LOVE DUNK KRAY VERSION
Author -Takii_yuuki-
Editor -PURPLE DEVIL-
Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]
Main cast :
Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris
Kim Woobin – Lee Jongsuk
Clara Lee, Jung Taekwon
Rating : M
Length : Chaptered
Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama. Pin bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F
Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih amatiran, tulisan bercetak miring itu tanda flashback dll
Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.
Mohon sekali lagi dibaca warningnya, ini Pair Kris Lay jadi yang tidak suka couple ini, mending gak usah dibaca daripada nanti kecewa dan menghina author.
Ini ff kerjasama antara -PURPLE DEVIL dan saiaa sendiri.
MAAF KALAU ALURNYA TERLALU CEPAT, LONCAT-LONCAT, MEMBOSANKAN, GAK JELAS, KEPANJANGAN, MOHON MAAF SEKALI LAGI.
Happy reading...
Chapter 2
"Woobin-a, Binnie-a kau marah padaku?" Yixing mengejar Woobin yang berjalan selangkah di depannya. Sejak pagi, berangkat ke kampus Woobin tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hal itu membuat Yixing sedih."Woobin-a, aku minta maaf.. Harusnya aku memberimu kabar tapi aku lupa.. Maafkan aku.." Woobin tidak bergeming, ia terus melanjutkan jalannya."Yak..! Kim Woobin berhenti!" Teriakan Yixing membuat Woobin berhenti. Ia berbalik dan menatap Yixing dengan wajah yang terkesan datar. Yixing pun menghampirinya, "Kau benar-benar marah padaku? Kau tidak mau bicara padaku lagi?" tanya Yixing dengan mata yang kelihatan berkaca-kaca.
"Huft~" helaan nafas pun terdengar dari bibir Woobin, ia paling tidak bisa melihat tangisan Yixing. Woobin pun menghampirinya dan langsung memeluknya "Jangan menangis, aku tidak marah, aku hanya khawatir saja padamu.. Kumohon jangan menangis Xing.." Woobin mencoba menenangkan Yixing dengan mengusap-usap punggung Yixing pelan.
"Sungguh? Kau tidak marah padaku?" Ucap Yixing setelah melepaskan pelukannya pada Woobin.
"Iya, aku hanya khawatir padamu.. Kau tahu kan betapa bahayanya Seoul pada malam hari?! Kalau terjadi apa-apa denganmu seperti saat itu, aku pasti akan merasa bersalah sekali padamu karena tidak bisa menjagamu.. Aku sudah berjanji pada orang tuamu sebelum mereka meninggal kalau aku akan menjagamu" jelas Woobin memeluk Yixing kembali.
"Maafkan aku.. Besok kalau aku pergi, aku akan mengirim pesan padamu" Sesal Yixing dengan mengeratkan pelukannya pada Woobin. Woobin yang masih memeluk Yixing hanya mengangguk pelan membalas perkataan Yixing, tak berapa lama mereka berdua segera melepas pelukan mereka.
Woobin mengusap airmata Yixing. "Jangan menangis.. Kau jelek kalau menangis." Yixing pun tersenyum.
"Yixing!" panggil Yifan. Yixing berbalik dan melihat Yifan berlari kearahnya.
"Yifan.." balas Yixing.
"Hei, Xing.. Hmm.. Hei Woobin" Yifan membawa tas yang cukup besar sepertinya berisi makanan.
"Hem.." balas Woobin.
"Ada apa?" tanya Yixing lembut.
"Kalian mau makan bersamaku? Hari ini Umma-ku berulang tahun, dia membuat makanan yang cukup banyak. Jadi aku membawanya kemari."
"Umma-mu berulang tahun hari ini? Selamat ulang tahun untuk umma-mu.."
"Terima kasih Xing.. Akan aku sampaikan ucapanmu pada umma-ku."
"Bagaimana Binnie-a, kau mau kan ikut makan bersama kami?" tanya Yixing penuh harap. "Maaf aku tidak bisa, aku harus latihan. Kalian makan berdua saja. Sisakan untukku nanti." "Padahal aku ingin sekali kita bertiga makan bersama" Ucap Yixing sambil mem-poutkan bibirnya imut.
"Besok ya, hari ini pelatih Cho mengajak kami berlatih dengan Team Warrior dari Universitas Shawol."
"Benarkah, hari ini kalian berlatih dengan mereka?" tanya Yifan tak percaya. "Beruntung sekali kalian bisa berlatiih bersama mereka." Lanjut Yifan sedih.
Yixing yang melihat perubahan raut wajah Yifan segera mengalihkan perhatiannya "Yifan, ayo kita makan. Aku lapar. Woobin-a, selamat berlatih." Yixing menggandeng lengan Yifan dan mengajaknya pergi. Woobin terkejut dengan perlakuan Yixing pada Yifan yang menggandengnya tiba-tiba. Ingin sekali ia menarik Yixing dari Yifan tapi mereka sudah jauh dari pandangan. Woobin hanya mengepalkan tangannya dan pergi ke ruang latihan.
.
.
Dibelakang kampus, dibawah pohon maple. Yixing dan Yifan menikmati makanan yang dibawa Yifan dari rumah. "Eum, enak sekali. Umma-mu pintar sekali memasak Yifan." Puji Yixing saat menikmati sup rumput laut buatan Umma Yifan.
"Terima kasih." Jawab Yifan dengan nada lesu. Yixing tahu kalau Yifan sedih karena ia tak bisa berlatih dengan Team Warrior karena sejak tadi ia hanya diam saja.
"Yifan.." panggil Yixing.
"Ya, kenapa Xing?" Yifan menatap Yixing.
"Aku tahu kau sedih karena tidak bisa berlatih dengan mereka, tapi kau masih bisa melakukan hal lain yang bisa mengurangi kesedihanmu."
"Melakukan apa?" tanya Yifan bingung.
"Maukah kau ikut aku ke rumah sakit?" ajak Yixing.
"Ke rumah sakit? Untuk apa?" Tanya Yifan bingung.
"Jadi relawan."
"Kau tidak kerja lagi? Apa kau libur hari ini?"
"Sepulang dari rumah sakit, aku langsung kerja."
