Desiran pawana yang saling bergesekan dengan tirai berona smoky quartz—berdermakasi amethyst—membisikan desisan samar di telinganya yang terlungkup. Tangannya mulai menggeliat hingga menggeser partitur-partitur biola di bawahnya. Surai-surai miliknya pun ikut bergerak—baik karena pawana yang meniup surainya ataupun gesekan dari tangannya sendiri.

Kesadaran miliknya yang berbentuk burik pun kembali—menginfenterasikan kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Netranya mulai kembali bekerja dengan melilit lansekap yang berada di sekitar dirinya. Oh, rongga yang berbentuk persegi ini—ruangan membacanya. Dan dia tertidur disini.

Keharuman ruang membaca miliknya yang begitu distingtif itu membuatnya bisa membedakan ruangan ini dengan puluhan ruangan lain di dalam rumah megah miliknya. Aroma plano—daluang yang begitu naimnya—menjadikan ruang ini begitu khusus bagi indra penciumannya. Aroma yang terus membangkitkan kenangan miliknya tentang seseorang—

Maafkan aku.

Anakku tersayang.

Maafkan ibumu ini—ibu mohon.

Meninggalkanmu dengan senyuman—yang seharusnya adalah sebuah duka.

Menuntutmu untuk mengenakan topeng berbalut argentum itu di baya yang masih yuvenil.

Ibu sebenarnya menyadari—sangat tak akseptabel jika kau mengenakannya.

Namun ini demi kebaikanmu—

Anakku…

Ibu mohon—jagalah.

Nama yang memusakai kehidupanmu.

Bersama ayahmu—jagalah.

Dan temukanlah bulevar dirimu di atas parit-parit kegelisahan dan kekacauan.

Dengan sebuah nama yang mengikat kita semua—

Akashi.

.

.


.

Equations

[Akashi x Readers]

Note: typo + ooc + alur kurang jelas /tawalaknat/

im not claiming anything in this fiction!

happy reading!

.


Chapter 2


pulupuk bunga berwarna vintage rose saling bergesekan—membentuk sebuah resonansi yang menimbulkan bunyi nyaring namun samar. Bunyinya mulai meredup seiring bunyi langkah kaki yang sedang mendekat. Dan bunyi langkah itu pun juga ikut surut karena vibrasi pita suaranya yang nyata.

"Hei." Sapanya dengan vocal yang terdengar tak acuh.

"Akashi? Kenapa kau bisa berada disini?" kau berjalan mendekatinya—menapakkan kaki pada pelupuk vintage rose yang mencium tanah dan batang kayu yang bergemeretak patah.

"Jadi, area umum ini milikmu?"

"Bukan begitu maksudku, bodoh, kau tahu maksudku, kan? Biasanya kau memilih untuk pulang secepatnya dan kali ini kau pulang dengan mengulur waktumu di luar sini,"

"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar dan tak kusangka aku bertemu denganmu disini." ujarnya—begitu apatis.

"Hooh, begitu…"

Ia berjalan mendekatkan badannya kepadamu. Pandangannya masih tertuju secara literal pada lansekap yang berada di pungkur bahumu. Tangannya terangkat dan terus mendekat ke arah lehermu lalu—Zrak—ditarik bagian belakang kerah seragammu dengan begitu kasar olehnya.

"Ayo." Titahnya tanpa sedikitpun berpaling padamu.

"Akhh… uhuk... kemana?! Uhuk, lepaskan!" kau mengeratkan tanganmu pada seragam yang membaluti lengan masif miliknya.

Dilepaskanlah rekatan jari-jemarinya dari kerahmu yang mulai menampakkan kerutan dan lalu menoleh, "kita pergi dengan sedikit bersenang-senang, bagimana?"

Secarik senyuman terajah di wajahnya dengan begitu tiba-tiba namun terasa begitu panjang jangka waktunya.

"hum…" kau meluruskan lagi tulang belakangmu yang mencekung sebelumnya, "boleh saja!" kau ayunkan tanganmu ke atas lalu mengacungkan jempol di depan wajahnya.

