Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama
Rate : T
Genre : Romance, Humor
Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please
DON'T LIKE DON'T READ
CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra
Cast lain menyusul
.
Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!
.
.
.
.
SUMMARY
Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?
.
.
Previous Chap
Nyonya Jung mengangguk dan mempersilahkan Heechul untuk duduk dikursi kosong tak jauh dari bibir ranjangnya, Heechulpun menurutinya. Suasana hening sejenak sebelum terdengar suara halus dari bibir cherry Jaejoong.
"Umm Junsu ya, mengapa junsu bisa ada disini bersama Changmin? mengapa tidak mengajak Joongie?" Jaejoong yang penasaran dengan kehadiran Junsu disana tanpa mengajaknya lagi, akhirnya melontaran pertanyaan yang membuat Junsu dan bocah tampan disebelahnya hanya dapat menggaruk-garuk kepala mereka yang sama sekali tidak gatal.
"A-Anu, i-itu..."
"Ehm, tadi kebetulan aku melewati sekolah Junsu dan aku menjemputnya seusai sekolah" Changmin menjawab menyerobot jawaban Junsu yang tergagap meski suaranya terdengar sama gugupnya.
"Mwo? ada apa dengan kalian? terakhir Joongie lihat kalian bertengkar seperti anjing dan kucing, tapi mengapa kalian akur sekali sekarang, aigoo..." ujar Jaejoong terheran-heran
"Mereka resmi berpacaran Jaejoong shi, Changmin anakku ternyata sangat menyukai Junsu"
"Ummaaa"
Changmin merengek manja saat tiba-tiba Go Ahra menyela perkataan Jaejoong yang tak habis pikir melihat keakuran Junsu dan Changmin. Dan tanpa diduga Ahra telah membongkar rahasia hubungan Changmin dan Junsu yang ternyata telah berpacaran. wajah Junsu kian merona menyadari semua mata tertuju kepada dirinya dan Changmin yang terkesan cuek saja sembari mengunyah biskuit didalam mulutnya.
"Aigoo...sejak kapan?"
.
.
.
LOVE ME?
.
.
.
.
.
"Umm…sejak kemarin hyung, hehehe" Junsu menjawab pertanyaan Jaejoong dengan malu-malu.
"Yah bebek! Tidak usah terlalu jujur begitu, jangan-jangan nanti kau ceritakan bagaimana aku menembakmu juga, huh!" sungut sibocah tiang tiba-tiba.
"Biar saja, Jae hyung bukan orang lain, dia sahabatku sendiri" simanis yang mendapat julukan bebek itu memberengut kesal.
"Kalian ini, sudah pacaran kok masih saja bertengkar, untuk apa pacaran jadinya?" Jaejoong berkata kesal atas tingkah kedua remaja sahabatnya.
"Sipantat bebek yang mulai duluan hyung"
"Yah, enak saja, dasar tiang manja!"
"Yah kalian! Disini lagi ada yang sakit, tidak bisa akur sedikit ya? Sudah resmi pacaran masih saja begitu, bagaimana kalau sudah menikah, hihihi"
Bibir cherry itu terkikik geli membayangkan bagaimana jika kedua makhluk yang tak pernah akur itu jika benar-benar menikah, pasti rumah tangga mereka sangat ramai sekali, Changmin yang hobi menggoda serta Junsu yang selalu kebakaran jenggot jika selalu di ganggu oleh bocah tiang tersebut.
Jaejoong terkikik dengan sebelah tangannya menutup mulutnya, kebiasaan yang kerap dilakukannya. Jaejoong tak sadar jika disudut sana sepasang mata musang tengah menatap gerak-geriknya tanpa berkedip sedikitpun. Pada akhirnya…
Deg!
Kedua pasang mata musang dang doe eyes itu akhirnya bertemu pandang, membuat pemilik mata doe bulat itu menunduk malu salah tingkah dengan kedua pipi yang merona. Untungnya tak ada seorangpun yang melihat hal itu karena mereka sibuk menggoda MinSu couple yang baru ketahuan telah berpacaran.
Akhirnya suasana didalam kamar inap nyonya Jung menjadi ramai seketika akibat celotehan dari ketiga namja yang masih berseragam SMA itu. Junsu dan Changmin yang tidak pernah terlihat akur menjadi hiburan tersendiri bagi seluruh penghuni kamar tersebut, bayangkan jika kedua makhluk itu tidak ada, pasti suasana didalam kamar rawat inap itu akan terasa canggung sekali.
"Ehm…Yunho ah, kau tidak ingin mengajak Jaejoong berjalan-jalan? Kalian sudah lama tidak bertemu, mungkin ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan" Suara lembut Heechul menginterupsi keramaian yang terjadi didalam ruangan yang bisa dikatakan sedikit sempit itu.
Yunho sedikit tercengang akan perkataan tiba-tiba Heechul, sedikit tak enak saat melihat sorot mata sendu Go Ahra yang terlihat begitu kecewa.
