinya umma, uljima eoh?"
"ANI!"
Soo Young hanya dapat mendesah berat tatkala bujukannya untuk menyuruh Heechul sang umma berhenti menangis tak digubris sama sekali oleh namja cantik tersebut. Heechul yang sangat khawatir akan nasib anak namja satu-satunya lantaran tak kunjung pulang hingga sekarang hari sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Han ahjussi supir keluarga Kim yang bertanggung jawab akan hilangnya Kim Jaejoong anak bungsu kesayangan majikannya itu hanya tertunduk lemas melihat Heechul yang histeris tak berhenti menangis sedari ia pulang membawa kabar jika Jaejoong tidak berada disekolah. Sementara Kim Siwon namja tampan yang menjadi kepala keluarga tersebut hanya dapat memeluk menenangkan istrinya membantu Kim Soo Young putri kedua mereka. Namja tampan itu hanya dapat menghela nafas berkali-kali melihat Heechul menangis meraung-raung, bahkan terkadang namja cantik itu memukuli dada bidangnya karena merasa kesal kepadanya yang dianggap tak dapat melakukan apa-apa.
"Huuu...Wonnie ah, lakukan sesuatu, telepon polisi segera, aku tak mau uri Joongie kenapa-napa...dia anakku satu-satunya, hiks...aku bertaruh hidupku demi mendapatkannya, hiks...kalau dia diculik ottokhe Wonnie ah, aku...aku..."
"UMMA!/CHULLIE!"
Siwon dan Soo Young bersamaan menjerit tertahan saat tubuh rapuh Heechul akhirnya ambruk tak sadarkan diri dipelukan Siwon. Baik Siwon maupun Soo Young paham benar perasaan Heechul saat ini. Jaejoong memang anak kesayangan Heechul, dia anak namja satu-satunya sekaligus anak kandung satu-satunya dari pasangan Heechul dan Siwon. Jaejoong memang memiliki dua noona, Sun Hee dan Soo Young noona. Namun keduanya merupakan anak angkat dari pasangan suami istri sesama jenis itu.
Keinginan Heechul yang begitu kuat untuk memilki seorang anak yang terlahir dari rahimnya sendiri memaksa dirinya mempertahankan janin yang diketahui telah berada didalam rahimnya walaupun dokter mengatakan jika janin tersebut akan membahayakan keselamatan jiwanya saat melahirkan nanti. Keinginannya untuk mempertahankan kandungannya semakin besar saat mengetahui bayi yang berada dikandungannya itu berkelamin namja, karena sebelumnya kedua suami istri itu telah mengangkat dua anak perempuan, Sun Hee dan Soo Young.
Dan disaat melahirkan Jaejoong Heechul sempat mengalami koma selama 3 bulan. Pengorbanan Heechul mendapatkan Jaejoong memang besar, bahkan sangat besar. Hal itu membuat Heechul memperlakukan Jaejoong layaknya anak emas, namun semua anggota keluarga dapat memakluminya termasuk kedua noona Jaejoong, bahkan mereka juga sangat memanjakan adik mereka satu-satunya itu. Tentu saja perbuatan mereka menjadikan remaja usia 17 tahun itu tumbuh dengan pribadi yang tidak mandiri, sangat manja. Bahkan untuk tidur malampun ia harus berada dipelukan Heechul hingga hari menjelang pagi, untuk hal ini Siwon harus merelakan jatah malamnya bersama sang istri cantik.
"Chullie ya sadarlah, aku akan melakukan apa saja agar uri Joongie kembali, sadarlah chagiya" Bisik Siwon ditelinga istrinya penuh cinta sesaat setelah ia membaringkan tubuh ringan Heechul yang digendongnya masuk kekamar mereka. Ia tak sampai hati melihat sang istri yang sering ini begitu menderitanya. Heechul memang tak pernah berpisah dengan Jaejoong sekalipun.
"Appa sebaiknya kita hubungi dokter Park saja, keadaan umma sangat mengkhawatirkan, Youngie takut jantung umma tidak kuat" Youngie tampak khawatir melihat keadaan Heechul.
Namun sepertinya Heechul masih betah tak sadarkan diri, kedua mata indahnya yang menurun kepada Jaejoong tertutup rapat dan terlihat sangat membengkak akibat terlalu lama menangis.
