Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

Cast lain menyusul

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

"Omonaa...kurasa umma-ku akan segera patah hati"

Teriakan keras Changmin terdengar sesaat setelah ia membaca tulisan yang tertera pada sepasang gembok berwarna merah. Ternyata saat Yunho menyuruh Jaejoong menunggunya di restoran waktu itu, Yunho menyempatkan dirinya untuk membeli sepasang gembok berwarna merah dan memasangnya diantara pasangan gembok-gembok yang lain.

JUNG YUNHO, nama disalah satu gembok.

KIM JAEJOONG, nama digembok pasangannya.

'Aku berjanji, Jung Yunho dan Kim Jaejoong akan bertemu kembali'

Janji yang tertulis digembok yang berlabel nama Jung Yunho yang membuat Jaejoong menangis tersedu-sedu dipelukan sahabatnya Junsu.

.

.

.

.

LOVE ME?

.

.

.

.

Kim House

Seorang namja cantik berumur sekitar 40-an tahun tampak berjalan hilir mudik diteras depan rumahnya, beberapa kali bola mata besarnya melirik cemas layar ponsel yang berada digenggamannya hanya untuk menanti panggilan masuk atau sms sekaligus mengecek waktu yang tertera pada sudut kanan ponsel tersebut.

"Umma, sampai kapan umma akan menunggu uri Joongie disana, umma istirahat saja, uri Joongie pasti akan menepati janjinya, lagipula masih 2 jam lagi appa tiba dari kantor, jja umma...umma harus memikirkan kesehatan umma, bukankah baru 2 hari yang lalu umma diperbolehkan turun ranjang"

"Sun Hee ah umma tidak tenang, Joongie berjanji akan menghubungi umma, tapi nyatanya...hhhh"

Desahan berat terlontar dari bibir si namja cantik yang tak lain adalah Heechul setelah menyampaikan keluh kesahnya kepada Sun Hee si putri sulung yang tengah membujuknya agar beristirahat.

Melihat kekhawatiran berlebih sang umma Sun Hee merasa sedikit was-was, dalam hati ia mengomeli sang maknae yang kembali lupa waktu jika berada diluar. Heechul sang umma sangat khawatir lantaran Jaejoong pamit keluar bersama Junsu atas seijinnya dan yang disesalkannya adalah tak satu-pun bodyguard yang diperbolehkannya ikut. Heechul mengijinkan karena Jaejoong berjanji akan pulang sebelum Siwon tiba dirumah.

Hhhh...

Kembali terdengar desahan panjang Heechul, dihempaskan dirinya dikursi teras empuk rumahnya tempat dirinya menunggu Jaejoong sedari tadi. Diliriknya kembali ponsel berlayar besar miliknya.

04.30

Itu artinya dalam waktu 2 jam setengah lagi Siwon akan pulang. Heechul tak dapat membayangkan jika Siwon pulang dan tak mendapati putra semata wayangnya dirumah. Masih terbayang jelas dalam ingatan Heechul seminggu yang lalu Jaejoong yang menangis sesenggukan di pagi hari setelah kepulangannya kerumah, Siwon yang marah besar kepada Jaejoong tak mengijinkan lagi sicantik bawel itu bersekolah di sekolahnya lagi. Siwon memutuskan Jaejoong untuk mengikuti home schooling saja.

Setelah 'mengeksekusi' putranya pagi itu Siwon bergegas keluar rumah lantaran ia sudah berjanji untuk menemui si penculik putranya yang sudah berada di tahanan kantor polisi kota Seoul. Siwon hanya pergi seorang diri dengan terburu-buru menyebabkan wajah heran dari istri dan ketiga anaknya yang masih berada di meja makan.

Apa yang dilakukan Siwon setelah bertemu dengan penculik putra itu?

Flashback

Duagh!

Agghh...

