LOVE DUNK KRAY VERSION

Author -Takii_yuuki-

Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]

Main cast :

Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris

Kim Woobin – Lee Jongsuk

Clara Lee, Jung Taekwon

Rating : M

Length : Chaptered

M-PREG!

Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.

Pin bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F

Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih amatiran, tulisan bercetak miring itu tanda flashback dll

Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.

Mohon sekali lagi dibaca warningnya, ini Pair Kris Lay jadi yang tidak suka couple ini, mending gak usah dibaca daripada nanti kecewa dan menghina author.

mulai Chap 4 ini hasil saiaa sendiri

MAAF KALAU ALURNYA TERLALU CEPAT, LONCAT-LONCAT, MEMBOSANKAN, GAK JELAS, KEPANJANGAN, MOHON MAAF SEKALI LAGI.

Happy reading...

Chapter 4

Yifan terengah-engah, jantungnya berdetak kencang. sulit menggambarkan apa yang dia pikirkan saat ini. Ia menoleh ke papan skor, melihat waktu yang tersisa 17 detik sebelum babak pertama berakhir.

"Let's Go…" Yifan menerima bola dan menggiringnya ke area lawan, ia mengoper bolanya pada Sehun, "Aku bebas, aku bebas!" Sehun mendrible bolanya sebentar dan kemudian mengoper ke Chanyeol.

"Jangan terburu-buru! Lari!" Ujar Pelatih Cho mengarahkan pada para pemain Wolf Descendant.

Chanyeol hendak mengoper pada Yifan tapi berhasil direbut oleh Woobin, Woobin pun segera berlari sambil mendrible bolanya menuju area pertahanan Wolf Descendant.

"Ayo!"

"Pertahanan! Pertahanan!" Saat Woobin telah sampai di dekat ring, ia tak langsung menembak tapi mengoper bola itu pada temannya, Andrew dan Andrew menembakkan bola itu ke Ring.

BANG! Bola itu masuk. Angka bertambah untuk Korean Warrior. "Ayo teman-teman!" Yifan berusaha memberi semangat.

"Hurry! Control the ball..!" Bola berhasil di rebut Yifan, Yifan pun menggiringnya. "Yifan! Ayo.. Lari!"

"Ayo! Cepat! Masukkan!"

Yifan melempar bolanya ke Sehun lewat belakang punggungnya, dari samping Sehun sudah berlari menghampiri Yifan untuk menangkap bolanya dan berhasil, bola kini dipegang Sehun, "Awasi yang masuk. Awasi bagian belakang!"

Sehun melempar bola pada Yifan yang telah berada di bawah ring, saat ia hanya tinggal mendorong bola itu untuk masuk ternyata Yifan gagal dan bola itu terlempar keluar, Yifan mencoba mendorong bola itu masuk tapi, PRITT! waktunya telah habis.

"Itulah akhir babak pertama pertandingan final dengan Korean Warrior yang memimpin terhadap Wolf Descendant 50-28. Masih tersisa waktu 16 menit lagi untuk Wolf Descendant mengejar ketinggalannya."

Para pemain Wolf Descendant berjalan lesu menuju ruang ganti pemain. Mereka merasa sudah kalah. Yifan berulang kali menghela nafas, ia membebat tangannya yang terluka dengan plester.

Pelatih Cho pun masuk, ia melihat anak didiknya tidak bersemangat, seperti sudah menyerah.

"Baiklah.. lupakan tentang strategi-nya, lupakan tentang skor-nya, karena inilah angka yang menentukan" Teriakan pelatih Cho mengagetkan mereka. "16, hanya tersisa 16 menit lagi, anak-anak. Hanya 16 menit waktu yang tersisa di musim ini dan untuk para senior dalam tim ini, kalian hanya tersisa waktu 16 menit memakai seragam Wolf Descendant. Jadi manfaatkan dengan baik. 16 menit untuk menjadi anggota tim…" pelatih Cho memberi senyuman semangat sebelum pergi, "Kapten!"

"Baiklah, hei kalian. dengar apa yang dikatakan Pelatih kita akan mengenang 16 menit ini ketika kita sudah lulus dari Universitas tercinta kita. Jadi, sekarang atau tidak selamanya."

"Sehun…" Yifan memberi isyarat pada Sehun.

"Tim apa?"

"Wolf Descendant!"

"Tim apa?"

"Wolf Descendant!"

"Let's Go!" mereka semua kembali ke lapangan dengan semangat 45. Mereka berlatih dilapangan, mendrible, memasukkan bola ke ring dan operan sebelum babak kedua dimulai.

