LOVE DUNK KRAY VERSION
Author -Takii_yuuki-
Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]
Main cast :
Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris
Kim Woobin – Lee Jongsuk
Clara Lee, Jung Taekwon
Rating : M
Length : Chaptered
M-PREG!
Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.
Pin bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F
Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.
Mohon sekali lagi dibaca warningnya, ini Pair Kris Lay jadi yang tidak suka couple ini, mending gak usah dibaca daripada nanti kecewa dan menghina author.
mulai Chap 5 ini hasil saiaa sendiri
MAAF KALAU ALURNYA TERLALU CEPAT, LONCAT-LONCAT, MEMBOSANKAN, GAK JELAS, KEPANJANGAN, MOHON MAAF SEKALI LAGI.
Happy reading...
Chapter 5
Yixing memasuki kamarnya dengan penuh kesedihan. Ia mengambil koper dan mengemasi pakaiannya. Dengan berurai airmata Yixing membereskan barang-barangnya. Yixing mengambil figura foto yang berisi dirinya dan Woobin. 'Woobin, maafkan aku, aku melakukan ini demi dirimu, aku tidak pernah mengambil keuntungan dari semua yang aku lakukan.' Ia mendekap foto itu dan memasukkannya ke dalam tas-nya.
"Yixing..!" panggil Jongsuk yang kemudian masuk ke kamar Yixing. "Jangan pergi, jelaskan pada Woobin apa yang terjadi sebenarnya." Pinta Jongsuk.
"Tidak, jangan Jongsuk. Kalau sampai Woobin tahu, Woobin tidak akan mau bermain untuk Korean Warrior lagi, aku tidak mau ia membuang impiannya. Kumohon Jongsuk, jangan katakan pada Woobin tentang alasan sebenarnya. Aku tidak mengerti darimana dia tahu tentang hal itu, tapi satu hal yang pasti, Woobin hanya mendengar cerita itu setengah saja, kalau dia tahu yang sebenarnya, dia benar-benar akan membuang impiannya. Jangan Jongsuk, aku mohon."
"Tapi Xing.."
"Sekarang, jagalah Woobin, kau harus menjaganya. Kau tidak boleh meninggalkannya. Kau janji?" mohon Yixing.
"Yixing.."
"Kumohon.." pinta Yixing memelas.
"Nde, aku janji, aku akan menjaga Woobin." Yixing memeluk Jongsuk, "Dia tidak boleh tahu, jangan sampa dia tahu."
"Nde, aku tidak akan mengatakannya."
"Aku pergi Sukie, tolog jaga Woobin." Yixing mengucapkan salam perpisahan. Ia pergi membawa koper dan boneka yang Yifan berikan padanya.
"Kau mau kemana? Tinggalah dirumahku saja. Aku akan mengantarmu, sebelum Woobin kembali, dia tidak akan tahu kau tinggal dirumahku." saran Jongsuk.
Yixing menggeleng,"kau tidak perlu khawatirkan aku. Sekarang susul-lah Woobin, kalau sampai dia mabuk, kau akan kesulitan membawanya pulang. Perutnya sangat tidak toleransi dengan alcohol."
"baiklah, tapi kau harus menghubungiku dimanapun kau berada."
"Nde aku janji." Mereka sama-sama berpisah, Jongsuk menjemput Woobin yang tadi pergi ke bar sedangkan Yixing berjalan tak tahu arah tujuan.
.
.
Yixing berjalan menyusuri trotoar dengan lesu, sesekali ia mengusap airmata yang terus jatuh membasahi pipinya. Ia mendekap erat boneka pemberian Yifan, mencoba mencium aroma Yifan yang tertinggal di boneka itu. Tiba-tiba..
TIN-TIN.. Yixing melihat mobil yang meng-klakson-nya. Mobil itu menepi dan berhenti di dekat Yixing. Yixing sedikit memicingkan matanya untuk melihat orang yang ada di dalam mobil karena kaca mobil itu belum terbuka dan saat terbuka, "Hyung.." panggil seseorang dari dalam.
Yixing masih belum mengenali namja yang memanggilnya,"Hyung,Yixing hyung..Aku Taeyong!" panggil namja yang ternyata adalah Taeyong.
"Ta-Taeyong?" Taeyong turun dari mobil dan menghampirinya.
"Akhirnya hyung mengenaliku." Taeyong melihat Yixing membawa koper, tas punggung dan boneka beruang yang agak besar. Taeyong menebak bahwa Yixing akan pindah rumah. "Hyung kau mau kemana malam-malam begini? Kau pergi dari rumah atau mau pindah?"
"A-aku pergi dari rumah."
"Kau mau kemana?" Yixing menggeleng, "Aku tidak tahu, aku akan mencari rumah sewa tapi mungkin aku akan tidur di sauna sampai besok. Kau sendiri mau kemana? Kau pindah rumah?"
"Tinggalah denganku hyung, aku akan pindah ke Daegu. Aku sendirian disana."
"Apa? Kenapa kau pindah? Bukankah kau masih sekolah di Shinwa?"
"Aku sudah keluar hyung, aku ingin sekolah di tempat biasa saja. Shinwa terlalu mewah untukku. Ayolah hyung, ikut aku saja, kau juga belum tau kan mau kemana?"
"Apa kau tidak keberatan aku ikut denganmu?"
"Tentu saja tidak,aku malah senang ada temannya, tapi bagaimana kuliahmu Hyung? Kau kan tidak mungkin setiap hari berangkat kuliah dari Daegu ke Seoul?"
"AKu akan mengajukan cuti."
"Cuti? Apa tidak masalah hyung? Hyung kan sebentar lagi lulus."
"Tidak apa-apa Yongie. Aku tdak memikirkan hal itu."
"Ya itu terserah kau saja hyung. Kalau begitu bisakah kita berangkat sekarang?" ajak Taeyong. Yixing mengangguk, Taeyong segera memasukkan koper Yixing ke bak mobil belakang, "kau duluan hyung." Taeyong menyuruh Yixing masuk lebih dulu setelah itu Taeyong menyusul dan kemudian mereka pun berangkat ke Daegu meninggalkan Seoul. 'Selamat tinggal Yifan, selamat tinggal Woobin, aku harap kalian bahagia dengan hidup kalian tanpa aku.' Yixing mengambil ponselnya, membongkarnya dan membuang akan memulai hidup baru kali ini. Meskipun sakit tapi ia harus memulainya tanpa Yifan dan Woobin.
.
.
Yifan membanting semua barang dikamarnya dan meronta. "WAE XING? WAE? Apa salahku padamu, kenapa kau melakukan hal ini padaku? WAEE?" Yifan menjambak rambutnya kasar. Yifan terduduk sambil menangis, tak sengaja matanya menangkap booklet tentang klub Toronto Raptor. Ia mengambil booklet itu dan menatapnya dalam-dalam. Yifan mengambil ponselnya.
Tut-tut-tut! Pip! "…"
"Umma, aku ingin pergi ke Kanada. Tolong siapkan semua."
"..."Pip! Yifan menutup ponselnya. Ia kembali melihat Booklet itu. 'Toronto Raptor akan membantumu, mengembangkan kemampuanmu, Yifan.'
.
.
At Bar!
Woobin menegak minuman-nya yang ke-5, ia benar-benar sudah mabuk sekarang. Ia teringat akan Yixing, tak percaya dengan apa yang Yixing lakukan. Woobin meracau tidak jelas. "Zhang Yixing..hik..kau jahat padaku..hik.. kau menipuku..dasar b***!" Woobin mengusap airmata yang keluar dari matanya, ia melihat airmata yang menempel di tangannya kemudian tertawa, "Apa ini? Aku menangis..hik..menangis untuk pelacur..hik.."
"Woobin..!" panggil Jongsuk, ia menghampiri Woobin dan menangkap Woobin yang hampir jatuh karena sudah mabuk berat. "Woobin, kau mabuk."
"Siapa kau?" Woobin melihat Jongsuk samar-samar. "Kau cantik, maukah kau menemaniku malam ini, cantik..hik.." racau Woobin.
"Woobin kita harus pulang." Jongsuk mengalungkan lengan Woobin ke pundaknya tapi Woobin menolak.
"Aku tidak mau..hik..aku mau disini..hik..aku tidak mau bertemu dengan..hik..pelacur itu lagi..hik..siapa namanya..hik.. Zha-Zhang Yixing. Ya Zhang Yixing..hik.."
