Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama
Rate : T
Genre : Romance, Humor
Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please
DON'T LIKE DON'T READ
CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra
Cast lain menyusul
.
Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!
.
.
.
.
SUMMARY
Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?
.
.
Previous Chap
Hari baru menunjukkan pukul 3 sore waktu setempat dan jam tersebut bukanlah saat Siwon pulang dari kantornya, tentu saja ia akan mendapati suasana rumah yang sepi lengang lantaran kedua putrinya-pun belum pulang dari kantor masing-masing.
"T-Tuan sudah pulang?" salah satu maid tegopoh-gopoh mengambil tas kerja Siwon yang kini telah duduk bersandar di sofa empuk ruang keluarganya, sebelah tangan namja tampan itu sibuk membuka simpul dasinya dan membuka kancing kemeja bagian atasnya. Sedikit rasa lega saat tenggorokannya dialiri udara dengan cukup lancar.
"Nyonya eodi?" tanya Siwon pada salah satu maid yang masih bediri tak jauh darinya.
"Nyonya Kim berada dikebun belakang tuan" jawan sang maid dengan sopan.
"Cepat panggil kemari"
"Baik tuan" maid tersebut lantas langsung menuju tempat Heechul berada dengan langkah yang terburu-buru.
Tak lama maid tersebut kembali bersama Heechul dengan wajah herannya melihat sang suami telah pulang dari kantornya, tidak seperti biasanya. Terlebih lagi melihat wajah Siwon yang tampak kesal.
"Wonnie, kau sudah pulang? biar aku buatkan teh hangat, eoh?" tegur Heechul ramah seraya menawarkan sang suami teh hangat.
"Chullie ya, aku ingin kau menjelaskan apa yang sudah kau lakukan pagi tadi dikantor polisi" suara Siwon terdengar dingin dan datar tanpa menjawab sedikitpun sapaan ramah Heechul yang wajahnya terlihat tegang.
"M-Maksudmu?" Heechul masih berpura-pura tak mengerti.
"Tidak usah berpura-pura, siang tadi aku menelpon inspektur Lee dan apa yang kudapatkan? Kau telah melepaskan penculik itu dengan mudahnya!"
'...'
.
.
.
LOVE ME?
.
.
.
.
Siwon menatap tajam istrinya yang terdiam membeku masih ditempatnya berdiri sedari awal tak jauh darinya. Wajah cantik Heechul tampak datar, sama sekali tak menunjukkan rasa takutnya kepada sang suami yang menatapnya seakan hendak menelannya hidup-hidup.
"Kim Heechul, bisa kau jelaskan?" kali ini nada bicara Siwon terdengar puluhan kali lebih menyeramkan dari sebelumnya dan Heechul belum menunjukkan perubahan ekspresinya, namun kali ini wajahnya dialihkan menatap sang suami yang jaraknya cuma beberapa langkah darinya.
"Wonnie~ah, ada baiknya jika kau mencari bukti dulu sebelum bertindak" bibir Heechul bergerak mulai menanggapi pertanyaan Siwon yang menuntut jawaban jujur darinya.
"Jelaskan maksudmu" tegas Siwon.
"Kau belum menyelidiki apakah uri Joongie memang benar-benar diculik" jawab Heechul dengan nada dingin.
"Jelas namja itu adalah penculiknya, untuk apa lagi menyelidikinya? buang-buang waktu saja, sudah jelas kaki tanganku mendapat laporan jika petugas yang menangkap penculik itu telah membuntuti mereka dari pagi hingga malam harinya" jawab Siwon lantang.
"Tapi uri Joongie mengaku ia sama sekali tak mendapat perlakuan kasar dari namja itu, bahkan kita belum memberikan sepeser-pun kepada penculik tersebut" jawab Heechul tak kalah tegasnya membuat Siwon sedikit heran akan tingkah istrinya saat itu. Sedikit memperbaiki posisi duduknya Siwon melanjutkan kata-katanya.
"Arraso, jika memang begitu akan kutanyakan langsung kepada uri Joongie" Suara Siwon sedikit melembut dan segera menyuruh salah satu maid untuk memanggilkan Jaejoong yang tengah berada dikamarnya dilantai atas mansion mereka.