"Kapan kita kesana?"
"Hari ini aku hanya ada 1 kelas, bagaimana kalau setelah kuliah?" ajak Yixing pada Yifan.
"Baiklah." Balas Yifan dengan tersenyum manis pada Yixing dan mereka pun melanjutkan makannya, terkadang Yixing menyuapi Yifan begitu juga dengan Yifan yang balik menyuapi Yixing.
.
.
Sesuai dengan rencana mereka Setelah kuliah berakhir, Yixing dan Yifan pergi ke rumah sakit. Sebelum bekerja, mereka menganti baju mereka dan memulai pekerjaan mereka. Yixing bertugas di bangsal anak-anak.
"Hei anak-anak, Yixing hyung datang." Sapa Yixing yang masuk bersama Yifan.
"Yixing hyung..!" anak-anak berlari kearah Yixing dan memeluknya."Yixing hyung bawa apa?"
"Maaf hyung tidak membawa apa-apa untuk kalian?" ucap Yixing dengan wajah sedikit kecewa.
"Benarkah hyung?" tanya salah satu anak dari rumah sakit itu.
"Bercanda.. Hyung membawa kue untuk kalian."
"Kue? Yeayy..." teriak mereka senang saat Yixing mengatakan akan memberikan kue pada mereka,"Hyung dia siapa?" tanya salah satu pasien dengan menunjuk kearah Yifan
"Kenalkan dia Yifan hyung, dia teman hyung juga.. Yifan hyung ini jago bermain basket"
"Benarkah hyung?!" tanya mereka dengan mata berbinar. Yixing pun membalas perkataan mereka dengan menganggukan kepala-nya pelan,
"Kami ingin bermain hyung, kami ingin main."
"Boleh, tapi kalian harus makan kue nya dahulu, biar nanti kalian kuat dan bisa mengalahkan Yifan hyung."
"Nde, kue nya mana?" Yifan maju dan membagikan kue kepada mereka.
Setelah kue dibagi, Yifan berbisik pada Yixing, "Bagaimana aku bisa bermain basket? Kau tahu keadaanku kan Xing."
"Mereka bukan pemain basket pro Yifan, kenapa kau harus takut. Lihat ring basketnya, sambil duduk saja kau bisa memasukkan bolanya ke ring. Pura-pura kalah di depan mereka, buat mereka senang."
"Maaf, aku tidak tahu, ku kira di lapangan basket yang besar."
"Mereka sedang sakit Fan, bagaimana mungkin mereka bermain di lapangan yang besar? Lagipula mereka hanya anak-anak Yifan."
"Baiklah." Yifan menyiapkan dirinya untuk bermain dengan anak-anak yang ada dirumah sakit itu, Setelah mereka selesai makan kue yang dibawa Yixing, mereka menagih janji pada Yifan untuk bermain basket. Yifan memenuhi permintaan mereka dan bermain basket bersama. Beberapa memilih untuk bermain basket sisanya melakukan kegiatan lain. Yifan dan anak-anak bermain basket dengan riang, kadang ia menggendong anak-anak itu untuk memasukkan bola ke dalam ring.
"Yeayy.. Lebron James memasukkan bola ke dalam ring, 3 angka untuk kemenangan Heat." Yifan menyoraki seorang anak yang memasukkan bola ke dalam ring. Ia menggendong anak itu di atas punggungnya dan berputar-putar sejenak, mereka sangat senang dengan kedatangan Yifan. Kadang Yifan terjatuh dan membiarkan anak-anak itu memasukkan bola ke dalam ring sendiri, Yifan memberi ekspresi kekalahan yang lucu menurut Yixing.
"Akhh gagal!" seru Yifan. Yixing tersenyum melihat Yifan tidak bersedih lagi, setidaknya ini bisa membantu Yifan untuk tidak terlalu memikirkan tentang penyakitnya.
.
.
Di ruang latihan, Woobin sedikit tidak berkonsentrasi. Beberapa kali perlatih Cho memberi peringatan. Sepertinya Woobin tidak berkonsentrasi setelah kejadian tadi pagi.
"Woobin, konsentrasi!" Seru pelatih Cho Woobin mengangguk dan dia kembali mendribble bolanya. 'Yixing..!' gumam Woobin. Ia mengoper bolanya pada Sehun. Ia pun meminta izin pada pelatih untuk beristirahat. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Yixing.
Tut-tut-tut! Woobin mendesah kecewa saat Yixing tidak menjawab panggilan nya "Yixing angkat teleponnya, kau dimana?" tanya Woobin frustasi Saat ia akan menghubungi Yixing untuk yang kedua kali, pelatih Cho memanggilnya,"Woobin, kembali latihan."
"Akhh.." ia membanting ponselnya. "Nde pelatih," kemudian ia kembali ke lapangan dengan perasaan tidak menentu.
.
.
Jam kerja Yixing sudah selesai, mereka berdua membungkuk hormat pada staff rumah sakit dan pergi meninggalkan rumah sakit. Yifan menawarkan diri untuk mengantar Yixing, dengan senang hati Yixing menyambutnya karena jarak rumah sakit dan tempat kerjanya cukup jauh.
"Kau senang?" tanya Yixing membuka pembicaraan.
"Nde, senang sekali."
"Mereka anak-anak yang hanya memiliki harapan hidup tak lama Yifan." Ucap Yixing serius.
"Maksudmu?" "Sebagian besar anak-anak disana mengalami penyakit yang kesempatan hidupnya kecil. Moonkyu, dia mengalami kanker otak, Hankang, Kanker darah, bahkan ada yang mengalami kanker tulang. Jimin, yang duduk di kursi roda tadi, dia mengalami kanker tulang stadium 4. Segala macam operasi sudah dilakukan tapi dokter sudah menyerah. Kau tahu, apa cita-citanya?"
"Apa?"