"Ne, lebih baik lagi jika Changmin mau mengajak Junsu melihat-lihat keadaan diluar, biar kalian tambah akrab dan biarkan kami sesama yeoja berada disini, kami ingin mengobrol akrab tanpa gangguan dari kalian, hehehe" Nyonya Jung ikut mendukung gagasan Heechul tadi, namun mendengar kata 'yeoja' Heechul menjadi tersenyum penuh arti.
"Mian, sepertinya ada sedikit kesalahan nyonya Jung, aku bukan yeoja, hehehe, aku namja" sela Heechul membuat Ahra dan umma Jung yang lain tercengang.
"Mwoya? Namja ya? Aigoo….m-mianhe, jeongmal mianhe, aku tak mengira, nyo- eh t-tuan…"
"Panggil Heechul saja nyonya Jung, itu nama-ku, dan…ehm orang mengenalku memang sebagai nyonya Jung, Kim Jaejoong adalah anak kandungku, aku mengandung dan melahirkannya dari rahimku sendiri, tentunya hasil dari pembuahan dari suami-ku sendiri"
Heechul menjawab keterkejutan nyonya Jung yang sama sekali tak menyangka jika Heechul yang dikenal sebagai nyonya Kim itu adalah seorang namja. Nyonya Jung-pun mencuri-curi pandang kearah Heechul seolah tak yakin jika namja yang kelewat cantik itu adalah seorang namja tulen.
Begitu-pun Ahra, diam-diam yeoja yang berumur 30-an itu mengagumi kecantikan Heechul yang menurun kepada anak namja-nya yang merupakan ancaman terbesarnya untuk memiliki Yunho.
"Aigoo, nyonya Kim neomu yeoppoda" puji nyonya Jung kepada Heechul dengan tulus membuat kedua pipi tirus Heechul merona merah muda.
"Aish nyonya Jung, anda membuat saya malu, sama sekali tidak cantik, saya tetaplah namja" jawab Heechul masih tersipu.
"Ne, anda namja yang sangat istimewa, aura kecantikan seorang wanita akan keluar dengan sendirinya apabila beliau telah melahirkan seorang anak, dan aura tersebut akan menguat disaat ia dapat merawat keluarganya dengan ikhlas dan sabar seperti anda, nyonya Kim" kembali nyonya Jung berhasil membuat wajah cantik Heechul menjadi bertambah memerah tersipu.
"Hey kalian, tunggu apa lagi? cepatlah keluar sana, buat apa mendengar obrolan orang tua, kalian akan bosan nantinya, Yunho ah, cepat ajaklah Jaejoong melihat-lihat keadaan diluar rumah sakit, kalian bisa duduk di taman"
"Shireo ahjumma, daripada ditaman aku lebih baik mengobrol bersama Junsu dikantin saja, sampai malam-pun aku betah, hehehe" suara cengengesan Changmin menyela kalimat nyonya Jung yang mengusulkan mereka untuk duduk ditaman rumah sakit saja.
"Kajja kita cari udara diluar saja, Changminah kajja ajak Junsu juga"
"Ne hyung, kajja bebek"
Yunho yang menyadari jika sepertinya umma Jaejoong menunjukkan gelagatnya yang ingin berbicara secara pribadi kepada umma-nya mengambil inisiatif untuk segera mengajak ketiga bocah tersebut untuk keluar dari ruangan tersebut dengan dalih mencari udara diluar.
"Baiklah kalau begitu saya sekalian mohon pamit dulu, ehm, Jung eonnie dan Nyonya Kim" Ahra yang terlihat canggung karena sedikit diabaikan disana memutuskan untuk berpamitan kepada umma Yunho dan namja cantik yang tampak mulai akrab.
Mendengar Ahra berpamitan nyonya Jung mengerenyitkan dahinya heran, " Umm Ahra ya, mengapa terburu-buru? Bergabunglah mengobrol bersama kami dulu, tidak usah terlalu canggung, nyonya Kim ini orang yang menyenangkan sepertinya, hehehe"
"Ne, Ahra shi mari bergabung bersama kami"
Heechul ikut mengur Ahra yang tampaknya sudah berkemas-kemas memunguti wadah makanan yang ia bawa untuk nyonya Jung memasukkannya kedalam tasnya.
"Gomawo, saya senang sekali jika bisa mengobrol lama bertiga, namun pekerjaan sudah menunggu saya, saya mesti cepat-cepat pamit kalau tidak ingin terlambat, mungkin kita bisa mengobrol lain kali" Ahra menjawab sopan sembari membungkukkan tubuhnya pertanda ia mohon pamit utnuk beranjak dari ruangan itu.
"Apa perlu Yunho mengantarmu? Nyonya Jung menawarkan kepada Ahra.
"Ahh, t-tidak u-sah biar saya naik taksi saja, anneyong saya mohon pamit, Jung shi, Kim shi"
"Anneyong"
Nyonya Jung dan Heechul menjawab serempak salam perpisahan Ahra yang diakui oleh kedua orang itu terlihat sangat canggung.