"Ayo semangat! Tim berkumpul." Pelatih Cho mengisyaratkan agara tim Wolf Descandat berkumpul.

"Siap?" mereka menyatukan tangan mereka dan bersorak, "Wolf Descendant!" kemudian mereka kembali ke lapangan.

Yifan mendrible bola, berhasil melewati Woobin dan Haneul, ia masuk ke dalam, menunduk rendah, berpencar dan menembakkan bola ke ring. BANG! Masuk, angka bertambah untuk Wolf Descendant.

Bola kembali di kuasai Wolf Descendant, kali ini Kai berhasil melewati Jinhyuk dan di oper ke Yifan, Yifan menembakkan bolanya dari area 3 angka. BANG! Lag-lagi masuk.

"Ayo anak-anak!" Yifan kembali mengoper bolanya, di oper ke Sehun dan kembali padanya, BANG! Lagi-lagi masuk.

Yifan saling ber-tos bersama teman-teman-nya. Woobin mendesah dan mengarahkan pada teman-temannya untuk kompak.

"Yifan!" Yixing memberi semangat dari bangku penonton.

Yifan kembali mendapat bola dari Sehun, saat ia akan melakukan Buzz Beater, tiba-tiba DUAGHH! Yifan bertabrakan dengan Woobin yang akan merebut bolanya. Yifan pun terlempar. Ia terjatuh dengan punggung terlebh dahulu menabrak lantai, Yifan merintih. "Arrgghh…!" Woobin juga terjatuh tapi ia sempat mendarat dengan kakinya meskipun akhirnya terjungkal.

"Yifannnn…" jerit Yixing.

"Hei! Itu pelanggaran!" Pelatih Cho protes pada Wasit. Para pemain Wolf Descendant yang lain mengerumuni Yifan, Yifan masih tergeletak dengan menahan nyeri. "Yifan, kau baik saja. Yifan.." Sehun mengguncang tubuh Yifan. Nafas Yifan tersengal, mendadak semua berubah putih.

"Andwee, aku tidak boleh kalah… aku tidak mau berakhir disini." Ucap Yifan pelan. Tiba-tiba, "Yifannn…..!" panggil seseorang yang tak asing untuknya.

"Yi-Yixing." Yifan melihat Yixing berdiri di dekatnya. "Saat ini aku hampir kesulitan bernafas."

"Kau pasti bisa, aku yakin."

"Dan hanya itu yang aku butuhkan. Kuatkanlah aku" Yixing tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan Yifan menyambutnya.

"Hah-hah-hah.." Yifan terbangun, ia melihat Sehun mengulurkan tangan padanya dan ia pun menyambutnya, Yifan kembali berdiri. "Kau baik saja?" Tanya Sehun. Yifan mengangguk.

Wolf Descendant mendapat hadiah, memasukkan bola ke ring lawan. Yifan sebagai eksekutornya berhasil, 2 angka untuk Wolf Descendant.

Kedudukan 74-75, Korean Warrior unggul 1 angka. Pertandingan semakin panas, Korean Warrior berulang kali membuat pelanggaran, waktu hanya menyisakan beberapa detik, Yifan pun meminta istirahat sebentar., "AKu dijaga ketat. AKu tidak bisa melempar bola." Keluh Yifan pada Pelatih Cho.

"Bagaimana, kapten?"

"Masukkan, Baekhyun."

"Baekhyun? Yifan kau kalah 2 angka.."

"Aku tahu, hanya… berikan bolanya." Pinta Yifan.

"Baiklah.." pelatih Cho pun memanggil Baekhyun. Baekhyun terlihat semangat sekali tapi Yifan menenangkannya, "Tenang ya, perhatikan aku." Baekhyun mengangguk penuh semangat.

Mereka kembali ke lapangan, Wolf Descendant melakukan lemparan ke dalam, bola berhasil di ambil Yifan, Yifan berlari ke area Korean Warrior, saat ia melompat dan kelihatan akan menembak, Yifan kembali bertabrakan dengan Woobin namun bola itu ternyata di lempar ke Baekhyun. Yifan dan Woobin sama-sama terjatuh, sedangkan Baekhyun berhasil menangkapnya, ia sempat terdiam bingung, membuat semua orang 'senam jantung' karena waktu hanya tinggal beberapa detik hingga suara pelatih Cho menyadarkannya. "Lakukan! Tembak!" Baekhyun pun segera melempar bola ke ring dan BANG! Masuk dan PRITT! Pertandingan pun berakhir untuk kemenangan tipis Wolf Descendant atas Korean Warrior.

