By : Bubu-lanlan
Rate : T
Disclaimer : Naruto belonged to Masashi Kishimoto - sensei. Kisah ini hanya mencantumkan nama – nama dan keterangan yang tidak berkaitan dengan cerita aslinya. XD, sisanya hasil ke-GJ-an Author!
Summary : Naruto tiba – tiba di serang saat ada di Dreamland! tiba – tiba mangaka 'De Busted' datang dan membawanya pergi,…Rahasia apakah yang di sembunyi-kan darinya? what will happen next?
Warning : Gaje, OOC, miss typo, abal, banyak kata kasar, dan alur kecepetan. Sumber inspirasi gaje milik Author yang bertebaran dimana - mana,...dan chappie yang ini rada emosional, sentimental, dan agak lebay…
Mind to read or Review?
.
.
Aku merasakan tubuhku bagai terserap, berdenyut, dan mencair, yang aku tahu hanyalah tangan Kakashi-sensei yang menggenggam pergelangan tanganku.
Sedangkan penglihatanku seakan memburam, dan semakin gelap. Dan bom asap yang menyelimuti kami makin membuat nafasku sesak.
"Sampai jumpa … Itachi-san."
Kudengar suara Kakashi-sensei tepat sebelum aku tak sadarkan diri.
.
.
CHAPTER 3 : Who Am I?
.
.
Mercury Hotel, room 245, 18.10
Gadis berambut merah jambu itu menghela nafas dalam–dalam, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Ia baru saja membalut luka–luka akibat bertarung dengan Uchiha bungsu. Meski lecet disana-sini, tapi bukan itu yang membuatnya gelisah.
Pikirannya kini benar–benar sedang kacau. Ini untuk kedua kalinya dirinya kalah dan menerima perlakuan yang tak bisa dipikir(4) dengan logika dari Uchiha bersaudara itu.
Sekali lagi, ia mendengus kesal saat memikirkan apa yang baru saja terjadi.
-FlashBack-
Dengan sharingannya, pria seumurannya itu berhasil menangkis kunai dan menghindari kertas peledak yang terlontar dari jebakan yang dipasangkan Sakura secara kilat.
DHUUAAR!
Ledakan terdengar susul-menyusul. Jari-jemarinya dengan gemulai memainkan benang besinya. Mempersempit ruang gerak Uchiha bungsu. Melihat Uchiha bungsu terdesak, gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan.
Diarahkannya kunai beracun itu ke tengkuk Sasuke ketika pria itu lengah akibat menghindari jebakannya, dia hanya perlu menghujamkan kunai itu tepat disana.
Namun tubuh gadis itu berkata lain.
Tubuhnya mati rasa.
Bersamaan dengan lingangan air mata yang mulai membasahi kelopak matanya.
Kenapa? Kenapa tubuhnya menolak untuk menikam pria di hadapannya itu?
"Kau masih tidak berubah, Sakura," Kini suara pria itu menghujam lamunan Sakura. Pria itu memang tak membalikkan badannya, namun Sakura bisa merasakan perih.
Perih yang hanya bisa dirasakannya ketika berada di sisi pria itu.
"Kau … naif," Pria itu tiba- tiba berbalik, merenggut kunai beracun sakura dan melemparkannya jauh–jauh. Ia membanting tubuh gadis itu ke lantai, yang membuat gadis itu mengerang kesakitan.
Sakura dapat merasakan tangan teman masa kecilnya itu dilehernya, mencekiknya hingga hampir kehabisan nafas. Sakura sendiri tak nampak melawan seakan pasrah dengan serangan pria di hadapannya.
Onyx pria itu menatap lekat–lekat emerald Sakura yang dipenuhi rasa bersalah.
"Sebenarnya di pihak mana kau berpihak, Ha-ru-no-san?" Terdengar nada benci saat pria itu menyebut nama marganya. Sakura hanya memejamkan matanya, tak sanggup balik menatap pada onyx Sasuke.
Benar, Ia tak bisa menyalahkan Sasuke yang kini begitu membenci-nya,…
Kemana perginya Uchiha bungsu yang iris onyxnya berbinar saat memakan bento extra tomat buatan Sakura? Kemana perginya sosok yang tersenyum menyeringai dan irit bicara itu?