Tubuh tegap itu terhuyung limbung membentur dinding tembok tahanan saat bogem besar terarah ke rahang tegasnya. Meski mempunyai tubuh yang kekar namja pemilik sorot mata tajam itu tetap goyah juga saat kepalan tangan dengan tenaga yang kuat itu menyentuh dirinya tanpa ia berusaha sedikitpun untuk melawannya.

Siwon, si pelaku hanya menatap dingin namja dihadapannya tanpa berkedip sedikitpun.

"Apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku?" ucap bibir tipis itu tajam.

Yunho terlalu sibuk menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya sehingga Siwon menganggapnya telah mengacuhkannya.

"JAWAB PERTANYAANKU! AKU TAK SUKA DIREMEHKAN ORANG TAK BERGUNA SEPERTIMU!" Siwon semakin tersulut emosinya.

"Mianhe Tuan Siwon yang terhormat, sama sekali aku tak bermaksud jahat kepada putra-mu, namun keterpaksaanlah yang membuatku melakukan tindakan tak terpuji tersebut, sekali lagi mianhe" Berkali-kali Yunho menunduk hormat dihadapan Siwon yang wajahnya berkilat karena emosi.

"Mudah sekali mulutmu berbicara, kau tidak merasakan bagaimana tertekannya keluarga kami, terutama istriku yang sangat menderita karena perbuatanmu ini"

"Mianhe Tuan, saya siap dengan hukuman apa saja yang akan Tuan berikan kepada-ku" ujar bibir hati itu mantap menuai delikan tajam dari Pengusaha terkaya di Seoul tersebut.

"Jika terbukti kau menyentuh putraku sedikit saja, kupastikan nyawa-mu tak akan selamat"

"Ne Tuan aku mengerti"

Senyum kecut dari bibir hati itu saat mendengar ancaman terakhir dari orang tua sanderanya yang telah mencuri seluruh hatinya. Namun angan-angan untuk memiliki seorang Kim Jaejoong-pun menguap begitu saja seiring berlalunya sosok angkuh dihadapannya setelah berhasil menciutkan hatinya.

Flashback End

Sementara itu...

"Changminah, jebbal tolong antarkan Joongie sekarang juga ketempat ahjussi ditahan, hiks..."

Wajah putih dan sepasang mata doe itu tampak basah oleh airmata setelah menemukan benda yang membuat hatinya sakit mengingat sosok yang tengah mendekam dipenjara tanpa sepengetahuannya sama sekali. Jaejoong memohon kepada bocah jangkung yang tampak ragu lantaran dilihatnya hari telah mulai beranjak sore.

"Jae hyung, apa sebaiknya kita pulang saja, lihatlah hari sudah beranjak sore" ternyata Junsu mempunyai pemikiran yang sama dengan bocah tinggi menjulang itu.

"Hiks...kalian tidak mengerti, ahjussi pasti sangat menderita disana, mungkin saja Joongie dapat membantunya, barangkali Joongie bisa menjaminnya supaya ahjussi bisa keluar dan mengurus umma-nya yang sedang sakit, hiks...jebbal"

"Umm, arraso, kalau begitu kita harus buru-buru, naik taksi saja bila perlu" ujar Changmin kemudian. Meski awalnya menunjukkan ketidak ramahannya, bocah tiang tersebut ternyata masih menunjukkan sisi kepeduliannya.

"Kalau begitu kajja hyung, kita harus segera beranjak dari sini, hey tiang ppali!" ajak Junsu kemudian.

"Umm, tapi...hehehe"

"Yah apa lagi kau ini tiang? bukankah kau sendiri yang mengajak kami agar buru-buru" Junsu mendengus menyaksikan tingkah aneh Changmin.

"Ne bebek, tapi perutku ini sepertinya ingin mengajakku kekamar mandi dulu, hehehe" jawab Changmin malu-malu sembari memegang perutnya yang sakit. Keadaan perutnya yang terlalu penuh akibat makan direstoran tak lama sebelum menemukan Jaejoong menangis tadi membuat sebagian isinya minta dikeluarkan segera.

