Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

Cast lain menyusul

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

Bunyi semak belukar yang terkuak dari arah belakang Yunho bersamaan dengan munculnya dua sosok namja berseragam polisi yang salah satu diantaranya bertubuh tambun.

"K-Kau kami tangkap dengan tuduhan membawa lari anak dibawah umur dari keluarganya yang sudah melaporkan kehilangan anak tersebut" ujar polisi yang berbadan gemuk. Keduanya menodongkan senjata kearahnya.

"Arraso, aku tahu silahkan tangkap dan borgol kedua tanganku, aku mengaku bersalah" pasrah Yunho seraya menyerahkan kedua tangannya yang langsung disambut borgol oleh si jidat lebar teman si gendut.

"Kau kami bawa kekantor dan akan memproses kasusmu, kau boleh menggunakan jasa pengacara untuk membelamu dipersidangan nantinya dan jika tak mampu kami akan menyediakan pengacara untukmu" ucap polisi yang berjidat lebar yang bername tag Sersan Park Yoochun.

"Arraso sersan Park, namun bolehkah aku meminta tolong sesuatu" mohon Yunho sebelum kedua polisi yang membuntutinya sedari pagi itu membawanya dari tempat itu, tempat dimana ia baru saja berpisah dengan Jaejoong tak jauh dari kawasa namsan Tower atau menara Seoul.

"Baiklah apa itu" ucap salah satu dari sersan polisi itu.

"Aku mohon agar anak tersebut jangan diberitahu perihal penangkapanku ini, tolong sampaikan kepada keluarganya, aku bersedia dihukum seberat-beratnya atas perbuatanku ini"

.

.

.

.

LOVE ME?

.

.

.

.

Flashback beberapa jam sebelumnya

"Yoochun shi, sampai kapan kita mengikuti kedua orang itu? apa kau yakin bocah itu diculik? mereka terlihat sangat akrab sekali"

"Diculik atau tidaknya itu urusan belakang, yang jelas anak ini meninggalkan rumah dan ia sekarang bersama orang asing yang tidak dikenal oleh keluarganya, kita mesti terus memata-matai mereka"

"Ne aku mengerti tapi, aishh...i-itu m-mereka..."

"Yah, tutup matamu!"

Dua orang berseragam polisi yang tengah mengintai kegiatan dua orang namja dalam jarak yang cukup jauh itu tampak gelagapan saat mendapati dua orang targetnya yang jelas-jelas berjenis kelamin sama itu tengah berciuman saat mereka berada diketinggian namsan tower.

Kedua polisi itu melotot tak percaya saat melihat bagaimana bibir hati itu mengecup pelan bibir bocah yag mereka ketahui masih berseragam sekolah tersebut.

"Yoochun shi, namja penculik itu bisa terkena pasal pelecehan anak dibawah umur"

PLETAK!

"Aww! yah Jidat! mengapa malah menjitakku!" protes si gendut yang tak terima ketika partnernya malah menjitak kepalanya.

"Kau itu, yang namanya pelecehan itu jika ada unsur pemaksaan tahu! kau lihat sendiri mereka sama-sama menikmatinya mana mungkin jadi pelaecehan, hhhh"

Desah kesal sersan bername tag Park Yoochun atas ke dong-dong-an rekannya yang bernama Shindong itu.

"Arraso, kalau begini ottokhe? apa masih kita lanjutkan pengintaian kita ini?" tanya Shindong seraya mengusap jidatnya yang terkena belaian sayang dari partnernya barusan.

"Umm, kita lanjutkan saja biar bagaimana-pun anak itu bisa saja minggat dari rumah atas bujukan namja asing itu" ujar Yoochun disela-sela kegiatannya 'mengintip' kedua targetnya dikejauhan.

"Ahh...Yoochun shi, lihat mereka berpisah!"

"Arraso, kau ikuti si bocah aku ikuti namja itu"

Kedua polisi itu mengambil jalannya masing-masing saat melihat kedua target mereka berpencar menuju arah berlawanan. Ternyata Yunho dan Jaejoong berpisah saat Yunho menyuruh Jaejoong menunggu didalam sebuah restoran yang berada dikawasan menara tinggi tersebut.

Jaejoong segera mengarahkan langkahnya kedalam sebuah restoran yang cukup nyaman dikawasan tersebut dengan diikuti seorang polisi berbada subur aka Shindong yang mengendap-endap dikejauhan. Jaejoong sama sekali tak menyadari jika perjalanan mereka sedari pasar siang tadi dibuntuti oleh dua aparat.

Sedangkan Yunho, sedikit berlari kecil ia menuju lift menara dan berhenti dilantai yang tak jauh dari puncak menara itu, tak lupa si jidat yang selalu membayangi langkahnya.

Yunho menuju kesalah satu toko dan membeli sepasang benda yang tak terlalu jelas dalam pandangan Park Yoochun polisi yang tengah mengintainya. Yunho-pun ternyata kembali kelantai atas dengan membawa benda tersebut ditangannya.

Dan tertegunlah polisi berjidat lebar itu saat melihat apa yang dilakukan Yunho dengan kedua benda ditangannya. Sejenak ia malah merasa ragu untuk menangkap namja yang dianggapnya sebagai penculik itu.

Namun perasan ragu itu segera ditepis oleh polisi bermarga Park tersebut dan bergabung kembali dengan Shindong partner kerjanya saat Yunho telah masuk kedalam restoran bersama Jaejoong menyantap makan malam mereka.

