Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

Cast lain menyusul

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

Anneyong,

No curcol, langsung aja

Happy reading^^

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

"Mwo? b-bukankah..." mendadak wajah tampan dan imut Changmin sedikit terkesiap saat melihat foto seorang yang tak asing dilayar kaca. Segera diposisikannya kembali jempol kakinya kearah televisi kali ini ke tombol volume agar dapat mendengar jelas narasi yang berhubungan dengan foto tersebut.

Saat ini keluarga Kim Siwon telah melaporkan dan mengerahkan seluruh aparat kepolisian kota Seoul berhubungan dengan hilangnya putra semata wayang mereka. Konglomerat nomor satu di Seoul ini juga berencana akan menuntut seberat-beratnya pelaku penculikan atas putra semata wayang mereka yang hilang sejak sepulang sekolah kemarin siang.

Adapun ciri-ciri fisik Kim jaejoong putra Kim Siwon dan Kim Heechul tersebut sebagai berikut, Kim Jaejoong berusia 17 tahun, memiliki kulit putih, bermata besar, berambut hitam pekat memiliki tahi lalat dibawa mati kirinya dan terdapat tanda lahir dileher atas bagian kiri. Sedangkan pakaian yang dikenakan terakhir adalah seragam sekolah dari Toho Internasional School. Demikian diharapkan kerja sama seluruh warga agar dapat membantu pihak kepolisian memberi informasi yang berhubungan dengan anak tersebut.

MMPPHHSSTTT~

Dan seluruh nasi goreng yang berada didalam mulut Changmin-pun tersembur keluar dengan suksesnya. Wajah-nya yang tadinya berkulit coklat terang berubah memutih setelah mendengar dan menyaksikan siaran langsung berita tersebut.

"Y-Yunho hyung...tamat riwayatmu"

.

.

.

.

LOVE ME?

.

.

.

.

Yunho mengajak Jaejoong berjalan menyusuri keramaian jalan pinggir kota Seoul pagi hari itu. Matahari bersinar dengan sangat cerahnya karena memang saat itu telah memasuki musim panas. Tampak langkah Jaejoong yang tergopoh-gopoh untuk menyamai langkah lebar Jung Yunho yang tentu saja berada beberapa langkah didepannya.

Sesekali namja cantik itu mengusap keringat di dahinya, bibirnya sedari tadi memberengut karena capek yang dirasakannya. Sedari rumah Yunho mengajaknya berjalan kaki tanpa berhenti untuk beristirahat sedikitpun. Naik taksi? jangan harap, bisa untuk makan sehari saja Yunho sudah sangat bersyukur sekali, jangan harap dapat merayunya untuk naik taksi, tak akan pernah.

"Ahjussi, jalannya sampai kapan? mengapa kita tidak naik taksi saja ahjussi? Joongie capek sekali" gerutu Jaejong ketika mereka berjalan melewati deretan ruko-ruko dipinggir jalan besar. Entah berapa lama lagi tempat yang dituju ahjussi penculiknya itu.

"Diamlah tidak usah cerewet, bukankah kau sudah makan sebelumnya? tenagamu tak akan habis oleh karena berjalan seperti ini, lagian baerjalan seperti ini menyehatkan badan, cerewet sekali" jawab Yunho ketus.

"Ck, ahjussi ini pelit sekali, kalau tidak sanggup membayarnya katakan saja tidak usah pakai alasan kesehatan, menyebalkan!" balas Jaejoong tak kalah sengitnya dan ditanggapi dengan kecuekan Yunho yang menyebabkan bibir cherry itu terus mengerucut sepanjang perjalanan mereka.

Akhirnya setelah melalui satu jam perjalanan kaki mereka tibalah Yunho dan Jaejoong disudut pasar rakyat (seperti pasar tradisional) kota Seoul. Mata doe Jaejoong bergerak liar mencari-cari benda yang sedari tadi ada didalam pikirannya namun tak berhasil sama sekali. Yah ia mencari keberadaan mesin ATM disana atau mencari bangunan Bank tempatnya menabung namun pemandangan yang dilihatnya hanyalah kesibukan para buruh-buruh kasar pasar yang menaik dan turunkan karung-karung besar dari dalam atau keatas truk pengangkut.

"Ahjussi, mana ATM-nya? bukankah kita akan mengambil uang yang ahjussi perlukan?" heran Jaejoong saat dilihat dengan cueknya Yunho menyingsingkan lengan panjang kemeja kotak-kotaknya menjadi terangkat sebatas sikunya.

"Nanti setelah aku bekerja dulu, kau duduklah disini tidak usah macam-macam dan jangan mencoba untuk melarikan diri, arra?"

"M-Memangnya ahjussi mau kemana?" mata doe bulat itu menatap wajah tampan yang dihiasi kumis dan jambang yang tumbuh tak beraturan didepannya dengan polos. Jaejoong sangat takut ditinggal karena dilihat disekelilingnya hanya ada buruh-buruh yang bertampang seram, tak sedikit dari mereka yang menatapnya heran, untung saja ia memakai topi untuk menyamar agar tak ada yang mengenalinya.

"Aku harus bekerja dulu, kau duduklah...secepatnya kita akan melanjutkan perjalanan karena umma-ku tak dapat menunggu lama, otte?" jawab Yunho tegas sehingga Jaejoong tak berani lagi membantahnya.

"N-Ne Joongie akan tunggu disini saja" jawab Jaejoong pelan dan mendudukkan dirinya disebuah bangku dipinggir sebuah toko kecil.

Sudah sekitar 30 menit Jaejoong menunggui Yunho yang ternyata ikut bergabung bersama buruh-buruh lainnya mengangkat dan menurunkan barang-barang dari truk pengangkut. Sedikit merasa kagum saat melihat bagaimana Yunho bekerja. Namja tersebut seakan tak pernah merasa lelah sedikitpun kendati harus mengangkat barang-barang berat dipundaknya dan membawanya berjalan kegudang yang letaknya cukup jauh, dan hal itu dilakukan Yunho bersama rekan-rekannya yang lain secara berulang-ulang hingga truk kosong.

