LOVE DUNK KRAY VERSION

Author -Takii_yuuki-

Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]

Main cast :

Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris

Kim Woobin – Lee Jongsuk

Clara Lee, Jung Taekwon

Rating : M

Length : Chaptered

Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama. Pin bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F

Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih amatiran, tulisan bercetak miring itu tanda flashback dll

Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.

Mohon sekali lagi dibaca warningnya, ini Pair Kris Lay jadi yang tidak suka couple ini, mending gak usah dibaca daripada nanti kecewa dan menghina author.

mulai Chap 3 in hasil saiaa sendiri

MAAF KALAU ALURNYA TERLALU CEPAT, LONCAT-LONCAT, MEMBOSANKAN, GAK JELAS, KEPANJANGAN, MOHON MAAF SEKALI LAGI.

Happy reading...

Chapter 3

ADA NC'AN-NYA, BAGI YANG TIDAK SUKA, SILAHKAN DI SKIP-

At Jongsuk's Home

Jongsuk mengambilkan air hangat untuk Yixing. Yixing masih terdiam sejak mereka pulang dari hotel. "Minumlah.." Jongsuk menyodorkan gelas yang berisi air hangat untuk Yixing. Yixing mendongak, dengan senyum tipis ia mengambil gelas tersebut dan meminum-nya tapi hanya sedikit setelah itu ia hanya menggenggam gelasnya.

"Sudah lebih baik?" Tanya Jongsuk yang kemudian duduk di hadapan Yixing. Yixing hanya mengangguk pelan. "Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau ada di hotel? Siapa namja itu?" Yixing tetap tak mau menjawab ia hanya menggeleng, lagi-lagi airmatanya mengalir, buru-buru Yixing mengusapnya. "Yixing, kalau kau tidak mau certa bagaimana aku tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu, kalau kau tidak mau bercerita, aku akan menghubungi Woobin, agar dia segera kemari." Ancam Jongsuk. Ketika ia akan berdiri tiba-tiba Yixing memegang tangan Jongsuk, "J-Jangan, jangan hubungi Woobin, jangan beritahu dia, jangan." Mohon Yixing.

"Kalau kau tidak mau menceritakan apa yang terjadi denganmu tadi, dengan sangat terpaksa aku akan menghubungi Woobin."

"Nde-nde, a-aku, aku akan memberitahumu apa yang terjadi." Jongsuk menghela nafas, kemudian ia kembali duduk.

"Apa yang terjadi? jawab jujur dan ceritakan dari awal hingga akhir, jangan ada yang dipotong." Tegas Jongsuk. Yixing mengangguk.

"A-aku…" Yixing menceritakan semuanya pada Jongsuk dan Jongsuk pun mendengarkan dengan seksama. Jongsuk tak percaya dengan kejadian yang menimpa Yixing, ia meneteskan air mata mendengarkan cerita Yixing. Jongsuk melihat di pergelangan tangan Yixing terdapat memar, seperti bekas tali.

"Tunggu disini…" Jongsuk berlari ke dapur mengambil baskom berisi air hangat dan handuk.

Sekembalinya dari dapur, Jongsuk meminta izin pada Yixing untuk memeriksa keadaan Yixing. "Rebahkan dirimu, aku akan membersihkan tubuhmu." Yixing mengiyakan walaupun dengan anggukan lemah. Jongsuk membuka pakaian Yixing, ia terkejut melihat bercak kemerahan di badannya dan juga di leher. Jongsuk mengambil handuk yang telah ia basahi dengan air hangat dan mengusapkan di tubuh Yixing.

"Apa dia memperlakukanmu dengan kasar?" Yixing tak menjawab, ia hanya menangis. Melihat dari bekas luka yang di dapat Yixing, namja itu memperlakukan Yixing dengan sangat kasar.

"Keluarkan miliknya, keluarkan. Aku tidak mau miliknya ada ditubuhku." Yixing menekan perutnya mencoba mengeluarkan sisa-sisa cairan milik Leo dalam tubuhnya.

"Hei apa yang kau lakukan? Jangan Xing. Aku akan membantumu tapi jangan begini." Jongsuk memegang tangan Yixing, mencegah Yixing berbuat hal yang akan membahayakan nyawanya. Sebagai calon dokter, Jongsuk tahu apa yang harus dia perbuat. Jongsuk mempersiapkan semua dan ia membantu Yixing.

Jongsuk membersihkan area bawah milk Yixing, ia tak percaya ada bekas darah yang mengering di sekitar area itu. 'Yixing-a, aku tidak bisa membayangkan betapa kasarnya dia padamu.' Jongsuk mengusap airmatanya sebelum melanjutkan pekerjaannya.

Yixing menggenggam bantalnya erat, hatinya terasa sangat sakit, dadanya sesak membayangkan hal yang baru saja dia alami.

'Andwee, Cukup..! Lepaskan aku.. aargghh..'

'Aku tidak akan melepasmu sebelum aku puas..'

'Aaargghh..!'

Yixing memejamkan matanya, mencoba melupakan kejadian yang baru saja menimpanya tapi sepertinya begitu sulit untuknya.

.

.

Setelah selesai 'membersihkan' Yixing. Jongsuk memberi obat penengang pada Yixing agar Yixing beristirahat, sebelum tidur, Yixing sempat memberi pesan pada Jongsuk, 'Jangan beritahu hal ini pada siapapun, termasuk Woobin dan Yifan, cukup aku dan dirimu saja Jongsukie..'

Jongsuk menatap Yixing dengan tatapan sendu. 'Pantas saja Woobin dan Yifan begitu menyukaimu Xing, kau rela melakukan apa saja demi kebahagiaan orang-orang yang ada di dekatmu meskipun kau sendiri terluka.' Bathin Jongsuk. Jongsuk menyelimuti Yixing dan kemudian meninggalkannya sendiri di kamar.

