Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

Cast lain menyusul

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

Siwon mengusap airmata yang menggenang dipelupuk matanya dengan kasar, ia merasa begitu bodoh disaat-saat istrinya membutuhkan kehadirannya untuk memberinya semangat hidup ia malah dihantui oleh rasa cemburunya yang besar. Ia merasa sangat tidak berguna sekarang.

Siwon bangun dari posisinya, menyambar handuk yang terlipat rapi diatas meja rias Heechul, sebelum masuk kedalam kamar mandinya ia meraih ponselnya dan mendial nomor milik seseorang. Terdengar nada tunggu sebelum sambungan diterima di line seberang.

"Han ahjussi, siapkan mobil antar aku kebandara pagi ini juga"

.

.

.

LOVE ME?

.

.

.

.

.

Jaejoong yang senang bukan main segera menyerbu kamarnya untuk mandi dan berpakaian seragam sekolah yang sudah ia rindukan semenjak Siwon menghentikannya dan mengganti dengan program home schooling yang sangat membosankan.

Dengan buru-buru sicantik kita memakai seragamnya, tak terlukiskan bahagia hatinya saat mendapat kejutan istimewa di pagi hari ini setelah melewatkan malam yang memilukan bersama keluarganya.

Kehadiran Yunho diambang pintunya pagi ini cukup membuat ia sedikit melupakan persoalan keluarganya dan kepergian ummanya yang begitu mendadak meski kedua doe eyes yang bengkak itu tetap tak dapat berbohong akan keadaannya.

Setelah berpakaian sekolah lengkap, memastikan tidak ada lagi yang ketinggalan, tubuh mungil itu segera beranjak dari dalam kamarnya menuju pintu dengan semangat, bayangan akan bertemu sahabatnya Junsu membuat bibir cherry itu terus menyunggingkan senyum manisnya, belum lagi teringat sosok tampan yang sudah menunggunya dihalaman rumahnya yang siap akan mengantarnya meski diotaknya masih bertanya-tanya bagaimana bisa Jung Yunho menjadi supir sekaligus pengawal pribadinya.

Mengabaikan pikiran yag terus berkecamuk diotaknya, Jaejoong bergegas membuka pintu kamarnya, takut akan terlambat ke sekolah karena ini hari pertama ke sekolah setelah beberapa lama absen tentunya.

Namun setelah membuka handel pintu, baru saja akan meneruskan langkahnya tampak sosok tinggi besar menghalangi jalannya keluar. Sosok tampan berpakaian rapi yang dikenali sebagai sosok Siwon itu rupanya baru akan bergerak masuk kedalam kamar Jaejoong bersamaan dengan tubuh mungil Jaejoong yang sudah berada diambang pintu, hampir menabrak tubuh besar appa-nya.

"A-Appa."

Jaejoong tergagap melihat sosok Siwon yang sudah berada dihadapannya, terus memandangnya dengan tatapan yang sangat berbeda dengan tatapannya semalam yang memandangnya penuh kebencian. Kini pandangan Siwon terkesan lebih 'manusiawi'.

"Joongie ya, bisa appa berbicara sebentar dengan-mu?"

"B-Bisa, silakan masuk appa." Jaejoong menjawab, masih tergagap.

Tubuh mungil Jaejoong menggiring tubuh tegap Siwon masuk kedalam kamar yang baru saja akan ditinggalkannya tadi. Jaejoong langsung menempatkan dirinya dipinggir ranjangnya, menundukkan kepalanya tak berani menatap sosok yang semalam hampir melukainya, ia tak ingin Siwon menghalangi dan membatalkan kesepakatannya untuk memperkerjakan Yunho sebagai supir dan pengawal pribadinya.

Siwon mendudukkan dirinya tepat dihadapan putra semata wayangnya, menatap dalam wajah tertunduk Jaejoong, seketika kembali muncul wajah Heechul yang amat dirindukannya, ia harus mengakui jika memang Heechul telah menurunkan hampir keseluruhan gen-nya kepada Jaejoong.

'Jika kau merindukanku kau bisa memandangi-nya atau memeluknya bila perlu.'

Brukk~

Tubuh Jaejoong menegang merasakan kekangan pada tubuhnya saat tiba-tiba Siwon memeluknya erat.

"Mianhe Jaejoongie." Siwon berucap lirih, jelas terdengar ditelinga Jaejoong.

"Bukan salah appa, kita semua menyayangi umma, dan Joongie tidak bisa menghalangi kepergian umma." airmata kembali membasahi wajah Jaejoong pagi itu, didalam pelukan ayah kandungnya.

"Berhenti menyalahkan dirimu nak…ini adalah terbaik untuk umma-mu, kita harus mendoakan kesembuhannya."

Jaejoong mengusap airmatanya sejenak, sedikit melonggarkan pelukan Siwon namun tak melepaskannya sedikitpun. Dtatapnya wajah tampan yang tampak berkilat bening oleh gumpalan air yang mendesak hendak tumpah didalamnya.

"Apakah umma mengatakan didalam suratnya tujuannya ke Beijing, appa?" Jaejoong berharap akan jawaban Siwon.