Kalian berdua berjalan beriringan lalu bersebelahan. Menaiki perbukitan jalan yang menjulang sembari menatap binar-binar cahaya oranye yang mulai menggelap. Meliuk-liuk antara gang-gang padat namun cukup bersih. Melewati hiruk-pikuk orang tak berinisial yang memadati kawasan yang kalian hendak datangi. Dan tanpa disengaja kau bertemu dengan mereka—teman-teman masa kecilmu dulu—temanmu di sekolah dasar.

"Hei, kamu!" seorang gadis berikat ponytail dengan banyak sekali jepit yang menghiasi rambutnya.

"Hallo, sudah lama sekali nggak bertemu, ya," bersama dengan gadis berponytail dia berjalan mendekat ke arahmu dan Akashi. Gadis itu berpenampilan cukup mecolok dengan pakaian yang banyak digunakan mereka—para gadis yang suka pamer kekayaan.

"A-ah… haloo…" sapamu ragu.

Kau sedikit tak percaya mereka mengenalmu—apalagi menyapa. Rasanya entah, kau seperti tak punya tempat untuk bersanding dengan temanmu di sekolah dasar. Dirimu yang bertambah payah ini penyebabnya—kau ingat sekali dengan masa kecilmu yang cukup gemerlap dengan kemenangan.

Tapi sekarang kau sama sekali tak mengaritkan sedikit pun kesan baik pada masa kehidupan smp mu saat ini.

Bahkan mungkin seterusnya kau tak bisa.

"Loh? Ada Akashi? Hai, Akashi!" sapa teman berponytail itu dengan begitu ramahnya. Kau berkeling ke arahnya lalu merauh bahwa dia hanya mengangguk dan sedikit tersenyum lalu berpaling ke arah lain.

"Ngomong-ngomong, bagaimana?" Tanya perempuan berpenampilan glamor itu kepadamu.

Dengan merasakan keganjalan pertanyaan itu—kau pun menerka-nerka selama beberapa saat, "A-apa maksudmu?"

"Jangan berpura-pura bodoh, deh, kau pasti banyak memenangkan perlombaan, kan?"

Ah.

Tepat.

Itulah yang kau takutkan.

"Ah, lomba… um… aku sedikit malas mengatakannya," kau mengerlingkan pandangan matamu pada lansekap yang begitu padat dan menyesakkan.

"Jangan-jangan kau—"

Tamatlah.

Semuanya berakhir.

Berakhir dengan begitu buruknya.

Apakah kau harus memohon pada malaikat yang menjagamu?

"Dia memenangkan sebuah perlombaan bersamaku."

Suara yang memecah kutukanmu—menebas perkataan mereka. Resonansinya terdengar sama. Tangga nada dan interval nada antar tiap kalimat juga terdengar sama. Begitu akurat jika kau menerka siapa yang mengatakannya.

"Hoh, benarkah?" perempuan itu masih menatapku keji. Seakan melihatku dengan mata biadab miliknya hingga mengatakan aku adalah bedebah yang menghantuinya selama ini.

"Ya. Dan kami tak ada waktu lagi untuk berada disini cukup lama. Selamat bertemu lagi di reuni selanjutnya." Matanya menatap apatis dan cerucup pada perempuan berpawakan tinggi namun anggun itu.

Ia merengkuh ketakutanmu dalam diam dengan maraih pergelangan tanganmu yang bergidik. Kau yang masih membentuk tatapan giris yang menerawang pun hanya dapat menatap segala hal di sekitarmu dalam gelap gelita.

Berada jauh di dalam ceruk perkotaan yang lembab—nafasmu tersenggal karena pergerakkan Akashi yang begitu cepat. Keringat beku mengalir secara kerontang pada seluruh bagian tubuhmu. Setiap sisi dan celah-celah pada burat-burat otot yang kau coba rasakan terasa bergejolak. Deratan-deratan pergerakan tangan yang tak pernah ingin kau rasakan kembali dengan begitu menyedihkan.