"Yixing bukan pelacur, dia melakukan itu demi dirimu." Akhirnya Jongsuk meminta bantuan security dan membawa Woobin ke mobilnya. Sepanjang perjalanan Woobin meracau tentang Yixing. sampai di flat, ia agak kesulitan membawa Woobin masuk tapi dengan sedikit usaha akhirnya ia berhasil membawa Woobin ke kamar.
BRUK! Jongsuk menjatuhkan Woobin ke bed, "Uugghh.. kau berat sekali Woobin-a." Jongsuk menghela nafas lega. Woobin tak bergerak, sepertinya sudah tidur. Jongsuk melepas sepatu Woobin. Saat ia akan menyelimuti Woobin tiba-tiba tangan Woobin bergerak menangkapnya dan menjatuhkan Jongsuk ke bed kemudian menindihnya.
"Wo-Woobin apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Jongsuk mencoba melepaskan diri tapi Woobin sepertinya sudah mabuk berat dan tak mempedulikan rontaan Jongsuk.
"Yixing.. aku membutuhkanmu.." rancau Woobin. Ia melihat wajah Jongsuk yang berubah menjadi wajah Yixing.
"Aku bukan Yixing, lepaskan aku."
"TIDAK!" bentak Woobin, hal itu membuat Jongsuk terdiam karena takut. "Nah begitu kan lebih baik." Jongsuk menggeleng keras, airmatanya mulai mengalir karena takut.
"Jangan Woobin, aku bukan Yixing, aku Jongsuk."
"Sstt.. diamlah Xing, aku tidak suka dilawan. Ssstt.." Woobin mencium leher Jongsuk dan memberi kissmark disana.
"Woobin kumohon berhenti. Aku Jongsuk bukan Yixing." permohonan Jongsuk tak dihiraukan Woobin, ia terus mencumbu Jongsuk, menciumnya dan mulai membuka pakaian Jongsuk. Jongsuk mencoba melawan tapi Woobin malah menamparnya dan akhirnya ia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Woobin padanya.
.
.
Yifan mulai mengemasi pakaiannya. Saat ia melihat fotonya bersama Yixing, ia meremasnya dan membuangnya begitu juga semua pemberian Yixing padanya. Kepala Pelayan Jin membantu Yifan berkemas, ia menghela nafas melihat Tuan-nya begitu membenci Yixing, mantan kekasih yang dulu pernah ia bawa untuk makan malam bersama. Setahu dirinya, Yixing adalah namja yang baik dan Tuan-nya Yifan begitu mencintainya tapi sekarang, semua berbalik 360', Tuan-nya Yifan sangat membenci Yixing dan mungkin Yixing-lah alasan Yifan mendadak minta pergi ke Kanada.
"Tuan, tadi Nyonya menelpon, beliau dalam perjalanan pulang dari Moldir. Beliau juga sudah menyiapkan semua yang anda perlukan untuk keberangkatan anda ke Kanada."
"Nde, aku akan menyelesaikan semua-nya. kau pergilah, aku bisa sendiri."
"Baik Tuan." Kepala Pelayan Jin undur diri dan meninggalkan Yifan sendiri. Yifan melihat kamarnya sekali lagi, seperti ia akan pergi lama tak kembali. Ia menyeka airmata yang lagi-lagi mengalir. Lagu dari TVXQ! – I Love You mengantarkan dia mengenang kembali kehidupannya di Seoul sebelum dia pergi ke Kanada.
.
.
"Ehhmmpphh, mmpphh, ouughh, sakii..iit, Woo..binn.." Jongsuk mengerang kesakitan. Tak peduli dengan rintihan kesakitan Jongsuk, Woobin terus menghujamkan juniornya di hole Jongsuk.
"Saakkii..iitt, Woo..binnn.. ammpuu..uunn", terdengar suara erangan kesakitan keluar dari mulut mulai menangis sambil mendesah menikmati junior Woobin yang mengaduk-aduk hole-nya. Raut wajahnya menahan sakit luar biasa pada hole-nya."Oh uhhhh...jangan, uh, Woobiiinnnn stoppp… akhhh…!"Woobin terus menggenjot hole Jongsuk.
Menit demi menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Woobin terus menyetubuhi Jongsuk, Jongsuk pun semakin kepayahan karena sekian lamanya Woobin 'bekerja'. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihan pun kini melemah, mata Jongsuk mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibir Jongsuk menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, "Ahh, ahh, oouuhh".
Lalu Woobin memposisikan tubuh Jongsuk menungging. Woobin memasukkan juniornya dalam hole Jongsuk hingga terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya ke dalam rongga hole Jongsuk hingga membuat Jongsuk tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak disertai teriakan panjang."Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... Wooobiiiinnnnnnn! Tidaaaaaaaaakkkk!". Kedua tangan Woobin memegang butt Jongsuk, sedangkan pinggulnya bergerak berirama. Sesekali tangan Woobin mengelus-elus butt Jongsuk.
Beberapa menit kemudian, Woobin kembali mempercepat gerakan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Jongsuk. Jadi sekarang persis seperti menunggangi kuda, kedua tangan Jongsuk dipegang dari belakang sedangkan butt-nya digerakkan seirama hujaman junior Woobin. Wajahnya menghadap keatas dengan mulut menganga mengerang kesakitan. "Arrghh, Damn, Sempitthh sekali milikmu Xingg… eummppphh..".Woobin merancau tak jelas. Dan akhirnya Woobin pun sampai kepuncak paling nikmat, juniornya menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya memenuhi hole Jongsuk. "Aa, aakkhh, oohh, Yixiiiiinggg.. " sambil mengejan Woobin melolong panjang bak serigala, tubuhnya mengeras, mengejang dan bergetar dengan kepala menengadah keatas."Aoohh, oouuhh, aakhhhh…..!"tubuh Jongsuk mengejang merasakan cairan Woobin membanjiri holenya. Cairan kental hangat itu memenuhi hole Jongsuk sampai sampai meluber keluar bersama darah membasahi paha dan sprei kasur.
Woobin pun mencabut juniornya dan berbaring di samping Jongsuk, nafasnya terengah-engah dan kemudian ia tertidur karena kelelahan.
Jongsuk merasa tubuhnya sangat lemas, dalam posisi telungkup Jongsuk mencoba menetralkan nafasnya, ia menoleh ke Woobin yang saat ini telah terlelap. Airmatanya kembali jatuh, 'Woobin, ketika kau menyetubuhiku kau bahkan tak bisa melupakan Yixing. Kau tidak pernah melihatku Woobin-a' Jongsuk memilih menutup matanya, tubuhnya sakit, ia lelah tapi hatinya lebih sakit lagi. Woobin bercinta dengannya karena Woobin menganggap bahwa ia adalah Yixing dan bukan dirinya sebagai Jongsuk.
.
.
Akhirnya Taeyong dan Yixing sampai di Daegu, di rumah Taeyong yang baru. Rumah itu kecil tapi kondisinya cukup baik.
"Maaf hyung rumah-nya kecil."
"Ini sudah lebih dari cukup Yongie, terima kasih sudah mengizinkanku tinggal denganmu."
"Aku senang, akhirnya aku memiliki teman." Yixing tersenyum, tiba-tiba ia merasa mual, ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. "Hoek-hoek.." Yixing muntah.
"Hyung, kau kenapa? hyung.." Taeyong panic, ia menyusul Yixing ke kamar mandi dan menemukan Yixing tergeletak lemas di dekat wastafel. "Hyung.." Taeyong membantu Yixing berdiri dan membawanya ke ruang tamu. "Hyung kau kenapa? hyung jangan membuatku panic. Kita ke dokter ya, hyung.."
Yixing menggeleng. "aku hanya perlu istirahat sebentar Taeyong."
"memang kau kenapa hyung? Kau sakit apa?"
"Aku hamil Taeyong. aku hamil."
"MWO!" Taeyong terkejut. "hamil? siapa ayahnya? Apa ayahnya tahu kalau kau hamil hyung? Kenapa kau pergi? apa ayahnya tidak mau mengakui anak ini?" Tanya Taeyong bertubi-tubi.
"Ayahnya tidak tahu dan mungkin tidak akan percaya kalau ini adalah anaknya."
"Mwo? Ceritakan padaku semuanya, aku tidak mau ada rahasia diantara kita. Kau kakakku sekarang." Yixing memandang teduh wajah Taeyong. ia beruntung memiliki teman dan adik seperti Taeyong. akhirnya Yixing bercerita semuanya pada Taeyong. Taeyong memeluk Yixing untuk menenangkannya.