Akhirnya Wolf Descendant menjadi juara liga tahun ini. Woobin dan Yifan menjadi MPV di tim masing-masing.

Woobin mendekati Yifan dan mengulurkan tangannya, "Selamat, kau berhasil!" Yifan tersenyum dan membalasnya. Bukan hanya berjabat tangan tapi Yifan merengkuhnya, mereka saling berpelukan. "Kau pemain hebat Woobin."

"Kau juga." Balas Woobin. Dari jauh Yixing dan Jongsuk terharu melihat Yifan kembali akrab dengan Woobin.

.

.

"Sehun dorong.. ughhh.."

"Aku sudah mendorong pabooo.."

"Lebih keras lagi.."

"Sudah kulakukan…"

"Sedikit lagi.. Sehun awas pohon.. Yak stop!" Mereka berhenti di depan rumah Yifan. "Home Swee Home.." Yifan membersihkan tangannya setelah mendorong moblnya yang mogok cukup jauh. Sehun mendekati Yifan dengan muka masam. Ia menatapnya dengan tatapan kesal. "Hei jangan salahkan aku, aku sedang menabung untuk membeli mobil baru."

"Hehem.. menabunglah lebih cepat." Balas Sehun sinis.

"Sedang kuusahakan." Mereka berdua berjalan memasuki rumah Yifan yang saat ini sedang diadakan pesta perayaan kemenangan Wolf Descendant.

"Mintalah pada Umma-mu, kenapa sih kau bertahan dengan mobil tua ini? Lagipula, Umma-mu kan bisa membelikanmu mobil keluaran terbaru."

"Ini mobil tua, klasik, harganya mahal kalau kau jual di pelelangan."

"Ya, kakekku yang akan membelinya." Tak lama kemudian mereka bergabung dengan yang lainnya.

"Selamat Wolf, kalian juara." Ucap Yixing pada Yifan.

"Ini semua juga karenamu." Yifan menyentil hidung Yixing. "Ayo ikut aku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Yifan menarik tangan Yixing ke sebuah tempat rahasia.

.

"Rumah pohon?"

"Ya, aku minta Pak Lee untuk membuatkannya untukku, kalau aku kesepian aku kesini."

"Kau memang penuh kejutan." Mereka berdua duduk di tepi dan melihat pemandangan di luar. "Indah sekali tempat ini.." Yixing mengagumi keindahan yang ia lihat dari rumah pohon itu.

"Kau orang kedua yang aku bawa kesini." Yixing mengerutkan dahinya dan menyenggol lengan Yifan. "Yang pertama, Umma-ku."

"Umma-mu? Ku kira Clara?"

"Tentu saja Umma-ku, dia orang yang sangat penting dalam hidupku. Berhubung Umma sedang di Madrid dan lusa baru kembali, lusa aku akan mengenalkannya padamu. Clara,Dia tidak suka tempat seperti ini."

"Umma-mu orang yang sibuk."

"Tapi ia tidak lupa menonton video pertandinganku lewat streaming."

"Dia sayang sekali padamu."

"Sangat… saat-saat seperti ini aku merindukan Appa Jung dan Umma. Andai saja Appa Jung masih hidup, aku pasti menjadi orang paling bahagia di dunia ini." Yifan merebahkan dirinya, pandangannya menerawang ke langit yang penuh bintang saat itu.

"Aku yakin, Ahjussi Jung sedang melihatmu dan bangga padamu." Yixing mengikuti jejak Yifan dengan tidur disamping Yifan dan melihat langit.

"Kau tahu, aku sangat suka melihat bintang. Apalagi dimalam yang cerah ini."

"Ya aku juga, aku sering melihat bintang dengan Woobin dari atap flat kami. Setiap malam saat langit terang. Menyenangkan bisa melihat bintang dengan orang yang kita cintai." Yifan menoleh,ia melihat wajah Yixing yang terlhat begitu berseri, Yixing pun mengikuti Yifan, mereka saling bertatapan.

"Saranghae Zhang Yixing." Yifan mendekatkan dirinya pada Yixing dan menciumnya. Ciuman lembut yang sangat mereka nikmati.

"Aku akan menjagamu, sampai akhir hidupku nanti." Janji Yifan, Yixing mengangguk. Yifan kembali mencium Yixing.

.

.

Keesokan harinya, Yixing berjalan pulang menuju flatnya setelah berbelanja. Tiba-tiba ia berhenti setelah melihat segerombolan preman menghajar seorang namja yang memakai seragam SMA. Yixing mencari sesuatu untuk menolong namja itu. Gotcha! Dia menemukan kayu, Yixing mengambil kayu itu dan berlari kearah gerombolan preman itu, "Hei kalian berhenti memukulnya.." Yixing berteriak sambil mengacungkan kayu yang dia bawa. Mereka berbalik melihat Yixing yang sudah ancang-ancang menghajar mereka.

