Wanita itu,...

Tersenyum padaku,...

Aku memejamkan kelopak mataku. Bisa kurasakan gesekan rerumputan di telapak kakiku yang tak beralas, Tidak salah lagi. Padang rumput ini lagi? Aku kembali menyadari dimana aku berada,..tempat yang sama,..Aroma yang sama,... kehangatan yang sama,...dan wanita yang sama,...

Aku pasti sedang bermimpi. Yah, mimpi yang sama selama beberapa hari terakhir.

Tapi kenapa aku seakan mengenal tempat ini? Kenapa aku selalu rindu pada wanita yang muncul dalam mimpiku ini,...?

Ingin sekali aku bertanya pada wanita berambut crimson itu. Namun hal yang sama selalu terjadi. Saat aku kembali berlari menghampirinya, tiba – tiba sekelilingku berubah menjadi buram, lalu menghilang dalam kegelapan seperti kali ini.


CHAPTER 1 : Jinchuuriki-sama

"Naruto,...! Naruto!" suara serak kembali mengisi gendang telingaku.

Saat aku kembali terjaga, kulihat pria bermasker itu sedang mengguncang pundakku dengan tatapan khawatir. Aku menggeliat dan menatap sekelilingku.

Ah, rupanya Aku sudah kembali ke dunia nyata.

Memalukan sekali, bisa- bisanya aku tertidur di waktu kerja part time-ku.

"Bikin kaget saja" gerutu pria itu sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik dari meja-nya. "Nak, kau tak perlu memaksakan diri, biarkan aku yang menyelesaikan script ini, kau pulanglah" perintahnya sambil menepuk pelan Naskah Name yang belum selesai aku kerjakan.

"Ta, tapi, Kakashi sensei! Deadline sudah makin dekat! Kau juga sudah tidak tidur lebih dari dua hari, dan,.." Ucapanku terhenti saat Mangaka berambut perak menentang gravitasi itu menatapku tajam.

"Pulanglah, hari ini pekerjaanmu sebagai asistenku sudah cukup,..." ucapnya. "Atau kau ingin aku memecatmu dan menggantikanmu dengan asisten yang lain? Aku ini tipe orang yang tidak suka punya anak buah yang tidak bisa diatur" sambungnya dengan nada santai yang jelas membuatku melotot.

"Huh! Iya deh, aku pulang" dengus kesal sambil mulai membereskan peralatanku.

Aku memang tidak bisa melihat ekspresi sang mangaka karena maskernya, tapi aku merasa dia sedang menyeringai padaku. Dan itu semakin membuatku bergidik.

"Hati – hati! Jangan sampai kau tertidur di jalan" Ucapnya saat aku membuka pintu apartment-nya.

"Iya! Aku akan istirahat, cepat sembuh, dan kembali kesini, sensei!" sahutu sambil menjulurkan lidah. Dan bergegas meninggalkan Apartment. Baru beberapa langkah meninggalkan gedung apartmentnya, samar – samar kudengar suara kakashi sensei.

"Oy, Naruto,.. satu hal lagi,..."

TEETTT !

Suara klakson bus di jalan membuatku tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Kakashi sensei.

Ah, sudahlah, pasti itu hal yang tidak terlalu penting,...

.

.


Perfektur Shinagawa, 22.00

Aku berjalan pelan, kurasakan tubuhku masih menggigil oleh angin malam. Meski aku sendiri sudah memakai Jaket kesayanganku. aku hanya bisa memasukkan telapak tanganku ke dalam saku baju,dan merasakan sensasi hangat akibat helaan nafasku sendiri.

Ah, Apartmentku masih tiga blok dari sini. Sial,.. Aku kembali merasakan kantuk yang tak tertahan,...seperti yang kurasakan di kediaman Kakashi sensei.

Drap,...Drap,...Drap,..

Suara langkah kaki itu tiba – tiba terdengar di gendang telingaku, semakin dekat , dan semakin dekat. Kembali menyadarkan ku yang hampir saja terlena oleh rasa kantuk yang menyerangku.

Samar – samar ku lihat sekelebat bayangan seseorang sedang berlari di kejauhan,dia berlari ke arahku, dan semakin dekat. Aku berjengit kaget,..

"Hey, Berhenti! Kau bisa,..." ucapku panik,.

BRUAAGHH,...

Menabrakku,...

Siapapun itu, dia telah berhasil membuatku jatuh tersungkur di pinggir jalan. Kurasakan perih di kedua tanganku, aku meringis. Rupanya akibat benturan dengan aspal tadi tanganku jadi tergores.

"Go, Gomen – nee,.." Suara yang terdengar terbata – bata itu menyadarkanku, rupanya orang yang menabrakku masih ada di sini. Mata Amethyst-nya menatapku dengan khawatir.