"Ne baby, uri umma ternyata telah merencanakan hal ini jauh hari, umma akan menjalankan operasi pencangkokan jantung, dan appa akan segera menyusul kesana meski umma tak mengijinkan, pagi ini juga"

"Ah jinjjaa? Kalau begitu Joongie ikut appa, hiks…Joongie ingin bertemu umma" rengek Joongie yang tidak sabar ingin melihat keadaan umma-nya.

"Tidak perlu, bukankah ini hari pertama Joongie bersekolah? Dan hari pertama Jung Yunho menjadi pengawal Joongie?" wajah Jaejoong sontak memerah setelah mendengar kalimat terakhir Siwon.

"Appa…bagaimana bisa mempercayai ahjussi pencu, eh Yunho ahjussi?" Tanya Jaejoong memperbaiki sebutannya kepada Yunho.

"Beberapa hari yang lalu ia mendatangi appa dengan penuh percaya diri dan mengaku telah jatuh cinta kepada uri Joongie, tentu saja appa tidak akan langsung menerimanya sebagai menantu, ia harus bisa menjaga uri Joongie dulu, dan appa menawarkan pekerjaan kepadanya."

"T-Tapi mengapa semudah itu appa menerimanya?" tanya Jaejoong heran, tentu saja Siwon bukan tipe yang mudah percaya kepada seseorang, terlebih lagi orang itu dipercaya pernah melakukan sesuatu yang tidak baik kepada keluarga mereka.

"Dia datang disaat yang tepat, umma belum meninggalkan kita dan kalian yang tengah minggat membuat appa berpikir jika appa menerima Jung Yunho disini akan memperbaiki hubungan appa dan umma-mu"

"Apa appa sekarang menyesal telah menerima Yunho Jussi bekerja?" tanya Jaejoong hati-hati khawatir Siwon berubah pikiran.

'Sama sekali tidak, pikiran appa kembali jernih setelah membaca surat umma-mu…jja pergilah, nanti Joongie terlambat dan Yunho terlalu lama menunggu"

"Ne appa, gomawo…Joongie sayang appa"

"Nado saranghae, makin hari kau semakin mirip umma-mu" sejenak Siwon menatap lekat wajah cantik mungil dihadapannya, seketika rindu kepada Heechul semakin membuncah, tak sabar lagi ingin menemui istri cantiknya.

Cup~

Siwon mengecup puncak kepala Jaejoong sedikit lama, kerinduannya akan sosok Heechul sedikit terobati setelah mencurahkan kasih sayangnya kepada buah hati mereka.

Rasa lega menyelimuti perasaan kedua ayah dan anak itu, kebencian dan salah paham yang selama ini bersarang dalam pikiran Siwon berganti dengan rasa sayang dan mencintai yang teramat dalam.

Namun secercah rasa takut masih terus mengusik batin Siwon, takut kehilangan sosok yang amat dicintainya yang sempat menutup akal pikiran sehatnya.

"Joongie mohon appa menjaga umma disana, semoga operasinya berjalan lancar." Jaejoong berkata penuh harap kepada Siwon, meletakkan harapan yang besar kepada appa-nya untuk kesembuhan ibu kandungnya.

"Arrachi, sampaikan hal ini nanti kepada kedua noona-mu, mereka telah berangkat kerja, umma juga menitip salam kepada kedua noona-mu"

"Siap appa, jja kita keluar."

Jaejoong menggandeng lengan Siwon menuruni tangga menuju halaman rumah mereka, disana telah menunggu Han ahjussi supir mereka bersama Jung Yuho yang serempak membungkukkan tubuhnya saat melihat sosok Siwon.

Sebelum masuk kedalam mobilnya, Siwon menghampiri Yunho, menepuk bahu namja yang memiliki tinggi yang sama dengannya.

"Jaga Joongie untukku, kau akan tahu sendiri akibatnya jika terdapat lecet sedikitpun ditubuh putraku"

"Baik tuan"

Siwon tersenyum tipis mendengar jawaban penuh kesungguhan Yunho dan mulai membuka pintu mobilnya sebelum mobil yang dikendarai Han ahjussi itu menghilang diujung halaman mansion megahnya.

Hhhhh…

Jaejoong mendesah berat setelah mobil yang membawa Siwon menghilang dikejauhan, entah mengapa, mengetahui keadaan umma-nya dan keberangkatan appanya membuat suasana hatinya mendadak berubah tidak seceria pagi tadi saat mengetahui akan kembali bersekolah serta ahjussi penculik yang sudah menculik hatinya itu akan selalu mendampinginya.

Jaejoong mendadak kehilangan semangat saat mengetahui keadaan Heechul yang akan menghadapi operasi pencangkokan jantung yang hasilnya belum bisa dipastikan.

"Tuan muda, kajja kita berangkat, nanti kita terlambat."

"Huh?"

Jaejoong mendengus malas saat mendengar panggilan dari suara bass yang mengagetkannya dari lamunan. Yunho dengan senyum tampannya telah berdiri disisi mobilnya dengan membuka pintu lebar-lebar agar Jaejoong segera masuk.