End of flashback

.

.

.

"JAEJOONGIE!"

"UMMAAA, LIHAT SIAPA YANG DATANG!"

Kediaman Kim tampak ramai kendati hari sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam. Itu disebabkan oleh hadirnya makhluk yang sudah lebih 24 jam menghilang dari kediaman mereka.

Kedua noona Jaejoong Soo Young dan Sun Hee sampai-sampai berteriak heboh saat melihat makhluk mungil yang turun dari taksi dipekarangan rumah mereka yang luas. Para maid dan beberapa aparat polisi-pun tak menyangka jika objek yang mereka cari hingga mengerahkan ratusan personil mereka yang tersebar keseluruh Seoul itu malah pulang sendiri dengan santainya dengan menyeret tas sekolahnya dan sebelah tangannya memeluk erat sebuah boneka beruang pemberian ahjussi penculiknya.

"Joongie baby bogoshippo, noonadeul sangat merindukan uri Joongie, kau kemana saja dongsaeng?" Sun Hee dan Soo Young segera menyambar tubuh mungil adik mereka saat Jaejoong baru beberapa langkah keluar dari taksi-nya.

"Noonadeul, umma eodi?" rentetan pertanyaan kedua noona-nya malah dijawab Jaejoong dengan pertanyaan mengenai keberadaan umma-nya. Satu alasan Jaejoong cepat pulang adalah ummanya.

"Ahh...Joongie ah, Umma sangat merindukanmu saeng, hiks...lihatlah kekamarnya" Soo Young akhirnya terisak mengingat keadaan umma mereka sekarang.

Jaejoong-pun bergegas berlari kekamar tempat Heechul menghabiskan waktunya. Semenjak Jaejoong menghilang Heechul sama sekali tidak dapat beranjak dari ranjangnya karena beberapa peralatan medis selalu setia bersamanya seperti infus dan oksigen untuk membantu pernafasannya.

"Ummaaa..."

Jaejoong tertegun saat melihat keadaan Heechul yang menyedihkan. Tubuh ringkih Heechul yang terbujur lemah dengan selang infus dan oksigen yang masih setia berada ditubuhnya. Mata Heechul tampak terpejam rapat menandakan ia tengah tertidur nyenyak tanpa terusik sedikitpun dengan keramaian yang terjadi dirumah mereka saat ini.

Siwon sedang berada dikantornya karena ia baru akan meninggalkan Heechul jika istri tercintanya telah memejamkan matanya, tertidur nyenyak. Siwon tak akan pernah beranjak dan selalu memeluk istrinya disaat namja cantik itu terjaga. Siwon akan selalu berada disisi Heechul.

Siwon hanya dapat meninggalkan Heechul jika istrinya tersebut sudah terlelap tidur, itulah yang menyebabkan jadwal kekantornya sangat tidak menentu. Saat ini saja waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam dan Siwon masih berada dikantornya.

Perlahan Jaejoong mendekati ranjang tempat ummanya terbaring lemah.

Cup~

Dikecupnya kening Ummanya dengan pelan, sangat pelan agar ummanya tidak terjaga karena kecupannya. Jaejoong tidak ingin mengganggu umma-nya yang tengah beristirahat. Lalu diposisikan tubuhnya berbaring disebelah ummanya, ia rindu sekali dengan pelukan umma disaat ia tidur.

Soo Young dan Sun Hee yang melihat perbuatan Jaejoong hanya dapat tersenyum tipis dan menutup pintu kamar tersebut agar kedua keluarga yang mereka sayangi itu dapat beristrahat dengan tenang. Saat ini Noonadeul Jaejoong tersebut belum berniat mengusik sang adik dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah memenuhi otak mereka masing-masing. Semua orang yang berada dikediaman Siwon malam itu sangat heran melihat Jaejoong yang pulang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, bahkan sebuah boneka beruang yang tak satupun mengetahui asalnya darimana selalu berada didalam pelukannya.

Jaejoong tampak sangat bahagia malam itu, dan itu tentu saja mengundang seribu tanya para penghuni rumah yang lainnya, mereka tak yakin jika Jaejoong telah diculik jika melihat keadaan Jaejoong yang benar-benar riang malam ini.

"Eunghh...Wonnieehh"

Heechul menggeliat dari tidurnya dengan memanggil nama suaminya, ia tidak tahu jika suaminya pergi sejak ia memejamkan matanya. Jaejoong yang melihat ummanya sedikit bergerak menjadi terkesiap dan cepat-cepat menyentuh lengan Heechul yang masih tertanam jarum infus agar tidak bergerak terlalu banyak.

"Umma" panggil Jaejoong pelan dengan berbisik ditelinga Heechul.

"Umm...Jaejoongie eodiga" ternyata Heechul masih belum terlalu sadar dari tidurnya, suara Jaejoong ditelinganya barusan mungkin masuk kealam mimpinya sehingga ia sama sekali tak menyadari jika Jaejoong benar-benar berada disampingnya.

"Joongie disini umma, disebelah umma...Joongie sudah kembali" bisik Jaejoong kembali dengan hati-hati, ia tak ingin menyebabkan penyakit jantung umma-nya bertambah parah.

"Mwo?" seketika mata besar Heechul yang masih terpejam terbuka lebar dan langsung menoleh kesumber suara yang berada disebelahnya.