"Ya sudah sana cepatlah, kami tunggu dibawah eoh? ppali jangan lama-lama"

Jaejoong segera menengahi ketegangan antara Junsu dan Changmin. Jaejoong segera menarik Junsu kearah lift untuk segera turun kelantai bawah, ia tak ingin pertengkaran antara dua makhluk yang tidak akur sejak bertemu itu akan semakin memperlambatnya untuk bertemu ahjussi penculik yang sangat dirindukannya.

Sepuluh menit kemudian...

"Ahh legaa..."

"Yah tiang! tidak usah banyak akting, kajja!"

"Ck, lumba-lumba pantat bebek, tidak sabaran sekali, hhh..."

Decakan sebal dari bibir seksi Changmin saat dirinya baru saja tiba didepan pintu keluar Namsan Tower dan langsung disambut makian dari Junsu yang ternyata sudah berada didalam taksi bersama Jaejoong.

Dan ketiga remaja tersebut kini sudah berada didalam taksi yang akan membawa mereka menuju kantor polisi tempat Yunho ditahan selama seminggu ini. Selama perjalanan yang diwarnai ketidak akuran antara silumba-lumba berpantat bebek dan si tiang listrik membuat Jaejoong selalu mengerucutkan bibirnya cemberut, wajah cantiknya menampakkan raut kesal sepanjang perjalanan, bahkan terhitung sudah berapa kali ia harus memisahkan keduanya yang hampir 'adu jotos' didalam taksi sempit tersebut. Sempit karena diantara Junsu dan Changmin tak seorangpun yang mau duduk didepan disebelah ahjussi supir. Tentu saja tidak mungkin Jaejoong yang duduk didepan dan membiarkan kedua makhluk tak akur itu duduk berdampingan bukan?

Akhirnya Jaejoong disepanjang jalan hanya berusaha bersabar dengan posisi duduk ditengah diantara Junsu dan Changmin yang layaknya seperti anjing dan kucing saja, selalu bertengkar dan adu mulut.


Kantor Polisi Seoul

"Ahra shi, hari sudah mulai gelap, sebaiknya kau pulang saja, akan tidak aman jika wanita sepertimu berjalan seorang sedniri naik kendaraan umum, ahh mengenai umma-ku aku berterima kasih sekali kau dengan senang hati mau menjaga selama beberapa hari ini, untuk itu malam ini biarlah suster yang menjaganya"

Tampak dua orang tengah berbincang diruang tunggu kantor polisi yang merangkap tempat para tahanannya menerima tamu mereka. Beruntung diruangan tersebut hanya ada dua orang tersebut, seorang namja dan yeoja berumur lebih kurang 35 tahun. Mereka duduk bersebelahan disofa panjang yang tersedia diruangan itu.

"Hhhh, Yunho ah sedari tadi kau belum menyentuh makanan yang kubawakan untukmu, tidak usah mengkhawatirkanku karena aku sudah terbiasa pulang larut, lagian aku akan memilih naik bis saja, lebih aman" demikian ucap wanita yang dipanggil namja yang ternyata adalah Jung Yunho itu dengan sebutan Ahra.

"Ahra shi, kau sudah terlalu baik kepadaku, aku terlalu banyak berhutang kepadamu, ta..."

"Yunho ah, aku ingin kau makan sekarang, atau kau ingin kusuap?" Ahra memotong kalimat Yunho.

"T-Tidak usah, biar aku sendiri, arraso aku segera makan" Yunho langsung meraih kotak makanan yang dibawakan Ahra kepadanya sejak siang tadi. Sepertinya Ahra betah sekali berada disana hingga hari sudah hampir malam seperti ini.

Akhirnya dengan sedikit kecanggungan Yunho mulai menyantap bekal yang dibawakan Ahra untuknya. Wanita cantik disebelahnya-pun tak menunjukkan untuk mengeluarkan kata-katanya sedikitpun, ia hanya memandang namja disebelahnya yang terlihat hanya memegang kotak makanannya saja tanpa bermaksud membukanya.

