Hi balik lageeee.. hihihi XD

Gimana sama chapter satu? belum kerasa ya crime nya (?)

nunduuuk dalem-dalem -_-

Oke deh cekidoot :P

Naruto by Masashi Khisimoto

What should I do? by Hayari Uchiha


What should I do?

"Tidak Sasuke, ku mohon maafkan aku. Aku.. aku tidak bermaksud.."

"CUKUP! Kau pengkhianat!"

"Tidak Sasuke, kau tidak mengerti.. Aku.."

"Aku tidak akan memaafkanmu!"

".."

"Tidak akan pernah!"

"SASUKE!".

Suara alarm bagai penolong bagi Sakura, sebab karena alarmnya lah ia bisa terbebas dari mimpi yang selalu setia menemani tidurnya.

"Sudah pagi rupanya." Sakura menggeliat, selimut tebal yang membungkus tubuhnya dia singkirkan hingga sebatas paha, rambut pinknya lepek, kening dan wajahnya penuh dengan peluh. Sakura melirik jam yang bertengger di meja sebelah tempat tidurnya. Tanpa berlama-lama lagi dia bangun menuju kamar mandi.


"Kau serius Sasuke? Bagaimana dengan Nona Tsunade? Dia bisa marah." Ino nampak khawatir saat ini. Seharusnya dia dan Sasuke sudah berangkat untuk melanjutkan misi kemarin. Namun apa? Dia dibuat shock oleh ucapan Sasuke.

"Dia sudah tau, dan dia sudah setuju. Rock Lee yang akan menggantikan ku, semua data-data dan informasi mengenai gedung itu sudah aku berikan kepada Chouji. Kau hanya tinggal memindahkannya ke ponselmu." Saat ini Sasuke sedang bersiap, satu tas besar dan satu tas ransel tersampir di bahunya.

'Sakura, seperti yang kau perkirakan. Sasuke, rupanya dia masih belum mempercayaimu. Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya.' Ino menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh meninggalkan markas.

.

Sakura sudah siap sekarang. Setelah menyantap sarapan yang telah disiapkan Shikamaru, dia langsung bergegas ke kamarnya untuk menyiapkan senjata yang telah di pilihkan Tenten untuknya. Pistol Berreta 92 yang dulu menjadi favoritnya dia simpan baik-baik dibalik blazer yang dia kenakan.

Sakura bisa dibilang cukup manis dengan penampilannya sekarang. Rambut pink panjangnya dia ikat satu ke belakang, wajah ayunya dia bubuhi make-up tipis. Dengan celana jeans ketat dipadu blazer cream dan kaos ketat berwarna pink sangat pas dipakai Sakura. Dia tersenyum melihat bayangan dirinya di depan cermin besar di hadapannya, tak akan ada yang menyangka kalau perempuan ini adalah salah satu agen organisasi international. Setelah merasa semuanya siap dia keluar menemui kedua rekan kerjanya.

"Ah sial! Bagaimana mungkin." Neji nampak kesal, entah apa yang membuatnya kesal. Namun rupanya sesuatu di layar laptopnya itu yang membuatnya kesal. Kabar buruk eh?

"Ada apa?" Sakura nampak bingung, dia mendekati Neji yang rupanya belum menyadari keberadaan Sakura.

Merasa tidak dihiraukan, Sakura ikut melongok ke arah layar laptop Neji.

"Shikamaru harus tau."

Neji menoleh mendengar Sakura berbicara, dia mengangguk.

Shikamaru datang membawa secangkir kopi dan sebuah revolver ditangannya. "Wah akrab sekali, ada apa?"

"Ada yang mengetahui keberadaan kita, mereka mencoba memanfaatkan frekuensi kita."

"Heh, sudah ku duga. Tenang saja, aku sudah mempunya rencana baru." Shikamaru nampak santai saja, tak ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya.

'Cepat sekali.' Batin Sakura.


Kyoto International Airport

Kaca mata hitam yang membingkai matanya dia lepas, onyxnya melirik kesana kemari. Dia menyunggingkan senyum yang teramat tipis. "Rupanya sudah banyak berubah". Katanya entah pada siapa.


"Akh kau gila, aku sungguh tidak nyaman dengan pakaian seperti ini!." Sakura menarik-narik ujung rok mininya, mencoba menutupi daerah pribadinya. Sakura sudah sangat seksi sekarang. Dengan rok mini yang berjarak satu jengkal di atas paha dan kaos tanpa lengan yang dia kenakan membuat dia terlihat seperti 'wanita nakal'. Rambutnya dia gelung ke atas, menampakkan lehernya yang putih jenjang.

"Hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa masuk ke gedung itu tanpa kecurigaan. Dengan begitu kita tak perlu repot-repot meretas system keamanan di sana. Lagipula musuh sudah mengetahui keberadaan dan frekuensi kita, percuma jika kita tetap menjalankan rencana pertama. Bagaimana?"

Sakura diam mendengarkan penjelasan dari Shikamaru. Dia bingung, jujur saat ini dia tidak nyaman dengan apa yang dia kenakan. Tapi ini demi misinya, demi keprofesionalismeannya. 'Profesional lah Sakura' kata sisi lain Sakura.

"Baiklah. Tapi hanya merayu petugas di sana saja kan?"

"Yah hanya merayu petugas." Kata Shikamaru.

"Baiklah aku akan membawa senjata kecil saja, ya minimal pisau lipat."

"Kau jangan membawa senjata apapun."

"APA KAU BILANG?! Jangan bercanda Shika, oh Tuhan bagaimana mungkin aku masuk markas mafia tanpa senjata? Kau gila!" Sakura nampak tak mengerti bagaimana jalan pikiran rekan kerjanya ini.