Sosok yang akan menunjukkan senyum tipis di wajah tampannya hanya pada Sakura dan kakaknya sendiri. Satu-satunya anggota dari keluarganya yang tersisa. Pria yang sangat mempercayainya itu.
Hilang bersamaan saat Ia berbalik dan menutup mata akan keberadaan mereka.
Mengkhianati-nya.
"Jawab aku!" bentak cowok raven itu, tapi Sakura tetap bergeming.
Seorang pria beriris sama dengan Sasuke memasuki menara, tersenyum sinis pada adiknya yang sedang menginterogasi si Laba–laba Penjerat, Mantan-teman-mereka.
"Sasuke, sudah kubilang, kau tidak perlu mengasihaninya … lagi, Sasuke." Suara datarnya menghujam hati Sakura.
"Bagaimana dengan Jinchuuriki-nya?" Sasuke mengalihkan pembicaraan, kakaknya kini duduk di sisi adiknya.
"Si Hatake membawa kabur anak itu," desahnya kesal.
"Tch, jadi … misi kita gagal, Itachi-nii?" Tanya Sasuke pelan.
"Tidak juga," Raut kesal pria itu berubah jadi senyum lembut pada adiknya. "Ini memang skenario terburuk dari yang kubayangkan. Tapi, untuk menangkap Haruno si Laba–laba Penjerat juga di luar dugaanku, lho, Sasuke."
"Hn, tidak juga. Aku tidak menangkapnya, kok," Sasuke melepaskan Sakura yang masih menatapnya kebingungan. Sedangkan Itachi hanya terperangah.
"Tu-tunggu, Sasuke. Kau mau melepaskannya begitu saja?" Itachi masih tidak percaya dengan tingkah adik kesayangannya suke menatap tajam pada Aniki-nya.
"Hn" sahutnya. Kini mata pria itu beralih pada gadis yang tergeletak di lantai, sedang menatapnya dengan tatapan kosong.
"Kau … kali ini kau selamat. Tapi, lain kali kau menghalangi kami. Aku takkan segan–segan untuk membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri, HA-RU-NO-SAN, camkan itu!" ucap Sasuke dengan dingin.
Sakura hanya bisa terdiam mendengar perintah mantan teman masa kecilnya itu.
Setengah berlari kemudian meninggalkan menara dengan kedua orang bersaudara yang menatap kepergiannya.
FlashBack –end-
Drrt,…Drrrtt,…Drrtt,….
Sakura mengangkat telepon di hapenya dengan malas. Saat mendengar suara yang muncul di ujung telepon, raut wajah gadis itu berubah serius.
"Ya, ya, tentu saja aku paham. Kegagalan tak bisa di toleransi. Tapi mohon beri aku waktu beberapa saat lagi, aku akan membawa Uzumaki-san hidup–hidup tanpa kecurigaan dari Konoha. Aku … takkan gagal,"
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan kesal. Bayangan kakak kesayangannya kembali terlintas. Benar, sudah terlambat untuk menyesali keputusannya.
"Tentu saja, Kesetiaanku hanya untuk Anda, Tsunade-sama."
Benar, apa yang dilakukannya tidak salah, dia harus memikirkan keselamatan sasori-nii dulu, meskipun ia tahu sebagai gantinya, dirinyalah yang akan terluka.
.
.
Kakashi-sensei apartment. 18.30
Dan kali ini pun aku mengerjapkan mataku serta merenggangkan tubuhku.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, menyadari kalau aku telah berada di apartment tempatku bekerja sebagai asisten mangaka 'De Busted'.
Kurasakan sesuatu yang berat menindih bagian selimut di sisi ranjang. Aku mendapati sosok mungil itu disana. Aku kembali mengingat apa yan sebenarnya telah terjadi padaku.
Ah, benar juga. Tadi sore kami di serang di Dreamland … dan Kakashi-sensei.
Aku sedikit merasakan pening di kepala.
Gadis itu menggeliat dalam tidurnya, kelopak matanya mulai terbuka perlahan, menampakkan bola mata sewarna amethyst yang langsung terbelalak saat mendapatiku yang sudah terbangun.