.

.

.

1 Week Later

Yixing kembali masuk kuliah, setelah 1 minggu izin tidak masuk, Jongsuk memberi alasan pada Yifan kalau Yixing sedang pergi ke luar kota agar Yifan tidak begitu khawatir. Sedangkan Woobin, berhubung dia sedang menjalani training center di Busan jadi ia tak bisa diganggu oleh siapapun, masih ada 1 minggu lagi sebelum ia kembali ke Seoul.

"Yixing!" panggil Yifan, saat ia melihat Yixing berjalan sendirian di koridor. Yixing berhenti dan menoleh ke belakang, terlihat Yifan berlari ke arahnya.

"Yifan.." balas Yixing. GREP! Yifan memeluk Yixing erat, "Aku merindukanmu. Seminggu tidak bertemu denganmu membuatku gila." Ucap Yifan sambil mengeratkan pelukannya.

"A-aku hanya pergi 1 minggu Yifan bukan satu tahun, kau berlebihan sekali." Kemudian Yifan melepaskan pelukannya.

"Bagaimana Urusanmu di Daegu, apa sudah selesai?"

"O-Oh sudah-sudah. Ada apa Fan?"

"Beruntung kau sudah kembali, lusa pertandingan liga akan dimulai. Kau harus melihat pertandinganku."

"Benarkah? pertandingan liga di mulai lusa. Iya, aku akan menontonmu. Kau harus semangat dan berusaha agar menang."

"Tentu saja. ayo kita ke kantin, aku ingin mentraktirmu setelah itu temani aku latihan. Ok?"

"Nde, aku akan menemanimu." Yifan merangkul Yixing dan mengajaknya ke kantin.

.

.

Yixing duduk di bangku penonton dan melihat Yifan yang sedang berlatih dengan pelatih Cho.

"Tetap latih kirimu, Fan. Lawanmu takkan menyangka." Pelatih Cho memantulkan bola kearah Yifan. Yifan menangkapnya dan membelakangi Pelatih Cho. "Panasi mereka."/ "Apa aku ke kiri?" Tanya Yifan.

"Ya, dia lihat ke tengah, kau langsung lempar."/ "Oke, seperti ini?" Yifan melakukan gerakan sesuai instruksi pelatih Cho dan memasukkan bola ke ring. BANG! Bola masuk ke dalam ring. "Woh, Yah bagus." / "Itu bagus?"

"Sangat bagus, kau harus menunjukkannya di pertandingan besok."

"Jangan khawatir Pelatih."

"Pelatih Cho.." seorang staff guru memanggil pelatih Cho.

"Ya, ada apa?" pelatih Cho beralih ke staff yang memanggilnya.

"Ada tamu yang menunggu anda."

"Siapa?"

"Tuan Park, dari Samdong Bulls."

"Ah iya, tunggu sebentar aku kesana-' Beralih ke Yifan, '-Yifan kau lanjutkan sendiri latihannya."

"Baik Pelatih." Pelatih Cho meninggalkan ruang latihan dan tinggallah Yifan sendiri. Ia melihat Yixing duduk di bangku penonton. Yifan melambai pada Yixing dan mengajaknya latihan.

Yixing berdiri dan menghampiri Yifan di lapangan. "Sudah menunggu lama?" Tanya Yifan.

Yixing menggeleng, "Belum, aku baru saja datang. Ku lihat gerakanmu semakin bagus. Sepertinya kau benar-benar sudah sembuh."

"Ya semua karenamu. Kalau bukan karena kesabaranmu mungkin aku belum sembuh sampai saat ini."

"Jangan berlebihan, kau juga berusaha sekuat tenagamu agar bisa sembuh dan kau berhasil." Yifan melempar bola pada Yixing dan Yixing pun menangkapnya. Yixing mendrible bola itu dan melemparnya ke ring. BANG! Bola itu masuk.

"Jangan bilang kau mahir basket juga?"

"Aku pernah memasukkan 30 poin di pertandingan kejuaraan liga saat SMP."

"Tidak mungkin."

"Ya.. di hari yang sama aku membuat miniature gedung pencakar langit yang ada di Abu Dhabi dan membuat cupcakes."

"Oh Cupcakes. Serius?"

"Ya, kau tidak percaya? Tanya saja Woobin, dia yang mendampingiku selama lomba."

"Tidak mungkin. Aku tidak percaya."

"Kau tidak percaya?" Yixing merebut bola Yifan dan mengecoh Yifan dengan gerakan dalam permainan basket dan BANG! Lagi-lagi Yixing berhasil memasukkan bola ke dalam Ring. "No Way!" Yifan mengejar Yixing dan memeluknya dari belakang kemudian mengayunkan tubuh Yixing.

"Yifan turunkan aku.."

"Tidak sebelum kau bilang menyerah."

"Yifa, geli.. iya aku menyerah. Turunkan aku." Yixing menyerah dan meminta Yifan menurunkan-nya. Saat Yifan akan menurunkan Yixing ia kehilangan keseimbangan "Aw.." BRUK! dan ia terjatuh menindih Yixing.

Mereka saling bertatapan. Deg-deg-deg! jantung Yixing berdetak kencang begitu juga dengan Yifan.

'Yixing kau manis sekali.' Bathin Yifan.

'Yifan…' Yixing benar-benar gugup. Yifan mendekatkan wajahnya ke wajah Yixing. Yixing hanya terdiam, saat bibirnya akan menempel di bibir Yixing, BRAK! Pintu ruang latihan terbuka, "Wu Yifan..!" panggil seseorang yang tak asing untuk mereka berdua, Jung Taekwon aka Leo.