Jaejoong tertunduk malu saat dipandangnya dikejauhan Yunho tengah melepaskan kemejanya menyisakan kaos singletnya saja. Itu mungkin disebabkan karena peluhnya yang mulai membanjiri tubuhnya hingga ia merasa sayang jika baju 'andalannya' yang khusus dipakainya hari itu ikut basah bersama tubuhnya. Ia khawatir bocah cantik diujung sana akan protes pada bau tubuhnya jadi ia menggantungkan kemejanya pada tancapan paku yang ada didinding tak jauh darinya saat itu.

"Apa bosan menungguku?" Ujar Yunho yang tengah berjalan kearah Jaejoong berada saat ini. Ia melihat kedua bola mata bundar milik bocah tersebut yang sudah nampak sayu, mengantuk.

"A-Aniya, Joongie hanya merasa mengantuk saja" jawab sicantik itu dengan berusaha menyembunyikan semburat pipinya yang merah saat melihat dada dan perut berotot Yunho yang berkilat oleh peluhnya. Yunho telah melepas singletnya yang basah kuyup oleh keringat.

"Arraso, aku akan mandi sebentar, kau tunggulah" jawab Yunho sambil berlalu dari hadapan Jaejoong.

"Mandi?"

"Ne, aku khawatir kau akan risih dengan bau badanku yang habis bekerja ini jika tidak mandi"

Jawab Yunho enteng seraya melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Jaejoong berada menuju ke kamar mandi umum didaerah pasar tersebut. Sedangkan Jaejoong hanya manggut-manggut bengong, dalam hatinya ia merutuk karena harus kembali menunggu.

Setelah 15 belas menit Yunho telah rapi memakai kemeja kembali, ia tampak segar karena rambutnya yang sedikit panjang itu masih terlihat basah oleh guyuran air mandinya barusan.

"Kajja kita pergi"

"Eh"

Jaejoong sedikit tersentak saat tiba-tiba Yunho menggandeng pergelangan tangannya dan membawanya menjauh dari tempat yang terbilang kotor itu, sangat tak cocok untuk Jaejoong yang berkulit bersih bak porselen. Wajar saja jika banyak pasang mata terutama dari teman sekerja Yunho yang memperhatikan Jaejoong dengan tatapan lapar. Hanya saja Jaejoong terlalu polos untuk mengartikan tatapan lapar tersebut.

Sementara di kejauhan tampak dua orang berseragam tengah memperhatikan gerak-gerik Yunho dan Jaejoong. Mereka sebenarnya sudah memperhatikan Jaejoong sejak sicantik itu duduk disana.

"Ternyata memang itu anaknya, Kim Kaejoong anak Kim Siwon" bisik namja berjidat lebar kepada temannya.

"Ahh, mungkin ini keberuntungan kita untuk mendapat prestasi dan dinaikkan pangkat, hehehe" ujar seorang lagi yang bertubuh tambun yang tengah sibuk mengunyah bakpao kacang merah. Kedua namja ini tengah duduk santai diwarung kopi seberang jalan tempat Yunho dan Jaejoong yang tampak sedang berjalan beriringan bergandeng tangan.

"Tapi kita tidak boleh gegabah, kau lihat mereka tampak akrab sekali, jangan-jangan namja itu ada hubungan khusus dengannya" ujar sijidat lebar kembali.

"Yah! gunakan otakmu jika menganalisa seseorang, jangan hanya memakai jidatmu saja sersan Jidat! mana mungkin bocah sekaya itu mau mengikuti buruh kasar berandal seperti itu jika tidak dipaksa, mungkin dibalik kemejanya ia menyembunyikan senjata tajam untuk mengancam bocah tersebut" sergah si tambun seraya menjitak si jidat lebar.

"Shindong shi, bisa tidak menggunakan kata-kata yang sopan jika berbicara kepada partnermu yang tampan ini?" protes si jidat lebar kemudian.

"Arra-arra, sekarang bagaimana rencana kita selanjutnya" ujar sigendut yang ternyata bernama Shindong.

"arraso, kalau begitu begini saja, pssttt, ssttt...pstt" tampak si jidat lebar membisikkan sesuatu kepada teman disebelahnya, kemudian setelah ia berbisik mereka langsung angkat kaki dari warung kecil tersebut menuju kawasan tempat YunJae berada. Sementara duo YunJae sudah hampir menghilang ditelan keramaian sudut kota seoul dipagi hari menjelang siang itu.

.

.

"Ini 2 juta Won yang ahjussi perlukan, apa Joongie perlu menambahkan lagi? apa kurang?"

"Ani, cukup 2 juta saja, itupun sudah lebih dari cukup, gomawo aku akan segera menyicil untuk membayarnya"

"Membayar? Joongie tidak meminta ahjussi untuk membayarnya, Joongie ikhlas untuk umma ahjussi yang tengah sakit sekarang"

"Ah, a-aniya aku tetap akan membayarnya"

"Hhhh"

"Kajja kita harus segera kerumah sakit"

"Berjalan kaki lagi ahjussi?"

"Ayolah jangan terlalu manja seperti itu, rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari sini, ppali!"

"Aishh, pelit sekali sih..."

Rutuk bibir cherry itu tatkala genggaman erat tangan Yunho menariknya berlalu dari tempat mereka berada sekarang yaitu didepan sebuah bilik mesin ATM. Jaejoong yang sudah menarik 'sebagian kecil' uang jajannya dan dengan keikhlasan hatinya menyerahkan uang tersebut kepada ahjussi yang menculiknya sejak kemarin.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka menyusuri ramainya jalan besar di ibukota negara Korea tersebut. Sesekali Jaejoong menghentikan kaki kurusnya dan memperbaiki letak tas ranselnya yang terasa kian berat saja. Nafasnya terengah-engah lantaran namja tersebut tidak terbiasa berjalan sejauh ini sebelumnya.

"Ahjussi, Joongie haus" eluh Jaejoong pelan seraya menyetop langkahnya kemudian.

"Kau haus, arraso tunggulah disini aku akan kembali" yunho berlari menuju warung kecil dipinggir jalan besar meninggalkan Jaejoong yang tengah kelelahan duduk dibawah pohon rindang dipinggir jalan. Tak lama Yunho kembali dengan membawa dua botol air mineral dan sebungkus permen.