"Ehm, Yunho ah, mengapa bekalnya hanya dipegang saja? kajja makanlah"

"N-ne Ahra shi"

"Jangan memanggilku dengan akhiran 'shi' Yun, aku tak suka mendengarnya"

"Umm, jadi? tempo hari aku memanggil noona juga tidak boleh"

Bibir hati itu sedikit mengerucut karena sedikit kesal kepada Ahra yang tidak ingin dipanggil dengan embel-embel 'shi' dibelakangnya, seharusnya jika mengikuti umur mereka Yunho harus memanggil Umma Changmin tersebut dengan pangilan 'noona' mengingat umur mereka yang berjarak beberapa tahun tentu aja ia harus memanggil Ahra dengan sebutan 'noona'.

"Panggil Ahra saja saja, aku tidak suka jika perbedaan umur menjadi pembatas diantara kita Yunho ah" jawab Ahra pelan, dalam hatinya ia ingin sekali jika Yunho memberinya panggilan khusus agar hubungan mereka lebih akrab lagi.

"Arraso jika kau menghendakinya, mulai sekarang aku akan memanggil-mu dengan sebutan Ahra saja" ujar Yunho memamerkan senyumnya yang membuat hati wanita yang tidak lagi muda itu melumer.

"Gomawo Yunho ah, dan sekarang buka mulutmu..."

"Eh?"

"Buka mulutmu, aku tidak akan membiarkan makanan yang dengan susah kumasak pagi tadi menjadi basi, ayo, aaa..."

Yunho terlihat sangat kaget saat didapatinya sebuah sendok penuh dengan nasi dan lauk pauknya telah berada didepan bibirnya. Ternyata Ahra bermaksud menyuapkan makanan yang telah dibawanya sejak pagi itu untuk Yunho, karena semenjak kedatangannya Yunho sama sekali tidak menyentuh makanannya.

"T-Tapi aku bisa menyuap sendiri makanan ini Ahra ah" ragu bibir hati itu karena rasa canggung kepada wanita cantik tersebut.

"Kau terlihat malu dan sungkan Yun, aku tidak keberatan kok, kajja, aaa..."

"A-Arraso, hemp..."

"Nah begitu pintar, hehehe"

"Ahh aku merasa seperti anak kecil saja, berikan kepadaku, biar aku makan sendiri"

"Biarkan aku menyelesaikannya, lagian aku terbiasa menyuap Changmin kok, anak itu masih saja minta kusuap jika kumat manja-nya"

"Jinjja? Changmin masih sering kau suap? hahaha, akan kujadikan bahan ledekanku nanti"

Dan kecanggungan antara Yunho dan Ahra-pun perlahan-lahan kembali mencair, obrolan akrab diantara keduanya tercipta seiring suapan demi suapan makanan yang dari Ahra kepada sang namja pujaan hatinya yang menurutnya semakin tampan saja dengan model rambutnya yang sudah rapi. Itu karena Yunho sempat memotong rambutnya dan dirapikan penampilan disebuah salon saat berjalan bersama Jaejoong tempo hari.

.

.

.

Krieett~

"Yunho ahjussi/ ummaa"

"J-Joongie?/ Minnie?"

"Mwo?"

Seruan berbarengan yang menyebutkan nama orang yang mereka lihat saat pintu ruang tunggu tahanan dikantor polisi tempat Yunho dan Ahra berada terbuka perlahan.

Jaejoong dan Changmin sontak memanggil nama orang yang mereka rindukan, Yunho dan Ahra yang tengah beradegan suap-suapan itu-pun tersentak kaget saat Jaejoong, Changmin dan Junsu mendadak masuk keruangan tersebut.

Tentu saja Yunho langsung menyebutkan nama Jaejoong berbarengan dengan Ahra yang memanggil nama putra kesayangannya Changmin. Sementara si imut Junsu hanya dapat tersenyum nista mendengar nama panggilan sang musuh yang terdengar begitu kekanakan ditelinganya, wajar saja Changmin terlihat kekanakan, usianya baru 15 tahun eoh? berbeda umur hanya 2 tahun dibawah Junsu.