"Appa, apa sebaiknya kita melapor saja kekantor polisi?" Soo Young yang tak kalah khawatir akan keadaan ummanya mendesak appanya untuk melapor ke polisi saja.
"Youngie ah kita tidak boleh gegabah semua ada aturannya, setelah yakin Joongie tidak diketemukan dirumah teman-temaannya baru boleh ditetapkan uri Joongie hilang dan dilaporkan ke Polisi. Untuk sementara ini appa sudah menyuruh bodyguard-bodyguard appa mencari uri Joongie, hhhh...itulah mengapa appa selalu menyuruh Joongie dikawal seorang bodyguard, tapi ia selalu menolaknya"
Siwon sangat menyayangkan sikap keras kepala Jaejoong sewaktu menolak dikawal seorang bodyguard dengan alasan tidak bebas, dan terjadilah hal seperti hari ini, Jaejoong menghilang tanpa satupun yang megetahui dimana keberadaannya. Sebagai pengusaha besar yang memiliki banyak perusahaan pastilah Siwon memiliki banyak bodyguard untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Terkadang persaingan bisnis yang kotor menuntutnya untuk selalu waspada akan keselamatan keluarganya. Dan inilah yang ditakutkannya apabila benar Jaejoong diculik.
"Hiks...Joongie"
"Chullie kau sudah sadar? tenanglah, uri Joongie akan baik-baik saja aku yakin dia bisa menjaga dirinya"
"Ta-tapi bagaiman kalau uri Joongie akan tidur malam nanti Wonnie ah, Joongie harus tidur dipelukanku, hiks..."
"Kuusahakan uri Joongie kembali malam ini juga, dan kau bisa memeluknya Chagi"
"Hiks, bagaimana kalau tidak..."
"UMMAA!/CHULLIE!"
Dan kembali Heechul tak sadarkan diri setelah tak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi kepada anak kesayangannya itu. Pandangannya kembali menggelap dengan sendirinya, kedua telinganya hanya mampu mendengar sayup-sayup suara suami dan putri kedua mereka yang memanggilnya berulang-ulang.
"Appa, ayo cepatlah hubungi dokter Park Youngie takut penyakit jantung umma kambuh lagi, hiks...kasihan umma appa" Soo Young-pun tak dapat menahan isakannya demi melihat tubuh lemah Heechul yang terbaring lemah diranjangnya.
"Arraso Youngie ah, appa segera menghubungi dokter Park, ulijima kau harus kuat jangan membuat appa ikut bersedih, uri Joongie baru beberapa jam saja menghilang" Mau tak mau Siwon ikut frustasi melihat putrinya yang sudah mulai menangis sesenggukan mamikirkan nasib adik dan ummanya sekaligus.
Siwon-pun mulai menekan layar ponselnya guna menghubungi dokter spesialis yang biasa menangani penyakit jantung yang diidap Heechul semenjak terbangun dari komanya setelah melahirkan Jaejoong. Setelah menghubungi Dokter Park Siwon tak lupa menghubungi beberapa bodyguardnya yang diperintahkannya mencari keberadaan Jaejoong. Namun setelah mendapat informasi dari mereka seketika wajah Siwon berubah murung. Sepertinya ia tak mendapat berita bagus. Sementara matahari telah bergulir pertanda senja hampir berganti malam.
.
.
.
.
"Hiks...hiks, ummaaa"
"Yah diam kau bocah! kau yang buang air sembarangan aku yang membersihkannya, mengapa menangis? Sudah diam, dasar manja!"
Bibir hati milik namja dekil itu menggerutu panjang saat dengan terpaksa ia harus membersihkan cairan yang berasal dari benda yang berada diselangkangan Jaejoong yang tercecer dipojokan ruang tengah rumahnya yang memang sudah kotor tersebut.
"Hiks, bukan salah Joongie, Joongie tidak tahu dimana kamar mandi ahjussi, Joongie tidak tahan lagi dan ahjussi sendiri yang menyuruh Joongie pipis dimana saja, hiks...ummaa Joongie mau pulang" Tangis sibibir cherry saat melihat wajah angker namja yang selalu dipanggilnya ahjussi itu.
