TRUST IN YOU
Yuki: "Hy, Minna!" *^-^* "Ketemu sama aku lagi, di chapter dua ini aku sangat ingin berterima kasih dengan para pembaca dan yang memberi Riview-nya".
Natsu: "Terima kasih pada Annataillie-san, Ren Hanami-san, fidyaiR-san, Hayati JeWon-san, dan K.C Dragfilia17-san yang sudah mau membaca Fict Trust In You ini, Author dan kami semua sangat berterima kasih sudah mau memberi Review untuk Fict ini".
Yuki: "Annataillie-san: Terima kasih untuk sarannya, aku akan mencoba untuk bisa memperbaiki Fict ini menjadi lebih Ok, lagi,, dan maaf aku belum mahir dalam membuat cerita, tapi Hountou ni Arigatou, Annataillie-san" *^-^*
Ren Hanami-san: Buat Hanami-san, terima kasih sudah membaca dan memberi Riview untuk Fict ini dan terima kasih atas sarannya, aku sangat senang mendapat Riview dari Hanami-san, dan aku akan mencoba untuk memperbaiki tata cara penulisanku, Arigatou Gozaimasu, Hanami-san. *^-^*
FidyaiR-san: Arigatou karena sudah membaca dan Me-Riview Fict ini, aku akan berusaha *^-^*
Hayati JeWon-san : Arigatou karena sudah menyempatkan membaca dan Me-Riview Fict ini, Houtou ni Arigatou *^-^*
K.C Dragfilia17-san: Arigatou sudah menyempatkan untuk membaca dan memberi Riview, dan terima kasih sudah memberi semangat untukku bisa membuat Fict ini berlanjut menjadi Chapter 2 *^-^*".
Happy: "Dan para pembaca yang membaca Fict ini pun kami sangat berterima kasih" *tersenyum*.
Natsu:"Oh, iya, Yuki-Chan, apa kali ini Happy akan muncul?".
Yuki:"Gimana, ya..?" *pose mikir-mikir*.
Happy: *Mata berkaca-kaca* "Kayaknya aku gak dapat peran lagi, deh…".
Natsu:*Menghibur Happy* "jangan sedih, Happy".
Yuki:*Tersenyum* "Tenang Happy, kali ini kau muncul, kok"
Happy:*Terkejut* "Benarkah?"
Yuki:"Yup"
Natsu:*Penasaran* "Happy akan seperti apa?"
Yuki:"kalau itu, sih, liat aja di Chapter 2 ini" *mengedipkan mata*
Fict ini punya Hiro Mashima, saya hanya meminjam Character-nya untuk membuat Fict ini
Enjoy~~~
Trust In You
Sebelumnya:
"kau sudah banyak berubah, ya. kau sudah menjadi kuat, tidak lemah seperti dulu"kata Zeref.
"hmmp! kau kira aku akan terus sepertiku yang dulu? kau salah besar!"ucap Natsu.
"tapi, apa kau bisa mengalahkanku..?"tantang Zeref dengan suara merendahkan.
Lalu Natsu pun segera bersiap-siap memukul Zeref.
"Natsu…!"
-Chapter 2-
"Natsu….!"
Natsu terus saja menyerang Zeref dan Zeref pun dengan mudah menghindar dari serangan Natsu.
Mereka terus menyerang satu sama lain, dan Natsu pun terkena pukulan Zeref di perut.
"Ukh…"Ringis Natsu.
"Natsu!" Kata Lucy yang khawatir dengan keadaan Natsu.
Bagaimana Lucy tidak khawatir, Natsu yang sekarang sudah sangat beda dengan Natsu yang tadi.
Bajunya banyak robekan dan kulitnya banyak tergores karena melawan Zeref, sedangkan Zeref sendiri.
Ia sama sekali tidak terluka bahkan di pakaiannya pun tidak ada robek satupun.
"Apa hanya itu kemampuan yang kau miliki, Natsu?" Tanya Zeref yang meremehkan.
"Hmmp, aku belum selesai, dasar Brengsek" Kata Natsu yang memulai menyerang Zeref lagi.
Lucy hanya diam dan tidak bisa apa-apa.
Ia khawatir dengan Wendy yang masih belum sadarkan diri juga.
Tapi ia tidak ingin melihat perkelahian ini lagi, ia harus menghentikannya.
BUAKKK
Suara pukulan keras yang mengenai Natsu sampai-sampai ia menghantam Rak Buku di perpustakaan.
"Natsu..!" Teriak Lucy.
Natsu hanya meringis kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Sial! Sial!" Kesalnnya.
Lucy lalu langsung menghapiri Natsu dengan Wendy digendongannya.
"Kau ternyata masih lemah, ya" Kata Zeref yang tersenyum sinis.
"Cth!" Decih Natsu.
Lalu Natsu mencoba bangkit berdiri dan menyerang Zeref lagi.
Tapi Lucy langsung menghentikannya.
"Sudah! Hentikan, Natsu!" Kata Lucy yang menghalangi Natsu dari belakang.
Natsu tetap bersikeras untuk menyerang Zeref, sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri akibat pukulan dari Zeref tadi yang sempat menghantamnya ke Rak Buku perpustakaan.
"Natsu…!"
"Anak itu keras kepala juga" Ucap Zeref kesal.
Lucy hanya kesal.
"Sebenarnya apa tujuanmu, Hah?!" Teriak Lucy yang sekarang sedang mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
Zeref hanya menyeringai lalu mendekat ke arah Lucy.
"Kau mau tau apa tujuanku?" Tanya Zeref yang sudah dekat dengan Lucy.
Sedangkan Lucy hanya diam sambil merapatkan Wendy kedirinya.
"Aku ingin membawamu pergi"kata Zeref.
"Kenapa?"Tanya Lucy heran.
"Karena orang yang sangat kusayangi menginginkanmu"kata Zeref tersenyum sinis.
"Orang yang kau sayangi…?"ucap Lucy kaget.
"Layla… Layla Heartfilia… tentu kau ingat nama itu, kan?"Kata Zeref.
"!"
"Kenapa kau…." Lucy hanya kaget dan tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Kau sepertinya tidak tau tentang tunanganku, ya?"kata Zeref.
"Tapi, Mama seharusnya sudah…"ucap Lucy yang masih shock.
"Mati? Karena ia meninggalkan ayahmu untuk kabur dan mati dalam kecelakaan?"kata Zeref.
"Kau sangat lugu, Lucy Heartfilia-san, kau bahkan tidak menyadari apa maksudku mendekatimu"ucap Zeref.
"Jadi, kau hanya berpura-pura baik denganku, huh..?"guman Lucy pelan.
Lalu Lucy meletakkan Wendy di sebelah Natsu yang masih belum sadarkan diri.
"Kau tau apa yang membuatku tidak mudah percaya pada orang lain…?"Tanya Lucy.
"Memangnya apa?"Tanya Zeref.
"Orang yang paling kubenci adalah orang yang pura-pura mendekatiku dengan baik hati"ucap Lucy.
Zeref hanya tertawa.
"Memangnya kau bisa apa?"ucap Zeref meremehkan.
"Mungkin aku tidak begitu bisa berkelahi, tapi.."
Lalu Lucy menendang Zeref dengan keras sampai membentur rak buku.
"Kalau soal pertahanan diri aku bisa"kata Lucy.
"Sepertinya kau harus pergi sekarang, Zeref… sebelum aku benar-benar menyakitimu"kata Lucy.
Zeref lalu bangun dan tersenyum.
"Hahaha… kau sama dengan ibumu, selalu menganggumkan"ucap Zeref.
Lucy hanya diam.
"Tapi, sepertinya aku harus pergi, kalau aku berbuat lebih dari ini, kau bisa-bisa membuatku tidak bisa bergerak lagi"kata Zeref lalu pergi.
Lucy masih tetap berdiam diri.
"Kenapa ini semua bisa terjadi…"guman Lucy.
Tidak lama kemudian Natsu tersadar dan mendapati Wendy yang masih tidak sadarkan diri dan Lucy yang duduk di tengah-tengah.
"Lucy…"
"Maaf, Natsu, aku jadi melibatkanmu"ucap Lucy yang menundukkan kepalanya.
"Seharusnya aku juga sadar apa maksud Zeref mendekatiku… Maaf, ya, Natsu"ucap Lucy yang masih menundukkan kepalanya.
Natsu hanya diam.
Ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada Lucy saat ini, dan Wendy yang masih belum sadarkan diri.
-Natsu P.O.V-
Apa yang harus kukatakan pada Lucy saat ini..?.
Ditambah aku tidak bisa mengalahkan Zeref..!.
Sial!
-Lucy P.O.V-
Aku hanya diam.
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Mama ternyata masih hidup, tapi kalaupun dia hidup kenapa sekarang ia ingin membawaku?.
Disaat aku sudah akan menjalani kehidupan yang aku inginkan..?
Kenapa..?
-Normal P.O.V-
Lucy dan Natsu hanya diam.
Tidak ada yang membuka percakapan.
Hening menyelimuti mereka.
"Ughh…"
"Wendy…!"ucap Natsu yang menggendong Wendy.
"Natsu-Oniichan…"ucap Wendy yang masih lemah.
"Kau jangan banyak berbicara dulu, kau harus istirahat"ucap Natsu.
Wendy lalu melihat Lucy yang tengah diam.
"Lucy-san… kenapa..?"Tanya Wendy yang sedang melihat Lucy yang diam.
Lucy yang merasa dikhawatirkan hanya tersenyum kearah Wendy.
"Tidak apa-apa, kok"ucap Lucy yang tersenyum.
Tapi Wendy bisa melihat senyuman Lucy tidak seperti biasanya, senyuman Lucy saat ini adalah senyuman yang dipaksakan agar tidak mengkhawatirkan orang.