"Dasar kalian kurang ajar, beraninya memukul anak kecil." BUGH-BUGH-BUGH! Yixing memukul segerombolan preman yang ternyata masih remaja juga, sepertinya anak-anak itu membully si namja yang menjadi korban. "Lari…!" mereka berlari setelah mendapat pukulan dari Yixing.

"Dasar! Masih kecil sudah jadi preman, bagaimana kalau besar nanti." Teriak Yixing. mereka berlalu. Yixing melempar kayu itu dan menolong si namja.

"Hei kau baik-baik saja?" Tanya Yixing. namja itu mengangguk. "Namamu siapa?"

"Ta-Taeyong. Lee Taeyong." jawabnya sedikit merintih, bibirnya berdarah, pipinya juga lebam.

"Zhang Yixing. Ok Taeyong, aku antar kau pulang setelah itu aku obati kau."

"T-terima kasih, hyung." Yixing pun mengantar pulang Taeyong. setelah sampai di kediaman Taeyong, Yixing segera menngobatinya.

"Kau tinggal disini sendiri?"

"Aku yatim piatu Hyung."

"AKu juga. Jadi mereka tadi siapa?"

"Mereka kakak kelas di Shinwa. Mereka sering mem-bully-ku karena aku orang miskin."

"Ya selalu saja begitu, orang kaya selalu menindas orang miskin. Like usual.." Yixing menghela nafas, kemudian memasang plester di wajah Taeyong. "Nah Taeyong, selesai."

"Terima kasih hyung, aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau tidak ada hyung."

"Tunggu sebentar." Yixing mengambil sesuatu di tasnya, dan ternyata sebuah peluit. "untukmu.." Yixing menyerahkan peluit itu pada Taeyong.

"Ini apa hyung?"

"Peluit, ini bisa kau pakai kalau kau butuh bantuan. Aku sering memakainya dan aku selalu mendapat bantuan." Taeyong menerima peluit itu dan meniupnya. PRIT-PRIT-PRIT!

"Jaga dirimu baik-baik, jangan mau dibully terus, kau kan namja, namja harus kuat. Arraso?" Taeyong mengangguk.

"Terima kasih hyung.." Yixing mengacak-acak rambut Taeyong kemudian meninggakan Taeyong.

.

.

.

"Kita mau kemana Fan?" Tanya Yixing saat mereka ada di mobil Yifan.

"Kerumahku, Umma sudah pulang. Aku janji akan mempertemukanmu dengan Umma."

"Tapi-tapi aku belum siap."

"Sudahlah, Umma sangat baik kok, kau tenang saja." mereka berdua menuju rumah Yifan. Setibanya di rumah Yifan, Yixing gugup tingkat akut tapi Yifan menenangkannya.

"Ayo masuk." Ajak Yifan, lalu mereka pun masuk.

.

"Umma.." panggil Yifan. Umma Yifan yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Jaejoong. Seorang designer dan presdir Moldir yang terkenal. Namja yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah menginjak 40-an.

"Sayang.." Yifan memeluk Umma-nya.

"Mana namja special yang kau ceritakan selama ini pada Umma?" Yifan melepas pelukannya dan menunjuk Yixing yang saat ini berdiri di dekat ruang tamu.

"Ah dia, kemari nak.." panggil Jaejoong. Yixing berjalan menunduk menghampiri Jaejoong. "Kau? Zhang Yixing?"

"Nde, Presdir.."

"Jangan sungkan.. panggil aku ahjumma saja. semua teman Yifan memanggilku Ahjumma Jae."

"N-nde A-ahjumma."

"Mari kita ke ruang makan. Aku sudah masak banyak untuk acara makan malam kita." Jaejoong mengajak Yifan dan Yixing ke ruang makan.

Yixing duduk disamping Yifan dan berhadapan dengan Jaejoong. Saat mereka akan memulai makan tiba-tiba kepala pelayan Jin menghadap Jaejoong.

"Maaf Nyonya, Tuan besar datang."

"Tuan besar?"

"Tuan Besar Wu bersama seorang wanita."

"Dia datang? terakhir aku dengar dia ada di Perancis, 6 bulan lalu. masih ingat rumah rupanya." Ucap Jaejoong sarkastis. Kepala pelayan Jin hanya diam tak menjawab. "Suruh saja dia masuk. Bilang padanya, aku ada tamu kalau dia ingin bergabung silahkan, kalau tidak terserah dia mau apa."