Tubuh mungil itu meringkuk dibalik sofa panjang yang berada ditengah ruangan sempit tersebut. Kedua lengannya bertautan memeluk kedua betisnya, sedangkan kepalanya disembunyikan diantara kedua lutut yang ditekuknya, ia sangat ketakutan apalagi saat mendengar namja tersebut memaki-makinya sambil mengepel lantai yang terkena siraman air seninya tadi. Dengan demikian lantai yang tadinya kotor terlihat sedikit bersih.
satu jam kemudian...
Jaejoong masih meringkuk dibalik sofa panjang tempatnya bersembunyi sejak tadi, sedangkan bibirnya telah berhenti mengeluarkan tangisannya. Ditolehnya kearah namja kucel penculiknya, bibir hati itu tengah sibuk menyesap nikmat asap rokoknya diatas sebuah sofa butut yang berada berseberangan dengannya.
"Ahjussi..." Pemilik mata doe bulat itu memberanikan dirinya setelah sekian lama berdiam diri meringkuk dibelakang sofa tempatnya berlindung dari sorot tajam mata musang si penculik.
Si penculik aka Jung Yunho berpura-pura tak mendengar panggilan bocah malang tersebut. Sementara bibirnya masih terus menyesap asap rokok yang kian mengepul memenuhi ruang sempit apartemennya.
"Ahjussi..."
"..."
"Ahjussi...hiks"
"Yah kau ini, cengeng sekali! Wae? jangan katakan kau ingin buang air lagi"
Akhirnya Yunho menjawab panggilan namja cantik itu, dalam hatinya ia khawatir jika bocah tersebut kembali ingin buang hajat, lebih baik ia cepat-cepat mengetahui maksud bocah tersebut memanggilnya.
"J-Jongie lapar ahjussi, sejak tadi siang Joongie belum makan, hiks..."
"Mwo lapar?" Kekagetan Yunho dijawab Jaejoong dengan anggukan berkali-kali dengan memasang puppy eyes yang membuat wajah Yunho memerah dengan sendirinya. Dalam hatinya ia mengagumi keindahan makhluk Tuhan yang sangat sempurna ini. Sepasang mata doe, kulit seputih dan sehalus pualam, bibir cherry merah menggoda. Namun pikiran tersebut segera dihapusnya cepat-cepat dan menggeleng-gelengkan kepalanya agar khayalannya segera sirna.
"Ahjussi?"
"Eh?"
"Ahjussi kenapa tingkahnya aneh sekali, J-Jongie takut" Melihat tingkah Yunho barusan membuat Jaejoong merasa ketakutan.
"Jelas saja aku menakutkan, dan memang harus menakutkan eoh? aku ini kan penculikmu!" Ketus Yunho tanpa perasaan membuat sicantik kembali meringkuk ketakutan.
"Hiks...Umma Jongie takut, ahjussi menyeramkan" Rengek Jaejoong dari balik sofa yang sangat jelas terdengar ditelinga Yunho.
"Arraso kau lapar kan? aku hanya ada ramen instan kau mau?" tanya Yunho masih dari sofa tempatnya duduk. Namun ia hampir terjengkang kebelakang saat tiba-tiba kepala Jaejoong muncul dari balik sofa tempat persembunyiannya seraya mengangguk-angguk dan mengedip-ngedipkan mata doe besarnya dengan imut.
"YAH KAU MEMBUATKU JANTUNGAN SAJA!"
Pemilik bibir hati itu langsung meloncat kedapurnya saat mata musangnya menatap doe bening yang tengah mengerjap-ngerjap lucu kearahnya. Entah mengapa jantungnya terasa terpacu sepuluh kali lebih cepat saat matanya bertemu dengan mata bening tersebut. Hampir saja rokok yang berada disela bibirnya tertelan karena kagetnya. Yunho berusaha menetralkan detak jantungnya sementara tangannya bekerja memanaskan air untuk menyeduh ramen instan persediaan terakhirnya, sementara puntung rokoknya ia buang sembarangan melalui jendela dapur tempat ia berada sekarang.