Jaejoong? entah mengapa bibir cherry-nya spontan mengerucut sebal melihat adegan suap-suapan yang terjadi didepan matanya saat itu. Tampak sekali Yunho menikmati saat Ahra umma Changmin itu menyuapkan makanan kemulut ahjussi yang sangat dirindukannya.

Yunho? jangan ditanya, demi melihat makhluk cantik pujaan yang berada tak jauh darinya itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak bersamaan timbul rasa bersalah saat menyadari keadaannya yang tengah beradegan suap-suapan bersama Ahra. Ia melihat jelas chery merah nan manis yang pernah dirasakannya itu mengerucut sebal.

"Ummaaa" Changmin berlari kepelukan Ahra dan memeluk wanita tersebut dengan manjanya mencetak decihan remeh dibibir Junsu.

"Cih, anak manja ternyata" Lirih Junsu yang untungnya hanya Jaejoong saja yang bisa mendengarkan gumaman meremehkannya itu karena Jaejoong berada didekatnya.

"Minnie ya bogoshippo...anak umma mengapa kemari hmm?" heran Ahra sambil memeluk sayang Changmin yang sudah seperti anak kucing bertemu induknya, menempel erat disisinya bergelayut manja.

"Minnie mengantarkan Jae hyung dan hyung bebek itu umma, mereka ingin bertemu Yunho hyung" jawab Changmin cuek saat kedua mata Junsu memelototinya penuh dendam.

"Ahh jinjja? apa mereka temanmu?" tanya Ahra seakan tak percaya melihat keadaan kedua makhluk putih bersih yang disebut Changmin sebagai temannya itu. Siapa saja yang melihat penampilan Jaejoong dan Junsu, ditambah lagi Junsu yang masih memakai seragam sekolah elitnya tak akan percaya jika kedua anak tersebut berasal dari keluarga biasa-biasa saja.

"Anneyong ahjumma, Kim Jaejoong imnida dan ini Kim Junsu"

"Kim Jaejoong, aigoo..."

"Umma mengenalnya?" tanya Changmin penasaran kepada ummanya sesaat setelah melihat wajah kaget sang umma ketika mendengar Jaejoong menyebutkan namanya dan nama Junsu sahabatnya.

"Apa k-kau anak pengusaha Kim Siwon? y-yang kemarin diberitakan diculik?" tanya Ahra tergagap.

"Ne umma...Minnie melihat beritanya di televisi" tukas Changmin yang sukses menyebabkan Ahra ummanya mengangakan mulutnya lebar.

"J-Jadi?"

"Ne umma, Yunho hyung ditahan karena dituduh menculik anak orang kaya ini"

"Yah, jaga mulutmu bocah!"

Junsu mendelik kesal saat Changmin dengan gaya seenaknya menjawab pertanyaan sang umma seputar Jaejoong sahabatnya yang hanya tertunduk diam mendengar celotehan dari bibir Changmin.

"Omonaa, apa benar itu Yunho ah?" Ahra yang terkaget menutup mulutnya dengan telapak tangannya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang buah hati dan meminta kepastian langsung dari Yunho yang hanya dapat menggaruk-garuk belakang tengkuknya salah tingkah.

"N-Ne Ahra ah" jawab Yunho pelan sembari menganggukan kepalanya.

"Aigoo Yun, aku tak menyangka, w-wae Yun? mengapa bisa?" berondong Ahra.

"Aku terpaksa, saat itu umma harus dioperas, dan..."

"Dan kau memutuskan untuk menculik anak itu? Aishh" geram Ahra seraya menunjuk Jaejong yang masih tertunduk semakin dalam.

"Mianhe, aku terpaksa melakukannya Ahra ah" jawab Yunho pelan.

