Disclaimer : Semua karakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, Humor

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

CAST : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Heechul, Kim Siwon, Go Changmin, Go Ahra

.

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

.

.

SUMMARY

Jung Yunho terpaksa menyandera Kim Jaejoong, namja cantik dan manja anak pengusaha terkaya di Seoul. Bagaimana Jung Yunho menghadapi tingkah manja Kim Jaejoong saat ia menjadi tawanannya?

.

.

Previous Chap

Kembali, wajah tampan Yunho menatap dalam wajah cantik didepannya dengan bibir yang sudah membengkak sempurna, mengarahkan kedua mata bulat yang malu-malu itu untuk menatap paras wajahnya.

"Joongie ah, apakah kau mencintaiku?" pernyataan Yunho dengan penuh ketegasan, menatap wajah cantik dihadapannya dengan penuh pengharapan meski hanya disaksikan oleh sebuah daun pintu sebagai saksi pernyataan keduanya.

"Ne, Joongie mencintai Yunnie, jeongmal" meski bersifat kelewat manja namun sicantik itu mampu menjawab dengan penuh kemantapan dan keseriusannya, tak ada sedikitpun kebohongan didalamnya.

Tercetak jelas kelegaan diraut wajah tampan Jung Yunho, sicantik dihadpannya ini telah resmi menjadi dan mengaku sebagai miliknya.

"Ahhh, kalau begitu mari kita masuk menemui ibu mertua-mu." Ucap bibir hati itu kemudian dengan penuh kelegaan dan kepuasan, mencetak warna merah merona diwajah cantik kekasihnya.

"Yah ahju, ups Yunniee…hehehe"

Yunho-pun 'menggiring' kekasihnya menuju pintu kediamannya yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dari mereka, berharap pasca pengakuan hati masing-masing mereka tak akan menemui rintangan yang berarti lagi.

.

.

.

LOVE ME? (12)

.

.

.

.

.

Beijing, satu bulan kemudian

"Wonnie ah…sampai berapa lama lagi kau menahanku disini hum? Uri Joongie sudah merengek-rengek didalam ponselku meminta kita agar cepat pulang, bahkan tadi pagi dia sampai menangis, sepertinya dia sangat merindukanku, dia mengancam akan menyusul kita disini bersama Yunho pengawalnya itu."

"Aku masih ingin berdua saja denganmu Chulie ya…terhitung baru 2 minggu kita bersama setelah masa pemulihanmu, aku hanya ingin lebih lama lagi bersama istriku tanpa diganggu bocah manja itu."

"Yah, dia anakmu tuan kuda!"

"Ne, ne…tapi satu bulan lagi, jebbal…"

"Shireo."

"Arraso, 4 minggu saja kalau begitu."

"Itu sama saja kuda!"

"Hehehe…3 minggu, arrachi?"

"Ani!"

"Baiklah 2 minggu, jebbal…"

"Hhhh…baiklah, dengan satu syarat."

"Mwo? Syarat? Apa itu? Jangan mempermainkanku cinderella…"

"Ani, apa aku pernah bermain-main, humm?"

"Oke, apa itu?"

"Umm…aku ingin kita memberikan Joongie seorang adik."

'….'

"Wonnie, ottokhe? Bukankah dokter sudah mengecek kesehatanku, dan aku dinyatakan normal, jantung yang ada ditubuhku ini sudah positif seratus persen cocok, dan aku merasa sangat sehat sekali sekarang."

'….'

"Wonnie, jawab aku."

Wajah cantik bermata besar itu mengguncang-guncang bahu namja berwajah tampan yang entah mengapa tiba-tiba pandangan matanya kosong kedepan, tubuh kekarnya yang memangku tubuh kecil yang tengah sibuk mengguncang tubuhnya itu seakan mati rasa.

Siwon dan Heechul tengah menikmati waktu berduanya dinegeri tirai bambu setelah Heechul menjalani operasi cangkok jantungnya yang dinyatakan sukses, tentu saja dengan melewati berbagai tes kesehatan yang menghabiskan waktu lebih kurang 2 minggu.

Kini Heechul dan Siwon menempati apartemen mewah disana yang khusus dibeli Siwon untuk mereka berdua. Sebenarnya Heechul tidak menyetujui jika Siwon mengajaknya untuk menempati apartemen tersebut, ia hanya ingin buru-buru pulang bertemu keluarganya, namun apa daya sang suami menginginkan untuk menghabiskan waktu berdua dulu sementara waktu.

Dan disinilah pasangan paruh baya itu berakhir, dengan keadaan Siwon yang tampak shock atas keinginan Heechul yang sudah tidak muda lagi untuk memiliki anak kembali. Heechul belumlah terlalu tua dan mungkin saja rahimnya masih subur, mengingat dia bukanlah wanita yang ada masa menopuse.

Faktor umur bukanlah hal yang menyebabkan Siwon menjadi sangat trauma, kesehatan Heechul dan memori saat ia berjuang pada saat melahirkan Jaejoong dulu-lah yang membuat Siwon terhenyak mendengar keinginan Heechul barusan.

Dan tentu saja Siwon takan pernah melupakan bagaimana perasaannya saat 'mengejar' Heechul yang minggat untuk melakukan operasi transplantasi jantung sebulan yang lalu.

FLASHBACK

Namja tegap paruh baya itu melangkah penuh kecemasan ditemani oleh seorang perawat pria menuju kesalah satu ruangan didalam rumah sakit bertaraf Internasional.

Hingga keduanya tiba dihadapan sebuah pintu berlabel nama seorang dokter, Dr Tan Hangeng.