"Ini hari pertama tuan muda masuk sekolah, apa tuan muda mau mengawali hari pertama tuan disekolah dengan hukuman karena ter…"

"Yah, berhenti memanggil Joongie tuan mda seperti itu! Kajja cepat jalan."

Wajah tampan itu tersenyum tipis saat tuan muda nan cantik yang telah memotong ucapannya itu masuk kedalam mobil dengan bersungut-sungut memajukan bibir merah yang pernah dirasakannya lalu membanting pintu mobil dengan keras.

Yunho segera masuk kedalam mobil, duduk dibelakang kemudi segera membawa majikan barunya menuju sekolahnya, tempat ia menculiknya dulu.

Selama berada didalam mobil mewahnya Yunho menyadari wajah bertekuk Jaejoong yang menyiratkan kegalauannya, tentu saja Yunho belum mengetahui kericuhan yang terjadi dikediaman Kim semalam, tentang Heechul yang melarikan diri ke Cina, terlebih lagi tentang Siwon yang sempat mengamuk.

Dengan berurai airmata Jaejoong menceritakan kejadian yang membuat mata sembabnya terlihat jelas, namun senyum kembali menghiasi wajah tampan sekaligus cantiknya mengingat pagi tadi Siwon telah meminta maaf dan berjanji menerima keadaan dirinya apa adanya.

Sepanjang perjalanan Yunho mendengar cerita tuan mudanya dengan penuh perhatian sambil sesekali menenangkan Jaejoong yang terbuai emosi meski keadaan mereka masih sangat canggung karena status baru mereka sebagai majikan dan pengabdi.

"Ahjussi menunggu?"

Jaejoong sedikit terheran saat menyadari mobil yang mengantarnya tidak meninggalkan lingkungan sekolah, Yunho malah memarkir mobil mereka dipekarangan sekolah.

"Ya, aku akan menunggu disini."

"Mwo? Joongie sekolahnya tidak sebentar ahjussi…sampai siang, nanti kalau ahjussi kelaparan, ottokhe?" wajah cantik mulus itu memamerkan mata bening yang melotot indah saat mendengar jawaban ahjussi supir barunya.

"Tuan muda tenang saja, aku tidak akan kelaparan." Yunho memamerkan senyum tampannya saat melihat garis kekhawatiran diwajah cantik majikannya, bukankah ia sudah terbiasa menahan lapar setiap harinya? Sampai-sampai ia lupa memanggil Jaejoong kembali dengan sapaan tuan.

"Huh, ya sudah, Joongie masuk dulu kalau begitu." Jaejoong bergegas hendak beranjak dari hadapan Yunho dengan perasaan sedikit kesal, jujur saja ia tak suka dengan kesan formal dan canggung yang ditunjukkan Yunho kepadanya, bukankah mereka sudah jadian?

"Joongie, t-tunggu." pergerakan Jaejoong terhenti mendadak saat dirasakannya cengkeraman kuat dipergelangan tangannya.

"Ada apa?" Jaejoong menjawab sedikit kesal.

"Umm, tidak ada, hanya saja…" Yunho tampak ragu meneruskan kalimatnya mencetak kekesalan diraut cantik Jaejoong semakin menjadi.

"Ya sudah kalau begitu."

"Ah Joongie…"

Pergerakan Jaejoong kembali terhenti saat untuk kedua kalinya Yunho menangkap pergelangan tangannya setelah dihentakkannya secara kasar tadi, kali ini Yunho menatapnya dalam penuh arti, membuat kedua mata doe itu tak sanggup bertemu pandang, Jaejoong segera melempar pandangannya kesamping, menghindari sorot tajam musang yang seakan hendak menelannya bulat-bulat.

"A-Apa lagi?" ujar bibir mungil itu tanpa berani menatap sorot musang dihadapannya yang masih mencekal pergelangannya kuat.

"Ani…hanya saja, berhenti memanggilku ahjussi, aku tak suka"

"Huh, Joongie tidak janji!"

Yunho kaget bukan kepalang, tak menyangka jika Jaejoong akan menjawabnya ketus seperti itu, terlebih lagi bocah cantik itu telah berlari meninggalkannya menuju kelasnya setelah sebelumnya sempat menjulurkan lidah kearahnya.

Aishhh…

Yunho mendecak frustasi, mengusap wajahnya kasar, entah apa yang berada dalam pikirannya, menjadi kekasih bocah 17 tahun yang masih bertingkah kekanakan dan manja, namun hatinya tak dapat menampik jika wajah mempesona bocah tersebut selalu menyita pikirannya semenjak bocah itu mewarnai hari-harinya saat menjadi tawanannya dulu.

Yunho membuka kembali mobil mewah milik keluarga majikan barunya, ia memutuskan beristirahat didalam mobil saja untuk mengusir rasa penatnya.

.

.

"Junsu ya, kajja ikut mobil Joongie saja, kita pulang bersama."

Jaejoong dan Junsu berjalan beriringan menuju pekarangan sekolah tempat Yunho menunggunya sedari pagi tadi. Junsu tampak berpikir sebentar, pasalnya telah terlihat mobil mewah miliknya beserta Kang ahjussi yang sudah menjemputnya didepan gerbang sekolah.