"Hhhh...jika untuk operasi kau bisa meminjam kepadaku Yun ah"

"Mianhe, saat itu aku sudah tak bisa berpikir jernih, mungkin sudah takdirku, gwaenchana Ahra ah"

Bibir hati itu hanya dapat melafazkan kata maafnya berkali-kali, sedang Ahra sukses terduduk lemas demi mendengar pengakuan tersebut. Ia menyesali mengapa Yunho bertindak bodoh seperti itu, jika hanya kekurangan uang, bukankah Yunho bisa meminjam kepadanya? ia benar-benar sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran namja tampan yang diam-diam telah disukainya sejak lama tersebut.

Dan Yunho hanya dapat menjawab takdir. Takdir yang menyebabkannya dijebloskan kedalam penjara, atau takdir jalannya untuk bertemu sang makhluk sang malaikat cintanya? jika saja ia meminjam uang kepada Ahra tentu saja takdirnya akan berbeda bukan?

"A-Ahjussi, Joongie ingin berbicara dengan ahjussi, jebbal"

Tiba-tiba pemilik doe eyes itu memberanikan diri untuk mengangkat kembali kepalanya dan beralih menatap kedua manik mata musang yang tengah menatapnya tajam. Ingin sekali ia mengalihkan pandangannya namun sorot tajam musang itu seolah menghipnotis manik matanya agar tak berpaling sedikitpun.

Ahra, Junsu dan Changmin, ketiga makhluk lain yang berada ditempat itu sejenak saling berpandangan tak mengerti melihat adegan 'salin pandang' YunJae yang tertangkap oleh mata mereka. Khususnya Ahra, perasaannya mengatakan jika ada sesuatu diantara kedua makhluk sesama jenis dan berbeda umur jauh itu saat melihat keduanya saling berpandangan.

Ahra memegang pelan dadanya, sakit. Entah, bahkan Yunho tak pernah memberi tatapan sedemikian rupa kepadanya seperti tatapan yang diberikannya kepada Jaejoong, bocah yang baru dikenalnya beberapa saat lalu.

"Ummaa Minnie lapar, kajja ke kantin!"

Tiba-tiba Changmin menarik pergelangan tangan ummanya yang masih terbengong melihat YunJae moment didepan matanya. Changmin yang merasa iba kepada sang umma sepertinya berinisiatif mengajak umma tersayang untuk segera menyingkir dari tempat itu, ia tidak ingin melihat ummanya terluka lebih dalam lagi saat melihat kedekatan Yunho dan Jaejoong.

"Dan kau juga bebek!"

"Yah panggil aku hyung!"

"Never!"

"Dasar bocah manja"

"What ever"

"Yah, yah, mau dibawa kemana aku, lepaskan!"

"Ikut saja bebek"

"Yah kaliah berdua apa selalu tidak akur seperti ini eoh?" Ahra berusaha menengahi ketegangan yang terjadi antara putranya dan Junsu bocah yang dianggapnya sangat imut saat pertama kali melihatnya.

"Dia yang selalu menghinaku ahjumma" jawab Junsu dengan raut wajah kesalnya yang menurut Ahra membuatnya semakin bertambah imut saja.

"Hahaha kau tahu nak, jika Changmin biasanya bertingkah seperti itu kepada orang yang sangat disukainya"

"Ohh begitu...eh? What?!"

Junsu terlonjak kaget setelah beberapa menit akibat otaknya yang sedikit lambat meloading maksud perkataan Ahra umma Changmin barusan.

"Ne bocah manis, Changmin akan berpura-pura tak menyukai dan memusuhi orang yang benar-benar disukainya" ujar Ahra berusaha memperjelas maksud ucapannya. Sedang Changmin hanya misuh-misuh tak jelas dibelakang sang umma, tampak ia sangat malu.

"Aishh jinjja..."

Hanya ada decakan sebal dari bibir Junsu mendengar penjelasan dari wanita cantik umma Changmin tersebut. Ia tampaknya masih belum mengerti benar maksud perkataan Ahra yang tengah mengulum senyumnya.

Tak disadari Junsu jika kedua pipinya tengah merona merah saat ini.