"Baik nyonya." Kepala Pelayan Jin meninggalkan Jaejoong, Yifan dan Yixing.

"Ugghh..membuat mood ku hilang saja."

"Umma, sudahlah.. disini ada Yixing, Umma.." Yifan mencoba menenangkan Jaejoong.

"Aku tidak apa-apa Yifan." Yixing menggenggam tangan Yifan.

"Ah maaf Xing, tidak seharusnya kau mendengar hal seperti ini." Ucap Jaejoong. Yixing hanya tersenyum tipis. "kalau begitu kita makan saja. Xing cobalah sup ini, Yifan sangat menyukai sup ini."

"Nde, pasti sup yang anda buat sangat lezat, saya pernah mencicipi masakan anda saat Yifan ulang tahun dan masakan anda benar-benar enak. Anda pasti akan jadi koki yang handal Ahjumma. Jujur saya ingin mencicipi masakan anda lagi."

"Benarkah? kau mencicipi masakanku saat Yifan ulang tahun kemarin."Yixing mengangguk. "Awalnya anak bodoh ini menolak, tapi lihat sekarang, pacarmu saja ketagihan masakan Umma."

"Iya, maafkan aku Umma.. masakan Umma memang yang paling enak." Puji Yifan. Saat mereka sedang bersenda gurau tiba-tiba ada suara menginterupsi mereka.

"Wow, kalian makan bersama tanpa mengundangku rupanya." Sela Tuan Wu yang tak lain dan tak bukan adalah ayah tiri Yifan. Mereka mendadak terdiam, Tuan Wu tidak sendiri, ia datang bersama Clara, mantan kekasih Yifan.

"Hai Yifan, selamat sore ahjumma Jae." sapa Clara sok ramah.

"Clara?" Yifan mengerutkan dahinya.

"Tadi Appa bertemu dengan Clara di bandara. Jadi Appa mengajak mampir. Bukankah dia kekasihmu?" Tanya Tuan Wu penuh percaya diri. Ia mendudukkan dirinya menghadap kursi kosong,di samping kanan Jaejoong, Yifan, Yixing dan Clara yang berada di sebelah kiri Tuan Wu.

"AKu sudah putus, kalau Appa ingin tahu." Jawab Yifan singkat. Jaejoong terkekeh.

"Begitu dibilang perhatian dengan anak, kapan kau terakhir bertemu Yifan? 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun yang lalu? kalau kau ingin tahu, Yifan sudah memiliki pacar baru dan yang duduk disampingnya ini adalah pacarnya, Tuan Wu yang terhormat, namanya Zhang Yixing." Tanya Jaejoong dengan nada menyindir. Tuan Wu hanya terdiam., ia tak bisa menjawab. Mungkin merasa malu karena tak mengenal Yifan sepenuhnya.

Clara yang melihat Tuan Wu kebingungan segera menolongnya setelah melihat Yixing. ia berniat untuk membuat Yixing malu.

"Ah kebetulan ada Yixing disini? bagaimana dengan toko bukumu Xing, kudengar ada diskon besar-besaran disana?" Tanya Clara sambil melirik Yixing.

"Toko buku?"Tanya Tuan Wu bingung, "Kau punya toko buku?"

Yixing menggeleng, "Saya bekerja disana sebagai.."

"Pelayan.. benarkan Xing?"

"Pelayan? Kau seorang pelayan?" Tanya Tuan Wu sarkastis. Yixing mengangguk pelan. "Hah pelayan. Pacar barumu pelayan di toko buku?"

"Kurasa tidak ada salahnya pacarku bekerja di toko buku, lagipula itu tidak merugikanmu kan Appa?"

"Yifan, dia.."

"Yixing.. Apa sampul majalah Times bulan ini?" Tanya Jaejoong tiba-tiba.

"Nde? Oh bulan ini…"

"Bill Gates.." jawab Clara tiba-tiba. Jaejoong mengerutkan dahinya. "Bill Gates?"

"Bill Gates, sampul Times 6 bulan lalu, bulan ini anda ahjumma.. Kim Jaejoong. Creative Designer sekaligus PresDir Moldir. Menciptakan karya melalui sentuhan tangan dinginnya dan berhasil menembus pasar dunia."

"Benarkah itu?" Yifan mengambil ponselnya dan mencari sampul Times bulan ini. "Umma? Kau ada di sampul majalah Times bulan ini." Jaejoong tersenyum. Clara menganga tak percaya.

