SEMUSIM
Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.
Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?
Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto
PERINGATAN!
AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)
Main Chara : Naruto X Hinata
-oOo-
Segera Hinata menutupi mata dengan sebelah tangan dan berbalik secepat kilat, selama sesaat wanita itu hanya terlihat sebagai bayangan kabur para jin dan denim. "Maaf."
"Uhh.. Aku mencoba mengingatkanmu." Naruto menarik selimutnya sampai pinggang.
"Aku kira kau memakai piama."
"Dan kau lihat, aku tidak memakainya."
"Y-ya, aku tahu."
"Apa kau selalu membangunkan pasienmu dengan cara seperti ini?" Naruto menguap, mengusap-ngusap rambut pirangnya.
"Well.. Pasienku selalu bangun lebih dahulu sebelum aku membangunkannya. Dan sepertinya kau paling berbeda dari Uzumaki lainnya." Hinata masih memunggungi Naruto, dan pria itu mencuri kesempatan untuk menelusuri bokong wanita itu. Hinata mengenakan celana jeans ketat pendek yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, dan membuat hasrat Naruto yang telah mereda mengancam bangkit kembali. Saatnya berganti pemandangan.
"Kau bisa berbalik sekarang..." Sejenak mereka bertatapan, Hinata terpaku pada tubuh kekar Naruto, warna yang kecoklatan dan otot-otot tubuh yang berbentuk.
Naruto yang menyadarinya menyeringai.
"Tadi kau bilang, aku Uzumaki berbeda dari yang lain. Berbeda dimananya?"
Hinata segera menguasai diri.
"Yah.. Kak Nagato sangat baik dan perhatian, beliau tahu waktu. Tidak sepertimu."
"Apa kau kenal Karin?" Hinata menggeleng.
"Jangan asal menjudge sembarangan makanya.. Tiap orang 'kan punya karakteristik masing-masing." Naruto memicingkan matanya. "Mungkin kau dengan Neji hampir sama karena Hyuuga cukup ketat kan?"
Hinata diam menundukkan wajahnya,membiarkan surainya terjuntai berjatuhan menutupi sebagian wajahnya.
"Baiklah, beri aku lima menit untuk berpakaian dan menggosok gigi." Kata Naruto pada akhirnya.
Hinata hanya mengangguk lalu meninggalkan kamar Naruto tanpa melihatnya.
-oOo-
Usai berbelanja mereka memasak makan malam bersama. Naruto perlahan mencuri-curi pandang wajah Hinata yang begitu anggun ketika memasak. Ingin rasanya memeluknya dari belakang, mengecup lehernya, dan memberikan sentuhan lembut pada kulitnya. Naruto menggelengkan kepalanya. Tidak! Tidak boleh! Dia mana mau padamu. Runtuk hati Naruto.
"Ada apa, Dok?" Hinata menatap Naruto yang sedang mematung melihatnya.
"E-err, nggak." Naruto kikuk, sehingga ia menggaruk-garuk kepalanya yang entah gatal atau tidak untuk menghilangkan groginya.
"Cuci buah-buahannya yang bersih, oke?" Hinata kembali fokus mengaduk-ngaduk makanan yang dimasaknya.
Lagi, mata Naruto tak bisa berpaling dari Hinata. Rambutnya yang diponytail memperlihatkan lehernya yang mulus. Naruto sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyerangnya. Salah siapa berpakaian sangat mencolok begitu bikin mata tidak bisa berkedip. Naruto menahan nafas mencuci apel satu persatu.
"Sampai kapan kau mencuci buah-buahan, Dok?"
Kalau diperhitungkan Naruto berdiri disana sekitar 20menitan dan itu tidak berasa karena pandangannya teralihkan pada Hinata.
"Sudah selesai." Sahut Naruto membereskan buah cuciannya pada sebuah wadah.
"Sebenarnya kau melamunkan apa?" Tanya Hinata yang juga sudah selesai memasak.
Melamunkan tubuhmu, sial.
Naruto hanya menggeleng lagi, sambil tersenyum.
"Aku hanya berpikir, seperti apa kau nanti saat kepertemuan?"
Hinata mengulum senyum.
Mata Naruto menatap tajam mata Hinata, bibirnya yang mungil sungguh menggodanya, Naruto tersenyum melihatnya.
"Sikapmu aneh." Hinata duduk dan menyantap makanannya.
Andai Hinata tahu, senyumnya selalu membuat Naruto merasa nyaman didekatnya, andai Hinata tahu bahwa saat ini hatinya sedang gundah gulana karenanya.
"Nona Hyuuga, bagaimana kalau besok kita kepantai?"
"Boleh juga, kebetulan aku cukup kepanasan disini."
Bibir Naruto tersenyum, dan senyumnya kali ini sangat kharismatik khas pria yang kalem. Sebelum Hinata membalas senyumnya, Naruto sempat melihat wajah Hinata memerah.
Dia pemalu juga kah?
-oOo-
"Tadi kau membeli gaun warna apa?"
Naruto membuka percakapan saat mereka menonton televisi bersama. Memang mereka tadi siang berbelanja bersama, akan tetapi saat sampai di mall mereka berpencar sendiri-sendiri membeli barang yang dibutuhkannya.
"Kau akan melihatnya nanti."
Ekor mata Naruto memperhatikan gerak-gerik Hinata yang sedari tadi sibuk dengan gadgetnya meskipun TV menyala.
Naruto menghela nafas.
"Aku baru melihatmu menggunakan handphonemu."
"Oh, ini. Tenten dan kak Neji akan segera bertunangan minggu depan. Aku memberitahunya aku pasti akan datang." Ujar Hinata.
"Kau akan pulang?" Tanya Naruto dengan parau.
"Tentu, aku harus pulang, aku harus menghargainya. Karena jika tidak, ayahku pasti akan memarahiku."
"Haaaah.." Lagi Naruto menghela nafas.
"Kenapa? Apa kau sesak nafas?"
"Tidak. Hanya saja, apa kau akan meninggalkanku?"
"Oh ayolah, Dok. Jangan merengek seperti anak kecil yang takut ditinggalkan."
"Aku hanya.. Entahlah.."
"Bicaralah.."
Naruto menggengam jemari Hinata dengan erat, dan Hinata tak berniat melepasnya.
"Aku hanya..."Bisik Naruto lirih.
"Hmm?" Hinata dengan sabar menanti.
"Ingin denganmu.."
Deg
Jantung Hinata berdegup cepat.
"Aku rasa.." Wajah Naruto kian mendekat.
Hinata tak habis pikir apakah ini mimpi atau tidaknya, namun kenyataan Naruto akan segera menciumnya.
Telunjuk yang mulus menempel dibibir Naruto. Sebenarnya, Hinata tak mengingkari, ia juga menginginkan bibir Naruto seperti tempo hari. Akan tetapi ini bukan saatnya, karena hati Naruto masih ada serpihan untuk Sakura.
"Kau tak seharusnya berlarut-larut dalam masalalumu."
Naruto memejamkan matanya. Tangannya menyentuh pipi Hinata, membelainya.
"Dok..."
"Sssssttt..."
Mata Naruto sangat sayu, tak ada tampak ia kesal atau marah, padahal biasanya jika sedikit saja menyinggung masalalunya, Naruto akan pundung.
"Biarkan saat ini sejenak saja.."Naruto mengecup kening Hinata.
Jantung Hinata semakin tak karuan berpacu makin cepat dan membuat nafasnya memburu.
Apakah ia mulai menyukai Naruto? Pasti hanya kebetulan, ia hanya pelampiasanya.
-OoO-
Bersambung~~