"Ummaaa"

"Hiks, Joongie..." Heechul tak dapat menahan tangisannya dan segera merengkuh tubuh Jaejoong kedalam pelukannya.

"Umma bogoshippo, jeongmal bogoshippo...Joongie sangat merindukan umma, hiks...mianhe umma, mianhe, hiks..." Jaejoong ikut terisak dalam pelukan sang umma yang sangat dirindukannya.

Heechul yang tidak bisa bergerak terlalu leluasa hanya dapat mengusap pelan surai hitam Jaejoong yang berada didadanya. Heechul bahkan sama sekali tak menghiraukan saat merasa dadanya basah akibat airmata Jaejoong.

Yang dirasakan namja yang mewarisi kecantikannya kepada putra semata wayangnya itu hanyalah perasaan lega dan bahagia karena Jaejoong yang sempat menghilang kembali dalam keadaan selamat tak kurang satu apapun. Dan penyakit berat yang dideritanya selama kepergian putra kandungnya itu seakan menguar begitu saja, rasa sesak didada yang kerap dirasa entah hilang kemana saat dapat memeluk kembali Jaejoong malam itu.

"Joongie baby, kau kemana saja nak, mengapa tega sekali tidak memberitahu umma, apakah ponselnya sengaja Joongie matikan? umma sangat khawatir sekali, hiks...jangan pernah lagi membuat umma seperti ini, kau bisa membunuh umma kalau kau ulangi lagi, hiks...hiks..." ratap Heechul pilu menyesali tindakan Jaejoong yang tidak mau mengabarinya sama sekali, hanya satu sms saja yang sempat dikirimnya untuk Heechul sebelum ia pergi bersama Yunho pagi tadi.

"Ummaa, Joongie belum juga 2 hari menghilang semua sudah heboh" pout Jaejoong yang menganggap orang tuanya terlalu berlebihan.

"Tapi uri Joongie sama sekali tidak mengabari umma dan appa, hiks...Joongie tidak memikirkan kesehatan umma eoh? hiks..." Heechul masih terisak keras.

"Umma uljima, Joongie minta maaf ne? umma uljima, yang penting sekarang Joongie sudah kembali dalam keadaan sehat"

"T-Tapi Joongie belum menceritakan mengapa Joongie bisa menghilang tanpa kabar"

"Nanti akan Joongie ceritakan, sekarang Joongie capek umma hari sudah malam, kajja kita tidur saja"

"Tapi Joongie sudah membangunkan umma"

"Mianhe umma, sekarang umma peluk Joongie, Joongie rindu pelukan umma...hooaaamm" Jaejoong tak menggubris perkataan ummanya tampaknya ia sangat mengantuk.

"Aish, awas eoh besok Joongie akan disidang, appa pasti akan memarahi Joongie" Heechul berusaha mengancam.

"Jaljayo umma, cup~"

"Yah!"

"Cinderella, pelukkk"

"Hhhh anak ini, arraso"

"Begitu dong, umma saranghae"

Heechul hanya dapat tersenyum bahagia saat menatap mata indah Jaejoong yang perlahan tertutup rapat pertanda ia telah terlelap dengan tenangnya. Malam ini Heechul-pun dapat tertidur nyenyak dengan mendekap putra kesayangannya yang dilahirkannya dengan perjuangan antara hidup dan mati dari rahimnya sendiri. Tidaklah berlebihan bukan jika Heechul sangat menyayangi putra satu-satunya itu?

Sementara...

Siwon yang berada dikantornya tampak tengah berbicara dengan seseorang diponselnya, wajah lelaki tampan itu tampak sangat serius, tak sedikitpun senyum tersungging dibibirnya.

"Jadi Jaejoongie sudah pulang? bagaimana keadaannya? mwo? taksi? arraso"

'...'

"Kalian awasi namja itu jangan sampai ia terlepas! aku penasaran bagaimana wajah orang yang berani menculik dan memperdayai anakku"

'...'

"Arraso aku akan membayar jaksa yang terbaik di negara ini, akan kutuntut seberat-beratnya dan apabila terbukti ia menyentuh anakku sedikit saja akan kukuliti dia"

'...'

"MWO? NAMSAN TOWER? Apa yang mereka lakukan disana? aish, arraso aku pulang dulu, besok aku akan ke tahanan, aku penasaran dengan wajah namja yang berani menculik putraku satu-satunya, besar sekali nyalinya"

'...'

"Jangan memberitahu anakku? apa maksudnya?"

'...'

"Arraso, gomawo atas informasinya, ah ne untuk dua polisi yang menangkap namja itu aku berjanji akan memberi mereka imbalan yang setimpal"

Tak lama setelah mengakhiri hubungan teleponnya Siwon segera keluar meninggalkan kantornya untuk pulang kerumahnya, tampak ia sangat tak sabar karena barusan telepon yang diterimanya mengabarkan jika putra mereka baru saja tiba dirumah mereka.

Sementara itu di kantor polisi kota Seoul...(saat bersamaan)

"Mian, bolehkah aku meminjam pesawat telepon karena aku harus menghubungi seseorang"

"Siapa orang yang ingin kau hubungi? kalau kau ingin menghubungi seseorang agar menjamin dan mengeluarkanmu dari tahanan ini, itu akan sia-sia saja, sebab baru saja kami menerima telepon khusus dari Kim sajangnim agar tak melepaskanmu sedetik saja"

"Hhhh...tenang saja tak akan ada yang sudi menjaminku, aku hanya ingin menghubungi seseorang agar menjaga umma-ku yang tengah berada di rumah sakit"

"Baiklah, kalau itu kau bisa memakai ponselku saja"

"Gomawo sersan Lee"

Yunho membungkukkan tubuhnya tanda ia sangat berterima kasih karena sersan polisi yang bermarga Lee itu dengan senang hati mau meminjamkannya ponsel. Dan segera ia menekan nomor tujuan yang akan dihubunginya dari balik jeruji besi itu.