"Jadi atlet ice skating seperti Kim Yura-' Yixing memberi jeda '-tapi kau tahu kalau itu tidak mungkin. Mengingat penyakit itu menggerogoti tulangnya hingga dia tidak bisa berjalan lagi." Yifan hanya terdiam mendengar cerita Yixing. "Kau tahu, kau lebih beruntung dari mereka Fan, kau masih bisa mewujudkan cita-citamu sebagai pemain basket sedangkan mereka hanya bisa bermimpi. Kau hanya perlu bersabar agar kau bisa kembali seperti dulu, tubuhmu sehat tidak perlu terapi atau pengobatan dokter untuk menyembuhkannya tapi kau hanya perlu tekad dan kesabaran, itu saja. Mungkin kau tidak bisa berlatih bersama dengan Team Warrior yang selalu kau impikan tapi nanti kau akan menjadi pemain hebat dan melawan Team yang tangguh dari mereka. Jalanmu masih panjang Fan. Kau jangan takut." Ucapan Yixing membuat Yifan terhenyak, ia merenungkan semua yang dikatakan Yixing dan memang Yixing benar, ia masih beruntung dan tidak semua orang dapat seperti dia. Yifan melirik Yixing, 'Aku tahu kenapa Woobin menyukaimu Xing, dia overprotectiv padamu lebih dari hyung ke dongsaengnya tapi seorang namja yang sangat mencinntaimu.' Bathin Yifan. Yifan menyentuh dadanya. 'Andai saja aku mengenalmu lebih cepat Xing.'
.
.
"Terima kasih Fan sudah mengantarku." Ucap Yixing sambil membungkuk, Yifan tersenyum sebagai balasannya, tak lama kemudian Yixing masuk ke dalam bookstore, Yifan memandang punggung Yixing yang mulai menjauh 'Semakin lama, aku ingin mengenalmu Xing.' bathin Yifan saat punggung Yixing yang semakin menjauh dari pandangan nya dan Yifan pun meninggalkan tempat itu setelah melihat Yixing masuk ke bookstore itu.
#
Sebelum bekerja, Yixing pun mengambil ponsel-nya yang ada di tasnya,ia ingin mengirim pesan pada Woobin kalau dia sudah berada di tempat kerja tapi saat ia membuka layar ponselnya? Ia melihat satu panggilan tak terjawab dari Woobin 'ada apa Woobin menelponku' bathinnya dan Yixing pun mencoba menghubungi Woobin kembali tapi tidak aktif.
"Lebih baik aku mengirim pesan saja, mana tau saat dia membuka ponsel nya? Dia membaca pesanku" Setelah mengirim pesan, Yixing pun memasukkan ponselnya dalam saku celananya kemudian melayani para pelanggan yang mencari buku.
.
.
Malam harinya saat pulang kerja, Woobin menunggu Yixing diluar. Ia duduk di motornya sambil membawa hot cokelat, minuman favorit Yixing. KLING! Yixing keluar dari tempat dirinya bekerja. Ia melihat Woobin yang menunggunya, segera ia menghampirinya.
"Woobin-a.." panggil Yixing sambil berlari. Karena jalan cukup licin Yixing terpleset dan terhuyung ke depan, Woobin bereaksi dan menangkapnya.
HUP!"Yixing kau tidak apa-apa?" tanya Woobin panik Yixing menetralkan nafasnya yang sedikit terengah-engah. Woobin membantu Yixing berdiri.
"Ak-aku baik-baik saja.. Huh hampir saja."
"Hati-hati Xing, kau ini ceroboh sekali."
"Kau kan selalu ada untukku, jadi aku tidak takut."
"Aku tidak selalu ada untukmu Xing."
"Kalau begitu,aku harus belajar mandiri mulai sekarang.. Apalagi saat kau punya kekasih, aku akan lebih banyak sendiri. tapi setidaknya kau akan-" ucapan Yixing terpotong saat Woobin menyodorkan Hot cokelat padanya.
"Minum, lihat bibirmu sampai biru begitu." Yixing hanya bisa membeo mendapat cokelat dari Woobin."Minum!" perintah Woobin, akhirnya Yixing meminumnya,
"Terima kasih." Ucap Yixing. Woobin tersenyum geli melihat sisa cokelat yang menempel pada bibir Yixing.
"Selalu saja, kau mencari kesempatan ya?"
"Apa maksudmu?" tanya Yixing bingung. Woobin memegang dagu Yixing dan mencium bibirnya yang terdapat bekas cokelatnya (seperti adegan di parodi secret gardennya bigbang pas Joo-T.O.P cium G-Raim) Yixing terkejut dengan ciuman Woobin yang tiba-tiba. Yixing pun segera menjauhkan dirinya dari Woobin.
"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Yixing gugup.
"Membersihkan bibirmu dari sisa cokelat. Kau tidak tahu bibirmu belepotan cokelat. Ayo pulang, sudah malam." Woobin menyodorkan helmnya pada Yixing, walaupun dia sedikit 'hangover' karena ciuman mendadak dari Woobin tadi, Yixing pun menerimanya. Setelah Yixing membonceng Woobin, mereka segera meninggalkan toko.
Di seberang jalan mereka tidak melihat ada seorang namja mencengkram dadanya erat melihat kemesraan Woobin dan Yixing. Jongsuk, namja manis dengan kulit seputih susu itu meneteskan airmatanya setelah melihat Woobin mencium Yixing, ia merasa tidak ada harapan lagi untuknya mendapatkan Woobin. Jongsuk mengusap airmatanya dan meninggalkan tempat itu.
.
.
Yixing menemani Yifan beristirahat setelah berlatih. Mereka berbincang tentang kuliahnya, hingga suara yeoja menginterupsi mereka. "Oh jadi disini, tempat baru untuk mantan kapten Wolf Descendant, Wu Yifan." Sindir Clara. Yifan mendengus mengabaikan suara Clara. Ia melanjutkan bicaranya dengan Yixing,
"... benarkah, ku kira Dosen Kim memberikan semua mahasiswanya dengan nilai C."
"Aku dapat B kemarin." sahut Yixing.
"Kau beruntung sekali.."
"Ekhemm.. sekarang juga berteman dengan namja level rendahan dan hanya bekerja sebagai penjaga toko buku. Poor Yifan.." Yixing terdiam mendengar perkataan Clara yang seakan sedang menyindirnya. Yifan membanting handuknya dan berdiri menghampiri Clara.