"Lucy-san… "
-Keesokannya-
-Natsu P.O.V-
Aku berjalan ke ruang Geng.
Terdengar suara banyak orang yang berkelahi.
Well, that rutinitas di Geng.
Brak
Aku membuka pintu dengan sedikit keras dan mereka yang berkelahi akhirnya menghentikan kegiatan mereka sebentar sebelum melanjutkan perkelahian mereka.
"Natsu, kudengar kau berkelahi dengan Zeref kemarin, apa benar?!"ucap Gray yang langsung menghampiriku.
Aku hanya mengangguk.
"Kenapa kau tidak menghubungi kami?"ucap Sting kesal.
"Maaf, aku lupa menghubungi kalian, lagipula yang diinginkan Zeref saat ini bukan Wendy melainkan Lucy"ucapku.
Kulihat mereka kaget dengan perkataanku.
"Tu-tunggu dulu! Zeref adalah masalah kita dan apa hubungannya dengan Lucy?"Tanya Sting yang heran.
"Entahlah, aku kehilangan kesadaran karena Zeref memukul sampai aku menghantam Rak Buku di perpustakaan"ucapku.
"Lalu bagaimana dengan Wendy? Apa dia baik-baik saja?"Tanya Rogue.
"dia masih lemah, sekarang ia sedang dirawat oleh Porlyusica-san"ucapku.
-Lucy P.O.V-
"Jadi, Zeref adalah tunangan Ibumu?"kata Juvia yang sedang duduk disampingku.
Aku hanya mengangguk.
Juvia terlihat sedikit kaget dan shock.
"Jadi, Zeref orang yang kejam, ya…"ucap Juvia.
"Aku tidak tau, tapi ia ingin membawaku pada ibuku"kataku.
"Apa ayahmu tau?"Tanya Juvia.
"Entahlah… sejak 'kematian' ibuku, ayahku tidak pernah membicarakannya, bahkan mengingatnya"kataku.
-Normal P.O.V-
Juvia dan Lucy terus membicarakan apa yang terjadi kemarin.
"Tapi, aku bingung"kata Juvia.
"Bingung karena apa?"Tanya Lucy heran.
"Kalau tidak salah, ibumu pergi sejak kau kelas 6 SD ya, kan, kurang lebih kau mau masuk SMP"ucap Juvia.
Lucy mengangguk.
"Dan yang kudengar, Zeref itu bertunangan sudah lebih dari 2 tahun, apa itu tidak aneh?"Tanya Juvia heran.
"Aneh dari mana? Mungkin saja Ibuku tidak ingat dan sekarang baru ingat"ucapku.
"Kalau kudengar 2 tahun yang lalu Zeref pergi dari kota ini, dan itu saat Wendy masuk rumah sakit karena penyakit"kata Juvia.
"Tunggu, kau tau dari mana tentang Wendy?"ucap Lucy heran.
"Gray-sama yang menceritakannya padaku, karena akhir-akhir ini kau terlihat punya masalah"ucap Juvia.
"Jangan katakan kalau kau memaksa Gray menceritakannya padamu"ucap Lucy yang dengan nada curiga.
Juvia hanya memandang kearah lain.
'Ternyata benar, ya'pikir Lucy.
Srak Srak Srak
"Suara apa itu?"kata Juvia heran.
Lalu tiba-tiba ada seekor kucing berwarna biru.
"Kucing?"ucap Lucy.
"Dia terluka"ucap Juvia.
Lalu Lucy membawa Kucing itu keruangan UKS.
"Permisi"ucap Lucy.
"Ada apa?"Tanya wanita yang berambut pirang panjang yang bergelombang.
"Mavis-Sensei, Kucing ini terluka"ucap Lucy yang menunjukkan Kucing itu terluka.
"Kok bisa terluka seperti ini?"Tanya Mavis heran.
"Entahlah, aku dan Juvia menemukannya di halaman belakang sekolah"ucap Lucy.
"Baiklah…"ucap Mavis yang memeriksa kucing itu.
"Kucing ini tidak apa-apa, hanya saja, ia mungkin tersesat dari keluarganya, dan ia sudah 3 hari tidak makan dan dijahili anak-anak"ucap Mavis.
"Kasian sekali"ucap Juvia.
"Kalau kau mau merawatnya aku akan memberikan pil khusus untuk Kucing ini agar dia lebih baik"ucap Mavis.
Lucy pun menangguk.
TENG TENG TENG
"Bel sudah berbunyi, kembalilah kekelas kalian, untuk sementara biar aku yang menjaga kucing ini"ucap Mavis.
Lalu Juvia dan Lucy pun memberi Kucing itu ke Mavis dan langsung pergi kekelas.
Setelah pulang sekolah Lucy dan Juvia langsung ke ruang UKS.
"Permisi, Mavis-Sensei"panggil Lucy.
"kalian sudah pulang? Ini Kucingnya, aku tadi baru memandikannya dan memberinya makan, jadi dia baru tertidur"ucap Mavis yang menunjukkan Kucing itu sedang tidur di dalam keranjang yang diberi alas bantal dan selimut.
"Terima kasih, Mavis-Sensei"ucap Lucy lalu membawa kucing itu.
"Kau mau memeliharanya?" Tanya Juvia.
Lucy menangguk.
"ya, aku kasian, padahal dia masih sekecil tapi sudah mengalami banyak hal yang sangat menyakitkan sampai-sampai mendapat luka"ucap Lucy.
Lalu Lucy dan Juvia kerumah Lucy.
-Di kamar Lucy-
"Lucy, kau mau memberi namanya siapa?"Tanya Juvia.
"Hmm… aku belum tau…"kata Lucy.
"Kalau Albert?"Tanya Juvia.
"Sepertinya tidak cocok"kata Lucy.
Lalu ia menaruh kucing itu diatas pangkuannya.
"Karena ia menghibur, kunamakan Happy"kata Lucy.
"Happy? Bagus juga"ucap Juvia.
Lalu Juvia dan Lucy berbincang-bincang dan akhirnya Juvia pulang.
-Lucy P.O.V-
"Meaw~~~"
"Ada apa, Happy?"kataku yang mendekati Happy.
"Meaw~~"
"Kau lapar?" Tanyaku.
"Meaw~~ Meaw~~~"
Aku pun langsung memberinya susu, dan makanan kucing yang sudah kubeli saat pulang tadi.
"Meaw~~~"
"Kau pasti menjalani hari yang berat, ya"kataku.
"Meaw~~~"
"Kau tau tidak, aku sekarang dalam masalah… orang yang kusayangi ternyata ingin aku kembali saat aku ingin menjalani kehidupan yang aku inginkan"ucapku.
"Meaw~~?"
"Kau aneh, ya"kataku yang mencubit pipi Happy.
-Normal P.O.V-
-Keesokannya-
"Waa… hebat sekali gadis itu…"
"Katanya dia itu mantang pacarnya Ketua Geng Xrash, lho"
"Masa, sih?"
Begitula percakapan yang sedang meriah di pagi hari.
Lucy lalu mendekat kearah ruangan Geng Xrash yang sedang dikerumuni banyak orang.
Ia juga melihat seorang gadis berambut silver yang sedang bersama mereka dan Natsu yang terlihat ceria.
DEG
-Lucy P.O.V-
DEG
Gadis itu dan Natsu…
Kenapa aku jadi merasa sakit begini?.
Aku hanya melihat mereka yang tertawa dan aku merasa aku tidak bisa kesana sekarang.
Aku pun langsung meninggalkan kerumunan itu dan berjalan ke arah kelas.
'Dadaku sakit…'
-Normal P.O.V-
-Natsu Site-
"sejak kapan kau kembali?"Tanya Natsu heran.
"hehehe… sebenarnya aku sudah kembali 1 minggu yang lalu, tapi, karena masih harus mengurus kepindahan aku jadi agak telat memberitau kalian kalau aku sudah pulang"ucap gadis berambut silver dan bermata blue saffir.
"oh, iya, kudengar, Natsu kau punya pacar?"kata gadis.
"belum, tapi orang yang kucintai ada"kata Natsu.
"siapa? Siapa?"Tanya gadis itu semangat.
"dia adalah Lucy Heartfilia"ucap Sting yang tiba-tiba muncul.
"Lucy Heartfilia?"kata gadis yang dipanggil Lisanna itu.
"Nanti juga kau juga akan mengenalnya"kata Sting.
-Lucy P.O.V-
Dadaku sakit
Apa yang terjadi padaku?
Aku terus melangkah dan pergi meninggalkan sekolah.
Aku duduk dibangku taman itu, sejak aku melihat gadis yang tersenyum dengan Natsu tadi, aku merasa kesal sekaligus sedih.
Sebenarnya ada apa denganku ini?
"Menyebalkan…"gumanku yang tertunduk.
Udara yang mulai menghangat pun kurasakan dan aku memangdang kearah langit.
"Huh…. Aku bolos lagi"kataku yang memandang arah langit.
"Lucy Heartfilia!"
Aku hanya kaget dan memandang kebelakang.
"!"
"akhirnya aku menemukanmu"
-Natsu P.O.V-
Aku berjalan kearah kelas.
Aku melihat sekelilingku.
"Mana Lucy..?"gumanku heran.
Aku pun berjalan kearah seorang cewek yang sedang bercanda dengan temannya.
"Hy, kau liat Lucy?"tanyaku padanya.
Gadis itu hanya menggeleng.
"Seingatku tadi, sebelum masuk kekelas aku melihatnya pergi ke arah taman, oh, iya, sebelum itu juga aku melihat seorang pemuda yang mengikutinya"ucap gadis itu.
"Pemuda? Siapa Pemuda itu?"kataku heran.
"Entahlah… aku tidak begitu ingat, oh, iya, kalau tidak salah pemuda itu Zeref-sensei"ucap gadis itu.