Yifan buru-buru menyingkirkan tubuhnya dari Yixing. "Ow sepertinya aku menganggu kalian." ucap Leo santai. Yifan membantu Yixing berdiri. Yixing tak menatap Leo, ia berdiri dibelakang Yifan.

"Kami sudah selesai, ada apa?" Tanya Yifan mengalihkan perhatian Leo.

"Ini mengenai pertandingan besok, tapi apa bisa kita bicara berdua saja?"

"Aku akan pergi." ucap Yixing tiba-tiba. "Tunggu aku di kantin, aku akan mengantarmu." Yixing mengangguk kemudian meninggalkan Yifan bersama Leo. Saat Yixing keluar, Leo menatapnya hingga pintu ruang latihan tertutup.

"Dia pacarmu?"

"D-dia, dia sahabatku."

"Ow, begini aku ingin membicarakan mengenai pertandingan besok.." Leo pun menjelaskan tujuannya menemui Yifan.

.

.

Di kantin, Yixing duduk sambil melamun. Ia masih memikirkan kejadian seminggu yang lalu. Ia takut jika Yifan dan Woobin mengetahui hal itu.

'Yifan, Woobin, maafkan aku.' Bathin Yixing. ia menggenggam gelasnya erat.

PUK! Sebuah tepukan di bahu Yixing membuyarkan lamunan Yixing. "Hei.." sapa Yifan.

"Y-Yifan.. kau sudah selesai." balas Yixing dengan sedikit tergagap karena terkejut.

"Ya baru saja."

"O-ow.. begitu ya."

"Kau kenapa? kenapa kau gugup sekali. Kau seperti baru saja bertemu hantu. Apa kau memang bertemu hantu?" goda Yifan.

"A-Aniya.. tidak ada hantu disiang hari Yifan…"

"Sudah siap berangkat?"

"Nde-nde kita berangkat sekarang." Yifan mengantar Yixing ke tempat kerjanya.

.

.

.

D-Day Game

1 Hour before game

Di ruang ganti pemain, Yifan menghela nafas berkali-kali, sepertinya ia gugup. Ia merapalkan doa agar ia bisa menjalani pertandingan perdananya setelah vakum selama beberapa bulan karena sakit.

"Kau gugup?" Tanya Yixing yang tiba-tiba masuk ke ruang itu. Yixing duduk berhadapan dengan Yifan.

"Yixing? Ya, sedikit. Kau tahu kan, ini seperti debut untukku setelah aku sembuh dari sakitku."

Yixing menggenggam tangan Yifan, "Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja. kau sudah berlatih keras selama ini, aku yakin kau akan berhasil."

"Terima kasih Xing, kau selalu memberiku semangat, di saat aku jatuh, disaat aku butuh teman, saat aku berjuang untuk bangkit. Kau memang luar biasa." Yixing hanya membalasnya dengan senyuman.

"I Love You Zhang Yixing." Yixing terkejut dengan pernyataan cinta Yifan yang mendadak, ia mendadak speechless. Yifan mendekatkan dirinya pada Yixing, tangannya memegang pipi Yixing dan kemudian CUP! Yifan mencium bibir Yixing dengan lembut.

DEG! Jantung Yixing berdetak mendapat ciuman dari Yifan. Lama-lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang lebih intens, Yifan sudah pindah dari tempat duduknya ke tempat duduk Yixing. kedua tangannya merangkul pinggang ramping Yixing dan Yixing pun membalasnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Yifan. Ciuman mereka semakin intens, bahkan Yifan mulai merebahkan Yixing di bangku yang mereka duduki sambil terus menciumnya.

Saat ia mulai menjelajah leher Yixing, tiba-tiba Yixing teringat kejadian itu dan kemudian menahannya, "Yi-Yifan, j-jangan.." tolak Yixing. Yifan menegakkan kepalanya dan menatap Yixing.

"Wae? Ada apa Xing?" Tanya Yifan pelan. Yixing tak bisa menjawab, bola matanya bergerak gelisah, "Apa ini mengganggumu? Maafkan aku. Aku minta maaf, aku kelepasan." Yifan meminta maaf pada Yixing dan saat ia akan bangkit Yixing menahan tangannya.

"J-jangan, jangan pergi dulu. Tetaplah disini bersamaku." Pinta Yixing tiba-tiba. Yifan menatap Yixing dengan tatapan bingung, "A-a-aku juga mencintaimu Yifan…" Yifan tersenyum, "Please, stay with me.." ucap Yixing kembali, Yifan mengangguk kemudian ia kembali mencium Yixing.

"Eunghh.." Yixing melenguh mendapat ciuman mesra dari Yifan. Ia memeluk Yifan semakin apa yang mereka lakukan, tapi sepertinya hal itu membawa energy positf untuk Yifan sebelum pertandingan.

.

.

"Sudah siap?" Tanya Yixing pada Yifan.

"Huh, aku siap." Jawab Yifan mantap.

"Kalau begitu, Go, pergilah, hajar mereka." Yifan mengangguk, sebelum pergi Ia sempat mencium Yixing kilat. Setelah itu ia berlari masuk ke lapangan bergabung dengan teman-temannya. Yixing menatap punggung Yifan yang berlari menjauh, ia memegang bibirnya yang baru saja di cium Yifan dan ia tersenyum mengingat kegiatan yang baru saja ia lakukan bersama Yifan. 'I Love u Wu Yifan.' Bathinnya senang kemudian ia juga pergi ke lapangan untuk menyaksikan Yifan bertanding.

.

.

Kini, sambutlah Wolf Descendant!