"Suie, kajja…akan Joongie perkenalkan dengan sopir dan bodyguard Joongie yang baru, hehehe" Junsu memutar bola matanya, seingatnya Jaejoong paling anti jika orang tuanya mempekerjakan seorang pengawal pribadi untuknya.

"Bodyguard? Jeongmal?" heran Junsu penasaran.

"Ne, kajja…akan Joongie perkenalkan." riang Jaejoong sambil membayangkan wajah tampan ahjussi mantan penculiknya yang setia menungg dari pagi hingga usai pelajaran sekolahnya.

"Chakkaman hyung, aku harus menemui Kang ahjussi dulu, bisa-bisa umma mengamuk kalau aku tidak memberi pesan kepada Kang ahjussi."

"Baiklah Joongie tunggu dimobil Joongie, eoh?"

"Ne"

Junsu berlari menemui Kang ahjussi untuk memberi pesan kepada Kim umma jika ia akan diantar Jaejoong. Selesai memberi pesan Junsu berlari kecil menuju mobil Jaejoong terparkir, namun seketika langkahnya terhenti melihat siapa yang duduk dibelakang kemudi mobil mewah itu.

"Yunho ahjussi?" lirih Junsu sesaat setelah dirinya berada disebelah pintu tempat Yunho berada.

"Ne Suie, kajja masuklah." Jaejoong yang sudah duduk disebelah Yunho menyuruh Junsu untuk segera masuk mobil mereka.

"Joongie hyung, mengapa bisa Yunho ahjussi?" Tanya Junsu langsung sesaat setelah baru saja pantatnya menyentuh jok empuk kursi penumpang mobil Jaejoong.

"Hihihi, ceritanya panjang Suie, nanti saja Joongie ceritakan, yang jelas sekarang Yunnie ahjussi sudah resmi menjadi pengawal pribadi Joongie" Yunho tampak mendesah berat saat lagi-lagi mendengar kata 'ahjussi' dari bibir cherry Jaejoong, sepertinya Jaejoong selalu ingin mengodanya dengan sebutan yang sangat dibencinya itu, demi apa ia baru 30, belum benar-benar cocok dengan sebutan ahjussi milik umuran orang berkepala 4.

"Yah kalau begini aku bisa-bisa jadi obat nyamuk kalian berdua hyung" Junsu berusaha menyindir keadaan mereka dimobil Jaejoong. Sedikit banyak ia sudah mengetahui jika Jaejoong dan Yunho telah saling suka.

"Aish Suie, salahkan sendiri mengapa memilih pacar beda sekolah, coba kalau pacar tiangmu itu satu sekolah dengan kita, kan dia bisa ikut kita pulang bersama"

"Kalau begitu bagaimana kalau kita jemput saja Changmin sekarang hyung? Jebbal, jarak rumah dan sekolahnya cukup jauh, dan dia selalu jalan kaki pulang pergi, Ahra Jumma memberi ongkos tetapi selalu dihabiskannya dikantin sekolah, huh…"

Junsu sedikit memohon kepada Jaejoong agar mau menjemput Changmin namja chingu-nya karena memang waktu pulang sekolah mereka hampir bertepatan.

Jaejoong melirik kearah Yunho yang tengah fokus kejalan raya, seakan meminta persetujuannya.

"Ahjussi, ottokhe? Apa tidak keberatan menjemput Changmin sekalian?" tanya Jaejoong pelan.

"Baiklah, sekolah Changmin tidak seberapa jauh dari sini"

"Woaaa, gomawo ahjussi, untunglah aku tidak jadi obat nyamuk, hihihi" Junsu berteriak girang sambil memeluk Yunho dari belakang kursinya, tentu saja tindakannya itu mengundang protes dari wajah cantik Jaejoong yang melihat kekasihnya dipeluk seenaknya saja oleh silumba-lumba berbulu bebek itu.

"Yah, lepas! Tidak boleh!" Jaejoong berusaha melepaskan tautan Junsu yang tidak tahu diri memeluk Yunho hingga Yunho gelagapan, hampir menabrakkan mobil mereka ditrotoar jalan.

Kraukkk~

Krokkkk ~

"Aih bunyi apa itu ahjussi?" Junsu mendadak melepaskan pelukannya pada yunho saat telinganya mendengar bunyi aneh yang sangat jelas. Jaejoong kebingungan, ia juga mendengar bunyi tersebut, sementara Yunho disebelahnya hanya dapat menyengir tak enak, rupanya bunyi itu berasal dari organ dalam tubuhnya.

"Hehehe, bunyi perutku, tuan." ujar Yunho memasang cengiran tampannya.

"Aigoo, ahjussi ternyata lapar, eoh?" Jaejoong memandang Yunho dangan iba.

"Jelas saja lapar hyung kalau kau suruh menunggu dari pagi tadi." celetuk junsu cuek.