Perawat itu mengetuk pintu tersebut beberapa kali sebelum terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan itu, tentu saja berbahasa Cina, kemudian perawat itu cepat-cepat masuk kedalam ruangan tersebut meninggalkan sosok Siwon yang tengah berdiri mematung.

Tak lama sosok perawat itu kembali kehadapan Siwon yang memandangnya tanpa berkedip.

"Anda dipersilahkan masuk, tuan Siwon."

Tanpa menunggu lebih lama lagi Siwon langsung menghambur kedalam ruang dokter tersebut, tak memperdulikan tatapan tak mengerti perawat yang mengantarnya."

"DIMANA ISTRIKU!" Wajah berkilat penuh emosi Siwon menarik kerah baju dokter berwajah tampan khas negeri panda itu. Terlihat dokter tersebut mencoba meredam emosinya dengan tersenyum tipis.

"Kau masih sama seperti dulu Siwon shi, penuh emosi dan amarah, bahkan kau sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaan istrimu terlebih dahulu." Dokter tampan dan berwibawa itu berkata dengan tenang, tentu saja dengan bahasa Korea semampunya saja.

Mata tajam pria tampan diseberang meja dokter itu berkilat penuh kebencian, menatap seakan ingin menelan dokter yang wajah dan mimiknya tampak santai dibalik meja.

Meski didalam suratnya Heechul telah menjelaskan hubungannya dengan dokter tersebut, namun rasa cemburu Siwon masih terlalu besar untuk dihilangkan, terlebih lagi keberadaan Heechul sekarang masih belum diketahuinya. Meski Siwon tahu Hangeng sudah mempunyai istri. Cemburu telah menggelapkan mata appa dari Kim Jaejoong tersebut.

"Kuasai dirimu dulu, aku tidak akan memberi informasi kepada keluarga pasienku yang tengah diliputi emosi." Hangeng berkata sembari menunjuk bangku dihadapan mejanya yang sedari tadi tidak berfungsi lantaran tamunya memilih untuk berdiri sambil menggebrak meja kerjanya.

Sedikit tersadar dan mendengarkan perkataan Hangeng barusan, Siwon menggeser kursi dan perlahan mendudukinya, namun masih memasang wajah tegangnya.

"Baiklah, ingin minum apa?"

"Tidak usah bertele-tele, aku kesini bukan ingin minum." Nada dingin dari bibir tipis Siwon saat Hangeng berusaha menawarkan sesuatu untuk diminumnya.

"Hhhh…Baiklah Siwon shi, ada satu hal yang perlu kau ketahui sebelum kau mengetahui keberadaan istrimu saat ini."

"Katakanlah, aku mendengarkan." Jantung Siwon berdegup kencang saat mendengar kalimat Hangeng.

Saat ini Siwon merasa sangat tidak berguna sebagai seorang suami yang mengaku sangat mencintai istrinya, buktinya banyak hal yang tidak ia ketahui mengenai keadaan istrinya dan harus mendengar dari bibir orang lain seperti saat ini.

"Kau tahu bagaimana keadaan istrimu saat tiba disini?"

'…'

Siwon sama sekali tak menjawab pertanyaan pria dihadapannya.

"Dengan keadaan jantung yang hanya bekerja 30 persen pada tubuhnya, seharusnya ia datang dengan pengawalan ketat dari petugas medis, setidaknya ada dua perawat dan satu dokter yang bersamanya saat itu, hhhh…"

Wajah tegang dan menyeramkan Siwon dengan cepat berubah menjadi tertekan dan mengeras setelah mendengar kalimat dari dokter yang sempat membuatnya cemburu beberapa waktu lalu. Sebagai seorang suami Siwon telah merasa gagal, gagal bertanggung jawab atas kesehatan sekaligus kebahagiaan sang istri.

Berbagai memori kembali berputar dibenak pria tampan pengusaha paling sukses di Korea itu, kapan terakhir ia melihat senyum Heechul istrinya, entahlah, sejak melahirkan buah hati mereka rasanya Siwon tak pernah melihat senyum menghiasi wajah Heechul, kecuali jika namja cantik itu tengah bersenda gurau bersama anak-anak mereka, Jaejoong dan kedua Noona-nya.

Bahkan Siwon terlalu berwatak keras saat menginginkan Jaejoong dapat menggantikan posisinya didunia bisnis yang banyak ditakuti oleh pesaingnya, meski Jaejoong lebih mewarisi sifat sang umma penuh kelembutan.

"Aku mengerti perasaanmu sekarang ini Siwon shi, untuk itu aku memutuskan untuk melaksanakan transplantasi itu tanpa menunggu kehadiranmu dengan segala resiko yang akan kupertanggung jawabkan semua."

"K-Kau…mengapa bisa?" Siwon terperangah, tak menyangka jika Hangeng sangat berani melanggar kode etik-nya dengan melakukan tindakan kepada pasien tanpa menunggu persetujuan dari pihak keluarganya.

"Bukankah Heechul sebelumnya juga sudah merencanakan keberangkatannya seorang diri dan melakukan operasi ini tanpa seijinmu? Jadi apa bedanya?"

"Hhhhh…" Siwon mendesah berat mendengar kalimat tegas Hangeng yang tak dapat membuatnya berkutik lagi.

"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" Nafas Siwon memburu, menunggu jawaban dari dokter muda dihadapannya.

"Kau harus berterimakasih kepadaku Siwon shi, tidak akan ada lagi Heechul yang lemah sekarang, meski belum sadar sepenuhnya, tapi kami telah memeriksa kecocokan jantung tersebut ditubuh istri anda dan hasilnya 85 persen cocok, selanjutnya jantung itu akan berangsur-angsur menyatu dengan sendirinya pada tubuhnya.