Tak lama terlihat Jaejoong melangkah sedikit tergesa menuruni tangga yang cukup panjang dan berkelok, wajah cantiknya terlihat sedikit tegang dan bingung, mungkin ia heran karena tak menyangka jika appanya sudah pulang pada jam saat itu. Hari masih sore.
Wajah Jaejoong terlihat semakin bingung saat melihat posisi 'aneh' kedua orang tuanya yang tak menunjukkan kemesraannya sama sekali seperti yang biasa mereka perlihatkan. Jaejoong melangkah melewati tempat Heechul berdiri dan langsung mengambil tempat duduk di sofa tepat dihadapan sang appa yang sama sekali tak menunjukkan wajah bersahabatnya.
"Appa memanggil Joongie? ada apa ? dan umma, mengapa terus berdiri disana, kajja duduklah bersama Joongie disini" Jaejoong memulai percakapan, sedikit banyak ia tentu memahami adanya kecanggungan diantara kedua orang tuanya dan berusaha mengatasi kecanggungan itu dengan meminta Heechul untuk duduk disebelahnya saja.
"Tidak usah, biarkan umma begini saja" Suara Heechul sedikit bergetar.
"Joongie-ah, apakah Joongie sudah mengetahui jika namja yang menculik Joongie sudah dibebaskan dari tahanannya?" buru-buru Siwon bertanya kepada Jaejoong sedikit terkesan tak sabar akan jawaban sang putra.
Mendengar perkataan sang appa Jaejoong sedikit terkejut karena ia memang belum sama sekali diberitahu Heechul mengenai hal itu, dan ia sama sekali tak mengetahui jika Heechul berada dibalik kebebasan Yunho.
"Jinjja appa? Joongie belum mengetahuinya" Seru Jaejoong antusias tak dapat menyembunyikan raut bahagianya. Melihat ini wajah Siwon berubah menjadi keruh.
"Jaejoong-ah, appa tidak suka kau bersikap seperti itu, kau sepertinya sangat senang sekali mengetahui penculikmu sudah dibebaskan, ada apa dengan kalian? bahkan umma-mu membela penculik itu, umma-mu sudah tidak ingat lagi jika penculik itu hampir membunuh-nya karena penyakit jantungnya yang kambuh"
Siwon tak dapat lagi menahan amarahnya, wajahnya mengeras menyebabkan putra tunggal yang berada dihadapannya tertunduk ketakutan, Jaejoong tak menyangka jika appanya akan semurka itu.
"A-Appa, s-sebenarnya penculik itu tidak pernah berbuat kasar kepada Joongie" jawab Jaejoong kemudian dengan terbata.
"Lalu apa yang sudah diperbuatnya kepada-mu hingga kau seperti seorang yeoja yang jatuh cinta saat membicarakannya?"
"Hiks..."
Jaejoong tak dapat menahan airmatanya, ia tak menyangka perkataan Siwon appa kandungnya akan sekasar itu hingga menyakiti hatinya, bahkan appanya tak pernah memanggilnya dengan sebutan 'kau' sejak lahir. Heechul yang melihat Jaejoong menangis segera mendekati putranya, duduk disebelah Jaejoong dan berusaha menenangkan Jaejoong yang mulai menangis tersedu-sedu.
Siwon menatap kedua orang yang sangat dicintainya dengan pandangan yang meremehkan, entah apa yang berada dipikirannya sekarang.
"Jaejoong-ah, kuperingatkan bersikaplah selayaknya seorang namja, appa tidak ingin keturunan appa menjadi namja cengeng seperti itu, ingat kau itu NAMJA! namja tidak menangis" suara Swon yang terdengar sangat keras hampir seperti bentakan membuat keadaan rumah besar mereka sunyi mendadak karena para maid yang sibuk hilir mudik dengan pekerjaan mereka sontak menjadi terdiam mendengar suara keras dari sang majikan.
"Hiks...m-mianhe appa" bukannya berhenti Jaejoong malah semakin menangis dan itu menjadikan Siwon semakin kesal.
"BERHENTI MENANGIS!"
"Hiks..."
"SUDAH KUKATAKAN, NAMJ..."
"CHOI SIWON, BERHENTI MEMBENTAK ANAKKU"
"C-Chullie ya..."