Changmin kembali menarik kedua pergelangan milik Ahra dan Junsu bermaksud segera meninggalkan ruangan tersebut.

Brakk~

Suara lumba-lumba yang melengking memekakkan telinga itu serta-merta menghilang dibalik pintu yang terbanting bersamaan hilangnya ketiga makhluk yang dibawa, ah ani diseret tepatnya oleh Changmin menuju tempat favoritnya, yaitu kantin. Suara protes Junsu yang diseret paksa Changmin serta-merta hilang ditelan jarak yang memisahkan antara kantin dan tuang tunggu kantor polisi itu.

Sementara Yunho dan Jaejoong masih berada diposisi masing-masing dalam keadaan canggung. Jaejoong yang masih berdiri kembali tertunduk dan Yunho yang duduk disofa sedari tadi.

"Jaejoong ah, kemarilah" akhirnya bibir hati memulai kalimat pertamanya seraya menepuk-nepuk jok empuk sofa tepat disebelahnya duduk. Jaejoong-pun perlahan mendekat dan mendudukkan dirinya ditempat yang dimaksud Yunho, namun tak sedikitpun ia berani menatap wajah disampingnya tersebut yang tengah menyunggingkan senyumannya.

Bibir hati itupun bergerak memulai kalimatnya kembali.

"Jaejoong ah, kau tahu...tak seharusnya kau kemari"

"Eh? mengapa ahjussi berkata seperti itu? apa ahjussi tidak senang melihat Joongie kembali?" doe bening itu-pun terbelalak tak percaya akan kalimat yang baru saja didengarnya.

"Ne, kau memang tak seharusnya kemari dan bertemu denganku Jaejoong shi"

"W-Wae? bukankah ahjussi sendiri yang berjanji akan menemui J-Jongie?"

Wajah putih porselen itu semakin menunjukkan keterkejutannya. Demi seluruh wajah cantik didunia ini, Yunho hanya dapat menelan salivanya saja saat menatap cherry merah itu bergetar menahan emosinya.

Sekuat tenaga Yunho menahan kerinduan yang membuncah di dadanya. sesungguhnya keinginan terbesarnya saat ini adalah memeluk tubuh mungil itu seerat-eratnya dan merasakan kembali rasa manis cherry merah yang tengah bergetar menahan tangisnya.

"Jaejoong ah, aku rasa pertemuan kita telah berakhir di gerbang Namsan Tower, aku berjanji akan menemuimu kembali jika aku sudah bisa mengembalikan hutangku kepada-mu, tidak usah menemuiku lagi disini, kuharap kau mengerti"

"A-Apa m-maksud ahjussi? J-Joongie tidak mengerti..."

Demi Tuhan, saat ini Yunho benar-benar tidak sanggup menatap kedua bening yang sedari awal telah dikagumi keindahannya itu, apalagi saat disadarinya kedua bola mata itu mulai berkilat dipenuhi cairan yang siap jatuh kapan saja.

Dalam hatinya Yunho hanya dapat mengutuk nasib jeleknya yang dilahirkan dalam keadaan kekurangan seperti ini, sekilas muncul wajah dingin Siwon serta ancamannya yang memaksanya untuk menciptakan kebohongan yang membuat makhluk tak berdosa didekatnya itu menjadi terluka tak berbeda dengannya sekarang ini. Keduanya sama-sama terluka, dan itu jelas sangat jelas bahkan.

Tes...

Tanpa dapat ditahan akhirnya butiran bening itu terjatuh dengan sendirinya dari manik hitam Jaejoong. Seketika perasaan namja cantik yang baru berusia 17 tahun itu terasa hancur tak bersisa setelah sebelumnya dibuat melambung tinggi saat mereka berada di namsan tower menemukan sepasang gembok bertuliskan nama keduanya.

"Mianhe..." tak ada kata lain yang sanggup keluar dari bibir hati itu.