"Yoboseyo" suara wanita diseberang sana.

"Ahra shi, mianhe mengganggumu, aku Jung Yunho tetangga sebelah apartemenmu"

"Yunho? wae kau menelpon malam-malam begini adakah sesuatu yang penting?" Tampak suara wanita diseberang sana terdengar sedikit panik.

"Ehm, begini Ahra shi aku memohon bantuanmu"

"Apa itu Yunho ah" suara wanita diseberang sana terdengar sedikit ragu.

"Bisakah kau melihat keadaan umma-ku dirumah sakit besok, karena untuk beberapa hari kedepan aku aku tidak bisa menemaninya" pinta Yunho dengan nada memohon.

"A-Arraso, sebelum bekerja aku akan mampir kerumah sakit melihat keadaannya"

"Gomawo Ahra shi, sudah banyak sekali aku berhutang kebaikan kepadamu" ucap Yunho dari line seberang.

"Gwenchana Yunho ah, tapi memangnya sekarang kau berada dimana?" tanya Ahra sedikit penasaran dengan keberadaan namja tetangganya.

"Aku berada ditahanan kota Ahra shi" jawab Yunho jujur

"Mwoya? apa yang kau lakukan Yunho ah? mencuri? memukul orang? menipu? me..."

"Tidak usah mencemaskanku Ahra shi, kau bisa menjaga diriku, aku mohon tolong rawatlah ummaku selama berada disini" jawab Yunho mantap memotong ucapan Ahra.

"Arraso Yun, aigoo...aku tak menyangka"

"Jeongmal gomawo Ahra shi, aku tak bisa berlama-lama karena ini ponsel pinjaman, anneyong..."

Yunho mengakhiri sambungan telepon itu dan mengembalikannya kepada sersan polisi yang bertugas menjaganya ditahanan malam itu. Beruntung ia mendapat penjaga yang baik hati mau meminjamkan ponsel pribadinya.

Yunho mendesah berat seraya mendudukkan dirinya dilantai sel yang dingin lantaran ia hanya diberi sebuah karpet tipis sebagai alas untuknya tidur malam ini yang tentu saja akan ditemani nyamuk-nyamuk yang kelaparan.

Sebenarnya ia sangat menyesal telah melakukan tindakan bodoh itu meski baik ia ataupun Jaejoong korbannya tidak merasa telah menculik ataupun diculik. Sedikit disesalinya tak ada satupun barang kenangan milik Jaejoong yang ada padanya, berbeda dengan Jaejoong yang memiliki sebuah boneka hasil ketangkasannya di lotte world siang tadi.

Satu-satunya kenangan namja cantik yang diakuinya telah merebut hatinya itu adalah rasa manis yang tertinggal dibibirnya saat Jaejoong dengan lancang telah mengecup bibir hatinya sebelum mereka berpisah beberapa saat lalu.

"Ahhh..."

Tak sadar sebuah senyuman terukir dibibir hati itu sebelum mata musangnya terpejam. Malam ini dan beberapa malam kedepan Yunho harus rela merasakan dinginnya lantai dan udara dari balik jeruji besi itu.

.

.

.

.

Satu minggu kemudian...

Disebuah kamar mewah bernuansa biru yang dipenuhi dengan pernak-pernik gajah berbagai ukuran serta bentuknya terlihat Kim Jaejoong pemilik kamar tersebut tengah duduk bersandar diranjang empuknya sambil memeluk sebuah boneka berbentuk beruang. Jaejoong memeluk erat boneka beruang tersebut sembari menumpukan dagunya dikepala boneka besar itu. Selama beberapa hari ini boneka tersebut selalu menemaninya disaat ia sendiri seperti ini.

Wajah cantik namja 17 tahun itu terlihat sangat murung, bibir cherry-nya pun terlihat bergerak-gerak pertanda ia tengah bermonolog.

"Umm, sepertinya ada yang melupakan janjinya..." bibir cherry itu mengerucut setelah menggumamkan kalimatnya.

"Sudah seminggu, tapi ahjussi belum juga menemui Joongie..." rutuk bibir cherry kemudian.

"Hhhh...pasti ia sudah melupakan Joongie" wajah cantik itu terlihat putus asa.

"Hey beruang, jangan diam saja...dimana tuanmu yang sombong itu heh?" kali ini boneka beruang yang menjadi saasaran Jaejoong melampiaskan rasa kesalnya terhadap ahjussi penculik yang berjanji untuk menemuinya kembali.

"Ahh Joongie pabbo, mengapa tidak membelikannya ponsel? bagaimana dia mau menghubungi Joongie kalau begini? aishh...pabboya" wajah cantik itu bertambah muram saat menyadari kebodohannya.

Sejenak terlihat wajah berpikir Jaejoong yang sangat serius masih dengan posisi memeluk boneka beruang dengan dagunya yang ditumpukan pada kepala boneka itu.

Tiba-tiba wajah Jaejoong terlihat berseri-seri pertanda ia barusan mendapat ide cemerlang.