Siwon tersentak kaget mendengar suara keras Heehcul yang terlihat sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi, dada namja cantik itu terlihat bergemuruh naik turun menahan emosinya yang sudah diambang batas melihat Siwon membentak Jaejoong begitu kerasnya.
Yang lebih mengagetkan Siwon adalah saat Heechul menyebutkan nama marganya.
"Berhenti membentak dan menghina anakku, Choi" ulang Heechul, kali ini suaranya lebih menyerupai desisan berbahaya.
Jaejoong tampak terheran-heran mendengar nama marga yang disebutkan Heechul, bukankah sejak ia dilahirkan ia menyandang marga Kim? bahkan appanya yang ia kenal adalah bermarga Kim? mengapa umma-nya barusan telah menyebutkan marga yang lain, tak disadari tangisan Jaejoong berhenti dengan sendirinya menyaksikan ketegangan diantara kedua orangtua kandungnya yang berjenis kelamin sama.
Siwon tampak terdiam terperangah seakan tak percaya mendengar ucapan sang istri barusan. Wajahnya yang tadi menyeramkan kini tak ada apa-apanya dibanding raut wajah Heechul yang sekarang seakan berubah menjadi titisan iblis, sangat mengerikan.
"C-Chullie ya, J-Joongie anakku juga" jawab Siwon terbata.
"Kau menginginkan anakmu menjadi namja sejati seperti-mu, dan sayangnya ia malah menjadi namja menjijikkan sepertiku" jawab Heechul tajam.
"B-Bukan s-seperti itu maksudku, chagiya"
"Tapi itulah kenyataannya Tuan Choi! wae? kecewa? kau kecewa jika anak namja semata wayangmu tak dapat meneruskan keturunanmu? kau kecewa jika ia malah menerima semua gen-ku ditubuhnya bahkan jika suatu saat nanti ia dapat mengandung dan melahirkan sepertiku? kau kecewa kan?" sergah Heechul panjang lebar membuat Siwon tertunduk diam.
Tak berbeda dengan sang appa, Jaejoong-pun tertunduk diam mendengar kata-kata Heechul ummanya yang sepertinya sudah sangat terluka sekali meskipun Jaejoong tak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Heechul barusan.
"Tuan Choi yang terhormat, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya jika aku, namja yang sangat menjijikkan ini tidak dapat memberikan keturunan yang sempurna untukmu, keturunan yang dapat meneruskan kejantanan-mu sebagai namja sejati, hiks..." Heechul mulai menangis.
"Umma! waeyo?"
Tiba-tiba tanpa disadari dua kakak beradik Sun Hee dan Soo Young yang baru saja tiba dari pekerjaan masing-masing telah berada diruang tersebut dan langsung panik melihat keadaan umma mereka yang tengah menangis sambil memegang dada kirinya.
"Hiks...kalian tanyakan saja dengan Tuan Choi itu" rintih Heechul menunjuk Siwon, sementara dirinya sendiri sudah dibopong menuju sofa tempatnya semula bersama Jaejoong, saat ia marah tanpa disadari Heechul telah berdiri berdekatan dengan Siwon.
"Berhenti memanggilku dengan marga itu, Chullie ya!" bentak Siwon kesal karena sedari tadi Heechul selalu memanggilnya dengan marga Choi.
"Umma, appa bisakah kalian bersabar, waeyo? ada apa dengan kalian? jangan membuat kami bingung" Sun Hee yang tengah mengipasi Heechul mau tidak mau menyela kesal karena tak tahu apa yang tengah terjadi diantara kedua orang tuanya.
"Sebaiknya kalian tanyakan kepada umma kalian saja yang dengan seenaknya telah melepaskan penculik uri Joongie tanpa sepengetahuan dan persetujuan appa lagi" jawab Siwon sedikit merendahkan suaranya, ia terlihat khawatir dengan keadaan Heechul yang tersandar lemah diantara anak-anaknya.
"Aniya, masalah intinya sebenarnya bukan itu, appa-mu tak mau mengakui jika Joongie itu anaknya" Jawab Heehul sarkastik membuat Siwon sukses mendelikkan matanya.
"Mwoya, enak saja Joongie anakku, aku yang mempunyai benih dan membuahinya" jawab Siwon lantang.