"Kau tidak mempercayaiku? Kau kan pandai bela diri. Untuk apa kau berlatih judo selama bertahun-tahun?"

"Astaga Shika, ku pikir kau pintar. Apa yang kau harapkan dari seorang perempuan yang pandai bela diri yang harus menghadapi ratusan bahkan mungkin ribuan orang-orang bersenjata?"

"Aku mengharapkan perempuan itu menang." Shikamaru masih menanggapi dengan santai sanggahan dari Sakura.

"Cih di mimpimu saja!". Sakura semakin bingung sekarang. Jujur dia sangat tahu kemampuan Shikamaru yang sangat hebat menurutnya. Tapi keadaan sekarang sangat rumit. Bagaimana kalau dia tertangkap? Bagaimana kalau dia menggagalkan misi untuk yang kesekian kalinya? Bahkan Neji tidak membantunya sama sekali.

"Bagaimana?" Suara Shikamaru membuyarkan lamunannya.

"Baiklah. Tapi saat aku terdesak kau harus cepat datang untuk menyelamatkanku!"

Shikamaru menyeringai "Pasti."

Neji ikut menyunggingkan senyumnya. Ah bahkan kau tadi tak berucap apapun Neji.

Sasuke sudah berada di depan sebuah apartement mewah saat ini. Tepat di depan sebuah pintu dengan nomor 72. Terdapat beberapa tombol di samping pintu berwarna silver itu. Sasuke menekan beberapa tombol, mungkin password?


"Selamat datang agen S25." Sasuke menyeringai mendengar suara itu.

Dia memasuki apartement itu, senyum tipis lagi-lagi dia sunggingkan. "Agak berdebu."

Apartement ini adalah semacam rumah dinasnya yang diberikan oleh dewan untuknya sekitar beberapa tahun yang lalu, saat dia masih bekerja di IIFA cabang Jepang. Apartement ini sudah lama dia tinggalkan, pantas jika sudah berdebu atau mungkin sudah menjadi sarang hewan-hewan kecil?

Baru saja dia hendak sedikit bersih-bersih ada panggilan yang masuk pada ponsel canggihnya.

"Kau sudah sampai Jepang?" Tanya seorang perempuan di sebrang sana.

"Hn."

"Astaga kenapa kau tidak menelpon ku? Kau dimana? Aku kesana!"

"Apartement ku."

"Oke, tunggu sebentar."

Sasuke langsung menutup ponselnya, tak ada ekspresi disana.


"Sakura, apa kau siap?" Sakura mengangguk mendengar pertanyaan dari rekan kerjanya melalui headseat yang dia pasang.

"Hm." Sakura bergumam.

"Baiklah, tenangkan pikiran mu. Jangan terlihat gugup, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kau masuk melalui pintu 3, disana petugasnya jauh lebih sedikit." Kata Shikamaru yang saat ini sedang mengamati gerak-gerik Sakura dari kejauhan.

Sakura melangkah dengan agak sedikit gugup. Anak rambut yang membingkai wajahnya dia selipkan di belakang telinganya, tanda bahwa dia sedang gugup.

'Tanpa rompi anti peluru, tanpa senjata apapun. Oke, aku yakin bisa. Semangat Sakura!' Kata Sakura dalam hati.

"Hhhhhh…" Sakura menghela nafas panjang, kaki-kaki jenjangnya mulai menapak memasuki gedung tempat mafia yang menyekap Naruto.

Para penjaga disana menatap Sakura takjub, mereka menatap Sakura mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. 'GLEK' mereka menelan ludah melihat penampilan Sakura yang bisa dibilang cukup 'panas'.

Sakura nyengir melihat mereka, beruntung rasa gugup yang tadi mendera sekarang sedikit mulai bisa diatasi.

"Permisi." Kata Sakura sopan.

"E-eh iya? Ada apa Nona cantik?" kata salah satu penjaga berwajah sangar dengan tato menghiasi sebagian wajahnya.

"Um saya mau menemui teman saya di dalam. Boleh saya masuk?" Sakura mulai menggoda dengan suaranya.

"Boleh kami melihat identitas Nona?"

"Ah iya, dompet saya tertinggal di mobil. Bolehkan saya tetap masuk?" Sakura mencoba mendekati salah satu penjaga disana.

"Sayang sekali Nona, tapi tidak bisa."

Sakura cemberut. "Benarkah? Padahal jika diizinkan masuk, saya akan kembali lagi ke sini untuk menemani tuan-tuan." Sakura menarik salah satu dasi dari penjaga itu. "Ya sudah deh saya kembali besok saja." Sakura hendak berbalik dan meninggalkan gedung itu, namun…

"Ba-baiklah Nona, tapi tepati janji Nona ya untuk menemani kami. Bagaimana?"

"Pasti." Sakura tersenyum nakal, dia berjalan meninggalkan penjaga-penjaga itu.

"Jangan harap." Gumam Sakura.

"Kena kalian." Shikamaru tersenyum puas melihat hasil kerja Sakura.

To Be Continued :P


A/N : Makasih buat teman-teman yang udah bersedia ripiuuu.. hiks terharu :')

terutama makasih buat para senpai yang udah ngasih saran :D

Yamashita Emi : hihihi.., kan ceritanya Ino make high hils jadi suaranya tuk..tuk.. gitu XD *Ngeles aje :P makasih yoo ripiuu nya :P

Anisha Ryuzaki : Penasaran? pantengin terus yaa.. hihihi.. makasih lho ripiiunya

Err Reviewnya kurasa? :D