Ruang rawat inap nyonya Jung mendadak lengang setelah kepergian Ahra barusan, kedua manusia cantik itu sama-sama terdiam seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Ehm… Jung shi, apakah yeoja tadi memiliki hubungan yang khusus dengan Yunho anakmu?" Heechul yang penasaran akan gelagat Ahra sejak tadi tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ahra?" tanya nyonya Jung singkat.
"Ne, kulihat dia memberikan perhatian yang lebih kepada putramu dan kepadamu sendiri, itu menurut pengamatanku saja, Jung shi" ujar Heechul hati-hati.
"Umm, menurutku juga begitu, sepertinya ia memliki rasa yang lebih kepada putraku disamping ia memang baik hati, seringkali membantu kami, tapi…"
"Tapi apa?" Heechul memotong cepat ucapan nyonya Jung yang terputus.
"Tapi sayangnya Yunho anakku tidak dapat membalas perasaan yeoja itu, hhhh…Yunho memang begitu, tak sedikit yeoja-yeoja cantik yang berdatangan ingin dijadikan istrinya, namun tak ada satupun yang menyentuh hatinya, semenjak…"
"Semenjak apa Jung shi?"
"Semenjak kekasihnya meninggalkannya demi namja lain, semenjak itu Yunho tak pernah berusaha untuk menerima yeoja manapun untuk menjadi kekasihnya, namun…"
"Namun?" Heechul mengerenyitkan dahinya menunggu kalimat selanjutnya dari nyonya Jung.
"Semenjak ia terbebas dari penjara beberapa waktu yang lalu, tahukah anda Kim shi, dengan wajah yang berbinar-binar anakku itu menceritakan ihwal pertemuannya dengan seseorang yang cantik yang telah memikat hatinya, tapi sayangnya…"
"Wae, Jung shi?"
"Sayangnya ia seorang namja dan perbedaan derajat mereka, hhhh" nyonya Jung mendesah berat dan tersenyum kecut, sementara tatapan matanya kosong, entah apa yang tengah dipikirkannya.
Heechul yang sepertinya mengetahui siapa namja yang dimaksud oleh nyonya Jung yang telah membuat Yunho jatuh hati cepat-cepat menjawab perkataan yeoja yang lebih tua darinya itu.
"Kim Jaejoong sama sepertiku, ia namja tapi ia memiliki rahim dan kemungkinan bisa mengandung" ujar Heechul seakan tahu jika Jaejoong-lah namja yang dimaksud nyonya Jung.
Nyonya Jung tersenyum tipis,"Yunho tak pernah bermimpi mendapatkan bulan yang tak dapat diraihnya dengan keadaan kami yang seperti ini Heechul shi"
"Mengapa tidak? Cinta tidak mengenal derajat dan kedudukan, kumohon Jung shi, jika memang anakku yang kalian maksudkan, itu artinya Jaejoong tak bertepuk sebelah tangan"
"Apa maksudmu Heechul shi?" heran nyonya Jung shi mendengar perkataan Heechul.
"Jaejoong menyukai Yunho, ia jatuh cinta dengan namja yang telah menculiknya"
"J-Jinjja?" mulut nyonya Jung ternganga lebar.
"Ne, cinta pertamanya…maafkan bila kau telah lancang, tapi aku sangat bahagia jika Yunho juga menyukai Joongie-ku, aku yakin Yunho dapat menjaganya jika aku tidak berada didekat anakku nantinya"
"Mwo?"
Sementara itu ditaman rumah sakit…
"Umm, Ahjussi…"
"Hem"
"Ahjussi"
'…'
"Ahjussi!"
"Ne Joongie"
"Ahjussi tidak suka bertemu kembali dengan Joongie, eoh? Mengapa tidak mau menjawab panggilan Joongie"
Bibir cherry itu mengerucut pertanda dirinya yang merasa kesal teramat sangat kepada namja tampan yang duduk disebelahnya, disebuah bangku ditaman belakang rumah sakit tempat nyonya Jung dirawat.
Bibir hati itu hanya tersenyum singkat melihat sicantik yang sedari tadi berhasil membuat dadanya tak berhenti berdegup kencang hingga saat ini.
"Bukan begitu, hanya saja aku tak suka mendengarmu memanggilku dengan sebutan ahjussi seperti itu, aku tidak akan menjawab jika Joongie terus memanggilku Ahjussi" suara bass itu mengutarakan kekesalannya.
"Omona, arraso, Joongie lupa, hihihihi" sicantik yang menurut Yunho sangat mirip dengan boneka barbie yang pernah dilihatnya terpajang ditoko maianan anak-anak itu terkikik geli menutup mulutnya dengan kedua tangannya membuat namja tampan disebelahnya meremas pinggiran kursi karena terlalu gemas dengan tingkahnya saat itu.
Yunho mengerucutkan bibir hatinya dibuat-dibuat, "Joongie lupa, eoh?"