"Tidak usah membuat pengakuan, Choi!"
"Berhenti memanggilku dengan marga itu, Chullie ya!"
"Seharusnya kau menikahi yeoja yang dijodohkan oleh tuan dan nyonya Choi saja waktu itu, bukan menikahi namja menjijikkan dan tak berguna sepertiku ini"
"Chullie, berhentilah..."
"Aniya! kau yang memulai, dan seandainya kau menikahi yeoja yang dijodohkan orang tuamu saat itu, kau pasti tidak akan kecewa dengan keturunanmu, kau akan mendapatkan anak namja yang sehat, normal, jantan sesuai dengan harapanmu"
'...'
"Bukan seperti Jaejoong yang menuruni ketidak normalanku, mencintai sesama jenis, tidak jantan, bahkan mungkin bisa mengandung seperti yeoja, benar-benar menjijikkan"
"Ummaa hentikan..."
"Aku belum selesai! sudah waktunya kalian mengetahui semua"
Ketiga beradik, Sun Hee, Soo Young dan Jaejoong serempak berusaha menghentikan Heechul yang terus mengucapkan kalimat-kalimat yang membingungkan mereka, tepatnya yang tidak ingin mereka dengarkan.
"Dengar kau Choi Siwon! dulu kau bahkan rela meninggalkan keluarga yang membuangmu, melepaskan marga-mu hanya untuk hidup bersama namja menjijikkan ini yang tak mampu memberikan keturunan yang layak untukmu"
"Ummaa hentikan, hiks..." tangis Jaejoong yang merasa tersinggung lantaran tak terhitung lagi Heechul menyebutkan jika ia adalah keturunan yang mengecewakan.
"Chullie ya, sebagai orang tua tidak bolehkah aku mempunyai keinginan terhadap anaknya?" ucap Siwon perlahan. Terlihat namja tampan itu mulai berusaha menguasai emosinya.
"Tentu saja boleh selama kau tidak memaksakan kehendak, dan sayangnya keinginanmu itu mendadak menjadi keharusan, dan anak kita tidak mampu mewujudkannya, bahkan kau sudah mengetahui jika ia menyukai penculiknya, dan kau berpura-pura tidak mengetahuinya, apa itu yang dinamakan keinginan, tuan Choi?"
"Demi Tuhan, jangan menyebutkan marga itu lagi"
"Tidak akan, karena kau sendiri yang menghendakinya, hiks..."
"Chullie ya, jebbal...kita sudah berjanji untuk mengubur dalam-dalam masa lalu itu"
"Sudah kukatakan, kau sendiri yang membuat aku terpaksa membongkarnya"
Heechul menatap tajam wajah suaminya tanpa rasa takut sedikitpun. Terlihat jelas namja yang menurunkan kecantikannya kepada darah dagingnya sendiri itu tengah bersusah payah menahan rasa sakit didada kirinya.
Dalam hati Siwon ia ingin sekali memeluk namja yang sangat dicintainya itu dan menenangkannya, namun ia sangat mengerti jika Heechul pasti akan menolaknya mentah-mentah. Heechul sangat sakit hati, dan Siwon mengerti.
"Umma, sebaiknya umma beristirahatlah, Sunnie mengerti apa yang sudah umma sampaikan, dan Sunnie yakin appa menyesali perbuatannya, umma pikirkan kesehatan umma, kajjaa Sunnie antar kekamar saja" sisulung Sun Hee berusaha membujuk Heechul untuk beristirahat dikamarnya, namun genggaman tangan putrinya itu ditepisnya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Aniya Sunnie, umma rasa sudah saatnya umma tidak menyusahkan tuan besar Choi Siwon itu lagi, mungkin ia sudah bosan mempunyai istri penyakitan seperti umma dan anak yang tidak diinginkannya seperti adik kalian"
"Umma berhenti berkata seperti itu, kami tak ingin mendengarnya lagi! hiks...hiks" pekik Soo Young yang kemudian berlari kekamarnya dengan airmata membasahi kedua pipinya, ia tidak sanggup lagi mendengar Heechul semakin jauh membongkar rahasia masa lalunya.
