LOVE DUNK KRAY VERSION
Author -Takii_yuuki-
Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]
Main cast :
Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris
Kim Woobin – Lee Jongsuk
Clara Lee, Jung Taekwon
Rating : M
Length : Chaptered
M-PREG!
Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.
Pin bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F
Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.
Mohon sekali lagi dibaca warningnya, ini Pair Kris Lay jadi yang tidak suka couple ini, mending gak usah dibaca daripada nanti kecewa dan menghina author.
mulai Chap 6 ini hasil saiaa sendiri
MAAF KALAU ALURNYA TERLALU CEPAT, LONCAT-LONCAT, MEMBOSANKAN, GAK JELAS, KEPANJANGAN, MOHON MAAF SEKALI LAGI.
Happy reading...
Chapter 6
Disinilah mereka berdua sekarang,Yixing dan Yifan duduk berdua di sebuah bangku dekat lapangan basket. Woobin dan Zitao meninggalkan mereka berdua untuk berbincang, menyelesaikan masalah mereka.
Situasi canggung terjadi, selama beberapa menit mereka tak bicara, hingga Yixing memberanikan memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka.
"H-hei Fan, k-ku dengar kau bermain untuk klub Toronto Raptor?" Tanya Yixing gugup.
"Nde.. sudah 6 musim ini."
"Kau-kau hebat seperti dulu." Puji Yixing. "Apa kau…-" / "Kenapa Wu?" sela Kris / "…Ye? A-apa maksudmu?" tanya Yixing bingung.
"Kenapa Wu, kenapa kau memberi nama anakmu dengan marga Wu,apa Appa dari anakmu bermarga Wu seperti aku?"
"A-a-ah, i-itu?...-" Yixing tergagap, ia bingung ingin menjawab, tidak mungkin ia bilang kalau itu adalah anak Yifan, Yifan mungkin tidak akan percaya. "-...A-aku tidak ingat kenapa memberi mereka dengan marga Wu, kebanyakan orang yang bermarga Wu tampan-tampan sepertimu, aku ingin jika anakku ku beri nama Wu di depannya dia akan tampan sepertimu." Alasan yang tidak masuk akal menurut Yixing tapi dia bisa apa lagi, dia tidak mungkin memberitahu Yifan, tidak mungkin Yifan percaya begitu saja dengan ceritanya, "…apa kau merasa terganggu? Kalau kau terganggu aku-aku bisa menggantinya dengan margaku."
"Dimana Appanya?"
"Appanya? Appa mereka?" Yixing menggaruk lehernya yang tidak gatal, "...-K-kau tahu dulu aku pernah… ya kami pernah menghabiskan malam bersama dan dia-dia pergi."
"Kau tidak mencarinya dan meminta pertanggung-jawabannya? Kau tidak memberi tahu keadaanmu padanya?"
"Ani, dia tidak tahu. Dia pergi sebelum aku sempat memberitahu keadaanku padanya. Lagipula aku tahu kalau dia akan bahagia tanpa aku."
"Kau bodoh Xing, dia itu harus bertanggung jawab, dia membuatmu hamil."
"Apa dia akan percaya aku hamil anaknya jika aku adalah…-"Yixing menghirup nafas pelan dan melepaskan-nya, "-…seorang pelacur. Bisa saja dia mengelak dan mengatakan bahwa ini anak orang lain. Tapi aku yakin kalau dia adalah Appanya. Aku sangat yakin itu." Yifan hanya terdiam, "Terima kasih…"
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Yifan bingung.
"Kau sudah memaafkanku."
"Menyimpan dendam lama-lama tidak akan membuatmu bahagia dan sekarang aku memiliki Zitao. Dia yang membantuku melupakan semua yang terjadi." Yixing mengangguk sambil tersenyum.
"Nde, kau mendapatkan seseorang yang lebih pantas untuk mendampingimu. Zitao kelihatannya baik."
"Ya dia sangat baik dan lucu."
"kapan kalian akan menikah?"
"2 Minggu lagi."
"Ah, selamat atas pernikahanmu Fan." Mereka kembali terdiam. "Selama ini aku bertanya, kenapa kau membohongiku? Apa salahku sehingga kau melakukan hal itu padaku?" Tanya Yifan tanpa melihat Yixing, pandangannya terarah kedepan.
DEG~ Yixing menatap wajah Yifan, matanya berkaca-kaca tapi ia menahan agar airmatanya tidak jatuh, "Maafkan aku. Banyak hal yang tidak bisa ku ceritakan padamu. Tapi satu hal yang pasti, aku-aku…" drt-drt-drt ponsel Yixing menyelamatkan Yixing dari situasi itu.
Yixing melihat id caller-nya, 'Jongsuk's Calling!' , "Sebentar, aku angkat telepon dulu." Yixing menjauh dari Yifan dan mengangkat teleponnya. "Yeoboseyo, ada apa Jongsuk?"
"…"
"MWO! Nde aku akan segera kembali." Yixing buru-buru menutup teleponnya, ia menemui Yifan untuk berpamitan."Y-Yifan, aku-aku harus pergi. ada urusan mendesak. Maafkan aku."
"Ada apa?"
"Urusan mendesak. Maaf." Yixing berbalik meninggalkan Yifan.
"Kau tidak bekerja seperti itu kan?" Tanya Yifan menghentikan Yixing. Yixing berbalik sebentar, "Aku sudah berhenti sejak aku hamil kalau itu yang ingin kau tahu." Ucap Yixing lalu meninggalkan Yifan.
.
Yixing berlari ke tempat parkir, disana Woobin dan Jongsuk sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Jongsuk memangku Anson yang pingsan.
"Woobin apa yang terjadi? Anson dimana?" Tanya Yixing panic.
"Dia didalam mobil bersama Jongsuk. Masuklah, kita harus segera pergi ke rumah sakit." Yixing mengangguk, ia kemudian masuk ke mobil bersama Jongsuk dan Zhuyi dan menuju rumah sakit.
.
"Kau sudah selesai?" Tanya Zitao yang sedari tadi menunggu di mobil.
"Ya, maaf membuatmu menunggu lama." Yifan pun masuk ke mobil. Zitao menggeleng. "kau tenang saja, aku juga sedang mengerjakan laporanku. Tadi kulihat Woobin pergi dengan terburu-buru, ada apa?" Tanya Zitao tak mengalihkan perhatiannya dari ipadnya.
"AKu tidak tahu, Yixing bilang, dia terburu-buru tapi aku tidak tahu kenapa?"
"Oh, bisa kita pulang sekarang?Tadi Umma menelpon, menyuruh kita pulang. Umma menyiapkan makan siang untuk kita.
"Oke, kita pulang." Kemudian mereka pergi dari taman itu.
.
.
.
Anson segera di bawa ke ruang ke ICU untuk mendapat penanganan. Yixing, Woobin, Jongsuk dan Zhuyi menunggu di luar. Zhuyi menangis melihat saudara-nya sakit. Yixing memeluk putra sulung-nya dan menenangkannya.
"Anson akan baik-baik saja kan Umma?" Tanya Zhuyi dalam tangisnya.
"Iya sayang, Anson akan baik-baik saja sayang. Jangan menangis nanti Anson sedih." Zhuyi memeluk Yixing semakin erat. Bin-Suk memandang mereka dengan sedih. Jongsuk menghampiri Yixing dan menenangkannya.
"Aku akan membantu sekuat tenagaku Xing." Yixing mengangguk. Woobin mengambil alih Zhuyi. "Ahjussi, Anson sakit ahjussi. Kasihan Anson ahjussi…" ucap Zhuyi yang masih menangis.
"Anson akan baik-baik saja. ahjussi akan mencari obat yang ampuh untuk Anson. Ahjussi janji." Zhuyi memeluk Woobin erat.
Setelah Zhuyi terdiam, Woobin mengajak Zhuyi membeli makan agar ZHuyi tidak terlarut dalam sekarang Jongsuk dan Yixing yang menunggu didepan ruang ICU.
"Apa yang harus aku lakukan? Keadaan Anson semakin memburuk."
"Kau harus bilang pada Yifan kalau Anson putranya dan menjelaskan semua yang terjadi."
"Dia akan segera menikah, bagaimana bisa aku menghancurkan pernikahan mereka. Zitao adalah orang baik, bagaimana jika dia tahu bahwa calon suaminya telah memiliki anak, hatinya akan hancur. Aku tidak mau menyakiti Zitao atau Yifan."
"Tapi disini kau yang sakit. Kau yang terluka. Dia harus tahu kalau dia sudah menjadi Appa sejak enam tahun lalu."
"Dia tidak akan percaya kalau itu anaknya. Dia menganggap aku pelacur dan pasti dia tidak akan percaya kalau itu adalah anaknya.
"Kau bukan pelacur Xing, siapa yang bilang. Semua orang sudah tahu kebenarannya. Bahkan Umma-nya juga sudah tahu. Kenapa dia tidak boleh tahu tentang kebenaran ini. Kau melakukan itu juga demi dia, Xing kau tidak boleh keras kepala, jika kau terus menerus mempertahankan kekerasan hatimu, Anson yang akan jadi korban." Tegas Jongsuk.
Yixing menggeleng keras,ia tidak mau putra kesayangannya jadi korban. ia akan mencari cara agar Yifan tetap membantunnya tapi tidak mengorbankan pernikahannya dengan Zitao.
.
.
Yixing berjalan gontai melewati lorong rumah sakit setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang keadaan Anson.
Flashback on
Yixing dan Jongsuk sedang ada di ruangannya Dokter Shim untuk mendengarkan penjelasan pra terapi untuk operasinya Anson.
"Pra terapi ini sangat berat, jadi mungkin nanti Anson akan menjadi lebih sensitive. Sebaiknya kau terus mendampinginya."
"Nde, aku akan segera mengundurkan diri untuk focus menjaga Anson." Jawab Yixing, "Dokter Shim,apa yang akan terjadi saat masa Pra Terapi ini?"
"Anson akan di radiasi untuk membunuh seluruh sel kanker, dan juga mengosongkan sumsum tulang belakang Anson. Jadi Anson bisa menerima sumsum tulang yang baru."
"Bukankah itu berarti juga akan membunuh sel-sel darah putih milik Anson?" Tanya Jongsuk.
"Oleh karena itu Anson akan masuk ke ruang aseptic." Jawab Dokter Shim.
"Bagaimana jika dalam proses itu, Anson tidak mendapat pendonor?" Yixing kaget mendengar pertanyaan dari Jongsuk. Ia memandang Jongsuk dengan tatapan sulit diartikan. "Jika begitu apakah Anson harus hidup, di dalam ruang aseptic?"
"Itu tidak mungkin, karena sumsum tulang belakang Anson akan dikosongkan."
"L-lalu b-bagaimana d-d-dengan A-an-anson?" Tanya Yixing terbata-bata.
"Anson akan ... meninggal/Meninggal" jawab Jongsuk dan Dokter Shim bersamaan. Yixing membekap mulutnya tak pun juga tak kuasa menahan tangisnya.
Flashback off
.
Berkali-kali ia mengusap rambutnya kasar. Ia juga menangis. Karena tidak hati-hati, Yixing tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan kearahnya. BRUK! Yixing terhuyung ke belakang tapi kemudian dia ditangkap orang itu. GREP! Mereka pun saling bertatapan.
"Yixing?!"
"L-Leo?" Leo menegakkan badan Yixing. "Sedang apa kau disini? Kau sakit?" Tanya Leo.
Yixing menggeleng. "K-kau sendiri sedang apa disini?" Yixing justru bertanya balik.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Xing." Yixing terlihat bingung tapi kemudian ia menjawab,"A-A-anakku sakit."
"Anakmu?" Tanya Leo bingung.
.
.
Yixing dan Leo duduk dibangku taman, Yixing menceritakan kisahnya. Leo malah terkekeh mendengarnya, "Kau bodoh Xing, kenapa kau tidak bilang pada naga bodoh itu kalau Anson dan Zhuyi putranya, kau bisa mengajakku untuk menjelaskan pada Yifan semua yang terjadi."
Yixing menggeleng sambil tersenyum, "Dia tidak akan percaya, dia mendengar kalau aku adalah seorang pelacur. Mana mungkin dia akan percaya kalau itu anaknya."
"Siapa yang memfitnahmu sekeji itu? Kenapa kau tidak membela diri?" Tanya Leo marah.
"Siapa lagi orang yang membenciku kalau bukan Clara. Aku tidak punya bukti apapun saat itu, saat aku punya bukti Yifan sudah pergi ke Kanada. Aku tidak mau berharap lagi padanya, dia sudah bahagia sekarang. Apalagi dia akan menikah sebentar lagi."
"Lalu bagaimana dengan Anson? Apa kau sudah mendapat donor untuknya?"
"Belum, aku masih mencarinya. Aku tidak bisa mendonorkan darahku karena aku lah yang membawa penyakit itu untuknya."
"Yifan? Dia kan Appanya? Kau sudah memberitahunya?"
"Belum, aku masih mencari cara agar dia mau mendonorkan darahnya tanpa dia harus tahu kalau Anson adalah anaknya."
"Aku akan mencoba, siapa tahu darahku cocok dengannya."
"B-benarkah? K-Kau mau mendonorkan darahmu untuk Anson."
"Kalau cocok, kenapa tidak."
"Terima kasih Leo, terima kasih."
"Maafkan aku, dulu aku adalah namja brengsek yang tega memanfaatkan keadaan-mu."
"Kau sudah berubah sekarang, aku percaya kau bisa menjadi lebih baik."
"Yeah, andai saja aku mengenalmu lebih dulu." Mereka saling berbagi senyum, setidaknya Yixing memiliki secerca harapan untuk Anson.
.
.
Setelah minum obat akhirnya Anson pun tertidur, mungkin efek obat tidur yang ia minum. Yixing pun membenarkan posisi tidur Anson,dengan hati-hati agar putranya itu tidak terbangun.