"Aishh ahjussi, jangan memonyongkan bibir seperti itu, tidak cocok, hihihi" kembali Jaejoong terkikik geli, semakin membuat namja dewasa disebelahnya salah tingkah menahan agar tak bertindak kurang ajar.
"Yah, masih memanggilku ahjussi, arraso aku pergi saja kalau begitu" Yunho bertingkah seperti hendak beranjak dari duduknya meninggalkan tempat itu.
"Andwae! Yunnie, mianhe" bibir hati itu-pun tersenyum berbahaya. Yunho kembali keposisinya semula, semakin merapatkan jarak duduknya dengan sicantik barbie yang tengah merona wajahnya karena malu.
Hening sesaat.
"Umm Joongie, kalau boleh Yunnie tahu, mengapa Joongie kemari bersama umma? Apa ada sesuatu?" suara bass Yunho yang mengutarakan pertanyaan tak terduga itu membuat wajah cantik Jaejoong menunduk seakan ada sesuatu yang menarik dibawah sana.
Untuk berapa lamanya Jaejoong tak juga bersuara, bibir cherrynya tertutup rapat seolah enggan menjawab pertanyaan yang berasal dari bibir hati itu mengingat pertengakaran yang terjadi diantara appa dan umma-nya yang berhubungan dengan namja tampan disampingnya.
Menyadari ketidak-beresan sikap Jaejoong itu, Yunho membalik posisi tubuhnya menjadi menghadap kearah namja cantik alami tersebut, diraihnya bahu kecil Jaejoong dengan kedua tangan besarnya dan diarahkan posisi tubuh Jaejoong menjadi berhadapan dengannya.
Perlahan Yunho meraih dagu mungil Jaejoong agar wajah cantiknya terangkat dan kedua mata besar itu dapat menatap kedua manik mata musangnya.
"Joongie, katakanlah, apakah appa-mu memarahi umma-mu karena telah membebaskan-ku?" tanya Yunho penuh penekanan.
Jaejoong tak dapat membohongi sorot tajam musang yang menuntut jawaban jujur darinya. Entah tanpa disadarinya seakan digerakkan oleh kekuatan gaib, kepalanya mengangguk dengan sendirinya.
"N-Ne Yun"
"Lalu?"
"U-Umma memutuskan untuk pergi bersama Joongie selama beberapa waktu" jawab Jaejoong takut-takut.
"Separah itukah?' tanya Yunho semakin heran.
"Umm, sebenarnya umma dan appa sudah tidak bertengkar lagi, hanya saja umma sepertinya masih merasa kesal kepada appa, umma diperbolehkan pergi membawa Joongie asalkan bersama Han ahjussi, hehehe"
"Mwoya jinjja?" kaget Yunho tak percaya dibalas Jaejoong dengan anggukan kepala secara berulang-ulang.
"Lalu umma mengajak Joongie kesini, umma ingin berkenalan dengan Jung halmonie"
Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya seolah ia mengerti maksud perkataan Jaejoong, dalam hatinya ingin menanyakan maksud dari umma Jaejoong ingin berkenalan dengan ummanya namun bocah yang kelewat polos itu nampaknya tak akan tahu jawabannya, percuma saja.
"Umm, Yunnie" panggil Jaejoong lagi.
"Ne, ada apa Joongie" jawab Yunho dengan mimik wajah dibuat seimut mungkin membuat tawa kecil lepas dari bibir cherry Jaejoong.
"Umm, apa Yunnie senang bertemu Joongie kembali?"
"Ne, tentu saja" jawab Yunho singkat.
"Mengapa Yunnie senang bertemu Joongie kembali?" pertanyaan singkat dari Jaejoong akan tetapi mampu membuat wajah tampan dan dingin Yunho mengerenyit heran, bingung hendak menjawab bagaimana pertanyaan singkat dan polos namun sangat sulit untuk dijawabnya.
"Joongie ingin jawaban jujur atau tidak jujur?" Yunho memberikan dua pilihan kepada makhluk manis tersebut.
"Dua-duanya" jawab Jaejoong pintar.
"Arraso, mau jawaban yang mana dulu? Yang jujur atau yang tidak jujur?"
"Umm, yang tidak jujur saja dulu"
"Baiklah, Yunnie senang karena Joongie pasti mau menagih hutang yang Joongie pinjamkan kepada Yunnie tempo hari, hehehe"
"Aishh Yunnie, tidak begitu…"
"Kan jawabannya tidak jujur"
"Ne, sekarang Yunnie katakan jawaban yang jujur" bibir merah delima itu mengerucut imut, membuat Yunho terkesiap menelan salivanya, jika tidak air liurnya akan segera menetes.
"Arraso, umm…Yunnie senang karena, karena…"
"Ahh Yunnie cepat katakan!" mata doe itu melotot garang, kesal. Yunho hanya dapat tertawa senang melihat kedua mata indah yang selalu ingin terus ditatapnya jika sedang berada didekat pemiliknya seperti sekarang ini.