"Aku akan menjagamu hyung, sebagai adikmu, aku akan menjagamu." Janji Taeyong pada Yixing.
.
.
Yifan pergi ke bandara di antar Jaejoong. "jaga kesehatan, jangan lupa menelpon Umma kalau sudah sampai. Umma akan mengunjungi mu beberapa hari lagi."
"Umma juga, jaga kesehatan. Aku menunggu Umma disana." Yifan memeluk Jaejoong.
"Pergilah, pesawatmu akan segera berangkat." Yifan mengangguk, ia sempat menitihkan airmata begitu juga dengan Jaejoong.
"I'll call you." Sambil membentuk gesture orang menelpon, Yifan meninggalkan Jaejoong dan menuju check in. Jaejoong melambaikan tangan melepas kepergian Yifan ke Kanada.
.
Di dalam pesawat, Yifan melihat keluar melalui jendela pesawat, 'Goodbye Seoul. Aku tidak tahu apa aku akan kembali setelah semua hal yang terjadi, tapi aku akan memulai hidup baruku disana.' Bathin Yifan setelah pesawat itu lepas landas.
.
.
.
"Ugghh…" Woobin menggeliat, ia merasakan cahaya matahari masuk dan mengenai matanya. Ia membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat pusing. Ia memijat kepalanya sejenak dan saat ia membuka matanya penuh, ia melihat dirinya telanjang dengan selimut tipis menutupi area bawahnya. Ia melihat disampingnya Jongsuk tertidur sambil memunggunginya juga dengan keadaan telanjang dan hanya tertutup selimut tipis dibagian bawahnya.
Woobin mencoba mengingat kejadian semalam, ia pergi ke bar dan mabuk. Samar-samar ia melihat Jongsuk menghampirinya dan mengajaknya pulang, setelah itu dia tidak ingat lagi. Woobin membuka selimut itu pelan-pelan dan betapa terkejutnya ia setelah melihat bekas cairan dan darah yang mengering di sprei-nya. ia mengacak kasar rambutnya, 'Apa yang aku lakukan?'
Jongsuk terusik, ia merasakan bed Woobin bergerak, ia membuka matanya, kepalanya sedikit terasa nyeri tapi ia mengabaikannya. Ia berbalik dan melihat Woobin sudah bangun dan duduk di sampingnya. "Woobin.." panggil Jongsuk pelan. Woobin menatap Jongsuk dengan gelisah, "Apa yang kita lakukan semalam?" Tanya Woobin. Jongsuk terdiam, ia tak menjawab. "Jongsuk jawab, apa yang kita lakukan?" bola matanya mulai bergerak gelisah, Woobin bingung dengan keadaannya saat ini.
"Kau lupa apa yang terjadi semalam?"
"memang apa yang aku lakukan?"
"Kau memperkosaku Woobin, kau menyetubuhi dengan kasar dan meneriakkan nama Yixing saat kau mencapai kenikmatanmu, kau ingat?" jawab Jongsuk dengan nada tinggi.
"Apa?!" Tanya Woobin tak percaya.
.
.
.
Taeyong dan Yixing mulai berbenah. Mereka menata barang-barang yang mereka bawa dirumah barunya. Taeyong dan Yixing satu kamar tapi beda bed dan Taeyong mulai bersekolah minggu depan.
"Hyung, nanti aku akan ke restaurant yang kemarin aku mendaftar disana sebagai pekerja paruh waktu."
"Apa disana masih butuh pelayan? Aku mau bekerja Taeyong, aku harus menabung untuk kelahiran anakku."
"Akan aku tanyakan, tapi apa kau benar-benar akan bekerja disana hyung? Kerja di restaurant berat hyung."
"Aku pernah bekerja lebih berat dari itu Taeyong."
"Tapi keadaannya berbeda hyung, kau hamil sekarang."
"AKu akan baik-baik saja. aku kuat Taeyong." Taeyong hanya menghela nafas melihat kekerasan hati Yixing.
"Baiklah kalau itu maumu. Nanti aku akan menanyakan apakah ada lowongan lagi."
"Terima kasih Yongie." Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka membereskan rumah.
.
.
Saat ini Woobin dan Jongsuk duduk di meja makan. Mereka telah membersihkan diri beberapa saat yang lalu. Jongsuk memegang cangkir berisi teh hangat yang dibuatkan Woobin untuknya. Ia menunggu Woobin bicara tentang kelanjutan hubungan mereka.
"Aku sudah memutuskan.." Woobin mulai angkat bicara setelah sekian lama diam. "…aku akan bertanggung jawab apapun yang terjadi padamu."
"Aku tidak ingin kau bertanggung jawab karena kasihan padaku Woobin." Balas Jongsuk.
"Ani, aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas dirimu. Aku ingin memulai hubungan denganmu."
"Memulai hubungan denganku? Atas dasar apa? Kasihan karena kau telah memperkosaku atau kau ketulusan hatimu untuk memulai hubungan denganku?"
"Ajari aku, aku benar-benar ingin memulai hubungan baru denganmu."
"Apa kau bisa melupakan cintamu pada Yixing? apa kau mampu mencintaiku sebagai diriku bukan sebagai pengganti Yixing? apa kau bisa?"
"Bantu aku melupakan Yixing, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku benci orang munafik seperti dia. ku kira dia adalah namja yang polos dan baik ternyata dia tak lebih dari seorang pelacur yang rela melakukan apapun demi uang." Jongsuk menatap Woobin dalam-dalam.
'Setelah kau tahu yang sebenarnya, apa kau berani menyebutnya pelacur lagi?'
.
'… jangan katakan pada Woobin tentang alasan sebenarnya..'
.
"Baiklah, aku akan mencoba membantumu melupakan Yixing." Woobin menghampiri Jongsuk dan memeluknya. 'Maafkan aku Yixing.' bathin Jongsuk.
.
.
Yifan pun akhirnya tiba di Kanada. Seseorang telah menjemputnya dan ia pun mengikutinya. Disana Jaejoong telah menyiapkan rumah untuk Yifan tinggali.
"Selamat datang di Kanada, Tuan Wu Yifan. Saya Peter, saya yang akan mengurus semua keperluan anda selama disini." Ujar Peter sambil membungkuk memberi hormat.
"Ya, terima kasih."
"Mari kita pergi, kita akan menuju rumah yang sudah disiapkan Nyonya besar untuk anda." Yifan hanya mengangguk dan mengikuti Peter menuju kediaman barunya.
Sepanjang perjalanan, Yifan tak megucapkan apapun, ia hanya melihat pemandangan lewat kaca mobilnya.
"Anda akan mulai kuliah minggu depan Tuan."
"Ya, aku tahu."
"Jika anda butuh apapun. Anda bisa katakan pada saya Tuan."
"Ya, terima kasih." Yifan benar-benar sedang tak ingin bicara. Peter yang menyaksikan hal itu akhirnya membiarkan Yifan sendiri dan tak ingin mengganggunya.
30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Yifan di Kanada. Peter mengantar Yifan ke kamarnya.
"Ini kamar anda Tuan. Jika anda butuh sesuatu, saya ada dibawah."
"Terima kasih Peter, kau boleh pergi." Peter membungkuk dan pergi. setelah kepergiaan Peter, Yifan melihat-lihat kamarnya, kamar yang dia tempati cukup besar dan tak berbeda dnegan kamarnya di Seoul.
'Aku akan memulai hidup baruku. Melupakan semua pengkhianatan yang aku alami. Bye kenangan buruk, welcome hidup baruku.' Ucap Yifan penuh percaya diri.
.
.
.
Tut-Tut-tut.. 'Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi' "Yixing kenapa nomomu tidak aktif?" Jongsuk mencoba menghubungi Yixing, ini sudah 1 minggu berlalu tapi ia tak bisa menghubungi Yixing dan tidak tahu keberadaan Yixing.
CKLEK! BRAK! Pintu terbuka dan nampaklah Woobin dengan membawa kardus besar. Jongsuk buru-buru memasukkan ponselnya dalam sakunya.
"Wo-Woobin, kau darimana? Kau bawa apa itu?" Tanya Jongsuk bingung.
"AKu ingin membereskan barang Yixing dan membuangnya, barang itu tidak sepatutnya disini lagi."
"Apa tidak terlalu cepat, jangan begitu Woobin, ini barang milik Yixing."
