SEMUSIM
Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.
Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?
Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto
PERINGATAN!
AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)
Main Chara : Naruto X Hinata
-OoOoO-
"A-aku tidak mengerti apa maksudmu?"
Hinata menatap mata Naruto.
"Kau akan mengerti setelah kau merasakannya."
Mereka saling bertatapan, Hinata tak bisa menghindar jika kenyataan yang ia rasakan saat ini adalah sesuatu telah mengganjal dihatinya.
"Aku tidak akan mengerti dan aku tidak mau mengerti."
"Kau memang perempuan keras kepala, nona Hyuuga."
"Kau juga pria pemaksa, Dokter Uzumaki."
Naruto mempersempit jarak wajah mereka dengan kedua tangannya menggenggam kedua tangan Hinata.
Cahaya lampu yang terang, serta isi ruangan itu menjadi saksi bisu antara kedua manusia yang sedang saling terpana dalam hanyutan perasaan yang tidak dapat dilisankan.
Naruto menyadari jika selama ini ia telah salah melewatkan Hinata, andai sedari dulu ia mengenalnya, mendekatinya mungkin kejadian itu tak'kan terjadi.
Hinata memejamkan matanya membiarkan bibir Naruto menyapu bibirnya, selembut mungkin Naruto melakukannya seakan takut menyakitinya.
Hinata merasakan nafas Naruto dibibirnya, membalas ciumannya yang dalam.
Dirinya seakan tak percaya dan terus memikirkan apa yang dilakukannya itu tidaklah benar. Hinata perlahan melepaskan ciuman itu, menatap Naruto yang juga menatapnya, mencari arti dari tatapan Naruto adakah dirinya hanya pelampiasan dan setelah kembali kekehidupan semula semuanya akan berakhir.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Naruto mengusap pelan pipi Hinata.
"Ini tidaklah benar, Dok." Dengan keras Hinata menepis tangan Naruto.
"Ck, bisakah kau percaya sedikit pada sebuah realita?"
Hinata berdiri dari kursinya berniat beranjak melangkah akan tetapi tangan Naruto menarik tangannya. "Jangan takabur pada kenyataan, kau harus menerimanya."
-oOo-
"Tidak! Ayah! Ibu! Jangan!"
Hinata terkejut mendengar teriakan Naruto, segera ia berlari menuju kamar sebelah yang ditempatinya.
Mendapati Naruto yang wajahnya penuh dengan keringat, terus menerus memanggil ayah dan ibunya.
"Naruto, Bangunlah." Hinata mengguncang-guncangkan bahu Naruto hingga membuatnya tersadar."Kau mimpi buruk?" Bukannya menjawab pertanyaan, Naruto malah memeluk Hinata, air matanya mengalir tak dapat ditahankan.
Hinata baru sadar, Naruto juga punya sisi rapuh dan rasa takut. Tapi separah itukah?
Pada akhirnya Hinata sendiri memutuskan untuk tidur dikamar Naruto untuk menemaninya.
Hinata berbaring disampingnya,Naruto meringkuk saat kipas dikamarnya menghembuskan angin ketubuhnya. Hinata menarik selimut yang melilit dikaki Naruto lalu menutupi tubuh pria itu. Hinata mebuai rambut pirang Naruto dan mengatakan semua baik-baik saja, padahal dia sendiri tidak tahu permasalahaannya.
Saat itu Hinata yakin, Naruto bergetar, sangat ketakutan.
Berbagai pertanyaan dan pernyataan dalam benak Hinata, telalu banyak bahkan.
Naruto melihat ayah dan ibunya berada didalam mobil dikursi depan, sedangkan dia sendiri berada dibelakang, terlihat ayah dan ibunya sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.
Naruto tidak dapat mendengar jelas apa yang mereka bicarakan tapi satu hal yang pasti, itu adalah sesuatu yang benar-benar tidak ia harapkan.
Dalam sekejap penglihatannya menjadi merah, seluruh pemandangan disekitarnya menjadi seperti lautan darah.
Ia melihat ayah dan ibunya tak sadarkan diri didepan kemudi, keduanya menunduk memmbisu.
"Ayah, bangun! Ibu, bangunlah kalian!"
Mimpi itu terus terulang. Berualng-ulang kali.
Naruto segera bangun, akan tetapi ia merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang hangat nan lembut dan sebuah nafas yang teratur.
Dengan matanya yang setengah terbuka mencoba melihatnya dan cukup tercenggang, melihat Hinata tertidur pulas disampingnya.
Dia menemaniku. Pikir Naruto dan tersenyum melihat wajah Hinata yang tenang dan damai.