"Kalau majalah Men's Health. Dari Barat, Adam Levine terpilih sebagai Man of the year, sedangkan Asia, Joe Taslim."

"Bagimana dengan Fashion terbaru? Apa yang sedang trend saat ini?"

"Prada mengeluarkan tas limited edition, dengan taburan krystal swarowsky membuatnya tampak elegan. Hanya di buat 100 unit dan yang saya dengar sudah terjual 90 lebih melalui online." Yifan terkejut dengan kemampuan Yixing, Clara dan Tuan Wu Speechless dengan kecerdasaan Yixing, sepertinya bukan Yixing yang malu tapi Clara lah yang malu karena tidak bisa menjawab.

"Apa kau tahu, perancang dari jas yang aku pakai di sampul Times bulan ini?"

"Jas? Oh itu bukankah itu…"

"Prada ahjumma, jas yang kau pakai adalah Prada. I love your Prada outfit." Clara menyela saat Yixing akan menjawab.

"It's Ferragamo. Itu salah satu buatan terbaik dari Ferragamo." Jawab Yixing kemudian.

"That's Right, ternyata kau bukan hanya pelayan di toko buku tapi kau bisa lebih dari itu. Moldir butuh orang seperti dirimu Xing." Puji Jaejoong. Yixing tersenyum. "Bukankah kau yang hobi belanja, Clara Lee. Harusnya kau lebih tahu tentang fashion terbaru, bukan? Kenapa kau kalah dengan seorang 'pelayan toko'?" sindir Jaejoong pada Clara.

"Uhuk.." Clara tersedak, Bagai disambar petir di siang bolong, Clara benar-benar skak-mat, niatnya mempermalukan Yixing tapi justru dia yang dipermalukan oleh dirinya sendiri. 'Aku tidak akan diam saja dipermalukan begini, aku akan membalasmu Zhang Yixing.'

.

.

.

Yixing berjalan menuju perpustakaan sesaat setelah pelajarannya selesai. Mendadak, ia merasa mual dan ia berlari ke toilet. Sampai di toilet, ia muntah-muntah. "Hoekk..hoekk.. Ugghh… aku kenapa?" ia mencuci mukanya dan keluar dari toilet.

Ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan setelahnya. Di lorong menuju perpustakaan ia tak sengaja bertemu dengan Leo.

"Hai Zhang Yixing, lama tak bertemu."

"K-kau? Ada apa lagi? Urusan kita sudah selesai, lama selesai. Jadi jangan ganggu aku."

"Aku hanya ingin bertegur sapa dan sedikit melepas rindu padamu, apa itu tidak boleh?"

"Setelah kejadian itu, kau berjanji tidak akan menemuiku. Kau harus menepati janjimu?"

"Ya-ya-ya aku tahu. Setelah kau mendesahkan namaku berkali-kali, aku berjanji aku tidak akan menemuimu tapi entah kenapa aku tidak bisa menahan rasaku untuk bertemu denganmu. Aku merindukan desahanmu, tubuhmu.."

"Cukup! Apa yang kau mau Leo?"

"Berikan aku satu ciumanmu setelah itu aku berjanji, aku akan menjauhimu."

"MWo! Kau gila.."

"Cium aku atau aku akan terus mengejarmu karena aku mulai menyukaimu Zhang Yixing. namja yang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintai, termasuk tidur denganku hanya demi Yifan agar masuk tim basket lagi dan Woobin masuk tim Korean Warrior."

"Ok-ok jangan dibahas lagi." Yixing menghela nafas.

"Ayo, waktuku tidak banyak." Yixing mendekati Leo dan menciumnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Leo.

Dibalik tembok seseorang merekam semua pembicaraan mereka, "I got you, Zhang Yixing." ia menyeringai kejam.

.

.

.

Pulang kuliah, Yixing sendirian karena Yifan dan Woobin berlatih basket. Saat menunggu bis, ia merasa mual lagi dan terpaksa memuntahkannya di belakang halte. Akhirnya setelah bis datang, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.

.

"Keluhan?"

"Mual, muntah, sudah beberapa hari ini Uisa." Jawab Yixing.

"Mari ikut aku, aku akan memeriksanya." Yixing mengikuti dokter Lee dan kemudian menjalani pemeriksaan.

15 menit kemudian, hasilnya keluar.

"bagaimana Uisa, apa yang terjadi denganku?"

"Setelah menjalani pemeriksaan berkali-kali, tidak salah lagi..."

"Ada apa Uisa?"

"Kau hamil Xing, 6 Minggu."

"MWO!"

.

.

.