Setelah mendengar itu, aku langsung pergi meninggalkan kelas.
"Natsu…?"
-Normal P.O.V-
Lisanna dan Sting yang kebetulan lewat hanya kaget melihat Natsu yang pergi.
"Natsu…?"
"Kenapa dia tergesa-gesa, sekali?"kata Sting heran.
"Sebaiknya kita beritau ini kepada Rogue"ucap Sting yang mengirim E-mail ke Rogue.
-Rogue P.O.V-
DRTTT
"hy, Ponsel-mu berdering, tuh"ucap temanku.
Aku pun membuka ponselku.
Kulihat Sting mengirimku E-Mail.
From: Sting
To: Rogue
Subject: Important
Rogue, Tadi aku melihat Natsu yang sedang berlari tergesa-gesa.
Dan wajahnya juga seperti menunjukkan wajah khawatir seperti itu.
Pokoknya aku akan mengikuti Natsu, hubungi Gray, kita tidak usah memberitau anak-anak lain.
Setelah membaca E-mail dari Sting aku pun langsung menghubungi Gray.
-Gray P.O.V-
DRTTT
Aku merasa ponselku bordering.
'siapa sih? Padahal aku lagi sibuk ngerjain tugas' kataku dalam hati kesal.
"Halo?"ucapku yang mengangkat telepon dari Rogue.
"Gray, sekarang kita harus mengikuti Natsu, karena tadi Sting melihat Natsu yang berlari tergesa-gesa dan menunjukkan wajah khawatir, dan kupikir ini mungkin berkaitan dengan Lucy"kata Rogue dari seberang.
"Natsu berlari tergesa-gesa?"ucapku yang masih belum sepenuhnya mengerti.
"Ya, pokoknya kau harus cepat dan jangan hubungi anak-anak geng dulu"ucap Rogue yang lalu memutuskan sambungan telepon.
Aku pun langsung bangkit dari bangku.
"Gray-sama, kau mau kemana?"Tanya gadis yang berambut Biru bergelombang.
"Aku ada urusan sebentar"ucapku lalu pergi.
-Normal P.O.V-
Sting, Rogue, Gray dan Lisanna pun pergi kearah taman.
"Natsu!"panggil mereka.
Natsu pun berhenti sebentar.
"Kalian kenapa mengikuti?"kata Natsu.
"kau mau mencari Lucy, kan? Tadi kudengar Lucy pergi"kata Sting.
"lalu, kenapa kalian membawa Lisanna juga? Kan berbahaya"kata Natsu menunjuk Lisanna.
"habisnya, aku khawatir pada gadis yang bernama Lucy, dan juga aku sepertinya pernah bertemu anak itu"kata Lisanna.
Tanpa mereka sadari mereka sudah sampai.
Tapi mereka tidak melihat Lucy.
"Dimana Lucy..?"kata Natsu yang tidak melihat Lucy.
Natsu terus mencari tapi tidak ketemu.
"Lucy! Lucy…!"
Tapi mereka tetap tidak menemukan Lucy.
-Lucy P.O.V-
Aku mendengar suara Natsu yang sedang memanggilku.
"Natsu! Natsu!"
Aku terus berusaha berteriak, tapi karena aku diikat dan ditutup dengan sapu tangan aku tidak bisa.
"Lucy!" panggil mereka.
Mereka disini?.
Sting, Rogue, Gray, Natsu? Dan ada suara perempuan yang memanggilku tapi itu bukan suara Juvia.
Apa jangan-jangan itu suara perempuan yang tadi pagi bersama Natsu?.
DEG DEG
Dadaku sakit lagi.
Apa yang sedang terjadi padaku.
"Mereka memanggilmu, ya?"ucap seseorang dari belakangku dan kutahu orang itu yang telah mengikatku.
Ya, dia adalah Zeref Dragneel.
Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya?
Apa dia mau membawaku tempat ibuku?
"Jangan-jangan kau memang mempercayai kalau aku adalah tunangan Ibumu?"ucap Zeref
Apa maksud perkataannya?
Bukannya dia sendiri yang bilang kalau dia adalah tunangan ibuku?
"Wanita seperti dia, memang harusnya bersamaku, dan sekarang dia harusnya bahagia"ucap Zeref
Zeref hanya diam sesaat dan tertawa
"HAHAHAHA! HAHAHAHA!"
Aku hanya terkejut dengannya
Kenapa dia tertawa seperti itu?
"kau benar-benar polos, Lucy Heartfilia-san, kau benar-benar percaya kalau aku adalah tunangan ibumu, kan?"ucapnya sambil tertawa.
Aku mundur beberapa langkah.
Apa dia sudah gila?.
Lalu tiba-tiba Zeref berhenti tertawa lalu mendekat kearahku.
Aku harus segera pergi!
Tapi Zeref menahanku.
"kau pikir kau bisa pergi, huh? Dan asal kau tau kenapa ibumu sebenarnya mati? Aku yang membuatnya kecelakaan"ucap Zeref.
Aku tercegang dengan perkataan Zeref.
Jadi kecelakaan itu sebenarnya terjadi? Dan Mama memang meninggal dalam kecelakaan itu?.
"tapi, aku sudah berjanji padanya kalau aku akan memberikan apapun, jika dia menginginkanmu aku akan melakukannya"ucap Zeref yang menodongkan sebuah pisau yang sangat tajam.
Aku berusaha melepas tangannya, karena aku diikat aku tidak bisa melepas tangangannya.
Siapapun tolong aku!
-Normal P.O.V-
Lucy terus berusaha melepaskan cengkraman Zeref untuk kabur.
"kau hanya perlu diam saja, kalau kau tidak diam kau akan menyakiti dirimu sendiri"kata Zeref yang tersenyum licik.
"siapapun tolong aku!"pikir Lucy dalam hati.
"NATSU!"teriak Lucy yang berteriak keras.
-Natsu P.O.V-
Suara ini…
"Lucy!"kataku lalu berlari kearah belakang taman.
Disana kulihat ada sebuah gubuk yang cukup tua.
"gubuk itu, kan… tempat Wendy yang dulu hampir meninggal"gumanku pelan.
Sting dan yang lainnya mengikutiku.
"Natsu apa didalam ada orang?"Tanya Sting.
"Entahlah, tapi aku mendengar suara Lucy dari dalam"ucapku lalu mencoba mendobrak pintu itu.
-Normal P.O.V-
Setelah Natsu berhasil mendobrak pintu itu, ia langsung melihat Lucy yang sedang berusaha kabur dari cengkraman Zeref.
"Lucy!"
Lucy melihat kearah Natsu Dkk, dan melihat perempuan itu juga.
Entah kenapa Lucy merasakan sakit didadanya kembali.
"Lucy!"kata Natsu lalu menolong Lucy.
"jangan bergerak! Kalau kalian bergerak, aku akan memotong leher gadis ini"kata Zeref yang mencengkram Lucy dan menempatkan pisau itu dileher Lucy.
"Sial!"
"kalau Layla menginginkanmu, aku akan memberinya"ucap Zeref yang akan memotong leher Lucy.
"Hentikan Zeref!"ucap wanita berambut panjang bergelombang.
"Mavis-Sensei?"ucap mereka kaget.
"Mavis…"ucap Zeref tercegang.
"hentikan semuanya, Zeref! Lepaskan gadis itu!"kata Mavis yang melangkah mendekat kearah Zeref.
"Jangan mendekat!"ucap Zeref yang mundur.
"Layla-san juga tidak akan senang jika kau melukai putrinya, dan walau dia tidak memilihmu, dia menyanyangimu!"ucap Mavis yang melangkah mendekat kearah Zeref.
"lalu kenapa?! Kenapa dia lebih memilih cowok yang selalu menyakiti dirinya?!"ucap Zeref.
Mavis hanya terdiam.
"kenapa? Kau tidak menjawab?"kata Zeref yang tersenyum sinis.
"Layla-san memilih Jude-san karena ia memang sangat mencintai Jude-san, walau Layla-san tau Jude-san akan menyakitinya, karena ia mencintai Jude-san dan Lucy, ia tetap berusaha!"kata Mavis.
"lalu kenapa waktu itu Layla pergi dari rumahnya?"Tanya Zeref.
"… waktu itu Layla-san hanya ingin pergi, tapi ia mengingat kalau Lucy itu masih kecil, jadi dia berniat kembali dan sayangnya sebelum itu ia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya"kata Mavis.
"tapi, kenapa…? Kenapa…? Kalau dia tidak memilih Jude, ia akan bahagia…!"ucap Zeref yang merenggangkan cengkraman.
Lalu Lucy yang melihat celah itupun langsung kabur.
"Cih!"decih Zeref.
Natsu pun langsung mendekati Lucy.
"Lucy, kau tidak apa-apa?"Tanya Natsu yang menghampiri Lucy.
Lucy hanya mengangguk.
"Zeref, semuanya sudah berakhir"kata Mavis.
Zeref hanya tertunduk.
"Semua yang kulakuan sia-sia, kalau memang begitu…"kata Zeref yang ingin menancapkan pisau kedirinya.
"Jangan, Zeref!"kata Mavis yang menghentikan Zeref sebelum ia menancapkan pisau itu kedirinya sendiri.
"MAVIS?! LEPAS! KALAU MEMANG SEMUA YANG KULAKUKAN SIA-SIA, LEBIH BAIK AKU MATI!"ucap Zeref dengan keras.
Tapi Mavis tetap tidak membiarkan Zeref bunuh diri.
"bukannya dulu banyak orang yang kau sayangi? Bukannya dulu banyak orang yang menyayangimu?!"ucap Mavis keras.
"kumohon… jangan bunuh diri..."ucap Mavis yang terisak.
Zeref lama kelamaan luluh hatinya.