"Apa maumu? Kau ingin kembali padaku? Kenapa kau peduli sekali padaku."
"Kembali padamu? Cihh! Dalam mimpi-mu."
"Dalam mimpi-ku? Cihh! Aku pun juga tidak sudi." Balas Yifan tak kalah kejam "Kau berpacaran dengan Kang Taewoo kan? Kapten Tim Wild Cat. Ku lihat kemarin dia jalan dengan seorang yeoja di mall, benarkan Xing?" Yifan menoleh pada Yixing dan mengedip pada Yixing, Yixing mengerutkan dahinya dan melihat isyarat Yifan iya-kan-saja.
"Nde-nde, aku lihat kemarin."
"Apa? Dia tidak mungkin seperti itu. Dia itu setia, tidak sepertimu."
"Terserah. Aku capek meladeimu, lebih baik aku latihan lagi daripada melihatmu." Yifan mendekatkan wajahnya ke wajah Clara, ".. Kau pasti memakai bb cream merk itu kan?"
"Mwo?"
"Kau kelihatan tua dengan riasan itu, trust me!" Yifan meninggalkan Clara dan menggandeng Yixing untuk meninggalkan lapangan. Clara buru-buru mengambil kaca dan melihat wajahnya, "Apa benar aku terlihat tua? Aku sudah melakukan perawatan mahal untuk ini. Arrghh Wu Yifan, awas kau." Geram Clara.
.
.
Yifan berlari bersama Yixing, mereka berhenti ditikungan. Yifan tertawa terbahak-bahak setelah mengerjai Clara, ia sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. "Kau kenapa Fan?" tanya Yixing bingung.
"Kau lihat wajahnya tidak? Dia panik sekali saat aku bilang dia terlihat tua dengan riasannya."
"Kau jahat sekali padanya."
"Yeoja seperti itu, sekali-kali harus diberi pelajaran Xing." Tiba-tiba ada pengendara sepeda yang mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi.
"Awas!" ia memperingati semua orang termasuk Yifan dan Yixing. Yifan yang melihat hal itu segera menarik pinggang Yixing hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Yifan memeluk Yixing untuk melindunginya.
DEG~ jantung Yixing berdetak saat tubuhnya menempel pada Yifan, begitu juga dengan Yifan merasakan hal yang sama. Mereka dalam posisi berpelukan cukup lama hingga ada suara yang membuyarkan adegan romatis mereka.
"Gwechana? Kalian baik-baik saja?" tanya pengendara itu. Si pengendara itu berhasil mengerem sepedanya dan menghampiri Yifan-Yixing. Mereka berdua segera melepaskan pelukan mereka. Wajah Yixing memerah malu dan gugup.
"Nde, k-kami baik-baik saja" jawab Yifan sedikit gugup.
"Maafkan aku, sepertinya rem-nya rusak jadi aku tidak bisa mengendalikan sepedaku." "Tidak apa-apa. Tenang saja, kami baik baik-baik saja."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi maaf." Si pengendara itu membungkuk meminta maaf kemudian pergi meninggalkan Yifan-Yixing. Yifan tersenyum mengiyakan. Setelah kepergian pengendara itu, suasana menjadi canggung, hingga Yixing membuka pembicaraannya.
"Eum Yifan, maaf tapi aku harus berangkat kerja. Aku sudah terlambat."
"Aku antar."
"Tidak usah, Woobin sudah menungguku. Bye." Ucap Yixing sambil melambai pada Yifan, kemudian ia buru-buru pergi. Ia mencoba menetralkan jantungnya yang juga berhenti berdetak kencang setelah dipeluk Yifan. 'Yixing apa yang terjadi denganmu?' tanyanya sambil berlalu.
Yifan menyentuh dadanya, 'aku kenapa? Belum pernah jantungku berdetak sekeras ini. Yifan, wake up.' Yifan menepuk pipinya kemudian ia melanjutkan berlarinya.
.
.
"Apa yang terjadi tadi? Kenapa Clara tiba-tiba mendatangiku dan memarahiku. Dia memintaku menjagamu dari Yifan.. Apa maksudnya?" tanya Woobin saat mereka makan malam setelah menjemput Yixing pulang kerja.
"Oh tadi, Yifan mengerjai Clara." jawab Yixing santai.
"Mengerjai Clara? Maksudnya?" tanya Woobin semakin penasaran.
"Yifan bilang pada Clara kalau Clara kelihatan Tua karena make-up yang dia pakai. Lucu sekali tadi." Jawab Yixing senang.
"Kau semakin akrab dengan Yifan."
"Aku harus mengembalikan semangatnya, dan sepertinya usahaku berhasil..Yifan tidak murung lagi." Jawabnya sambil tersipu. Pipinya terlihat merona memikirkan kejadian yang membuat jantungnya berdetak.
"Kau kenapa? Kenapa pipimu memerah?"
"Ani-aniyo, aku baik-baik saja." Jawabnya bohong. "Kau demam?" Woobin menempelkan tangannya di dahi Yixing tapi buru-buru Yixing menepisnya.
"Aku-aku tidak apa-apa Woobin, kau jangan berlebihan begitu." Ucap Yixing sedikit emosi.
"Yixing.. kau kenapa sih? Kenapa kau marah-marah? Aku kan bertanya baik-baik padamu." tanya Woobin tak kalah emosi.
"Kenapa kau membentakku Woobin?" tanya Yixing tak percaya karena Woobin membentaknya.
"Yi-Yixing ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu, maaf Xing." Yixing berdiri dan meninggalkan Woobin. Tak lupa ia meninggalkan uang dimeja untuk membayar makannya.
"Yixing! Yixing!" panggil Woobin berulang kali namun Yixing tak mendengarkan dan terus berlalu. Woobin memanggil pelayan dan membayar bon-nya yang kemudian mengejar Yixing. "Yixing!" Woobin berlari mengejar Yixing dan akhirnya berhasil menggapainya. Ia menarik pundak Yixing dan merengkuhnya,
"Maaf, maafkan aku. Aku lelah, aku tak sengaja membentakmu, maaf Xing." Yixing terisak di dada Woobin. "Maaf ya, jangan menangis..Ssstt.. aku minta maaf." Sesal Woobin, setelah agak lama dalam posisi berpelukan,Yixing melepas pelukan Woobin dan menatap Woobin dengan mata sedikit berkaca-kaca
"Kau tidak akan marah lagi kan padaku?"