"Mmm...mashita, Joongie selalu dilarang makan ramen instan seperti ini oleh umma, akhirnya Joongie bisa mencobanya, hehehe"
"Makan yang benar, sebenarnya berapa sih usiamu? makan masih belepotan begitu" Cibir namja dekil yang kini duduk disebelah Jaejoong yang tengah asyik menyantap ramen instannya. Jaejoong makan dengan lahapnya sehingga kedua pipinya menggembung lucu sedangkan bibirnya belepotan percikan kuah ramen tersebut, belum lagi bibirnya yang selalu sibuk berceloteh membuat namja disebelahnya hanya dapat menggeleng pelan.
"Selesai! huaa kenyangnya, gomawo ahjussi"
"Ehm, bibirmu..."
"Eh? kenapa bibir Joongie ahjussi?"
"Ani, hanya saja...ah sini biar aku bersihkan"
'...'
Deg!
Kembali kedua mata musang itu bertemu pandang dengan tatapan polos kedua doe eyes itu saat jempol tangannya bergerak membersihkan bibir cherry merah yang terasa sangat lembut itu. Sejenak Yunho merasa waktu berhenti, kedua matanya seakan tersedot kedalam pesona dua mata indah tersebut. Namun lamunannya segera terbuyar oleh suara halus yang berasal dari pemilik cherry merah didekatnya.
"Ahjussi..."
"Ne"
"Umm...ahjussi tidak mandi?"
"Yah kau ini!"
Demi apa pemirsah, Yunho tiba-tiba langsung menjauhkan dirinya dari sicantik yang selalu berkata jujur kepadanya. Dengan memasang wajah dinginnya namja tinggi itu langsung melangkahkan kakinya kearah dapur yang terdapat jemuran handuk dan segera menyambar handuk tersebut lalu menuju kesebuah pintu yang ternyata adalah pintu kamar mandi yang tidak diketahui Jaejoong sedari tadi jika kamar mandi apartemen itu terletak diruang tengah itu sendiri.
Namun baru beberapa detik berada didalam kamar mandi sosok tinggi tersebut terlihat keluar kembali dengan pakaian yang masih lengkap. Ia melangkah menuju kearah Jaejoong yang tengah kebingungan melihat tingkahnya barusan. Setelah berada dijadapan Jaejoong Yunho malah menyeret pergelangan bocah tersebut agar mengikutinya masuk kedalam kamar mandi.
"Yah ahjussi mengapa Joongie ikut diseret kesini?" Tanya Jaejoong heran saat ia telah berada didalam kamar mandi bersama ahjussi penculiknya.
"Jika kau kutinggal sendiri dan aku mandi disini, apakah aku bisa menjamin kau tak akan melarikan diri hah?"
"T-tapi J-Jongie..."
"Ah sudahlah, bukankah sedari tadi kau menyindir bau badanku terus? Menyingkirlah kalau tidak mau terkena basah!"
"T-tapi...kyaaa! ahjussi mengapa seenaknya membuka baju dihadapan Joongie"
"Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau malah melihatku telanjang, berbaliklah! lagipula kita kan sama-sama namja apa yang kau takutkan, huh!"
"T-tapi J-jongie malu ahjussi..."
"Yah berbaliklah!
Bentak bibir hati itu membuat sicantik yang tengah tercekat melihat pemandangan tak biasa dihadapannya itu cepat-cepat membalikkan tubuhnya yang masih terbungkus seragam sekolahnya. Yunho tak menyadari jika sicantik yang sudah membalikkan badannya itu wajahnya tengah bersemu merah karena melihat tubuh polosnya sebelum ia membalikkan badannya tadi.
"Aku sudah selesai, sekarang giliranmu"
'...'
"Hey, kau dengar tidak? aku sudah selesai sekarang giliranmu mandi, mandilah dan jangan menghabiskan air!"
'...'
"Yah! aishh bocah ini, lama-lama bisa gila aku dibuatnya, kubilang berbaliklah"
"A-ahjussi sudah memakai baju?" Tanya Jaejoong takut-takut tanpa memalingkan sedikitpun wajahnya. Tampakanya ia sangat ketakutan jika harus melihat pemandangan polos dari tubuh Yunho kembali.