"Aku yang belikan semua barang itu, jadi itu hak-ku. Bantu aku, aku ingin cepat-cepat menyingkirkan barang milik Yixing." Jongsuk menghela nafas, ia tak ingin membalas atau melawan Woobin. Ia pun segera membantu Woobin membereskan barang Yixing.
Setelah selesai, Woobin berniat membuangnya tapi dihalangi Jongsuk. "Biar aku saja yang membuangnya, kau bereskan yang lain." Jongsuk mengambil kardus yang dibawa Woobin dan membawanya keluar. Ia tak membuang kardus itu tapi memasukkannya ke dalam mobil dan akan ia bawa pulang.
"Aku tidak akan membuangnya. Maafkan aku Woobin."
.
.
Yixing mulai bekerja di restaurant tempat Taeyong bekerja, tapi ia bukan pekerja paruh waktu melainkan pekerja tetap. Hidupnya dengan Taeyong sangat bahagia menurutnya, meskipun sederhana tapi mereka menikmatinya. Taeyong tidak dibully lagi di sekolah barunya.,
"Hyung jangan terlalu lelah, kasihan bayimu nanti. Sepulang sekolah, aku akan langsung ke restaurant. Hari ini aku tidak ada jadwal ekstrakulikuler jadi aku tidak akan terlambat datang ke restaurant."
"jangan lupa bekalnya dimakan." Yixing memberikan bekal pada Taeyong.
"Siap bos." Taeyong mencium pipi Yixing dan pergi ke sekolah. Yixing bersiap untuk bekerja. "Sayang nanti kita ke dokter ya, Umma ingin melihatmu sayang." Yixing mengajak bayinya bicara.
.
.
"Namaku Wu Yifan, mohon bantuannya." Yifan mengenalkan diri di depan pemain Toronto Raptor.
"Huang Zitao, asistent pelatih. Kalau kau butuh apa-apa silahkan katakan padaku." Yifan menyambut uluran tangan Zitao.
"Terima kasih. Salam kenal Zitao." Zitao tersenyum manis pada Yifan.
.
.
.
6 bulan kemudian
"Aku akan ke Daegu. Training center kali ini diadakan di Daegu, apa kau mau ikut?" Tanya Woobin yang sedang mengemasi pakaiannya.
"Daegu? Boleh, kebetulan aku sedang libur."
"Bersiaplah, besok kita akan berangkat."
"Siap bos."Jongsuk mencium sekilas pipi Woobin dan bergegas ke kamarnya untuk bersiap.
Malam harinya sebelum tidur, Jongsuk membuka pembicaraan dengan Woobin.
"Woobin-a, apa kau bertemu Leo, akhir-akhir ini?"
"Leo?"
"Ya, Leo. Jung Taekwon."
"Dia pergi beberapa bulan lalu, yang aku dengar dia mendapat beasiswa ke Amerika. Kenapa?"
"Sejak kau tahu kalau Yixing tidur dengannya, kau tidak pernah bertemu dengannya?"
"Sejak pertandingan liga berlangsung, aku sudah tidak bertemu dengannya. Kalaupun bertemu aku tidak tahu harus berbuat apa padanya. Yang menggoda dia kan Yixing, aku tak bisa marah padanya…"
'Yang meminta itu Leo bukan Yixing.' bathin Jongsuk.
"… Aku justru mau minta maaf karena Yixing melakukan hal memalukan seperti itu padanya. Sudah, aku tidak mau membahas masalah ini, aku ingin tidur, besok kita berangkat pagi."
"Baiklah. Aku juga mengantuk." Jongsuk menempatkan dirinya di samping Woobin dan tak lama kemudian tertidur.
Keesokan paginya mereka berangkat ke Daegu. Dengan menempuh perjalanan beberapa Jam, akhirnya mereka sampai di Daegu.
"Hah… udara Daegu segar sekali.." Jongsuk merentangkan tangannya menghirup udara Daegu.
"Kita akan tinggal disini selama 1 bulan."
"Aku tak sabar berkeliling Daegu.."
"Iya, kau bisa pergi berkeliling Daegu, tapi maaf aku tidak bisa sering-sering menemanimu."
"It's okay, I'm fine." Jongsuk masuk lebih dulu ke guset house, ia bersiap-siap untuk jalan-jalan mengelilingi Daegu.
.
Jongsuk membawa kamera-nya dan memulai petualangan di Daegu. Ia mengabadikan beberapa pemandangan di Daegu. Setelah cukup lama berkeliling, ia pun kehausan dan mampir kesebuah mini market. Ia membeli air minum beberapa botol untuk persediaan.
"Semuanya 5rb Won." Ucap sang kasir. Jongsuk ingin mengambil dompet disakunya tapi setelah dicari ia tak menemukannya. "Aduh dompetku mana? Apa mungkin tertinggal di guset house." Jongsuk menemukan uang tapi hanya 2rb Won saja. "Yah, hanya 2rb Won."keluh Jongsuk.
"Biar aku saja yang bayar, tolong hitung sekalian dengan milikku." Mendadak Jongsuk terdiam, ia mencerna suara yang baru ia dengar,suara seseorang yang tak asing untuknya. Jongsuk pun berbalik dan melihat orang yang membayar belanjaannya.
DEG~ mereka saling bertatapan. "Y-Yixing?"
"Jo-Jongsuk" Jongsuk tak percaya melihat Yixing berada di hdapannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada perut buncit Yixing.
"A-apa ini? K-Kau kenapa?" pandangan Jongsuk teralih lagi melihat barang belanjaan Yixing yang ternyata adalah susu hamil. "Susu hamil? apa ini? Kau harus jelaskan padaku semua ini Xing."
.
.
Jongsuk dan Yixing berada di kafe setelah mereka berbelanja. Jongsuk meminta Yixing menjelaskan semua yang terjadi hingga kehamilan Yixing.
"J-Jadi kau hamil saat pergi dari rumah?"
"Nde, sebenarnya aku ingin menceritakan hal ini pada Woobin saat aku kembali sore itu tapi dia sudah terlanjur salah paham dan membenciku, jadi aku tidak menceritakan hal ini pada siapapun."
"Yifan? apakah dia tahu?" Yixing menggeleng."Apa? Jadi dia tidak tahu kau hamil?"
"Kalaupun dia tahu, dia tidak akan percaya ini anaknya. Bagaimana kabar Woobin? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia sedang menjalani training center disini. Dia akan ikut seleksi timnas."
"Aku yakin dia bisa masuk timnas."
"Kau tidak ingin tahu dimana Yifan saat ini?"
"Dimanapun dia? aku yakin dia bahagia saat ini."
"Dia pergi ke Kanada, dia mendapat tawaran untuk bermain dengan tim Kanada, Toronto Raptor."
"Ternyata ada keuntungannya aku pergi darinya. Kalau aku masih bersamanya mungkin aku hanya menghambat cita-citanya, apalagi kalau dia tahu aku hamil."
"Yixing.."
"Jongsuk, jangan khawatir, aku baik-baik saja."
"Kau tinggal dimana? Dengan siapa?"
"Aku tinggal di sekitar sini dengan adik angkatku, Taeyong."
"Bolehkah aku kesana?"
"Ayo ikut, kebetulan aku libur. Jadi ayo kita ke rumahku."
"Bekerja? Kau bekerja dimana?"
"Ya tentu saja aku bekerja, aku harus menabung untuk biaya kelahiran anakku. Aku bekerja di restaurant dekat sini. Ayo kita pergi, adikku akan segera pulang dan aku harus menyiapkan makan untuknya sebelum dia berangkat kerja."
"Nde, kita ke rumahmu sekarang."
Mereka pun segera bergegas ke rumah Taeyong. hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai dirumah Taeyong. Jongsuk cukup terkejut dengan keadaan rumah Taeyong yang menurutnya sangat kecil dan tidak layak untuk anak Yixing nanti.
"Masuklah!"
"Kau tinggal disini?" Tanya Jongsuk tak percaya. Ia melihat sekeliling rumah.
"Nde, aku beruntung Taeyong mau menampungku."
"Kau tidur satu kamar dengan Taeyong?"
"Ne, dia dibawah, aku diatas. Kami punya 2 kasur lantai." Yixing membuat teh untuk Jongsuk dan menghidangkannya.
"Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja. rumahku cukup untukmu dan anakmu nanti Xing."
"Sudah aku bilang aku tidak mau menganggu-mu dan Woobin lagi. Aku bahagia disini dengan Taeyong dan calon anakku." Yixing kembali ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk Taeyong. Jongsuk pun menyusul Yixing dan membantunya.