"Hahaha, arraso…itu karena Yunnie dapat kembali melihat wajah cantik ini…"
"Yah, Joongie tampan!"
"Lalu kedua mata indah ini"
"Hmm"
"Hidung yang mancung dan runcing ini"
'…'
"Kulit putih dan halus ini"
'…'
"Dan bibir merah ranum yang ingin selalu kuingat rasa manisnya"
Cup~
"Yunnie…"
Barbie hidup itu tertunduk malu saat tanpa sungkan Yunho mengecup singkat bibir ranumnya setelah ia mengakhiri kalimat pujiannya. Sungguh Yunho tak dapat menahan hasratnya yang sedari tadi ingin sekali mencicipi rasa manis benda kenyal berwarna merah ranum milik sang mantan tawanannya.
"Joongie ya, mianhe aku telah lancang"
"Ahh Yunnie, gwaenchana, hihihi" wajah malu namun sumringah Jaejoong bersamaan dengan kedua kepalan tangannya memukul pelan secara berulang-ulang bahu Yunho khas anak alay yang memancing senyum lucu dibibir hati.
Kedua namja berbeda umur itu kemudian sama-sama tertunduk dengan pikiran berkecamuk dikepala masing-masing. Entah apa yang dipikiran mereka.
"Joongie/Yunnie"
"Ahh..."
Baik Yunho maupun Jaejoong sama-sama terunduk malu saat keduanya secara berbarengan memanggil nama lawan bicaranya, hingga akhirnya suara bass Yunho memulai kembali percakapan.
"Arraso, Joongie dulu, apa yang hendak Joongie katakan?" Jaejoong tertunduk malu.
"Heii, Joongie malu, eoh? mengapa begitu?" ujar Yunho mengacak pelan rambut Jaejoong yang semakin tertunduk.
"Umm, ada yang ingin Joongie tanyakan kepada ahju, eh Yunnie, ehehehe" jawab Jaejoong malu-malu.
"Joongie ingin menanyakan apa? kajja silahkan"
Sejenak pemilik doe eyes indah itu terdiam, menggigit bibir bawahnya seakan ragu akan apa yang hendak diutarakannya kepada ahjussi penculiknya itu.
"Joongie?" panggil Yunho lagi, menyadarkan lamunan Jaejoong yang masih tampak ragu-ragu.
"Hhhh...arraso, begini Yunnie, tentang gembok yang Joongie temukan di Namsan tempo hari, apakah benar itu Yunnie yang menulis nama kita berdua dan menggantungnya? tanya Jaejoong setelah menarik nafas panjang dengan memamerkan mimik wajah polosnya.
"Ne benar aku yang memnggantung kedua gembok yang bertuliskan nama kita berdua disana" jawab Yunho mantap.
"Ahh, ehm...i-itu Yunnie, apa maksudnya, Joongie tidak mengerti, dan J-Joongie baca, Yunnie menuliskan janji Yunnie untuk menemui Joongie kembali, tapi mengapa saat pertama kali Joongie menjenguk Yunnie ditahanan Yunnie malah melarang dan tidak mau bertemu Joongie, wae Yun?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir cherry tersebut termasuk saat Yunho melarang untuk menemui-nya kembali.
Yunho sesaat terpaku, masih diingatnya jelas saat Jaejoong yang kecewa ketika dirinya melarang namja nan cantik dan ayu itu untuk kembali menemuinya pada saat Jaejoong menemuinya ditahanan untuk yang pertama kalinya.
"Umm, i-itu karena, ahhh..." sejenak Yunho ragu mengungkapkan alasannya.
"Yunnie...Joongie mohon, jangan ada dusta diantara kita" Jaejoong menyebutkan judul lagu yang pernah dipopulerkan oleh Broery Marantika *plak, maaf maksudnya Jaejoong meminta agar Yunho jujur saja.
"Arraso, akan kujelaskan Jaejoong ah, ehm begini...beberapa hari sebelum kedatanganmu tempo hari Kim sajangnim mendatangi-ku, beliau mengancam, ahh ani, memperingatkanku tepatnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku dan berjanji menghukumku seberat-beratnya jika terbukti aku telah menyentuh sedikitpun bagian dari tubuh-mu" jelas sang mantan penculik panjang lebar.
"Jadi karena itu Yunnie melarang Joongie menemui Yunnie kembali?"
"Bukan itu saja, Joongie ah"
"Lalu?"
"Aku hanya merasa tak pantas saja jika berada didekatmu, lihatlah Joongie begitu memukau, bercahaya, bersih, rapi, tidak seperti aku ini"
Wajah tampan itu tertunduk menyadari perbedaan dengan makhluk cantik disebelahnya, mengingat segala macam perbedaan dan juga ancaman dari Tuan Kim yang membuatnya merasa tak pantas berada didekat seorang Kim Jaejoong.
"Yunnie...Joongie mohon maafkanlah appa Joongie, ia hanya ingin Joongie bahagia, namun ia tidak menyadari jika perbuatannya malah membuat Joongie tidak senang" bibir cherry itu mengerucut kesal.