"Ini minumlah dan ini permen agar tenaga-mu tidak cepat habis" Jaejoong menerima air mineral sekaligus permen yang disodorkan Yunho kepadanya dengan senyum sumringah. Cepat-cepat dibukanya botol minuman itu dan meneguk setengah dari isinya dilanjutkan dengan bungkusan permen rasa ceri yang diberi Yunho tadi. Bibir merahnya bergerak-gerak lucu dan karena gerakan mengemut bibir cherry pada permen berwarna merah itu membuat Yunho sedikit menelan salivanya oleh bibir menggoda itu.

"Ottokhe? sudah hilang capeknya? kalau sudah, kajja kita lanjutkan perjalanan, rumah sakit sudah tidak jauh lagi" ajak Yunho kemudian seraya beranjak dari pohon rindang itu.

'...'

Tak ada sahutan dari si bibir cherry membuat semburat heran diwajah Yunho.

"Waeyo?"

"Kaki Joongie sakit akibat terkilir kemarin Ahjussi, kajja naik taksi saja eoh?" eluh Jaejoong yang ternyata memang bukan akting karena setelah diperiksa Yunho pergelangan kakinya memang sedikit bengkak.

"Hhhh...kau tahu, percuma saja kita naik taksi jalannya akan berliku dan jauh padahal rumah sakitnya terletak dibelakang gedung itu, tidak terlalu jauh lagi" jelas Yunho yang mengetahui persis letak rumah sakit tempat ummanya berada.

"Ottokhe ahjussi? Joongie tidak bisa berjalan, hiks..."

"N-ne..uljima kau bisa jalan pelan-pelan saja kan?" Yunho yang tak menyangka Jaejoong akan menangis menjadi kelabakan dan tak enak hati.

"Aniya, Joongie tidak bisa ahjussi, sakit sekali" jawab Jaejoong menggelangkan kepalanya.

"Tidak ada jalan lain, kajja naiklah kepunggungku sekarang, ppali kita tak punya waktu banyak, ummaku harus dioperasi hari ini"

"Umm, arraso ahjussi...hup~"

Dan tanpa berpikir lebih lama lagi Jaejoong menuruti perintah Yunho untuk segera menaiki punggungnya. Tanpa kesusahan Yunho membawa tubuh kecil Jaejoong bergerak dari tempat tersebut menuju rumah sakit tempat ummanya berada.

"Umm ahjussi tidak capek?" tanya Jaejoong saat menyadari Yunho membawanya dengan santai.

"Capek? pekerjaanku mengharuskan aku memikul beban yang berpuluh-puluh kali lebih berat daripada tubuhmu ini" jawab Yunho jujur.

"Umm, ahjussi..."

"Wae?"

"Ahjussi baik sekali setelah diberi uang, awalnya marah-marah dan membentak Joongie terus" pout Jaejoong dari arah atas punggung Yunho, dan kalimat itu sama sekali tidak memancing emosi Yunho kali ini.

"Sudah lebih baik kau diam, sebentar lagi kita sudah sampai, bangunannya sudah kelihatan dari sini" potong Yunho cepat sementara Jaejoong masih sibuk berpout ria lantaran baru saja ia memuji ahjussi itu, eh ia sudah dibentak lagi.

Akhirnya perjalanan YunJae dengan Jaejoong yang berada dipunggung Yunho selama lebih kurang 15 menit berakhir di lobi rumah sakit tempat umma Yunho dirawat. Yunho segera berlari setelah sebelumnya mengantarkan Jaejoong keruang UGD agar kakinya yang bengkak dapat diobati, tentu saja ia tidak mau terus menggendong anak itu.

"Ahjussi ottokheo? apa umma ahjussi sudah dioperasi?" tanya Jaejoong saat Yunho mendatanginya diruang perawatannya saat suster perawat tengah membalut pergelangan kakinya yang bengkak. Untunglah setelah disuntik sakit dikakinya perlahan menghilang, sebentar lagi ia diperbolehkan berjalan, namun tidak boleh terlalu lelah.

"Ne, dokter mengatakan operasi tengah dipersiapkan dan aku telah menitipkan umma kepada perawat, kajja aku akan mengantarmu pulang sekarang" Yunho tampak agak terburu-buru mengajak Jaejoong yang masih dalam perawatan suster menyebabkan tatapan tak senang suster tersebut.

"Mian, bisakah anda membiarkan saya bekerja dengan leluasa? gadis ini perlu perawatan yang teliti, jika tidak bengkaknya akan semakin membesar"

"Mwo?" kali ini giliran YunJae yang terbengong bersama demi mendengar bagaimana perawat tersebut memanggil Jaejoong. Ternyata noona itu menyangka Jaejoong adalah seorang yeoja. Dalam hati Jaejoong, apakah noona itu tidak melihat ia memakai celana seragam sekolahnya? ia memang tidak memakai jas sekolahnya dikarenakan hari yang sangat panas sekali.

Sedangkan Yunho namja itu hanya dapat menahan tawanya dengan susah payah apalagi dilihatnya bibir cherry merah itu semakin maju kedepan.

"Ahh selesai, coba kau berjalan sedikit apakah masih sakit" senyum lega noona perawat setelah menyelesaikan balutan perban di pergelangan kaki Jaejoong.

Jaejoong mencoba berjalan beberapa langkah dan syukurlah sakit pada kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi., memungkinkan ia meneruskan perjalanannya.

Akhirnya setelah membayar biaya perawatannya Jaejoong yang masih bersama ahjussi penculiknya berjalan kearah keluar dari rumah sakit tersebut. Jaejoong masih setia mengenakan topinya, kebetulan juga keadaan Seoul siang itu terik sekali matahari bersinar tepat diatas kepala.

"Hmm, ahjussi bolehkah Joongie meminta sesuatu kepada ahjussi?"

"Meminta apa?"

"Meminta imbalan dari kebaikan Joongie yang meminjamkan uang kepada ahjussi"

"Mwo? kau meminta imbalan eoh?"

Kaget bibir hati itu tatkala mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Jaejoong kembali kekediamannya. Keduanya tengah berjalan meyusuri pertokoan dipusat kota.

"Ne Joongie meminta imbalan, ottokhe?" jawab cherry merah itu enteng.

"Arraso apa itu? aku yakin kau tidak akan meminta uang kan?"