"Kau tetap tidak mau memberitahu Woobin apa yang terjadi sebenarnya?"
"Untuk apa? Dia sudah bahagia sekarang. Aku tidak mau mengganggu hidupnya. Kau sudah janji padaku kan?"
"Tapi disini kau yang menderita Xing."
"Aku tidak menderita Jongsuk, aku baik-baik saja meski tanpa Woobin dan Yifan. Ingat jangan katakan apapun pada Woobin tentang keadaanku."Jongsuk menggeleng, Yixing masih tetap keras kepala seperti dulu.
.
.
"kau kenapa? beberapa hari ini kau murung. Biasanya kau akan merengek dan memintaku untuk menemanimu jalan-jalan." Tanya Woobin pada Jongsuk saat mereka akan tidur.
"Woobin, apa yang akan kau lakukan jika sesuatu yang kau anggap salah ternyata tidak sepenuhnya salah?"
"apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Selama beberapa waktu kau menganggap hal itu salah tapi ternyata hal itu tidak sepenuhnya salah."
"Beri aku contohnya. Aku bingung dengan maksudmu?"
"Ini tentang Yixing."
"Ah dia lagi, aku tidak ingin membicarakannya lagi." Woobin merebahkan dirinya di bed meninggalkan Jongsuk yang masih duduk di pinggir ranjang.
"Yixing tidur dengan Leo, demi kalian berdua. Leo memberi syarat untuk mengabulkan permintaan Yixing. yaitu tidur dengannya. Awalnya Yixing hanya memohon agar Yifan masuk lagi ke tim basket tapi Leo menawarkan hal lain dan itu adalah kau masuk tim Korean Warrior. Yang kau dengar itu tidak penuh, kau hanya dengar setengahnya."
"Apa?" Woobin bangun dari tidurnya dan membalikkan tubuh Jongsuk agar berhadapan dengannya."Apa maksudmu? Yixing tidur dengan Leo agar kami berdua bisa masuk tim basket. Yifan kembali ke Wolf Descendant dan Aku di Korean Warrior? Begitu?" Jongsuk tak menjawab, ia hanya menatap mata Woobin dan itu sudah mengisyaratkan jawabannya.
"Kenapa dia melakukan hal bodoh itu? Kenapa dia melakukan itu?"
"karena dia menyayangi kalian berdua, dia hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Dia bukan pelacur seperti anggapan kalian. memang dia tidur dengan Leo, hanya sekali, ia menjual tubuhnya bukan untuk dirinya sendiri tapi demi kalian."
"Apa? Tidak mungkin? Pasti kau salah, kau salah…" ucap Woobin tak percaya.
"Dia hamil, anak Yifan. Yifan tidak tahu, kalaupun tahu dia tidak akan percaya kalau itu anaknya. Yixing tidur dengan Leo, beberapa bulan sebelum liga basket dimulai, aku ingat betul saat aku menjemput Yixing di hotel setelah ia membayar hutangnya pada Leo. Sedangkan kandungan Yixing berumur baru 7 bulan lebih, tidak mungkin itu anak Leo. Yixing hanya berhubungan dengan Yifan dan jika dihitung, itu adalah anak Yifan."
"D-dia hamil? k-kau tahu dia dimana? Dia tinggal dimana?" Tanya Woobin terbata-bata. Jongsuk mengangguk. "Antar aku kesana, aku mohon, aku ingin bertemu dengannya."
"Nde, kita akan kesana."
.
.
Taeyong dan Yixing sedang menyaksikan pertandingan basket saat Woobin dan Jongsuk mengunjunginya. Mereka berdua tidak mengetahui kedatangan Bin-Suk karena mereka berdua terkesan diam-diam datang mengunjungi Yixing.
Woobin berjalan pelan menaiki tangga rumah Taeyong, ia melihat sekitar dan hatinya begitu sakit saat melihat kondisi Yixing. Sampai di depan ia tak langsung masuk tapi melihat Yixing dari luar. Ia melihat Yixing sedang asyik menonton pertandingan basket sambil selonjoran.
"Hyung, aku buatkan susu ya, nanti diminum." Ucap Taeyong dari dapur.
"Iya Taeyong."
"Hyung kakimu bengkak lagi? Pasti kau kerja berat lagi. Kan Bibi Hong sudah memberikan keringanan untuk kerja di dapur hyung. Kau tidak perlu melayani pelanggan dengan keluar masuk membawa piring-piring hyung."
"Tadi Yeri libur, jadi Bibi Hong sendiri melayani pelanggan, aku tidak tega melihatnya Yongie."
"Aku ambilkan air hangat untuk mengompresnya."
"Terima kasih sayang." Yixing melanjutkan menonton pertandingannya. "Baby, paman-mu melakukan Slam dunk, dia keren sayang." Woobin menatap Yixing dengan air mata yang mengalir, ia tak menyangka Yixing berusaha keras untuk menabung biaya kelahiran anaknya.
"Ini hyung susu-nya." Taeyong membawa susu dan diberikan pada Yixing kemudian ia kembali ke dapur mengambil air hangat dan kompres. Sekembalinya dari dapur, ia mengompres kaki Yixing dan memijatnya pelan.
"Terima kasih adikku.."
"Sudahlah hyung, aku melakukannya karena aku sayang padamu. Aku tidak mau kau sakit. Kau sudah kerja keras hari ini. Sebagai hadiahnya aku akan memijatmu dan membelikan-mu bubur di kedai depan. Kau ingin makan bubur itu kan sejak seminggu yang lalu. berhubung uang-nya dipakai untuk membayar biaya study tour ku, kau tidak jadi membeli bubur." Woobin terhuyung ke belakang, ia tak mengira hidup Yixing begitu sulit, begitu sulitnya hanya ingin membeli bubur saja dia tidak mampu.
"Aku bisa membeli kapan-kapan Yongie. Kau harus ikut study tour dan bergabung dengan teman-teman-mu. Besok hyung gajian, hyung akan memberikanmu uang jajan untuk kau bawa ke study tour besok."
"Tiap hari kau menggigau makan bubur. Berhubung tadi aku sudah gajian, aku akan membelikanmu setelah ini. Andwe, uang itu hyung tabung saja untuk biaya kelahiran anakmu, biaya rumah sakit mahal hyung."
"Aku ingin melahirkan di klinik saja. biayanya lebih murah."
"Hyung.." desah Taeyong. tiba-tiba PRAK! Bunyi barang jatuh di luar. mereka berdua menoleh ke arah pintu, "Siapa disana?" Taeyong meninggalkan Yixing dan melihat keluar.
CKLEK! "Siapa ya..? OMO!" Taeyong terkejut melihat namja yang saat ini berdiri di hadapannya. Woobin menaruh telunjuk di bibirnya, ia mengisyaratkan pada Taeyong untuk diam.
"Siapa Yongie?"
"Hah? A-ada- ada..?"
"Ada siapa? Tuan Han ya? Apa dia menagih hutang lagi? Kemarin aku sudah membayarnya." Taeyong mempersilahkan Woobin masuk. "Taeyong? Taeyong…" Yixing memanggil nama Taeyong berkali-kali namun Taeyong tak menjawab, Yixing pun berbalik, dan DEG~ ia terkejut dengan seseorang yang berdiri di depan-nya.
"Wo-Woobin? S-sedang apa kau disini? K-kau tahu a-aku disini dari siapa? Jo-Jongsuk kah yang memberitahumu a-alamatku?" Tanya Yixing tergagap, ia pun mencoba berdiri dengan berpegangan kursi, meskipun sulit karena kakinya bengkak tapi akhirnya ia bisa berdiri.
"Kenapa kau bohong padaku? Kenapa kau tidak katakan sejujurnya semua yang terjadi? kenapa kau pergi?"
"AKu hanya ingin kau bahagia Woobin, buktinya kau sukses kan sekarang. Kau akan masuk timnas sebentar lagi. Kalau kau tahu yang sebenarnya mungkin kau akan membuang impianmu dan usahamu akan sia-sia."
"Pabooo,apa kau tahu selain basket apa yang penting untukku? Kau, kau adalah orang terpenting dalam hidupku. Apa kau tidak merindukanku?" Woobin menghampiri Yixing dan memeluknya.
"Maaf.."
"Maaf, kau meninggalkanku, membohongiku dan kau hanya bilang maaf. Dasar bodoh, jangan pergi lagi, aku tidak mau kehilangan adikku lagi, aku tidak mau." Woobin memeluk Yixing erat. ia menangis bahagia setelah bertemu Yixing.