"Ne aku mengerti"
"Lalu maksud Yunnie menggantung kedua gembok itu apa? bukankah yang diatas sana semua adalah gembok milik sepasang kekasih?" kali ini wajah Yunho sedikit menegang.
"Um...i-itu, ahh aku yakin kau sudah tahu maksudnya, eoh? tapi kau sengaja memancingku untuk mengatakannya" jawab Yunho diplomatis.
"Tidak tahu" jawab bocah cantik itu pura-pura lugu.
"Aish jinjja...kau itu jangan pura-pura lugu" ujar Yunho mulai kesal, tabiat aslinya yang galak dan pemarah mulai keluar.
"Ani Yunnie, Joongie benar-benar tidak menegerti maksud Yunnie, jebbaal" ujar Jaejoong dibuat-buat, pura-pura polos dan lugu, padahal ia sudah tahu pasti apa maksud mantan penculiknya itu.
"Arraso jika kau tak tak tahu maksudku, ini..."
Chu...
"Ummhh Yunnie, ahhh"
Mmphhh...
Tanpa diduga Jaejoong sama sekali, tubuh kurusnya tertarik dibawa kedua lengan kuat Yunho merapat kedalam dekapannya dan bibir hati itu kemudian menyerang cherry merahnya yang sedari tadi sudah menjadi incaran tatapan musang tersebut.
Kecupan perlahan yang bersarang dibibir pout Jaejoong seketika berubah menjadi pagutan-pagutan kasar saat dirasa bibir cherry itu mulai membalas kecupan-kecupannya. Seolah tak peduli dimana mereka tengah berada sekarang Yunho terus memperdalam sesapannya pada benda mungil berwarna merah yang selalu menghipnotisnya, tak peduli jika tubuh mungil dalam dekapannya mulai meronta karena kehabisan oksigen.
Ciuman panas Yunho seolah menyedot seluruh udara diparu-paru Jaejoong.
"Uumm...hahh, hahh, Yunnie nappeun" Jaejoong memukul pelan dada yunho yang tengah tersenyum manis melihat wajah kemerahan Jaejoong karena malu.
"Hemm, jadi Joongie sudah tahukan alasan Yunnie menggantung sepasang gembok tersebut?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya, lagi-lagi berpura-pura tidak tahu, nampaknya ia ingin mendengar alasannya langsung dari bibir hati itu.
"Saranghae, Jaejoong ah, bukankah itu yang ingin kau dengar sedari tadi, hmm? kau pikir aku bodoh, eoh?" ucap bibir hati itu seraya mengecup ujung hidung runcing Jaejoong yang semakin tersipu malu.
"Lalu, apa jawabanmu, cantik?" tanya Yunho kemudian.
"Umm, mollayo" jawab Jaejoong enteng mengundang geraman dibibir hati Yunho.
"Yah, aku sudah mengatakannya dan aku menagih jawabanmu" kesal sipenculik tampan.
"Nan jeongmal mollaseo" ulang Jaejoong tanpa dosa, membuat Yunho menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Arrghhh...jangan membuatku naik darah bocah, atau kau mau aku culik kembali, hum?" geram Yunho tak dapat menahan emosinya, anehnya itu sama sekali tak membuat sicantik yang masih setia menempel dengannya itu takut.
"Umm, jinjja? Yunnie mau menculik Joongie lagi? Joongie mauuu, jebbal ayo culik Joongie lagi, hihihi" goda sibarbie hidup semakin membuat Yunho geram.
"Jeongmal? arraso tapi jangan memintaku untuk mengembalikanmu lagi, eoh?"
"Aww Yunnieee, turunkan, ahahaha..."
Pekik histeris Jaejoong saat tubuh mungilnya tiba-tiba terangkat dengan sendirinya kebahu Yunho yang memanggulnya layaknya karung beras, kedua kepalan tangannya memukul-mukul pundak lebar Yunho berulang-ulang agar Yunho segera menurunkannya.
Yunho membawa tubuh ringan itu menjauh dari area taman rumah sakit tersebut, sepertinya ia akan membawa Jaejoong kembali keruang perawatan umma-nya.
Tidak mereka sadari jika sedari awal ada dua pasang mata yang menyaksikan tingkah laku pasangan YunJae tersebut dengan sedikit iritasi. Pasangan MinSu ternyata juga berada ditaman itu yang hanya berjarak beberapa meter dari bangku tempat YunJae berada.
"Ck...gaya pacaran jadul" ujar Changmin iritasi.
"Memangnya bagaimana pacaran anak sekarang Changmin baby" tanya Junsu penasaran seraya mengecup pelan pipi Changmin dari samping.
"Hmm, yang seperti kita ini Suie chagi, hehehe...aaaa" jawab Changmin dengan senyum lebarnya, diakhiri dengan mulutnya yang menganga meminta Junsu menyuapinya dengan setengah bagian burger yang tengah dipegang pacar seksinya itu.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari Heechul dan Jaejoong 'minggat' dari rumah mereka meninggalkan Siwon beserta noonadeul Jaejoong. Ibunda Yunho nyonya Jung-pun telah keluar dari rumah sakit tempatnya dirawat.