"Ani ahjussi, hanya saja...ehm"

"Hanya saja apa? cepat katakan jangan membuatku penasaran" desak Yunho tak sabaran membuat senyum lucu dibibir cherry itu.

"Ahjussi, Joongie ingin sekali berkeliling kota, ahjussi temani Joongie eoh? jebbal" akhirnya keinginan itu keluar juga lengkap dengan memasang puppy eyes-nya Jaejoong memohon kepada ahjussi penculiknya untuk mengajaknya jalan-jalan terlebih dahulu sebelum 'memulangkannya' kepada orang tuanya.

"Mwo? berjalan-jalan? t-tapi kau harus pulang, sudah terlalu lama aku menculikmu, aku..."

"Juseyo" kini puppy eyes itu semakin membuat ahjussi penculik kalang kabut. Mata doe besar itu Mengedip-ngedip cantik didepannya, siapa yang tahan jika begitu.

"M-Memangnya kau mau kemana?" tanya Yunho kemudian.

"Mollayo, Joongie tidak pernah sekalipun diajak pergi berjalan-jalan, appa sibuk, noona juga mereka sibuk dengan namja chingunya masing-masing sedangkan umma, ahjussi tahu sendiri umma Joongie sakit" raut sedih tampak diwajah seputih susu itu mau tak mau ia kembali mengingat umma-nya yang tengah sakit.

"Arraso, aku akan mengabulkan keinginanmu, kajja kita pergi sekarang" akhirnya Jaejoong melonjak kegirangan atas persetujuan yang mereka buat barusan.

"Ahjussi kajja Joongie ingin kesini dulu, kajja ikut Joongie"

"Yah, bukankah aku yang akan mengajakmu? mengapa kau menyeretku seperti ini" Protes ahjussi bermata sipit tersebut saat dengan seenaknya Jaejoong menarik pergelangan tangannya memasuki salah satu bangunan yang ada dipinggir jalan itu.

.

.

"Ada yang dapat kami bantu? creambath? facial? atau..."

"Noona, tolong rapikan ahjussi ini, apa saja yang diperlukan akan saya bayar semuanya"

"Yah, aku tidak mau!"

"Ahjussi..."

"Ne, ne arraso, hhhh..."

Dengan helaan nafas beratnya akhirnya Yunho pasrah saja saat Jaejoong yang ternyata menariknya kesebuah salon kecantikan menyuruh noona petugas salon untuk merapikan penampilan namja 30 tahun itu. Mulai dari rambut, wajah hingga yang lain yang dianggap perlu. Jaejoongpun harus menunggu dengan sabarnya. Topi masih melekat dikepalanya, ia sama sekali tak berani melepaskannya.

2 jam kemudian...

"Ahjussi? apa ini benar ahjussi yang tadi noona?"

"N-Ne nona, ini namja yang nona bawa kesini tadi, hehehe"

"MWOYA? bisa berubah seperti itu? yah noona hebat sekali!"

"A-Aniya, ternyata tuan ini memang tampan, hehehe"

Jaejoong terlonjak heboh saat mendapati 'perbedaan' wajah ahjussi yang baru saja menyelesaikan perawatannya. Ia tak menyangka sama sekali jika Yunho ahjussi penculiknya itu ternyata setampan ini.

Noona petugas salon yang melayani Yunho barusan tak dapat menyembunyikan semburat merah diwajahnya saat memuji namja yang diakuinya memiliki ketampanan yang luar biasa, apalagi setelah selesai dirapikan rambutnya, dibersihkan wajahnya dari kumis dan jambangnya, dan perawatan yang lainnya.

Menyadari kejanggalan yang ditunjukkan noona petugas salon yang menganggapnya seorang yeoja itu membuat Jaejoong mengerucutkan bibir merahnya kembali. Ia menyadari jika noona itu diam-diam 'naksir' ahjussi penculiknya.

"Ahjussi kajja, Joongie bayar dulu lalu kita pergi dari sini"

Ditariknya pergelangan tangan Yunho dengan possesif keluar dari salon tersebut setelah dilihatnya sebagian petugas salon yang berjenis yeoja itu manatap Yunho yang terbengong-bengong dengan tatapan takjub. Yunho memang sangat tampan, setidaknya kalimat itu yang ada didalam hati Jaejoong sekarang. Tak disadarinya kedua pipinya kembali memerah. (bayangkan yunho jaman sekarang, Jaejoong dijaman awal debutnya)

"Arraso, sekarang kau ingin jalan-jalannya dimulai darimana?" tanya Yunho setelah keduanya kembali menyusuri pelataran toko-toko.

"Makan dulu, Joongie lapar..."

"Arraso, kau ingin makan dimana?" tanya bibir hati itu kemudian.

"Ahh disana saja ahjussi, Joongie ingin makan junk food sepuasnya karena Joongie selalu dilarang jika ingin makan disana, kajja"

"Hhhh...ne"

Akhirnya bagai kerbau yang dicocok hidungnya ahjussi yang sekarang sudah berubah menjadi 'sangat' tampan itu hanya menuruti saja keinginan makhluk polos bersamanya. Tentu saja karena ia telah berjanji untuk memenuhi keinginan bocah tersebut karena sudah meminjamkannya uang.

Tak lama berselang Jaejoong kelihatan sudah kekenyangan karena 3 potong ayam goreng dan sebuah burger telah masuk kedalam perutnya barusan. Yunho yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, dalam hatinya ia sangat bersalah kepada keluarga bocah itu yang menunggu berita tentang Jaejoong dengan cemas hati.

Yunho dan Jaejoongpun meneruskan perjalanan mereka dengan menumpang kereta api bawah tanah menuju ke Lotte World. Jaejoong sempat mengatakan kepada Yunho saat mereka makan tadi jika Jaejoong ingin diajak ke taman bermain. Akhirnya Yunho memutuskan untuk mengajaknya ke Lotte World yang mempunyai wahana bermain terlengkap di kota Seoul.

Jaejoong yang tampak sangat kelelahan tak dapat menahan kantuknya didalam kereta bawah tanah yang hari itu lumayan sepi, pada jam itu orang-orang masih sibuk bekerja karena masih menunjukkan pukul 3 sore waktu Seoul.

Yunho meraih kepala Jaejoong yang terkulai kesamping untuk disandarkan dibahunya, senyum tipis menghiasi wajah tampannya saat menyadari Jaejoong masih mengenakan topi. Jaejoong memang tidak ingin identitasnya diketahui orang-orang.