Kelegaan sangat tampak diwajah Siwon setelah mendengar penjelasan Hangeng, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya yang tak lagi setegang tadi.

"Kalau begitu, dimana aku bisa menemuinya?" Siwon tak dapat lagi menyembunyikan kegirangannya, tanpa sengaja kedua tangannya meraih bahu Hangeng, membuang kecanggungan yang sedari tadi terjadi diantara keduanya.

"Baiklah akan kuantarkan sekarang." Hangeng beranjak dari duduknya menyamakan posisinya dengan Siwon yang sedari tadi telah berdiri dari duduknya.

"Terimakasih, terimakasih dokter, aku berhutang padamu…" Berulang kali Siwon membungkukkan tubuhnya seraya mengucapkan kata terimakasih yang disambut Hangeng dengan senyum sumringahnya.

Selanjutnya kedua makhluk tampan tersebut melangkah bersama menuju kamar perawatan Heechul.

Flashback end.

"Wonnie? kau melamun." Heechul yang masih berada diatas pangkuan suaminya menatap intens wajah tampan dihadapannya, menelisik tatapan kosongnya, entah apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran Siwon saat ini.

Siwon sedikit tersentak, berpura-pura memperbaiki posisinya yang tengah memangku cinderella cantik yang tengah menatapnya dengan heran.

"Gwaenchana baby." Siwon mengusap dengan sayang helaian sutra terurai milik Heechul yang sedikit memanjang hingga hampir menyentuh bahunya.

"Kau belum menjawab permintaanku Wonnie ah." Heechul semakin menajamkan tatapannya, mata indahnya semakin intens menatap wajah tampan dihadapannya yang terlihat kian gelisah saja, membayangkan istri kembali berbadan dua cukup membuat tubuh Siwon bergetar cemas.

Jika sudah begini, tak ada cara lain.

"Arraso baby Chulie, tapi ada syaratnya, hehehe."

"Mwoya? Aku yang memberi syarat kok sekarang kau juga ikut-ikutan?" Heechul melotot protes, melempar tubuh kecilnya dari pangkuan sang suami hingga terduduk disofa empuk persis disebelah suaminya.

Siwon menarik nafas panjang sebelum memulai kata-katanya, "Hhhhh…kita lakukan hanya dalam waktu 2 minggu ini saja, eoh? Jika kau tidak kunjung hamil jangan memintanya lagi, dan selanjutnya aku akan selalu memakai pengaman saat kita berhubungan."

"Dua minggu?" kening Heechul berkerut.

"Ne, aku akan menuruti keinginanmu hanya dalam 2 minggu sisa waktu kita disini, anggaplah ini bulan madu kita yang kedua."

Heechul mendengus kasar.

"Huh, bulan madu kedua katamu? Aku bahkan tidak ingat apa kita pernah berbulan madu sebelumnya." Kesal Heechul mengingat pernikahan mereka yang penuh kontrovesi lantaran dirinya yang tidak pernah disetujui oleh keluarga suaminya, untuk bisa menikah saja mereka harus bersyukur, apalagi berbulan madu.

"Hehehe, ottokhe Chullie baby, humm?" goda Siwon seraya menyurukkan wajahnya diperpotongan leher Heechul yang berjengit geli.

"Yah, janganmenggodaku, kuda!"

"Kau sendiri yang menginginkan kita membuat adik untuk Joongie kan?" goda Siwon kembali, kali ini disertai dengan kecupan bertubi-tubi pada leher mulus istrinya yang semakin menggelinjang kegelian.

"T-Tidak secepat ini, Wonnieehh aahhh…" Heechul berusaha menguasai rasa geli yang berubah menjadi menjadi rasa nikmat yang amat sangat. Sudah cukup lama Heechul tak merasakan kenikmatan seperti ini semenjak ia mengidap penyakit jantungnya.

"Tapi aku menginginkanmu sekarang juga." Seringai Siwon dengan wajah mesum sejuta watt-nya.

"Awww! Yah mau kemana kau membawaku, kuda!" Heechul kaget bukan kepalang lantaran dengan tiba-tiba tubuh kurusnya terangkat kedalam gendongan Siwon dengan mudahnya. Siwon membawa tubuh Heechul menuju kamar pribadi mereka dan menendang daun pintunya hingga tertutup rapat.

Tinggal menunggu apakah misi mereka berhasil memberi seorang adik kepada Jaejoong.

.

.

2 minggu kemudian di Seoul…

"Tuan Jaejoong, mengapa makanannya hanya dilihat saja? Makanlah, nanti tuan sakit, Yunho mengatakan jika tuan bahkan belum sarapan sedari pagi."

"Joongie tidak nafsu makan Haelmoni, umma dan appa tega sekali meninggalkan Joongie disini."

Bibir merah stroberi itu mengurucut manyun sambil terus mengaduk makanan dipiringnya tanpa berusaha memakannya sedikitpun.

Saat ini Jaejoong berada dirumah umma Jung yang dipanggilnya Haelmoni lantaran anaknya yang kerap dipanggilnya Ahjussi. Semenjak Heechul dan Siwon berada di Cina, Jaejoong banyak menghabiskan waktunya di Apartemen sederhana kediaman keluarga Jung tersebut.

Jaejoong sangat kesal lantaran rencana kepulangan Appa dan Ummanya selalu saja mundur dan mundur lagi, dengan alasan kesehatan Heechul tentu saja, ingin rasanya ia menyusul keduanya secara diam-diam, namun mengingat watak sang Appa yang sangat ditakutinya, membuat simanja itu mengurungkan niatnya.