Meski bisa disebut minggat namun kemana-pun kedua makhluk cantik itu pergi selalu ditemani oleh Han ahjussi yang setia mengantarkan keduanya ketempat apa saja yang mereka inginkan. Seperti saat ini, kedua umma dan anak itu tengah menikmati kebebasannya dengan bermain seharian di wahana bermain atas permintaan sang princess Jaejoong.
Heechul yang merasa sangat bahagia bisa berduaan saja dengan putra kandungnya seolah memanfaat momen mereka dengan sebaik-baiknya, apa saja yang Jaejoong inginkan pasti akan dikabulkannya, sebut saja, belanja sepuasnya di Mall, kesalon seharian, makan diresto terenak dan termewah.
Saat ini kedua makhluk cantik itu tengah berada didalam mobil mewah mereka yang dikendarai oleh Han ahjussi setelah puas bermain di Lotte World sebuah wahana bermain raksasa yang terletak disudut kota Seoul.
"Ummaaa, kajja kita pulang...Joongie sangat merindukan appa dan noonadeu, jebbal ummaa"
"Aniya, umma masih ingin memberi pelajaran kepada kuda itu, seenak saja membuat sakit hati"
"Ummaa, apa umma tak kasihan melihat appa? appa selalu menelpon umma setiap saat, umma tidak rindukah kepada appa?"
"Biar saja, umma masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama anak umma yang cantik ini, hehehe"
"Umma Joongie ini tampan!"
"Ne, tampan jika dilihat dari namsan tower, hahaha"
"Ummaaa"
Bibir cherry itu mengerucut kesal saat mendapat godaan dari namja cantik disebelahnya, Heechul dan Jaejoong kini telah berada didalam mobil mewah mereka setelah puas bermain seharian diwanaha bermain Lotte world.
Jaejoong-pun merasa sangat bahagia selama beberapa hari ini selalu berdua dengan umma-nya, namja yang telah melahirkannya dari rahimnya sendiri, bahkan Jaejoong sama sekali tak pernah melihat Heechul meraba dada kirinya yang sering kali kumat rasa sakitnya. Sepertinya rasa bahagia membuat Heechul melupakan rasa sakitnya.
"Ummaa, sampai kapan kita tidur di Hotel terus? Joongie bosan, Joongie rindu noonadeul" rengek sicantik memeluk lengan ummanya manja.
"Jinjja? rindu dengan noonadeul atau kepada sitampan bermarga Jung itu?" Goda Heechul lagi, menciptakan rengutan khas Jaejoong yang lucu.
"Ummaa...Joongie benar-benar merindukan noonadeul"
"Jinjja? ahh tampaknya nanti ada yang akan mendahului noonadeul, anak cantik umma akan dilamar oleh pangeran tampan"
"Ahh ummaa" kembali bibir pout Jaejoong menanggapi godaan ummanya, dalam hatinya ia sedikit penasaran mengapa umma-nya berkata demikian, apakah Yunho telah berkata kepada ummanya untuk melamarnya.
"Semoga pangeran tampan yang pernah menculik anak umma ini tidak akan menyesal nantinya menikah dengan anak umma yang manja seperti ini" ujar Heechul sembari menyentil ujung hidung mancung buah hatinya.
"Yah umma, Joongie masih 17, belum waktunya menikah" sahut Jaejoong keras.
"Joongie 17 dan Yunho 30, kalau begitu dia umma suruh menikah saja dengan umma bocah yang suka makan itu, nugu? nyonya Go, ottokhe baby?"
"Yah, ANDWAE! Jaejoong terpekik histeris mendengar rencana umma-nya. Jaejoong menyadari jika Ahra memang menyukai Yunho, dan Jaejoong sangat cemburu saat mengetahuinya.
Drrrt...drrrt...drrrt
"Yoboseyo"
Heechul menggeser layar sentuh ponselnya saat hendak menjawab panggilan yang menggetarkan layar ponsel tersebut, wajah cantiknya sedikit mengerenyit saat membaca siapa yang tengah menghubunginya.
Heechul mendengar seksama apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya diseberang sana, sedangkan Jaejoong perlahan memejamkan kedua bola matanya yang semakin terasa berat saja, hari sudah semakin sore.
"Jinjja? ahh, aku tak tahu apakah ini sebuah kabar gembira atau bukan, pasalnya hasilnya belum bisa dipastikan"
'...'
"Haruskah? baiklah, aku akan segera mengaturnya"
'...'
"Baiklah, selamat berjumpa, terima kasih"
Hhhhh...
Heechul mendesah pelan sebelum mengeluarkan suaranya kepada Han ahjussi yang tengah berkonsentrasi pada jalanan didepannya, lengan putihnya terjulur mengelus sayang surai hitam mengkilat milik Jaejoong yang telah tertidur pulas bersandar pada bahunya.