Sementara dikejauhan didalam kereta yang sama dua pasang mata mengawasi gerak-gerik YunJae barusan. Kedua pasang mata itu terus menatap kearah sepasang namja yang kini telah tertidur dengan pulasnya dengan mempertemukan kedua kepala mereka.

.

.

"Whoaaa besarnyaa...ayo ahjussi kita kesana, Joongie ingin bermain komedi putar"

"Ahh kajja"

Yunho hanya tersenyum tipis melihat raut wajah takjub yang terpasang diwajah cantik Jaejoong saat melihat area Lotte World untuk pertama kalinya, maklum meski kaya Jaejoong hidup 'bagai burung disangkar emas' terlebih lagi memiliki orang tua yang sangat protektif, memperlakukan anak kesayangan mereka bagai perhiasan termahal tidak boleh kemana-mana jika tidak dikawal.

"Umm ahjussi sehabis ini Joongie ingin bermain roller coaster" ujar Jaejoong riang sedikit berteriak agar Yunho mendengarnya karena suasana yang bising disana.

"Baiklah, apapun yang Joongie inginkan" jawab Yunho dengan anggukan kepalanya. Melihat sorot mata bahagia Jaejoong entah mengapa dadanya berdegup kencang jantungnya seperti hendak meloncat keluar.

"Ahh Ahjussi gomawo, beruangnya lucu sekali Joongie suka"

"Ne ambillah buatmu, kenang-kenangan dariku"

Raut wajah bahagia Jaejoong tak pernah lepas selama berada di Lotte World terlebih lagi saat ini Yunho memberinya sebuah boneka beruang yang diperolehnya dari salah satu wahana ketangkasan dan Yunho memenangkan boneka itu dengan sangat mudah. Tak terkatakan betapa bahagianya Jaejoong dihari yang sudah beranjak malam itu. Satu hal yang selalu dilakukan Yunho dan Jaejoong selama berada di area bermain itu, mereka selalu bergandeng tangan.

Yunho tepatnya yang selalu menggandeng tangan Jaejoong tanpa melepaskannya sedikitpun. Alasannya takut jika mereka berpisah, jika mereka terpisah maka dipastikan Jaejoong akan tersesat, itulah alasan Yunho tak pernah melepaskan genggaman tangan besarnya pada pergelangan tangan kecil Jaejoong.

Dan lihatlah makhluk cantik itu saat menyadari genggaman tangan ahjussi penculiknya yang begitu erat, kembali kedua pipinya memerah dengan sendirinya.

"Ahjussi sebelum pulang kajja kita naik bianglala raksasa itu, Joongie ingin melihat pemandangan Seoul dari atasnya" ajak Jaejoong kemudian setelah menyadari hari sudah semakin sore bahkan hampir gelap.

"Arraso kita kesana sekarang, apa Joongie capek? bagaimana kakimu? apa sakit?" Tanya Yunho mengkhawatirkan keadaan Jaejoong yang kakinya sempat membengkak pagi tadi.

Jaejoong tidak menjawab hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, namun segera menundukkan kepalanya saat tatapan setajam elang itu seolah-olah menyelidikinya.

"Biar kuperiksa"

"Ahh gwaenchana, Tidak sakit sama sekali, ahjussi..."

"Kau bilang tidak apa-apa seperti ini? aishh"

Jaejoong kembali tertunduk dalam saat Yunho tiba-tiba meraih pergelangan kakinya yang menjuntai karena ia tengah duduk disalah satu bangku yang disediakan di taman bermain itu. Dan tatapan tajam itu semakin mengintimidasinya setelah menemukan kakinya yang kembali membengkak.

"T-Tapi Joongie masih ingin kesana ahjussi..." ujar Jaejoong pelan, ia sangat khawatir jika Yunho akan segera mangajaknya pulang padahal ia sama sekali belum pernah mencoba Bianglala raksasa dan melihat pemandangan kota Seoul dari atas sana.

"Arraso, naiklah kepunggungku kalau begitu" Yunho merendahkan tubuhnya didepan Jaejoong.

"T-Tapi ahjussi capek sudah berapa kali menggendong Joongie" ragu Jaejoong tak enak hati.

"Kau ingin kesana tidak? kalau ingin kesana naiklah, lagian Joongie itu sangat ringan, masih lebih berat karung beras yang kuangkat setiap hari, ppali nanti kita ketinggalan"

Blussh~

Akhirnya dengan rona merah yang kembali menyerang wajahnya kali ini dengan malu-malu Jaejoong menaiki punggung Yunho. Jaejoong sangat tersanjung dengan perlakuan Yunho yang amat manis kepadanya hari itu, bahkan Yunho kerap memanggilnya dengan panggilan 'Joongie'.

Bianglala raksasa itu mulai bergerak perlahan sesaat Yunho dan Jaejoong berada didalamnya. Beruntung keduanya karena mereka adalah pasangan terakhir yang dapat menghuni bianglalal raksasa itu untuk satu putaran ini, harus menunggu selama 45 menit lagi jika mereka tidak kebagian tempat. Satu ruangan bianglala itu hanya boleh dihuni dua orang saja, padahal ruangan kaca tersebut cukuplah besar, tidak heran banyak pasangan yang menghuni bianglala tersebut.

"Ahjussi lihatlah, sebentar lagi kita akan dipuncak, pemandangan seluruh kota seoul sudah hampir terlihat, whoaa Indahnya" seru Jaejoong yang menempelkan kepalanya dikaca ruangan bundar tersebut.

"Hahaha kau itu, seperti tidak pernah melihat pemandangan saja" tawa Yunho melihat kelucuan makhluk cantik tersebut.

"Ne ahjussi benar, Joongie tidak pernah melihat yang indah daripada ini...ahjussi apakah pernah?" tanya Jaejoong tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari pemandangan luar yang hampir gelap terlihat dari lampu-lampu yang mulai dinyalakan oleh pemilik bangunan-bangunan nun jauh disana.

"Ne, aku pernah melihat yang lebih indah" jawab Yunho mantap.

"Jinjja? apa itu ahjussi?"