Tiba-tiba Yixing teringat akan pertemuannya dengan Leo tadi. "Kenapa kau tidak meminta tolong pada Ummanya saja? Siapa tahu Umma-nya bisa membantumu?" Saran Leo. Ingatan itu membuat Yixing menjadi sedikit bersemangat. "Umma akan berusaha sekuat Umma sayang,Umma tidak akan menyerah untuk kesembuhanmu." Yixing mencium kening Anson dan tertidur disamping Anson.
.
.
At Moldir Office
"Permisi.."
"Ya ada yang bisa saya bantu?" Tanya Resepsionis yang ber-tag name SiWan.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Kim Jaejoong. Apa Tuan Kim ada?" Tanya Yixing sopan.
"Tuan Kim Jaejoong? Maksud anda Direktur Kim?"
"Iya, direktur Kim. Apa beliau ada?"
"Sudah ada janji dengannya?"
"Belum, tapi tolong sampaikan padanya. Zhang Yixing ingin bertemu."
"Baiklah tunggu sebentar." Resepsionis itu menelpon Jaejoong dan tak berapa lama kemudian ia menyuruh Yixing ke ruangan Jaejoong."Silahkan, anda naik lift menuju lantai 5, disana tempat kerja Tuan Kim."
"Terima kasih." Yixing membungkuk dan pergi ke lantai 5.
.
.
Tok-tok-tok! "Masuk!" ucap Jaejoong dari dalam. CKLEK! Yixing pun masuk. "Selamat Siang Tu-Tuan Kim." Sapa Yixing sambil membungkuk.
"Yixing." Jaejoong menghentikan pekerjaan-nya dan menghampiri Yixing."Yixing..!" Jaejoong memeluk Yixing dan mengajaknya duduk. "Bagaimana kabarmu?"
"B-baik Tuan, saya baik-baik saja."
"jangan panggil aku Tuan, panggil aku Umma, aku Umma-mu Xing."
"M-Maaf U-Umma."
"Ada apa? Kau ada perlu denganku?"
"AKu-aku ingin meminta tolong Umma."
"Meminta tolong apa? Kau ingin meminjam uang? Katakan berapa? Umma akan memberikannya." Yixing menggeleng.
"Bukan Umma, aku tidak ingin meminjam uang."
"Lalu?"
"Aku-aku ingin Umma membujuk Yifan untuk.."
"Ya?" Tanya Jaejoong semakin penasaran.
"Mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Anson."
"Donor sumsum tulang belakang? Cucu Umma sakit, Anson kah? Sakit apa Xing?" Jaejoong mendadak panic mendengar tentang donor sumsum tulang.
"Iya Umma, Anson terkena leukemia Umma, dia butuh donor sumsum tulang belakang. Aku dan Zhuyi tidak bisa. Hanya tinggal Yifan harapanku satu-satunya karena dia Appanya,tapi aku mohon jangan bilang pada Yifan kalau tujuan donor itu demi Anson, jangan Umma. Aku tidak mau menghancurkan pernikahan mereka." Yixing menggenggam tangan Jaejoong dan memohon. Jaejoong menangis, tak kuasa mendengar cerita Yixing.
"Baiklah, Umma akan membujuk Yifan untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Anson."
"Terima kasih Umma, terima kasih." Yixing berterima kasih pada Jaejoong. Ia menitihkan airmata bahagia karena ada harapan untuk kesembuhan Anson.
.
.
Leo baru saja menyelesaikan check up kesehatan rutin-nya dan sekaligus tes darah untuk mengetahui kecocokan darahnya dengan Anson. Saat ini ia berada di ruang Jongsuk, menunggu hasilnya keluar.
"Apa aku benar-benar bisa mendonorkan sumsum tulangku untuk Anson?" Tanya Leo penuh harap.
"Kita Tunggu hasilnya nanti, jika cocok mungkin kau bisa mendonorkan darahmu untuk Anson." Jelas Jongsuk.
"Yeah, aku harap aku bisa."
"Oh Ya, Kau bilang beberapa hari ini kau sering mengalami kelelahan yang berlebihan?"
"Nde, aku sering susah tidur, lemas, lesu dan nafsu makanku berkurang. Jantungku berdebar-debar, padahal aku tidak melakukan pekerjaan berat." Keluh Leo.
"Kita akan tunggu hasilnya Leo. Aku tidak bisa memastikan apa yang terjadi padamu sekarang. Aku masih menunggu hasil cek labmu."
30 menit kemudian, hasilnya keluar. Jongsuk memeriksa hasilnya, ia terkejut dengan apa yang dia baca.
"Ada apa?" Tanya Leo bingung dengan perubahan wajah Jongsuk.
"Kabar baiknya, Kau darahmu cocok dengan Anson…-" Jongsuk memberi jeda.
"Benarkah?" Tanya Leo senang.
"-…nde, tapi…-"
"Tapi apa?" Tanya Leo penasaran.
"Kabar buruknya, yang aku khawatirkan terjadi. kau-kau mengidap thalasemia." DEG~ Leo terdiam, matanya bergerak gelisah. "Maafkan aku Leo tapi kau tidak bisa mendonorkan sumsum tulangmu sedangkan kau sendiri membutuhkan donor juga." Ujar Jongsuk
"Mwo?!"
"Kau tidak bisa mendonorkan sumsum tulangmu, terlalu berbahaya untukmu." Leo menghela nafas panjang. "Maaf."
"Jadi aku benar-benar tidak bisa mendonorkan darahku untuk Anson?" Jongsuk menggeleng.
"Mulai saat ini kau harus menjalani perawatan Leo sebelum semua terlambat." Saran Jongsuk.
.
.
"Umma ingin mengajakku kemana?" Tanya Yifan saat diseret Jaejoong ke mobil.
"Sudah ikut saja." BLAM! Pintu mobil tertutup dan mereka melaju menuju rumah sakit.
15 menit kemudian,
"Rumah sakit? Untuk apa kita kemari Umma?" Tanya Yifan bingung.
"Umma ingin minta tolong padamu untuk cek darah."
"Cek darah? Untuk apa?"
"Teman Umma butuh donor darah, dia sudah mencari kemana-mana tapi tidak ada yang cocok. Umma juga sudah cek tapi tidak cocok, mungkin kau cocok. Tidak ada salahnya mencoba, lagipula menolong orang tidak akan merugikanmu kan?"
"Siapa yang sakit Umma? Teman Umma?"
"Nde, teman Umma, anaknya sakit leukemia dan butuh donor sumsum, appa dari anak itu pergi dan darah teman Umma tidak cocok, ayo jangan banyak Tanya, masuk dan cek darahmu, didalam ada dokter Shim yang menunggumu."
"Tapi kalau aku cocok dan jadi mendonorkan darahku tidak akan berpengaruh pada performa basketku kan Umma."
"Tentu saja tidak paboo. Sudah masuk, Umma tunggu di luar." Jaejoong mendorong Yifan masuk dan ia menunggu di luar. Beberapa menit kemudian Yifan keluar.
"Sudah selesai?"
"Nde Umma, hasilnya besok."
"Ok, kalau begitu kita pulang."
"AKu tidak bisa Umma, aku ada pertemuan dengan tim Shinwa Unity. Aku akan meneken kontrak dengan mereka. Umma pulang dengan sopir Hwan, aku akan naik taksi saja."
"Kau akan bermain di sini? Kau tidak kembali ke Kanada lagi?"
"Nde, kontrak dengan Toronto Raptor sudah berakhir dan aku mendapat tawaran di Shinwa Unity."
"Baguslah kalau begitu, Umma juga akan menetap disini. jadi kita akan bersama lagi sayang."
"Kalau begitu aku pergi dulu Umma." Yifan mencium pipi Jaejoong dan pergi mencari taksi.
'Yixing, semoga ini berhasil. Semoga saja..' harap Jaejoong.
.
.
Yixing keluar dari ruang aseptic setelah Anson tertidur, ia akan menjemput Zhuyi di rumah Woobin karena Woobin akan pergi.
Saat ia melewati taman, ia melihat seorang namja duduk di bangku taman, mengenakan pakaian rumah sakit sambil membaca buku.
"L-Leo?" Yixing memicingkan matanya, mencoba melihat dengan jelas namja itu dan benar, namja itu adalah Leo. Yixing menghampirinya. "Leo?" panggil Yixing. namja itu menoleh dan benar, dia adalah Leo.
"Yixing.."
"Sedang apa kau disini? k-kau sakit?" Leo menutup bukunya. Ia tersenyum, "Aku sedikit kelelahan jadi harus bed rest selama beberapa hari."
"Apa yang terjadi denganmu? Sungguh kau hanya kelelahan?"
"Percayalah, aku baik-baik saja. beberapa hari lagi aku sudah keluar dari rumah sakit. Kau mau kemana?"
"Aku ingin menjemput Zhuyi, Woobin harus latihan jadi ZHuyi tidak ada yang menjaga."
"Oh.." Leo hanya ber-oh ria.
"Kau menginap di kamar nomor berapa?"
"Kamar 300, lantai 3."
"Ok, nanti aku akan menemuimu setelah menjemput Zhuyi, kalau begitu aku pergi dulu." Yixing berpamitan pada Leo dan pergi untuk menjemput menatap punggung Yixing yang semakin lama semakin menjauh. 'Xing, maafkan aku. Andai saja aku bisa menolong Anson, aku sudah melakukannya dari dulu. Maaf.'
.
.
Duk-Duk-Duk Yifan mendrible bolanya, melewati beberapa pemain Shinwa Unity dan menembakkan bolanya ke ring, BANG! Masuk.. Yifan berhasil memasukkan 20 poin di kuarter pertama. Para pemain Shinwa Unity terkagum-kagum melihat permainan Yifan.
"Kau small forward yang kami butuhkan Yifan. Melihat kemampuanmu menerobos pertahanan, lay-up dan shoot dari jarak tertentu. Kau cocok untuk menggantikan SF kami yang keluar." Puji coach Shinwa Unity.
"Terima kasih Coach. Aku akan berusaha sebaik mungkin dan memberikan yang terbaik untuk Shinwa Unity."
"Musim depan, kau resmi bermain untuk Shinwa Unity."
"Nde, terima kasih." Yifan berjabat tangan dengan Coach sekaligus manager Shinwa Unity dan menandatangani kontrak bermain 1 musim untuk mereka.
.
.
At Hospital
Yixing memperbaiki beanie Anson yang melorot. Ia memasangkannya kembali dan mencubit hidung Anson."Sudah selesai anak manis." Yixing mengusap kepala Anson.
"Umma, apa aku akan sembuh?" Tanya Anson polos.
"Tentu saja, Anson akan sembuh. Kenapa Anson bertanya begitu?" Tanya Yixing sambil menggenggam tangan Anson.
"Umma tahu Hyeri, temanku dari kamar sebelah."
"Nde, kenapa dengan Hyeri?"
"Dia meninggal kemarin. Padahal dokter sudah mengoperasinya. Mungkinkah aku akan seperti Hyeri. aku akan tetap meninggal meskipun sudah dioperasi" Yixing merengkuh Anson dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca.
"Anson akan sembuh, Umma dan Zhuyi akan berdoa untuk Anson. Anson akan sembuh."
"Umma, bolehkan Anson meminta satu hal."
"Apa sayang? Kau ingin apa? Anson ingin mainan apa?" Tanya Yixing mengusap kepala Anson.
"Anson ingin bertemu dengan Appa." DEG~ Jantung Yixing berdetak keras."Aku ingin bertemu Appa, Appa belum meninggal kan Umma?" Yixing melepas pelukannya dan menatap Anson, "Appa t-tidak bisa bersama kita sayang."
"Kenapa? Apa Appa tidak sayang pada Anson? Apa Anson nakal sampai Appa tidak mau menemui kita?" Tanya Anson dengan mata berkaca-kaca. Yixing menggeleng keras.
"Tidak sayang, tidak. Umma yakin Appa sangat mencintai Anson, tapi Appa memang tidak bisa bersama kita."
"Aku ingin sebelum meninggal bisa bertemu Appa, aku ingin bertemu Appa." Ucap Anson menangis. Yixing kembali memeluknya. 'Maafkan Umma sayang, maafkan Umma. Tapi Appa-mu tidak tahu kalau kau ada. Appa-mu mungkin tidak akan percaya kalau kau putranya. Appa-mu sudah bahagia sekarang, Umma tidak mungkin akan menghancurkan kebahagiaan mereka. Maafkan Umma.' Bathin Yixing pilu.
.
.
Yixing duduk di bangku taman sendiri, ia melamun memikirkan kata-kata Anson yang ingin bertemu dengan Yifan. PUK! Sebuah tepukan dibahunya membuat Yixing terlonjak dan menoleh ke belakang, melihat si pelaku.
"Leo! Kau mengagetkanku."
"Sedang apa kau disini?"
"Aku?" Yixing menggeleng, "Aku sedang mencoba menjernihkan pikiran."
"Kau sedang ada masalah?"
"Menurutmu?"
"Ada apa? Sepertinya masalah itu berat sekali."
"Anson ingin bertemu dengan Yifan, dengan Appa-nya."
"Ya pertemukan saja."
"Mudah kau bilang seperti itu, tapi apa Yifan akan percaya kalau Anson anaknya? Kalau iya, bagaimana kalau ia sampai membatalkan pernikahannya hanya karena posisinya sudah menjadi Appa. Kasihan Tao, mereka sudah menjalin hubungan selama 6 tahun dan semua akan berakhir dalam waktu 1 hari. Aku tidak akan sejahat itu Leo?"
"Bagaimana kalau Yifan lebih bijak, dia tetap menikahi Tao dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai Appa untuk Anson dan Zhuyi. Kalian bisa bersama mengasuh si kembar meskipun tidak menikah. Tidak ada salahnya kau coba Xing, mengatakan kebenaran di depan Yifan dan membuat Yifan tetap menikahi Tao meskipun kalian tidak bersama."
"Tidak pernah terpikirkan olehku."