"Yifan, kau dipanggil pelatih Cho." Sehun memanggil Yifan yang saat itu sedang berlatih. Yifan menghentikan latihannya dan pergi ke ruangan pelatih Cho.

.

Tok-tok-tok! "Masuk!" Yifan pun masuk. Terlihat dalam ruangan itu ada seorang namja asing dengan setelan jas rapi duduk bersebelahan dengan Pelatih Cho. "Ah Yifan kau sudah datang. Kemari, perkenalkan ini adalah Tuan Parker, pelatih dari Toronto Raptor." Yifan berjabat tangan dengan Tuan Parker.

"Ada apa pelatih Cho memanggilku?"

"Duduklah, Tuan Parker akan menjelaskan padamu." Yifan pun duduk di sebelah pelatih Cho.

"Kedatanganku kemari untuk menawarimu bermain di clubku, Toronto Raptor, musim depan."

"Aku? Toronto Raptor? Aku bermain untuk Toronto Raptor?"

"Tentu, kami akan menawarkan kontrak satu musim dan jika performa-mu meningkat, maka kami akan ajukan perpanjangan kontrak hingga 2 musim, begitu seterusnya."

"N-n-nde?" Tanya Yifan tak percaya.

.

.

Setelah keluar dari ruang Pelatih Cho, wajah Yifan terlihat begitu semangat, ia mengambil ponselnya dan akan menghubungi Yixing tapi tiba-tiba,

"Yifannn…" panggil Clara. Yifan mendengus, Clara pun menghampirinya.

"Ada apa?" Tanya Yifan malas.

"Aku punya sesuatu untukmu?"

"Apa?" Clara menyodorkan ponselnya. "Apa ini? Kau memberikan ponselmu padaku? Tidak terima kasih, aku bisa beli sendiri."

"No, play video itu dumb-ass. Baru kau komentar." Yifan mengerutkan dahinya kemudian dengan malas mem-play video itu.

'Ya-ya-ya aku tahu. Setelah kau mendesahkan namaku berkali-kali, aku merindukan desahanmu, tubuhmu.. Cium aku karena aku mulai menyukaimu Zhang Yixing. namja yang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintai, termasuk tidur denganku hanya demi Woobin masuk tim Korean Warrior..' Yifan terbelalak melihat adegan setelahnya, Yixing berciuman dengan Leo.

"A-a-apa ini? Apa maksudmu?"

"Hanya ingin membuka matamu, siapa Yixing yang sebenarnya? Sekarang siapa yang pelacur disini? Aku atau dia? Dia rela tidur dengan Leo hanya demi Woobin agar Woobin masuk tim Korean Warrior, demi Woobin. Apa dia tidak melihatmu sebagai pacarnya sehingga dia berani melakukan hal seperti itu? Sepertinya dia melakukan itu bukan hanya dengan Leo tapi dengan namja lain. Lihat ini.." Clara menunjukkan foto saat Yixing menerima sebuah hadiah dari seorang namja. "Namja ini, dari kelasku, namanya Junhee. Dia namja kaya, orang tuanya pengusaha batu bara. Dia pernah menanyakan nomor telepon Yixing padaku, aku sempat bertanya untuk apa dia meminta nomor telepon Yixing, dia bilang untuk meminta tolong mengerjakan Tugas, tidak tahunya.."

"Apa Woobin tahu kalau Yixing melakukan ini demi dirinya?"

"Tentu saja tidak, kalau Woobin tahu, Woobin tidak akan membiarkan Leo hidup,dia pasti sudah membunuh Leo, meskipun dia tahu kalau Yixing yang menggoda Leo."

"Stop.. aku harus bicara dengan Yixing sekarang.." Clara menghentikan bicaranya, ia menyeringai tipis saat melihat aura kemarahan dari Yifan.

'Kalau aku tidak bisa memilikimu lagi, maka Yixing juga tidak bisa.' Bathin Clara kejam.

.

Tut-tut-tut! "AKu ingin bertemu denganmu sekarang."

"…"

"Aku tunggu di taman kampus sekarang." PIP! Yifan menutup teleponnya. "Kau harus menjelaskan semua padaku Xing." Geram Yifan.

10 menit kemudian Yixing datang, ia melihat Yifan berdiri memunggunginya. Yixing berlari kearah Yifan.

"Yifan.."panggil sudah dekat tiba-tiba Yifan menghentikannya,"Berhenti jangan mendekat." Yixing pun menghentikan langkahnya, ia terkejut dengan sikap Yifan yang mendadak marah padahal tadi pagi saat bertemu mereka baik-baik saja.

"A-ada apa Fan?" Tanya Yixing gugup.