Ucapan Heechul kali ini bagaikan tikaman pisau tajam yang terasa sangat menyakitkan, bukan hanya untuk Siwon tapi juga dirasakan oleh ketiga anak mereka. Jaejoong hanya bisa terduduk lemas melihat keadaan kedua orang tuanya saat itu.
"Dan mungkin sudah saatnya kami berdua, namja menjijikkan ini meninggalkan kehidupan-mu Tuan Choi yang terhormat, kajja Joongie, ikut umma, hanya kau harta umma satu-satunya tidak akan kubiarkan marga Choi itu merebutmu"
"U-Umma"
Jaejoong tergagap saat tanpa diduga-duga Heechul mencekal lengannya dengan keras dan sedikit menariknya agar ia mengikutinya, Heechul terlihat hendak beranjak dari ruang keluarga dan berniat mengajak Jaejoong bersamanya.
Siwon dan Sun Hee terkejut bukan kepalang saat menyadari jika Heechul tampaknya tidak main-main untuk meninggalkan rumah tersebut, terlihat ia menyeret Jaejoong menuju pintu keluar rumah mereka.
"CHULLIE BERHENTI!" Siwon berteriak agar Heechul menghentikan aksinya 'menyeret' Jaejoong yang meronta-ronta dalam genggamannya.
"Appaa, hentikan umma, Sunnie khawatir dengan penyakitnya, hiks...jebbal" kali ini Sunnie yang menangis memohon kepada appa-nya untuk segera melakukan sesuatu menghentikan umma mereka bersama dongsaeng mereka yang sudah hampir keluar rumah.
Tanpa berkata-kata lagi langkah lebar kaki Siwon segera menghadang pergerakan Heechul yang baru saja hendak membuka handle pintu ruang tamu mereka.
"Chullie ya, juseyo...aku mohon jangan pergi"
"Tidak usah berpura-pura baik didepan anakmu" Heechul menatap tajam suaminya yang berada tepat didepan mereka, menghadangnya.
"Aku serius Chullie, aku minta maaf, kau pikirkan dua anak kita yang lain, mereka sangat menyayangi-mu, mereka sangat khawatir dengan keadaanmu, penyakit jantungmu, jebbal..." Siwon berusaha meredamkan emosinya sekaligus emosi istrinya.
"Kau sudah sangat terlambat tuan Choi, dan akupun minta maaf, aku sudah tak ingin bersama namja dingin dan kejam seperti-mu lagi"
"Ummaa hiks...jangan berkata seperti itu kepada appa, hiks..." Jaejoong merengek mendengar ucapan ummanya.
"Chullie, aku mohon jangan meninggalkan kami, kami sangat membutuhkanmu"
Dan sepertinya Siwon memang harus membuang seluruh ego bahkan harga dirinya jika sudah berhadapan dengan sang istri jika sang istri yang asalnya lemah lembut itu berubah menjadi seperti serigala berbahaya.
Siwon berusaha memeluk Heechul yang selalu menepis keras kedua tangannya saat ia berusaha menyentuh namja cantik itu, tampaknya Heechul benar-benar sangat emosi, namun Siwon benar-benar mengeluarkan seluruh tenaga kuatnya sehingga Heechul tak dapat berbuat apa-apa lagi, hingga namja cantik itu menyerah didalam pelukan eratnya.
"Biarkan kami pergi! setidaknya aku perlu menenangkan diriku"
"Tidak akan pernah Chullie ya, aku sudah berjanji dihadapan Tuhan terhitung semenjak aku merubah margaku menjadi Kim, aku tidak akan meninggalkan Kim Heechul satu-satunya orang yang memiliki hatiku, meski ia seorang namja" jawab Siwon tegas saat untuk kesekian kalinya Heechul berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Siwon.
"Buktinya kau bohong dan mengingkari janjimu, hiks..." tangis Heechul lemah, ia merasa tenaganya hampir habis, dengan kedua kepalan tangannya ia memukuli tubuh Siwon hingga membiarkan tubuh ringkihnya tenggelam didada bidang Siwon yang semakin menambah erat pelukannya.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku, aku meninggalkan marga Choi karena cintaku yang teramat besar kepadamu" jawab Siwon lagi.
"T-Tapi kau menyakiti hatiku, sangat menyakiti-ku, hiks..."