"Ani, ani, gwaenchana, biar saja aku sudah biasa menahan lapar kok, sampai malam juga aku bisa menahannya" elak Yunho keras, sebenarnya ia sangatlah lapar namun rasa malu telah mengalahkan segalanya, meski organ tubuhnya tetap tak bisa berbohong.

Kraaukkkk~

Krookkkk~

Kembali terdengar bunyi perut keroncongan Yunho, sepertinya cacing-cacing perutnya sudah berdemo untuk segera diberi makan.

Mendengar suara lucu yang berasa dari perut Yunho untuk kedua kalinya membuat tawa Jaejoong tak bisa ditahannya lagi, boneka barbie hidup itu tertawa keras sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.

"Arraso, setelah menjemput Changmin, kita cari restoran terdekat, eoh?"

"T-Tapi tuan…"

"Tak ada tapi-tapian!" Jaejoong membuang pandangannya kearah jalan tak ingin mendengar alasan apapun dari sopir barunya yang hanya mampu menggeleng pelan.

Sementara Junsu hanya manyun saja melihat tingkah pasangan kekasih yang masih tampak canggung dihadapannya.

'Hihh, pacaran tidak ada romantis-romantisnya sama sekali' gerutu pemilik wajah imut itu dalam hati melihat tingkah Jaejoong dan Yunho.

Lima belas menit berlalu, mobil hitam milik Jaejoong sudah berada tepat didepan gerbang sekolah Changmin, sebuah sekolah negeri milik pemerintah yang sederhana, murid-muridnya-pun berasal dari golongan menengah kebawah, berbeda dengan sekolah Jaejoong dan Junsu yang merupakan milik yayasan terkemuka, siswanya berasal dari kalangan elit berdompet tebal.

Tak lama terlihat seorang bocah berperawakan tinggi menjulang hingga hampir setinggi tembok sekolah itu sendiri, tampak bocah yang masih berumur dibawah 15 itu berjalan dengan tenang dan percaya diri sambil mengunyah sesuatu dimulutnya, tampaknya ia baru saja 'jajan' dikantin sekolahnya, tak banyak lagi murid yang lalu lalang didepan gerbang itu.

"Changmin baby!" Junsu berseru sambil 'mengeluarkan' kepalanya dari sela kaca mobil yang diturunkan tak lupa melambaikan tangannya kearah Changmin yang masih sibuk 'mengunyah' sesuatu dimulutnya.

Jaejoong hanya memutar bola matanya malas melihat kelakuan alay Junsu serta mendengar panggilan sayang Junsu kepada bocah yang awalnya sangat kurang ajar itu.

Sedang bocah imut bebadan tiang tampak sibuk celingak-celinguk mendengar namanya dipangil seseorang yang tak jelas wujudnya.

"Changmin baby, disini!" Junsu masih berusaha keras membuat Changmin menoleh kearahnya.

Akhirnya usaha Junsu mengeluarkan separuh tubuhnya dari kaca jendela belakang mobil Jaejoong tidaklah sia-sia, akhirnya Changmin menoleh dan terheran-heran melihat keadaan pacarnya yang seperti kernet angkot, bergelayutan dijendela.

"Ahh…my baby lumba-lumba bohay" Changmin segera menuju mobil mewah tersebut dan dengan pede-nya membuka pintu mobil tersebut kemudian memeluk kekasihnya dengan penuh cinta, tak ayal wajah imut Junsu tak tersisa sedikitpun dari serbuan kecupannya, dari kening, pipi, hidung, dagu hingga telinga, membuat Jaejoong dan Yunho menjadi cengo berjamaah dibangku depan.

"Yah hentikan kalian, mesum!" Jaejoong menjerit histeris melihat adegan yang tak pantas dilakukan bocah seumuran Changmin terhadap sahabatnya, dalam hati ia merasa menyesal telah menuruti permintaan Junsu menjemput Changmin.

Sepertinya Jaejoong dan Yunho yang akan menjadi obat nyamuk hari ini.

Hhhhh…

"Ahjussi kajja cari restoran saja, Joongie jadi lapar melihat mereka berdua" Jaejoong menyuruh Yunho melanjutkan perjalanan, menghiraukan acara lovey dovey Junsu dan Changmin dibangku belakang.

.

.

Bolero Restaurant

"Baby, aaaa…"

"Aaaa, aku mau udangnya juga baby Suie…"

"Ini, ayo buka lebar-lebar bibir seksimu itu Changmin baby, aaa…"

"Ummm, henak hekali, eoh? Hakuh heum henah hakan hakanan hehenak hinihhh…mmm ( read; aku belum pernah makan makanan seenak ini)"

"Eung kyang kyang…makan pelan-pelan baby, jangan bicara dulu selagi makan, nanti tersedak kan repot jadinya, ini buka lagi yang lebar eummhh"

Jaejoong dan Yunho hanya dapat terbengong-bengong saja menyaksikan kelakuan sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara itu, melihat Junsu dan Changmin yang seolah-olah tak merasakan kehadiran orang lain disekitar mereka, keduanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, Junsu yang sibuk menyuapi Changmin dengan segala jenis makanan yang telah mereka pesan.

Jaejoong memberengut kesal, meletakkan mangkuk nasinya begitu saja.