"Nde, aku tidak akan memarahimu lagi. Aku minta maaf. Kita pulang sekarang, sudah malam." Ajak Woobin.
"Tapi aku ingin beli es krim." Pinta Yixing manja. Woobin menghela nafas sambil tersenyum "Baiklah, kita beli es krim, setelah itu kita pulang." Yixing mengangguk mengiyakan dengan penuh semangat.
.
.
Beberapa waktu kemudian, hubungan Yixing dan Yifan semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu berdua, Yifan menikmati menjadi relawan di rumah sakit bersama Yixing sedangkan Woobin, ia sibuk latihan untuk persiapan liga basket. Kondisi Yifan juga sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Sekarang kita latihan apa?"
"Ayo ikut aku." Ajak Yixing Yifan sedikit bingung dengan ajakan Yixing tapi ia menurut saja. Akhirnya mereka sampai di sebuah halte bis.
"Halte bis? Untuk apa kita kemari?" tanya Yifan mulai bingung. Yixing mengambil sesuatu dari tas-nya. "Tali kernmatle? Sit harnes?carabiners? untuk apa semua ini? Kau tidak memintaku bergelantungan di tebing dan bermain basket kan?" tanya Yifan sedikit heboh.
Yixing terkekeh "Tentu saja bukan tapi kalau kau mau juga tidak apa." Goda Yixing.
"Yak Zhang Yixing jangan bercanda." Yifan semakin penasaran.
"Kau akan lihat nanti." Yixing mulai memasangkan alat-alat itu pada Yifan.
"Hei kau mau apa?" Yixing tak menjawab, ia melihat jam tangannya. Beberapa menit kemudian bis sekolah datang. Yixing menarik tali yang terpasang di tubuh Yifan dan mengaitkan carabiners itu di kait belakang bis.
"Bis ini berjalan 20 km/jam, mengitari komplek ini sejauh 5 km. Kau berlari sambil mendrible bolanya. Aku akan mengikutimu dari belakang."
"APA!"' teriak Yifan.
"Bis-nya sudah jalan Yifan. Ayo lakukan.." Yifan yang awalnya gelagapan kemudian mengikuti instruksi Yixing, mendrible bola sambil berlari dibelakang bis.
"Semangat Wu Yifan..!" Yixing menyemangati Yifan dengan mengikutinya menggunakan sepeda sambil bersorak, meskipun lelah tapi Yifan menikmati latihan yang dia lakukan sekarang.
Duk-duk-duk! Yifan mendrible bola-nya dengan penuh semangat, dan stabil. Hal ini membuat Yixing cukup senang karena usahanya tidak sia-sia. 'Semangat Yifan, kau pasti bisa.'
.
.
Dari jauh, pelatih Cho mengamati latihan Yifan, ia manggut-manggut melihat perkembangan Yifan yang menunjukkan peningkatan. Ia tersenyum puas melihat kesungguhan Yifan.
Sedangkan di pihak lain, Woobin hanya bisa terdiam melihat Yixing begitu bersemangat saat menemani Yifan 'Apa keputusanku mengenalkan Yixing pada Yifan salah? Kenapa hatiku sakit melihat kebersamaan mereka? Bagaimana jika akhirnya mereka saling menyukai? Aku akan kehilangan Yixing?' bathin Woobin pilu. Ia melihat Yifan dan Yixing berbincang akrab setelah latihan.
.
.
"Yixing ikut aku!" Yifan menarik Yixing saat Yixing baru saja keluar dari toilet.
"Kita mau kemana?" tanya Yixing bingung.
"Nanti kau juga akan tahu." Yixing menurut saja saat Yifan menyuruhnya masuk mobil. Yifan melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. 15 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.
"Rumah sakit? Kita kan tidak ada jadwal hari ini."
"Memang tidak.. tapi nanti kau akan tahu." Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Yifan mengajak Yixing masuk ke bangsal anak-anak.
"Kenapa hari ini ramai sekali? Ada apa?" tanya Yixing bingung.
"Lihatlah.." Yixing melihat ke dalam dan ia benar-benar terkejut setelah melihat bahwa hari itu Kim Yura, atlet ice skating – Kim Yura datang. Yura memberi medali pada Jimin. Jimin begitu bahagia bisa bertemu dengan idolanya. Yixing terharu melihat pemandangan itu, ia berbalik dan menatap Yifan.
"Bagaimana Yura bisa ada disini?"
"Dengan Sedikit bantuan dari Umma-ku,dia setuju untuk kemari."
"Umma-mu kenal Yura?"
"Dia model di majalah Umma-ku. Jadi tidak sulit untuk membawanya kemari." Jawab Yifan santai. Kemudian Para suster juga membagikan bingkisan pada anak-anak.
"Kau juga yang menyiapkan hadiah itu?"
"Sedikit berbagi kurasa tidak ada salahnya."
"Yifan.. kau benar-benar baik." Puji Yixing.
"Itu semua karenamu." Ketika Yixing berbalik tiba-tiba saja Yifan memeluk Yixing dari belakang dan melingkarkan tangan-nya di perut Yixing dengan menaruh dagu nya di pundak Yixing, Yifan bisa mencium aroma tubuh Yixing dengan jarak sedekat ini.
Deg~ Yixing terkejut namun ia hanya terdiam. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya memerah menahan gugup. Beruntung Yifan tidak melihatnya, jika Yifan melihatnya, ia akan malu.
"Hidupku berubah saat bertemu denganmu, terima kasih Zhang Yixing. Kau mengajarkan padaku apa arti hidup yang sebenarnya." Tangan Yixing bergerak pelan menyentuh tangan Yifan yang melingkar di perutnya, awalnya ia ragu tapi ia memberanikan diri untuk menyentuhnya. Mereka menikmati kebersamaan itu sambil melihat anak-anak yang bergembira dari luar bangsal.
.
.