"Gomen, ne, Naruto-sama! Maaf aku tertidur disini," ucapnya dengan panik sambil menutupi wajahnya yang terlihat jelas sedang tersipu.
"Ne, tidak apa–apa, Hinata-chan," jawabku sambil mengibas-ngibaskan tanganku, berusaha untuk meyakinkannya kalo aku sama sekali tak ada masalah. "Oh, iya, Kakashi-sen …"
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku…
Kruuyuukkk,…
Aku langsung menekuk wajahku di balik selimut.
Bisa–bisanya perutku berbunyi keroncongan seperti ini?!
Aku juga bisa mendengar suara tawa pelan dari gadis Hyuuga itu. Uurghh, semakin menambah parah keadaanku saja.
"A-ano, biar kusiapkan makan malam!" Gadis itu langsung bangkit, setengah berlari menuju dapur.
Setelah langkah kakinya sudah terdengar menjauh , kamar ini kembali sunyi.
Namun ada hal lain yang lebih membuatku kepalaku terasa berat.
Ya. Kata–kata pria asing itu. Masih terus berdengung di pikiranku. Entah kenapa, aku merasa apa yang dikatakannya adalah benar.
.
.
SRAKK
Tiba–tiba tirai jendela tersibak.
Menggugahku dari lamunan yang baru saja menghanyutkanku. Dan di kusen itu tampaklah sosok yang masuk ke kamar ini melalui jendela. Postur tubuhnya yang membelakangi sinar bulan membuatku harus menyipitkan mata untuk melihat sosok tersebut.
"Ara, maaf mengganggu istirahatmu, Naruto. Karena ada yang ingin kusampaikan," ucap pria yang sangat kukenal itu, meski aku sendiri juga merasakan perubahan nada dalam suaranya, nada serius yang belum pernah terdengar olehku.
Aku menggeleng lemah. "Tak apa. Aku juga banyak pertanyaan untukmu … Sensei."
Pria itu menatapku sejenak dengan tatapan yang tak yakin. Namun, tak lama kemudian ia mengeluarkan komik dari balik kantong bajunya. Komik ciptaannya.
"Hoo, ya sudah kalo begitu. Ini!" Tiba–tiba sang mangaka melempar komik itu tepat ke arahku, dengan gelagapan aku berusaha menangkap buku itu. "Bacalah!"
"EH?!" aku langsung menautkan kedua alisku.
"Jangan Protes! Baca saja." sahutnya dengan nada perintah. Dengan panik, aku mulai membaca satu per satu halaman Komik 'De Busted',…
.
.
"Lalu, hubungannya dengan komik ini apa?" Tanyaku setelah beberapa saat menuntaskan bacaan dari Kakashi-sensei, yang langsung disambut sensei dengan bergubrak ria.
"Naruto, setelah kau baca buku itu. Apa kau merasa pernah melihat, merasakan, atau mengalami hal seperti itu? Kejadian–kejadian seperti itu sudah ada penjelasannya dalam buku, kan?" Tanyanya. Berusaha menjelaskan padaku dengan bahasa yang –cukup sederhana, untuk kupahami. "Apakah ada sosok yang tidak asing bagimu?"
Aku kembali mengingat scene dan karakter yang muncul di komik itu.
Aku teringat adegan tentang Ya-san, bagaimana dirinya berusaha mati-matian demi melindungi dan menyelamatkan gadis pujaannya, Kushina.
Belum lagi adegan saat Kushina tahu bahwa Hicchi rela berkorban untuknya hingga akhir hayatnya.
Lalu si kecil jenius, Ita-kyun. Yang merelakan Kushina agar menikah dengan Mina-tan, meski masih sering mengancam, dan mengintimidasi orang yang lebih tua darinya itu –yang seharusnya di hormati olehnya.
Namun yang paling mengganggu pikiranku adalah tokoh utamanya itu sendiri. Gadis berambut panjang sewarna tomat itu.
Kushina.
Gadis itu.
Bukankah gadis yang ada dalam mimpiku?
Kali ini kusadari Kakashi sensei yang mulai menatapku khawatir. Mungkin pikiran skeptisku tampak jelas di wajahku saat ini.