Dia,...Seorang cewek,...?

Aku hanya bisa melotot menatap Gadis bersurai Indigo itu setengah tak percaya. Gadis itu masih memakai seragam SMA-nya, lengkap dengan tas selempangnya, dan ,..

Tubuhnya penuh luka.

Apa yang sebenarnya terjadi disini? Aku sama sekali tidak paham.

"Kau tak apa? Bisa berdiri?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku. Gadis itu menerima uluran tanganku dan ikut berdiri. Kurasakan suhu panas dari tangan gadis yang terlihat lemas itu. "Kau demam?" tanyaku.

Gadis itu hanya mengangguk pelan. "A, ano, lebih baik kita pergi sebelum orang – orang yang mengejarku menemukan kita,..Umm,.." gadis itu berkata lirih. Kurasa ia sedang bingung harus memanggilku dengan apa.

"Namaku Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto. Jadi berapa orang yang mengejarmu dan kenapa mereka mengejarmu?" tanyaku singkat. Entah kenapa aku merasa penasaran,..

Dan ini terasa menyenangkan. Rasanya seperti terlibat dalam sebuah film Action. Dimana si tokoh utama harus menyelamatkan gadis yang sedang dikejar para penjahat,..

"Nn, Naruto-san,...A, awas" Gadis itu mendorong tiba – tiba. Untuk kedua kali-nya membuatku terjungkal ke aspal. Kurasakan sesuatu melesat dari belakangku.

Aku hanya bisa terperangah saat kulihat sebuah panah menancap di aspal.

Hampir saja kepalaku tertembus panah itu jika gadis ini tak mendorongku...

Dari sisi Lain jalan, kulihat tiga orang berdiri disana dengan pakaian hitam – hitam. Layaknya Ninja di komik Kakashi-sensei. Aku tidak pernah tahu kalo para penjahat juga suka ber-Cosplay. Lalu kenapa mereka malah memakai panah, bukan pistol?

"Kau takkan bisa lari lagi, Hyuuga Hinata-san Sang Tangan Hampa. Bergabunglah dengan AKATSUKI, kami memerlukan ahli petarung seperti Anda." Tutur salah satu dari mereka. "Dan lagi perintah yang kami terima adalah untuk membawa anda Hidup – hidup, baik secara baik – baik, atau dengan cara kasar"

"Sudah kubilang Aku menolak untuk bergabung dengan Akatsuki" desis Gadis di sisi-ku ini, tatapannya menajam. Sedangkan mereka yang di seberang jalan hanya terkekeh.

Aku semakin terperangah. Maksudku, ini benar – benar terlihat seperti sebuah film. Mata Shappire-ku hanya menatap si Gadis Indigo. Menunggu penjelasan dari-nya.

"Naruto-san, Maaf. Bisakah kau sembunyi di gedung itu?" Gadis ini berkata dengan nada perintah. Yah, aku memang tidak tahu apa yang terjadi, jadi lebih baik kuturuti Perkataan gadis ini,...

"Aku akan menghadapi mereka bertiga, kalau ada kesempatan, Naruto-san harus melarikan diri, sejauh yang kau bisa" Sambungan kata- kata-nya tiba –tiba membuatku emosi. Aku berbalik dan tak jadi menuruti kata – katanya.

"Tadi kau menyuruhku sembunyi, lalu kau menyuruhku kabur seperti pengecut, membiarkanmu yang demam di serang tiga orang aneh ber-Cosplay di tengah malam, Memangnya aku ini Cowok apaan?"

Sebuah panah melesat ke arahku, aku sempat tersentak, namun rupanya gadis itu telah berada di depanku dan menepisnya terlebih dahulu,..

Sejak kapan dia ada sedekat ini denganku, dan kuulangi lagi, dia menepis panahnya dengan tangan kosong! Aku kembali terperangah.

"Kumohon kau mengerti, Naruto-san. Ini bukan dunia-mu"

.

.


FinMart, 22.15

"Tanda – tanda Segel yang melemah pada anak itu makin terlihat, lho. Kau juga sadar akan hal itu kan, Iruka?" tanya seseorang di sambungan telepon itu pada Iruka yang sedang berbelanja di Supermarket setelah workshop-nya di luar Kota.

"Tentu saja, aku kan ayah-nya. Semua hal tentang anakku jelas aku tahu" sahutnya sambil terkekeh geli. Sambil memilih minuman dingin dari kulkas supermarket.

"Koreksi-kau hanya Ayah Angkatnya, Iruka. Aku sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan salah satu Shinobi KONOHA untuk mendampingi-nya. Kau bisa bilang padanya kalau ini sebuah perjodohan"

"Oh, jadi siapa yang kau ajukan? Apakah dia cantik?"