Taeyong dan Jongsuk menunggu di luar dengan perasaan haru. Akhirnya Woobin mengetahui kebenarannya dan tidak membenci Yixing lagi.
.
"Ikutlah pulang bersamaku, kau akan tinggal bersama kami." Ajak Woobin. Yixing menggeleng, "Aku tidak akan pulang, aku tetap akan disini bersama Taeyong."
"Tapi Xing, rumah ini terlalu kecil untukmu dan anakmu nanti."
"Aku bahagia disini. Sungguh, aku baik-baik saja."
"Apa kalian berdua saja yang pindah. Taeyong kembali sekolah di Seoul."
"Taeyong ingin menamatkan pendidikannya di sini. Setelah itu akan aku pertimbangkan untuk kembali kesana bersama Taeyong." Taeyong menurut saja perkataan Yixing. saat ini keluarganya hanya tinggal Yixing, sebisa mungkin dia akan ikut kemana pun Yixing pergi.
"Berapa lama lagi Taeyong menamatkan pendidikannya disini?"
"1 tahun lagi, setelah itu aku akan kembali ke Seoul bersama-nya. kumohon Woobin, aku tidak mau meninggalkan Taeyong yang sudah kuanggap adikku sendiri." Akhirnya setelah melakukan debat panjang, akhirnya Woobin mengalah dan memberi waktu 1 tahun sampai Taeyong lulus dan membawa mereka kembali ke Seoul.
.
.
.
Kanada, ruang latihan basket.
Yifan beristirahat setelah beberapa jam latihan. Ia terdiam, entah apa yang dia pikirkan sampai sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya.
"Hei, sedang melamunkan apa? Kenapa kau diam? Kau tidak dimarahi pelatih kan?" Tanya Zitao sambil mengusap keringat Yifan. Yifan menggeleng.
"Hanya memikirkan masa lalu."
"Memikirkan masa lalu?" Zitao terkekeh, "Kau tidak bisa move on dari masa lalu-mu? Ayolah Yifan, yang lalu biarlah berlalu, kalau berlarut-larut kau memikirkannya malah akan membuatmu sakit dan tidak bisa maju. Biarkan dia bahagia dengan hidupnya dan kau mulailah hidup barumu, dengan orang baru juga." Zitao memberikan semangat untuk Yifan.
Yifan menatap Zitao, ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zitao kemudian menciumnya, "Bisakah kita mulai? Maukah kau memulainya dariku?"
"Yifan.." Zitao tersipu, ia mengangguk kemudian memeluk Yifan erat. "Nde, aku mau, aku mau memulainya denganmu."
"Terima kasih, kehadiranmu membawa semangat baru untukku." Zitao mengangguk penuh semangat.
.
.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Yixing pada tamu yang memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya.
"Sup ini saja." jawabnya tanpa melihat Yixing, kemudian tamu itu membuka masker dan topinya, terpampanglah wajah seorang Kim Jaejoong. Yixing tak melihatnya karena ia sedang menulis pesanan, "Baiklah tunggu sebentar. Saya akan…" kata-katanya terpotong setelah melihat namja yang ada di hadapannya. Kim Jaejoong, ibu dari Wu Yifan mantan kekasihnya. Yixing menunduk. Jaejoong menatap Yixing dengan tatapan sulit diartikan, entah marah, benci atau apapun pada namja yang telah menyakiti anaknya dengan pengkhianatannya tersebut. Tiba-tiba pandangannya teralih ke perut buncit Yixing. ia mengerutkan dahinya.
"Kau hamil? ini hasil perselingkuhanmu, kau sudah menikah?" Yixing tetap menunduk ia tak menjawab. "kau punya mulut kan? Jawab? Ini hasil perselingkuhanmu dengan namja kaya lain yang membuatmu mencampakkan putraku Yifan kan?" Tanya Jaejoong dengan nada keras, membuat seisi restaurant mengalihkan pandangannya pada Yixing dan Jaejoong.
Yixing menangis, ia tak bisa menjawab, kalaupun menjawab Jaejoong tidak akan percaya. Jaejoong bangkit dan mencengkram tangan Yixing, "Namja murahan seperti mu, memang sudah seharusnya mendapat balasan seperti ini. Kau hamil tanpa suami, iya kan? Jawab Zhang Yixing!"
"Ayah dari bayinya adalah putra anda Wu Yifan. Tuan Kim Jaejoong yang terhormat" Jawab seseorang yang baru saja masuk dan itu adalah Jongsuk. Jongsuk menghampiri Yixing dan Jaejoong kemudian melepas cekalan tangan Jaejoong pada Yixing. Jongsuk berdiri di depan Yixing menutupi Yixing yang masih terisak karena menangis. Jaejoong terbelalak, ia tak percaya dengan ucapan Jongsuk.
"Bohong, tidak mungkin putraku menghamili namja murahan ini. Pasti dia hamil karena namja lain, bukan karena putraku." Bela Jaejoong.
"Terserah apa kata anda, tapi kenyataannya memang seperti itu."
"Jongsuk.." Yixing menggenggam tangan Jongsuk, memintanya agar Jongsuk tidak marah-marah pada Jaejoong.
"Biarkan saja Xing, biar dia tahu. Putranya tidak sebaik yang dia kira. Biar dia tahu. Biar semua orang tahu kalau yang menghamilimu adalah putranya yang sekarang melarikan diri ke Kanada tanpa ia tahu kalau perbuatannya membuahkan hasil, yaitu bayi yang kau kandung saat ini."
"Sudah Jongsuk, lebih baik kita pergi dari sini. Aku tidak mau membuat keributan disini." Mohon Yixing.
"Sebentar Xing." Jongsuk merogoh sesuatu dari sakunya, ia mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi rekaman. "Dengarkan ini, Tuan Kim yang terhormat."
KLIK! 'Memang, aku yang sudah mengedit rekaman itu jadi Yifan hanya mendengar kalau Yixing melayani Leo demi Woobin begitu juga sebaliknya Woobin hanya mendengar kalau Yixing melakukan itu demi Yifan, padahal Yixing melakukan itu untuk mereka berdua.'
'Kau memang licik Clara.'
'Baru tahu kalau aku licik? Kalau aku tidak bisa memiliki Yifan, maka Yixing juga tidak bisa.'
'Kau juga memfitnah Yixing, mengatakan pada semua orang kalau Yixing adalah seorang pelacur?'
'Nde, tentu saja. aku membayar Junhee dan beberapa namja lain agar mereka mengaku seolah-olah Yixing pernah tidur dengan mereka.'
'Hatimu terbuat dari apa sampai-sampai kau melakukan perbuatan keji seperti itu?'
'Zhang Yixing telah mempermalukanku di depan orang tua Yifan, harusnya dia yang malu karena statusnya sebagai pelayan toko, tapi nenek sihir itu lebih membela seorang Zhang Yixing yang derajatnya jauh dariku dan itu membuatku marah, aku tidak bisa tinggal diam jadi semua aku rencanakan dan kau tahu, semua berhasil.'
Jongsuk membuka rekaman kedua
KLIK! 'Aku memang tidur dengan Yixing, aku yang memintanya dengan imbalan kalau ia ingin Yifan masuk lagi ke tim basket dan Untuk Woobin, itu bonus.'
'Jad Yixing tidak menggodamu?'
'Menggodaku? Bicara denganku saja, bisa dihitung dengan jari berapa kalimat yang ia lontarkan untukku.'
'Tapi kalian kan melakukan hubungan intim dan sekarang Yixing hamil, bagaimana mungkin kau yakin itu bukan anakmu?'
'Aku minum obat, kau kira aku akan membiarkan benihku berada di tempat sembarangan. Meskipun Yixing bukan orang sembarangan tapi aku tidak tega padanya.'
'kalau kau tidak tega kenapa kau menyiksanya? Kau bukan Cuma memperkosanya tapi kau juga menyiksanya.'
'AKu tidak tahu. Naluri saja. tapi sungguh Yixing tidak menikmati sedikitpun percintaan kami. Ia terus menangis dan menangis memintaku mengakhirinya.'
Rekaman itu berakhir. Jaejoong shock mendengar semua yang ada di rekaman itu. Yixing masih menunduk sambil menggenggam tangan Jongsuk. "Yang jadi korban disini adalah Yixing bukan putra anda Tuan Kim." Jongsuk mengambil ponselnya dan membawa Yixing pergi. Jaejoong terduduk lemas, ia menangis.
.
.
