SEMUSIM

Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.

Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?

Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto

PERINGATAN!

AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)

Main Chara : Naruto X Hinata

"Itu.. Sudah lama berlalu. Semenjak Sasuke kembali dari Otogakure aku sudah merasa Sakura berubah." Naruto menunduk.

"Jadi.. Kau memutuskan hubungan dengan Sakura?"

Naruto mengangguk.

Hening.

Naruto melirik Hinata yang didepannya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau kemarin tampak begitu.. Err galak?"

"Ahahaha.. Begitukah kelihatan olehmu?" Hinata tertawa geli melihat nyali Naruto menciut menatapnya. "Aku harus bersikap sewajarnya ketika dengan pasienku. Itu adalah waktunya kerja. Berbeda dengan ehem, diluar itu."

"Jadi kau tidak marah padaku?" Hinata menggeleng.

"Kenapa harus marah?"

"Mungkin karena malam itu.."Bisik Naruto.

"Bisakah kita ganti topik?"

"Aku ingin mengenalmu."

"Kau sudah tahu namaku, bukan?"

"Tentang dirimu.."

Hening lagi.

"Sikapmu mudah berubah-ubah.. Sulit..."

"Dokter Uzumaki, kita disini karena tugas, dan aku harus sebisa mungkin profesional."

"Kita disini juga bukan antara dokter dan pasien." Sanggah Naruto. "Jadi bisakah kau besikap biasa?"

"Aku sudah biasa begini.."

Naruto berdiri dari kursinya, mendekat kearah Hinata, menarik dagunya."Jika demikian.." Nafas Naruto terasa diwajah Hinata yang sangat dekat.

"Hentikan, dok."

"Kenapa?" Naruto semakin gencar.

"Apakah patah hatimu separah itu?" Naruto langsung menjauhkan tangannya dari wajah Hinata, segera membereskan alat makannya dan mencucinya.

Hinata merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Prinsipnya yang telah ditetapkan dari dulu sudah merubah jalan fikirnya.

Bagaimana bisa bersikap sewajarnya, jika rasa sakit itu masih terasa ketika kudengar namanya? Bagaimana bisa aku tak sakit jika hatiku sudah pecah berkeping-keping?. Pikiran Naruto kacau seketika saat Hinata selalu menyinggung hubungannya dengan Sakura.

"Hinata.." Panggil Naruto pelan.

"Hmm?"

"Apa kau pernah pacaran?"

"Hanya sekedar menyukai, karena orang itu tak pernah melirikku sama sekali. Well.. Aku sudah biasa dengan yang namanya sakit hati."

"Haaah.." Naruto menghela nafas.

"Kenapa!?"

"Kau ingin jatuh cinta?"

Hinata menggeleng."Aku cukup jenuh dengan hubungan seperti itu, dengan melihatmu saja sepertinya bena-benar menyiksa."

"Sebenarnya hubungan itu tergantung pada diri kita, apa mencintai dengan tulus, begitu juga pasangan. Kalau hanya sebelah pihak saja tentu akan sanagat menyakitkan."

"Lalu bagaimana jika..."Hinata menghentikan kalimatnya.

"Bagaimana jika?"Ulang Naruto. Hinata hanya menggeleng. "Kalau begitu, biar kubuat kau jatuh cinta padaku. Hahahahahaha."Naruto tertawa renyah melihat respon Hinata yang melemparinya dengan tissue.

"Aku tidak akan jatuh cinta padamu!"

"Bagaimana kalau iya?"

"Aku tidak mau bernasib malang sepetimu, yang kandas ditengah jalan." Sindir Hinata.

Ingin rasanya Naruto menelan Hinata bulat-bulat saat itu.

Kita lihat saja nanti, Hinata. Batin Naruto.

Pagi itu Hinata berjalan-jalan disekeliling pondok itu, menikmati udara yang segar, jarang sekali ia bisa bersantai seperti ini. Biasanya ketika ikut dengan pasien, ia yang mengurus segala keperluan pasiennya, tapi sekarang adalah saat yang tenang dan menyenangkan baginya tanpa perlu izin cuti.

Hinata segera kembali kepondok setelah berkeliling selama kurang dari 2 jam. Ia teringat akan membeli gaun untuk pertemuannya dengan rekan kerja Nagato.

Mendengar decitan pintu kamar tidurnya yang terkuak,tetapi Naruto terlalu malas untuk membuka mata, ia menarik selimutnya sampai dagu kembali melanjutkan mimpi paling sensual yang ia alami dalam hidup.

Naruto bermimpi Hinata menyelinap kekamarnya, ia mendekat dan melucuti pakaiannya sendiri, membuat imajinasi Naruto semakin mengembara lebih jauh. Kemudain Hinata naik keranjang Naruto dan mimpi itu menjadi perpaduan kelembutan kulit, gairah dan sensasi sensual yang intens. Naruto baru akan sampai pada bagian yang sangat menyenangkan ketika-

"Selamat pagi, Dok. Saatnya bangun."

Naruto mengerang, membuka sebelah mata dan menemukan objek dalam mimpinya menunggu disebelahnya.

"Masih pagi, nona Hyuuga."

"Turun dari tempat tidurmu, ayo cepat!"

Bagaimana kalau kau menyusup kesini bersamaku? Batin Naruto. Dampak dari mimpi itu belum hilang ketika Hinata membangunkan Naruto- atau lebih tepatnya membangkitkannya.

"Ayolah bangun, banyak yang harus kita lakukan." Hinata melirik jam yang melingkar ditangannya. "Kita juga belum belanja pakaian untuk pertemuan nanti."

"1 jam lagi.." Sahut Naruto, menarik lagi selimut hingga menutupi kepalanya. Berharap mimpi tadi masih bisa bersambung. Memangnya belanja memakan waktu?

Sebelum Naruto sempat bertanya, Hinata menarik turun selimut sampai kebahu pria itu.

"Aku tidak akan pergi sebelum kau bangun."

Bangun? Aku sudah bangun sungguhan. Naruto mengintip dari balik pelupuk mata yang setengah terbuka, tepat saat Hinata meraih dan menyentak selimut, dan Naruto menyadari apa yang akan dilakukan wanita itu.

"Aku tidur te-"

Selimut melayang lepas dari tubuh Naruto.

"Cepat bangun dan-"

"-lanjang."

Selimut jatuh dan hinggap disuatu tempatdidekat paha Naruto.

"KYAAAAAAAAAAAAA~!"

-oOo-

Bersambung~

N.B: Untuk yang meminta LEMON diharapkan bersabar karena disini saya menulis bukan sekedar adegan, akan tetapi konflik juga yang jadi faktor utama. :)

Terimakasih telah membaca dan mengikuti cerita saya sampai saat ini, dan kesediaan mereview-nya :D

Sampai Jumpa~~~