"Yixing..!" panggil Woobin. Yixing berbalik saat suara yang ia kenal memanggil-nya dan ia melihat Woobin berjalan kearahnya, "Woobin, ada apa? Kau terlihat senang sekali." tanya Yixing setelah melihat senyum cerah Woobin padanya.
Woobin menggenggam kedua tangan Yixing. "Aku ikut seleksi Team Korean Warrior, kau tahu kan Korean Warrior, team itu adalah salah satu team yang berlaga di liga basket internasional."
"Benarkah? Kapan seleksinya?" tanya Yixing ikut bahagia mendengar berita dari Woobin. "Minggu depan, minggu depan aku kut seleksinya."
"Kalau begitu, kau harus berusaha Woobin-a, aku yakin kau pasti berhasil."
"Terima kasih Xing, kalau begitu, sekarang aku akan mentraktirmu makan di kantin."
"Jinjja? Mentraktirku." Woobin mengangguk dan menarik tangan Yixing menuju kantin.
.
.
Siang hari ~ Yixing sedang berjalan menuju perpustakaan, tiba-tiba ia melihat pelatih Cho keluar dari ruang guru.
"Pelatih Cho," panggil Yixing. Ia menghampirinya dan membungkuk memberi hormat pada pelatih Cho.
"Yixing, ada apa? Kau ada perlu denganku?"
"Nde, begini pelatih, aku ingin membicarakan sesuatu dengan anda."
"Mengenai apa?"
"Yifan, ini tentang Yifan. Apa anda sibuk sekarang?"
"Sebenarnya aku ada urusan tapi itu tidak terlalu penting, kita bicara di dalam ruanganku saja." Ajak pelatih Cho. Yixing mengangguk dan masuk ke ruang pelatih Cho.
#
"Kau ingin bicara apa?" pelatih Cho memulai pertanyaannya.
"Ini mengenai Yifan, beberapa bulan ini, dia sudah menjalani latihan yang cukup dan aku melihat kalau Yifan menunjukkan tanda-tanda dia sudah sembuh. Apa mungkin Yifan bisa kembali ke team lagi dan ikut liga basket bulan depan?" tanya Yixing penuh harap.
"Ya, aku juga melihat perkembangan Yifan selama 2 bulan ini. Sebenarnya dia sudah bisa kembali tapi-' kata-kata pelatih Cho terpotong, ia menghela nafas berat.
"Ada apa pelatih? Bukankah kalau dia sudah sembuh, dia bisa kembali bermain basket kan? Kenapa anda berkata sepertinya dia tidak bisa kembali lagi bermain basket? Ada apa?"
'-Kepala sekolah tidak mengizinkan Yifan kembali ke team basket." pelatih melanjutkan perkataan dengan mendesah kecewa
"Wae? Ada apa? Apa salah Yifan?"
"Kau tahu Clara Lee?"
"Nde, aku tahu, ada apa dengannya?"
"Dia adalah keponakan kepala sekolah dan dia menyebarkan berita buruk tentang Yifan. Tentang penyakitnya."
"Apa? Kenapa dia melakukan hal ini? Apa tidak ada jalan lain? Kumohon pelatih, bantulah Yifan. Dia sudah berlatih keras selama ini." Pelatih Cho berpikir keras. Yixing harap-harap cemas menanti jawaban Pelatih Cho.
"Ada satu orang yang bisa membantu."
"Siapa dia Pelatih?"
"Jung Taekwoon yang biasa di panggil Leo, ia tidak suka di panggil dengan nama asli-nya, ia putra kepala sekolah. Kalau kau bisa menyakinkan dia bahwa Yifan baik-baik saja, Leo akan menyampaikan hal itu pada kepala sekolah dan kepala sekolah akan mengizinkan Yifan kembali ke team."
"Jung Taekwoon.." Yixing memikirkan nama itu berulang kali. Ia menatap pelatih Cho dengan tatapan sulit diartikan.
.
.
"Jung Taekwoon.." panggil Yixing menghampiri Taekwoon atau yang biasa dipanggil Leo yang saat itu sedang istirahat di ruang sekretariat, menegakkan badannya dan melihat kedatangan Yixing.
"Siapa kau?"
"Namaku Zhang Yixing."
"Zhang Yixing?" Leo mengerutkan dahinya, ia merasa tidak mengenal Yixing sebelumnya. Ia melihat Yixing dari atas ke bawah, 'Dia manis juga,' Bathinnya.
"Aku bukan siswa populer jadi kau tidak mungkin mengenalku, tapi aku sahabat dari Kim Woobin, kapten team basket Wolf Descendant. Team basket kampus kita."
"Kim Woobin?-' Leo berpikir sejenak '-ah Woobin, ya aku tahu dia. Dia akan ikut seleksi team Korean Warrior minggu depan. Ada apa? Kau ingin bicara tentang Woobin dan seleksinya atau bagaimana?" tanya Leo sambil melipatkan tangan di depan dadanya, jujur saja ia tidak suka saat namja manis yang di depan-nya ini memanggilnya dengan nama asli tapi ya mau bagaimana lagi sudah terlanjur, Yixing menggeleng, "Bukan, aku ingin bicara tentang Yifan."
"Yifan? Wu Yifan? Kenapa dengannya? Ku dengar dia sudah tidak bisa bermain basket lagi?"
"Kau salah, Yifan tidak sakit apapun. Memang beberapa bulan lalu dia mengalami sindrome x tapi sekarang dia sembuh. Percaya padaku."
"Apa jaminannya kalau dia sudah sembuh? Sindrome X, penyembuhannya cukup lama, bagaimana hanya dalam waktu 2 bulan, dia bisa sembuh secepat itu?"
"Dia sudah sembuh, pelatih Cho saja percaya padaku. Kumohon padamu izinkan Yifan bergabung dengan team basket lagi. Tolong sampaikan pada kepala sekolah bahwa Yifan bisa bermain dan dia sudah sembuh. Yifan tidak sakit parah seperti yang diceritakan Clara, tolong percaya padaku. Aku akan lakukan apapun asal dia bisa kembali bermain." Leo mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Sungguh kau ingin melakukan apapun asal dia kembali ke team basket?" Yixing mengangguk membalas perkataan Leo Leo menyeringai, ia bangkit dan menghampiri Yixing.