"Ayo!Ayo!Ayo!" para penonton bersorak untuk Tim Wolf Descendant.

…pertandingan antara Wolf Descendant melawan Red Lion!…

"Hidup Wolf Descendant!"

...untuk memenangkan tiket menuju kejuaraan liga basket nasional yang diidamkan.

"Wolf Descendant!" / "Auuu…." / "Wolf Descendant!" / "Auuu…." / mereka saling berbalas untuk menyemangati Tim Wolf Descendant.

Wolf Descendant menangkan lontaran awal . membawa bola ke lapangan.

Yixing berdoa untuk Yifan dan tim-nya, 'Semoga kalian menang. Yifan berusahalah.'

Bola di dorong Red Lion di sekeliling wilayah ujung pertahanan. Gerakan bola manis oleh Red Lion. Menguasai lapangan. Bola dilontarkan dan sayang sekali gagal. Red Lion melewatkan 2 poin untuk menambah angka.

Kembali Red Lion mendobrak lapangan dengan cepat, mencari pemain kosong tapi dicuri oleh Wu Yifan! Dia menuju arah sebaliknya!

Wolf Decsendant mendapat bola, waktu hampir berakhir. Mencari pemain kosong. Pura-pura. Dilempar ke luar. Bola dalam perimeter. Mencari pemain di dalam. Bagus sekali.

Lontaran naik… Dan masuk! Tembakan lompat akhiri permainan dan membawa kemenangan.!

Wolf Descendant memenangkan pertandingan dan berhak mewakili Seoul menuju kejuaraan liga basket nasional.

Selamat. Wolf Descendant..!

Para penonton berteriak kegirangan untuk kemenangan Wolf Descendant. Yixing menangis haru atas kemenangan Wolf. Yifan melambaikan tangannya pada Yixing dan Yixing membalasnya. Anggota tim yang lain sangat senang atas kemenangan tim dan kembalinya Yifan. Mereka saling berpelukan dan bersorak.

.

.

.

"Kau melewatkan pertandingannya Woobin.."

"…"

"Ya, pertandingan itu seru sekali, kau tahu bagaimana Yifan melakukan slam dunk, itu benar-benar luar biasa.."

"…"

"Kau harus cepat pulang, aku merindukanmu. Rumah sepi tanpamu Woobin."

"…"

"Baiklah aku tunggu. I Miss You."

"…" PIP! Yixing menutup teleponnya dan tiba-tiba GREP! Seseorang memeluknya dari belakang. "Yifan! Kau mengagetkanku." tegur Yixing pada si pemeluk yang tak lain dan tak bukan adalah Yifan, kekasihnya sendiri.

"Apa aku tidak boleh memeluk kekasihku sendiri, heum?" Yifan menaruh dagunya di ceruk leher Yixing sambil menciumnya.

"Yifan apa yang kau lakukan? Kita masih di kampus, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"

"Tidak akan, mereka sedang sibuk mengadakan pesta untuk kemenangan tim."

"kenapa kau tidak ikut pesta?"

"Aku malas, lebih baik aku disini bersama kekasihku. Eoh tadi siapa yang menelponmu? Sepertinya kau senang sekali?"

"Woobin, setelah 2 minggu ikut training center, akhirnya ia boleh menelpon dan tadi Ia memberitahuku bahwa dia akan pulang minggu ini."

"benarkah?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Kalau dia pulang, kau akan menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, apalagi kalian satu rumah dan aku akan sangat cemburu karena kedekatan kalian."

"Yifan, kau tahu kan Woobin itu sudah seperti hyung untukku, dia sahabat sekaligus saudara untukku. Jadi untuk apa cemburu. Lagipula aku ingin menjodohkan Jongsuk dengan Woobin, Jongsuk namja yang baik untuk Woobin, bagaimana Kau setuju dengan ideku?"

"Menjodohkan Woobin dan Jongsuk? Heum ide yang bagus. Aku setuju."

"Jangan cemburu lagi, aku hanya mencintaimu Tuan Wu Yifan."

"Iya aku percaya. Eum bagaimana kalau kita jalan-jalan, aku ingin mengajakmu ke lotte mall, hari ini kau libur kan?"

"Lotte Mall? Ya terserah kau saja."

"Ok, kita berangkat sekarang." Yifan pun segera mengajak Yixing ke Lotte Mall untuk belanja.

.

.

.

At Night

Yixing berjalan menuju flatnya. Setelah seharian belanja dengan Yifan, ia memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke flatnya dan beristirahat. Ia menaruh barang belanjaan yang dia bawa dan mencari kunci flatnya. Gotcha! Akhirnya ia dapatkan kuncinya. Yixing memasukkan kuncinya ke lubang kunci di pintunya dan GREP! Tiba-tiba Ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Yixing terkejut mendapat pelukan tiba-tiba, "Si-.." Yixing hendak bertanya tapi terpotong oleh ucapan namja itu, / "Yixing aku merindukanmu.."

"Woobin?" Yixing berbalik dan melihat Woobin ada di hadapannya.

"Hei.." sapa Woobin.

"Woobin..!" Yixing memeluk Woobin erat dan Woobin membalasnya. "Aku merindukanmu jangkung, kau bilang kau baru pulang minggu depan. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau pulang hari ini?"

"Kejutan…"

"Kau jahat, aku kira kau penjahat tadi. Woobin…" Yixing menangis, ia memukul dada Woobin sebagai pelampiasan kekesalannya, sebenarnya rasa bahagianya.

"Hei kau menangis, aku disini Xing, hei.. aku pulang kenapa kau menangis?" Woobin melepaskan pelukannya dan melihat Yixing. ia mengusap airmata Yixing. "Jangan menangis, kau jelek kalau menangis."