Terhitung mulai dari pulang sekolah hingga hari beranjak sore Jaejoong lebih memilih berada di Apartemen sempit yang untungnya semenjak kepulangan umma Jung dari rumah sakit tempat tersebut kembali bersih dan rapi meski perabotannya masih tetap usang.

Yunho yang bekerja sebagai pengawal pribadi Jaejoong hanya bisa pasrah menuruti kehendak tuan mudanya saja, jika tidak dituruti Jaejoong akan ngambek hingga mendiamkannya selama seharian penuh dan berujung dengan kegiatan mogok makan sang tuan muda yang membuat Yunho pusing tujuh keliling dibuatnya.

Seperti hari ini, Yunho dipusingkan lantaran sedari pagi Jaejoong menolak makan meski kedua noona-nya sudah membujuknya setengah mati, belum lagi sepulang sekolah Jaejoong memaksanya untuk mengantarnya ke Apartemennya saja, padahal Jaejoong sendiri ada jadwal les tambahan mengingat ia sudah disemester akhir sekolah, hanya hitungan beberapa minggu lagi Jaejoong akan melaksanakan ujian akhir sekolahnya yang menentukan lulus atau tidaknya ia dari bangku SMA-nya.

Entah sudah berapa kali lajang tampan berbibir seksi itu mendesah nafas panjang akibat ulah tuan mudanya hari ini.

Pemilik wajah kecil itu bahkan tak percaya jika kenyataannya makhluk yang tengah bertingkah seperti kanak-kanak usia 10 tahun itu akan segera lulus SMA, bahkan ia sudah memantapkan hati untuk melamarnya.

"Jae…habiskanlah makananmu, kau harus belajar setelahnya karena telah melewatkan les tambahanmu."

Namja 17 tahun itu bertingkah seolah tak mendengar apa-apa, terus mengaduk-aduk makanannya dengan wajah malas.

"Jae…"

"Terus saja memanggilku seperti itu, ahjussi!"

Hhhhh…

Kembali desahan berat lolos dari bibir hati Yunho, ia tahu jika Jaejoong tidak suka dipanggil dengan sebutan formal seperti itu, hanya saja ia merasa canggung karena saat ini mereka tengah berada berada bersama umma-nya yang sudah mengetahui hubungan spesial diantara mereka, namun yeoja 60 tahun itu sering memperingatkan Yunho agar tidak mencampur aduk dengan pekerjaannya. Saat ini masih terhitung jam kerjanya sebagai pengawal pribadi Jaejoong hingga jam 5 sore nanti.

"Jae, aku mohon mengertilah, semua orang mengkhawatirkanmu karena belum makan sedari pagi, habiskan makananmu, jangan buat aku memaksamu." Yunho masih memasang label sabar meski ucapannya kali ini penuh dengan penekanan.

"Yun…" Umma Jung memberi isyarat dengan gelengan ringan, sekedar memperingatkan anaknya yang berwatak penuh emosi untuk mengendalikan dirinya, tidak terpancing menghadapi bocah manja itu.

Namun bocah manja itu masih tak sedikitpun berusaha menyendokkan makanan kemulutnya, terus mengaduk-aduk masakan umma Jung yang padahal terlihat sangat menggiurkan, tentu saja dengan wajah memberengutnya.

"Yah! Kau tidak mendengarkanku, eoh?" suara Yunho mulai meninggi, mengundang tatapan sengit tuan mudanya.

"Ani, Joongie tidak mendengar, Joongie tuli, wae?" jawab bibir merah itu asal.

"Arraso, kau kuberi waktu 15 menit untuk menghabiskan makananmu, jika dalam waktu itu makananmu tidak kau habiskan, maka aku tidak akan segan-segan menyeretmu keluar dari sini, memulangkan-mu dan tidak itu saja, aku akan berhenti bekerja menjadi pengawal nona yang manjanya kelewatan ini!"

BRAK!

"Yunnie! Eodiga?" nyonya Jung berteriak lantang melihat sang putra yang sudah tersulut emosinya menghempas pintu aparteman mereka dan keluar begitu saja, sedangkan wajah cantik Jaejoong terperangah tak percaya jika Yunho akan seemosi itu.

"Keluar, cari angin segar!" Yunho menyahut sebelum menuruni tangga apartemen tersebut, mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisapnya dengan tujuan menghilangkan stress, mungkin.

"Jaejoongie, gwaenchana sayang, dia memang begitu selalu tidak sabaran, Haelmoni mohon mengerti, eoh?" Umma Jung langsung mendekati Jaejoong yang tampak shock atas kelakuan Yunho barusan, meraih tubuh mungil yang tampak bergetar itu kedalam pelukannya.

Dan isakan pilu-pun mulai terdengar dari bibir merah tersebut.

"Hiks, Yunnie eodie? J-Joongie tidak mau Yunnie berhenti m-menjadi pengawal J-Joongie…hiks." Umma Jung mencoba menenangkan Jaejoong.

Dalam hatinya nyonya Jung mengutuk perbuatan anaknya yang sangat tidak sabaran menghadapi bocah manja itu, Jaejoong tengah terguncang karena ditinggal kedua orang tuanya, lagi pula keadaan Heechul yang masih menjadi tanya besar sesudah menjalani operasi transplantasi jantung.

Jadi wajar jika Jaejoong bertindak seperti itu, sebagai bentuk pemberontakannya atas keadaan keluarganya saat ini.

"Ssshh uljima, jika Joongie menghabiskan makanannya maka Yunnie akan segera kemari, percayalah."

Seperti tersadar, setelah mendengar kalimat umma Jung, Jaejoong langsung duduk menghadap piring berisi makanan yang tadi hanya diaduk-aduknya, memegang sendok dan mulai menyuapkan sendok yang berisi makanan itu kemulut mungilnya tanpa sedikitpun bersuara.