"Kau memang tidak pernah berpikir." Ledek Leo. PLAK! "Aduh Xing sakit. Kau ini."
"AKu tidak sebodoh itu."
"Ku bodoh karena rela melakukan apa saja demi orang yang kau cintai."
"Itu yang disebut cinta. berkorban untuk dia adalah salah satu bentuk cinta kita padanya. Kau tidak tahu ya?" Leo menggeleng, "Sekarang kau yang bodoh." Ledek Yixing gantian.
"Kau masih mencintainya?"
"Selamanya, aku tidak akan bisa melupakan Appa dari putraku. Dia cinta pertamaku dan mungkin terakhirku."
"Mungkinkah dia masih menyimpan perasaan padamu?"
"Aku tidak tahu, sudah 6 tahun dia pergi dariku, mungkin dia sudah berpaling pada yang lain."
"Benarkah?" Leo merengkuh Yixing dalam pelukannya."E-eh apa yang kau lakukan?" Tanya Yixing terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Leo.
"Diamlah, aku ingin memelukmu. Sebentar saja." Yixing pun menurut. Leo menyeringai melihat seorang dari kejauhan memperhatikan mereka. Tangan namja itu mengepal erat melihat pemandangan itu.
"Dia masih mencintaimu Xing."
"Heh?" Yixing mencoba melepaskan diri tapi ditahan Leo, "Diam, aku ingin memelukmu paboo."
"Kau ini kenapa sih?" Tanya Yixing semakin bingung.
"Aku hanya ingin memelukmu. Kau diam saja." Yixing mengerutkan dahinya bingung. Setelah namja itu pergi, Leo melepaskan pelukannya.
"Hah-hah-hah.." nafas Yixing tersengal. "Kau gila ya? Kenapa memelukku erat sekali?"
"Karena aku suka." Jawab Leo enteng.
"Dasar aneh." Leo hanya membalasnya dengan senyum.
Flashback on
"Mungkinkah dia masih menyimpan perasaan padamu?"
Leo menoleh kearah lorong dan melihat seorang namja yang tak asing baginya berjalan ke arahnya. (lorong berbentuk L, jadi namja itu berjalan lurus dan akan berbelok)
"Aku tidak tahu, sudah 6 tahun dia pergi dariku, mungkin dia sudah berpaling pada yang lain."
Namja itu berhenti saat ia bertatapan dengan Leo. Yixing tidak melihatnya karena posisinya memunggungi namja itu.
"Benarkah?" Dengan masih menatap namja itu Leo merengkuh Yixing dalam pelukannya. Namja itu terkejut dengan apa yang dia lihat. Leo menyeringai tipis.Yixing meronta meminta dilepaskan tapi pelukan Leo semakin kencang, ia ingin melihat reaksi namja itu.
Dan benar, raut wajah namja itu mendadak berubah keruh melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya."Dia masih mencintaimu Xing."
"Heh?" Tanya Yixing bingung. Tangan namja itu mengepal erat. Leo semakin menyeringai melihatnya dan tak lama kemudian namja itu pergi dengan perasaan yang sulit digambarkan.
"Hah-hah-hah.." nafas Yixing tersengal. "Kau gila ya? Kenapa memelukku erat sekali?"
"Karena aku suka." Jawab Leo enteng.
Flashback off
.
BRAK! Yifan menutup pintunya kasar. Sekembalinya ia dari mengambil hasil testnya kemarin, ia disuguhi pemandangan yang membuatnya marah. Marah? Cemburu? Yifan menggeleng. Ia tidak mungkin cemburu, ia sudah tidak memiliki hubungan dengan Yixing, tapi dia marah melihat Yixing bersama Leo. Yifan menyentuh dadanya yang terasa sesak setelah melihat pemandangan itu.
"Ada apa ini? Aku tidak cemburu, aku sudah memiliki Tao." Ucapnya kemudian meninggalkan rumah sakit.
.
.
Anson mengambil sesuatu dari kotak pensilnya. Ia mengambil foto yang dia sembunyikan di kotak pensilnya. Anson membuka lipatan foto itu dan menatapnya. "Umma, Appa." Ya itu adalah foto Yixing dan Yifan. "Appa, aku merindukanmu." Ratap Anson.
"Anson.." panggil Zhuyi.
"Hyung.."
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku melihat foto Appa."
"Appa?"
"Nde, kemarilah." Anson menyuruh Zhuyi mendekat dan memperlihatkan foto Umma dan Appa-nya. "ini Appa kita."
"Appa kita? Bukankah ini Ahjussi kemarin yang aku temui ditaman?"
"Kau pernah bertemu dengannya hyung?" Zhuyi mengangguk.
"Darimana kau tahu ini foto Appa kita?" Anson membalik fotonya. 'Forever Love, Yixing-Yifan.' "Aku yakin dia Appa kita."
"Lalu kau ingin apa?"
"Aku ingin bertemu dengannya, walaupun cum sebentar. Aku mohon hyung. Umma tidak mengizinkanku bertemu Appa." Keluh Anson
"Ya sudah, nanti hyung akan mencoba mencari Appa dan mempertemukanmu dengannya.."
"Jinjjayo?"
"AKu mencoba, tapi aku akan Tanya pada ahjussi Woobin, mungkin dia tahu tentang Appa."
"Andwe! Ahjussi Woobin itu dekat dengan Umma, dia tidak akan bilang pada kita."
"Lalu siapa, ahjumma Jongsuk?"
"Dia juga tidak mungkin bilang." Zhuyi dan Anson dalam mode berpikir. Mereka memang cerdas, diusianya yang baru menginjak 6 tahun, mereka berpikir seperti orang dewasa.
"Ah aku tahu.." ucap Zhuyi tiba-tiba.
"Siapa hyung?"
"Teman Umma, kemarin Umma menemuinya, dia sering duduk ditaman kalau sore. Ahjussi itu, ya ahjussi itu. Aku akan bertanya padanya tentang Appa."
"Nde hyung, tanyakan tentang Appa padanya." Zhuyi mengangguk. Ia akan mencari ahjussi teman Umma-nya.
.
.
Zhuyi menghampiri ahjussi (read:Leo) teman Umma-nya yang biasa duduk di taman. Kebetulan Umma-nya sedang keluar untuk membeli makan, jadi ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Leo.
"Ahjussi.." panggil Zhuyi sambil berlari kearahnya. Leo yang merasa mendengar suara, berbalik dan melihat anak kecil berlari kearahnya. Ia mengerutkan dahinya."Ahjussi.." panggil Zhuyi lagi saat ia sampai di depan Leo.
"Kau siapa?"
"Perkenalkan namaku Wu Zhuyi, Umma ku Zhang Yixing." jawab ZHuyi sambil membungkuk.
"Zhuyi? Oh jadi kau anaknya Yixing. ada apa mencariku? Sini duduk dengan ahjussi." Ajak Leo. Zhuyi mengangguk dan duduk di dekat Leo. "Ada apa heum anak manis?"
"Ahjussi, kau kenal Appa-ku?"
"Appa-mu?" Tanya Leo menegaskan.
"Nde, Appa-ku namanya Yifan, Ahjussi mengenalnya?" Tanya Zhuyi polos. Leo menghela nafas, ia bingung harus menjawab apa.
"Maafkan ahjussi, tapi Ahjussi tidak tahu siapa Appa-mu." Jawab Leo bohong.
"Tolong aku ahjussi, aku hanya ingin tahu dimana Appa? Aku ingin mengajak dia kesini untuk menemui Anson kalau Appa tidak mau tinggal dengan kami, kami tidak akan memaksa tapi kumohon, aku ingin bertemu Appa sekali saja." mohon Zhuyi dengan menunjukkan puppy eyes-nya.
"Hah…" Leo menghela nafas, ia tak bisa melihat anak manis ini bersedih karenanya. "baiklah, Ahjussi akan menolongmu menemui Appa-mu besok."
"Jinjjayo?" Tanya Zhuyi dengan mata berbinar. Leo mengangguk. Zhuyi memeluk Leo dan mengucapkan terima kasih padanya. Leo membelai lembut rambut ZHuyi.
.
.
.
Skip Time
Leo meminta izin pada Yixing untuk membawa Zhuyi jalan-jalan. Awalnya ia tidak mengizinkan tapi akhirnya ia mengizinkan setelah melihat rengekan Zhuyi. Sebenarnya Leo juga belum boleh keluar dari rumah sakit tapi ia sedikit memaksa pada Jongsuk dan akhirnya diizinkan walaupun tidak lama.
At Leo's Car
"Kita mau kemana Ahjussi?" Tanya Zhuyi sambil mengancingkan jaketnya.
"Kita akan pergi ke mall,kudengar Appa-mu disana sedang ada acara."
"Acara apa?"
"Kau tahu, Appa-mu adalah pemain basket professional, seperti Woobin ahjussi."
"Jinjjayo? Wah pasti Appa hebat."
"Tentu saja, dan kemampuannya mengalir padamu."
"Apa Woobin jussi ada disana? Kalau Woobin jussi disana, nanti aku tidak bisa menemui Appa."
"Sepertinya tidak. Mereka kan beda tim."
"Horee, akhirnya aku bisa bertemu Appa." Sorak Zhuyi senang, Leo tersenyum melihat Zhuyi begitu senang saat akan bertemu Yifan.
30 menit kemudian mereka sampai di sebuah mall, ternyata memang sedang ada acara fans meeting tim Shinwa Unity sekaligus mengenalkan Yifan sebagai pemain baru.
"Jangan lepas tangan Ahjussi, nanti setelah selesai kau bisa menemui Appa-mu."
"Siap ahjussi." Mereka pun masuk dan menuju ke tempat acara. "Ramai sekali Ahjussi."
"Tentu saja. kau bisa melihat Appa-mu?" Tanya Leo. Zhuyi berjinjit tapi tetap tak bisa. Ia menggeleng. Akhirnya Leo menggendong Zhuyi dan memperlihatkan Yifan pada Zhuyi. "Kau lihat, dia yang memakai kemeja warna biru." Tunjuk Leo.
"Nde aku lihat ahjussi, ternyata Appa sangat tampan." Zhuyi begitu senang melihat Appa-nya Yifan. Sesekali ia bersorak saat Yifan berbicara.
Beberapa saat kemudian acara selesai. Leo mengajak Zhuyi menuju backstage, ia memiliki gold card yang diberikan sahabatnya yang kebetulan staff dari penyelenggara acara itu, jadi ia bebas keluar masuk ke ruang istirahat tim Shinwa Unity.
"Itu Appa-mu, bagaimana kau akan bilang padanya untuk menemui Anson."
"AKu tahu caranya Ahjussi, ahjussi tenang saja." Leo mengangguk menuruti perkataan Zhuyi, ia membiarkan Zhuyi menemui Yifan sendiri. Zhuyi berjalan menuju pintu masuk tapi langkah kecilnya terhenti saat ia melihat seorang namja lebih dulu menghampiri Yifan, menciumnya dan memeluknya. Yifan terlihat begitu senang dan membalas pelukan namja itu. Setelah itu Yifan memeluk pinggang namja itu dan melenggang pergi.
"Appa…" ucap Zhuyi lirih. Matanya berkaca-kaca, ia seperti tahu alasan kenapa Appa-nya tidak bisa bersama-nya. Zhuyi berbalik dan meninggalkan area itu. Dia menghampiri Leo sambil menangis.
"Zhuyi kau kenapa? Zhuyi…" Tanya Leo panic ia berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Zhuyi. Zhuyi menggeleng, ia langsung memeluk Leo, "Ada apa sayang? Kenapa menangis heum?"
"Appa.."
"Appa-mu kenapa?"
"Appa sudah bersama orang lain, Appa tidak bisa bersama kami lagi." Jawabnya sambil menangis sesenggukan.
"Sssttt.. sudah jangan menangis. Kita pulang sekarang ne?" Leo menenangkan Zhuyi dan membawanya pergi. saat mereka akan masuk lift tiba-tiba mereka bertemu seseorang yang tak asing bagi mereka, "Woo-Woobin?" Leo sedikit terkejut melihat Woobin, apalagi keadaannya membawa Zhuyi yang menangis.
"Zhuyi? Leo, apa yang kau lakukan pada Zhuyi? Kenapa Zhuyi menangis?"
"Aku bisa jelaskan."
"Memang kau harus jelaskan semuanya. Zhuyi ikut ahjussi." Woobin mengambil alih Zhuyi dari tangan Leo.
.
Mereka pun akhirnya makan di restaurant, Zhuyi tertidur di gendongan Woobin setelah cukup lama menangis.
"Apa yang kau lakukan pada Zhuyi sampai dia menangis seperti ini?" Tanya Woobin to the point.
"Dia memintaku untuk mempertemukan dirinya dan Appa-nya, Yifan. Jadi aku bawa kesini tapi saat dia aku suruh menemui Yifan sendiri, tiba-tiba ia kembali dengan menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi? setahuku ruangan itu hanya ada Yifan, apa mungkin Yifan membentaknya hingga Zhuyi menangis, setahuku Yifan tidak seperti itu."
"Kau mempertemukan Zhuyi dengan Yifan? Beraninya kau melakukan itu tanpa bertanya pada Yixing atau padaku."
"Zhuyi memohon padaku, karena dia ingin mempertemukannya dengan Anson. Anson yang memintanya. Apa kau tega melihat Anson yang menangis ingin bertemu dengan Appa-nya, meskipun ia tidak akan memanggilnya Appa tapi ia hanya ingin melihat seperti apa Appa-nya. dia hanya ingin bertemu, apa itu salah? Zhuyi dan Anson tidak mengharapkan apa-apa, mereka hanya ingin bertemu Yifan. Jangan memarahi Zhuyi karena keinginan kecilnya ini, kau tidak bisa menyalahkan harapan seorang anak untuk bertemu dengan appa-nya."
Woobin terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa, Zhuyi tidak salah, ia hanya ingin bertemu dengan Appa-nya, tidak ada yang salah. Woobin menatap Zhuyi sedih, seandainya Yixing mau berkata jujur pada Yifan tentang semua ini, pasti hal ini tidak akan terjadi.