"Paboo, aku merindukanmu."

"Aku juga.."

"Yixing..!" panggil seseorang yang tak asing untuk keduanya.

"Yifan.." balas Yixing. Woobin berbalik dan melihat Yifan datang membawa boneka teddy bear yang agak besar dan bunga.

"Woobin, kau sudah pulang?" Tanya Yifan sedikit terkejut dengan kedatangan Woobin.

"Ya, baru saja. kau, sedang apa kau disini?" Tanya Woobin tak kalah bingung.

"Menemui unicorn-ku.." jawabnya sambil mengedip pada Yixing. Yixing tersipu malu mendengar panggilan sayang yang diberikan Yifan padanya.

"Unicorn-mu? Siapa?" Tanya Woobin bingung. Yifan berjalan mendekati mereka. Setelah cukup dekat, ia memberikan bunga yang baru saja ia beli untuk Yixing, "Yixing.. Untukmu sayang.." Yixing menerimanya dengan malu-malu. "dan boneka ini juga. Maaf, harusnya aku memberikannya tadi tapi mereka butuh waktu lama untuk membuat nama di dada boneka ini." Yifan menunjuk nama yang di border di boneka itu, 'Yifan love Yixing'

"Terima kasih." Yixing menerima boneka itu dengan perasaan yang berbunga-bunga.

"J-jadi kalian?" Yifan mengangguk, ia memeluk pinggang ramping Yixing. bagai disambar petir di siang hari, Woobin tak percaya Yifan sekarang menjadi kekasih Yixing.

"Maafkan aku Woobin, sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi kau tidak bisa diganggu, jadi aku ingin memberitahumu saat kau pulang. Kami baru saja jadian."ucap Yixing.

"Kalian baru saja jadian?" Tanya Woobin masih tak percaya.

"Ya, kami baru jadian satu hari ini. Terima kasih Woobin, kau mengenalkan Yixing padaku, kalau bukan karenamu mungkin aku tidak akan bersama Yixing saat ini." Ucap Yifan dengan wajah berseri. "Aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku." Janji Yifan.

"Se-selamat untuk kalian." ucap Woobin sedikit tak rela pada Fan-Xing.

"Terima kasih Woobin." Yixing memeluk Woobin sebagai rasa terima kasihnya karena Woobin mendukung hubungannya dengan Yifan.

Woobin memaksakan senyumnya pada pasangan Fan-Xing, tak bisa ia pungkiri kalau ia sakit karena kehilangan Yixing, tapi ia juga senang melihat Yixing bahagia dengan orang yang dia cintai. Woobin hanya bisa pasrah menerima keadaan ini.

.

Woobin masuk ke kamar Yixing, ia melihat Yixing tertidur pulas sambil memeluk boneka pemberian Yifan. Ia duduk di samping ranjang Yixing. "Yixing, apa kau tidak bisa melihat usahaku selama ini untuk mendapatkanmu? Kenapa kau memilih Yifan yang baru saja kau kenal sebagai orang yang kau cintai? Kenapa kau tidak melihatku? Aku bersamamu selama 10 tahun lebih, tapi tidak bisakah kau melihat kalau aku sangat mencintaimu Xing? Aku mencintaimu sebagai namja bukan hyung ke dongsaeng-nya. aku sakit tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Woobin pelan. Ia menangis. Woobin mengusap rambut Yixing dan mencium keningnya.

.

.

.

At Campus

Yixing dan Yifan makan siang bersama di belakang kampus. Hari ini Yixing memasak bekal untuk mereka berdua.

"Bagaimana pertandinganmu? Apa lawan kalian kali ini berat? Kenapa kau kelihatan stress begitu?" Tanya Yixing sambil memakan telur gulungnya.

"Bukan hanya berat, tapi ada beban mental juga."

"Beban mental kenapa?

"Aku akan melawan Korean Warrior."

"Korean Warrior, bukankah itu tim-nya…"

"Woobin. Ya aku akan melawan Woobin. Selama beberapa bulan ini, aku bertanding dengan berbagai tim, Red Lion, Han Yang, Jegguk, Fireball, dan tim sekuat Lucifer pun aku pernah menghadapinya dan buatku itu tidak terlalu berat tapi kali ini aku harus berhadapan dengan sahabatku, sahabatmu sendiri, rasanya cukup berat Xing. Aku tidak yakin aku menang."

"Kau sudah menyerah?"

"Entahlah.. aku merasa aku tidak bisa melawan Woobin."

"Hei, kalau kau sudah menyerah sebelum bertanding, aku akan kecewa padamu. Perjuanganmu untuk masuk ke tim, tidak mudah Fan, apalagi pertandingan yang kalian hadapi sejak awal tidak mudah. Kau tidak kasihan melihat anggota tim-mu yang berjuang untuk menjadi juara liga setelah kekalahan dari West Knight tahun lalu? ayolah Woobin pasti tidak ingin melihatmu menyerah sebelum bertanding."

"Aku akan berusaha Xing."

"Ya, memang. Kau harus berusaha lebih keras lagi untuk mengalahkan Woobin dan tim Korean Warrior."

"Kau memang kekasihku yang sangat mengerti aku." Yifan menarik pinggang Yixing agar mendekat padanya.

"Eh apa yang kau lakukan?" Tanya Yixing kaget.

"Mencium-mu, memang apa lagi?" CUP! Yifan mencium Yixing di bibirnya. Kemudian melepaskannya. "Untuk memberiku semangat." Yifan merebahkan Yixing dan menciumnya kembali. Sepertinya siang itu Yifan mendapat double makan siang dan Yixing hanya bisa pasrah mendapat ciuman bertubi-tubi dari Yifan. #PoorYixing.