"Komik itu kubuat bukan hasil karanganku sendiri, Naruto." Tiba–tiba suara Kakashi sensei memecahkan kesunyian di kamar ini, sedangkan aku sendiri berusaha memahami maksud ucapannya.
"NANI?! Ja-jadi … komik ini … PLAGIAT, dong?!"
BUAGGH!
"I-ITTAI!" erangku setengah menjerit.
Jitakan kembali bersarang di kepalaku.
Dalam batin, aku hanya bisa meringis. Rasanya aku memang perlu berhati–hati kalo sa bonyok kepalaku kalo diperlakukan begini terus.
"Aku membuat komik ini berdasarkan kisah nyata! Kisah yang sebenarnya!" gerutu sang mangaka, yang terlihat jelas tak terima kutuduh sebagai plagiator.
Tapi benar juga. Aku sendiri juga sih. Sebagai asistennya setahun terakhir, aku benar – benar tahu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk mencari inspirasi di onsen terdekat.
"Aku membuat komik ini berdasarkan kisah orang tuamu." sambungnya.
DEG!
Jantungku seakan berhenti berdetak. Kakashi sensei … kenal dengan orang tua kandungku? Jadi, dia memang sengaja tak memberitahuku? Aku menatap kakashi dengan tatapan sangsi.
"Sebenarnya, ayah kandungmu adalah guruku. Namanya Namikaze Minato. Tapi dalam komik, aku menamainya Mina-tan,"
DEG!
Nama itu, heroine di komik 'de busted'.
"Dan Ibumu adalah Jinchuuriki. Sama seperti dirimu. Namanya Uzumaki Kushina,"
BLAARR!
Hancur sudah khayalanku tentang kedua orang tua baik–baik. Yang kini muncul malah pikiran–pikiran kotor dan nista. Yang menghempas anganku tentang keluarga yang harmonis ke tanah dan bagai terinjak–injak ribuan kuda yang kebetulan lewat(?)
Maksudku, pikiran seperti itu wajar, kan?! Berhubung mereka berdua menjadi role model untuk komik mesum … ehem, maksudku komik dewasa ini?!
"Dalam komik, aku mengganti namanya jadi Guardian. Dan itu berlaku juga untukmu, Naruto," bisik sang mangaka pelan.
Jinchuuriki adalah nama lain Guardian? Benar juga, di dalam komik Kakashi sensei Guardian adalah orang – orang yang memiliki cakra tanpa batas. Namun, sebagai bayarannya, mereka akan sering hilang kendali.
Karena itu cakra mereka di segel dan juga membagi cakranya pada Shinobi yang lain.
Untuk menghindari pertikaian, tiap Guardian atau Jinchuuriki memiliki sosok yang disebut Knight, yang secara rutin mendapatkan transfusi cakra dari mereka, orang–orang yang bertarung demi sumber kekuatan mereka.
Lalu, Knight juga bukanlah sembarang Shinobi, ini berkaitan dengan metode transfusi cakra dari Jinchuuriki yang cakranya tersegel itu sendiri.
Ya, karena Transfusi cakra hanya bisa dilakukan Jinchuuriki melalui ciuman.
Dengan transfusi cakra, seorang Guardian atau Jinchuuriki dapat meningkatkan daya sembuh, sense, kecepatan, reflek, tenaga, dan juga dapat meningkatkan kemampuan bertarung seorang Knight.
Ingatanku melayang pada malam pertama kali aku bertemu Hinata.
Saat itu, aku yakin sekali kalo gadis itu demam, namun setelah menciumku, tiba-tiba tubuhnya jadi segar bugar.
Kejadian yang persis sama dengan yang di dalam komik.
Memang aneh, kejadiannya memang mirip, pikirku.
"Satu hal lagi yang ingin kusampaikan, Naruto." Kakashi sensei menghentikanku dari proses loading informasi di kepalaku yang mulai lemot. Aku kembali memusatkan perhatianku pada Mangaka bermasker itu.
"Ayah dan ibumu dibunuh … tepat saat hari kelahiranmu," bisiknya samar. Namun jelas aku dapat mendengarnya dengan telingaku yang sudah terlatih mendengar suara selirih apapun tiap ujian sekolah berlangsung.