"Asaa...kalau ahjussi tidak bisa menghubungi Joongie, kenapa bukan Joongie saja yang menemuinya" senyumpun terkembang diwajah cantik Jaejoong.

"Tapi, ottokhe..." Senyum manis Jaejoong yang baru saja tercetak itu mendadak sirna disaat otaknya berputar mengingat bagaimana Siwon sang appa memperlakukannya selama seminggu ini semenjak kepulangannya. Tentu saja akan susah mendapat izinnya untuk keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.

Dan kedua bola mata indah itupun serta merta terpejam dengan sendirinya meski didalam otaknya terus berkecamuk pikiran tentang bagaimana caranya agar ia dapat menemui ahjussi penculik yang sempat membuatnya tersipu-sipu malu saat bibir hati itu mencuri ciuman pertamanya.

.

.

"Joongie baby, mengapa sarapannya tidak dimakan hmm? umma perhatikan sudah beberapa hari ini Joongie terlihat tidak nafsu makan, apa karena Joongie dilarang appa bersekolah?"

'...'

Heechul tampak tak tenang saat melihat keadaan putranya pagi ini. Jaejoong yang terlihat tak bersemangat pagi itu hanya mengaduk-ngaduk nasi goreng sarapannya tanpa sedikitpun memasukkannya kedalam mulutnya.

Setelah kepulangan Jaejoong Siwon memutuskan memberhentikan Jaejoong sekolah dan memilih program home schooling untuk Jaejoong. Peristiwa yang mereka yakini sebagai penculikan itu sedikit banyak membuat mereka terlalu khawatir jika Jaejoong berada diluar rumah.

Namun tindakan orang tua yang begitu over protektif tersebut tidaklah membuat Jaejoong bahagia, ia merasa berada didalam penjara, terkekang. Jaejoong menjalani rutinitas yag sangat membosankan setiap harinya. Pagi hingga siang hari ia bersekolah, Siwon membayar guru profesional untuk putra semata wayangnya itu.

Setelah bersekolah waktu Jaejoong dihabiskannya dengan berada didalam kamarnya saja, terkadang Heechul mengajaknya bersenda gurau atau menawarkan untuk sekedar berjalan-jalan bersamanya. Kedua noona Jaejoong? jangan harap, Sun Hee dan So Young terlalu sibuk dengan aktifitas mereka diluar yang selalu membuat Jaejoong iri mengapa kedua noona-nya bebas beraktifitas, sedangkan ia?

"Joongie..." kembali Heechul memanggil putra kesayangannya itu membuat Jaejoong tersentak dari lamunannya.

"Ahh, aniya umma" Jaejoong tersenyum menyembunyikan kegundahan hatinya.

Rasa terkekang bukanlah satu-satunya penyebab murungnya Jaejoong beberapa hari ini namun tak ada satupun anggota keluarganya yang mengetahui kegundahan namja cantik itu. Heechul menganggap murungnya Jaejoong semata-mata karena ia tidak suka appanya menyekolahkannya dirumah. Siapa menyangka jika murungnya Jaejoong karena ia menunggu seseorang yang berjanji akan menemuinya lagi.

Junsu, satu-satunya orang yang mengetahui isi hati Jaejoong saat ini. Kim Junsu adalah sahabat terdekat Jaejoong tempat Jaejoong menumpahkan segala keluh kesahnya, dulu saat Jaejoong masih bersekolah Jaejoong dan Junsu kerap menghabiskan waktu bersama entah itu belajar bersama atau sekedar bertukar cerita saja, dan Jaejoong telah berkeluh kesah mengenai 'seseorang' yang telah membuat pikirannya kacau beberapa hari ini. Junsu sudah mengetahui mengenai ahjussi penculik tersebut.

"Umma..."

"Ne?"

"Apa boleh Joongie menemui Junsu hari ini setelah Joongie belajar nanti?"

"Hmm..."

Heechul hanya dapat mendesah berat saat mendengar pertanyaan Jaejoong yang bernada memohon disertai dengan puppy eyes andalan jaejoong jika sedang merayu sang umma. Jaejoong adalah kelemahan Heechul satu-satunya.

"Umma, jebbal" lirih Jaejoong hampir tak terdengar disertai dengan menambah 10 kali lipat wajah memelasnya didepan Heechul. Jaejoong sekarag tengah bersandiwara demi mendapatkan izin Heechul.

"Joongie ya, boleh tapi..."

"No bodyguard hyung umma" jawab Jaejoong cepat memotong kalimat Heechul.

"Aishh Joongie baby, umma bisa dibunuh appamu kalau ia tahu" Heechul frustasi.

"Makanya jangan sampai appa tahu umma" kembali Jaejoong mengeluarkan jurus puppy eyesnya yang berhasil membuat Heechul mengangguk lemah. Bagi Heechul lebih baik Siwon memarahinya habis-habisan daripada harus melihat Jaejoong yang mencemberutinya sepanjang hari.

"Arraso"

"Yayy...gomawo cinderella yeoppo, Joongie sayaaang sekali, cup...cup...cup"

Jaejoong terlonjak kegirangan setelah melihat anggukan setuju Heechul dan tak lupa memberikan kecupan bertubi-tubi diwajah cantik sang umma.

.

.

"Hyung yakin ini tempatnya?"