.
.
"Hasilnya sudah keluar Xing, beberapa hari yang lalu, Yifan sudah mengambil hasilnya dan darahnya cocok dengan Anson, jadi dia bisa mendonorkan darahnya untuk Anson."
"Nde, aku sudah tahu dokter. Kemarin Umma Yifan menelponku dan memberitahu hal itu, aku sangat senang sekali Dokter, akhirnya ada secerca harapan untuk Anson."
"Ya, aku juga. Operasinya akan dilakukan 4 hari lagi Xing, aku harap Yifan siap untuk melakukan transfuse."
"Nde Dokter Shim, aku akan menghubunginya."
"Prosedurnya tidak terlalu berat tapi tidak bisa dikatakan ringan. Kau harus selalu bersama Anson."
"Tentu saja, aku akan menemani Anson, 24 jam penuh." Jawab Yixing penuh semangat.
.
.
Yixing pun menemui Jaejoong yang kebetulan berada di workshop Moldir di daerah Gangnam untuk membicarakan tentang operasi Anson.
"Umma.." panggil Yixing. Jaejoong berbalik dan melihat Yixing berdiri tak jauh darinya.
"Yixing, kemari." Yixing menghampiri Jaejoong dan memeluknya. "Umma.."
"Ada apa heum? Ada kabar dari dokter Shim mengenai operasi Anson?" Yixing melepas pelukannya dan mengangguk. "Nde Umma."
"Benarkah? ayo duduk, kita bicara." Jaejoong mengajaknya duduk dan Yixing memulai bicara. "Operasinya akan dilakukan 4 hari lagi setelah Yifan menikah. Umma tolong tahan Yifan sebentar untuk menunda bulan madunya. Setelah operasi selesai, aku tidak akan menganggu Yifan lagi." Mohon Yixing.
"Yixing.. kenapa kau tidak katakan saja kalau Anson dan Zhuyi adalah anak Yifan. Setidaknya tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kalian."
"Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka Umma. Umma tahu kebenaran tentang diriku itu saja sudah cukup."
"Nanti kalau Yifan sudah menikah dan mengetahui hal ini bagaimana?"
"Maka kami akan menjadi sahabat dan merawat Anson dan Zhuyi bersama. Aku akan membencinya dan tidak akan mengizinkannya bertemu si kembar kalau sampai dia meninggalkan Tao."
"Bagaimana dengan Tao? Bagaimana kalau dia tidak menerima Anson dan Zhuyi?"
"Anson dan ZHuyi tidak perlu tinggal dengan mereka. Kalau Yifan ingin menemui si kembar, ia bisa datang ke rumah Woobin. Kalau dia datang, aku akan pergi agar tidak membuat Tao cemburu."
"Kenapa kau masih bisa memikirkan kebahagiaan orang lain sedangkan dirimu sendiri belum tentu bahagia?"
"Prioritasku saat ini adalah melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia dan yang paling penting adalah kebahagiaan Zhuyi dan Anson, putraku Umma. 6 tahun lalu aku merelakan diriku tidur dengan Leo agar Yifan kembali ke tim basket karena aku mencintai Yifan dan aku tidak mau melihatnya sedih, aku ingin melihatnya kembali bersemangat. Bukannya aku ingin menyembunyikan kehamilanku tapi melihat kebenciannya saat itu, aku tidak yakin dia akan percaya bahwa itu adalah anaknya jadi aku biarkan dia berpikir aku itu namja seperti apa, buktinya dia sukses di Toronto Raptor dan menjadi MPV selama beberapa kali. Kalau aku menjelaskan semua, dia pasti akan melepaskan impiannya dan memilih menikah denganku, menjadi ayah di usia yang sangat muda padahal cita-citanya masih panjang, aku tidak mau merusaknya Umma."
"Yixing…"
"Umma, sampaikan ucapan terima kasihku pada Yifan nanti. Berkatnya, anakku akan selamat." Ucap Yixing sambil menggenggam tangan Jaejoong. Jaejoong mengangguk, ia terharu melihat Yixing dan segala pengorbanannya selama ini. Sungguh, ia ingin Yixing menjadi menantunya tapi ia juga tidak mau merusak hubungan yang telah Yifan jalin dengan Zitao selama ini. Setidaknya ia tahu bahwa ia telah menjadi Halmeoni dengan cucu-cucu yang manis seperti Anson dan Zhuyi.
Di luar, seorang namja yang hendak masuk mengurungkan niatnya setelah mendengar percakapan itu. Ia mendengarkannya hingga akhir. Zitao meneteskan airmata tapi ia menahan suara tangisnya. Zitao pun segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan sempoyongan menuju tangga darurat, beberapa kali ia menabrak orang tapi ia mengabaikannya.
BRUKK! Zitao terduduk lemas, ia menangis sambil memegangi dadanya. Dadanya terasa sakit. Ia benar-benar bingung saat ini, 1 hari lagi dia menikah tapi saat menjelang pernikahannya ia malah mendapati kenyataan yang menurutnya sangat menyesakkan hati. 'Aku harus bagaimana?' Tanya Zitao dalam hatinya yang pilu.
.
.
Zhuyi menemani Anson di ruang aseptic saat Yixing pergi. "Bagaimana hyung? Apa kau bertemu Appa?" Tanya Anson penuh harap.
"Maafkan hyung, Anson. Hyung tidak bisa bertemu Appa." Jawab Zhuyi sedih.
"Yahh, sayang sekali hyung, padahal aku akan segera operasi. Bagaimana jika operasinya gagal dan aku tidak bisa bertemu Appa lagi?"
"Huss, kau tidak boleh berkata seperti itu. Hyung yakin kau akan sembuh dan kita akan bertemu dengan Appa."
"Aku takut hyung tidak bisa bertemu Appa." Zhuyi memeluk saudaranya dengan erat, ia menangis bersama dengan Anson. Ia sedih karena tidak bisa mempertemukan Anson dengan Appa-nya.
.
.
D-1 before Wedding
Yifan sedang bersiap untuk pergi ke butik mengambil jas yang sudah dia pesan untuk hari pernikahannya besok. Saat ia turun dari tangga tiba-tiba Ahjumma Jang menghampirinya sambil membawa surat.
"Tuan Muda, maaf. Ada surat untuk anda." Ahjumma Jang menyodorkan surat pada Yifan.
"Dari siapa Ahjumma?" Yifan mengambil suratnya.
"Maaf, saya tidak tahu Tuan Muda, tidak ada pengirimnya."
"Oh, ok. Terima kasih." Yifan tak membacanya tapi langsung ia masukkan ke jas dan bergegas pergi.
.
At Butik
Yifan mencoba jas yang ia pesan. Yifan puas dengan hasilnya dan memuji Noona Eunseong yang telah bekerja keras untuk membuat jas untuknya.
Saat Noona Eunseong akan menukar jas tiba-tiba PUK! Sesuatu jatuh dari jas Yifan sebelumnya, surat beserta isinya tercecer dilantai. Noona Eunseong terkejut."OMO! Maaf Tuan Yifan aku menjatuhkan surat anda." kemudian ia berjongkok untuk memungut isinya. "Foto USG, calon istri anda sudah hamil Tuan?" Tanya Noona Eunseong sambil melihat foto USG tersebut.
Yifan yang bingung dengan maksud perkataan Noona Eunseong segera menghampirinya, "maksudmu?"
"Ini, ini foto USG calon istri anda bukan?" Noona Eunseong menunjukkan foto USG itu pada Yifan. Yifan mengambilnya dan melihatnya dengan seksama.
"setahuku Tao tidak hamil. foto siapa ini?"
"Ada suratnya." Noona Eunseong membaca isi surat itu, "Hasil test atas nama Zhang Yixing. Positive - Male-Pregnat."
"MWO!" Yifan merebut surat itu dan membacanya. Ia membaca dengan seksama hasil test itu dan pemeriksaan itu sekitar 6 tahun lalu. Yifan mengambil kertas satunya dan membacanya. Kertas itu berupa sobekan buku, seperti diary.
7 Januari 2009
Dear My Love Yifan
Maafkan aku, aku terpaksa melayani Leo. Hal ini aku lakukan agar kau bisa masuk tim basket lagi, aku tidak ingin kau bersedih karena kau ditolak mentah-mentah oleh kepala sekolah untuk masuk kembali ke tim basket karena hasutan Clara. Aku terpaksa, sungguh aku tidak pernah ingin melakukan itu tapi demi dirimu aku rela, karena aku mencintaimu.
Aku rela melakukan apapun demi dirimu, termasuk jika kau memintaku bunuh diri.
.
26 Februari 2009
Aku bahagia, Yifan memberikanku sebuah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Terima kasih sayang.
.
27 Februari 2009
Akhirnya kau memenangkan piala itu Yifan, semua usahamu tidak sia-sia. Aku bangga padamu. I love You Wu Yifan.
.
12 April 2009
Entah aku harus bahagia atau sedih saat ini. Disaat aku mendapat anugerah kau pergi meninggalkanku karena kesalahpahaman. Andai saja saat itu aku jujur padamu lebih awal mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Yifan, aku hamil dan ini anakmu. Usia kandunganku 6 minggu. Aku yakin ini anakmu bukan anak Leo. Aku berhubungan dengan Leo jauh sebelum kita menjalin hubungan. Jika kau menghitungnya, usia kandunganku sama seperti terakhir kali kita berhubungan, jadi aku yakin ini adalah anakmu.
Jika aku bisa mengatakan yang sebenarnya, aku bukan pelacur seperti yang kau tuduhkan. Tapi aku tahu aku salah, aku tidak pantas untukmu. Terima kasih telah memberi hadiah yang luar biasa untukku, aku akan menjaganya.
Semoga kau bahagia dengan hidupmu yang baru, maaf telah menyakitimu. Aku selalu mencintaimu Yifan.
.
Aku melahirkan malaikat kecil, kembar dan aku memberi nama mereka, Wu Zhuyi dan Wu Anson. Kenapa Wu, karena ayahnya adalah Wu Yifan.
Yifan, apa kau bisa merasakannya, kau sudah menjadi ayah sekarang.
.
Anson mengidap Leukimia. Apa salahku Tuhan? Kenapa ini terjadi padaku? Aku harus meminta tolong pada siapa? Yifan? Apa dia mau menolongku setelah semua yang terjadi? Yifan tolong anak kita, hanya darahmu yang bisa menolong Anson.
.
DEG~ jantung Yifan berdetak keras, semua yang ia baca, apa ini rekayasa Yixing? Tidak mungkin, untuk apa Yixing melakukan ini, harta? Tidak mungkin, jika Yixing mau, dia sudah melakukannya sejak dulu.
Yifan mengumpulkan kertas itu dan memasukkannya ke dalam jas yang dia pakai sebelumnya. "Aku pergi dulu, t-tolong kau antar kerumah." Noona Eunseong mengangguk bingung tapi ia menuruti perkataan Yifan. Yifan bergegas meninggalkan butik dan pergi ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, ia menanyakan kamar Anson. Setelah mendapat jawaban dari suster, ia berlari ke ruang Aseptik.
Saat perjalanan menuju ruang aseptic, ia melihat Leo duduk di bangku seperti yang ia lihat sebelumnya, akhirnya ia putuskan untuk menghampiri Leo lebih dulu."Leo.." panggil Yifan.
Leo berbalik dan melihat Yifan. "Hei Yifan, apa kabar? Lama tak jumpa denganmu, ada urusan apa kau kemari?"
"Siapa Appa dari Anson dan Zhuyi?" Tanya Yifan to the point.
"Heh?"
"Jawab saja? siapa Appa mereka?"
"Untuk apa kau bertanya? Kalau kau sudah tahu jawabannya." Jawabnya santai.
"Tidak mungkin mereka putraku, Yixing lebih dulu bercinta denganmu, sudah pasti itu anakmu."
"Iya kalau saat itu aku tidak meminum obatku, pasti Yixing sudah hamil anakku. Sayangnya aku minum obat hingga sebanyak apapun aku mengeluarkan benihku pada Yixing, dia tidak akan hamil. kalau kau tidak percaya kenapa kau repot-repot menanyakan hal seperti ini?"
"Karena kalian berselingkuh dibelakangku, kalian bercinta dibelakangku. Bagaimana mungkin aku bisa percaya begitu saja dengan semuanya."
"Selingkuh? Apa saat Yixing bercinta denganku kalian sudah bersama?bukankah kalian berpacaran setelah liga basket dimulai, 1 bulan setelahnya. Apa itu bisa dikatakan selingkuh padahal kalian tidak memiliki hubungan apa-apa. Oh Come On Yifan, kau berlebihan menyebut itu perselingkuhan, lebih tepatnya hal itu kau sebut pengorbanan. Aku tidak pernah melihat ada orang yang rela melakukan apapun demi diriku, baru Yixing yang rela tidur denganku agar kau kembali masuk ke tim basket. Woobin, dia hanya bonus. Tujuan utamanya adalah dirimu. Ckckck.. Wu Yifan look at you, beginilah nasib orang yang tidak mau mendengar penjelasan orang lain dan hanya bisa menyimpulkan tanpa mencari bukti sebenarnya. Dumb ass.." nafas Yifan tersengal, ia terhuyung kebelakang tapi ia tidak jatuh. "Masih butuh bukti, tes DNA saja kalau kau ingin lebih jelas."
"Tidak mungkin-tidak mungkin."
"Kalau tidak percaya tidak apa-apa, Yixing juga tidak memintamu untuk percaya kalau Anson dan Zhuyi adalah anakmu."
"Kenapa dia menyembunyikannya? Kenapa dia tidak bilang padaku?"
"Kenapa? kau Tanya kenapa? bukankah kau langsung menuduhnya pelacur seperti yang Clara ceritakan padamu. Percuma jika dia cerita panjang lebar tentang kehamilannya padahal kau sendiri tidak akan percaya kalau itu adalah anakmu."