"Rahasia, hahaha"

"Yah, ahjussi curang" cemberut cherry merah yang tak menyadari tatapan dalam dari mata musang yang berada disebelahnya.

'Kau yang paling indah yang pernah kulihat, Kim Jaejoong' batin bibir hati itu masih menatap lekat objek indah disebelahnya yang sedang berkonsentrasi dengan pemandangan diluar sana.

"Ahjussi, kita sudah berada dipuncak, kajja kemarilah...sayang sekali hari hampir gelap"

"Justru lebih indah jika hari sudah gelap, banyak lampu-lampu yang berwarna-warni"

"Eh ahjusi..."

Kembali lagi wajah memerah Jaejoong yang tak dapat terelakkan ketika bibir hati milik ahjussi menempel ditelinganya saat berbisik ditelinganya menyampaikan kalimatnya barusan. Yunho yang mencondongkan badannya saat membisikkan kalimatnya tak sengaja kedua tangannya memegang sisi tubuh Jaejoong reflek sehingga Jaejoong merasa seakan ia tengah dipeluk dari samping. Tentu saja hal itu membuatnya kembali merona merah.

"Ahjussi, bangunan apa yang tertinggi itu?" mencoba bersikap acuh dari wajahnya yang bersemu Jaejoong mengalihkan dengan bertanya seraya menunjuk sebuah bangunan menjulang menyerupai sebuah menara.

"Itu namsan Tower, menara tertinggi dikota Seoul, letaknya tak jauh dari sini untuk dapat kesana kita harus naik kereta gantung terlebih dahulu" jawab Yunho yang entah mengapa ia masih betah mengucapkan kalimat tersebut dengan berbisik ditelinga bocah yang sudah memerah bahkan mungkin sekujur tubuhnya sudah memerah saat ini.

"Ahjussi, J-Jongie ingin kesana, apa boleh?" agak terbata Jaejoong mengucapkan kalimatnya saat dirasanya nafas panas Yunho yang menghembus telinganya barusan.

"Baiklah, setelah ini...kita harus buru-buru nanti hari keburu gelap, kau sudah harus pulang kan?"

"N-ne ahjussi" entah mengapa ingin rasanya Jaejoong menggelengkan kepalanya saja, mendengar kata pulang mengapa hatinya serasa ingin berontak. Bibir itu mengerucut kembali saat Yunho mulai menjauhkan tubuhnya karena bianglala yang mulai bergerak turun.

.

.

"Wah ahjussi, Joongie benar-benar menyesal karena tidak pernah mengetahui tempat seperti ini ada di kota Seoul tempat Joongie tinggal selama ini" ucap cherry merah itu takjub saat berada diketinggian lebih dari 500 meter diatas kota Seoul malam hari itu. Kedua tangannya tak lepas memeluk erat boneka beruang yang diperoleh dari Yunho sewaktu berada di lotte world tadi.

Setelah terkagum-kagum ketika menaiki kereta gantung yang melintas dipegunungan Namsan, Jaejoong kini dibuat ternganga oleh pemandangan dari atas menara tertinggi yang berada diatas sebuah pegunungan itu. Terlebih lagi disaat ia melihat ribuan gembok yang tergantung rapi disepanjang pagar tembok puncak menara tersebut.

Jaejoong yang terheran-heran mengapa banyak sekali gembok yang tergantung disana hanya dapat mengangakan mulutnya dan membulatkan kedua matanya saja saat baru saja menapakkan kakinya dipuncak teratas menara yang memiliki ketinggian lebih dari 200 meter itu. Pemandangan kota Seoul yang dipenuhi warna-warni lampu dimalam hari itu sangatlah indah. Seindah kedua pasang doe eyes yang tak hentinya mengerjap-ngerjap lucu karena sangat antusias saat berada disana.

"Gembok-gembok itu sengaja digantung oleh pasangan kekasih dengan mengucapkan janji mereka kepada pasangannya" suara bass Yunho menjawab tatapan takjub Jaejoong pada ribuan gembok beraneka bentuk yang berjejer rapi tergantung disepanjang pagar tembok menara tersebut.

"Mwo, jinjja?"

"Ne, kau baca saja bisa terbaca jelas kok" sahut bibir hati itu kemudian saat melihat raut tak percaya Jaejoong.

"Mwo apa ini? "Aku berjanji tidak akan mengupil selama kita pacaran" hahaha...lucu sekali" Jaejoong tergelak saat membaca salah satu tulisan yang terbaca olehnya disalah satu gembok. Keadaan cahaya yang kurang maksimal membuat matanya sedikit kesulitan membaca tulisan tersebut, padahal ia ingin sekali membaca tulisan-tulisan lainnya yang ditulis dipermukaan gembok-gembok itu.

"Umm, ahjussi apa pernah menggantung gembok disini?" tanya Jaejoong polos yang menyebabkan Yunho salah tingkah.

"Ne, pernah" jawab Yunho jujur.

"Mwo...jadi ahjussi pernah..."

"Ia melepaskannya saat ia akan menikah"

"Ahh, mianhe...Joongie tidak bermaksud..."

"Gwaencaha Joongie ah, kejadian itu sudah 8 tahun yang lalu, aku sudah melupakannya"

Jaejoong menunduk salah tingkah ketika dilihatnya senyum getir Yunho saat mengucapkan kalimatnya. Jaejoong tak mengira jika Yunho pernah menjalin hubungan sebelumnya dan tragisnya yeoja itu telah meninggalkannya dan menikah dengan namja lain.

"Jaejoongie lihatlah!" Yunho menunjuk spontan dikejauhan sana terlihat cahaya warna-warni bertebaran dilangit kota Seoul.

"Whoaaa indahnya...ahjussi bukankah itu di Lotte world tempat kita tadi? lihatlah bianglala raksasa itu sangat dekat dengan kembang api itu" Jerit Jaejoong antusias disaat melihat keindahan kembang api yang memancarkan cahaya terang benderang sehingga terlihat bayangan bianglala yang mereka naiki tadi.

"Ne, Lotte world memang sering mengadakan festival kembang api dimalam hari seperti ini" jawab Yunho yang tersenyum saat melihat Jaejoong yang melonjak-lonjak senang melihat pemandangan kembang api tersebut agak kesusahan karena ia harus sedikit mendongakkan wajahnya karena ia masih memakai topinya.