"Aku minta maaf, tidak akan lagi, aku berjanji" Siwon akhirnya mengalah dan kata maaf itupun terucap dari bibirnya.
"Setidaknya aku butuh menenangkan pikiranku, ijinkan aku pergi bersama Joongie, jebbal Wonnie..."
Cup...
"Baiklah, tapi ada syaratnya"
Siwon mengecup pelan bibir merah sang istri didalam pelukan eratnya yang perlahan dan pasti telah menurun emosinya. Terlihat kelegaan diwajah kedua anak mereka yang menyaksikan adegan yang tiba-tiba menjadi romantis tersebut.
"Bersama Han ahjussi, eoh?" lanjut Siwon, ia mengijinkan Heechul pergi dengan supir pribadi mereka tentu saja.
"Arraso, kau pikir aku mau naik taksi?" jawab Heechul kesal, tentu saja ia tetap memerlukan supir, menyebabkan senyum lebar Siwon melihat tingkah nyonya rumah itu. Jika memakai supir tentu saja bukan minggat namanya.
"Masih ada lagi syaratnya" ujar Siwon lagi.
"Apa itu?" tanya Heechul penasaran
"Kembali secepatnya"
"Yah, itu bukan minggat namanya"
"Masih ada satu lagi"
"Masih ada lagi? ppaliwa" Heechul sudah tak sabar.
"Jangan pernah menyebut marga Choi lagi dihadapanku"
"Ehm...mian" Heechul menampakkan raut penyesalan yang teramat dalam diwajahnya. Ia sangat menyesal telah membongkar masa lalu yang seharusnya telah lama terkubur.
Siwon asalnya memang bermarga Choi, namun ia memutuskan untuk melepaskan marga tersebut saat ia dibuang keluarganya ketika mengetahui perihal hubungan terlarangnya bersama heechul yang bermarga Kim.
Atas nama cinta akhirnya Siwon yang memutuskan mengganti marganya menjadi Kim setelah resmi melamar namja pujaan hatinya itu dan berjanji untuk mengubur masa lalu-nya sebagai Choi Siwon.
Mmhhh
Entah dimulai sejak kapan kedua suami istri yang sudah memiliki tiga anak dewasa itu telah berciuman mesra didepan dua anak mereka, Sun Hee dan Jaejoong. Ciuman penuh cinta dan emosi yang dilakukan setelah mereka bertengkar hebat, terlihat dari bagaimana Siwon menyesap bibir ranum istrinya dengan penuh emosi dan nafsu, meloloskan desahan Heechul dan tatapan bengong kedua anak mereka.
"Aigoo umma...appa" lirih Sun Hee dan Jaejoong bersamaan saat ciuman Siwon dan Heechul semakin bernafsu saja, bahkan mereka belum pernah melakukan ciuman seperti yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka.
"Umhhh, Wonniieeh le-passh, hah...hahh, kau bisa membuat jantungku kumat" Heechul memukul pelan punggung Siwon saat dirasa dadanya sudah hampir kehabisan oksigen, si kuda itu memang selalu meminta lebih saat berciuman bahkan pernah membuat Heechul pingsan karena kehabisan oksigen.
Sun Hee dan Jaejoong hanya dapat tersenyum lega saat melihat keadaan kedua orang tuanya sekarang, meski terpaksa mengetahui masa lalu mereka yang tak bahagia dan menyakitkan, terlebih lagi Jaejoong, hatinya begitu senang saat Siwon appa-nya yang keras bisa melunak meski Siwon belum menunjukkan simpati kepada Yunho, peculiknya.
"Ummaa, umma mau membawa Joongie kemana?"
"Molla"
"Ummaaa, jangan membuat Joongie takut, lihatlah Han ahjussi saja kebingungan, sedari tadi kita hanya berputar-putar saja"
Jaejoong terlihat sangat cemas saat Heechul menjawab dengan seenaknya arah tujuan mereka yang tak tentu, keduanya tengah berada dalam perjalanan bersama Han ahjussi sopir kepercayaan keluarga mereka.
Dengan berat hati Siwon terpaksa melepas kepergian istri dan putra kesayangan mereka meski bersama Han ahjussi namun Siwon kembali memaksa untuk menyertai mereka seorang bodyguard namun keinginan Siwon itu ditolak mentah-mentah Heechul yang masih sangat kesal kepadanya. Heechul berkeras ingin menenangkan dirinya bersama Jaejoong. Entah apa yang direncanakan namja cantik itu.