"semua yang kupunya sudah tidak bisa kukembalikan lagi, Dosa perbuatanku tidak bisa diampuni lagi"ucap Zeref dengan pelan.
Mavis makin erat memeluk Zeref.
"Mungkin dosamu tidak bisa diampuni, tapi kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, walaupun nantinya tidak semua bisa kau perbaiki setidaknya kau bisa mencobanya"ucap Mavis.
"kenapa kau sangat peduli padaku? Kenapa?"Tanya Zeref dengan pelan.
"sejak awal aku tau kau orang yang sangat baik, Zeref. Untuk orang yang kau sayangi dan untuk orang yang cintai kau akan melakukan apapun, walau nantinya kau akan tersakiti, sejak dulu kau memang begitu, karena itu aku mencintaimu…"kata Mavis.
"kau menyukaiku…? Kenapa?"Tanya Zeref.
"kau sangat baik padaku, Zeref. Waktu aku tersesat waktu kecil kau yang menolongku"kata Mavis.
"…."
"seharusnya kau sadar, dong, dasar bodoh!"ucap Natsu keras dan kesal.
Mavis dan Zeref melihat Natsu.
"kau sangat membuat kami membencimu! Sangat membencimu! Dan sampai-sampai Wendy kehilangan ingatannya!"ucap Natsu kesal yang disetujui Anak-anak Geng.
"Natsu…"ucap Zeref yang merasa bersalah.
"sudahlah, Natsu, aku tidak apa-apa, lagipula ia sudah menyadari kesalahannya"kata Lucy yang menenangkan Natsu.
"Zeref hanya ingin orang yang disayanginya bahagia"ucap Lucy lagi.
"karena itu ia menelantarkan Wendy? Karena itu dia ingin membunuh kami?!"kata Natsu kesal.
"dan terlebih lagi, kami sudah tidak percaya pada Zeref lagi!"ucap Natsu.
"…"
Zeref hanya menunduk dan merenungkan semua perbuatannya.
Ia menyadari semua kesalahannya.
Dosa yang ia buat tidak bisa diampuni.
Dan dia sudah mengetahui akan itu.
"tapi, kalau Wendy sudah mengingat kembali ingatannya dan memaafkanmu, akan kupikirkan untuk memaafkanmu"ucap Natsu.
Zeref hanya kaget mendengar perkataan Natsu.
"Natsu…"
"jangan salah sangka, ya! Aku bilang 'tapi, kalau Wendy sudah mengingat kembali ingatannya dan memaafkanmu, akan kupikirkan untuk memaafkanmu' bukan berarti aku sudah memaafkanmu!"kata Natsu kesal.
"tidak jujur sekali kau, Natsu"komentar Rogue.
"sebenarnya dia sudah memaafkan Zeref"ucap Sting yang tersenyum.
"setidaknya perbaiki sikapmu yang Tsundere itu"kata Gray yang meledek Natsu.
"Berisik!"ucap Natsu kesal dan mukanya yang sudah memerah.
Zeref hanya melihat mereka dengan tatapan kaget.
Ia tidak menyangka kalau Natsu mau memaafkannya dengan apa yang sudah dia perbuat.
"walaupun mungkin tidak bisa memperbaiki semua tapi setidaknya bisa mencoba, huh?"guman Zeref.
"Mavis, terima kasih…"guman Zeref pelan.
Sedangkan Mavis tersenyum tipis mendengar perkataan Zeref.
-Lucy P.O.V-
Sudah 1 bulan sejak kejadian itu.
Ingatan dan kesehatan Wendy sudah sangat baik dan juga hubungan antara Zeref dan Natsu.
Walau terkadang mereka bertengkar, setidaknnya Zeref sudah berubah.
Mungkin yang Mavis-Sensei bilang waktu itu sangat membantu Zeref untuk memperbaiki semuanya.
Hy, Mama…
Apa Mama benar-benar memikirkanku sampai sejauh itu?
Walau Mama akan tersakiti oleh tingkah laki-laki itu?
Aku hanya diam termenung sambil menatap awan.
"hy, Lucy! Kau ngapain bengong seperti orang gila saja"ucap Natsu dari belakang.
"huh… datang deh, penghancur kedamaianku"ucapku meledek.
"enak saja, kau bilang aku penghancur kedamaianmu!"ucap Natsu tidak terima.
Sejak kejadian itu aku mulai menyadari sifat Natsu yang sesungguhnya.
Sifat Natsu yang sebenarnya adalah sangat mengkhawatirkan orang lain.
"dasar kalau terus melamun terus, kau bisa-bisa beneran jadi gila"ucap Natsu ketus.
Yah… walau sifatnya yang menyebalkan masih ada.
"Natsu!"panggil seseorang dari belakang.
"ada apa, Lisanna?"Tanya Natsu heran.
"hy, hy, Natsu! Besok temani aku, ya"kata Lisanna yang mendekat kearah Natsu.
Aku hanya melihat mereka dan bangkit berdiri.
"Lisanna, Natsu, aku duluan, ya"kataku yang melangkah pergi.
Sedangkan Natsu dan Lisanna masih mengobrol dan aku tidak ingin tau apa obrolan mereka.
DEG
Kenapa aku merasakan dadaku sakit lagi?
Aku kenapa…?
Aku terus melahkah dan berpapasan dengan Zeref dan Mavis-Sensei yang sedang melihat sesuatu.
"Zeref, Mavis-Sensei, kalian berdua sedang apa?"tanyaku yang melihat mereka.
"Lucy… kau datang diwaktu yang tepat!"Tanya Mavis yang menghampiriku.
"ada apa?"Tanyaku heran.
"sebenarnya kami menemukan kucing ini, sepertinya ia tersesat"kata Zeref yang mengambil kucing itu.
"Happy?"kataku kaget.
"ternyata dia kucingmu, ya. Soalnya dia terus-menerus berlari seakan mencari-carimu"kata Zeref.
Aku pun mengambil Happy dari Zeref.
"kenapa kau datang kesini?"tanyaku pada Happy.
"Meaw~~~"
"oh, iya, Lucy, minggu depan aku dan Zeref akan bertunangan, kau datang, ya"kata Mavis.
"t-tu-tunangan?!"kataku kaget dan shock.
"iya, aku akan bertunangan dengan Mavis, kau harus datang ya, aku dan Mavis akan menyiapkan semuanya untukmu"kata Zeref.
Lalu mereka berdua pun pergi.
Aku masih saja shock.
"Mavis-Sensei dan Zeref akan bertunangan, ya. Hufh…"kataku yang menghela nafas.
Entah kenapa aku mengingat kedekatan Natsu dengan Lisanna tadi.
DEG
Aku kenapa jadi seperti ini, sih…?
Dia kan bukan siapa-siapaku.
Kenapa aku jadi sedih melihat mereka berdua.
Tap Tap Tap
"Lucy! Ternyata kau disini!"kata seorang cewek dari belakang yang sudah sangat kukenal.
"Juvia!"kataku yang melihatnya.
"dasar! Lho, kenapa Happy ada disini?"Tanya Juvia yang melihat Happy.
"kurasa dia kabur dan mencariku"kataku.
"Meaw~~~"
Teng Teng Teng
"ah! Aku lupa sekarang pelajarannya Laxus-Sensei! Kalau aku tidak kembali kekelas, aku bisa dimarahin oleh Laxus-Sensei".
Setelah Juvia pergi aku pun kembali kekelasku dan tidak sengaja bertemu dengan Sting.
"kau sedang apa, Sting?"tanyaku yang melihat Sting.
Sting hanya diam dan menunjukan buku.
"buku? Kau belajar?"Tanyaku yang melihat buku pelajaran.
"ya, aku disuruh belajar"kata Sting.
"memangnya nilaimu buruk, ya?"tanyaku.
"tidak juga sih, hanya 1 nilaiku tidak bagus, aku dapat 65 di "kata Sting.
"bukannya kau pintar dalam bahasa inggris?"tanyaku lagi.
"nilaiku jelek bukan karena aku tidak bisa, waktu itu aku tidak punya banyak waktu untuk mengerjakannya, jadi kuisi dengan asal"kata Sting.
"kenapa kau bisa terburu-buru?"Tanyaku lagi.
"kau tau Yukino Agria?"Tanya Sting.
Aku mengangguk.
"dia disuruh membawa sebuah document dari kelasnya dan aku tidak tega melihatnya membawa barang yang sangat banyak dan berat, jadi aku menolongnya, tapi, karena itu aku telat masuk kelas dan saat itu sedang ulangan"kata Sting.
"heh… ternyata kau baik, ya"kataku yang sedikit memuji Sting.
Sting yang dipuji pun merasa bangga dan senang.
"tentu saja, aku kan tidak bisa melihat anak perempuan kesusahan"kata Sting bangga.
Aku hanya tersenyum saja.
"kau percaya diri sekali"kataku yang tertawa.
-Sting P.O.V-
"kau percaya diri sekali"kata Lucy yang tertawa.
Aku melihatnya tertawa.
'ternyata dia manis sekali!'batinku.
BLUSSHH
Kenapa mukaku jadi panas begini?
Aku menggeleng kepalaku.
"kau sendiri bukannya harus kekelas?"tanyaku yang masih mencoba menutup wajahku yang merah.
"oh, iya! Tapi… aku tidak bisa membawa Happy kekelas"kata Lucy yang menunjukkan kucing berwarna biru agak tua.
"kenapa kau tidak menitipkan saja pada Mavis-Sensei, dia pasti mau"kataku.
"Mavis-Sensei sepertinya sedang sibuk dengan Zeref, apa aku menitipkan pada Ultear-Sensei saja, ya? Dia juga kan pengurus ruang kesehatan"kata Lucy.
"ya, sudah, kau titipkan saja kucingmu itu pada Ultear-Sensei"kataku yang memberi usul.