"Han ahjussi, antarkan aku ke bandara Incheon sekarang juga"
"Mwo?" Han ahjussi hanya dapat terbengong mendengar perintah nyonya-nya.
"Ne, aku harus berangkat kesesuatu tempat sekarang juga"
"T-Tapi, n-nyonya..."
"Antarkan saja, atau aku naik taksi kesana"
"Ne, arraso nyonya"
.
.
30 menit kemudian
Bandara International Incheon
"Nyonya, aku mohon, Kim sajangnim akan membunuhku jika mengetahui ini semua"
"Han ahjussi, aku jamin ia tak akan membunuh-mu, aku akan menitipkan surat untuknya, tolong jaga keluargaku, jaga Jaejoong, temani kemana-pun anak itu pergi, ne?"
"T-Tapi, n-nyonya..."
"Sudahlah, bawalah Jaejoong pulang, aku sudah memasukkan barang-barangnya didalam kopernya dibagasi" (Heechul tidak pernah meninggalkan koper mereka dihotel, ia selalu membawanya dibagasi mobil)
"N-Nyonya..."
"Ahjussi sampaikan surat ini kepada suamiku, sampaikan padanya jika aku sangat mencintainya, didalam surat ini telah kujelaskan semua maksud kepergianku, dan jika ada umurku aku pasti kan kembali ketengah-tengah keluarga-ku, pulanglah sekarang, aku takut Jaejoong akan terbangun dan mendapati-ku, aku takut tak tega meninggalkannya"
"Ahjussi, umma! mengapa disini?"
Heechul membatu, sepertinya ia kalah cepat, Jaejoong telah terbangun dari tidurnya dan segera menyongsong keberadaannya tepat saat ia akan melangkah ke pintu keberangkatan.
Jaejoong melihat tiket digenggaman Heechul.
"Umma? apa yang umma lakukan? umma akan meninggalkan Joongie? meninggalkan kami, appa dan noonadeul?"
"Jongie, ada yang harus umma lakukan, hanya beberapa hari, dan ini sangat mendadak, umma minta maaf" Heechul menjawab kebingungan Jaejoong.
"Tapi mengapa? mangapa ummaa? mengapa begitu tiba-tiba...hiks" Jaejoong mulai menangis, rasanya seperti bermimpi saja, bangun dari tidurnya dan langsung mendapatkan sang umma yang tengah bersiap-siap pergi entah kemana, Jaejoong rasanya seperti orang gila saja, karena sangat tidak mempercayai apa yang terjadi dihadapannya.
"Jaejoong ah, umma menyayangi kalian semua, tapi mianhe umma harus pergi sekarang" Heechul memeluk Jaejoong erat, menyalurkan seluruh kasih sayangnya.
"TIDAK BOLEH! umma tidak boleh pergi!" Jaejoong mulai kalap, ia menarik tubuh kecil Heechul agar kembali kedalam mobil, namun sekuat tenaga Heechul melepaskan tautan tangannya.
"Joongie jebbal, umma harus pergi" Heechul masih berusaha melepaskan tautan erat kedua tangan Jaejoong yang masih berusaha menarik tubuhnya seiring terdengar suara pengumuman jika pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat.
Diberitahukan kepada seluruh penumpang pesawat dengan nomor penerbangan KE 9095 tujuan Beijing, pesawat akan segera lepas landas dalam waktu 10 menit lagi, diharapkan seluruh penumpang telah menempati tempatnya masing-masing.
"Ahh...Joongie mianhe, umma pergi, jaga appa dan noonadeul, katakan jika umma menyayangi kalian semua, hiks...mianhe"
"UMMA! umma...ahjussi hentikan umma, hentikan umma...hiks, Joongie ikut umma, ummaa...huuuu"
Heechul akhirnya melepaskan tautannya, ia tak berani menoleh sedikitpun, melihat keadaan Jaejoong putra kesayangannya yang menagis meraung-raung meratapi kepergiannya yang sangat mendadak, bagai mimpi disiang bolong.
Dengan langkah mantap Heechul memasuki pesawat yang sudah dipenuhi penumpangnya, tampaknya ia adalah penumpang terakhir sebelum pesawat tinggal landas.
Sementara diluar sana Jaejoong menatap nanar pesawat yang baru saja membawa ummanya pergi tanpa tahu maksud dan tujuan sang namja cantik berhati bersih itu.
"Beijing? wae?" gumam Jaejoong tanpa terdengar oleh siapa-pun
Tubuh mungil itu melangkah lesu kembali memasuki mobil mewahnya bersama Han ahjussi.
.
.
.
tbc :(
needs reviews
maaf typo(s)nya, terimakasih banyak bagi yang sudah memberikan review pada chaps sebelumnya *deepBow
FB : Mano Shinki
Twitt : Peya_ok
Insta : Peya_mano
see ya^^
Palembang, 2 April 2014
13:44
~MBJ~