Pelan namun pasti Jaejoong menghabiskan sesuap demi sesuap makanannya, meski dengan airmata yang masih menetes dipipi, namun ia melakukannya tanpa suara sama sekali, membuat umma Jung menatap iba kepadanya, 'Apa sudah sering Yunho berlaku kasar kepada makhluk manis ini?' demikian kata hati Umma Jung seraya mengusap airmata yang menetes membasahi pipi mulus namja yang baru saja disindir anaknya dengan sebutan 'nona' itu.

"Ne, akan Joongie habiskan, Joongie tidak mau membuat Yunnie kesal dan terlalu lama menunggu Joongie."

Setelah menghabiskan waktu yang lumayan cepat, kira-kira 15 menit, Jaejoong berhasil menghabiskan nasi beserta lauk-pauknya. Buru-buru segera ia menyambar tas sekolahnya yang tergeletak disofa usang tak jauh dari meja makan, kemudian bergegas pamit kepada umma Jung menyusul Yunho yang sedari tadi masih berada diluar.

"Halmonie, Joongie pamit eoh? Gomawo atas makanannya."

Umma Jung tersenyum lucu kala melihat wajah Jaejoong yang tampak belepotan butiran nasi dengan dahinya yang berkeringat sehabis makan tadi. Entah apa yang ada didalam pikiran remaja tersebut sehingga menjadi terburu-buru seperti ini.

"Arraso, tidak usah terlalu terburu-buru Joongie ya, Yunnie tidak akan memarahi-mu lagi, memang sudah sifatnya yang suka marah-marah seenaknya saja." Tutur umma Jung pelan sambil mengusap peluh dan membersihkan beberapa butir nasi yang menempel dipipi Jaejoong.

Jaejoong mengangguk setelah sebelumnya mendapat kecupan sayang dikedua pipinya dari Jung Umma yang mengantar kepergiannya hingga menghilang ditangga apartemen.

Jaejoong menuruni tangga apartemen dengan sedikit terburu-buru, khawatir jika pengawal pribadinya yang galak itu semakin emosi terhadapnya.

Namun tiba-tiba sicantik itu menghentikan langkah terburu kedua betis langsingnya lantaran ia melihat sosok Yunho yang berada ditaman apartemen tidaklah sendiri, melainkan tengah berbincang akrab bersama seorang yeoja dewasa yang kebetulan Jaejoong sangat mengenal yeoja tersebut.

''Huh, pantas saja betah lama-lama diluar." Bibir mungil itu mengerucut kesal, langkah tergesa tadi berubah menjadi langkah gontai yang terkesan ogah-ogahan menuju tempat ahjussi bodyguard merangkap supir pribadinya berada.

Bibir merah itu semakin memberengur tatkala kehadirannya sama sekali tak disadari oleh kedua makhluk yang tengah asyik berbincang akrab, apalagi posisi mereka yang membelakangi dirinya.

"Ehem…" Jaejoong sengaja berdehem, mengusik obrolan antara Yunho dan Ahra. Ternyata yeoja tersebut adalah Umma-nya Changmin, pacar Junsu sahabatnya.

"Kim Jaejoong/Jaejoongie." Baik Yunho maupun Ahra berbarengan menoleh keasal suara yang menginterupsi perbincangan akrab mereka dan sontak merapal nama makhluk yang tiba-tiba sudah berada didekat mereka tanpa mereka ketahui kehadirannya.

"Ahh sepertinya Joongie mengganggu acara Ahjussi dan Ahjumma Go, eoh? Arraso, kalau begitu Joongie menunggu didalam saja, atau Jo…"

"Ani…k-kami hanya mengobrol ringan saja, apa kau sudah makan?" sedikit tergagap Yunho lekas memotong ucapan Jaejoong yang sudah akan membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Sepertinya tuan putri manja ini dilanda rasa cemburu.

"Biar saja, sepertinya obrolannya sangat penting, Joongie tidak mau mengganggu." Sepertinya tak ada niat Jaejoong untuk mengurungkan niatnya kembali menuju apartemen Yunho, dengan bergegas Jaejoong memacu langkahnya menaiki tangga kembali.

Sebenarnya ingin sekali Jaejoong pulang sendiri kemansion-nya dengan naik taksi, mengingat temperamen Yunho yang sangat emosian, maka diputuskannya untuk kembali ke apartemen Umma Jung.

Tentu saja semua ini karena rasa cemburu yang teramat sangat melihat kekasihnya berbincang akrab dengan seorang wanita yang jelas-jelas menyukai kekasihnya

Yunho mendesah berat menatap punggung kecil Jaejoong yang menghilang dipuncak undakan tangga apartemen, sementara Ahra hanya menggelengkan kepalanya, tak lupa memperlihatkan raut wajahnya yang datar.

"Terlihat sekali kalian saling menyukai." Ahra berkata lirih, entah mengapa suasana akrab yang baru saja mereka lewati tiba-tiba menjadi canggung dengan sendirinya.

Yunho tersenyum tipis menganggapi kalimat Ahra yang terdengar sarat akan kekecewaan. Tidak dipungkiri memang jika Ahra selalu menunjukkan perhatian lebihnya kepada Yunho selama ini, meski dengan penampilan Yunho yang tidak terurus seperti sebelumnya.

"Apa terlihat sekali?" masih dengan senyumnya, wajah tampan Yunho terlihat semakin menawan dimata Ahra, meninggalkan kesan kasar dan galaknya untuk sementara waktu.