"K-kalian berciuman di lorong. Kalian bicara tentang Yixing yang mendesah untukmu demi Woobin?"
"Demi Woobin? Heh? Kalau kau tidak mendengar semuanya jangan asal menyimpulkan, kau lah alasan Yixing mau melakukan itu, melayaniku, tidur denganku, dia melakukan itu asal kau bisa masuk kembali ke tim basket setelah ayahku dihasut Clara mengenai penyakitmu itu. Kami berciuman karena aku akan pergi ke New York dan meminta kenangan sebelum aku pergi. yang harusnya kau sebut pelacur itu Clara, dia menjajakan tubuhnya untuk semua namja yang rela membayarnya. Kau ingin tahu dia dimana? Dia di klub malam daerah Ilsan – Rui de Paradise. Cari saja Clara disana."
"Andwe-andwee…" yifan menggeleng keras.
"AKu menyukai Yixing, andai saja aku mengenalnya lebih dulu darimu, aku akan jadi orang yang paling bahagia di dunia." Yifan memegang kepalanya, mendadak kepalanya terasa sakit mendapati kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Kalau kau tidak bersedia mendonorkan darahmu untuk Anson, aku rela menggantikanmu." Yifan menggeleng, ia berlari meninggalkan Leo menuju ruang aseptic. Leo tersenyum, 'akhirnya kau tahu kenyataan ini Yifan.'
Yifan berhenti di depan ruang aseptic, ia melihat dari luar jendela. Di dalam ruang aseptic ada 2 anak kecil yang sedang tidur dan saling berpelukan. Yifan menangis, ia mendekatkan dirinya di kaca dan menangis, "Anakku, maafkan Appa.. maaf." Sesal Yifan.
.
"Mau makan siang denganku?" Tanya Jongsuk pada Woobin saat mereka berjalan menuju ruang aseptic.
"Apa kau sedang tidak sibuk? Aku ingin mengajakmu tapi aku takut kau sibuk."
"Ini sudah jam istirahat Woobin." Jongsuk bergelayut mesra di lengan Woobin. Saat mereka berbelok tiba-tiba Woobin menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Jongsuk bingung. "Ada apa?" Woobin tak menjawab tapi pandangannya mengarah kedepan, Jongsuk mengikuti pandangan Woobin dan ia terkejut dengan namja yang berdiri di depan ruang aseptic sambil menangis.
"Yifan?" Tanya Jongsuk menegaskan
"Yifan.." Panggil Woobin. Yifan menoleh, ia melihat Woobin dan Jongsuk berdiri tak jauh darinya.
"M-Mereka anak-anakku kan?" Tanya Yifan tiba-tiba. DEG~ Bin-Suk terkejut dengan pertanyaan Yifan. "Mereka putra Yixing kan?"
"Y-Yifan, d-dari mana kau tahu?" Tanya Jongsuk pelan. BRUK! Yifan terjatuh sambil memegang dadanya. Ia menangis, "Kenapa kalian membohongiku? Kenapa kalian tidak memberitahuku sebenarnya?" Tanya Yifan dalam tangisnya.
.
.
"Kenapa kalian tidak mengatakan sebenarnya? Kenapa kalian tidak mengatakan padaku kalau Yixing hamil?" Tanya Yifan pada pasangan Bin-Suk. Saat ini mereka ada di kantin rumah sakit.
"yixing melarang kami. Dia hanya ingin kau tidak terganggu karena kehamilannya." Jawab Woobin.
"dan menjauhkanku dari putraku? Demi Tuhan Woobin, bagaimana bisa aku menyia-nyiakan putraku hanya demi impianku, sekarang Anson sakit, kalau aku tidak kembali, bagaimana nasibnya sekarang. Dia bisa saja meninggal dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya."
"Bagaimana dia menjelaskannya kalau kau sudah menjugde-nya sebagai pelacur dan tak mau mendengar penjelasan yang sebenarnya. Aku juga sempat salah paham dan mengusirnya dari rumah, tapi beberapa bulan kemudian aku tahu kebenarannya dan hubungan kami membaik, tapi denganmu itu lain. Dia tidak bisa menjelaskannya karena dia tahu kau akan lebih baik tanpa dirinya. Impianmu mungkin tidak akan terwujud jika kau menikah dengannya."
"Bullshit! Alasan yang tidak masuk akal."
"Kau marah? Siapa yang salah sebenarnya? Kau Yifan, kau yang memulainya. Kalau kau mau mendengarkan penjelasaan Yixing waktu itu mungkin saat ini kalian udah menjadi keluarga bahagia.
"Yixing dimana sekarang?"
"Dia dirumah. Mengambil baju untuk Anson." BRAK! Yifan langsung meninggalkan meja makan, ia ingin menemui Yixing dan meminta penjelasan darinya.
"Apa yang akan terjadi nanti?" Tanya Jongsuk khawatir.
"Kau tenang saja, mereka akan baik-baik saja." jawab Woobin menenangkan Jongsuk dan mereka pun melanjutkan makan siangnya.
.
.
.
1 jam berkendara kerumah Woobin, akhirnya Yifan sampai di rumah Woobin.
Tok-tok-tok! "Ya sebentar.." CKLEK! Yixing membuka pintu. DEG~ ia terkejut dengan orang yang datang mengunjunginya, "Y-Yifan? A-ada a-apa kau kemari?" Tanya Yixing tak menjawab, ia mendorong Yixing ke tembok dan menciumnya. Yixing yang terkejut mendapat ciuman mendadak dari Yifan berusaha menjauhkan Yifan dari dirinya.
"Yi-fhhh-fannn le-passhh.. uummm…" dengan sekuat tenanga ia berhasil mendorong Yifan, "Apa yang kau lakukan? Kau gila datang-datang langsung menciumku?" Tanya Yixing marah, ia juga mengusap bibirnya bekas ciuman Yifan.
"Kenapa kau membohongiku? Kenapa kau menyembunyikan anak kita dariku? Wae?" Tanya Yifan keras. Mata Yixing terbelalak, ia tak menduga Yifan mengetahui bahwa Anson dan Zhuyi adalah putranya. "D-darimana kau tahu?"
"Darimana? Yixing, kenapa kau memisahkan seorang Appa dengan anaknya? Wae?"
"Karena aku ingin kau bahagia. Aku ingin kau mewujudkan impianmu untuk bermain dengan tim professional. Jika saat itu mengatakan kebenarannya, kau mungkin akan meninggalkan impianmu dan aku akan melihatmu bersedih seperti saat kau tidak bisa bermain basket lagi di unversitas."
"Kau membuatku menjadi seorang ayah yang tidak berguna, menjadi ayah yang buruk."
"Tidak Yifan, aku tidak bermaksud begitu."
"Lalu sekarang bagaimana? Aku akan menikah dengan Tao besok setelah aku tahu bahwa aku telah menjadi seorang ayah. Aku tidak bisa melakukannya dan membiarkan kalian hidup kalian menderita."
"Andwe Yifan, andwe.. kau tetap bisa menjadi ayah mereka meskipun kau tidak bersamaku. Kita bisa menjadi sahabat dan merawat si kembar bersama, jika Tao tidak menyukai si kembar, biarlah mereka bersamaku,kau bisa mengunjunginya. Tapi dengan syarat, kau harus tetap bersama Tao, kau tidak boleh meninggalkannya seperti kau meninggalkanku."
Yifan menggeleng keras, airmatanya mengalir deras. "Yifan, kau tidak boleh meninggalkan Zitao, dia telah bersamamu selama 6 tahun ini, kau tidak boleh meninggalkannya hanya karena aku." Yifan mendekati Yixing dan menangkup kedua pipi Yixing.
"Selama ini aku berpikir bahwa aku telah bisa melupakanmu tapi seharipun aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Aku akui aku masih mencintaimu Xing."
"Aku juga Yifan, tapi aku tidak bisa menyakiti Tao yang sudah mendampingimu selama ini. Biarkan cinta kita seperti ini, meskipun kita tak bisa bersama tapi yakinlah bahwa selamanya aku akan terus mencintaimu." Ucap Yixing sambil menitihkan airmata.
Yifan merengkuh Yixing dalam pelukannya. "Maafkan aku Xing, maafkan aku. Andai saja aku mau mendengarkan semua penjelasannmu saat itu. Maafkan aku."
"Aku sudah memaafkanmu Fan. Aku sudah melakukannya sejak dulu." Yifan melepaskan pelukannya dan menatap Yixing penuh cinta dan penyesalan karena meninggalkan Yixing dan kedua anaknya.
"Kalau begitu, izinkan aku memilikimu malam ini saja sebelum aku dimiliki orang lain." Yixing tak menjawab, ia menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya kemudian ia mengangguk pelan.
"Tapi setelah itu kau harus berjanji untuk selalu bersama Tao dan mencintainya." Yifan juga mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Part NC – bagi yang tidak suka di Skip saja
Yifan mengangkat wajah Yixing. Perlahan wajahnya didekatkan pada wajah Yixing hingga kedua bibir mereka bertemu Yifan menciumnya dengan lembut, seakan tak ingin momen ini segera berakhir. Cukup lama bibir mereka berpagutan sampai akhirnya Yifan melepaskan ciumannya.
"Aku merindukanmu Xing.." bisik Yifan lirih. Yixing tak menjawab, ia menatap Yifan sayu. Tak lama kemudian Yifan kembali mencium Yixing. lidahnya ia masukkan ke dalam mulut Yixing dan menggumul Lidah Yixing. Yifan menarik kaus Yixing hingga Yixing bertelanjang dada, ia juga membuka jas dan kemejanya. Setelah itu Yifan mulai melumat nipple Yixing yang menonjol berwarna pink itu.
"Ouw.. ahh.." desis Yixing sambil menengadahkan kepalanya ke ata ketika merasa keenakan dengan isapan Yifan. Yifan melanjutkan aksinya dengan menurunkan restleting celana Yixing dan juga underwear Yixing hingga sekarang Yixing full naked.
Yifan merebahkan Yixing ke atas ranjang dan membiarkan kedua kaki Yixing tergantung ke lantai sedangkan pantat Yixing berada di pinggiran ranjang. Yifan melepas celananya hingga sekarang dia juga full naked. Yifan mulai meremas dada Yixing dan memelintir nipple Yixing dengan tangannya. Yixing mendesah.
Tak lama setelahnya Yifan berlutut, ia mendorong kaki Yixing hingga hole Yixing terekspose. Yixing merasakan hembusan nafas Yifan di belahan pantatnya.
"YIfaaannnnn…." Yixing memekik sambil menggelinjang saat Yifan menjilat hole Yixing dengan lidahnya yang basah. "Yifaaannn…" ujar Yixing gemetar, ia mencoba meraih tubuh Yifan tapi tangan Yifan memegangi lutut Yixing hingga Yixing tak bisa berbuat apa-apa.
"Ouwwhh.. Yifan.. aakkhh…please…please.. akkhhkkk…" rintih Yixing tak tahan. Yixing sudah gila oleh rangsangan Yifan, ia ingin Yifan segera memasukinya. Yifan bangkit dan meletakkan kedua kaki Yixing di bahunya. Yifan menggunakan cairan pre-cum Yixing yang keluar untuk pelumas dan melumuri juniornya.
Tanpa ampun dan tanpa proses perlahan-lahan, Yifan menghujamkan juniornya tiba-tiba pada hole Yixing. Yixing merasa perutnya mendadak penuh. "Aaaaaaakkhhhh…" erang Yixing berusaha membiasakan diri dengan junior Yifan.
Yifan mulai melakukan gerakan penetrasi dan menusuk hole Yixing berkali-kali hingga sofa itu bergerak-gerak seiring dengan tubuh Yixing yang bergerak juga.
"hhh.. …Yifaaannn…" desah Yixing menikmati junior Yifan yang terus-menerus menumbuk hole-nya.
Plok-plok-plok! Paha Yifan beradu dengan pantat Yixing dan saling memukul hingga menimbulkan bunyi. Yixing terengah-engah saat yifan mengangkat kaki Yixing tinggi-tinggi dan terus menghajar hole Yixing dengan Juniornya.
"Ahh.. .." Erang Yifan. Keringat mulai mengucur dari leher dan dadanya hingga membuatnya makin seksi. "So tight Xing…eungghhh." Rancau Yifan.
Yifan kemudian melepas kaki Yixing dan mulai mengocok junior Yixing. Yixing melenguh nikmat saat Yifan secara simultan dan gerakan yang enak mengocok penis Yixing seiring dengan penetrasi yang dia lakukan.
Yixing merintih saat Yifan meletakkan dua telapak tangannya di dada Yixing dan meremasnya berkali-kali. Jarinya sesekali mencubit nipple Yixing dan menekannya dengan ibu jari sementara juniornya menghajar hole Yixing. Yifan membungkuk, jari telunjuknya dia masukkan pada mulut Yixing dan kemudian Yixing mengulumnya seolah itu adalah junior Yifan. "Mmm.. .."
Yifan membungkuk lagi, dengan tangannya ia membuka paksa mulut Yixing dan wajahnya tepat diatas wajah berhasil membuka mulut Yixing, Yifan meneteskan air liurnya pada Yixing. menetes di lidah Yixing hingga ke kerongkongan Yixing. dengan gemas yifan menjilat bibir Yixing.
Entah kenapa perbuatan Yifan semakin membuat Yixing terangsang begitu juga dengan Yifan. Yifan menggenggam bahu Yixing dan tanpa ampun menghajar hole Yixing semakin cepat dan ganas. Yixing berteriak kesakitan sekaligus menikmati tonjokkan junior Yifan.
"Xing, hole mu sempitthh sekalii…aaaakkhh.." erang Yifan berkali-kali.
"yifan..yifannn..aku, aku mau keluar…" rintih Yixing. tak lama kemudian junior Yixing mengeluarkan cairan putih kental yang membasahi perut dan dadanya.