"Ne, aku sudah memakai handuk, kau tidak usah takut cukup sekali kau telanjang dihadapanmu"
"Arraso"
Jaejoongpun serta merta membalikkan tubuhnya dengan perlahan, saat menemukan sosok yang berdiri dihadapannya sekarang kedua doe eyes itu tak berkedip menatap wajah ahjusi yang masih dibasahi tetesan-tetesan air mandinya. Sedikit kaget karena mata doe itu tak lagi melihat namja kucel bin dekil yang berbau asem seperti sebelumnya. Ahjussi si penculik tampak sangat memukau dan sangat bersih.
"Mandilah, mengapa malah menatapku seperti itu hah?"
"Umm..." jajejoong mengangguk cepat dan langsung membuang muka tak ingin menatap mata musang itu lebih lama.
"Handuknya akan aku antarkan, kau mandilah dulu setelahnya kupinjamkan kemeja bersihku, itupun kalau kau mau memakainya"
"Arraso ahjussi"
Yunho segera keluar dan menutup pintu kamar mandi meninggalkan Jaejoong didalamnya sedangkan ia langsung menuju kelemari pakaiannya yang acak-acakan mencari baju untuknya dan untuk dipinjamkan kepada Jaejoong nanti, khusus baju untuk Jaejoong ia harus memilih dengan sabar baju apa yang pantas dikenakan Jaejoong, ia takut Jaejoong akan menolak memakai bajunya karena lusuh.
Akhirnya pilihannya jatuh pada kemeja kotak-kotak berlengan panjang untuk mengantisipasi jika Jaejoong kedinginan dimalam hari. Sedangkan ia sendiri pilihannya jatuh pada kaos oblong hijau dan celana pendek selutut. Rambutnya yang sedikit gondrong disisir rapi kebelakang, ahjussi penculik ini sudah tampak lebih rapi sekarang.
Tak lama pintu kamar mandipun terbuka menampakkan sosok bening putih yang terbungkus handuk dari dada hingga kepaha atasnya. Dengan menundukkan wajahnya Jaejoong melangkah dari pintu kamar mandi menuju kearah Yunho yang sudah rapi duluan.
Glek~
Saat tubuh putih mulus itu sudah berada dihadapannya Yunho hanya dapat menelan salivanya yang terasa akan segera meleleh keluar. Untung saja handuk yang dipakai Jaejoong menutupi dadanya cara yang tak lazim bagi seorang namja bila memakai handuk. Seorang namja biasanya memakai handuk sebatas pinggang hingga kepangkal pahanya. Tidak seperti Jaejoong saat ini yang memakai handuk menyerupai yeoja membuat Yunho yang melihat pemandangan menggiurkan itu selalu menelan salivanya terus-menerus.
"Ahjussi pakaian Joongie mana? katanya ahjussi akan meminjamkan Joongie" Tanya Jaejoong membuyarkan pikiran Yunho pada tubuh mulusnya saat itu.
"Ah iya, ini pakailah" Yunho menyodorkan kemeja yang sudah dipilihkannya untuk Jaejoong dan segera disambut Jaejoong dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"Gomawo ahjussi"
"Berpakaianlah didalam kamar ummaku, dan kau boleh tidur disana, kamar ummaku adalah ruangan satu-satunya yang rapi di apartemenku ini dan kau boleh memakainya" Jawab bibir hati itu sembari menunjukkan letak kamar ummanya berada.
"Arraso ahjussi"
"Setelah itu langsunglah tidur...hari sudah malam"
"Ne" Jawab Jaejoong singkat dan berlalu masuk kedalam kamar yang ternyata cukup rapi itu.
.
.
.
"Wonnie, ottokhe? apa Joongie sudah ditemukan?" Raut cemas namja cantik itu yang kini sudah terpasang selang infus di pergelangan tangannya lengkap dengan selang oksigen yang berada dilubang hidungnya. Dokter Park tak mau mengambil resiko dengan keadaan Heechul yang tengah panik saat itu. Meski tidak dirawat dirumah sakit Heechul tetap menjalankan perawatan intensive dirumahnya, hal yang sudah biasa Heechul jalani selama ini.