Jongsuk membawa Yixing keluar. "Jongsuk.. kita mau kemana?"
"Kemana saja, asal tidak bertemu dengan Namja itu."
"Tuan Kim maksudmu? Jongsuk… akkhh…" Yixing merasa perutnya sakit. "Jongsuk berhenti, perutku sakit. Akhh…" Jongsuk berhenti dan melihat Yixing yang merintih sambil memegang perutnya.
"Kau kenapa Xing? OMO! Kau akan melahirkan Xing?"
"Tapi kandunganku baru jalan 8 bulan. akhh.."
"Aku tidak tahu tapi kita harus ke rumah sakit." Jongsuk memapah Yixing ke mobil dan membawanya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Yixing merintih sakit, Jongsuk tidak berani melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia panic, ia takut nanti malah membahayakan Yixing, ia berusaha tenang dengan melajukan kendaraaannya dengan kecepatan rata-rata.
10 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Yixing segera mendapat pertolongan. Jongsuk segera menelpon Woobin dan Taeyong, memintanya datang ke rumah sakit.
Seorang dokter dan seorang suster keluar dari ruang operasi. Dokter yang bertag name Hwan meminta persetujuan dari Jongsuk. "Apa anda keluarganya?"
"Nde, saya teman-nya, Yixing yatim piatu dia tidak memiliki keluarga. Ada apa dokter?"
"Tuan Zhang harus dioperasi karena terjadi sesuatu dengan bayinya dan Tuan Yixing juga mengalami pendarahan."
"Lakukan saja dokter,lakukan apapun untuk menyelamatkan Yixing dan bayinya."
"Baiklah, silahkan ikut suster Seo untuk mengurus administrasinya." Jongsuk mengangguk, ia mengikuti Suster Seo sedangkan dokter Hwan kembali ke dalam.
"Kita mulai operasinya." Ucap dokter Hwan pada para rekannya. Ia segera memakai sarung tangan dan bersiap mengoperasi Yixing.
Mata Yixing tertutup, tapi dari sudut matanya keluar setetes airmata. Mungkin ia berharap saat ini Yifan ada di dekatnya.
.
.
Kanada, pukul 12 tengah malam.
Yifan bergerak gelisah di tempat tidurnya. Ia tak bisa tidur. Yifan membolak-balikkan tubuhnya. Disampingnya Zitao tertidur pulas setelah 'kegiatan panas' yang mereka lakukan. Yifan menekan dada-nya, 'Ada apa denganku?'
Yifan bangun dan pergi ke dapur. Ia mengambil air minum dan menenggaknya hingga habis. 'Apa yang terjadi? apa aku harus menelpon Umma? Ah tidak, mungkin hanya perasaanku saja.' Yifan pun kembali ke tempat tidurnya, ia mencoba memejamkan matanya.
.
.
Para dokter sedang berusaha menyelamatkan Yixing dan anaknya. Suster Jang, mengusap keringat dokter Hwan yang sedang mengoperasi Woobin, Jongsuk dan Taeyong menunggu dengan gelisah. Taeyong berdoa untuk keselamatan Yixing. dan setelah berkutat beberapa jam di urnag operasi, Akhirnya dokter Hwan berhasil mengeluarkan anak-anak Yixing dan berhasil menyelamatkan Yixing.
"Dokter, anaknya kembar, semuanya namja." Ucap Suster Jang, ia membawa si sulung dan Suster Oh membawa si bungsu. "kami akan membersihkannya." Kedua suster membawa anak-anak Yixing untuk dibersihkan sedangkan dokter Hwan menyelesaikan operasinya.
.
CKLEK! Pintu ruang operasi terbuka. Dokter Hwan keluar dengan senyum mengembang. Mereka bertiga menghampiri dokter hwan.
"bagaimana operasinya dokter? Operasinya berhasil kan? Yixing tidak apa-apakan?" Tanya Woobin berturut-turut.
"Kalian tenang saja. operasinya berhasil. Selamat, Tuan Zhang memiliki anak kembar." Jongsuk membekap mulutnya tak percaya, sungguh ia bahagia sekali mendengar Yixing selamat besama putranya.
"Yixing dimana?"
"Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa tapi untuk anaknya, masih harus berada di incubator karena mereka premature."
"Nde kami mengerti." Terlihat Seorang suster membawa Yixing keluar dari ruang operasi menuju kamar rawat biasa. Mereka bertiga mengikutinya dan menunggui Yixing hingga sadar.
.
.
'Yifan…..!' DEG~ Yifan terbangun, ia merasa ada yang memanggilnya tapi Zitao masih tertidur. Yifan melihat jam dan ternyata masih pukul 2. Yifan menetralkan nafasnya, ia kembali ke dapur mengambil minum tanpa sengaja ia menjatuhkan majalah hingga halamannya terbuka. Yifan mengambilnya tapi tiba-tiba ia berhenti sejenak , ia melihat artikel di majalah itu tentang bayi. Mendadak dadanya berdesir halus.
'Ada apa lagi ini? Bayi ini? Bayi?' Yifan menggeleng kemudian membereskan majalahnya dan kembali ke kamarnya.
.
.
Beberapa jam kemudian Yixing sadar, hal pertama yang ia tanyakan adalah anaknya. Ia tak mau istirahat sebelum bertemu dengan anaknya. Dengan berat hati Woobin membawa Yixing ke ruang bayi namun Yixing hanya bisa melihat dari luar.
Betapa bahagianya Yixing saat melihat anak kembarnya menggeliat lucu di incubator. Yixing menangis haru. "Anakku.." ia menitihkan airmata sambil mengusap kaca yang berhadapan langsung dengan incubator anaknya.
"Kau sudah memiliki nama untuk mereka?" Tanya Woobin. Yixing mengangguk.
"Nde, aku sudah menyiapkan nama untuk mereka. Zhuyi dan Anson. Si sulung aku beri nama Zhuyi, Wu Zhuyi dan Wu Anson."
"Nama yang bagus." Woobin mendekap Yixing, "Aku menyayangimu Xing. Kau harus kuat, ada aku, Jongsuk dan Taeyong." Yixing mengangguk sambil terus memandangi anaknya.
.
.
Kim Jaejoong mengalami dilemma, apakah ia akan menceritakan hal ini pada Yifan kalau dia akan menjadi seorang ayah melihat Yixing telah hamil karenanya. Tapi sebelum ia mengetahui kebenaran itu, Yifan menelponnya dan mengenalkan Zitao sebegai kekasih barunya. Sebagai ibu, ia ingin yang terbaik tapi ia tak tahu caranya. Menghancurkan hubungan yang baru dibina dan kembali pada Yixing atau tidak memberitahu Yifan sama sekali,itu berarti dia jahat pada Yixing karena membiarkan anak-anak Yixing hidup tanpa Ayah.. Jaejoong mengusap kasar rambutnya hingga suara telepon membuyarkannya, panggilan kerja, ia harus kembali ke rutinitasnya, bekerja. Semoga bisa membantunya menemukan jawaban atas masalahnya.
.
.
.
1 tahun berlalu, Yixing dan Taeyong pindah ke Seoul membawa serta kedua putranya dan mereka tinggal di flat lama Yixing karena Woobin sudah pindah ke rumah Jongsuk. Yixing kembali bekerja di toko buku. Ia meminta Shift malam karena paginya menjaga si kembar, saat siang Taeyong pulang dari kampus, ia gantian bekerja dan Taeyong menjaga si kembar, kadang Jongsuk dan Woobin mengunjungi mereka saat mereka libur. Jongsuk telah menjadi dokter dan Woobin saat ini bermain untuk Tim-Nas basket Korea.
Suatu hari Jaejoong bertemu dengan Yixing, ia meminta maaf pada Yixing karena telah berbuat kasar padanya.
"Tuan Kim, terimak kasih telah percaya padaku. Aku tidak akan meminta apapun pada kalian termasuk pertanggung jawaban Yifan. Aku tidak ingin menganggunya."
"Cucuku, apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka sangat sehat. Zhuyi sangat aktif daripada Anson." Jaejoong mengeluarkan amplop yang berisi uang dan diberikan pada Yixing. tapi Yixing menolak.
"Saya bisa menghidupi Zhuyi dan Anson dengan hasil keringat saya sendiri Tuan."
"Ambilah, aku mohon. Aku akan pergi dari Seoul dan lama tak kembali. Aku tidak bisa menemui cucuku. Aku mohon, aku neneknya,aku ngin membahagiakan mereka. Ambilah Xing."