Dan apa yang diucapkan Kakashi sensei setelahnya lebih membuatku tercengang.
"Ibumu, kehilangan kontrol atas cakra yang dimilikinya, sehingga kami terpaksa membunuhnya,"
.
.
Aku akan menjelaskan semuanya padamu, semua yang mereka sembunyikan darimu sejak belasan tahun yang lalu.
Mereka yang takkan pernah membiarkanmu melihat kebenaran, Naruto.
Aku tersenyum miris saat teringat kata–kata pria asing yang kutemui di Dreamland.
Jadi inilah kenyataan yang disembunyikan dariku.
Mulai dari Kakashi sensei, Sakura, Hinata, orang–orang yang mengejarku di Dreamland, bahkan orang tua angkatku sendiri!
Orang–orang ini, mereka yang membunuh orang tuaku, dan menipuku habis-habisan.
Kalau reka pasti mengincar cakraku juga.
Brengsek!
"Naruto," Kakashi sensei kembali memanggilku dengan nada ragu.
"AHAHAHA." Entah kenapa, bukan jeritan sedih yang keluar dari mulutku.
Justru kebalikannya, aku seakan tak bisa berhenti tertawa. Meski aku juga bisa merasakan cairan bening yang mulai mengalir dari kelopak mataku.
Aku … menangis?
Hahaha, Kusadari ini adalah yang pertama kalinya sejak aku pertama kali masuk panti asuhan.
Ternyata kenyataan ini … memang terasa menyakitkan.
Sakit ini … lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang pernah kurasakan.
Pria bermasker itu masih menatapku tak mengerti. "Naruto, Aku tahu perasaan…"
"KAU TIDAK TAHU!" Aku menyela ucapan Kakashi-sensei.
"Tunggu, Naruto!" Kakashi-sensei kembali berusaha menenangkanku, kedua tangannya menggenggam pundakku yang terasa gemetar.
Sok peduli seperti ini.
Tapi Semuanya palsu.
"Memangnya aku ini sejenis power bank, hah?!" Emosiku kembali memuncak. "Bagaimana bisa mereka memperlakukan Jinchuuriki seperti baterai isi ulang?!"
"Bukan begitu, Naruto! Kau sudah salah mengerti! Justru Jinchuuriki adalah Shinobi yang paling beruntung. Dengan kapasitas cakra yang tak terbatas, mereka bisa melindungi orang,"
"Dan membunuh mereka jika lepas kendali?! Jelaskan itu padaku, KAKASHI!" bisikku dengan nada sinis, kini tanpa menggunakan embel–embel sensei.
"Naruto!" Pria itu terpekik pelan dengan nada frustrasi.
"Ibuku juga begitu, kan," bentakku. "Kalian membunuhnya!" Aku balas menatap pada pria berambut metalik itu dengan tatapan sengit.
"Tidak! Ayah dan ibumu menyelamatkanmu, Naruto! Mereka bertaruh nyawa hanya untukmu, agar kau bisa bertahan hidup, meski ibumu lepas kendali."
"Dan membuatku percaya orang tuaku kecelakaan … dan membohongiku begini?! Hah?! SELAMAT, KALIAN BERHASIL MEMPECUNDANGIKU HABIS – HABISAN!"
.
.
Hening.
Kamar ini kembali menjadi sunyi. Aku sudah tak bisa memikirkan apa–apa lagi sekarang setelah aku baru saja memuntahkan kalimat berbisa.
Yang bahkan untuk orang selevel Hibiki-sensei, guru killer-ku di jaman SMA dulu yang kalau mendengarnya pasti akan langsung menghukumku jalan jongkok keliling sekolah puluhan kali.
Kakashi sendiri tampak shock.
Namun kudengar pintu kamar berderit pelan.
"Na-Naruto-Sama. Ma-mau makan malam? Se-semua-nya sudah siap." Gadis indigo itu berujar pelan, namun tampaknya ia juga segera menyadari situasi canggung di kamar ini.
Aku menatap gadis beriris amethyst itu yang menundukkan kepalanya semakin dalam, sedangkan pria bermasker yang baru saja berdebat denganku itu menghela nafasnya.