"Yah, bisa di bilang kalau Dia sangat mengenal gadis ini, karena waktu SD dulu mereka sekelas. Kau masih ingat, kan Iruka? Dia juga mantan murid-mu, lho." Terdengar suara tawa pelan dari ujung telepon.

"Benarkah? Siapa Nama gadis ini? Jangan membuatku penasaran, dong"

"Hn. Namanya Haruno Sakura, Si Laba – laba Penjerat"

.

.


Perfektur Shinagawa, 22.17

Lelaki itu mencekik-ku dengan seringaian di wajahnya. Sedangkan pisau lipat di tangannya siap menghujam di tubuhku setiap saat yang dia suka

SIALAN! Kenapa di saat ini aku malah menyesali keputusanku yang memilih untuk tidak kabur. Memalukan! Harusnya di saat seperti ini aku bersikap gentle. Lagipula aku memang sudah terbiasa berkelahi sejak kecil,...

Tapi kali ini rasanya berbeda. Aku merasa yang kuhadapi sekarang ini bukan manusia biasa. Ukh, tidak, tidak. Apa yang kupikirkan.

"Kau tahu, sebagai warga normal yang bahkan bukan seorang SHINOBI, kau cukup menarik. Jujur saja, aku ingin menghadiahkanmu sebagai peliharaan adik kecilku"

Iris shappire-ku melotot saat mendengar ucapan pria di hadapanku bergidik.

"Tapi, sayang sekali, adikku sudah MATI. Jadi, aku lebih baik mengeluarkan isi perutmu saja, pasti sama menariknya." Sambungnya sambil mengarahkan pisaunya ke perutku.

Pria ini jelas psikopat. Aku sudah sering dengar tentang kelainan Jiwa. Tapi,...aku baru sadar kalau berhadapan dengan Psikopat SUNGGUHAN, itu lebih mengerikan daripada yang kulihat di Film. Aku Harus bisa Kabur! Pria ini terlalu berbahaya,...

Kurasakan perdebatan tengah terjadi di kepalaku. Dan dengan kasar pria itu menyobek baju di bagian perutku. Aku hanya bisa pasrah sekarang,...Ayah Ibu,...Maafkan aku,...

Namun aku tak merasakan apapun. Kurasakan cekikan di leher-ku melonggar.

"I-Ini,...Ti – Tidak Mungkin,..." Desisnya sambil menatap sebuah Tato di perutku. Aku juga mengerutkan keningku. Seingatku aku tak pernah punya tato di bagian itu. Namun aku segera terkesiap saat menyadari bahwa si Pria Psikopat telah lengah.

INI KESEMPATAN!

Segera saja kurebut senjata itu, dan balik menyerangnya yang langsung saja K.O karena tak siap dengan serangan balasan yang kulakukan, masih dengan berlumuran darah, akhirnya pria itu jatuh tersungkur di Aspal.

Kedua Pria yang tadinya mengepung si Gadis Indigo yang wajahnya semakin merah – Karena Demamnya kurasa – mengalihkan pandangannya padaku. Dan sekali lagi, mereka semua terperangah melihat tato di perutku. Begitu juga dengan si gadis yang matanya juga membulat saat menatap tato itu.

"Ba – Bagaimana seorang JINCHUURIKI bisa ada disini? Ja-jadi dari tadi dia hanya pura – pura lemah?! Gawat,..Kita harus pergi, Kita tak bisa menghadapi-nya sendirian." Kali ini Dua orang yang tersisa berniat kabur. Aku yang masih tak tahu apa yang terjadi langsung menyangga tubuh Gadis Indigo yang hampir ambruk itu.

"Ki – kita, tidak bisa membiarkan mereka kabur,...Naruto-san, bolehkah aku meminjam kekuatanmu sedikit?" kudengar desisan dari gadis di dekapanku itu, yang jelas makin membuatku makin bingung. Kekuatan apa?

CUP!

Kurasakan bibir ranum si Gadis Indigo telah menempel di bibir-ku. Bisa kurasakan setruman lembut di sana, yang langsung membuat wajahku memanas. Aku benar – benar tidak tahu apa yang dipikirkan gadis di dekapan-ku itu.

Dan dengan tiba – tiba gadis itu menghentikan ciumannya yang mendadak itu.

"Arigataou, Jinchuuriki-sama,...ah, maksudku, Naruto – sama." ucapnya yang kini menambahkan suffiks –sama, saat memanggilku. Tatapan matanya yang menatapku sayu beradu dengan iri shappire-ku, sebelum akhirnya Ia berlari mengejar kedua orang yang melarikan diri tadi, dan membiarkanku termangu di pinggir jalan.

.

.


Bandara Internasional, 05.30

"HALO JEPANG! Wah, aku kangen sekali!" teriak gadis berambut pink itu di bandara keras- keras, membuat orang –orang di sekelilingnya berjengit kaget.