"Ne Joongie yakin"

"Whoaa, Jae hyung tidak takut terkena gatal-gatal kulitnya? kotor sekali"

"Sudah Su-ie diam saja, kajja sekarang ikuti Joongie saja kita keatas tempat apartemen Ahjussi"

Dua namja remaja tampak berdiri dihadapan sebuah apartemen yang tidak bisa dibilang mewah. Jaejoong yang mengajak Junsu untuk menemui ahjussi penculiknya tampak menatap bangunan tempat ia disandera oleh Yunho beberapa waktu yang lalu.

Bangunan yang sangat jauh dari kata mewah, bahkan lebih pantas disebut sedikit kumuh itu tampak lengang siang hari itu. Junsu dan Jaejoong menaiki satu persatu anak tangga bangunan apartemen tersebut hingga tibalah mereka didepan pintu apartemen yang diyakini Jaejoong adalah milik Yunho, ahjusssi penculiknya tempo hari.

Jaejoong mengetuk pintu apartemen yang diyakini adalah milik Yunho dengan semangatnya namun tak juga mendapatkan jawaban dari sang penghuni, sementara Junsu sang sahabat sibuk melumuri kulitnya dengan cairan antiseptik demi melihat keadaan apartemen tempat mereka berada sekarang.

Tok tok tok tok tok...

Tanpa lelah Jaejoong terus mengetuk pintu apartemen milik Yunho meski pintu tersebut tak juga terbuka tanda ada penghuni didalamnya namun Jaejoong tak peduli dan terus mengetuk pintu tersebut tanpa henti.

Tok tok tok tok

Tok tok tok tok

Tok tok tok tok

"YAH HENTIKAN, BERISIK!"

"Changmin ah!"

"Mwo? k-kau?"

Bentakan keras yang berasal dari pintu apartemen yang berada persis disebelah apartemen Yunho membuat Jaejoong terlonjak senang, bukannya takut karena telah dibentak Jaejoon malah berteriak heboh saat melihat siapa yang sudah membentaknya itu, membuat Junsu sedikit tercengang dengan keanehan Jaejoong. Sedangkan bocah yang telah membentak Jaejoongpun tampak sangat terkejut melihat siapa yang telah dibentaknya barusan, dan ini semakin membuat junsu bengong.

"Changmin ah, bogoshippo..."

"K-Kim Jaejoong, u-untuk apa k-kau kesini hah?" ucap bibir lebar Changmin tanpa membalas rasa rindu yang baru saja diutarakan Jaejoong kepadanya.

"Changmin ah, aku kesini ingin menemui Yunho ahjussi, ahh iya perkenalkan temanku Kim Junsu, Junsu ya ini Go Changmin..." seloroh Jaejoong tak mengindahkan wajah tak bersahabat Changmin yang dengan jelas ditunjukkannya.

"Kalian sudah mengenal?" tanya Junsu saat melihat menyapa Changmin dengan akrabnya.

"Siapa bilang? aku tak mengenalnya, kalau tidak ada urusan cepatlah kalian pergi dari sini, sudah tahu orang sebelah tidak ada ya pulang sana! jangan buat ribut!"

BRAKK!

Jaejoong-pun terbengong tak percaya mendapat tanggapan yang sangat tak bersahabat dari namja jangkung yang sudah dikenalnya saat bersama Yunho ahjussi tempo hari, ia sempat menganggap Changmin adalah anak yang menyenangkan, sangat berbeda dengan sosok Changmin saat ini.

"YAH KAU SOMBONG SEKALI, DASAR TIANG JEMURAN!" Junsu terpancing emosinya seraya menendang pintu apartemen milik Changmin yang barusan dibantingnya. Sementara Jaejoong telah memperlihatkan wajah sendunya, ia sungguh tak percaya mendapat sambutan tak bersahabat dari Changmin.

"Changmin ah, jebbal...katakan dimana ahjussi? buka pintunya Changmin ah, keluar dan berbicaralah sebentar, hiks..." Jaejoong kini mengetuk pintu apartemen Changmin tanpa henti dan mulai menangis sesenggukan.

"HEY TIANG SOMBONG, SEBENARNYA APA MASALAHMU DENGAN JAE HYUNG HAH? CEPAT BUKA PINTUNYA, KAMI CUMA PERLU INFORMASI SAJA DARIMU" lengkingan suara lumba-lumba Junsu yang mungkin terdengar dalam radius satu kilo meter itu tidak juga berhasil membuat pintu tersebut dibuka oleh siempunya.

"Changmin ah, mianhe kalau Joongie pernah membuat sakit hati, tapi Joongie benar-benar tidak mengerti, Joongie hanya ingin tahu dimanakah ahjussi sekarang, apakah dirumah sakit? atau dipasar? katakan Changmin ah" mohon Jaejoong dalam tangisannya agar Changmin dapat sedikit berbaik hati.

"Hyung, daripada kita membuang waktu disini bagaimana kalau kita cari dirumah sakit saja, siapa tahu ahjussi itu berada disana" Junsu berusaha menenangkan Jaejoong yang hatinya sangat galau karena waktu mereka tidaklah lama, Jaejoong diberi waktu oleh Heechul sebelum Siwon pulang, dan Siwon biasanya pulang tepat jam 8 malam.

Cklek...

"Kalian tidak akan menemukan Yunho hyung dirumah sakit"

"Changmin ah"

Jaejoong dan Junsu sedikit terkaget saat tiba-tiba suara lantang Changmin terdengar menanggapi ucapan Junsu yang menyarankan Jaejoong agar menemui Yunho dirumah sakit. Changmin membuka pintu dan menjawab perkiraan Junsu mengenai tempat Yunho berada.

