SEMUSIM

Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.

Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?

Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto

PERINGATAN!

AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)

Main Chara : Naruto X Hinata

Chapter 2

OoOoO

Sore itu semua sedang berkumpul menikmati makan malam mereka disebuah ruangan.

"Naruto, kudengar dulu kau akan bertunangan dengan gadis Haruno?" Nagato membuka percakapan, Naruto melirik Hinata yang juga meliriknya.

"Tidak" Naruto melanjutkan menyuap makanannya.

"Kenapa?"

Naruto tetap fokus melahap makanannya.

"Kak Nagato, aku permisi untuk membuat teh" pamit Hinata

Keheningan tercipta dikeduanya, membuat Naruto tidak nyaman dalam kondisi yang canggung seperti itu.

"Dia.. Sudah menikah" Ucap Naruto perlahan dan menaruh garpu serta sendoknya "Aku tak mungkin mengharapkan kembalinya Sakura padaku, demi sahabatku aku yang harus menjauhkan perasaan itu dan menguburnya sedalam mungkin"

"Tapi bukan dengan cara kau menyiksa dirimu sampai sedemikian rupa, Naruto. Apa kau juga akan mengubur masa depanmu bersama perasaan yang sudah lampau itu?" Nagato ikut menghentikan tangannya dan menaruh sendoknya.

"Aku tidak tahu. Aku tak punya pemikiran apapun"

"Apakah kau itu benar-benar seorang Naruto?"

"Aku sudah selesai makan" Naruto segera berdiri dan membereskan piring dan gelas yang telah dipakainya

OoOoO

Badai salju malam itu sangat besar sehingga sebagian telah menutupi sebelah rumah itu.

Hanya melihat dibalik jendela lagi. Ingin rasanya ikut terbawa badai itu dan hanyut membawa perasaan yang membebaninya.

Rasa gelisah selalu menghantuinya, hingga malam itu sampai terbawa mimpi. Cuaca dinginpun tak bisa menahan keringat yang kian bercucuran.

"Ugh.."Naruto melepas bajunya bertelanjang dada berharap rasa panas ditubuhnya menghilang, tiba-tiba lampu mati dan seisi rumah itu menjadi gelap gulita. "E-eh? Mati lampu?" Tangan Naruto menelusuri meja dan lemari samping tempat tidurnya berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan sumber cahaya untuk menerangi kamarnya.

Tok.. Tok.. Tok

"Naruto, apa kau sudah tidur?" Suara dibalik pintu itu mengagetkan Naruto, segera menuju asal suara dan membukakan pintu.

"Hinata?" Meski dalam keadaan gelap Naruto tahu pasti itu Hinata karena tidak ada perempuan lain dikediaman Nagato.

"Maaf menganggu Naruto"

"O, oh tidak, ada apa?"

"Bisa antar aku kedapur? Aku..."

"Hahaha kau takut gelap?"

"U-um.. Aku mau mengambil lilin, ta-pi.." Entah ada hawa apa yang membuat Hinata jadi kaku

"Aku juga butuh lilin, ayo.."Tangan Naruto segera menarik lengan Hinata, dalam keremangan Hinata mengikuti Naruto dibelakangnya.

"Hati-hati Naruto! Disana ada-"

Jduak..

"I-i-di-di-dih sakit"

"Baru juga mau kuingatkan, disamping pintu dapur itu ada tiang" Hinata mendekat, dan mencoba meraba dahi Naruto dan serasa ada yang basah "Kau berdarah Naruto" Hinata kini yang menarik tangan Naruto "Duduklah, sementara aku mencari lilin sebentar"

"Iya.. Ugh.."Naruto meringis mengusap-ngusap dahinya

Srek..

Hinata menyalakan beberapa lilin disana, sehingga penerangannya cukup benderang. Segera Hinata mengambil wadah kecil dan handuk serta air hangat juga beberapa obat kearah Naruto dan secepat mungkin ia membasuh wajah Naruto dan memberikan pengobatan pada lukanya.

Naruto hanya diam tak mampu berkata apa dan melakukan apa, hanya menurut, mata birunya memandang dengan teliti wajah Hinata yang begitu dekat dengannya.

"Lain kali jangan terburu-buru, pada akhirnya kau terluka hanya karena benturan pada tiang kan?" Hinata menempelkan plaster. Sadar karena Naruto tak merespon apapun, Hinata melirik dan terkejut mendapatkan wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja.

Nafas yang kian makin meburu dalam temaram sinar dari lilin membuat hidung mereka beradu, Hinata tak ingin apapun terjadi padanya,akan te tapi ia tak bisa menarik diri dan pada akhirnya ia pasrah dan menutup matanya, membiarkan bibir Naruto menyentuh bibirnya dan memberikan sebuah rasa pada kecupannya.

Tangan Naruto merengkuh pinggulnya, dan Hinata melingkarkan tangannya dileher Naruto.

Ciuman mereka semakin dalam namun Naruto masih dengan sentuhan lembut. Hinata terpaksa melepaskan bibirnya karena pernafasnnya yang terasa sesak.

"Hinata.." Bisik Naruto, tatapannya seolah akan menenggelamkannya, Hinata memalingkan wajahnya yang merona mencoba mundur dengan tangan menyentuh dada Naruto. Ia baru sadar bahwa Naruto telanjang dada.

"Kyaaaaaaaa" Hinata refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia akui Naruto tampak seksi saat seperti itu, sisa-sisa keringatnya membuat kharisma tersendiri pada tubuhnya. Hinata segera mengambil jarak dan membelakangi Naruto menyembunyikan wajahnya yang memerah. "K-Kau, sejak kapan kau tidak memakai bajumu?"

"Sedari tadi, karena gerah aku melepas bajuku dikamar dan saat kau datang aku lupa memakainya lagi" Naruto berdiri memeluk Hinata dari belakang.

"E-eh.. Ap-apa yang kau lakukan mesum!" Hinata memberontak akan tetapi pelukan Naruto lebih kuat dan tidak sebanding dengan tenaganya. Naruto tak ingin menyakiti jadi dia melepaskan pelukannya dan segera mengambil lilin.

"Selamat malam Hinata.." Ucapnya, lalu segera menuju kekamarnya meninggalkan Hinata yang masih dengan jantungnya yang berdegup tak karuan.

"Selamat malam Naruto" Lirihnya.

OoOoO

Bersambung...

O

O

O

Olalalalalala akhirnya~

Kelar juga chap 2 ini hehehehe

Osh, silakan tinggalkan jejak anda.

Terimakasih karena telah mengikuti cerita saya.

Salam NaruHina Lovers Family :