"baiklah.. aku akan menitipkan Happy pada Ultear-Sensei dulu, Jaa Nee, Sting"katanya yang langsung pergi keruang kesehatan.
-Normal P.O.V-
Setelah percakapan sebentar dengan Sting, Lucy pun pergi keruang BK ruangan Ultear-Sensei yang berada disebelah ruang UKS.
"Konnichiwa, Sensei"kata Lucy yang memberi salam.
"Konnichiwa, Lucy, ada apa? Kau punya masalah?"Tanya Ultear yang tersenyum memandang Lucy.
Lucy hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah maju.
"anu… apa aku bisa menitipkan kucingku padamu?"Tanya Lucy yang mendekat kearah Ultear.
"kucing? Lho, kucing ini kan yang tadi… ini kucingmu?"Tanya Ultear yang memandang Lucy
Lucy hanya mengangguk.
"baiklah… oh, iya, kucingmu bisa kau taruh diatas tempat tidur disana"kata Ultear yang menunjuk kearah tempat kantung keranjang.
"ini…"kata Lucy yang agak heran.
"itu sengaja tadi ditaruh oleh Mavis"kata Ultear.
Lalu Lucy pun menaruh Happy kedalam kantong keranjang.
"baiklah, aku permisi dulu"kata Lucy lalu pergi.
-Di kelas-
Pelajaran sudah berlanjut dengan cukup lama, tapi Lucy belum kembali juga yang menyebabkan Natsu sedikit heran dan Lisanna yang memerhatikan gerak-gerik Natsu.
Lisanna sedikit merasa tidak nyaman karena Natsu seperti mencari-cari Lucy yang tidak kunjung datang.
-Lucy P.O.V-
Aku berjalan menuju kelasku tapi aku juga bingung, aku sudah cukup lama telat untuk masuk pelajaran.
"Lucy!"kata Laxus yang sedang memanggilku.
Aku pun langsung menoleh kebelakang.
"ada apa, Laxus-Sensei?"Tanyaku heran.
"aku minta tolong padamu untuk membantuku mengajari Sting"kata Laxus.
"tapi, aku…"kataku yang berusaha menolak.
"kalau tentang pelajaran itu aku yang urus, aku harus kembali mengajar kekelas lagi, jadi tolong, ya, Sting sedang ada diperpustakan"kata Laxus yang lalu meninggalkanku.
Aku pun menghela nafas lalu pergi keperpustakaan.
'dari pada nanti aku dimarahin oleh Sensei'batinku menimba-nimba.
Sekilas aku teringat dengan kedekatan Natsu dan Lisanna yang menurutku sangat dekat.
Brak
Aku membuka pintu perpustakaan dan kulihat Sting yang sedang belajar di meja perpustakaan.
Lalu dia menyadariku dan ia kelihatan heran dengan kedatanganku.
"Lucy, sedang apa kau disini? Bukannya kau seharusnya kembali kekelas?"Tanya Sting yang menatapku heran.
Aku mendekat kearahnya dan duduk didepan meja.
"aku disuruh oleh Laxus-Sensei untuk mengajarimu, kau dapat nilai jelek lagi?"Tanyaku yang heran.
"sebenarnya aku dapat nilai jelek karena aku lupa mengumpulkan tugas, dan Laxus-Sensei memberiku pelajaran yang belum dipelajari, dan here I am, belajar sendiri"kata Sting yang menjelaskan kepadaku.
"berarti, kau belum mengerjakannya?"Tanyaku.
"aku bukannya belum mengerjakannya! Tapi aku belum mengumpulkannya!"kata Sting membela diri.
"kalau begitu kau kumpulkan saja"kataku.
"aku sudah mengumpulkan, tapi kata Laxus-Sensei karena aku telat mengumpulkan aku harus menyelesaikan tugas ini!"kata Sting kesal.
"baiklah… karena aku disuruh oleh Laxus-Sensei untuk mengejarimu aku akan mengajarimu"kataku yang mengambil buku.
"ini bukannya pelajaran SMP, ya?"Tanyaku.
Kulihat Sting sedikit kaget.
"Masa, sih…?"tanyanya sedikit kaget.
"pelajaran ini pernah di SMP, tentang pelajaran Naritive Text"kataku.
"aku lemah sama baca cuku!"kata Sting yang menghela nafas.
"pokoknya kau harus bisa meneliti apa cerita yang diberikan, itu aja kuncinya, tapi bukannya kau pintar?"Tanyaku heran lagi.
"hanya narrative text yang kurang kukuasai"kata Sting.
-Normal P.O.V-
Sting dan Lucy kembali bercakap-cakap dan mengajari tentang tugas yang diberikan.
Tanpa terasa bel pelajaran sekolah sudah selesai.
"Sudah bel, ya?"kata Lucy yang menyadari bel bordering.
"ya, and thanks ya! Buat ngajarin aku"kata Sting.
Lucy hanya tersenyum kepada Sting yang membuat Sting jadi salah tingkah.
Muka Sting terasa panas.
"kenapa mukamu merah?"Tanya Lucy heran.
"g-gak, kok"kata Sting yang membuang muka.
Brak
Lalu tiba-tiba pintu dibuka oleh Natsu dan dibelakangnya ada Lisanna.
"Lucy! Kenapa kau disini?!"bentak Natsu kesal yang mendekat kearah Lucy dan Sting.
"aku disuruh mengejari Sting oleh Laxus-Sensei!"kata Lucy kesal.
"lagian, aku mau kemana juga bukan urusanmu!"kata Lucy kesal.
"apa maksudmu, hah…?!"kata Natsu kesal yang membentaknya.
"aku bilang, bukan urusanmu!"kata Lucy keras dan wajahnya terlihat marah.
Lisanna hanya sedikit merasa tidak enak dengan apa yang terjadi saat ini.
Natsu membentak Lucy dan Lucy juga membentak Natsu hanya karena masalah sepele.
'Mengajari pelajaran yang diminta oleh guru kan tidak masalah?.
Kenapa Natsu marah sampai membentak Lucy?' itulah yang dipikirkan oleh Lisanna saat ini.
"o-oi, kenapa kalian malah beratem gini? Natsu, Lucy hanya mengajariku pelajaran Karena Laxus-Sensei yang menyuruh"kata Sting yang mencoba melerai pertengkaran Natsu dan Lucy.
Natsu lalu diam dan Lucy pun terlihat kesal.
Lalu Lucy pun menghela nafas.
"Aku duluan, ya, Sting, Lisanna"kata Lucy lalu pergi tanpa pamit ke Natsu.
Setelah Lucy pergi, Sting dan Lisanna melihat kearah Natsu.
-Di ruang geng Xrash-
BRAKK
Natsu dengan kejam dan tanpa tega menginjak dan membanting meja dan kursi didalam ruangan itu.
Membuat anak-anak yang lain merasa heran karena Natsu tiba-tiba marah seperti itu.
"hy, ada apa ini?"Tanya Rogue dan Gray yang merasa kalau Natsu seperti kesal.
"sebenarnya…"kata Sting yang menjelaskan.
Lalu Gray dan Rogue pun menangguk-anggukan kepalanya tanda mereka mengerti tentang apa yang Sting jelaskan.
"jadi karena itu Natsu 'bad mood'?"Tanya Rogue.
"ya, begitulah…"kata Sting.
"mungkin dia cemburu"kata Gray.
"huh…? Cemburu?"kata Sting sedikit kaget.
"ya, cemburu, secara Natsu suka pada Lucy, dan Lucy tidak ikut pelajaran karena mengajari Sting, otomatis saat pelajaran si Natsu gelisah karena Lucy tidak kunjung datang dari awal masuk sampai pulang sekolah, kan? Dimana-mana orang yang suka pada seseorang dan seseorang itu dekat dengan orang lain pasti cemburu, kan?"jelas Gray.
"jadi Natsu cemburu padaku karena aku dekat dengan Lucy?"kata Sting.
Dan Gray hanya mengangguk.
"aku kan baru dekat dengan Lucy tadi"kata Sting sedikit mukanya memerah.
"kenapa mukamu merah, Sting?"Tanya Rogue yang menyadari wajah Sting memerah.
"gak kok! Kata siapa!"kata Sting yang mengelak.
'Kenapa kau jadi kesal padaku, sih, Lucy?!'pikir Natsu yang masih kesal dan bingung.
DRTTT
DRTTT
Natsu menyadari kalau ponselnya bordering dan Natsu melihat ada pesan dari Lisanna.
From: Lisanna
Subject: Rencana Besok
Natsu, tentang rencana besok, kita ketemu di taman jam 10 ya.
Ada yang ingin kukatakan, harus datang!
Natsu hanya membaca pesan itu lalu dengan cepat membalasnya
-Lucy P.O.V-
Aku melangkah kearah ruang gerbang dan Happy ditangannya.
Kenapa aku tadi membentak Natsu, ya?.
Padahal aku tidak sampai membentak juga tidak apa-apa.
Kenapa sejak tadi aku merasa aneh begini, sih…
"meaw~~"
Aku hanya melihat Happy yang menatapku dengan padangan matanya yang lucu itu.
TAP Tap Tap
"Lucy, tunggu!"kata seseorang dari belakang.
"Juvia…"kataku yang melihat Juvia.
"kau mau pulang sekarang?"Tanya Juvia padaku.
Aku hanya mengangguk.
"hmm… oh, iya, kau mau ke Café Latte, gak? Katanya disana menunya sangat enak"ajak Juvia.
"tapi aku sedang membawa Happy"kataku.
"tidak apa-apa, disana ada tempat penitipan hewan, kesana yuk!"ajak Juvia.
"ya, udah, kesana aja yuk"kataku yang menerima ajakan Juvia.
Lalu aku dan Juvia pun kearah Café Latte yang berada di tengah pusat kota.