.

.

.

Duk-duk-duk… Woobin mendribble bolanya kemudian ia melemparkan ke ring. BANG! Masuk..! Plok-plok-plok! Seseorang bertepuk tangan melihat Woobin berhasil memasukkan bola ke ring.

"Dan Woobin membawa Korean Warrior menjadi juara liga, yeayyyyy…!" sorak namja yang tak lain dan tak bukan adalah Yifan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Woobin menoleh ke asal suara. Yifan berjalan mendekati Woobin, ia mengambil bola yang menggelinding di dekatnya dan melemparnya ke Woobin. Woobin dengan sigap menangkapnya.

"Jadi pada akhirnya kita akan saling menyerang?" Tanya Woobin memulai pembicaraan.

"Ini hanya sebuah pertandingan Woobin,"

"Meskipun begitu, aku tidak akan kalah, aku akan mengalahkanmu."

"Ya, aku juga akan berusaha, aku tidak ingin usahaku untuk sembuh sia-sia." Woobin kembali mendribble bolanya. "maafkan aku.."

"Apa maksudmu?" Tanya Woobin bingung.

"Maaf, karena telah merebut Yixing darimu." Woobin menghentikan permainannya. "Tapi sungguh, aku benar-benar mencintainya." Woobin melempar bola yang ia pegang ke Yifan, Yifan menangkapnya, mereka saling bertatapan.

"Aku mencintainya sebelum kalian bertemu, aku menjaganya selama ini."

"AKu tahu.. andai saja kau mengatakan perasaaanmu lebih dulu padanya, mungkin saat ini kalian akan bersama." Yifan melempar balik bolanya. HUP! Woobin menangkapnya. "Pertandingan ini bukan sekedar memperebutkan piala liga tapi juga Yixing. jika kau kalah, kau harus merelakan Yixing untukku tapi jika kau menang, kau boleh melakukan apa saja untuk merebut Yixing dariku."

"Yixing bukan barang taruhan, aku mencintainya lebih dari apapun dan aku tidak akan melukainya dengan menjadikan dia barang taruhan."

"Aku tidak bertaruh, aku ingin mendapat restumu, aku ingin menjalin hubungan dengan Yixing dengan restu penuh darimu."

BRUK! Yifan duduk bersimpuh di depan Woobin. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Woobin bingung. Yifan menggeleng, ia tersenyum sambil menatap Woobin. "Aku meminta izin untuk mengalahkanmu di pertandingan besok agar aku mendapat restu darimu."

"Kau benar-benar ingin mengalahkanku? Hah- Woobin menghela nafas, -Baiklah, kalau kau bisa mengalahkanku, aku akan merelakan Yixing untukmu tapi jika kau kalah, aku akan merebut Yixing darimu." Yifan mengangguk. Woobin melempar bolanya ke sembarang arah dan kemudian pergi meninggalkan Yifan yang masih bersimpuh. Yifan mengerti semua konsekuensi atas semua ucapannya, tapi dia ingin membuktikan bahwa dia memang layak untuk Yixing. Dia harus berusaha untuk mendapatkan restu dari Woobin, dia harus menang.

.

Baik Woobin dan Yifan berlatih keras sebelum pertandingan final. Kadang Woobin memperpanjang jam latihan-nya setelah berlatih bersama tim-nya begitu juga dengan Yifan. 'Aku tidak boleh kalah..' ucap mereka berdua bersamaan.

.

.

.

1 day before Final Game

"Kita mau kemana Fan?" Tanya Yixing bingung. Yifan tiba-tiba mengajaknya pergi 1 hari sebelum pertandingan final.

"Ke suatu tempat, nanti kau juga akan tahu." Jawab Yifan tanpa menoleh ke Yixing, ia focus menyetir.

"oh, ok.." Yixing hanya ber-oh ria, ia kembali menikmati perjalanannya.

30 menit kemudian, mereka sampai. Mereka berhenti di depan gedung tua. Yifan membuka pintu mobil dan mengajak Yixing keluar.

"Ini dimana Yifan?" Tanya Yixing bingung. Yifan tak menjawab, ia membawa Yixing mendekat ke gedung itu.

Yifan mengeluarkan kunci dan membuka gembok yang terpasang di pintu.

CKLEK! KRIET! Yifan membuka pintu gedung itu, Yifan mempersilahkan Yixing masuk lebih dulu. Yixing berjalan memasuki gedung itu.

"I-i-ini lapangan basket?" Tanya Yixing yang saat ini sudah berada di tengah lapangan. Lapangan itu memang sudah tua, bangku penontonnya juga sudah banyak yang berkarat dan berlubang.

"Iya, ini lapangan basket. Tempat ini adalah tempat pertama aku mengenal basket."

"Maksudmu?"

"Dulu, ayahku tinggal di dekat sini, dia mengenalkanku pada basket dan mengajariku tentang basket."

"Ayahmu? Tuan Wu?"

Yifan menggeleng. "Bukan, ayah kandungku adalah Jung Yunho, saat umurku 7 tahun, beliau meninggal dan Umma-ku Kim Jaejoong menikah dengan Tuan Wu, yang sekarang jadi ayahku.

"Jadi kau bukan putra Tuan Wu?"

"Bukan, Aku memakai marga Wu setelah Umma menikah dengannya. Pernikahan Umma dan Appa Wu hanya sebuah perjanjian bisnis karena sebelumnya Harabeoji tidak menyetujui hubungan Umma dengan Appa Jung, Appa Jung hanya seorang namja biasa, bukan orang kaya, dia atlet basket nasional tapi Umma sangat mencintai Appa Jung. Setelah kematian Appa Jung, Harabeoji memanfaatkan kesempatan itu untuk menikahkan Umma dengan Appa Wu." Yixing terdiam mendengarkan cerita kehidupan Yifan.