Naruto mengecup pepilis Hinata lalu beranjak kekamar mandi.
Mimpi itu baru 3bulan yang lalu menghilang, tapi kenapa sekarang menghantuinya lagi?
Hinata terbangun mendapati seorang diri dikamar tak dikenalnya, namun ia ingat semalam dia menemani Naruto karena mimpi buruk. Ia menuju balkon pondok, melihat Naruto sedang berdiri menatap danau lebih tepatnya melamun.
"Pagi.." Sapa sebuah suara. Naruto menoleh mendapati Hinata yang masih terlihat berantakan karena bangun tidur.
"Pagi, nona Hyuuga." Balas Naruto dengan seukir senyum.
"Sedang apa?"
"Melihat danau, kepantai yuk?" Naruto menunggu dengan sabar.
"Hm. Aku akan pergi mandi dulu."
"Mandi? Kita bisa berenang dipantai mumpung masih pagi nih."
"Oke, baiklah."
Mereka belari dan sesekali berjalan karena letih, disepanjang pesisir pantai ada banyak juga pengunjung yang berdatangan, semakin siang semaikin ramai.
"Yuk?"
"Apa?"
"Berenang dong, memang mau ngapain?"
"Tapi aku hanya ditepian saja."
"Kenapa?"
Hinata terdiam, kakinya ia sentuhkan keair merasakan kesejukan air laut itu.
"Aku..."
"Hm?"
"Nanti aku menyusul. Setelah airnya sedikit hangat."
"Osh.. Panggil aku kalau butuh bantuanku."
Naruto segera berlari kearea lebih dalam lagi dan berenang disana bersama para pengunjung lainnya.
Hinata mengingat dulu sewaktu kecil ayahnya memaksanya belajar berenang untuk mengikuti kelas khusus, sampai kakinya cedera dan tak bisa ikut kompetisi tetapi ia memaksakan diri hingga tenggelam dikedalaman 5meter.
Beruntung tim penyelamat menolongnya tepat waktu kalau tidak, kemungkinan dia bisa tewas seketika.
Jika teringat akan kejadian hal itu, membuatnya paranoid.
Hinata menatap pilu pada lautan. Takut. Takut terjadi lagi.
"Oooooi Hinata! Ayo ayoooo!" Teriak Naruto
Hinata? Baru kali ini ia mendengar Naruto memanggil lagi nama depannya.
Ia berdoa dalam hati agar semua yang telah berlalu takkan pernah terjadi lagi.
Perlahan ia berenang dengan baik, tetapi ketika kakinya jauh dari perpijakan ia kehilangan kendali.
Gelap.. Gelap..
Semuanya gelap gulita, hanya terdengar seseorang menyebut namanya.
"Hinata..."
"Hinata..."
"Uhuuk.." Mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba melihat dengan jelas, mata amethyst itu tampak sayu.
"Hinata.." Suara itu lagi yang hanya didengarnya.
"Ugh.." Hinata mengerang, merasakan sesak, dan saat matanya terbuka ia terkejut Naruto sedang menciumnya.
Didepan umum.
Plak!
Refleks tangannya menapar pipi Naruto.
"Apa yang kau lakukan?! Dia menolongmu yang hampir mati! Dasar perempuan tak tahu terimakasih!" Ibu itu memarahi Hinata yang dengan mudahnya berlaku kasar pada orang yang menyelamatkannya.
A-apa y-yang k-kulakukan.
"Tak apa.. Yang penting kau selamat.." Ujar Naruto berdiri, memapah Hinata menjauh dari kerumunan itu.
Maafkan aku.. Kata itu tak bisa keluar dari mulutnya yang kelu.
"Beristirahatlah, akan kuambilkan air untukmu.." Kata Naruto, lalu pergi kesebuah stand.
Dari jauh Hinata melihat punggung Naruto. Mendadak hatinya sesak lagi.
Ada apa denganku? Perasaannya mulai tidak karuan.
Saat Naruto kembali membawa kelapa hijau, mata Naruto tertegun melihat wajah Hinata yang berlinang air mata.
Setelah menaruh kelapa dimeja samping kursi sandar Hinata kedua tangan Naruto menangkup pipi Hinata, mengusap air matanya.
Hinata mendongak, menatap mata teduh Naruto. Ketika itu juga hati Hinata mencelos. Rasa sakit menusuk jantungnya.
"A-a-aku..." Ucapnya terbata-bata.
"Iya?" Bisik Naruto, lalu mengecup kening Hinata, kali ini Hinata terdiam tanpa reaksi perlawanan apapun.
Ada apa denganku?
-oOo-
Bersambung~
Sampai jumpa dan terimakasih :D