Yixing menghela nafas, akhirnya dengan berat hati ia menerima uang itu, dan setelah pertemuannya dengan Jaejoong, ternyata itu adalah hari terakhir ia bertemu Jaejoong sebelum Jaejoong pergi ke Amerika.
.
.
.
5 tahun kemudian.
Anson sedang bermain dengan Zhuyi, tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dan hidungnya mengeluarkan darah. "Anson, hidungmu berdarah. Umma.. Anson berdarah." Panggil Zhuyi pada Yixing. Yixing yang saat itu sedang berada di dapur segera berlari menghampiri kedua anaknya.
"Ada apa baby? Apa yang terjadi?"
"Anson berdarah."
"Anson babay apa yang terjadi?" Yixing panic, ia melihat Anson mengeluarkan darah cukup banyak dari hidung dan kemudian Anson pingsan. "Baby, Anson Baby.." Yixing mengguncang-guncang tubuh Anson tapi tak bergerak, akhirnya Yixing membawa Anson ke rumah sakit.
.
"bagaimana keadaan Anson, Jongsuk. Apa yang terjadi padanya?" Tanya Yixing pda Jongsuk yang saat ini memeriksa Anson.
"AKu sudah melakukan pemeriksaan dan tes, hasil dari tes itu.. Anson mengalami leukemia."
"Apa?" Tanya Yixing tak percaya, airmatanya meluncur dari matanya. "Tidak mungkin.." ia tak percaya putranya mengalami Leukimia. "A-apa dia bisa sembuh?"
"Dengan transplantasi sumsum tulang belakang."
"Kalau begitu ambilah milikku, ambil sebanyak-banyaknya."
"Maaf, tapi darahmu tidak cocok dengan darah Anson begitu juga dengan Zhuyi."
"Lalu, darah siapa yang cocok?"
"Satu-satunya keluarga biologis Anson adalah…"
"Yifan.." jawabnya pasrah. Yixing terduduk lemas, meminta Yifan, tidak mungkin, Yifan terlanjur membencinya.
"Ada cara lain untuk menghambatnya adalah dengan kemoterapi." Yixing menangis, kenapa harus anaknya kenapa bukan dirinya yang mengalami penyakit ini. "Kita akan berusaha untuk menyembuhkan Anson, Xing. tenangkan dirimu."
.
.
.
"Huang Zitao, maukah kau menikah denganku?" Yifan berlutut sambil memperlihatkan cincin yang dia siapkan untuk Zitao. Zitao menangis bahagia, ia mengangguk keras. Yifan memasangkan cincin itu di jari manis Zitao dan mereka berpelukan.
"Kita akan pulang ke Seoul, kita akan menikah disana. Umma juga baru kembali dari Amerika. Dia pasti terkejut dengan rencana pernikahan kita."
"AKu terserah padamu. Aku benar-benar bahagia saat ini. Aku sangat mencintaimu WU Yifan…" Yifan memeluknya erat.
.
.
Yixing menunggui Anson yang masih terbaring lemah di rumah sakit. "Baby, maafkan Umma. Umma tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf." Yixing mencium dahi Anson dan tidur disamping Anson. "Maafkan Umma sayang." Ucapnya sambil memeluk Anson.
.
.
"Sudah siap berangkat?" Tanya Yifan.
"tentu saja tuan Wu Yifan, kemanapun kau pergi, aku akan mengikutimu."
"I love you Huang Zitao."
"I Love you too, Wu Yifan." Zitao menyandarkan kepalanya di bahu Yifan, menunggu pesawat lepas landas menuju Seoul.
.
.
.
Hari libur, hari yang ditunggu Zhuyi dan Anson. Woobin menjanjikan untuk mengajaknya bermain basket. Anson telah keluar dari rumah sakit dan ia merengek ikut bermain basket, meskipun berat mengizinkan Anson keluar dengan kondisinya yang sekarang tapi Jongsuk menguatkannya. "kau tenang saja, ada aku." Dan mereka pun pergi ke taman yang ada lapangan basketnya untuk bermain basket, sedangkan Taeyong, ia mendapat tugas ke Jeju dari perusahaannya jadi ia tak ikut.
Duk-Duk-Duk! "Yak Wu Zhuyi melempar bola ke ring dan masuk, 3 angka untuk Korean Warrior." Woobin bersorak untuk Zhuyi.
"Yey… paman kalah." Zhuyi begitu antusias bermain basket. Ia berlari mendrible bola bersama Woobin sedangkan Anson ia hanya mendrible bola ditempat karena dilarang Yixing untuk berlari-lari.
Zhuyi melempar bola ke ring tapi bola-nya terlempar keluar. "Paman, bolanya keluar. Aku ambil dulu." Zhuyi berpamitan pada Woobin dan berlari mengambil bolanya yang keluar lapangan. "Jangan lama-lama."
"Oke paman.." Zhuyi berlari mengejar bolanya yang menggelinding dan BUG! Bola itu menabrak kaki seseorang. Bola itu dihentikan oleh namja yang kakinya tak sengaja ditabrak bola Zhuyi. Namja itu jongkok dan mengambil bolanya.
"Paman, itu bolaku." Panggil Zhuyi sambil berlari mengejar bolanya. Namja itu berbalik dan melihat seorang anak berusia sekitar 6 tahun menghampirinya.
"Bolaku. Aku ingin bolaku paman." Pinta Zhuyi.
"Ini bolamu?" Zhuyi mengangguk. "Kau bermain basket?"
"Nde, aku diajari pamanku yang pintar bermain basket."
"benarkah? siapa nama pamanmu itu? Paman juga bisa bermain basket. Apa paman bisa bertanding dengannya?"
"Benarkah Paman bisa bermain basket? Pamanku bernama.."
"WU ZHuyi…" DEG~ namja yang mengajak Zhuyi bicara tersentak. "Ups paman Woobin. Maaf paman, Paman Woobin memanggilku. Aku harus kembali. Terima kasih sudah menjaga bolaku." Zhuyi mengambil bolanya, melewati Namja itu dan berlari kearah Woobin.
"Sudah berapa kali paman bilang jangan bicara dengan orang asing tanpa ditemani Paman, Bibi, Taeyong hyung dan Umma-mu." Woobin menggendong Zhuyi dan menyentil hidung Zhuyi.
"Aw.. appo.." Zhuyi mengosok hidungnya yang disentil Woobin.
"Itu Karena kau nakal. Ayo kita kembali, Umma menyiapkan makan siang untukmu."
"Nde.." Saat Woobin akn berbalik tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Kim Woobin.." Woobin menghentikan langkahnya, namja yang tadi bicara dengan Zhuyi berdiri dan memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. Woobin terkejut melihat namja yang berdiri di hadapannya.
"Y-Yifan.."
"Paman itu yang menjaga bolaku paman." Mereka saling bertatapan, "k-kau sudah kembali?" Yifan tak menjawab.
"Hei kalian lama sekali, aku sudah menunggu.." suara lain membuyarkan keheningan yang terjadi diantara Yifan dan Woobin. "Ada apa?"Yixing berbalik dan ia tak kalah terkejutnya dengan Woobin, ia melihat Yifan berada di depannya. "Y-Yifan.."
"Hei kalian, lama tak bertemu." Yixing bingung harus berkata apa, ia tak bisa membaca pikiran Yifan, apakah Yifan masih membencinya atau sudah memaafkannya. "H-Hei juga.." balas Yixing. dadanya berdegup kencang melihat Yifan ada dihadapannya. Ia memiliki secerca harapan untuk kesembuhan Anson.
"Sayang, ini eskrim-mu." Zitao datang menghampiri Yifan. "Eh kau mengenal mereka sayang?" Tanya Zitao melihat Woobin, Zhuyi dan Yixing.
"mereka teman-temanku."
"Oh temanmu, hei kenalkan namaku Huang Zitao, aku calon istrinya Yifan." BLARR! Bagai disambar petir disiang hari, Yixing kehilangan harapannya saat mendengar Zitao memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Yifan, ia tak mungkin menceritakan semuanya pada Yifan saat Yifan akan memulai hidup baru dengan Zitao.
"A-aku Yixing, ini Woobin sahabatku dan i-ini a-anakku." Balas Yixing terbata-bata.
"Siapa nama anakmu?"
"W-Wu Zh-Zhuyi." Jawabnya sambil menatap Yifan dengan tatapan sendu.
TBC
Maaf jika alur nya kecepatan.. typo bertebaran, no edit.
Mohon Review nya juseyo~