"Apa kau tidur dengan Leo demi Woobin agar dia masuk tim Korean Warrior?"

DEG~ jantung Yixing mencelos mendengar pertanyaan Yifan. "A-a-apa?"

"JAWAB ZHANG YIXING! APA KAU TIDUR DENGAN LEO DEMI KARIR WOOBIN?"

"Y-Yifan…" airmata Yixing mengalir, inikah akhirnya Yifan mengetahui perbuatan yang dia lakukan, 'Woobin, kenapa hanya Woobin? Apa dia tidak tahu kalau aku melakukan itu demi dirinya juga?' Yifan berbalik dan menatap Yixing yang saat itu menangis dengan tatapan tajam.

"Jadi benar kau melakukan perbuatan menjijikkan itu demi Woobin? Ah iya Woobin adalah orang yang sangat penting bagi hidupmu, dia lebih dari saudara untukmu, kau bahkan rela melakukan apapun demi dia bahkan menjadi pelacur untuk karir Woobin, bravo-bravo!" Yifan bertepuk tangan, "Tangisanmu itu palsu Zhang Yixing, jangan tunjukkan padaku karena aku muak melihatnya."

"Y-Yifan, aku-aku melakukan ini demi..."

"Bullshit.. aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu. Kau itu tak lebih dari namja munafik, mengaku suci tapi hatimu busuk." Yifan memutus kalung pemberian Yixing yang ia pakai kemudian melemparnya ke wajah Yixing. "Ambil barang yang kau beli dari hasil menjual tubuhmu itu, aku tidak mau memakai barang hasil melacur. Dan mulai saat ini kita putus." Yifan meninggalkan Yixing yang masih menangis tanpa mendengar penjelasan dari Yixing.

"Aku hamil Fan, ini anakmu." Namun Yifan telah pergi. Yixing terisak sambil menggenggam erat kalung yang dibuang Yifan.

Dari jauh, Clara menyeringai. 'Satu lagi dan kau akan menjadi orang yang paling menderita di dunia ini, Zhang Yixing.'

.

.

.

Yixing berjalan lesu menuju flatnya. Ingin rasanya ia mencurahkan semua masalahnya pada Woobin.

CKLEK! "Aku pulang.." Yixing membuka pintu flatnya. Saat ia masuk, ia melihat Woobin duduk tanpa menjawab sapaannya, terlihat Jongsuk ada di sebelah Woobin.

"Jongsuk kau disini juga?" Jongsuk hanya tersenyum tipis. "Woobin, aku.."

"Apa benar kau tidur dengan Leo hanya demi Yifan agar dia masuk tim basket lagi?"

DEG~ lagi, jantung Yixing mencelos mendengar pertanyaan Woobin, pertanyaan yang sama seperti yang diajukan Yifan, hanya saja kali ini Yifan-lah pokok masalahnya. "A-apa?"

"Jangan pura-pura terkejut, jawab saja!"

"Woo-Woobin, aku-aku.."

"Jadi benar kau melakukan ini demi WU Yifan? Kau rela menjadi pelacur untuk dia, orang yang baru saja kau kenal? Lalu aku kau anggap apa? Aku menjagamu selama ini tapi hanya demi seorang Wu Yifan kau rela menjual tubuhmu dan menjadi seorang pelacur.."

"Woobin!" bentak Jongsuk, "Kau.."

"Jongsuk.." panggil Yixing, Jongsuk menatap Yixing dan Yixing menggeleng pelan seolah mengatakan biarkan-saja. 'Yixing..' Desa Jongsuk pilu.

"N-nde,nde, aku tidur dengan Leo demi Yifan, aku melakukannya agar Yifan bisa kembali ke tim basket lagi." Woobin bangkit dari duduknya dan menghampiri Yixing.

PLAK! Ia menampar Yixing. "Woobin.." teriak Jongsuk. Yixing hanya terdiam. Ia menahan sakit di pipinya dan juga hatinya, Yixing menangis. "keluar! pergi dari rumah ini, jangan pernah tunjukkan wajahmu dihadapanku lagi. AKu tidak mau ada pelacur dirumah ini." Usir Woobin. Yixing hanya bisa mengangguk pelan.

Mungkin ini akhirnya, bahwa ia harus pergi dari Woobin dan Yifan. Yixing tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Woobin dan Yifan salah paham, mereka tidak mengetahui kebenarannya, mereka hanya tahu setengahnya. Meskipun berat tapi ia harus pergi.

TBC

Maaf jika alur nya kecepatan.. typo bertebaran, no edit.

Mohon Review nya juseyo~