Bagaimana tidak? Di pagi buta begini, sudah berteriak bagai orang gila? Membuat beberapa pengunjung mulai berkusak – kusuk. Namun tampaknya itu sama sekali tak berpengaruh pada gadis muda itu. Matanya berbinar – binar menatap para waiter dan waitress di bandara memakai yukata.

"Haloo, juga Sakura-chan. Rupanya kau sudah besar, ya,...Masih kenal aku?" seorang pria dengan gurat di wajahnya dan rambut hitamnya yang diikat berantakan itu, membuat sakura tersenyum.

"Tentu saja, Sensei! Hehehe, dulu kan sensei yang menenangkanku saat menangis di kelas!" sahutnya dengan ceria. "Lalu bagaimana kabarnya? Apa dia sudah lebih tinggi dariku? Apa dia masih bodoh seperti dulu?"

"Yah, tampaknya begitu. Meski tampangnya juga tak buruk juga" sahut pria itu sambil tertawa melihat polah mantan muridnya itu. "Kau mungkin menyesal karena dulu menolak cinta-nya, karena sekarang dia lumayan tampan, lho"

"Bagus, Karena aku suka pria tampan. Aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku" cengirnya. Yang hanya di sambut senyum simpul sang pria.

.

.


Naruto's Apartment, 7.00

"Kemari-lah, Kemari-lah" panggil wanita berambut Crimson itu. Aku terperangah. Kali ini aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Aku bisa merasakan tubuhku sendiri bergetar. Antara rasa senang, rindu, dan mungkin marah, karena baru kali ini, wanita itu bicara padaku.

Aku mendekati-nya, dan ajaibnya, tempat ini tidak menghilang dari kegelapan seperti biasanya. Mungkin ini akibat kejadian yang kualami sebelum tidur itu, ya, yang ku alami saat berjalan pulang ke apartment-ku.

Aneh sekali. Dalam mimpi pun aku tak bisa melupakan kejadian itu.

"Naruto,...Putra-ku tersayang..." Gumam wanita itu, menyadarkanku dari lamunanku, dan kembali membuatku terperangah. Aku,...Putra dari wanita ini?

"Kau pasti bercanda,..." akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku. Wanita paro baya itu menatapku sendu. Benar, sepengetahuanku, kedua orang tua-ku sudah meninggal akibat kecelakaan. Kalau begitu, wanita ini adalah,..

Mataku terbeliak saat menyadari pikiranku sendiri.

Jangan – Jangan Wanita ini Hantu Ibu Kandung-ku?

"Naruto, Akan ada Bencana besar yang akan menghampiri-mu. Ibu, tidak ingin Nasib-mu berakhir seperti Ibu." Ucapnya lirih, tetap masih dengan senyum tipis di wajahnya yang pucat, kedua tangannya itu kini menangkup pipiku. "Baik sebagai manusia biasa, atau sebagai Jinchuuriki, kau harus tetap bahagia, Naruto. Berjanjilah pada-ku. Aku,...bahkan tak bisa bersamamu,...dan melindungimu,...Maafkan, Aku,..."

Aku melihat setetes cairan bening mengalir dari kelopak matanya, yang semakin lama semakin kurasakan jemari hangat yang menangkup pipiku terasa menguap, bersamaan dengan mimpi itu yang kembali memudar,...dan Kegelapan yang kembali menelanku,...

Tidak, jangan tinggalkan aku,...

"IBU?!" aku tersentak dan langsung terduduk di ranjangku. Aku menjenggut kepalaku sendiri. Bisa –bisa-nya aku terbawa mimpi sampai menjerit sekeras itu.

Che, makin lama, mimpi-ku makin parah saja. Yang tadi bahkan terlalu, nyata. Ah, rasanya aku takkan bisa beristirahat dengan tenang. Kuambil telepon dari Jaketku yang kusandarkan di punggung ranjang.

Hari libur ini, harus kumanfaatkan sebaik – baiknya,...aku tidak boleh memikirkan hal yang rumit. Lebih baik aku berkunjung ke rumah-nya saja,..

"Halo, Ayah, apa ada waktu? Aku akan tiba disana Lima belas menit lagi"

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/n : Hai Minna! salam kenal. Bubu adalah Author baru yang kepeleset di dunia fanfic ini # Hiraukan. Yosh! dan ini adalah Fanfic pertama Bubu.

Bubu tidak menolak, dan sangat menghargai jika readers ingin memberi saran, kritik, flame, dan Koreksi terhadap Fanfic ini. Karena Bubu akui bahwa masih

banyak kekurangan, karena itu silahkan di tumpahkan segala pendapat anda di kotak review..kan sayang kalo kosong terus...#Bercanda. piss Mammen..

TeeHee-xD!