Teringat lagi, ya?

Seseorang yang telah membuatmu menjadi seperti itu.

Ya.

Ayahmu.

Dan tak ada yang dapat menggantikannya, bukan?

"jangan mengingatnya lagi." Akashi berjongkok di sebelahmu. Kau benar-benar tak kuasa menahan beban badanmu sendiri yang terasa berlipat ganda.

"Apa maksudmu? Aku hanya lelah, Akashi. " kau tertawa renyah sembari menatapnya yang menatapmu begitu intens.

"Aku ada disini, kau tahu?" ia melungkupi pandanganmu dengan telapak tangannya.

"Maaf? Kau bukan pacarku, kau tahu? Jangan bersikap seakan kau peduli padaku," kau berusaha melepaskan telapak tangannya pada matamu yang tak disangka mulai berair.

Ia pun melepaskan telapak tangannya dan berdiri tepat di hadapanmu. Memukul kepalamu secara perlahan lalu menarik beberapa helai rambutmu yang tak beraturan ke depan. Saat kepalamu ikut merasakan tarikan—kau pun menepis tangan itu.

"Tapi aku sudah berjanji, bukan?" tanyanya.

"Hah? Janji apa? jangan-jangan kau pernah berjanji menjadi pacarku, huh? HA HA HA!" kau tertawa dalam tatapan sinis yang kau kerlingkan padanya. Hey, kau bersumpah dia tak akan pernah berjanji kepada siapa pun dan dimana pun bahkan kapan pun.

Ia berjalan menjauh. Mendekati bibir lorong gang yang terlihat menebarkan pilar-pilar bercahaya secara vertikal ke arahmu. Siluet hitam pun sedikit banyaknya menghiasi beberapa bagian tubuh berpamor milik Akashi.

Kau mecoba menguatkan kembali otot kakimu yang sempat tak berkorelasi dengan kemauan otakmu untuk berdiri. Kakimu pun mulai melangkah ke depan. Satu. Dua. Tiga. Dan kau temukan lansekap artistik karya tuhan Yang Maha Esa. Terlihat begitu fana dan elok bagi dirimu.

Di atas setiap lekukan kota—ia berpendar terang. Di atas setiap ceruk berpenghuni tentatif—ia menyerukan keagungannya. Di bawah tiap-tiap kegelapan mencekam bagi jiwa para menghuni bumi yang menggigil ketakutan—ia tertawa. Dan diiringi oleh beribu iringan berlian malam dan irasnya yang berwarna suci itu—dia tenggelam.

Tertidur sementara karena kerja kerasnya sepanjang hari.

Matahari itu pun surut dalam kegelapan dan berbagai macam iluminasi dan iradiasi yang berasal dari manusia rawatannya.

.

.

"Aku pernah berjanji untuk menjagamu, bukan?" Telunjuknya menunjuk hidungnya yang lantip sembari tersenyum.

.

Senyummu merekah.

.

Kau mengingat hal itu.

.

Kau mengingat janji itu.

.

Tanpa sedikitpun mengingat kembali tentang pedihnya hari dimana ia berjanji padamu.

.

.

"Oh! Yes! I remember it! But don't you expect that I will consider you as a boyfriend, Akashi!" kau berlari—melompat dan lalu melambai ke arahnya.

.

.

.

"But if I think you're more than a best friend, but less than a girlfriend for me, is that wrong?"

.

.

Loading…


Author's note:

- thanks yang udah follow sama favss #sujuudd# kalian mau banget ya ngebacanya ;^

- sorry jika ada ke typoan yang menderaaaa aaaaa

- oh iya, ini saya mau tanya sama readers... mending aku jadiin x OC apa masih tetep aja x READERS? mohon riviewnyaaaa~~

- TRUS SEKALIAN SARANIN NAMA OC NYA~~

- note tambahan: JANGAN LUPA BACA SAMBIL BUKA KAMUS :v HAQHHAQHHAQH

- Mind to riview about the story?