"Tuan, mengapa berhenti makannya?" Yunho menegur Jaejoong dengan lembut, menyadari wajah cantik majikannya yang tengah kesal.

Demi apa, semua hidangan yang mereka pesan bersama-sama telah lenyap hanya dalam waktu beberapa menit saja, bahkan Jaejoong dan Yunho baru saja akan memasukkan suapan ketiga kedalam mulut mereka saat menyadari hidangan dimeja telah bersih licin hanya tinggal nasi dan beberapa buah pencuci mulut.

"Joongie sudah tidak lapar lagi, kajja kita pulang saja" Jaejoong melenggang menuju kasir dan langsung membayar semua makanan yang belum sempat dinikmatinya seutuhnya.

Sementara ketiga orang lainnya hanya mengekori namja cantik yang tengah kesal itu, sayangnya tak sedikitpun diantara Junsu dan Changmin yang menyadari perubahan mood Jaejoong saat itu, hanya Yunho yang tampak mengerti akan kekesalan dihati majikan tampannya (read; cantik).

"Ahjussi, lebih baik kita antarkan Changmin dulu, baru setelahnya Junsu" Jaejoong memberi perintah kepada Yunho untuk mengantar Changmin terlebih dahulu, masalahnya jalan yang tengah mereka lalui tak berapa jauh dari apartemen tempat tinggal Changmin yang bertetangga dengan Yunho.

"Ahh ahjussi kalau begitu aku juga sekalian akan menjenguk halmoni Jung, sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya, bagaimana keadaan halmoni sekarang semenjak keluar dari rumah sakit?" Junsu dengan antusias bertanya seputar kesehatan umma Jung, pasalnya semenjak kepulangan umma Jung dari rumah sakit Junsu belum sempat untuk menjenguknya.

"Ahh nanti kita sama-sama saja menjenguk Jung halmoni, Joongie-pun belum sempat menjenguk halmoni setelah terakhir bersama umma kerumah sakit"

Raut wajah Jaejoong seketika berubah sendu saat tak sengaja menyebut kata 'umma' perasaannya menjadi tak menentu mengingat kondisi jantung umma-nya. Junsu terlihat menyadari situasi perubahan air muka sahabatnya.

"Hyung, apa umma chulie baik-baik saja? Sedari tadi aku memperhatikan jika hyung mendadak murung, kalian tidak bertengkar kan?" mendadak Junsu teringat akan Heechul yang biasa dipanggilnya dengan sebutan umma karena hubungan kedua keluarga mereka yang lumayan akrab.

Mendengar pertanyaan Junsu raut wajah Jaejoong semakin menunjukkan kemurungannya, Junsu semakin tak mengerti.

"Kami baik-baik saja Suie, hanya saja umma sekarang sedang berada di Beijing Cina dan akan menjalankan operasi pencangkokan jantung karena jantung umma sudah rusak total." Jaejoong berusaha kuat menyelesaikan kalimatnya, tenggorokannya tercekat menahan isaknya.

"Omoo hyung, mianhe…"

"Gwaenchana."

Yunho yang melihat kerapuhan Jaejoong saat itu langsung meraih telapak tangan Jaejoong dan membawanya kegenggamannya menyalurkan kehangatan agar kekasih belianya sedikit merasa tenang. Benar saja, airmata yang sudah menggenang dipelupuk mata itu seolah menguap begitu saja, urung mengaliri wajah putih mulusnya.

Dan keheneningan-pun mengambil alih suasana sisa perjalanan mereka menuju apartemen sederhana Yunho dan Changmin.

.

.

"Ummaaa, aku pulang…"

"Ahh Changminah bersama teman-teman rupanya, eh? anneyong Yunho ah, disini juga juga ternyata, kalau begitu aku berganti baju dulu, maaf penampilanku yang berantakan ini karena baru saja habis memasak…kajja, kalian jangan bengong saja begitu, duduklah, maafkan rumah kami yang sederhana ini"

"Gwaenchana ahjumma, kami akan duduk disini, ahjumma tidak usah repot berganti baju, begitu saja sudah cantik, hehehe"

Suara nyaring Junsu menjawab rentetan kalimat Ahra umma Changmin yang sedikit kaget melihat anaknya pulang dengan membawa "rombongan' temannya, apalagi diantara mereka terdapat namja pujaan hatinya, jadilah ia tergopoh-gopoh masuk kekamarnya hanya untuk berganti baju.

Jaejoong? Lihatlah bibir merahnya yang tengah cemberut hingga maju lima senti, ia sungguh merasa terjebak berada dirumah ini, ahh salahkan ia yang baru ingat jika umma Changmin itu menaruh hati kepada kekasihnya sejak lama, cemburu? Tentu saja, ia hanya manusia biasa.

'Umm, Yunho ah apa sudah makan? Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita kalau begitu"

"Tidak usah repot-repot Ahra ah"

Ahra yang sudah mengganti pakaiannya dengan mini dress merah langsung saja hendak beranjak kedapur guna menyiapkan makan siang, namun langsung dicegah Yunho dengan memegang pergelangan tangannya.