"Baiklah, aku akan sampaikan pada ayahku mengenai Yifan tapi itu tidak gratis."
"Katakan apa yang kau mau? Aku akan berusaha melakukannya untukmu. Tapi kau harus buktikan dulu padaku kalau Yifan benar-benar bisa masuk kembali ke team basket." Ucap Yixing mantap.
Leo menunjukkan senyum misteriusnya, "Baiklah, aku tidak akan ingkar janji tapi kau harus penuhi permintaanku jika aku berhasil membuat Yifan kembali ke team basket."
"Apa permintaanmu?" tanya Yixingn sedikit gemetar. Leo mendekati Yixing dan berbisik padanya.
DEG~ Yixing terbelalak dengan permintaan Leo. Tubuhnya mendadak dingin dan tangannya bergetar. "Bukan hanya Yifan yang akan kembali masuk team basket kita tapi sahabatmu Woobin, akan diterima di Korean Warrior dengan mudah. Tanpa seleksi. Bagaimana?" tawar Leo pada Yixing.
Bola mata Yixing bergerak gelisah, ia bingung sekarang. "Aku sudah memberi bonus padamu, apa itu tidak cukup?" Yixing menelan ludahnya.
Sudah ia putuskan, "Baiklah, saku setuju, tapi sebelumnya buktikan dulu ucapanmu."
Leo menyeringai. "Lihatlah besok, pasti Yifan sudah masuk dalam starting line team kita. Begitu juga dengan Woobin" Yixing mengangguk, "ah ya, panggil aku Leo.. Manis.." Leo meninggalkan Yixing yang masih berdiri ditempatnya, ia empat menjilat telinga Yixing, Yixing sedikit bergidik, 'bermain-main sebentar tidak apakan' pikir Leo dengan seringai terpatri diwajahnya.
.
.
"Yixing!" panggil Woobin dan Yifan bersamaan. Yixing tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Ada apa? Kenapa kalian senang sekali?" tanya Yixing heran.
"Yifan kau dulu.." Woobin menawarkan.
Tapi Yifan menggeleng, "Tidak Woobin, kau dulu." Balik Yifan yang menawarkan pada Woobin, mereka saling lempar hingga membuat Yixing bingung.
"Hei ada apa? Kalian kenapa? Yifan kau dulu, baru Woobin. Katakan, aku jadi penasaran"
"Baiklah.. aku diterima kembali masuk ke team basket kita. Pelatih Cho tadi menghubungiku dan dia bilang, mulai besok, aku akan mulai berlatih." Jawab Yifan senang.
"Jinjja?" tanya Yixing tak percaya. Yifan mengangguk penuh semangat. "lalu bagaimana denganmu Woobin? Ada berita apa?" Yixing balik bertanya pada Woobin.
"Team Korean Warrior memanggilku untuk mulai berlatih bersama minggu depan, aku diterima tanpa seleksi. Mereka bilang, mereka melihat perform-ku saat melawan Fireball, minggu lalu dan mereka tertarik. Mereka menerimaku jadi salah satu pemainnya."
"Jinjja? Kau diterima? Chukkae Woobin-a, akhirnya impianmu terwujud." Ucap Yixing senang. Ia kemudian memeluk Yifan dan Woobin bersama.
Dan ternyata ucapan Leo tidak main-main, Yifan kembali diterima di team basket kampusnya, dan Woobin mendapat panggilan dari Korean Warrior untuk latihan bersama. Semua berjalan sesuai rencana dan Yixing juga harus membayarnya. Semua itu harus dibayar mahal.
Dari kejauhan Yixing melihat Leo tersenyum pada nya -ah tidak lebih tepat menyeringai padanya. Yixing menggigit bibirnya, jujur ia takut tapi ia sudah berjanji jadi tidak mungkin akan mundur lagi. Yixing melepas pelukannya.
"Chukkae, untuk kalian berdua."
"Bagaimana kalau kita rayakan di cafe, aku yang traktir." Ucap Yifan.
"Baiklah.. bagaimana denganmu Xing?" tanya Woobin pada Yixing.
"Nde, kita rayakan di kafe." Mereka bertiga kemudian pergi ke kafe, sebelum pergi Yixing sempat menoleh ke belakang untuk melihat Leo tapi Leo sudah tidak ada, Yixing mendesah lega. Ia pun melanjutkan jalannya.
.
.
Yixing berdiri di depan sebuah kamar nomor 705. Dengan gemetar Ia mengulurkan tangannya untuk menekan bel. Sempat ia menarik tangannya dan meremas tas selempang yang dia pakai. Yixing menghirup nafas dalam-dalam kemudian menguatkan niatnya. Ia menekan bel kamar itu sekali dan tak lama kemudian terbukalah pintu kamar itu. Leo membuka pintu kamar itu dengan berbalut bath-clothes, dengan senyum lebar ia menyambut kedatangan Yixing.
"Selamat datang Zhang Yixing, aku sudah menunggumu sejak tadi." Leo mempersilahkan Yixing masuk. Dengan takut-takut Yixing masuk ke kamar yang ditempati Leo saat ini. Kamar yang ditempati Leo adalah kamar VIP, kamarnya cukup mewah dan luas. "Masuklah, anggap rumah sendiri." Leo pun duduk di kursi yang mirip singgasana raja, ia mengambil wine di meja dan meminumnya. Yixing hanya berdiri di depan Leo.
"Bi-Bisakah kita-kita lakukan sekarang,a-a aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya." Ucapnya gugup. Ia menunduk dan tak berani menatap Leo Leo menghentikan minumnya dan menatap Yixing, "Sudah tidak sabar rupanya. Baiklah, ikut aku." Leo menaruh kembali Win- nya dan mengajak Yixing ke kamar. Begitu memasuki kamar, Yixing cukup terkejut karena kamar itu benar-benar sangat mewah, nuansa putih menghiasi kamar itu. Leo masuk terakhir dan mengunci pintunya, ia melihat punggung tegap Yixing. Yixing terdiam, sepertinya ia masih mengagumi kamar tersebut.