Lalu aku pun menitipkan Happy ke penitipan hewan di Café Latte itu.
"kau kenapa sih? Perasaan dari tadi muram aja terus, lagi ada masalah?"Tanya Juvia yang melihatku.
Wajahnya terlihat kesal lantaran aku tidak menjawab pertanyaan.
"ihh….! Sebenarnya kau ini kenapa sih? Jawab kenapa, sih..?!"kata Juvia kesal.
"menurutmu, Lisanna suka pada Natsu?"Tanyaku dengan tiba-tiba.
Ekspresi wajah Juvia terlihat kaget sampai-sampai dia terdesak dengan makan dan minumannya sendiri.
"k-kau tadi bilang? Lisanna suka pada Natsu..?"Tanya Juvia kaget.
Aku hanya mengangguk.
"a-aku sih gak tau… tapi yang kudengar kalau mereka pernah pacaran sih…"kata Juvia.
DEG
Aku merasakan sakit didadaku.
Apa aku mulai suka pada Natsu?
Tapi, aku….
"Lucy…! Lucy…!"panggil Juvia kesal menyadarkanku.
"dasar! Begini nih… kalau udah melamun susah disadarin!"kata Juvia kesal.
Aku hanya menunduk.
"hy, kau ada masalah, ya? Kalau kau ada masalah kau kan bisa cerita padaku"kata Juvia yang mengkhawatirkanku.
Aku hanya tersenyum dan merasa aku diperhatikan.
"Arigatou, tapi, aku baik-baik aja, kok"kataku yang tersenyum berharap Juvia tidak merasa khawatir.
"ini dia yang aku tidak suka darimu! Kau tidak pernah cerita padaku, kita sahabatkan?!"Tanya Juvia kesal.
Aku hanya menunduk.
Tentu saja kau sahabatku, kalau bukan kenapa kita bisa akrab?!.
Tapi, saat ini aku tidak ingin menceritakan pada siapapun.
"jadi, kau tidak mau cerita?"Tanya Juvia.
Aku hanya menggeleng.
"untuk saat ini, aku tidak bisa menceritakannya"kataku pelan.
Juvia hanya menghela nafas.
"ya, sudah, aku juga tidak bisa memaksamu, tapi, sebaiknya kau tidak pendam sendiri, aku kan sahabatmu, kalau kau memendam sendiri untuk apa aku yang menjadi sahabatmu"kata Juvia.
Aku hanya tersenyum.
"Arigatou, Juvia".
-Keesokannya-
Aku berjalan kearah taman dan duduk dibangku taman itu, aku mengeluarkan gadjet-ku dan memainkan suatu permainan.
Tapi tidak lama kemudian aku bertemu dengan Juvia, dan dia pun menemaniku.
"Bosann~~~~"ucap Juvia dengan malas.
Aku terus bermain games di gadjet-ku.
"Lucy, kau sedang main apa?"Tanya Juvia yang memerhatikanku.
"aku sedang memainkan permainan Café Anime"kataku.
"dasar otaku" kata Juvia yang tersenyum lalu duduk disampingku.
Aku terus memainkan Café Anime tapi lama-kelamaan aku akhirnya merasa bosan dan mengeluarkan dari aplaksi game-ku.
"sudah selesai main games-nya?"Tanya Juvia yang melihatku.
Aku hanya menangguk dan menghela nafas.
"Bosann~~~"ucapku yang melihat kearah awan yang diatas langit.
"hei, hei! Kalau gitu kita Magnologia Hall aja! Kudengar disitu aja Games yang keren dan Komik yang keren"kata Juvia yang semangat.
Aku memandang kearah Juvia sedikit heran dan bingung.
Sejak kapan dia jadi seperti? Menjadi Otaku?.
"sejak kapan kau jadi Otaku, Juvia?"Tanyaku pada Juvia.
"sejak kenalan denganmu, lha! Karena kau suka sekali dengan anime-anime dan aku mencoba memainkan games dan membaca komik dan menonton anime, aku jadi suka sekali, tapi aku tidak separah kau yang sudah jadi Otaku!"kata Juvia yang semangat.
Aku hanya tersenyum dan tertawa sedikit keras.
"aku jelasin kok kamu ketawa, sih!"kata Juvia kesal yang memandangku.
Aku terus tertawa dengan sedikit keras.
"gak, cuman lucu aja, kau kan hampir tak pernah memperlihatkan koleksimu padaku, kalau aku tau kau suka anime, aku udah membawamu ke festival Otaku"kataku yang masih sedikit tetawa.
"ya, sudahlah, ayo!"kataku yang bangkit berdiri.
"mau kemana?"Tanya Juvia.
"katanya mau ke Magnologia Hall, jadi, ayo"kataku yang sedikit kesal.
"oh, iya. Hehehe…."kata Juvia yang sedikit tertawa.
-Normal P.O.V-
Lucy dan Juvia pun pergi Magnologia Hall yang sedang ramai dan ternyata mereka bertemu dengan Gray dan Sting yang tidak sengaja kebetulan bertemu.
"Lho..?"
Mereka berempat kaget dengan bertemunya mereka hari ini.
"Gray-sama, kenapa kau disini?"Tanya Juvia agak bingung.
"sedangkan kau juga kenapa kesini..?"Tanya Gray yang heran.
"aku kesini karena bosan, dan aku ingat di Magnologia Hall ada festival games dan anime yang lainnya"kata Juvia.
"aku juga sama, karena itu aku mengajak Sting kesini"kata Gray juga.
Lalu Gray dan Juvia mulai percakapan dari games dan seluruh anime yang dia tau, Gray juga tidak mau kalah dan ia menjelaskan anime dan games yang menurutnya keren.
"Kau suka anime juga, ya?"Tanya Lucy pada Sting.
"ya, begitulah"kata Sting sedikit blushing.
'Oh, please, Sting, gak ada apa-apa! Cuman mengobrol biasa dengan Lucy, kenapa kau jadi blushing, huh..?!'batin Sting yang sedikit panic.
"kau kenapa, Sting?"Tanya Lucy heran.
"g-gak ada apa-apa, kok!"kata Sting yang sedikit kaget dan menggelengkan kepalanya.
"hmm…"guman Lucy lagi.
'Stay cool, Sting. Stay cool!'batin Sting lagi guna untuk membuatnya untuk tidak menenangkan dirinya.
"makanya aku juga memainkan Games ini! Awalnya kukira biasa saja, dan setelah kumainkan berkali-kalipun aku tidak pernah bosan, karena art, character dan story-nya itu bikin orang jadi suka dan gak bikin bosan!"kata Juvia yang semangat.
"aku juga! Pertama sih mikir 'ini games kayak apa, ya?' pas dimainin ternyata seru banget! Gak nyangka kalau aku bisa jatuh hati sama games itu!"kata Gray juga yang semangat dan melanjutkan menceritakan games yang lainnya.
"mereka semangat sekali, jadi pusat perhatian nih, mereka berdua"kata Sting sweatdrop.
"ya, kau benar…"ucap Lucy yang sweatdrop juga.
Pasalnya Lucy memang bisa dibilang Otaku, tapi kayaknya Juvia yang lebih cocok dibilang Otaku, karena hampir semua anime, komik dan games dia tau.
"hy, kalian apa tidak sadar sudah jadi pusat perhatian…?" tegur Sting yang sweatdrop.
Tak berapa lama kemudian Juvia dan Gray akhirnya sadar, karena banyak yang melihat mereka dan karena malu pun, mereka akhirnya pun terdiam.
"dasar kalian ini!"kata Sting sedikit meledek.
Lalu Lucy, Juvia, Gray, dan Sting pun akhirnya pergi kesebuah ruangan yang cukup –sangat- besar dan tersedia DVD anime, Games, dan Komik, bahkan Cosplay pun ada.
-Natsu P.O.V-
Aku melihat jam di tanganku, sudah hampir jam 10 lewat 15 dan Lisanna belum datang juga.
'dia lama sekali, sih!'batinku kesal.
Aku pun menunggu dan tak lama kemudian Lisanna datang dan sedikit kelelahan karena mungkin ia berlari.
"m-maaf, Natsu, aku telat, kau sudah menunggu lama..?"Tanya Lisanna yang kelelahan.
"aku sudah lama menunggu, kau kenapa bisa telat, bukannya yang menyuruh datang jam 10 itu kau"kataku kesal.
"maaf, maaf, tadi aku harus membantu Mira-nee dulu sebentar, jadi aku terlambat, maaf, ya"kata Lisanna yang meminta maaf.
Aku hanya menghela nafas.
Yah… well, dia kan juga punya alasan untuk membantu Mira.
"ya, sudahlah.. kau kan tidak begitu lama telatnya"kataku mengalah.
"maaf, ya. Oh, iya, ke Magnologia Hall yuk! Kudengar disana ada festival"kata Lisanna.
"tentang Anime…? Aku kurang mengerti tentang Anime"kataku.
"sudahlah… ayo!"kata Lisanna yang menarik tanganku.
-Normal P.O.V-
-Magnologia Hall-
"Lihat! Lihat! Itu games terbaru, kan?!"kata Juvia semangat dan menunjuk kearah stand yang berada dipinggir itu.
"kesana, ya! Kesana!"kata Juvia semangat.
"ayo!"ajak Gray yang semangat juga.
Sedangkan Lucy hanya menghela nafas dan Sting menggeleng-gelengkan kepala.
"perasaan aku yang Otaku tidak separah Juvia, deh"ucap Lucy yang sweatdrop.
"mereka semangat sekali"ucap Sting.
Disisi lain terdapat Lisanna dan Natsu yang sedang jalan bebarengan dan banyak orang yang melihat mereka.
"lihat-lihat! Mereka serasi sekali, ya"ucap salah seorang.
"iya, ya, apa mereka pacaran…?"ucap salah seorang juga.