Yifan rupanya belum selesai, ia membalik badan Yixing hingga Yixing memunggunginya, tanpa menunggu lama, dia kembali menyodok hole Yixing dan menghajarnya kembali dengan cepat.
"Aaaaarrrrggghhh…" erang Yifan saat ia menghujamkan juniornya berkali-kali di hole Yixing hingga Yixing lemas menggapai-gapai sprei dan pinggiran ranjang untuk berpegangan.
Yifan mencondongkan tubuhnya dan menciumi punggung Yixing yang sudah basah oleh keringat.
"Akuhh..aku akan keluar Xing.." Yifan menggoyangkan pinggangnya, tangannya merangkul dada Yixing dan meremas-remasnya.
"J-jangann didalam, aku tidak mau hamil lagi Fan..."
"Ouww..! aku sudah mau keluar Xing.." desah Yifan. Yifan segera mencabut juniornya dan membalik tubuh Yixing. "Aaaaaahhhhhh!Aaaahh!" erang Yifan saat mencapai puncaknya. Ia mengeluarkan cairannya di tubuh Yixing. Tubuhnya bergetar selama beberapa saat. Tak lama kemudian Yifan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil terengah-engah.
Part NC end
Setelah mereka beristirahat sejenak, mereka saling tidur berhadapan. Yifan menggenggam tangan Yixing erat.
"AKu tidak percaya hubungan kita akan berakhir seperti ini? Seandainya aku tahu sejak dulu, mungkin kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Kau dan aku juga 2 anak kembar yang sangat manis, Anson dan Zhuyi." Ucap Yifan sambil berurai airmata.
Namun Yixing malah tersenyum, "Kau tetap menjadi ayah untuk mereka meskipun kita tidak bisa bersama, Anson dan Zhuyi anak yang cerdas, ia tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Kau tidak usah khawatir pada mereka."
"Aku merasa gagal menjadi Appa untuk mereka." Yixing menggeleng, ia mencium tangan Yifan untuk menenangkannya.
"Setelah kau mengetahui semua ini aku yakin kau akan belajar menjadi seorang ayah. Anson dan Zhuyi tidak keberatan menerima -mu saat ini. Mereka justru akan senang sekali bisa bertemu dengan Appa-nya tapi setelah kau dan Tao memiliki anak sendiri,kumohon jangan lupakan Anson dan Zhuyi begitu juga sebaliknya. Sebagai Appa, kau harus adil pada mereka." Yifan semakin terisak, ia benar-benar menyesal. Yixing memeluknya, menyalurkan ketenangan agar Yifan tak menangis lagi. "Tidak ada yang perlu kau sesali Yifan, semua sudah terjadi, yang harus kita hadapi adalah masa depan. Jelaskan pelan-pelan pada Tao. Dia harus tahu semua kebenaran ini." Yifan hanya mengangguk, ia masih menangis dalam pelukan Yixing. Ternyata Yixing jauh lebih tegar dari yang Yifan bayangkan, ia tak menyangka Yixing merelakan dirinya dengan Tao padahal ia sendiri masih menyimpan rasa untuknya dan bersedia menderita demi kebahagiaannya dan Tao.
.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di rumah Woobin, Yifan berpamitan pulang. "Maaf, mungkin besok aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu, Anson harus menjalani pemeriksaan terakhir sebelum operasi, aku tidak bisa meninggalkannya."
"Tidak apa-apa, aku akan datang setelah pernikahan."
"Tidak usah terburu-buru, asal saat operasi kau datang, itu sudah cukup untukku." Yifan mengambil ponselnya dan mencatatnya di agenda kemudian ia menunjukkannya pada Yixing. "AKu tidak akan terlambat, bahkan mungkin aku akan menginap di rumah sakit untuk menunggui Anson."
"Tidak perlu, pastikan kau tidak terlambat."
"Aku janji." Yifan memeluk Yixing dan sebelum pergi ia sempat mencium Yixing. ciuman lembut tanpa nafsu. "Aku pergi dulu." Yixing mengangguk dan Yifan pun meninggalkan kediaman Woobin.
.
Tok-Tok-Tok! Baru saja Yixing masuk tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Langkahnya terhenti dan kemudian berbalik, "Siapa lagi yang datang? apa Yifan lagi?" CKLEK! Yixing pun membuka pintu dan ia terkejut dengan seseorang yang datang mengunjunginya.
"T-Tao?"
"H-Hei Y-Yixing.. bisa kita bicara sebentar."
"Ya-ya-ya masuklah." Kemudian Tao masuk kedalam dan diikuti Yixing di belakangnya. "Duduklah, kau ingin minum apa?" Tanya Yixing.
"Tidak usah, aku tidak akan lama. aku ingin bicara tentang Yifan padamu."
"Yifan? Ada apa dengan Yifan?"
"Aku tahu kalau Yifan dan kau saling menyukai satu sama lain. Bahkan sampai sekarang mungkin kalian masih peduli satu sama lain apalagi aku dengar putra kalian sakit."
"K-kau tahu darimana kalau a-aku dan Y-Yifan.." Tanya Yixing terbata-bata.
"Kalau kalian sudah memiliki anak? Aku sudah tahu semua, bahkan semua yang sudah kau lakukan untuk Yifan selama ini, aku tahu. Aku minta maaf, karena aku berpura-pura tidak tahu. Aku tidak biasanya seperti itu tapi aku takut, aku takut kehilangan Yifan. Aku-aku sangat mencintainya.."jawab Tao sambil menangis.
Yixing merasa tidak enak dengan Tao, ia pun mencoba menjelaskan pada Tao apa yang terjadi dengan Yifan saat ini. "Aku dan Yifan hanya sahabat, kami tidak akan pernah bersatu dan aku juga tidak akan mungkin tega menghancurkan hubungan kalian. aku minta maaf karena membuatmu terluka atas perbuatan kami. Tapi sungguh saat ini kami tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kalau kau menyuruhku menjauhinya aku akan lakukan tapi kumohon jangan kau jauhkan dia dari putranya, bagaimanapun juga Yifan adalah Appa mereka."
"Aku tahu, aku tidak akan memisahkan Yifan dari putranya, aku tidak akan melakukan itu tapi meskipun aku tahu kenyataan-nya itu tidak akan merubah apapun, aku tetap tidak bisa melepaskan dia untukmu. Aku tidak bisa. Maafkan aku."
"Kau tidak bersalah Tao, kau tidak bersalah. Tidak ada yang salah. Semua ini adalah takdir. Kau akan bersama Yifan, dan aku berjanji tidak akan menganggu kalian. jika Yifan menyakitimu, katakan padaku. Aku akan mengingatkan padanya janji yang telah dia buat, jika sampai dia melanggarnya, akan kupastikan dia tidak akan pernah bertemu dengan putranya."
"Maafkan aku Xing, maafkan aku. Aku menyesal, aku akan menebusnya suatu hari nanti karena telah menyakitimu, maafkan aku." Tao memeluk Yixing dan meminta maaf. Yixing mengangguk, meskipun ia sakit tapi ia tidak menyesal melepas Yifan untuk orang sebaik Tao.
.
.
At Night
Yifan berdiri di atas balkon rumahnya, ia melamun dan sedang memikirkan sesuatu. Setelah kepulangannya dari rumah Yixing, ia mendadak jadi pendiam.
"Yifan.." panggil Jaejoong. Yifan menoleh sebentar, tersenyum dan kemudian kembali menerawang langit. " Jaejoong mendekati Yifan dan berdiri di dekat putra kesayangannya. "Ada apa sayang? Sejak tadi Umma lihat kau diam saja?"
"Umma pasti sudah tahu tentang Yixing dan putraku kan Umma?" Tanya Yifan tanpa menoleh ke Umma-nya.
"Nde, Umma sudah tahu."
"Kenapa Umma tidak memberitahuku sejak awal, kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini padaku?"
"Umma tidak memiliki hak untuk itu Yifan, semua itu adalah hak Yixing, apakah dia ingin menceritakan hal itu padamu atau tidak. Yixing hanya ingin yang terbaik bagimu sayang."
"Terbaik bagiku? Dengan menelantarkan kedua anakku dan Yixing sendiri, itu bukan hal yang baik Umma, kau tahu itu kan?"
"Iya Umma tahu, tapi mau bagaimana lagi, itu keputusan Yixing, Umma juga tahu hal ini belum lama. jangan kira Umma menelantarkan cucu Umma, Umma mencoba membahagiakan cucu Umma dengan cara Umma sendiri."
"Tapi lihat sekarang Umma, aku akan menikah dengan Tao besok disaat aku masih mencintai Yixing. dan tiba-tiba rasa cintaku pada Tao menguar begitu saja setelah mendengar semua yang terjadi pada Yixing. Umma, apa yang harus aku lakukan?"
"Yixing memintamu menjadi Appa bagi Anson dan Zhuyi, maka lakukanlah. Meskipun kalian tidak bersama setidaknya kalian adalah Appa dan Umma untuk Anson dan Zhuyi."
"Entah kenapa saat ini aku benar-benar tidak bisa menikah dengan Tao, Umma, aku tidak bisa tapi aku tidak ingin menyakiti Tao dengan keputusanku."
"Yifan, apapun keputusanmu, Umma akan mengerti dan mendukungmu. Apapun yang terjadi, tidak akan mengubah fakta bahwa kau adalah putra Umma yang paling Umma sayangi."
.
.
Yifan mengirim pesan pada Tao dan memintanya datang ke tempat dimana mereka akan melangsungkan pernikahan besok. Sambil menunggu kedatangan Tao, Yifan menunggu di altar.
Tak berapa lama kemudian Tao datang, dengan wajah riang Tao menghampiri Yifan dan langsung bergelayut manja di lengan.
"Sayang, kenapa kau menyuruhku kemari? Apa kita akan berlatih untuk pernikahan kita besok? Tanya Tao antusias.
"AKu ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Yifan singkat. Ekspresi Tao mendadak berubah, ia yakin bahwa sesuatu yang akan dikatakan Yifan bukanlah kabar yang baik tapi ia mengabaikannya dan menutupinya dengan candaan.
"Huang Zitao, apakah kau bersedia menerima Wu Yifan sebagai suamimu?" – "Yes I do.." Tao mengucapkan ikrar pernikahan dan menjawabnya sendiri.
"Aku tidak bisa.." jawab Yifan tiba-tiba.
"Aku tahu kau hanya bercanda, kau begitu karena kau belum latihan. Ayo kita latihan lagi sayang. Wu Yifan…"
"AKu tidak bercanda Tao. Aku serius.." ucapan Yifan memotong ikrar yang akan dibacakan Tao.
"Yifan Sayang, apa maksudmu? Hanya tinggal beberapa jam lagi kita akan melangsungkan pernikahan dan kau bilang tidak bisa? Yifan ini bukan april mop kan? Jadi kau jangan bercanda, ayo kita latihan."
"Tao, aku sudah memiliki anak dengan kekasihku yang dulu. Aku berpisah karena kesalahpahaman,Kasih sayangku tidak akan sepenuhnya untukmu, kasih sayangku akan terbagi untuk kedua putraku. apa kau masih mau menikah denganku?" Tao terdiam, ia melihat Yifan sejenak dan kemudian tersenyum. "Aku tahu, kau memiliki anak dengan Yixing. kalian berpisah karena salah paham dan sekarang anakmu sakit. Aku mengerti tapi aku akan tetap menikah denganmu. Aku rela berbagi kasih sayang dengan kedua anakmu, asal kau tetap menikah denganku."
"Tao, maafkan aku tapi aku-aku masih mencintai Yixing. selama ini aku tidak bisa melupakannya."
"Aku tahu, tapi aku tidak peduli. Aku akan menunggu cintamu kembali padaku, bukankah kau mencintaiku selama 6 tahun ini, kenapa sekarang kau tidak mencintaiku? kenapa kau bisa melupakan cinta kita dalam waktu sehari saja. aku yakin semua karena emosimu, besok pasti kembali."
"Tao.."
"Aku tidak mau mendengar lagi Yifan. Aku tidak mau mendengar alasanmu. Aku tidak peduli meskipun kau masih mencintai Yixing." Yifan berlutut di hadapan Tao, bukan untuk melamar Tao tapi untuk memohon maaf dan meminta Tao melepaskan-nya. "Maafkan aku Tao, kumohon lepaskan aku."
"AKu tidak mau dengar apapun Yifan, besok kita akan menikah, kita akan berjanji sehidup semati dan tidak ada yang memisahkan kita kecuali kematian. yang lalu biarkan berlalu. Yixing juga sudah memberi izin pada kita dan jika kau membatalkan pernikahan kita, dia akan membawa Anson dan Zhuyi pergi jauh dari hidupmu, kau akan kehilangan mereka bertiga, selamanya."
Tao melangkah pergi dengan tangis yang membasahi pipinya meninggalkan Yifan yang masih berlutut di altar. Yifan pun juga menangis. Ia tak menyangka bakal seperti ini jadinya, andai saja dulu ia mendengarkan Yixing atau ia tak tahu apa-apa tentang semua ini, mungkin ia tak akan mengalami dilemma sebesar ini.
.
.
At Wedding day
Seseorang sedang dirias di sebuah kamar Khusus pengantin. Para perias merias calon pengantin dengan sangat teliti dan membuatnya semakin menawan. Mereka terpesona dengan kecantikan si pengantin dan berdecak kagum melihat hasil karya mereka.
"Cantik ya, riasannya tidak banyak tapi dia sudah terlihat menawan." Puji salah satu perias. Si calon pengantin hanya tersenyum.
Di ruangan lain, Yifan menunggu dengan wajah stres. Jujur ia tak bisa menikah dengan Tao tapi ia juga tak mau berpisah dengan kedua putranya jika sampai ia membatalkan pernikahannya dengan Tao.
CKLEK! Pintu terbuka,"Yifan, ayo nak, kita ke altar. Mereka sudah menunggumu." Ucap Jaejoong. Yifan menghela nafas, dengan berat hati ia berjalan mengikuti Jaejoong menuju altar.