Srettt~

"Ah-jussi..."

"Buka saja topi-mu, tidak usah takut sebentar lagi juga kau akan pulang kerumah"

"I-Iya ahjussi"

Jaejoong tertegun saat pandangan doe hitamnya bertemu dengan tatapan musang Yunho yang tanpa diduganya sama sekali ketika tangan cekatan Yunho membuka topi yang sedari tadi melekat dikepalanya dan dilemparnya sembarangan topi tersebut dari ketinggian tempat mereka berada

"Satu hal, kumohon hingga sisa perjalanan kita ini jangan panggil aku ahjussi lagi..." Entah apa yang menggerakkan telapak tangan lebarnya yang kini tengah menyibak helaian hitam poni Jaejoong yang menutupi sebagian wajah cantiknya.

'...'

"Cukup panggil namaku saja, arra?" ucap Yunho kemudian sedangkan tatapan musangnya masih enggan beranjak dari kedua doe eyes yang diakuinya sangat indah itu.

"Ne, ah...eh Yunho hyung"

"Ne gomawo...ehm Jaejoongie?"

"Ne ah..eh Yunho hyung"

"Boleh aku memelukmu? sebentar saja, anggap saja sebagai salam perpisahan kita karena sebentar lagi kita akan berpisah, m-mungkin kau nanti akan merindukanku, hehehe" tawa canggung Yunho saat mengutarakan keinginannya yang membuatnya (sangat) malu.

Wajah cantik Jaejoong sedikit terbengong mendengar permintaan ahjussi penculiknya tersebut namun entah mengapa kepalanya dengan mudah mengangguk begitu saja seakan ada sesuatu yang menggerakkannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi Yunho segera meraih tubuh kecil Jaejoong dipeluknya erat namja cantik yang selama 2 hari ini telah bersamanya, merepotkannya, membuatnya kesal sekaligus bahagia dian jangan lupakan makhluk mungil itu juga telah membuat debaran dadanya seharian ini berdegup kencang.

Tubuh kecil Jaejoong yang tenggelam dalam pelukan sang penculik tiba-tiba merasakan kehangatan yang berbeda. Berbeda saat sang appa atau umma memeluknya. Hangatnya hingga merasuk kedalam dada, itu yang durasakan Jaejoong. Tak disadarinya dilingkarkan tangannya erat ikut memeluk punggung Yunho yang sudah menenggelamkan kepalanya diceruk lehernya seakan ingin menghapal dan mengingat aroma bayi yang sempat memabukkan penculik itu dimalam saat Jaejoong meminta dipeluknya.

"Yunho hyung, apa kita akan bertemu kembali? atau apakah Hyung akan melupakan Joongie?" dua bola mata indah itu menatap penuh harap kepada namja penculiknya yang masih memeluknya erat, tatapan mereka masih bertemu seakan tak rela melepaskan pandangannya kearah lain.

"Aniya, aku tidak akan melupakan orang yang telah menolong umma-ku" jawab Yunho tegas. Tatapan musangnya belum juga beranjak dari sepasang doe indah yang masih setia dalam dekapannya.

"Jeongmal?" doe eyes itu mengerjap-ngerjap lucu saat mata musang itu tak juga magalihkan tatapannya.

"Ne, aku serius Joongie ah" ucap Yunho mantap.

"Mianhe kalau Joongie sudah menyusahkan hyung..."

"Joongie tidak menyusahkan, aku malah yang menyusahkan keluargamu"

"Tapi Joongie pernah pipis sembarangan didalam apartemen hyung..."

"Tapi aku sering membentakmu"

"Tapi Joongie suka cengeng dan menyusahkan"

"Aku suka Joongie yang cengeng dan manja, hehehe"

"Tapi Joongie...eumhhh"

Dan akhirnya bibir hati itupun sukses membungkam bibir cherry yang tak henti berceloteh mengenai dirinya yang telah menyusahkan. Hanya kecupan yang agak lama bukan ciuman panas yang diberikan bibir hati itu.

"Y-Yunho hyung..." dan kini wajah cantik itu tak sanggup menatap mata musang yang masih terus menatapnya lekat. Masih terasa basah bibirnya oleh saliva dari bibir hati yang telah lancang mengecup cherry merahnya tanpa permisi.

"Mian...aku telah lancang"

"G-Gwaenchana hyung..." Wajah cantik itu masih tertunduk seakan ada yang dicarinya dibawah sana. Namun seketika dagunya terangkat oleh tangan lebar namja yang baru saja mencuri ciuman pertamanya.

"Jaejoongie, ijinkan aku terus menatap kedua mata indah ini setidaknya selama perjalanan pulang kita...aku ingin terus menatapnya, jadi kumohon jangan menunduk lagi dihadapanku" ucap Yunho dengan menatap lekat kedua mata doe yang sangat dikagumi keindahannya itu.

"B-Baiklah hyung..." jawab pemilik doe eyes itu dengan terbata. Jaejoong sangat menyadari jika waktunya bersama Yunho tinggal hitungan menit lagi. Jika mereka sudah berada dibawah dan menemukan taksi untuknya disitulah saatnya mereka berpisah.

"Arraso, kau lihat restoran diujung sana? tunggulah aku disana pesanlah makanan duluan aku akan menyusulmu kemudian" ujar Yunho menunjuk kesalah satu rumah makan yang terletak di area tempat mereka berada. Tanpa membantah Jaejoong melangkahkan kakinya kearah rumah makan yang tunjuk Yunho mengambil tempat dekat jendela sehingga ia bisa kembali melihat kelap-kelip lampu dikejauhan kota seoul.

Tak berapa lama Yunho menyusul dan bergabung bersama Jaejoong menyantap makan malam mereka. Kedua manusia sesama jenis itu menyantap makan malam mereka dengan sedikit canggung. keduanya baik Yunho maupun Jaejoong menghabiskan makanan mereka dalam diam tak seorangpun dari keduanya yang bersuara hanya untuk sekedar mencairkan kecanggungan diantara mereka.

Kedua namja tersebut larut dalam pikirannya masing-masing. Dalam hati mereka inilah saat terakhir mereka bertemu dan entah kapan mereka akan bertemu kembali. Jaejoong yang kian merasa berat hati untuk berpisah dengan penculik tampannya hanya terus menerus menundukkan wajahnya tak ingin menatap wajah tampan dihadapannya yang malah terus menatapnya sedari tadi.