"Sudah bisa mulai?" tanya Leo, Yixing tersentak kemudian ia berbalik dan membuatnya berhadapan dengan Leo. Yixing mengangguk pelan. Perlahan ia membuka satu persatu kancing kemejanya dan seterusnya hingga ia full naked.
Leo menyeringai, ia juga membuka bath-clothes-nya dan berjalan menghampiri Yixing. "Ayo kita mulai, baby." Bisik Leo sensual. Ia mendorong Yixing ke bed dan merebahkannya 'Maafkan aku Yifan' bathin Yixing dengan terus melafalkan kata maaf dalam hatinya.
.
.
Yifan menunggu Yixing di depan bookstore. Sesekali Yifan melihat jam tangannya. Sudah pukul 22.30 tapi tidak ada tanda-tanda Yixing keluar. Tak lama kemudian, seorang namja paruh baya keluar dan menutup tokonya. Yifan bingung, hingga toko tutup tapi Yixing tak keluar, akhirnya ia bertanya pada namja itu.
"Permisi ahjussi.." sapa Yifan.
"Ne, ada yang bisa aku bantu?"
"Apa semua pegawai sudah pulang?"
"Tentu saja, memang kenapa?"
"Apa anda kenal Yixing, Zhang Yixing? Dia salah satu pegawai disini. Aku menunggunya sejak tadi. Apa dia sudah pulang atau bagaimana?"
"Yixing? Hari ini dia libur."
"Libur?" tanya Yifan tak percaya.
"Ne, kau tidak tahu?" Yifan menggeleng. "Dia libur, mungkin ada keperluaan, kau bisa menemuinya besok. Kalau begitu aku pergi dulu. Istriku menunggu dirumah."
"Nde, ahjussi. Silahkan. Maaf menganggu." Yifan membungkuk meminta maaf dan namja itu hanya berdeham sebagai balasannya. Yifan bingung, ia memikirkan kata-kata Yixing tadi siang, 'Hari ini aku lembur, ada barang datang.' Tapi nyatanya ia libur hari ini, lalu kemana dia, "Apa mungkin Yixing sudah pulang?" Yifan merogoh sakunya untuk mencari ponselnya, tapi nihil, ia tidak membawa ponsel "Akhh aku lupa membawa ponsel, lebih baik aku ke rumahnya saja." Yifan pun bergegas ke rumah Yixing.
10 menit kemudian, Yifan sampai. Ia segera pergi ke lantai 4 dan mengetuk pintu flat Yixing tapi tidak ada jawaban "Kemana dia?" ia mencoba berkali-kali tapi tidak ada. Yifan berpikir keras, ia mengingat beberapa hari ini sikap Yixing mendadak aneh, apalagi tadi pagi di kampus, ia melihat Yixing berbicara pada Leo dan Leo seperti memberikan kertas pada Yixing tapi ia tak tahu apa, karena saat ia mendekati Yixing.. Mereka sudah berpisah. Yixing menyimpan kertas itu di saku celana seragamnya. Saat ditanya Yixing tak menjawab tapi malah mengalihkan pembicaraan dan akhirnya Yifan melupakan hal itu 'Yixing kau dimana? akh lebih baik aku pulang dan menelponnya, siapa tahu Yixing menginap di rumah teman kerjanya.' Yifan pun memutuskan untuk pergi dari flat Yixing.
.
.
Drt-drt-drt Jongsuk merasa ponselnya bergetar yang saat itu kebetulan ia sedang mengerjakan tugas dari kampusnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengangkat telpon yang dia lihat dari Yixing. 'Yixing? ada apa dia menelponku malam-malam begini?' Tanpa berfikir panjang jongsuk langsung mengangkat telepon dari Yixing,
'Yeoboseyo..'
' ...'
'Yixing kau kenapa? kau dimana?' tanya Jongsuk mendadak panik.
'...'
'Baiklah aku kesana. tunggu aku' Tanpa basa basi Jongsuk meninggalkan pekerjaan-nya dan menyambar jaket serta kunci mobilnya menuju tempat yang dimaksud oleh Yixing.
.
.
Jongsuk membutuhkan waktu 30 menit menempuh perjalanan ke hotel yang di maksud, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Yixing. Sampai di hotel, Jongsuk berlari masuk dan menaiki lift. Ia menekan tombol 7 untuk menuju lantai 7.
Ting! Lantai 7 Jongsuk langsung keluar dari lift dengan terburu-buru, ia mencari kamar 705, satu persatu ia melihat nomor kamarnya, dan saat ia masuk ke tikungan, mendadak ia berhenti. Ia melihat sesosok namja yang tak asing untuknya, yang sedang terduduk di depan kamar sambil memegang erat tas selempangnya yang ia taruh di depan dada. Ia terdiam tapi menangis.
'Yixing..' bathin-nya Jongsuk berjalan pelan menghampiri Yixing,"Yixing.." panggil Jongsuk. Yixing yang merasa namanya dipanggil segera mendongak, ia melihat Jongsuk telah berdiri di depannya.
"Jo-jongsukie.." balasnya lemah, matanya bengkak, mungkin karena terlalu lama menangis Jongsuk pun juga mensejajarkan tubuhnya dengan Yixing, "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan tak kuasa menahan airmata yang mengalir di pipinya. Yixing tersenyum pilu dengan menggeleng pelan menjawab dan ia pun langsung memeluk Jongsuk erat-erat.
"Yixing.." Jongsuk membalas pelukan Yixing. Yixing menangis terisak di pelukan jongsuk, "Apa yang terjadi?" tanya Jongsuk lagi.
Cklek! Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan Jongsuk melihat ke arah suara dan melihat sesosok namja tampan keluar dari kamar itu dengan mengenakan setelan jas yang terlihat mahal. namja itu melirik sekilas ke arah Jongsuk dan Yixing kemudian ia pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.
"Yixing apa yang terjadi? Yixing..." Yixing tetap tidak mau menjawab, ia menggeleng keras sambil memeluk Jongsuk erat 'Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Xing?' bathin Jongsuk.
TBC
Maaf jika alur nya kecepatan.. typo bertebaran, no edit.
Mohon Review nya juseyo~