"Hiks...ahjussi, J-Joongie yang seharusnya meminta maaf, mungkin ahjussi sakit hati karena Joongie Ahjussi berada disini, tapi Joongie mohon jangan melarang Joongie bertemu ahjussi dan Joongie tidak akan pernah menagih uang yang pernah joongie berikan"

Cherry merah itu semakin bergetar saat mengutarakan kalimat pembelaannya kepada Yunho yang saat ini hanya diam tertunduk menyesali nyalinya yang menciut hilang entah kemana.

"Jaejoong shi, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, t-tapi aku memang menculikmu dan aku berhak atas hukuman ini, aku mohon kau jangan merasa bersalah"

"Tapi Joongie tidak merasa sedang diculik saat itu"

"Aku tetap menculikmu Jaejoong shi"

"Berhenti memanggil Joongie seperti itu, Joongie tidak suka!"

"M-Mianhe"

Yunho kembali tertunduk lemah saat cherry merah itu memberikan protes kerasnya saat dirinya memanggil mantan sanderanya itu dengan akhiran 'shi' dibelakang.

"Ahjussi, sekali lagi seharusnya Joongie meminta maaf, karena Joongie sempat merasa sangat bahagia saat menemukan sepasang gembok yang bertuliskan nama kita berdua di namsan tower"

"K-Kau menemukannya?" wajah tampan itu terperangah kaget.

"Ne, dan ternyata Joongie salah menilai, ternyata gembok tersebut tak memiliki arti sama sekali bagi orang yang telah menuliskan janjinya disana"

"J-Joongie ah, a..."

"Dan Joongie juga ternyata salah karena terlalu senang saat melihat sepasang gembok tersebut, menganggap sipenulis bersungguh-sungguh atas janjinya untuk kembali bertemu dengan Joongie, ternyata...hiks..."

Kembali bibir plum itu tak kuasa menahan isakannya saat pikirannya kembali kepada sepasang gembok yang ditemukannya di namsan tower beberapa saat lalu yang dengan jelas Yunho menulis janjinya untuk kembali bertemu dengannya.

"Joongie mianhe..." Jaejoong menepis keras tangan Yunho yang berusaha memegang pelan bahunya yang bergetar keras karena tangisannya. Saat ini Jaejoong hanya dapat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya agar tak terlihat airmatanya yang mulai membasahi seluruh wajah cantiknya. Perjalanan panjangnya hari ini terasa sungguh sia-sia, orang yang sangat dirindukannya ternyata tak ingin berjumpa dengannya.

"Baiklah kalau itu yang ahjussi inginkan, Joongie mengerti, Joongie tidak akan berusaha menemui ahjussi kembali, gomawo karena sempat membuat hati Joongie bahagia meski itu cuma sebentar, Joongie pamit, anneyong ahjussi..."

Perlahan tubuh mungil itu beranjak dari posisinya mulai melangkah menjauh dari ahjussi penculik yang tak sedikitpun berusaha menghentikan langkahnya. Sorot tajam itu hanya dapat memandang pasrah sosok indah yang perlahan mulai menjauh.

"J-Joongie..."

Dan langkah kaki itupun terhenti saat didengarnya suara khas memanggilnya, ditolehkannya wajah cantiknya kearah suara tersebut.

"Jangan panggil aku ahjussi, panggil aku Yunnie"

Tanpa berkata-kata lagi Jaejoong segera membalikkan posisinya dan mempercepat langkahnya menjauhi namja yang baru saja menghancurkan hatinya itu. Airmata kembali tak terbendung membasahi kedua sisi pipi mulusnya, ditutup mulutnya dengan sebelah tangannya agar tak terdengar bunyi isakannya, walau bagaimanapun ia adalah seorang namja, tak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain. Dalam hatinya Jaejoong memarahi dirinya sendiri yang telah patah hati oleh seorang biasa yang tidak sebanding dengannya.

Love is blind

Love is hurt

But Love is a fate.

.

.

.

TBC

Review as always :)

Twitter : Peya_ok

FB : Mano Shinki