"Apa Tuan Wu memperlakukanmu dengan baik?"

"Dia tidak menunjukkan kalau dia membenciku tapi tidak juga menunjukkan kalau dia sayang padaku. Hubungan kami dingin, begitu juga hubungan Umma dengan-nya. aku hanya dekat dengan Umma. Dia hanya memberiku uang, kewajiban seorang ayah untuk menafkai anaknya."

"Kau pasti kesepian? Ku dengar Umma-mu Kim Jaejoong adalah designer yang hebat. Pasti beliau sibuk sekali."

"Umma sering pulang, kami sering menghabiskan waktu bersama. Dia tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu, Besok, aku akan mengenalkannya padamu."

"Apa dia akan menerimaku? Aku hanya anak yatim piatu dan miskin." Ucap Yixing sedih.

"Umma tidak pernah melihat status, asal aku bahagia dengan pilihanku, dia juga akan bahagia." Yifan menegakkan kepala Yixing. Mereka saling bertatapan. Yifan membelai lembut pipi Yixing. "Kau segalanya bagiku Xing. I love You." Ucap Yifan yang kemudian mencium bibir Yixing. Yifan memeluk pinggang ramping Yixing begitu juga Yixing yang mengalungkan Lengannya di leher Yifan.

Mereka saling berbalas ciuman, lidah mereka saling bertarung bahkan tak segan-segan saling menghisap satu sama lain. Setelah beberapa menit berciuman, mereka saling melepas ciumannya, benang saliva tercipta di antara keduanya. Wajah Yixing memerah, nafasnya terengah-engah tapi ia terlihat cantik dimata Yifan.

"Kau sangat cantik Xing." Puji Yifan tak melepaskan pandangannya dari Yixing. Yifan kembali mencium Yixing dan tapi kali ini ia menggendong Yixing dan membawanya ke sebuah kamar mess yang terdapat di belakang gedung, sambil terus berciuman.

Part NC

BRUK! Yifan menjatuhkan tubuh Yixing di bed. Buru-buru ia melepas kemejanya dan melemparnya kesembarang arah. Ia kembali mencium Yixing sambil melepas kemeja Yixing, setelah kancing kemeja Yixing terlepas semua, tak lupa ia juga melepas ikat pinggang dan Celana yang dipakai Yixing. tinggalah Yixing hanya memakai underwear. Yifan bangkit dan melihat keadaan Yixing yang membuatnya tergoda, ia melepas kaos dan celana panjangnya hingga ia full naked. Wajah Yixing memanas melihat tubuh Yifan yang begitu indah dimatanya.

Yifan kembali menindihnya dan menciumnya, kali ini dia juga menjamah leher dan nipple Yixing. Yixing menggeliat karena perlakuan Yifan padanya.

"Eunghh.. Yi-Yi-Faann, akhh.." Yifan terus mengerjai nipple Yixing, kemudian lidahnya beralih menuju pusar dan berputar-putar di area itu. Yixing meremas bantalnya erat. "J-Janganhhh, bermain-main Fan.. akhh…" Yifan menulikan pendengarannya, ia terus bermain di area pusar Yixing. setelah puas bermain, Yifan mengelus junior Yixing yang masih terbungkus underwear. Ternyata underwearnya sudah basah dengan cairan pre-cum. Yixing semakin menggeliat dan mendesah tak karuan. "Yifannn… akhhh… akhh…" Yifan menyeriangai, ia melepas underwear yang dipakai Yixing pelan-pelan dan kemudian melemparnya kesembarang arah. Sekarang terpampanglah tubuh Yixing yang full naked.

Junior Yixing digenggam dan dikocok Yifan. Yixing mengakui bahwa kocokannya terasa nikmat, Junior Yixing mulai berdiri dan Yifan langsung mengulumnya! Yixing benar-benar tak berdaya atas perlakuan Yifan. "Hhoohh.. Hhoosshh.. Hhoohh.. Hhoohh.." Desah Yixing.

Yifan pun melepaskan kulumannya dan berdiri. "I'll be Gentle Xing." Yixing mengangguk pasrah. Yifan berlutut di depan kaki Yixing, diangkatnya kedua kaki Yixing tinggi-tinggi. Hole Yixing yang berkedut-kedut pun terekspos. Kemudian, diletakkan kedua kaki Yixing di atas kedua bahunya yang bidang. Yifan menghujamkan Juniornya tepat ke dalam Hole Yixing.

"AAARRGGHH..!" teriak Yixing. Yixing merasakan sakit yang luar biasa, holenya seperti sobek menerima junior milik Yifan. Airmata mengalir di pipi Yixing. Yifan mengerang saat juniornya sudah terbenam seluruhnya. "AARRGGHH..!"

Ditatapnya mata Yixing sambil berkata. "Rilex Xing. Oohh.. Milikmu benar-benar sempit.. Aahh.. Tahan sebentar.. Aarrghh.." Yifan menarik juniornya mundur, Yixing mengerang dan mengeluarkan desahan napas kesakitan. "Oohh.. Hhohh.." Tiba-tiba, Yifan kembali mendorong juniornya masuk.

"AAARGHH!" Tarik lagi, dorong lagi, tarik, dorong, tarik.. Yifan mulai menggerakkan juniornya dengan ritme tetap. Semakin lama, gerakannya semakin cepat. Gerakan otot pinggulnya beserta juniornya seperti mesin pemompa, yang terus memompa hole Yixing. desah kesakitan Yixing berubah menjadi desah kenikmatan, ia mulai menikmatinya.