"Ne umma kami sudah makan, Jae hyung yang mentraktir, lagian umma hanya menawari Yunho hyung saja, hehehe"

Melihat adegan Yunho dan Ahra serta candaan Changmin yang ditujukan kepada kedua orang tersebut membuat Jaejoong bertambah cemberut dan kesal, tentu saja ia merasa sangat cemburu, cemburu melihat perlakuan Yunho terhadap Ahra, meski itu hanya ketidak sengajaan saja, dan cemburu saat mendengar bagaimana Ahra memangil Yunho dengan nadanya yang sedikit manja, menurut Jaejoong tentunya.

Disini Jaejoong benar-benar merasa terabaikan. Entah mengapa pikirannya kembali kepada sang umma nun jauh disana yang tengah berjuang melawan maut. Jaejoong cemburu karena disini mereka semua memiliki umma yang sehat.

"Yunho ah, apa kalian serius sudah makan? Aku benar-benar ingin mengajak kalian makan" kembali Ahra menawari makan siang.

"Ne, gomawo Ahra ah, mungkin lain kali saja, lagi pula aku dan umma-ku sudah sering merepotkanmu mengantarkan makanan untuk kami"

"Tak pernah menjadi masalah bagiku, jujur saja, Jung umma sudah kuanggap sebagai umma-ku sendiri, mengingat kami sebatang kara, kurasa kau sudah tau jika Changmin sejak bayi tak pernah melihat neneknya lagi"

"Gwaenchana Ahra ya, tapi jika Changmin menganggap ibuku adalah neneknya, mengapa anak ini selalu saja memanggil hyung kepadaku, hahaha" Yunho berusaha menghidupkan suasana dengan humornya, namun usaha melucunya itu malah menyebabkan wajah cantik Jaejoong semakin keruh.

"Aku mau merubah panggilan hyung itu jika Yunho hyung mau aku panggil appa"

"Ehem…Changminah, bicara yang sopan nak"

Deg…

Kalimat Changmin barusan yang bukan lagi merupakan candaan itu sukses membuat makhluk rapuh yang merasa terasing disana bergetar menahan kesedihan, namun ia mengerti sama sekali Changmin tak bermaksud untuk menyakiti hatinya, Changmin mungkin tidak peka dan belum mengetahui mengenai hubungan asmara Yunho dan Jaejoong yang baru saja terjalin.

"Ahjussi, kajja antar Joongie pulang" ucap Jaejoong pelan menyembunyikan getaran pita suaranya dengan susah payah.

Yunho merasa keheranan dengan perubahan sikap Jaejoong yang sangat mendadak, bukankah tadi ia berencana akan menemui umma Jung terlebih dahulu?

"J-Joongie? Wae? Mengapa tiba-tiba berubah, bukankah…"

"POKOKNYA JOONGIE MAU PULANG SEKARANG, AHJUSSI DENGAR? TITIK!"

Dan semua yang berada diruangan tak lebih dari 4x4 meter itu terkaget tak percaya mendengar kalimat kasar dari bibir cherry mungil milik Jaejoong.

Kedua bola mata bening itu-pun mulai mengeluarkan cairannya.

Hiks…

"Joongie mau pulang"

"Tuan…tolong jelaskan, mengapa tuan tiba-tiba menjadi seperti ini?"

"H-Hyung…" Junsu berusaha menenangkan Jaejoong.

"Ahjussi tidak usah khawatir, Joongie tidak apa-apa, hanya saja Joongie ingin diantarkan pulang secepatnya, ahjussi tidak perlu…"

"YAH, BERHENTI MEMANGGILKU AHJUSSI! APA KAU TULI? AKU TIDAK SUKA!"

Ahhh…

Dan kali ini semua yang berada disana hanya mampu mengangakan mulut mereka dengan lebar saat mendengar suara bentakan menggelegar yang keluar dari bibir hati Yunho, bentakan yang ditujukan kepada makhluk mungil yang sontak merasa tubuhnya kaku, bahkan ia tak memberi kesempatan kepada Jaejoong untuk menyelesaikan kalimatnya dulu, Yunho sipenculik itu kembali menampakkan wujud aslinya yang suka membentak dan memarahinya dengan kasar.

Hiks…

"Umma, hiks…" Tubuh kurus Jaejoong semakin bergetar ketakutan, apalagi menyadari tak seorangpun yang berani menolongnya saat melihat wajah murka dan dingin Jung Yunho, bahkan Ahra hanya tertunduk ketakutan. Junsu memeluk Changmin yang sibuk menenangkannya.

Hiks…

Jaejoong semaki terisak, dan isakannya semakin keras seiring rasa takutnya yang semakin membuncah, ingin rasanya ia melarikan diri dari tempat itu, sedikit menyesali rasa cemburunya yang menjadi awal dari semua ini.

Srett~

"Maaf kami permisi"

"Ahh, Y-Yunnie"

Tanpa diduga Yunho secepat kilat menyambar pinggang ramping Jaejoong dan 'menyeret'nya keluar dari ruang tamu kediaman Go. Jaejoong yang tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu hanya mampu memnggumamkan panggilan khususnya kepada yunho, setelah mendapat bentakan tadi tak ada niat Jaejoong untuk memanggil Yunho dengan sebutan ahjussi lagi.