"Yunho hyung tidak berada dirumah sakit, kalian bisa menemuinya dikantor polisi" ulang Changmin pasti.

"Mwo, kantor polisi?" seru Jaejoong dan Junsu bersamaan mendengar ucapan Changmin barusan.

"Ne, ia ditahan dengan tuduhan menculik pelajar anak seorang pengusaha terkaya di Korea" Jawab Changmin dengan nada tajam.

"Omonaa, tidak mungkin..." Jaejoong menggeleng keras ia berusaha tak mempercayai kata-kata Changmin tersebut.

"Apanya yang tidak mungkin? bahkan orang tuamu telah mempersiapkan tuntutan yang sangat berat untuknya" ujar Changmin sarkastik membuat Jaejoong merosot terduduk lemah.

"Yah tiang, jaga bicaramu! kau kasar sekali!" Junsu yang sangat emosi mendengar perkataan Changmin sontak menarik kerah kemeja Changmin yang belum mengganti seragam sekolahnya siang itu.

"Yah lumba-lumba lepaskan! jika bukan karena suara lengkinganmu yang jelek mirip lumba-lumba itu aku tidak akan pernah membukakan pintuku"

PLAKK!

"Kau keterlaluan sekali tiang, sungguh aku sebenarnya tidak mau menghina orang miskin sepertimu ini, tapi mulutmu sepertinya mesti diajarkan cara bersopan santun"

Tamparan keras yang bersarang dipipi Changmin-pun tak dapat dihindari lagi, Junsu benar-benar sudah habis kesabarannya menghadapi bocah bermulut pedas itu membuat namja tinggi menjulang itu terbelalak tak percaya seraya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras orang yang tidak dikenalnya yang baru ditemuinya saat itu.

"Sudah hentikan! Tidak ada gunanya kalian bertengkar, Changmin ah waktuku tidaklah banyak dan aku benar-benar tidak mengetahui jika ahjussi dipenjara karena aku. Begini saja, aku berjanji akan berusaha membuat ahjussi keluar secepatnya, tapi kau mau membantu kami mengantarkan ketempat ahjussi ditahan sekarang ini" Jaejoong berdiri dari posisinya dan berusaha melerai Junsu dan Changmin, ia juga berupaya agar Changmin mau mengantarkan ketempat Yunho berada.

"Aku bersedia menemanimu, tapi tidak dengan lumba-lumba ini! aku tidak sudi berdekatan dengannya, huh!" ketus Changmin sambil melipat kedua tangan di dadanya.

"Yah siapa juga yang mau berdekatan denganmu tiang" jawab Junsu tak mau kalah.

"Dasar yeoja!"

"Yah aku namja! tiang!"

"Mana ada namja berpantat besar dan cerewet seperti itu"

"Yah dasar kau tiang listrik, tiang jemuran, jerapah!"

"Daripada kau bebek buntel, ingin sekali aku menyantapmu"

"Enak saja, dasar rakus! kau ini kurang ajar sekali, berapa umurmu hah?"

"15, memangnya kenapa? masalah?"

"LIMA BELAS? kau kurang ajar sekali!"

"YAH HENTIKANNNN!"

Akhirnya perang mulut antara Changmin dan Junsu-pun terhenti oleh teriakan kuat Jaejoong yang semakin kalut akibat kedua makhluk yang sepertinya bakal tak pernah akur itu.

"Sebaiknya hyung urungkan saja menemui Yunho hyung dipenjara" kalimat Changmin sedikit membuat Jaejoong heran, apalagi Changmin telah merubah panggilannya menjadi lebih sopan.

"Waeyo?" heran Jaejoong.

"Karena kalian akan mengganggu Yunho hyung yang sedang dikunjungi umma-ku hehehe"

"Mwo?" Jaejoong dan Junsu kompak mengerutkan dahi mereka.

"Ne, ummaku sudah lama menyukai ahjussi-mu itu hyung, kedatangan kita nanti akan mengganggu mereka saja, kalian paham?" jelas Changmin cuek tak menyadari jika seseorang telah mengerucutkan bibirnya karena ucapannya.

"Ottokhe hyung?" Junsu berbisik kepada Jaejoong menyadari jika Jaejoong tengah kesal akibat ucapan Changmin barusan. Sedikit banyak Junsu telah mengetahui perasaan Jaejoong kepada Yunho karena Jaejoong kerap berkeluh kesah kepadanya.

"Hhhh...arraso kita berikan waktu kepada umma-mu dan Yunho ahjussi, tapi sebelumnya kalian temani Joongie kesuatu tempat dulu, ottokhe?" ujar Jaejoong mengambil keputusan.

"Arraso" jawab Changmin dan Junsu bersamaan.

"Memangnya hyung mau mengajak kami kemana?" tanya Junsu penasaran.

"Ikut saja, nanti kalian akan tahu nanti"

"Tapi hyung..." timpal Changmin memasang wajah penuh artinya membuat Junsu membuang muka sebal.

"Wae Min?" tanya Jaejoong.

"Aku lapar hyung, belum makan hehehe" ujar Changmin jujur cenderung tak tahu malu membuat Junsu mendecih kasar.