"Yah, lebih baik kita makan malam dulu. Setelah itu biar kita lanjutkan pembicaraan kita, Nak," Ucapnya sambil mengusap kepalaku singkat sebelum berlalu menuju ke ruang makan.
"Na-Naruto-Sama?" Hinata masih menungguku. Aku kembali menghela nafas.
.
.
Author POV
triing.
Suara denting sendok yang sesekali beradu dengan piring terdengar sebagai satu–satunya sumber suara di ruang makan. Seorang gadis beriris amethyst dan seorang pria berambut perak jabrik sesekali melirik pada si Duren Galau di hadapan mereka.
Sedangkan pria berkumis kucing di hadapan mereka itu hanya terdiam.
Binar di iris safir yang biasanya menampakkan sinar hangat, kini terasa hampa. Kosong. Bahkan menguarkan hawa yang mengintimidasi dan penuh dengan aura gelap.
"Sebenarnya tiap Jinchuuriki bisa memiliki lebih dari satu orang Knight," Sang Mangaka akhirnya buka suara setelah terlepas sepenuhnya dari rasa shock akibat ucapan pria berambut kuning jabrik di hadapannya tadi.
"Ibumu memiliki empat. Namun hanya satu yang berhasil 'jadi' dengannya. Dan dia adalah Namikaze Minato, ayahmu," sambungnya. "Semuanya sesuai dengan yang tertera di komik. Mina-tan atau ayahmu, Ita-kyun, Ya-san, dan Hi-cchi, mereka semua orang yang berkorban demi ibumu"
"Dengan transfusi cakra Kushina, keempat Knight-nya dapat meningkatkan daya tempurnya hampir seratus kali lipat," sambungnya sambil bersedekap.
"Dan di dunia ini, hanya ada sembilan orang Jinchuuriki. Tidak kurang … dan tidak lebih."
" Jika ada Jinchuuriki yang meninggal, maka di saat yang sama akan lahir bayi yang juga menjadi Jinchuuriki. Sehingga di tiap waktu, jumlah Jinchuuriki selalu sama."
"…."
"…."
Aarggh! Kakashi menggeleng pasrah sambil merenggut kepalanya sendiri.
Benar–benar tak ada reaksi dari putra Jinchuuriki sebelumnya itu. Dia benar–benar sudah dikacangin dengan sepenuh hati.
"A, ano, sebenarnya Hi-cchi … adalah nama panggilan untuk … a-ayahanda-ku, Naruto-Sama. Ja-jadi, sebelum ayahanda meninggal, beliau berpesan agar aku mengawasi Naruto-sama dan menjadi Knight untukmu," tiba–tiba Hinata berbisik pelan.
BRUSSH.
Naruto yang baru saja menenggak teh darjelingnya , langsung menyemburkan teh itu keluar.
Dan sial bagi Kakashi sensei yang duduk tepat berhadapan dengan si Kepala Duren, menjadi korban semburan teh yang membuat wajahnya yang tertutup masker itu basah kuyup.
"A-Apa?!" Akhirnya Naruto akhirnya menimpali penjelasan mereka yang panjang lebar. Lalu, "IBU-KU juga selingkuh dengan AYAH-MU!? Jangan–jangan Hinata-chan adalah saudara seibuku yang terpisah sejak lahir?!"
Gubraakk.
'Oh, Naruto. Seberapa jauh sinetron–sinetron di layar kaca sudah meracuni otakmu?' batin kedua Shinobi yang baru saja bergubrak ria.
.
.
-Yamanaka Spa and Salon, 21.00-
Ino baru saja akan menutup tokonya saat dua sosok pria membuka pintu tokonya.
Seorang pria berambut nanas dan seorang pria 'besar' yang masih asyik makan keripik kentang.
"Maaf, toko ini …" Nada suara Ino tercekat begitu menyadari kedua sosok pria itu.
"Hai, Ino. Lama tak ketemu kau makin kurus saja," Puji Shikamaru yang langsung berhadiah hairdryer yang mendarat di kepalanya dengan mulus.
Tatapan aquamarine balik menatap pada si pria 'besar' dengan tatapan sengit.
Pria 'besar' itu menghentikan kegiatan memamah biak sejenak, jelas bila sang gadis sudah memasang ekspresi begitu, sudah bukan pertanda baik lagi.