Para tamu sudah menunggu, Woobin, Leo juga hadir tapi tidak dengan Jongsuk, ia hari ini bertugas di rumah sakit. Si kecil Zhuyi juga ikut, ia duduk di tengah Woobin dan Leo.
Yifan pun berjalan memasuki ruangan, ia berjalan dengan langkah gontai dan akhirnya berdiri di altar dengan wajah stoic dan pandangan lurus ke depan.
Tak berapa lama kemudian calon pengantin Yifan datang. ia berjalan membawa sebuket bunga. Pakaian yang dia pakai serba berwarna putih, cantik itulah komentar para tamu. Woobin dan Leo tersenyum melihat kedatangannya.
Akhirnya mereka berdiri bersama di altar, tapi Yifan tak juga mengalihkan pandangannya hingga pengikrar membacakan ikrar pernikahan.
"Saudara Wu Yifan apakah anda menerima Saudara Zhang Yixing sebagai istri anda dalam susah dan sedih, sehat dan sakit?"
"Nde, saya.." tiba-tiba kata-kata Yifan terputus, ia baru saja mendengar nama Zhang Yixing tapi apa ia sedang bermimpi atau dia sedang behalusinasi. Otak Yifan sedang memproses hal itu, kemudian ia menoleh ke samping dan melihat Yixing berdiri di dekatnya. Dengan balutan jas warna putih dan membawa seikat bunga, Yixing berdiri di dekatnya, ia begitu terlihat cantik walapun riasannya hanya sederhana.
Yixing menoleh ke Yifan dan tersenyum. "Yifan.." sapanya.
"Y-Yixing? K-kau? Aku sedang bermimpikan?" Tanya Yifan mendadak 'hangover' PLAK! Tiba-tiba pipinya terasa panas, ia baru saja ditampar, ya meskipun tidak keras tapi cukup membuatnya sadar. "Aw.. kenapa kau menamparku?"
"Itu agar kau sadar."
"Sadar? Jadi aku tidak bermimpi kan? Ini kau kan? Sungguh?" Tanya Yifan menegaskan.
"Kalau kau tidak mau menikah denganku ya sudah tidak apa-apa. Tao kau saja yang menikah dengan naga bodoh ini." Yixing beralih ke Tao yang duduk di barisan terdepan. Yifan pun mengikuti arah pandangan Yixing dan melihat Tao duduk di bangku paling dengan dengan senyum mengembang di bibirnya. Tao berdiri dan menghampiri pasangan Fan-Xing.
"T-tao? K-kau?" Tanya Yifan tak percaya.
"Iya Yifan, ini aku. Kenapa kau terkejut? Bukankah kau ngotot tadi malam ingin menikah dengan Yixing, sekarang kau akan menikah dengan Yixing tapi kenapa kau malah bingung seperti itu?"
"Ta-ta-tapi-tapi?"
"Tidak ada tapi-tapian. kalian memang harus menikah. Aku tidak mungkin memisahkan pasangan kekasih yang saling mencintai." Tao berbalik, "Zhuyi sayang kemari.." panggil Tao. Zhuyi turun dari bangkunya dan berlari kearah Tao.
"Ahjussi." Tao menangkap ZHuyi dan menggendongnya.
"Aku tidak mungkin tega memisahkan kalian. Zhuyi berjanji akan menikahiku setelah dewasa nanti. Benar kan sayang?"
"Eum.." jawab Zhuyi sambil menangguk. Tangis Yifan pecah, bukan karena sedih tapi karena bahagia.
"Appa jangan menangis, Appa jelek kalau menangis." Yifan mendekati Tao dan ZHuyi kemudian memeluknya.
"Terima kasih Tao, terima kasih."
"Kau harus membahagiakan Yixing dan kedua putramu. Kau harus janji padaku." Yifan mengangguk, ia mencium Zhuyi dan Tao."Kka..lanjutkan pernikahan kalian. aku yakin Anson menunggu kedatangan kalian di rumah sakit. Ah lupa.." Tao mengambil sesuatu dari celananya dan menyerahkannya pada Yifan. "ini cincin pernikahan kalian. Zhuyi yang memilihnya."
Yifan menerimanya dengan senang hati, kemudian Tao dan Zhuyi kembali ke tempatnya.
"Bisa kita lanjutkan?"
"Nde, Sir."
"Saudara Wu Yifan apakah anda menerima Saudara Zhang Yixing sebagai istri anda dalam susah dan sedih, sehat dan sakit?"
"Nde, I do."
"Saudara Zhang Yixing apakah anda menerima Saudara Wu Yifan sebagai suami anda dalam susah dan sedih, sehat dan sakit?"
"Nde, I do."
"Mulai saat ini kalian resmi menjadi suami-istri."
Yifan saling berhadapan dengan Yixing dan memasangkan cincin di jari manis Yixing begitu juga dengan Yixing yang memasangkan cincin di jari manis Yifan. Setelah itu Yifan mencium Yixing di kening.
Para tamu bertepuk tangan, Jaejoong menitihkan airmata bahagia begitu juga dengan Tao. Entah kenapa ia merasa seperti baru saja melepaskan beban berat yang ada di pundaknya, perasaannya lega dan hatinya tenang. Zhuyi berlari kearah kedua orang tuanya dan Yifan menggendongnya. Woobin bertepuk tangan keras, akhirnya adik kesayangannya mendapat kebahagiaannya juga.
Leo pun tak kalah ia tak henti menyunggingkan senyum untuk pasangan Fan-Xing, hingga tak sengaja, ia bertatapan dengan Tao. Mereka terlihat saling melempar senyum.
Di rumah sakit, Jongsuk dan Anson melihat acara Fan-Xing dari streaming. Anson begitu bahagia melihat kedua orang tuanya bisa bersatu.
"Ahjumma, kapan mereka kemari, aku tidak sabar bertemu dengan Appa?"
"Sebentar lagi mereka akan kemari sayang. Kau akan bertemu dengan Appa-mu."
"Apa Appa yang mendonorkan darahnya untukku?" Jongsuk mengangguk, Anson memeluk Jongsuk dan berkali-kali mengucapkan rasa senangnya pada Jongsuk.
.
.
Setelah acara pernikahan mereka (read:Fan-Xing) selesai, kedua pasangan itu bergegas ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Zhuyi tak mau lepas dari pelukan Yifan, Yixing tersenyum melihat Zhuyi yang sangat manja menurutnya, padahal Zhuyi jarang menunjukkan sikap manjan padanya.
"Appa, besok kalau Anson sembuh, kita jalan-jalan ke Disneyland ya? Aku dan Anson ingin sekali kesana." Pinta Zhuyi dengan puppy eyes-nya.
"Tentu saja sayang? Keliling dunia pun Appa akan mengantar kalian."
"Jinjjayo? Hore aku bisa jalan-jalan dengan Appa."
"Eits tapi Zhuyi harus mendapat peringkat pertama dulu disekolah, baru kita bisa jalan-jalan." Sela Yixing.
"Yah Umma, kenapa ada syarat seperti itu, Umma kan tahu kalau yang biasanya mendapat peringkat satu itu Anson." Balas Zhuyi dengan mempoutkan bibirnya, ia melipat kedua tangan di depan dadanya pertanda ia sebal.
"Kalau begitu kau harus berusaha lebih keras sayang."
"Appa… Umma nakal."
"Appa hanya menurut apa yang dikatakan Umma-mu sayang."
"Huft kalian sama saja." Zhuyi semakin mempoutkan bibirnya dan itu membuat Yifan gemas, ia memeluk Zhuyi erat dan menciumnya berulang kali.
.
At Hospital
Yifan bersama Yixing dan Zhuyi berjalan bersama menuju ruang Aseptik. Sebelum masuk mereka harus memakai pakaian steril."Sepertinya Anson tertidur setelah ia minum obat, tapi kalau kalian ingin masuk tidak apa-apa." ucap Jongsuk yang baru aja keluar dari ruangan Anson.
"Kau saja Yifan, nanti kami akan menyusul. Aku akan beli makanan dulu dengan Zhuyi." Saran Yixing. Yifan mengangguk, kemudian ia masuk ke kamar Anson.
CKLEK! Pintu terbuka, Yifan berjalan pelan menghampiri Anson yang memunggunginya, sepertinya ia benar-benar tertidur karena pengaruh obat. Yifan duduk di hadapan Anson. Ia mengelus pelan kepala putranya ini. Tak terasa airmata Yifan menetes, ia benar-benar bahagia bisa bertemu dengan putra bungsunya ini.
Sepertinya Anson merasa terusik, ia membuka matanya pelan dan melihat Yifan ada di dekatnya."Appa…" Yifan tersenyum dan mengangguk. "Appa…" Anson bangun dari tidurnya. "Kau benar Appa Yifan? Appa ku?"
"Tentu saja sayang, ini Appa sayang." Anson mengulurkan tangannya dan meraba wajah Yifan.
"Appa begitu tampan." Yifan menangkap tangan Anson dan menciumnya.
"Kau juga begitu manis sayang. Appa tidak menyangka memiliki putra semanis dirimu dan Zhuyi."
"Appa akan disini terus menemani Anson? Appa tidak akan pergi lagi kan?" Tanya Anson polos.
"Tentu saja sayang, Appa tidak akan pergi kemana-mana. Appa akan menungguimu sampai kau sembuh."
"Setelah aku sembuh, Appa mau menemaniku dan Zhuyi hyung bermain basket?"
"Apapun, apapun yang Anson minta, Appa akan lakukan." Anson memeluk Yifan erat begitu juga dengan Yifan. "Appa menyayangimu sayang."
"Aku juga Appa, jangan pergi lagi." Pinta Anson. Yifan mengangguk, ia berjanji tidak akan meninggalkan mereka bertiga. (read:Yixing, Anson dan Zhuyi)
.
.
"Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Leo pada Tao. Saat ini mereka duduk bersama di taman dekat gedung pernikahan Yifan dan Yixing.
"Aku tidak tahu, awalnya aku tidak ingin melepaskan Yifan tapi setelah aku melihat mata Zhuyi, aku merasa aku harus melepaskan Yifan agar kembali padanya. Saat itu aku baru saja dari rumah Yixing untuk membicarakan Yifan, saat aku pulang aku bertemu dengan Zhuyi dan Woobin. Mereka tidak berkata apa-apa tapi dari sorot mata Zhuyi, ia seolah berkata padaku, 'Ahjumma, aku ingin Appa-ku.' Aku tidak tega melihat Zhuyi yang menatapku sedih. Sungguh, aku merasa ada beban ribuan ton yang menumpuk di hatiku."
"Kau tidak menyesal melakukan semua ini?"
"Menyesal? Aku tidak tahu, aku merasa seperti aku baru saja melepaskan beban berat yang menumpuk di hatiku. Lega sekali. Menyesal? Untuk apa aku menyesal, percuma jika kami menikah tapi hati Yifan bukan untukku, hal itu malah membuatku semakin sakit."
"Tak kusangka kau memiliki hati yang lapang untuk melepas Yifan."
"Yifan, aku merasa dia tidak mencintaiku, setiap dia melihatku aku merasa pandangan-nya tidak tertuju padaku tapi ke suatu tempat, sepertinya Yixing memang tidak terganti untuknya. Yixing memang namja yang luar biasa, ia sudah difitnah, ditinggalkan Yifan dalam keadaan hamil dan merawat anak kembarnya sendiri selama 6 tahun, kalau aku jadi dia mungkin aku sudah gila."
"lalu bagaimana kau bisa membawa Yixing ke acara pernikahan itu?"
"apalagi setelah dari rumah Yixing, Yifan memintaku datang ke tempat ini dan ia memohon padaku untuk melepaskannya. Jujur aku tidak ingin kehilangan Yifan tapi ia memohon padaku dengan berurai airmata, hal yang tidak pernah Yifan lakukan selama 6 tahun ini, itu semakin membuatku yakin bahwa keputusanku melepaskan Yifan adalah benar. Setelah aku keluar dari tempat ini aku menelpon Woobin dan memintanya membawa Yixing kemari. Dengan sedikit 'paksaan' akhirnya dia mau. Lagipula Yixing juga masih mencintai Yifan, jadi semua itu mudah."
"Yixing adalah orang yang sangat baik, aku menyukainya. Jika Yifan jadi menikahimu, aku yang akan menikahinya."
"Dalam mimpimu." Ledek Tao.
"Kita beruntung bisa mengenal Yifan dan Yixing. cinta sejati tahu dimana tempatnya pulang dan kita baru saja melihatnya."
"Ya, aku beruntung bisa mengenal mereka. Mereka luar biasa,apalagi Yixing. aku ingin seperti Yixing, yang tegar dan begitu lapang dada, ia mau melakukan apa saja demi orang yang dia cintai meskipun ia terluka."
"Tao, apa kau mau berteman denganku?"
"Tentu saja, 2 orang yang sedang patah hati mencoba berteman, tidak ada salahnya." Canda Tao. Mereka saling berbagi senyum dan mencoba menjalin hubungan baru sebagai teman, tidak ada salahnya bukan.
.
.
D-Day Operation
Di sebuah ruangan RS, Yifan terlihat gelisah dan sedikit cemas. Dia langsung bangun dari tidurnya begitu menyadari Dr. Shim masuk. Dr. Shim memberitahu Yifan kalau hasil tes Yifan hasilnya baik, dan Yifan bisa melakukan operasi dengan aman. Yifan tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Dr. Shim.
Sebelum melakukan operasi, Yifan menyempatkan diri pergi melihat Anson di ruang aseptic. Anson masih terlihat pulas tertidur. Yifan dari luar melihat putranya itu dengan perasaan haru. Anson terlihat sangat lucu bahkan saat Anson dalam keadaan tidur. Yifan tersenyum melihat Anson dari balik kaca ruang Aseptik ini.
Yifan pun masuk ruang operasi dan dia siap untuk diambil sumsum tulng belakangnya. Obat bius mulai bekerja membuat Yifan menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Ia ditemani Zhuyi, Woobin, Jaejoong dan Jongsuk.