"ARGH! UGH! ARGH!" erang Yifan terus menerus seirama dengan gerakannya. mereka tak tahu sudah berapa lama mereka bercinta, tapi Yifan memang tak kenal lelah. Tiba-tiba Yixing merasa junior Yifan mendorong sesuatu di dalam tubuhnya. Kontan, junior Yixing yang masih belepotan ludah Yifan bangkit dari tidurnya dan berdiri. Gelombang nikmat menyerang tubuhnya seolah-olah ia sedang mengalami orgasme.

"OMO! Akhh..akhh… Yifan.. disitu.. ..disitu.."Yixing meracau karena Yifan mengenai bagian organ dalam miliknya itu, dan gelombang kenikmatan kedua mendera dirinya. Wajah Yifan berseri-seri melihat junior Yixng yang menegang. Langsung saja ia memegang Junior Yixing dan Kembali dia mulai mengocok milik Yixing. Dengan tekad penuh, dia ingin membuat Yixing orgasme sebagai tanda bahwa Yixing miliknya. Yixing merasakan Gelombang kenikmatan semakin bertambah besar. Junior Yifan memang terasa nikmat sekali. Begitu pula dengan kehangatan tangannya yang sedang membungkus juniornya. Ia membiarkan kenikmatan itu menjalari dan menguasai tubuhnya. Yifan mempererat genggamannya pada junior Yixing, wajahnya menyeringai kesakitan. Napasnya memburu-buru, dan tiba-tiba..

"AARRGGHH..!" CRROTT! CCROOTT! CCROOTT! Yifan Klimaks! spermanyanya ditembakkan sembarangan di dalam hole Yixing, membanjiri bagian dalam perutnya. Terasa sekali rasa panas yang membakar Yixing.

Yixing pun merasa bahwa ia akan segera mencapai klimaks. Sperma Yixing memaksa naik dan akhirnya tersembur keluar lewat lubang juniornya. "Akhh..akhh… arrgghhh…!" CCROOT! CROOTT! CCRROOTT!

"Hhohh! Hhoohh! Hhoohh! Hhoohh!" Tubuh mereka terguncang-guncang, mengejang-ngejang seperti orang kesakitan. Kenikmatan orgasme menguasai mereka berdua. Bahkan Yixing pun merasa tenaganya sudah habis.

"AARRGGHH..! AARRGGHH! UUGGHH!" erang Yifan, terus menghentak-hentakkan pinggulnya. Dan akhirnya semuanya berakhir.

Yifan mengeluarkan juniornya dan terasa spermanyanya mengalir keluar dari hole Yixing yang menganga lebar. Yixing merasakan sperma Yifan menyebar ke dalam perutnya. Tubuhnya mulai menyerap benih-benih itu. Yifan terbaring di samping Yixing dengan nafas terengah-engah begitu juga dengan Yixing yang sudah sangat lemas.

"I Love you Yixing. I love you so much.."

"Nado, Yifan. Nado…" Yifan kembali mencium Yixing, Yixing benar-benar pasrah. Entah berapa ronde lagi Yifan akan 'menghajarnya', ia pasrah. Setidaknya itu akan membantu Yifan untuk mengisi energy saat akan bertanding besok, pikirnya.

.

.

.

D-Day Game

"Sudah siap?" Tanya Yixing. Yifan memejamkan matanya sejenak, ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.

"AKu siap!"

"Ayo kita masuk, mereka sudah menunggu-mu." Yixing mengulurkan tangannya pada Yifan. Yifan tersenyum dan menaymbutnya tapi ia malah menarik Yixing dan mendorong Yixing hingga menabrak loker, Yifan mencium-nya dengan ganas, ia benar-benar gugup. Beberpa menit kemudian ia melepas ciuman-nya.

"Maaf, aku benar-benar gugup Xing." Ucapnya sambil menunduk. Yixing terkekeh, ia menegakkan kepala Yifan dan mencium-nya dengan lembut. Ciuman singkat.

"Berjuanglah kekasihku, Wu Yifan, buktikan pada mereka kalau kau bisa." Yifan mengangguk. Ia menarik Yixing dan membawanya masuk ke lapangan.

.

.

Flashback on

"Woobin…" panggil Yixing. Woobin menoleh dan melihat Yixing berdiri tak jauh darinya. Woobin pun menghampirinya.

"Yixing? kau disini." Woobin merengkuh Yixing dan memeluknya. Yixing membalasnya.

"Aku gugup, sangat gugup."

"Ya aku tahu." Yixing melepas pelukannya. Ia berjinjit dan mencium kening Woobin. "Ciuman dari dongsaeng untuk hyung tersayangnya. Berjuang… kalah atau menang, itu tidak penting, asal kau berjuang dan tidak menyerah."

"Nde, aku akan berjuang. Terima kasih Xing." Woobin kembali memeluknya.

Flashback off

.

.

Disinilah mereka sekarang, Woobin dan Yifan, mereka saling berhadapan dalam final basket antara Korean Warrior melawan Wolf Descendant untuk memperebutkan piala liga.

Yixing menunggu dengan cemas, begitu juga dengan Jongsuk. mereka saling mendoakan namja yang mereka kasihi dengan caranya masing-masing.

'aku tidak akan melawanmu Woobin.'

'Begitupun aku Yifan.'

Mereka dalam posisi menunggu bola di lempar wasit untuk di rebut. PRITT! Wasit melempar bola ke atas, Yifan dan Woobin melompat ke atas untuk menangkap bola itu dan …

TBC

Maaf jika alur nya kecepatan.. typo bertebaran, no edit.

Mohon Review nya juseyo~