.

.

.

Equations.

warn: chapternya pendek mungkin akan saya tambahkan kedepannya, ooc, typo, dsb.

im not claiming anything on this fiction.

[Akashi x Readers]

note: yang bercetak bolt berarti selingan dari perkataan ya! kalau yang selain bolt berarti keadaan di sekitarnya ;)

.

.

.


Memasuki keengganan yang sarat—kau berpijak. Menapakkan kaki yang terasa bersisik menjijikan pada lantai keramik yang dingin menusuk. Keharuman antiseptik dan obat-obatan melakukan peperangan di dalam hidungmu—berusaha menolaknya. Kedua netra milikmu berpendar bagai asterik yang memainkan lampu tidur yang sedang meremang.

Pintu berkayu mahoni berdiri dengan kokoh di hadapanmu. Tangan mungilmu mencoba menggapai tangan sang pintu—namun tak bisa. Melompat dan melompat. Sulit sekali menggapainya. Keajaiban pun terjadi.

Sepasang malaikat berbaluti pakaian berwarna hitam dan putih tersenyum padamu. Tangan kanan yang sehalus awan itu menggapai tangan sang pintu dengan mudah. Menyalaminya—lalu sang pintu menghindar dari hadapanmu.

"terima kasih… umm… ibu dan ayahnya… Akashi…?"

Mereka berdua pun mengangguk.

Kau dengan kaki mungilmu berlari masuk—menuju ke arah seseorang yang sedari tadi telah menunggumu dengan nyaman disana. Tak menghiraukan peringatan kedua malaikat yang membantumu—kau berseru. Menyerukan harapan yang telah menebarkan karpet merahnya khusus untukmu.

"Ayah, Ayah, aku terpilih menjadi salah satu dari empat orang yang akan menyanyi di acara kelulusan nanti!"

Tangan mungilmu menggapai tangan yang telah menjadi satu dengan infus yang tergantung lemah. Mata pasien itu menatapmu dengan dalam dan sayu. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan samar yang mengembangkan hatimu. Pahatan rasa senang yang baru saja kau alirkan kepadanya akhirnya bersuara—terdengar menyenangkan namun cukup pilu dan menyedihkan.

"ayah akan datang saat itu—"

Kau bersemarak. Tersenyum lalu memeluk pinggul ayahmu yang tengah terbaring di rumah sakit semenjak beberapa hari yang lalu. Kau mengusap-usap sisi wajahmu yang berlesung di dadanya. Tangan Sang Ayah yang kasar namun terasa sangat lembut—mengusap pelan ubunmu yang hanya berukuran satu telapak tangannya saja. Matanya menatap kearah jendela yang tidak mempersilahkan angin untuk masuk dengan membawa mahkota bunga sakura yang terlepas dari induknya sebagai bingkisan.

"jika ayah memang diijinkan oleh pihak bersangkutan untuk mendengarkan nyanyian indahmu itu, nak."

.

Sebuah kata jika dirangkai akan menjadi sebuah kalimat.

Sebuah kalimat jika diutarakan akan menjadi sebuah perkataan.

Baik perkataan yang benar maupun perkataan yang salah—seluruhnya harus dipertanggung jawabkan.

Dan tanggung jawab itu sering kali terbaikan hingga menjadi sebuah bualan.

Dia membual.

Hingga membuatmu menatap bangku kosong saat berada di atas sasana yang menyesakkan.

Nada yang terdengar begitu selaras bagi mereka—dinyanyikan dengan penuh kerelaan yang berat.

Bualan yang indah, bukan?

.

.

.

Jalan setapak yang kau lalui terlihat kusam. Angin yang berhembus kencang mulai memudar dan lalu menghilang. Bunga berwarna light pink itu mempersilahkan cahaya matahari yang meremang melewati celahnya. Sungai berjiwa damai di sebelahnya memantulkan cahaya oranye langit yang mulai mengantuk.

Dirimu yang menguap tanpa menutup mulut berjalan santai di sana. Matamu yang berair karena terpejam dengan eratnya mulai kembali menatap cakrawala yang menggantung di atas kepalamu. Terlihat disana—matahari telah menarik kembali selimut hitamnya dan awan pun mulai hilang tersapu oleh pawana.

"Musim semi, ya?"

Kau mengutuk dirimu sendiri saat mengatakannya. Suara parau hatimu yang mengumpat—menarik burik-burik ingatanmu kembali. Ingatan itu berupa spiral berbentuk selaput tipis yang terbuat dari seluloid—dijadikan satu menjadi sebuah tontonan.

Musim kutukan yang sedang menyelimuti kota terlihat menawan bagi semua orang—tidak bagi dirimu. Para bedebah-bedebah itu berbohong kepadamu dengan mulut mereka yang dipenuhi dengan tinja. Sangatlah busuk dan sangat menjijikan. Memutar kembali perilaku menyedihkan mereka di dalam syaraf ingatanmu benar-benar membuatmu ingin mengoyak daging dan tulang mereka yang telah binasa dilahap dusta.

'Memuakkan.'

Hembusan angin itu berdesis.

'Semuanya berdusta.'

Mereka mencoba meyakinkanmu bahwa yang kau katakan itu salah adanya.

'Aku tidak ingin melewati musim semi lagi.'

Mereka terus berbisik bahwa musim semi adalah musim yang cukup menarik.

Krak—bunyi patahnya ranting di belakangmu terdengar nyaring namun samar pada liang renik gendang telingamu yang sedang kacau karena angin-angin riuh namun damai itu.

'Musim yang penuh dengan kutukan ini penuh dengan kesialan yang mengekang.'

Dan tak lupa mereka juga membisikan padamu hal penting.

Kepalamu menerima sinyal dari telingamu lalu menyalurkannya melewati resonansi yang diarahkan kepada otot leher milikmu.

'aku terus merasakan kesialan pada musim ini.'

Hal penting yang terus membuatmu merasa beruntung.

Kau mengaraukan lehermu ke belakang dengan tubuhmu yang berfungsi sebagai ekor—memburu pergerakan kepalamu. Netramu menangkap seseorang disana—di bawah teduhnya pohon sakura yang menjadikannya sebagai sebuah siluet.

'mereka tertawa padaku karena aku kehilangan seseorang pada saat itu."

Karena diri kecilmu pun menemukan seseorang yang membuatmu tertawa saat itu juga.

Surai merah milik seseorang di hadapanmu tertiup dengan pawana yang diselimuti keberuntungan hingga memperjelas tiap bulir helainya. Mata saklatit milik seseorang di hadapanmu menatap kerikil pada jalan setapak yang diriuhkan oleh canda dan tawa.

"Hei."

Suara berat itu membuatmu mengabaikan bisikan pawana pada telingamu. Kerlingan matanya pun tertancap pada kerlingan matamu yang menyedihkan namun penuh dengan tawa sesaat.

Para partikel udara yang berdesis—mereka tidak salah, bukan?

.

.

.

Loading…


- saya sangat senang ada yang mau baca :3 terima kasih semuaa :"^

- makasih juga yang udah favs, follows, dan riviewsnya :") cinta kaliannn /

- kupersembahkan pada diriku dan readers karena telah bermalas-malasan hingga cuma bisa ngerjain segini doang :"""D

see you! ;)