Bukankah Jaejoong sudah berjanji kepada Yunho untuk tidak menundukkan wajahnya lagi? tampak raut kecewa diwajah Yunho saat melihat Jaejoong menyembunyikan wajahnya karena dengan begitu ia tak dapat menatap kedua mata indah milik Jaejoong yang selalu menghipnotisnya untuk terus memandangnya tanpa berkedip.

.

.

.

"Jaejoongie...kita berpisah disini, taksinya sudah menunggu gomawo atas semuanya, hari ini terasa sangat menyenangkan bersamamu"

'...'

"Jaejoongie, taksinya menunggu"

'...'

"Jaejoongie Gwaenchana?"

"hiks..."

Yunho tampak sangat terperanjat ketika melihat tetesan airmata yang berasal dari kedua mata Jaejoong terlebih lagi bersamaan itu mulai terdengar isakan pelan si cantik yang sedari keluar dari restoran terus munundukkan wajahnya. Yunho dan Jaejoong kini telah berada dikawasan luar namsan Tower dimana Yunho telah menyetop taksi untuk membawa Jaejoong kembali kepelukan keluarganya.

"Joongie..."

Grebb~

"Yunnie, hiks..."

"Joongie..."

Yunho tersentak saat tubuh kecil itu tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang, sangat jelas dirasakannya tubuh kecil Jaejoong yang terguncang pertanda semakin keras isak tangisnya. Kekagetannya kian bertambah saat mendengar panggilan Jaejoong kepadanya yang berbeda, terasa sangat lucu ditelinganya.

"Jongie uljima...bukankah kau akan segera bertemu orang tuamu? seharusnya kau senang bukan menangis seperti ini" bujuk Yunho pelan agar Jaejoong menhentikan tangisannya. Namun bukannya malah berhenti isakan Jaejoong malah bertambah keras bahkan pelukan ditubuhnya-pun terasa semakin kencang.

"Yunnie...Joongie tidak mau berpisah, jebbal bawa Joongie bersama Yunnie saja, hiks..." airmata terus membanjiri wajah putih Jaejoong, sedangkan Yunho hanya dapat terdiam tak percaya akan apa yang baru saja didengar dari bibir cherry yang semakin erat memeluknya.

"Joongie pulanglah, aku berjanji akan menemuimu setelah ummaku sembuh nanti" ucap Yunho meyakinkan Jaejoong agar mau pulang dan segera masuk kedalam taksi yang sedari tadi menunggunya.

"T-Tapi Yunnie t-tidak bohong kan?" tanya bibir cherry itu tak percaya dengan ucapan Yunho barusan.

"Aniya aku tidak bohong aku berjanji, umma-mu membutuhkanmu Joongie ah, ppali nanti ahjussi itu tak sabar menunggumu" ujar Yunho kembali dan perlahan pelukan erat Jaejoong ditubuhnya mulai mengendur.

"Yunnie tidak bohong?"

"Aniya aku tidak bohong"

"Yaksok?

"Ne"

"Arraso Yunnie, sampai berjumpa kalau begitu, Joongie tunggu eoh?"

Cup~

"Eh? Joongie mau membalas eoh?"

Kini raut wajah tampan Yunho yang berubah bersemu merah saat tanpa diduganya cherry merah yang selalu menggiurkannya itu menempel dibibir hatinya. Namun ia merutuki kebodohannya yang tak sempat membalas kecupan singkat tersebut karena keburu Jaejoong berlari menuju taksinya karena sangat malu atas apa yang sudah dilakukannya barusan. Ia membalas apa yang sudah Yunho lakukan kepadanya sewaktu berada dipuncak menara Seoul tadi.

Sepeninggal Jaejoong Yunho hanya dapat menarik nafas pelan, diusapnya kasar wajahnya yang sudah berubah menjadi 'lebih' tampan akibat perawatan disalon bersama Jaejoong tadi. Lama tak juga beranjak tubuh kekar namja yang menyadari rasa 'kehilangannya' akan sosok manja Jaejoong yang menjadi tawanannya dalam 2 hari ini.

"Keluarlah, aku tahu tahu kalian disana..."

Tiba-tiba bibir hati itu mengeluarkan suara bassnya pelan namun jelas terdengar dikeheningan malam itu, seakan ada yang diajaknya berbicara walaupun tubuhnya tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri sedari tadi.

"Aku tahu kalian sudah mengikuti sejak tadi, keluarlah aku tidak akan melawan..."

Srakkk~

Bunyi semak belukar yang terkuak dari arah belakang Yunho bersamaan dengan munculnya dua sosok namja berseragam polisi yang salah satu diantaranya bertubuh tambun.

"K-Kau kami tangkap dengan tuduhan membawa lari anak dibawah umur dari keluarganya yang sudah melaporkan kehilangan anak tersebut" ujar polisi yang berbadan gemuk. Keduanya menodongkan senjata kearahnya.

"Arraso, aku tahu silahkan tangkap dan borgol kedua tanganku, aku mengaku bersalah" pasrah Yunho seraya menyerahkan kedua tangannya yang langsung disambut borgol oleh si jidat lebar teman si gendut.

"Kau kami bawa kekantor dan akan memproses kasusmu, kau boleh menggunakan jasa pengacara untuk membelamu dipersidangan nantinya dan jika tak mampu kami akan menyediakan pengacara untukmu" ucap polisi yang berjidat lebar yang bername tag Sersan Park Yoochun.

"Arraso sersan Park, namun bolehkah aku meminta tolong sesuatu" mohon Yunho sebelum kedua polisi yang membuntutinya sedari pagi itu membawanya dari tempat itu, tempat dimana ia baru saja berpisah dengan Jaejoong tak jauh dari kawasa namsan Tower atau menara Seoul.

"Baiklah apa itu" ucap salah satu dari sersan polisi itu.

"Aku mohon agar anak tersebut jangan diberitahu perihal penangkapanku ini, tolong sampaikan kepada keluarganya, aku bersedia dihukum seberat-beratnya atas perbuatanku ini"

.

.

.

tbc yee

review jika menghargai :)

twitt : peya_ok

Fb : Mano shinki

see you in the next chap...*bow