"Katakan dimana umma ahjussi penculikmu itu dirawat"
"Eh?" Jaejoong terkesiap saat mendengar ucapan Heechul barusan yang meminta Jaejoong menyebutkan rumah sakit tempat umma Yunho berada.
"Umma Yunho ahjussi?"
"Siapa lagi, memangnya ada penculik yang lain lagi, eoh?" ujar Heechul sedikit tak sabar.
"Umm, nama rumah sakitnya Joongie tidak hapal umma, tapi letaknya sangat dekat dengan sekolah Joongie" jawab Jaejoong pasti.
'Hmm, pantas saja...ternyata dekat dengan sekolah Joongie, mungkin Jung itu tak sengaja melihat Joongie yang tengah menunggu Han ahjussi' batin Heechul dalam hati menerka-nerka kejadian yang belum lama menimpa anak kesayangannya itu.
"Umma, ottokhe?"
"Arraso, ahjussi kita ke rumah sakit yang berada dekat sekolah Joongie, eoh?" Perintah Heechul kepada Han ahjussi yang dijawab dengan anggukan cepat supir keluarga mereka.
"Ne nyonya" Han Ahjussi segera mengarahkan laju mobil mewah itu kekawasan tempat rumah sakit yang dimaksud berada.
.
.
~love me love me~
.
.
Rumah Sakit
"Ini ruangannya umma"
"Arraso, kajja ketuklah pintunya"
"Ummaa..."
"Wae?"
"Ehm...J-Jongie gugup sekali umma"
"Hahaha, anak umma benar-benar tengah jatuh cinta, ternyata"
Tawa keras Heechul saat kedua ibu dan anak itu telah berada tepat didepan pintu ruang perawatan nyonya Jung. Pintu kokoh bercat putih itu tampak tertutup rapat, serta merta Jaejoong mulai menggenggam handel pintunya.
Cklek~
Pintu lebar itu mulai terbuka sedikit demi sedikit menampakkan sosok Jaejoong dan Heechul diambang pintu. Sedangkan beberapa orang didalam ruangan itu tampak menoleh kearah pintu yang telah terbuka lebar yang memperlihatkan dua sosok cantik disana.
Mata bulat Jaejoong bertambah besar saat melihat sesosok yang sangat dikenalnya disana.
"Junsu ya!" pekik Jaejoong antusias saat melihat adanya sosok sahabatnya yang berpantat seksi, berbeda dengan Junsu, saat melihat Jaejoong namja imut itu seakan-akan seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Jaejoong yang berpikiran polos sama sekali tak menyadari perubahan sikap Junsu.
Kemudian pandangan Jaejoong beralih pada makhluk tampan yang berada persis disebelah Junsu.
"Ahh Changminah...mwo? kalian bisa berdekatan seperti ini?" seolah baru saja menyadari Jaejoong terkaget saat dua makhluk yang diketahuinya belum pernah saling akur semenjak terakhir mereka bertemu itu bisa duduk berdampingan seperti saat ini.
Mendengar ucapan Jaejoong wajah Junsu memerah parah sedangkan Changmin hanya menyengir lebar mempertontonkan dua barisan giginya yang tampak rapi. Jaejoong masih terperangah kaget melihat keakuran Junsu dan Changmin hingga ia merasakan cubitan pelan dilengannya, ia telah melupakan ummanya.
"Ahh annyeong yorobeun" Jaejoong membungkukkan badannya sedikit diikuti Heechul dihadapan semua yang berada diruangan tersebut yang menatap tak berkedip kearahnya dan juga ummanya, mereka sangat tak menyangka jika Jaejoong akan datang kesana.
Yunho yang berada disebelah ranjang nyonya Jung terlihat tampak gugup saat melihat kehadiran Heechul, ia buru-buru berdiri dan membungkukkan badannya, berbagai pikiran berkecamuk dikepalanya, tak lupa diliriknya dengan sudut matanya sosok cantik yang berada disebelah Heechul yang juga tengah mencuri-curi pandang kearahnya.