"Kau tenang saja Xing, Yifan akan baik-baik saja."
"Nde, aku tahu Jongsuk-ah. Aku hanya sedikit cemas. Tapi aku baik-baik saja."
.
.
Yifan masih belum sadar dari pengaruh obat biusnya, dan saat dia terbangun dia melihat bahwa Tao lah yang menunggunya dari tadi. Yifan melihat jam, dan sadar kalau dia sudah lama tertidur. "Tao, kenapa kau ada disini?
"Aku akan pergi setelah mengantarmu pada Anson."
"Tao maafkan aku, terima kasih atas semua yang kau lakukan."
"AKu melakukan itu karena aku tahu kalau kau akan lebih bahagia bila bersama Yixing."
"Tao, maukah kau menemaniku ke ruang aseptic sekarang saatnya Anson menerima sumsum tulang"
"Tentu saja. Mari aku bantu." Yifan pun langsung bangun dan akan pergi melihat Anson, ia dibantu Tao untuk berjalan ke ruang aseptic. "Pergilah sendiri, aku tidak bisa ikut." Ucap Tao saat mereka sampai di depan ruang aseptic.
"Wae? Kau ada perlu?"
"Nde, aku harus menemui seseorang, dia membutuhkanku sekarang."
"Baiklah, hati-hati. Telepon aku kalau kau sudah selesai."
"Tentu saja." Tao tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Yifan. Yifan pun masuk ke ruang Aseptik.
Di ruang aseptic, Woobin, Zhuyi, Jaejoong dan Jongsuk menunggui Anson. "Yifan sayang, kau sudah sadar?" Jaejoong menghampiri Yifan dan membantunya berjalan mendekat. "Sebentar lagi Anson akan menerima sumsum tulangmu." Ujar Jaejoong. Yifan mengangguk.
Yifan melihatnya dari luar ruangan AnsonZhuyi mendekati Appa-nya dan berdiri di dekatnya. "Appa, Anson akan sembuh kan?"
"Tentu saja sayang, kita berdoa saja untuk Anson. Oke."
"Siap Appa." Anson sudah siap menerima sumsum tulang Yifan, Yixing memegang tangan Anson agar Anson tidak merasa takut. mengontrol semua, dan melihat bahwa sumsum tulang Yifan sudah mulai mengalir untuk diterima tubuh Anson. Anson pun tersenyum melihat Yifan menemaninya walau hanya diluar.
"Akhirnya keponakanku bisa melanjutkan hidupnya dengan sehat." Ucap Jongsuk.
"Nde, aku senang sekali akhirnya Anson memiliki kesempatan hidup lebih lama seperti ZHuyi. Jongsuk-ah, berapa lama proses ini akan berjalan?"
"Butuh waktu 4 minggu untuk membuat sumsum tulangmu bisa beradaptasi dengan tubuh Anson. Hingga saat itu,Anson harus tetap di ruang Aseptik."
"Apa setelah 4 minggu itu Anson sudah bisa keluar dari RS?"
"Anson harus dipindah ke bangsal umum dulu dalam waktu 3 minggu untuk memastikan kalau dia baik-baik saja."
"AKu harap semua berjalan lancar."
"Ya aku juga begitu Yifan."
.
.
2 bulan setelah operasi, Anson diperbolehkan pulang. Yifan telah menyiapkan rumah untuk mereka berempat.
Taeyong juga telah kembali dari Jeju dan sekarang mendapat posisi tetap di perusahaan, ia juga membawa pulang calon istirnya, nakamoto Yuta, namja yang ia temui saat ia di Jeju.
Leo, ia mendapat donor dan sekarang dalam proses penyembuhan. Hidupnya lebih berwarna karena ada Tao yang menemaninya. Tao, ya mereka mulai menjalin hubungan 1 bulan setelahnya. Walaupun menurut Tao, Leo itu adalah orang yang kaku tapi sebenarnya ia sangat baik dan hubungan mereka seperti Tom And Jerry, saling ganggu tapi sebenarnya mereka saling membutuhkan.
Yifan mengajak Bin-Suk, Leo-Tao, Tae-Yu dan Jaejoong untuk berlibur bersama. Mereka akan melakukan kemah serta pesta bujang untuk Taeyong.
Malam harinya, Yixing dan Jaejoong menyiapkan barberque, Yuta memasak takoyaki dan Jongsuk menyiapkan piringnya. Woobin, Yifan dan Taeyong menyiapkan soju, soda drink dan susu juga air mineral. Sedangkan anak-anak duduk manis sambil bermain game di ipad yang dibelikan Yifan untuk mereka.
Makan malam pun tiba, mereka duduk bersama pasangannya masing-masing. "Anson, Zhuyi minum susu kalian."
"Siap Umma."
"Yifan jangan minum banyak soju nanti kau mabuk."
"Siap nyonya Wu."
"Soju sayang." Woobin menawarkan pada Jongsuk tapi Jongsuk menolaknya. "Tidak, aku tidak minum lagi."
"Wae?" Tanya Woobin bingung, Jongsuk tak menjawab, ia mengelus perutnya. "MWO! Kau serius?" suara Woobin mengagetkan mereka.
"Ada apa Woobin-a?" Tanya Yixing.
"Jongsuk hamil, Jongsuk hamil." jawab Woobin senang.
"Benarkah?" Tanya Yixing tak percaya. "Ah selamat Jongsuk-ah.. akhirnya Anson dan Zhuyi akan memiliki saudara."
"Terima kasih Xing. Ini juga baru 3 minggu kok."
"Selamat sekali lagi Jongsuk-ah." Mereka mengucapkan selamat untuk Jongsuk dan tiba-tiba Taeyong juga menyela. "Yuta juga hyung, 6 minggu." Ucapnya bangga.
"MWO!" seru Yixing. "Lee Taeyong… jadi alasanmu menikahi Yuta karena Yuta hamil duluan? Sini, kemari kau. Dasar anak nakal." Yixing menghampiri Taeyong dan ingin menjewernya tapi Taeyong keburu lari.
"Kau tidak hamil kan Tao?" Tanya Leo tiba-tiba. Tao melirik Leo dengan tatapan sulit diartikan. "jangan bilang kau hamil? kita kan tidak pernah melakukannya."
"aku tidak hamil, tidak sampai 2 tahun kedepan. Aku sedang program tidak memiliki anak sampai 2 tahun kedepan."
"Baguslah."
"Tapi kalau ingin cepat-cepat memiliki anak, aku akan menghentikan programku."
"Itu juga tidak buruk."
"Sebenarnya maumu apa sih? Kau ingin aku punya anak atau tidak?" Tanya Tao marah.
"AKu menjalin hubungan denganmu bukan karena aku ingin memiliki anak, tapi karena aku mencintaimu." Leo mengecup singkat pipi Tao dan melanjutkan makannya. Pipi Tao merona, Yifan melihatnya dengan bahagia, akhirnya Tao bisa menemukan yang cocok untuknya.
"Appa, tambah takoyakinya." Pinta Anson.
"Ah ya sayang." Yifan mengambil takoyaki dan memberikannya pada Anson.
.
.
Setelah selesai makan makan, mereka kembali ke kamar masing-masing, begitu juga dengan Yifan dan Yixing. mereka menempati kamar sendiri. Anson dan Zhuyi tidur dengan Jaejoong.
"Akhirnya kita bisa bersama sayang."
"Nde, aku juga tak menyangka, akhirnya kita bersatu. Maafkan aku menelantarkanmu selama 6 tahun ini."
"Aku sudah melupakannya Yifan, tidak usah kau ungkit lagi."
"aku janji tidak akan meninggalkanmu."
"Iya, aku percaya itu."
"Yixing bagaimana kalau kita tambah adik untuk Anson dan Zhuyi?" Tanya Yifan malu-malu.
"Mwo? Aku tidak mau. Aku sudah senang dengan kedua anak kita."
"Tapi aku ingin tambah lagi."
"Andwee Yifan.. Andwehhh..Eummpphh.." Yifan membungkam mulut Yixing dengan ciumannya. Kita tinggalkan mereka.
.
Beralih ke Woobin dan Jongsuk. "Aww pelan-pelan Bin-ah.." Jongsuk memperingatkan Woobin untuk hati-hati saat Woobin ingin 'mengunjungi' anak mereka.
BLES! Akhirnya masuk semua. "Akkhh.. akhirnya.. bisa kita mulai sekarang sayang?"
"Terserah padamu tapi hati-hati." Woobin mengangguk, ia menggerakkan miliknya pelan-pelan. Jongsuk mengalungkan lengannya di leher Woobin dan menikmati cumbuan Woobin.
.
Taeyong mengelus perut Yuta, ia tak sabar menantikan kelahiran anaknya yang maih sekitar 8 bulan lagi.
"Aku akan belajar menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak kita."
"nde, aku juga akan belajar menjadi ibu yang baik untuknya."
"ILoveU Yuta."
"IloveU too Taeyong."
.
"Tao kau sudah tidur?" Tanya Leo yang tidak bisa memejamkan matanya.
"Apa?aku baru saja akan tidur kalau saja kau tidak memanggilku." Jawab Tao malas.
"Kau tahu, tadi aku melihat yeoja cantik sekali, Ia berdada besar dan seksi." Tao membelalakkan matanya, ia berbalik dan menatap Leo dengan tatapan What-the-hell.
"Oh jadi kau merasa aku tidak cantik, tidak seksi? Begitu?" Tanya Tao marah.
"Tidak juga, kau cantik, seksi sayang dadamu tidak sebesar yeoja itu."
BUKK! Tao melempar bantal pada Leo dan pergi meninggalkan Leo. "Tao, Tao. Kau mau kemana?" namun Tao tak menggubris. "Kenapa sih anak itu?" tak berapa lama Tao keluar dengan menggunakan lingerie. Ia pura-pura tak melihat Leo dan mematut dirinya di depan cermin dengan pose sensual. Leo yang semula berbaring terbangun dan terkejut melihat Tao.
"What the.." namun Tao tak mendengar, ia melanjutkan kegiatannya. Leo buru-buru menghampiri Tao dan mengurungnya dengan kedua lengannya.
"Maaf, anda siapa? Aku tidak mengenal anda." Ucap Tao dengan nada sensual.
"Jangan salahkan aku kalau besok kau tidak bisa berjalan, kau membangkitkan singa yang sedang tidur."
"Oww begitukah, bukankah anda penyuka yeoja berdada besar, sedangkan aku tidak memiliki dada sama sekali. Maaf, anda salah orang."
"Aku menginginkanmu." Leo menggendong Tao ala karung beras dan melemparkannya ke bed. Ia segera melucuti pakaiannya. "Rasakan kekuatan Singa yang sedang mengamuk Hunag Zitao."
"Aku tidak takut tuan Singa." Leo melumat bibir Tao ganas. Sepertinya malam itu akan menjadi malam panjang untuk Tao.
.
"Akh..akh..akh.." Yixing menggenggam spreinya erat, ia menahan rasa sakit juga nikmat saat di sodok oleh junior Yifan. Tak berapa lama kemudian, Yifan mengeluarkan cairannya di dalam hole Yixing, cukup banyak hingga meluber ke luar.
"Yifan sudah aku capek.."
"No baby, masih ada ronde kedua.."
"Andweeee.." Yifan melanjutkannya lagi. Yixing hanya bisa pasrah menerima serangan Yifan.
.
"Halmeoni, apa besok aku akan punya adik lagi?" Tanya Anson polos. Jaejoong terkekeh, "Mungkin saja memangnya kenapa sayang? Kau tidak suka?"
"Ani, aku suka, aku ingin memiliki adik seperti teman-temanku."
"Kka, tidurlah, halmeoni akan menyanyikan lagu untuk kalian."
barami momoon geushigan jocha naegen nomoo mojirangol hanbonui miso, majimak insa sarang hamnida... geudae... shigane jichyodo, sarange apado geu shigan jocha, choo okigo majimak insal haneyo sarang hamnida, sarang hamnida Fly Away Fly Away Love Fly Away Fly Away Love Fly Away Fly Away Love nae saenge... dan hanbeonui saranga... annyong...
Akhirnya mereka memiliki kisah tersendiri. Cinta sejati Yifan dan Yixing yang terhubung karena baket, cinta yang tak terduga Leo dan Tao, seperti Tom and Jerry yang saling menganggu tapi sebenarnya saling membutuhkan. Cinta tulus Jongsuk berbuah manis pada Woobin. Cinta beda Negara Taeyong dan Yuta. serta Cinta abadi Jaejoong pada Yunho yang tak akan terganti oleh siapapun. Mereka dengan kisahnya masing-masing.
.
Yifan kembali mendribble bolanya, melewati lawan dan melakukan buzz beater dari tengah lapangan dan BANG! Bola masuk. Yifan mencetak angka dan kembali Shinwa meraih juara. Yifan mengacungkan jempolnya pada Yixing dan kedua putranya.
.
Back to 17 years old
"Yifan… let's play basketball together.." ajak Yixing sambil memegang bolanya.
"1-1? Siapa yang mendapat poin 5 lebih dulu, dia yang menang."
"Agree.. dan apa hadiahnya?"
"Kau akan melihatnya nanti."
"Oke.." Yixing mendrible bolanya, berlari zigzag dan melewati Yifan, namun Yifan memegang pinggang Yixing dan membalik tubuh Yixing hingga mereka berhadapan.
"Aku sudah mendapat hadiahku." Ucap Yifan yang kemudian mencium Yixing intens.
'Dalam basket, aku menemukan persahabatan dan cinta. Cinta sejatiku, Zhang Yixing.'
END
I'M BACK, Maaf hiatus agak lama. mood lagi ilang, blank ide, sebenarnya aku juga nggak pede update cerita ini tapi aku masih ada hutang sama kalian jadi aku usahakan update. terima kasih sudah menunggu.
Maaf jika alur nya kecepatan.. typo bertebaran, no edit.
Mohon Review nya juseyo~