"Sun Hee sudah menelponku tadi, dan Joongie tidak berada dirumah Junsu, sekarang ia tengah menuju kantor polisi ia akan segera melaporkan kehilangan uri Joongie karena para suruhan kita-pun tak ada yang menemukannya"
"Nae Joongiee, hiks...Wonnie ah, ini sudah tengah malam seharusnya ia sudah berada dipelukkanku waktunya ia tidur, hiks...lakukan sesuatu Wonnie ah" Tangis Heechul kembali.
"Chullie ah, semua sudah kuserahkan kepada Sun Hee anak tertua kita, jika aku ikut pergi menyusulnya lalu siapa yang akan menjagamu disini? Dirimu juga penting bagiku Chullie ah"
"T-Tapi..."
"Ssstt, uljima kau harus yakin uri Joongie bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak akan jatuh ditangan orang yang tak bertanggung jawab, kita harus yakin itu" Siwon memeluk istrinya dan meyakinkan Heechul agar namja tersebut kuat.
"Joongie mianhe, maafkan umma tidak bisa memeluk Jongie malam ini, hikss" Tak lama Heechulpun tertidur dipelukan Siwon, efek obat penenang yag diberikan dokter Park ternyata masih berpengaruh kuat didalam tubuhnya.
sementara...
"Ummaaa"
Tubuh kurus itu bergerak bolak-balik tak tenang diatas ranjang kamar sempit yang tentu saja tidak senyaman kamarnya sendiri. Jaejoong yang sudah terbalut kemeja kebesaran milik Yunho tak dapat memicingkan matanya sama sekali. Pikirannya tertuju pada sosok cantik yang tengah kalut memikirkan keberadaannya sekarang.
"Aishh, bego sekali...mengapa tidak sedari tadi ya..." Jaejoong menepuk jidatnya dan mengeluarkan benda yang berada didalam tas sekolahnya yang sudah dibawanya masuk kekamar tersebut. Benda tersebut ternyata ponsel berikut chargernya. Buru-buru dichargenya ponsel yang sedari siang tadi sudah mati, dalam hatinya ia bermaksud untuk menghubungi ummanya bila ponselnya sudah bisa dipakai kembali.
"Ummaa bogoshippo, Joongie ingin dipeluk umma, hiks..."
"Belum tidur?" Tiba-tiba suara bass terdengar dari ambang pintu yang sudah terbuka, Yunho bermaksud mengecek keadaan Jaejoong.
'...'
Tak ada jawaban, hanya saja sorot tajam mata musang itu mendapati bahu Jaejoong yang memunggunginya bergetar keras tanda ia tengah menangis. Namun tak terdengar sedikitpun isakan Jaejoong. ternyata susah payah ia menahan isakannya agar tak terdengar ditelinga sang ahjussi penculik. Ia sudah bosan dibentak lagi jika ia ketahuan tengah menangis.
Perlahan kaki panjang itu mendekat dan duduk dipinggir ranjang dan mendekatkan wajahnya agar dapat melihat raut wajah Jaejoong saat itu. Sedikit terkesiap saat menyadari namja cantik itu ternyata hanya memakai kemeja atasannya saja yang mengekspos bebas setengah dari paha mulusnya. Kembali bibir hati itu hanya dapat menelan salivanya.
"Kau menangis? wae?" Tanya bibir hati itu hati-hati.
"Hiks...aniya"
"Kau rindu keluargamu?"
"Ne" Jaejoong menjawab singkat seraya menganggukkan kepalanya. Kini isakannya bertambah keras terdengar.
"Mianhe, aku terpaksa melakukannya, jeongmal mianhe" Sesal Yunho dengan sungguh-sungguh. Ia bukanlah orang yang jahat, tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menculik anak orang seperti ini.
'...'
"Katakanlah apa yang bisa aku lakukan agar kau berhenti menangis, jebbal jangan menangis, aku akan tambah merasa bersalah jika begini"
"Joongie tidak bisa tidur jika tidak dipeluk umma, hiks...ummaa"
"Mwo?"
"Joongie ingin dipeluk, hiks..."
"Dipeluk?"
"Ne, hiks..."
Glek~
"Arraso, biar aku yang memelukmu malam ini"
.
.
.
tbc
review otte
twitt: peya_ok