"Cuma orang bodoh yang tidak bisa merasakan aura perasaan kalian, cara kau memandangnya-pun sangat berbeda dengan cara kau memandangku, huh…beruntung sekali anak itu, baru berkenalan sudah mendapat tempat yang spesial, hahaha."

Ahra melepas tertawa ringan, sedikit membuat candaan ringan yang malah membuat hatinya sakit sendiri. Dalam hatinya ia tentu saja sangat iri melihat Jaejoong yang semudah itu mengambil seluruh perhatian Yunho, lihatlah sekarang ini, bahkan wajah galak milik Jung Yunho itu tengah tersenyum bodoh menaggapi candaannya barusan.

"Hahahaha…bagaimana menurut Noona sendiri? Apakah kami cocok? Entahlah, rasa suka itu tiba-tiba saja setelah melihat wajah lugunya, dan perasaan ingin selalu melindunginya setiap waktu." Ujar bibir hati itu tanpa melepas senyum diwajahnya, tak menyadari jika ada sepasang wajah sendu menahan sakit hatinya mendengar ucapannya barusan.

"Kau tahu, kau itu malah terlihat seperti Ahjussi pedofil, yunho ah…dan berhenti memanggilku Noona, umur kita hanya berbeda beberapa tahun saja, huh." Cibir Ahra kesal, bagaimana-pun ia tak dapat membenci namja yang sudah menjadi tetangga-nya semenjak ia mengandung Changmin tanpa didampingi sosok suami, Yunho lah yang membantunya selama ini hingga ia kemudian jatuh hati kepada pemuda miskin tersebut.

Sepertinya Ahra harus menepis semua mimpinya untuk menjadikan Yunho Ayah tiri Changmin putranya yang bahkan sudah mendahuluinya mempunyai seorang kekasih, Kim Junsu.

"Pergilah, susul simanja itu kedalam, aku yakin ia pasti tengah mengadu dengan Umma Jung, hhhh…dan aku yakin, Umma pasti bertambah tidak suka kepada-ku." Ahra mengakhiri kalimatnya dengan desahan berat, ia sadar sepenuhnya, Umma Jung tidak terlalu suka dengan sikapnya yang terang-terangan menyukai Yunho.

Tentu saja karena kondisi Ahra yang seorang janda beranak satu yaitu Changmin yang nafsu makannya diluar akal manusia, Umma Jung jelas saja khawatir memikirkan nasib Yunho nantinya jika menjadi suami Ahra dan akan menanggung kehidupan wanita tersebut bersama putranya, meski ia menyayangi Changmin seperti cucunya sendiri.

"Baiklah, kuharap kau tidak tersinggung Ahra ya." Yunho pamit bergegas menyusul Jaejoong kembali ke apartemen mereka, meninggalakn Ahra yang tersenyum kecut.

Benar yang dikatakan Ahra barusan, ketika Yunho telah berada didalam apartemen ia menemukan Umma-nya yang tengah menenangkan Jaejoong yang menangis dipelukannya. Kembali Yunho menghembuskan nafas panjangnya, entah sudah berapa kali ia melakukannya hari ini.

Resiko berpacaran dengan bocah labil.

Dan Yunho masih belum dapat menguasai emosinya yang bertemperamen tinggi.

Perlahan tubuh tegap Yunho mendekati kedua orang yang sangat disayanginya yang tengah berpelukan disofa usang ruang tengah rumah sederhana mereka. Sedikit merasa kesal dengan sang Umma yang terkesan sangat mengistimewakan bocah manja tersebut, sepertinya kehadiran Jaejoong juga memberi pengaruh baik bagi kesehatan Umma Jung, Yunho menyadari benar hal itu.

"Umma ya, wae gurae?" Yunho berkata malas seraya melempar tatapan iritasinya kepada dua orang yang terlalu lebay menurutnya.

Melihat tatapan malas putranya yang seolah-olah tak memperdulikan makhluk manis yang tengah menangis tersedu dipelukannya membuat yeoja setengah baya itu mendelik kesal kepada putra semata wayangnya.

Awww!

"U-Umma, mengapa malah menjewerku, awww…appoo, lepaskan Umma, bisa putus daun telingaku kalau begini." Yunho meringis kaget tatkala jemari lentik ibunya sudah meremas dan memilin telinganya dengan sadis.

"Rasakan! Bisa-bisanya kau membuat Jaejoongie menangis seperti ini, huh…lagian untuk apa kau masih meladeni janda itu hah?" Umma Jung melotot sadis dan belum berniat melepaskan jewerannya. Sementara Jaejoong hanya bengong melihat kelakuan ibu dan anak itu, tangisannya terhenti tanpa disadarinya.

Tak puas hanya dengan telinga Umma Jung mulai menjambak rambut Yunho yang sudah tidak lagi gondrong, dan itu cukup membuat Yunho sungguh repot, sungguh hal yang amat sangat sulit jika Umma-nya sudah mengamuk seperti ini.

Alhasil Yunho hanya bisa pasrah saja, membiarkan Umma Jung menganiaya-nya hingga puas.

"Halmonie! S-Sudah…kasian Yunnie." Jaejoong yang menjadi iba melihat Yunho mati kutu diserang ibunya sendiri berusaha memisahkan agar Umma Jung mau melepaskan tautan tangannya pada tubuh mantan penculiknya yang sudah berubah status menjadi kekasihnya, ah ani, calon suaminya, mungkin.

"J-Joongie, tolong aku…"

Aishhh, lihat saja kali ini siapa yang terlihat lebih manja seperti anak-anak. Jaejoong terkikik geli saat melihat wajah memelas Yunho dengan aegyo yang sangat alay menurutnya, memohon pertolongannya agar terlepas dari siksaan sang Umma.