"Anneyong nyonya Kim, senang bertemu anda kembali" Yunho memberi hormat kepada Heechul yang membalasnya dengan senyuman.
"Annyeong Jung Yunho, anneyong yorobeun, perkenalkan aku Kim Heechul umma dari Jaejoong" Heechul balas membungkukkan badannya dan menyapa semua yang hadir disana. Go Ahra yang juga hadir disana tak henti mengangakan mulutnya melihat rupa Heechul yang sangat cantik. Pantas saja kecantikannya menurun kepada Jaejoong.
"Ahh, nyonya Kim...senang bertemu dengan anda, perkenalkan aku nyonya Jung" mendengar Heechul menyebutkan namanya sontak nyonya Jung yang tadinya terbaring tiduran diranjang langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan dibantu Yunho.
"Nyonya Jung senang bertemu anda, maaf jika kehadiranku mengganggu kalian, aku hanya ingin menengok anda dan memastikan jika anda baik-baik saja nyonya Jung..." ujar Heechul seraya melangkah mendekati tempat nyonya Jung berada.
"Nyonya Kim aku sangat berterima kasih atas kebaikan dirimu yang telah membebaskan putraku, Jung Yunho. Kau sungguh benar-benar seperti malaikat, kami sungguh berhutang budi kepada keluarga kalian, hiks..."
Tubuh Heechul yang telah berada disamping nyonya Jung begitu saja ditarik oleh nyonya Jung kedalam pelukan yang erat, wanita yang mulai berangsur-angsur pulih kondisinya itu merasa sangat berhutang budi kepada keluarga Kim, biaya operasinya dan pembebasan Yunho, bukan jumlah yang sedikit.
Heechul melepaskan pelukan nyonya Jung dan tersenyum, "Tidak usah berlebihan seperti itu nyonya Jung, sudah kewajiban kita saling tolong menolong"
"T-Tapi anakku telah berbuat yang tidak menyenangkan kepada anakmu, hiks..." nyonya Jung menangis tersedu.
"Sudah lupakan saja, lagi pula kejadian tersebut malah membuat mereka makin akrab, eoh?" jawab Heechul tenang membuat seseorang disana bergerak gelisah. Ahra hanya dapat menggigit bibirnya dengan keras saat mengetahui jika Jaejoong dan Yunho sudah akrab satu sama lain.
Nyonya Jung menganggukkan dan mempersilahkan Heechul untuk duduk dikursi kosong tak jauh dari bibir ranjangnya, Heechulpun menurutinya. Suasana hening sejenak sebelum terdengar suara halus dari bibir cherry Jaejoong.
"Umm Junsu ya, mengapa junsu bisa ada disini bersama Changmin? mengapa tidak mengajak Joongie?" Jaejoong yang penasaran dengan kehadiran Junsu disana tanpa mengajaknya lagi, akhirnya melontaran pertanyaan yang membuat Junsu dan bocah tampan disebelahnya hanya dapat menggaruk-garuk kepala mereka yang sama sekali tidak gatal.
"A-Anu, i-itu..."
"Ehm, tadi kebetulan aku melewati sekolah Junsu dan aku menjemputnya seusai sekolah" Changmin menjawab menyerobot jawaban Junsu yang tergagap meski suaranya terdengar sama gugupnya.
"Mwo? ada apa dengan kalian? terakhir Joongie lihat kalian bertengkar seperti anjing dan kucing, tapi mengapa kalian akur sekali sekarang, aigoo..." ujar Jaejoong terheran-heran
"Mereka resmi berpacaran Jaejoong shi, Changmin anakku ternyata sangat menyukai Junsu"
"Ummaaa"
Changmin merengek manja saat tiba-tiba Go Ahra menyela perkataan Jaejoong yang tak habis pikir melihat keakuran Junsu dan Changmin. Dan tanpa diduga Ahra telah membongkar rahasia hubungan Changmin dan Junsu yang ternyata telah berpacaran. wajah Junsu kian merona menyadari semua mata tertuju kepada dirinya dan Changmin yang terkesan cuek saja sembari mengunyah biskuit didalam mulutnya.
"Aigoo...sejak kapan?"
.
.
.
tebece
sorry for the typo(s)
next chap will be YunJae moment :)
mind to review?
twitt :peya_ok
fb: mano shinki