"mereka seperti lukisan"kata seorang.
"aku iri dengan mereka"kata seseorang lain juga.
Begitulah bisikan-bisikan orang-orang yang melihat mereka.
Mereka sangat cocok Karena Cowok yang sangat keren dan cewek yang sangat imut, membuat mereka seperti sebuah lukisan.
Lisanna hanya blushing karena mendengar percakapan-percakapan mereka.
Dan Lisanna akui, hari ini Natsu sangat sangat sangat keren!.
Sampai-sampai Lisanna sedikit gugup dibuatnya.
Mereka berjalan-jalan dengan beriringan dan berhenti disebuah stand yang sangat –terlihat- ramai karena 2 orang yang antusias dengan stand itu.
"lho, itu bukannya Gray dan siapa gadis itu?"Tanya Lisannya yang bingung.
Lisanna memang mengenal Lucy, tapi ia belum pernah kenal dengan seorang gadis yang sedang berada didekat Gray.
"kenapa mereka ada disini?"tanya Lisanna heran.
"Lucy…"guman Natsu pelan.
Tapi walau pelan Lisanna masih bisa mendengarnya dan ia melihat Lucy dan Sting bisa dibilang jarak mereka lumayan dekat.
Lisanna pun melihat kearah Natsu, ia melihat raut wajah Natsu sedikit kesal dan juga perasaan…. Kecewa…?.
Lisanna sedikit kaget Natsu menunjukkan wajah yang terlihat kecewa.
'kenapa Natsu seperti kecewa seperti itu, walau Lucy dekat dengan Sting bukan berarti mereka pacaran, kan? Buktinya juga aku juga dekat dengan Natsu'batin Lisanna.
'apa jangan-jangan….'batin Lisanna dan melihat Natsu lagi.
'Ternyata benar aku tidak ada harapan lagi, tapi….'batin Lisanna sedih.
Natsu dan Lisanna hanya diam tak mengatakan apa-apa yang membuat suasana jadi canggung.
Tak lama Sting dan Lucy menyadari kehadiran mereka.
"Natsu! Lisanna!"ucap Sting yang menyapa.
Sedangkan Lucy hanya diam, sepertinya ia masih bingung bagaimana cara untuk bersikap biasa dengan Natsu.
'kemarin aku sepertinya bicara keterlaluan, deh…'batin Lucy yang sedikit merasa bersalah.
'kenapa Sting dan Lucy bisa berada disini?'batin Natsu bingung dan kesal.
Sting langsung menyadari suasana diantara Natsu dan Lucy.
"a-aku cuman kebetulan bertemu Lucy disini, pertamanya aku datang dengan Gray, kok!"kata Sting yang panic dan menjelaskan ke Natsu.
Sedangkan Lucy dan Natsu masih diam.
'Natsu… sepertinya aku tidak memiliki harapan lagi…'batin Lisanna sedih.
Mereka masih terdiam dan membuat suasana canggung.
'B-Bagaimana ini? Suasana disini sangat suram…!'batin Sting panic yang kurang nyaman dengan suasana ini.
"Lucy, kau suka anime, ya?"Tanya Lisanna.
"eh..? ah… iya"kata Lucy yang mengangguk.
"kau suka anime karena apa? Kalau aku suka anime karena mereka lucu dan juga Story-nya bagus"kata Lisanna.
"aku suka Anime karena aku suka dengan games dan memang benar katamu Story-nya bagus"kata Lucy yang tersenyum juga.
'bagus, Lisanna! Kau membuat suasana jadi tidak canggung!'kata Sting senang.
"benar, kan, aku juga"kata Lisanna tersenyum juga.
Natsu masih diam dan tidak mengatakan apapun.
'kenapa aku jadi seperti orang idiot?'batin kesal.
Tapi dalam hati ia juga lega karena suasana canggung tadi sudah mulai memudar.
"lihat ini! Games ini kan limited edition!"kata Juvia yang menunjukkan games.
"aku juga dapat games yang sudah lama aku incar!"kata Gray yang semangat dan menunjukkan games-nya.
"dasar Otaku…"guman Natsu.
-Di Café Magnologia Hall-
Setelah mereka semua terutama Juvia dan Gray yang sudah merasa capek akhirnya mereka beristirahat di sebuah Café.
"kau dapat apa saja, Juvia?"Tanya Lucy.
"lihat! Lihat! Aku dapat banyak anime, komik, dan games limited edition! Untung kita kesini, ya!"kata Juvia senang.
"aku juga dapat yang selama ini aku incar! Syukurlah aku datang kesini"ujar Gray senang.
'Dasar Otaku!'batin Sting, Natsu, Lisanna, dan Lucy bersamaan.
Sedangkan Juvia dan Gray tidak menyadari sama sekali.
"ngomong-ngomong, Natsu dan Lisanna kalian sedang apa kesini, apa kalian sedang kencan?"Tanya Gray.
JLEB
Mendengar ucapan Gray, Lucy merasa hatinya ditusuk oleh pisau yang tajam.
Tapi Lucy mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Sting yang duduk didekat Lucy hanya panic.
Dan Natsu juga sedikit kesal dengan pertanyaan Gray.
'sialan kau, Gray!'batin Sting dan Natsu kesal.
"aku kesini cuman ingin pergi melihat festival di Magnologia Hall saja! Bukan kencan, kok! Karena Elf-Niichan tidak bisa datang dan Mira-nee sibuk"kata Lisanna yang menjawab pertanyaan Gray.
"hmmm… kukira kalian kencan atau apa, soalnya kan kema-! Itta!"ucap Gray yang kesakitan, rupanya Sting dan Natsu menginjak kaki Gray dengan keras sampai-sampai Gray yang meringis kesakitan.
"mana mungkin! Aku cuman takut saja kalau pergi sendirian, kan ditempat ramai disini datang sendirian kan berbahaya, makanya aku mengajak Natsu, tapi kalau aku tau kalian datang kesini, aku pasti akan ikut bersama kalian"kata Lisanna tersenyum.
"oh…"kata Gray yang masih sedikit kesakitan.
"oh, iya, Lucy, kita kesana, yuk!"ujar Lisanna yang mengajak Lucy.
"eh..? kemana?"Tanya Lucy.
"kesana, ayo"kata Lisanna yang menarik Lucy.
Sedangkan Lucy hanya diam dengan heran.
-Lisanna dan Lucy Site-
"t-tunggu, Lisanna!"kata Lucy sedikit kesal.
"maaf, aku terlalu kencang menarik, ya"kata Lisanna yang meminta maaf.
"dasar, kau kenap-!" ucapan Lucy tidak selesai karena ia melihat Lisanna yang sedang mencoba tersenyum tapi menintikan air mata.
"Lisanna…"kata Lucy pelan.
"eh..? ah..? lho, kok…"kata Lisanna yang bingung.
"lho… aku kenapa…..?"kata Lisanna yang masih bingung juga, lalu ia mulai menghapus air matanya.
"hiks… hiks…"
Terdengar isakan dari Lisanna yang mencoba menahan tangisannya.
"kau menangis karena ditolak Natsu..?"Tanya Lucy yang sedikit pelan.
Lisanna menggeleng dan mencoba meredakan tangisannya.
"maaf, ya, Lucy… sebenarnya aku belum ditolak ataupun menyatakan perasaanku pada Natsu, tapi…"kata Lisanna yang sudah agak reda tangisannya.
"tapi..?"Tanya Lucy heran.
"sejak tadi, sejak ia melihatmu, dia seperti tidak melihat apapun selain dirimu, dan mungkin aku memang sedikit cemburu, Karena pandangannya hanya tertuju padamu"kata Lisanna yang tersenyum.
"dan saat aku lihat wajahnya saat dia melihatmu, aku tau walau aku menyatakan perasaanku padanya aku tidak akan diterimanya, dan itu… hiks… membuatku… hiks…"kata Lisanna yang menangis lagi.
"aku kembali ke Magnologia, karena… hiks… aku ingin menyatakan perasaanku… tapi… hiks… ternyata tanpa aku sadar… hiks… Natsu… hiks… sudah menyukai orang lain…"ujar Lisanna lagi yang masih menangis.
Lucy merasa bersalah karena Lisanna datang kembali untuk menyatakan perasaannya kepada Natsu, tapi saat itu Lucy seperti mencuri harapan dari Lisanna, karena Natsu sudah jatuh hati padanya.
"…"
Lisanna terus menangis dan juga mengatakan semua perasaan kesal, sedih, kepada Lucy tentang dirinya, dan Natsu.
"awalnya… hiks… aku tidak terlalu yakin… hiks… kalau Natsu menyukaimu… hiks… tapi, saat dikelas kemarin, dia terus gelisah dan tidak nyaman saat kau tidak ada dikelas kemarin, dan saat pulang sekolah pun dia marah karena kau tidak datang kekelas melainkan bersama Sting diperpustakaan"kata Lisanna yang mencoba meredakan tangisannya.
"hari ini juga dia melihatmu dengan Sting yang berdekatan, dan dari wajahnya terpancar wajah kecewa… apa kau tau itu?"Tanya Lisanna yang masih sedikit menangis.
"…."
"aku melihat wajahnya saat dia memandangmu, dan saat itupun aku tau, kalau aku tidak akan bisa mengatakan perasaanku padanya…"kata Lisanna lagi.
Lucy hanya diam mendengarkan, untunglah Lucy dan Lisanna sedikit lebih jauh dari Café tadi, dan tidak ada yang menyadari mereka.
"dan saat itu pun aku tau kalau aku tidak memiliki harapan lagi, saat di Café juga Gray bertanya apa aku dan Natsu sedang kencan, apa kau tau dia bereaksi seperti apa? Wajahnya kesal dan sedikit rasa khawatir padamu karena wajahmu terlihat raut wajah terluka"kata Lisanna.