Tak terasa hari beranjak sore, waktunya Tuan muda yang manja untuk segera pulang. Setelah susah payah membujuk Jaejoong untuk meninggalkan apartemen sangat sederhana itu, kedua makhluk berbeda umur dan berbeda tingkat kesejahteraan hidup tersebut meninggalkan tempat itu dengan keadaan yang sudah berbaikan.

Jangan heran jika melihat keadaan simanja yang kini tengah berada dipunggung sang ahjussi yang tengah bersusah payah menuruni tangga apartemen, karena sebelumnya ia telah mengajukan satu syarat agar mau pulang, yaitu menuruni tangga apartemen dengan berada didukungan Yunho.

Jaejoong memeluk erat leher kokoh Yunho seraya terus mencium aroma maskulin dari tubuh manly pemiliknya, tubuh yang dulu sempat dikatakannya bau lantaran memang Yunho tidak sempat mandi 2 hari.

Mobil mewah itu memasuki mansion megah tempat setiap hari Jaejoon pulang, namun tidak ada tanda-tanda sambutan dari beberapa maid yang biasa menyongsong kedatangannya, entah itu membawakan tas sekolahnya, atau sekedar menyambut kedatangannya saja, begitu juga dengan kedua noonanya yang biasanya sudah pulang bekerja, Jaejoong pulang sudah cukup terlambat.

Jaejoong melangkahkan kakinya dengan malas, didampingi sosok tinggi tegap disebelahnya yang membawakan tas sekolah dan jas sekolahnya. Cherry merah itu mengerucut kesal, ia benci keadaan rumah yang seperti ini, tidak ada kehangatan. Bahkan Sun hee dan Soo Young pun tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Jaejoong mendesah pelan saat melewati ruang makan yang tampak lengang, seharusnya ini adalah jam makan malam, waktu ia dan keluarganya bersenda gurau bersama, ada Umma yang selalu menyuapinya makanan, ada noonadeul yang terkadang suka menjahilinya, dan ada Appa yang selalu memasang wajah datar yang sangat dirindukannya.

Jaejoong baru saja akan melangkahkan kaki rampingnya manaiki tangga menuju kamar pribadinya saat tiba-tiba cahaya lampu gemerlap menerangi ruang makan keluarganya, wajah cantiknya ternganga tak percaya melihat beberapa sosok yang benar-benar dirindukannya.

"Anneyong Jaejoongie…Aigoo uri Princess, pulang terlambat sampai lupa waktu bersama pengawal pribadinya, eoh? Apa sudah melupakan Umma dan Appa?"

"U-Ummaa…"

Wajah cantik itu terbengong-bengong lucu saat mendapati siapa yang sudah berada diruang makan yang berjarak antara dirinya hanya hitungan langkah saja. Heechul tengah tersenyum kepadanya, aahhh betapa sangat dirindukannya sosok yang menuruni mata indah kepadanya itu, sedangkan disebelahnya berdiri sosok Siwon yang terus memasang senyum bahagianya dapat berkumpul lagi dengan keluarganya. Tak ketinggalan Sun Hee dan Soo Young, kedua noonadeul Jaejoong yang berada disebelah orang tua mereka.

"Uri Joongie tidak mau memeluk Umma? Jja, kemarilah, apa kalian tidak lapar?" Heechul memberi isyarat agar Jaejoong memutar arah kembali keruang makan.

Namun apa reaksi yang diberikan anak bungsu 3 bersaudara itu sungguh membuat anggota keluarga yang lainnya hanya dapat menggeleng pelan.

Lihatlah wajah cantik menggemaskan itu memberengut dengan bibir cherry yang dimajukannya menunjukkan kekesalan diwajahnya, belum lagi doe eyes yang tampak berkilat-kilat bening tanda adanya air yang sebentar lagi akan tumpah keluar. Ujung hidung dan kedua pipinya ikut memerah memendam emosinya.

"Aiihh, uri Princess merajuk rupanya Umma, lihatlah…hahaha." Soo Young yang tak tahan ingin menggoda mengakhiri kalimat candaannya dengan gelak tawanya yang disambut gelak tawa yang lain, tidak terkecuali Yunho yang setia berada disebelahnya, sungguh jika tidak ada Siwon disana, sudah habis cherry merah itu dikunyah dan ditelannya bulat-bulat.

"Aww, Noona! Appoo…"

"Habis uri Princess menggemaskan sekali, kajja, apa Joongie tidak rindu Umma, hmm?"

"Berhenti memanggil Joongie princess noona, Joongie ini pangeran tampan!"

"Ah iya, tampan tapi cengeng, eoh? Hahaha."

Sun Hee yang tidak tahan dengan tingkah menggemaskan Jaejoong segera menyongsong ketempat adik bungsunya itu berada, menggiringnya mendekati Heechul dan Siwon, setelah sebelumnya berhasil mencubit kedua belah pipi Jaejoong dengan gemas. Yang lain hanya bisa tertawa senang melihat tingkah dua saudara itu.

Heechul dan Siwon memutuskan untuk pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada Jaejoong, hanya kedua noona-nya saja yang diberitahu, bermaksud memberi kejutan kepada si manja yang akhir-akhir ini sering uring-uringan menanyakan kapan orang tua mereka pulang, namun ternyata saat mereka tiba dirumah malah sibungsu tidak berada dirumah, sehingga beginilah kejadiannya, mereka merencakan bersama-sama membuat Jaejoong kesal.

"Umma jahat, lama sekali pergi meninggalkan Joongie, Appa yang lebih jahat lagi, lama sekali menculik Umma." Sungut cherry merah itu sesaat setelah berada dalam pelukan sayang Umma tercinta.