"Ah, iya, Ino … lihat!" Chouji, nama pria 'besar' itu menyodorkan secarik kertas yang sanggup mengalihkan perhatian Ino yang sedang kesal.
Kertas itu hanyalah secarik kertas putih polos.
Sepintas memang tak ada yang aneh dan berbeda antara kertas itu dengan kertas HVS lainnya. Namun, ketiga sosok yang ada di ruang itu, minus yang masih tak sadarkan diri, sudah tahu apa maksud dari kertas itu.
"Wah, sudah hampir dua bulan. Akhirnya ada misi lagi," gumam sang gadis lalu menyeringai. "Lumayan juga. Aku juga agak bosan terus–terusan di salon. Jadi, kayaknya ini misi yang penting, nih," sambungnya.
"Yah, ini adalah misi yang pengecualian," Sambung Chouji. "Misi ini bersamaan dengan rapat bulanan di HeadQuarter dan bersamaan dengan penculikan serta melemahnya segel para Jinchuuriki,"
Ino manggut–manggut.
"Urgh … Ittei," gerutu si rambut nanas yang baru saja sadar. "Tch, belum juga ngehadapin Akatsuki, aku udah babak belur begini? Gimana nanti? Mendokusai."
"Akatsuki?" Ino menaikkan sebelah alisnya … lalu iris aquamarine-nya membulat. "Eeeh, jangan-jangan misi kita kali ini…"
"Menyusup ke Organisasi Shinobi terbesar setelah KONOHA!"
.
.
Bersambung.
.
.
A/N :
Fyuuh, akhirnya bubu juga lulus ujian Karya tulis dengan selamat,.. Makasih buat anggota laskar Ngerpek, No! Nyontek, Yes! yang udah nyontekin bubu,..*Plak (perbuatan Author jelas adalah tindakan nista! Peringatan! Jangan ikutan laskar ga jelas kaya' Author yang satu ini!)
Balik ke fanfic, Disini, sosokNaruto sudah di jelaskan secara cicilan, sisanya di chap depan,..and sorry kalo di ficini, rada emosional, Tapi Moga Chap ini masih bisa menghibur readers sekalian,…
Nah, waktunya ngebalez Review dari readers! Hohoho,..
, munawirucyiha , 2nd princhass, Naminamifrid : Makasih udah mau ngejelasin, sekarang bubu rada gak cengo + heho tiap waktu ngebaca kalimat yang slalu ada di atas fic itu lagi. Sankyuu, senpai!
AdityaUryuuNamikaze : CANON? Hyaa,..muncul lagi istilah yang bubu ga tau,..?! #$$% ! **^$ *tepuk jidat
: Iya,..Naruto di fic ini emang jadi rebutan :p
MikuAizawa : Yosh! Bubu akan tamatin KMP! Coz inific multichip pertama bubu,..so, mohon dukungannya, senpai! xD
Senjunarutosannin : SasuxKarin? Ide bagus,… *evil smirk
betmenpengangguran,, Soputan, SasuNaru? Mereka nanti jadi duo Dobe-Teme, koq,..*Upss, keceplosan,.. dan Psst,..Haremnya Naruto emang tiga orang cewek,…Sakura, Hinata, dan,…*jaga mulut biar ga keceplosan lagi,..
GazzelE VR : Benar, senpai,.. settingnya adalah jaman ninja modern, disini shinobi adalah hal yang harusnya 'tidak boleh nampak' di pandangan manusia biasa / yang bukan shinobi,..
NamikazeSholkhan, samsulae29, Akira No Sikhigawa, Neko Twins Kagamine, Vicestering, RyuKyosuke, Guest, .39566, Uzumaki Satoshi, and all of Silent Reader,..
Arigatousenpai! Ini udah updet! XD Jangan kapok datang ke fic ini, ya, senpai! And honourable thanks buat senpai – senpai yang udah ngefave, dan follow, fic abal milik bubu ini,..
Oh, iya,..terimakasih Nakkun dan mohon sabar dengan polah bubu, muahahaha!
Sekian dulu,.. and -review, review,review, pleasee! :3
Jaa-nee—
.
.
Bubu-Lanlan
.
.