Yunho membawa Jaejoong keluar apartemen Ahra, menutup pintunya dengan tergesa, 'menyeret' Jaejoong hingga berhenti tepat didepan pintu apartemennya bersama sang umma.

Sementara Ahra, Junsu dan Changmin tak dapat berkata sepatah katapun kecuali hanya menatap tubuh sepasang kekasih itu hilang dibalik pintu.

"Yunnie…" Jaejoong bingung saat Yunho malah mengarahkan tubuhnya kearahnya dengan memegang kedua sisi bahunya.

"Mianhe Joongie ah" kedua bola mata doe Jaejoong menari-nari diseputar wajah tampan dihadapannya, ia begitu tak mengerti, baru saja makhluk tampan ini membentaknya dengan begitu menyeramkan, dan sekarang dengan wajah penuh penyesalan meminta maaf kepadanya.

"Hiks…mengapa Yunnie membentak Joongie?"

"Maafkan aku, maafkan aku Jaejoongie, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Yunho meremas kedua bahu Jaejoong dengan kuat, membuktikan jika ia bersungguh-sungguh, ia sungguh tersiksa saat melihat kedua mata indah yang sangat dikaguminya itu dibanjiri airmata.

"Tapi ahjussi, eumphhhh…mmpffhh"

Bibir cherry itupun sukses menyatu dengan bibir hati tebal Yunho yang sedari tadi sudah tidak tahan untuk kembali merasakan manisnya rasa benda kenyal dan lembut itu.

Nnghhh…

Hmpphhh

Jaejoong hanya dapat mendesah dan melenguh nikmat saat bibir hati itu terus menuntutnya kedalam ciuman yang panas dan bergairah, hingga mereka merasa pasokan udara diparu-paru mereka kian menipis hingga harus melepaskan tautan keduanya dengan perasaan tidak rela.

Yunho meraih tubuh mungil dihadapannya dan memeluknya dengan penuh possesif.

"Sekali lagi kau memanggilku ahjussi, akan kucium sampai pingsan" ancam Yunho lembut ditelinga majikannya yang hanya dapat tersipu dengan wajah merona, merah.

"Kalau begitu Joongie mau, hahaha…ahjussi, ahjussi, ahjussi, ahh…jushhh umhhh nghhhh"

Dan kembali bibir cherry itu menjadi sasaran kepossesifan pemilik bibir hati yang tak mau melepaskan begitu saja rasa manis, lembut dan kenyal benda menggoda itu, bahkan hingga kedua tangan Jaejoong menepuk-nepuk bahu dan punggung Yunho untuk melepaskan tautan mereka Yunho masih enggan melepaskannya hingga Jaejoong benar-benar kehabisan nafas.

Hahhh hahh hahhh…

"Ahjussi nappeun!" Jaejoong memukul-mukul bahu Yunho dengan kuat dan bertubi-tubi, nafasnya hampir habis jika Yunho tidak berbaik hati melepaskan bibirnya tadi.

"Hahahaha, ne..mianhe, itu semua karena Joongie begitu menggemaskan" Yunho mencolek dagu Jaejoong dan menghapus jejak salivanya yang berceceran didagu Jaejoong.

Kembali, wajah tampan Yunho menatap dalam wajah cantik didepannya dengan bibir yang sudah membengkak sempurna, mengarahkan kedua mata bulat yang malu-malu itu untuk menatap paras wajahnya.

"Joongie ah, apakah kau mencintaiku?" pernyataan Yunho dengan penuh ketegasan, menatap wajah cantik dihadapannya dengan penuh pengharapan meski hanya disaksikan oleh sebuah daun pintu sebagai saksi pernyataan keduanya.

"Ne, Joongie mencintai Yunnie, jeongmal" meski bersifat kelewat manja namun sicantik itu mampu menjawab dengan penuh kemantapan dan keseriusannya, tak ada sedikitpun kebohongan didalamnya.

Tercetak jelas kelegaan diraut wajah tampan Jung Yunho, sicantik dihadapannya ini telah resmi menjadi dan mengaku sebagai miliknya.

"Ahhh, kalau begitu mari kita masuk menemui ibu mertua-mu." Ucap bibir hati itu kemudian dengan penuh kelegaan dan kepuasan, mencetak warna merah merona diwajah cantik kekasihnya.

"Yah ahju, ups Yunniee…hehehe" Jaejoong tak dapat menutupi raut wajah tersipunya, membuat ahjussi galak dihadapannya semakin tak tahan untuk bertindak lebih jauh lagi terhadapnya (?)

Yunho-pun 'menggiring' kekasihnya menuju pintu kediamannya yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dari mereka, berharap pasca pengakuan hati masing-masing, mereka tak akan menemui rintangan yang berarti lagi.

.

.

.

TBC

Next chap will be the last chap, so..

Willing to give some reviews? I thank you sooo much^^

Twitt : peya_ok

IG : peya_mano

Palembang, 8/26/2014