Heechul sama sekali tak melepaskan pelukannya pada tubuh Jaejoong, meski kini mereka bersama tengah menyantap makan malam. Ia sungguh merindukan sosok manja yang tiap malam selalu minta dipeluk kala tidur.

"Bukannya begitu baby, Dokter masih harus memantau kondisi kesehatan jantung Umma selama masa sesudah operasi, lagi pula bukannya Joongie sudah ada Yunho hyung yang menemani?" jelas Heechul yang diakhiri dengan godaan kepada anak bungsunya, tak lupa dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Jaejoong tertunduk malu.

"Ish Umma, J-Joongie kan masih sekolah." Sela Jaejoong merona seraya melirik kearah lelaki tampan yang duduk diseberang kursinya. Sun Hee dan Soo young yang melihat adegan tersebut hanya saling senggol kaki mereka dibawah meja.

"Ehmm…menurut appa uri Joongie mesti melanjutkan sekolah ke Universitas dulu, baru boleh menjalin hubungan yang serius." Suara tegas Siwon seakan menginterupsi membuat wajah merona Jaejoong luntur seketika, bibir merahnya kembali mengerucut. Appanya benar-benar belum berubah.

Heechul yang memahami keadaan sang putra langsung menguasai keadaan, meletakkan telapak tangannya keatas tangan suaminya.

"Wonnie, lupakah kau jika uri Joongie umurnya sudah memasuki usia dewasa? Sebentar lagi akan lulus sekolah? Kau lupa berapa umur kita saat menikah? Huh? Meneruskan pendidikan tidak dilarang setelah berkeluarga, biarlah uri Joongie menentukan langkahnya setelah lulus sekolah."

Siwon tak dapat berkata apa-apa lagi, kalau Heechul sudah bicara, ia seakan menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya, menurut sekali, benar-benar ajaib.

"Lagipula sepertinya perhatianmu akan uri Joongie akan mulai terbagi…hehehe."

Heechul melanjutkan kalimatnya disertai senyum malu-malu menghiasi wajah ayu cinderellanya. Siwon yang menyadari akan sesuatu hal mendadak memasang wajah kaget namun penuh rona bahagia.

"Jeongmal? Jadi usaha kita berhasil, Chulie ya? Tapi ini baru dua minggu, aniya?" setengah berbisik Siwon hampir menyeret Heechul kedalam pelukannya. Ia gagal menyembunyikan aura kebahagiannya.

"Ssst…aku iseng-iseng mengeceknya." Heechul berbisik manja ditelinga sang suami. Sementara ketiga anaknya fokus memperhatikan apa yang tengah diperbuat oleh kedua orang tua mereka yang tengah berbisik-bisk gaje.

"Apa ada dua garis?" bisik Siwon lagi, yang sayup-sayup masih dapat terdengar ditelinga Jaejoong, Sun Hee dan Soo Young, ketiganya telah memasang wajah menyelidik penuh curiga.

Heechul mengangguk pelan, menyembunyikan rona merah pada wajahnya, seperti gadis belasan tahun yang baru saja ditembak kekasihnya.

"OMOOO…" Jaejoong beserta dua noonanya kompak berseru tertahan, sedangkan Yunho satu-satunya yang tidak mengerti hanya menunjukkan wajah cengonya saja.

"Andwae! Jangan katakan jika Joongie akan ada saingan!" Jaejoong sontak berdiri dari duduknya dengan berkacak pinggang menghadap kedua orang tuanya yang lebih seperti maling tertangkap basah telah mencuri sesuatu.

Siwon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Joongie baby…a-akan Umma jelaskan…"

"Jadi benar, diperut Umma ada calon adik Joongie? Aigoo Ummaa." Soo Young terduduk lemas setelah mendapat jawaban berupa anggukan lemah dari Heechul.

Jaejoong, Yunho dan Sun Hee kompak menutup mulut mereka yang ternganga, sedangkan Siwon dan Heechul terlihat berpegangan tangan saling menguatkan, mereka tampaknya sudah siap akan reaksi yang bakal mereka terima dari anak-anak mereka yang seperti ini.

"Aigooo…kalau begini jadi kapan Joongie bisa menikah? Umma pasti sibuk mengurusi perut Umma saja beberapa bulan kedepan." Racau bibir cherry itu penuh frustasi, bayangan akan pernikahannya yang tertunda menghantui pikirannya.

"Joongie dan Yunho menikah sebaiknya setelah adik Joongie cukup besar saja, soalnya Umma pasti kerepotan jika Joongie juga melahirkan anak yang umurnya tidak berjauhan dengan samchonnya, hehehe." Ucap Heechul santai, dilupakannya kalimat yang diucapkannya barusan untuk memberi kebebasan pada Jaejoong menentukan rencananya setelah sekolah. Sepertinya mood swing yang biasa melanda ibu hamil mulai menghampiri Heechul.

Aigoo, tampaknya ada yang sangat frustasi akan kalimat Heechul tersebut, lihatlah Ahjussi penculik yang mulai menghitung-hitung umurnya jika pernikahannya dengan sang Princess pujaan hati dimundurkan beberapa tahun lagi.

.

.

.

End!

Jutaan terimakasih kepada semua pemabaca yang masih setia mengikuti kisah aneh ff ini. semoga bisa memuaskan, meski saya sendiri sama sekali tidak puas akan endingnya. Sengaja dibuat begini biar pembaca bisa meneruskan sendiri endingnya sesuai dengan keinginan sendiri.

Bila ada yang kurang berkenan silahkan hubungi akun sosial pribadi saya.

Wassalam.

~MBJ~

Fb : Mano shinki

Twitter : peya_ok

Palembang, 1/5/2015