"Arraso kau boleh makan sepuasnya nanti, kajja kita berangkat" Jaejoong menarik kedua pergelangan milik Changmin dan Junsu dikiri dan kanan tubuhnya secara bersamaan membuat kedua namja yang tak akur itu terseret mengikuti langkah Jaejoong.

.

.

"Whoaaa tinggi sekali, mengapa hyung mengajak kami kesini?"

"Aniya, aku hanya ingin sekali mengunjungi tempat ini Changmin ah"

Changmin tampak begitu takjub akan indahnya pemandangan yang dilihatnya dari ketinggian tempat mereka berada saat ini. Yah Jaejoong ternyata mengajak kedua rekannya mengunjungi Namsan Tower tempat terakhir ia dan Yunho berpisah. Changmin yang baru pertama kali menginjakkan kakinya dimenara tinggi itu terkagum-kagum melihat pemandangan kota Seoul, sedang Junsu memperhatikannya dengan pandangan yang meremehkan, karena bagi orang kaya seperti Junsu namsan Tower bukanlah tempat yang istimewa untuk dikunjungi.

"Jaejoong hyung, aku menagih Janji hyung hehehe"

"Mwo? apa itu? Aishh...mianhe Changmin ah, ini kartu kreditku kau bersama Junsu makanlah di restoran itu, aku masih ingin disini"

Jaejoong yang hampir lupa akan janjinya langsung mengeluarkan kartu kreditnya dan menunjuk restoran mewah tempat ia bersama Yunho makan malam bersama disaat terakhir mereka.

"Hyung aku tak mau menemani bocah kurang ajar itu makan, suruh dia sendiri saja, biar aku menemani hyung saja" tolak Junsu keras saat mendengar Jaejoong menyebut namanya untuk menemani Changmin. Perkataan Junsu membuat wajah Changmin yang tadinya berbinar-binar bahagia karena akan makan ditempat mewah mendadak berubah kesal.

"Junsu ya, jebbal..." mohon Jaejoong memasang tampang angelicnya.

"Hhhh, arraso"

"Yayy..,kajja hyung bebek nanti makanannya habis" girang Changmin reflek menyeret pergelangan tangan Junsu kearah restoran mewah itu.

"Kau panggil aku bebek lagi aku tak sudi menemanimu tiang!"

"Hehehe...mian hyung manis" rayu Changmin membuat Junsu sedikit memerah pipinya.

Jaejoong kini sendiri berada dipuncak menara yang tingginya lebih dari 200 meter tersebut. Jaejoong berjalan menyusuri sepanjang sisi tembok menara yang banyak tergantung gembok-gembok beraneka bentuk. Tulisan yang tertera pada badan gembok-gembok itu kini terlihat sangatlah jelas dimata Jaejoong karena pada saat ia dan Yunho berada disana hari sudah gelap dan tulisan-tulisan itu susah dibaca.

Kini Jaejoong malah asyik membaca satu persatu tulisan yang berada digembok-gembok tersebut, yaitu tulisan yang berupa nama pasangan dan janji mereka kepada pasangannya tersebut.

Jaejoong terus menyusuri sisi tembok menara tinggi itu sampai-sampai ia tak menyadari jika Junsu dan Changmin yang telah selesai acara makan-makannya tengah memperhatikan gerak-geriknya dikejauhan. Mereka heran mengapa Jaejoong begitu antusias membaca setiap tulisan yang berada digembok-gembok tersebut, terkadang mereka mendapati Jaejoong tersenyum sendiri setelah membaca tulisan disana.

"Hyung lihat ada apa dengan Jaejoong hyung? sepertinya ia...menangis?"

Changmin menggoyang-goyangkan bahu Junsu yang sibuk dengan cairan antiseptiknya, Junsu memang memiliki masalah dengan kulit mulusnya yang sangat rentan terkena iritasi, apalagi menurutnya Changmin sangatlah berdebu (?).

"Mwo? kajja kita kesana, sepertinya ia menangis setelah membaca tulisan disalah satu gembok itu" Junsu segera berlari mendekati Jaejoong yang memang tengah menangis terduduk bersandar didinding tembok namsan tower. Jaejoong tampak sangat sedih sekali.

"Jaejoong hyung, gwaenchana? uljima..." Junsu berusaha menenangkan jaejoong yang terisak, sementara Changmin melihat-lihat susunan gembok-gembok yang tergantung rapi disepanjang tembok yang baru saja dilihat Jaejoong.

"Junsu ya, aku tak menyangka jika ahjussi...hiks" Jaejoong menangis tersedu tak sanggup meneruskan kalimatnya.

"Omonaa...kurasa umma-ku akan segera patah hati"

Teriakan keras Changmin terdengar sesaat setelah ia membaca tulisan yang tertera pada sepasang gembok berwarna merah. Ternyata saat Yunho menyuruh Jaejoong menunggunya di restoran waktu itu, Yunho menyempatkan dirinya untuk membeli sepasang gembok berwarna merah dan memasangnya diantara pasangan gembok-gembok yang lain.

JUNG YUNHO, nama disalah satu gembok.

KIM JAEJOONG, nama digembok pasangannya.

'Aku berjanji, Jung Yunho dan Kim Jaejoong akan bertemu kembali'

Janji yang tertulis digembok yang berlabel nama Jung Yunho yang membuat Jaejoong menangis tersedu-sedu dipelukan sahabatnya Junsu.

.

.

tebece

mian kalau tidak memuaskan :( tetap diminta revewnya :)

twitt : peya_ok

fb : mano shinki