'Aku? Terluka? Memang saat itu aku merasakan sesuatu yang sakit didadaku'batin Lucy.
"nee, Lucy… sebenarnya kau itu suka pada Natsu, kan?"Tanya Lisanna.
Wajah Lucy sedikit terkejut dan kaget mendengar pertanyaan dari Lisanna.
"a… aku…"
"masih belum mengerti tentang perasaanmu, huh..?"ujar Lisanna tersenyum.
"tapi, Lucy, walau Natsu terlihat dingin dan kasar, tapi dia sangat baik, kau tau kan itu, awalnya aku juga masih ragu akan perasaanku padaku dan pergi keluar negeri, tapi disana akhirnya aku sadar kalau aku menyukai Natsu, tapi memang benar apa yang dikatakan orang-orang, penyesalan datang belakangan, karena saat aku ingin mengungkapkan perasaanku, orang yang kusuka sudah menyukai orang lain, walau kita belum begitu dekat, tapi aku sudah sangat merasa kalau Natsu itu tidak pernah melirik perempuan lain selain dirimu, bahkan padaku juga"kata Lisanna tersenyum.
"sebenarnya kau ingin mengatakan apa?"Tanya Lucy heran.
"aku cuman ingin mengatakan kau harus jujur pada perasaanmu, dan jangan sampai berakhir seperti"kata Lisanna.
"apa kau tidak akan menyatakan perasaanmu padanya?"Tanya Lucy.
Lisanna hanya menggeleng.
"tidak, aku mungkin lebih cocok untuk menyimpan perasaan ini dari pada aku utarakan"kata Lisanna.
"dan juga, aku tidak ingin dia bingung karena perasaanku"kata Lisanna.
"kau gadis yang baik, ya"kata Lucy lagi.
"tidak, aku bukan gadis yang baik, kau tau? Awalnya aku berencana untuk mengatakan perasaanku pada Natsu walau aku tau itu mungkin bisa menyakitimu, tapi ternyata aku sudah tau jawabannya sebelum aku menyatakan cinta padanya"kata Lisanna.
"…"
"tapi, aku tidak menyesal menyukainya, lho! Walau aku masih sedih karena dia menyukaimu"kata Lisanna.
Lucy yang mendengar itu sedikit merasa bersalah lagi.
"tapi, Lucy, bukan karena itu aku membencimu, dan sejak awal aku tidak membencimu, karena aku tau perempuan yang lebih cocok dengan Natsu selain aku itu pasti dirimu"kata Lisanna.
"tapi, kau juga menyakiti dirimu sendiri, kan?"Tanya Lucy.
"ya, kau benar, dengan cara ini bisa dibilang aku menyakiti diriku sendiri, tapi bukan berarti aku menyakiti diriku sendiri aku tidak bisa move on, lagi pula, apa artinya jika seseorang bersama tapi tidak mencintai, itu hanya makin menyakitkan, kan? Lagi pula, aku tidak bisa bersaing denganmu"kata Lisanna.
"kenapa?"Tanya Lucy heran.
"kau sudah membuat Zeref dan Natsu berbaikan, kesehatan Wendy sudah membaik, dan kau sudah sadar kan, sikap Natsu berubah menjadi lebih baik, mungkin bisa dibilang juga karena dirimu Natsu berubah"kata Lisanna.
DEG
"perkataanmu mirip dengan Gray"kata Lucy.
"dan Gray saja tau, kau lebih baik dariku, kau canti, baik, kuat, tegar, dan walau terkadang kau suka menyimpan segala sesuatu sendirian, tapi kau punya sahabat yang perngertian, kan? Gadis yang berambut biru tadi juga sangat baik"kata Lisanna.
"dan juga kalau disuruh aku menyerah atau bersaing denganmu, aku akan memilih menyerah"kata Lisanna.
"kenapa kau tidak memilih bersaing?"Tanya Lucy sedikit kaget.
"aku kan sudah bilang, kau itu sangat baik, dan juga aku tidak mau bersaing karena aku tau aku akan kalah karena kebaikanmu, makanya Lucy…"kata Lisanna yang mengulurkan tangan kearah Lucy.
"kau mau kan menjadikanku sebagai salah satu temanku?"Tanya Lisanna yang sedikit berharap.
Lucy hanya tersenyum.
"tidak"
Lisanna sedikit terkejut dengan jawaban Lucy.
'ternyata aku memang tidak bisa menjadi teman bagi siapapun…'batin Lisanna kecewa.
"tapi, aku akan menerimamu sebagai salah satu dari sahabatku"ucap Lucy yang menyambut uluran tangan Lisanna.
Lisanna melihat Lucy dan tersenyum, begitu juga dengan Lucy yang tersenyum kearah Lisanna.
Mereka pun kembali kearah Café dengan perasaan bahagia dan senang.
Dan membuat orang-orang yang menunggu mereka sedikit heran dari aura yang terpancar mereka berdua.
"kalian kenapa?"Tanya Juvia heran yang melihat Lucy dan Lisanna tersenyum dan senang.
"tidak, kami hanya senang saja"kata Lucy senang.
"oh, iya aku belum memperkenalkan diriku padamu, ya, namaku Lisanna Strauus, sahabat Lucy"kata Lisanna tersenyum.
"eh…?"
"EHHHH?!"kata mereka kaget.
"iya, dia sahabat baruku, atau bisa dibilang sahabat baru kita semua"kata Lucy tersenyum.
Juvia sedikit kaget dan akhirnya tersenyum, ia merasa lega dan senang karena Lucy sudah mendapatkan sahabat baru.
"aku Juvia Lockstar, sahabat Lucy dari dulu, kita bersahabat juga, ya, Lisanna"kata Juvia tersenyum dan Lisanna dan Lucy pun tersenyum.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama, dan menghabiskan hari bersama.
Tapi, mereka juga belum tau badai cinta yang datang bukan hanya 1 saja.
Masih banyak badai cinta yang membuat mereka menjadi bingung dan bisa saja membuat mereka terluka dan terkadang membuat mereka senang.
Disisi lain terdapat gadis berambut silver pendek yang melihat mereka dari kejauhan dengan tatapan sedikit iri dan sedih.
"Sting-sama…."
-To Be Contiune-
Yuki: "Akhirnya! Setelah sekian lama chapter ke- 2 dari Fict Trust in You ini selesai *^-^*"
Happy: *senyam-senyum*
Natsu: *bingung* "kenapa tuh Happy?"
Yuki: "mungkin dia lagi senang karena dapat peran di chapter ini"
Natsu: "oh, iya. Nee, Yuki-Chan, kok di chapter ini aku kayak peran pembantu, sih. Sedikit banget perannya, dan perasaan ini Yuki-Chan menyelesaikan chapter ini lama banget, udah 1 bulan, ya?"
Happy :*langsung jawab* "bukan 1 bulan, tapi 3 bulan!"
Yuki: *pundung* "maaf, karena aku banyak tugas dan harus selesaikan dulu semua aktivitas sekolah, karena aku kan kelas 3 SMP yang harus menyiapkan diri untuk UN"
Happy: "alasan saja"
Natsu: "ya, sudahlah, tapi, kan Yuki-Chan sudah memenuhi janjinya padamu, Happy, karena ia sudah memasukkanmu dalam chapter ini"
Happy: "memang, sih…" *wajah yang sedikit meledek kearah Yuki*
Yuki: *kesal* "ingatkan aku tidak memasukkan Happy lagi kedalam cerita"
Happy: *kaget* "jangan, dong, Yuki-Chan! Yuki-Chan kan anak baik, rajin dan tidak sombong" *mencoba merayu Yuki*
Yuki: * tidak peduli* "Natsu, tolong tutup acara Review di chapter ini, dan ingatkan aku tidak memasukkan HAPPY kedalam cerita"
Happy: *panic dan mencoba merayu Yuki*
Natsu: "kayaknya bakal lama deh kalau nungguin Yuki-Chan yang udah pundung kayak gitu, baiklah kita akan menutup ending chapter kali ini, dan silahkan masuk sahabat Lucy Heartfilia, Juvia Lockstar!" *dengan backround tepuk tangan*
Juvia: *tersenyum* "konnichiwa, Minna-san"
Natsu: "ya, sebelum menutup cerita ini, menurutmu bagaimana pendapatmu tentang cerita kali ini?"
Juvia: *pose mikir-mikir* "menurutku, chapter kali ini alurnya kecepetan"
Yuki: *JLEB*
Juvia: "terus endingnya mungkin akan membuat para pembaca yang membaca ini bingung"
Yuki: *JLEB, JLEB*
Juvia: dan belum ada Scene tentang Zeref dan Natsu and Geng 'Xrash' setelah kejadian yang menimpa Lucy"
Yuki: *JLEB, JLEB, JLEB*
Juvia: "dan juga aku kayaknya OOC banget"
Yuki: *pundung tingkat akut*
Natsu: "panic* b-baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau kau menutup chapter kali ini, kasihan Yuki-Chan yang sudah sangat pundung begitu"
Juvia: *tersenyum* "baiklah, terima kasih untuk para pembaca dan yang sudah menyempatkan untuk me-riview cerita ini, walau cerita chapter kali ini bisa dibilang sangat memaksakan sekali"
Natsu: *panic melihat Yuki yang sudah mengeluarkan aura hitam* "b-baiklah, karena suasana sudah sangat tidak memungkinkan bagi Yuki-Chan, terima kasih untuk bantuan dan saran-saran yang dan semangat yang sudah kalian berikan pada Author kita, kami berharap kalian bisa memaklumi tentang Yuki-Chan"
ALL minus Yuki: "Thanks for reading and please give us advice again and review"
Thanks for all reading this Fict, and please give us advice
R
E
V
I
E
W
Yuki: *pundung* "semoga kalian menyukai chapter kali ini…"
