Title: MY DRAG QUEEN SUNGYEOL
Category: Plays/Musicals ยป Screenplays
Author:
Language: Indonesian, Rating: Rated: M
Genre: Hurt/Angst/Romance
Published: 04-27-15
Chapters: Chapter 2, Words: 2953

Chapter : Chapter 2

Note : Typo, di chapter kemaren ane buat one shot padahal chapter -_- lupa ngapus :v di chapter ini yang usia dibawah 17 tahun dilarang baca :v

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

MY DRAG QUEEN SUNGYEOL

Genre : Komedi/Romance

Boys x Boys

Cast : Kim Myung Soo,Lee Sungyeol Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

.

"kemudian apa? "

Sungyeol menelan ludahnya mendengar pertanyaan polos yang ditujukan Myung Soo padanya. Ia sendiri kesulitan menemukan kata2 saat Myung Soo menindihnya seperti sekarang. Kalau hanya memeluknya saja mungkin bukan hal yang aneh, kali ini pria itu sedang berbaring diatasnya dan perlu diingat, mereka tanpa selembar benang pun!

"kenapa kau berkeringat banyak sekali? Kau gugup? "

"Pabbo! Siapa yang tak gugup dalam posisi seperti ini? " ujar Sungyeol sambil memukul kepala pria diatasnya. Myung Soo mengangguk2 bodoh.

"lalu. .aku harus melakukan apa selanjutnya? "

Sungyeol menepuk dahinya sekarang. Pria ini sudah berumur 18 tahun, tapi mengapa bodoh sekali, pikirnya.

"hei. .kau sudah pernah menonton film porno? Lakukan seperti itu. . "

"belum pernah. . " jawab Myung Soo pelan membuat Sungyeol ingin melempar pria itu jauh2.

"kau sudah hidup 18 tahun dan belum pernah menontonnya? Pria bodoh macam apa kau ini? " omel Sungyeol sadis.

"apa kau sudah pernah? " tanya Myung Soo balik sambil memanyunkan bibirnya jauh2.

Plak! Sebuah tamparan seolah memukul pipi Sungyeol dengan kuat. Harus ia akui. Ia juga sama sekali belum pernah! Poor Sungyeol. meskipun begitu ia berusaha menjaga rasa malunya.

"eh em. .ten. .tentu saja. .aku sudah menontonnya ribuan kali. . " ujarnya gugup.

"ckck. .dasar ahjussi mesum. . " balas Myung Soo disambut dengan beliakan mata Sungyeol yang sangar.

"arasseo. .sekarang katakan aku harus apa. .ini sudah mengeras sejak tadi. . " lanjut Myung Soo polos sambil menggerakkan tubuh bagian bawahnya hingga menimbulkan gesekan kecil disana membuat desahan kecil tercipta dari bibir Sungyeol. hingga pria tinggi itu menutup mulutnya sendiri dengan takut.

"se. .selanjuttnyy-aa. . " ucapnya bingung. Myung Soo menunggu dengan ekspresi bodoh.

Sungyeol memutar kepalanya. Ia sama sekali tak memiliki ide akan hal selanjutnya. Bodoh.

"cium aku. . " bisiknya ketika melihat bibir tipis Myung Soo yang terlihat menawan matanya.

Myung Soo seolah mengerti. Ia mendekatkan bibirnya kearah bibir pria dibawahnya itu. perlahan namun pasti ia menyentuh benda basah itu dengan lembut. Terasa kaku. Sungyeol menyadari itu dan membalasnya dengan sedikit agresif. Ia memang bodoh dalam bercinta namun berciuman adalah spesialisasinya. Sungyeol membuka mulutnya dan mendorong lidahnya mencoba memasuki mulut Myung Soo. Myung Soo hanya mengerjap kecil ketika ia merasakan lidah hangat itu memasuki area mulutnya dan mengikat lidahnya sendiri. Lidah Sungyeol terus melakukan serangan sensitif yang membuat Myung Soo melayang. Baru beberapa detik serangan lidah itu nyatanya sudah merangsang Myung Soo dengan hebat. Tangannya mencengkram bahu Sungyeol yang terbuka untuk menahan hasratnya yang menguap. Hingga tak menyadari cengkraman nya semakin kuat dan semakin kuat.

Plak!

Sebuah pukulan manis mendarat dikepala Myung Soo membuat nya tersadar. Sungyeol melepaskan mulut Myung Soo dari bibirnya.

"appo! Mengapa kau mencengkramku kuat sekali? Liat kau sampai meninggalkan bekas merah disana! Ya! Bagaimana jika ini jadi infeksi dan aku kemudian mati T_T dasar pria jahat! " omel Sungyeol terus menerus.

"mian. . " bisik Myung Soo sebagai jawaban. Ia meniup pelan bekas merah dibahu kekasihnya itu. sesekali ia mengecup pelan disana. Sungyeol terpanah kali ini. Ia benar2 mengagumi pria itu sekarang, meskipun ia bodoh, namun sikap manisnya benar2 tulus dan melelehkan.

"sudah lebih baik? " tanya Myung Soo masih dengan sikap menyesalnya.

Sungyeol mengangguk. Suasana saat ini agak canggung bagi mereka.

"jelajahi aku. . " ucap Sungyeol lirih ketika mereka semakin hanyut dalam keheningan malam.

Myung Soo mengerutkan dahinya.

"jelajahi? " tanya nya polos. "aku tak mengerti. .hehe. . " lanjutnya lagi dengan bodoh.

Sungyeol menggigit bibirnya. ia ingin sekali menggigit kuat2 bibir menawan itu.

Ia mendorong tubuh Myung Soo dan membalik posisi mereka. Myung Soo berada dibawah sekarang. Mata mereka yang sayu saling berhadapan satu sama lain, menimbulkan getaran2 kecil yang sulit diutarakan.

Sungyeol menelan ludahnya. Ia mulai mencium kepala Myung Soo kemudian turun kekening pria itu, terus menuruni wajah Myung Soo hingga bertumpu dileher jenjang dan putih Myung Soo. Ia mencium leher itu dan menjilatnya denga lembut. Rasa hangat dari lidah Sungyeol sukses memancing hasrat Myung Soo lagi. Tangannya mencengkram seprai dengan kuat.

Sungyeol tak menghentikan aksinya. Ia mulai menuruni tubuh polos pria dibawahnya itu perlahan. Dada, perut hingga area pusar tak luput dari jilatan dan ciuman nya. Hingga akhirnya berhenti pada titik itu. sebuah bagian yang berdiri tegak disana. Sungyeol meneguk liurnya susah payah.

"ini besar sekali. . " pikirnya.

"bagaimana jika ini masuk ketubuh ku ? rasanya akan sangat sakit. Kemungkinan aku akan robek dan pendarahan, kemudian aku dioperasi namun gagal karena kehabisan darah dan akhirnya mati. .oh noo! Eottokhae? Tapi aku menginginkan nya! Tapi aku tak mau mati! Bagaimana ini? " pikiran2 konyol terus singgah dikepala Sungyeol hingga tak menyadari Myung Soo memandangi gerakan terhenti Sungyeol dengan sayu.

"wae. .? " tanya nya. Sungyeol mengangkat kepalanya.

"ani. . " lirihnya. Sungyeol memantapkan hatinya dan mulai menyentuh bagian itu dengan bibirnya. ia memang bodoh, namun instingnya mengatakan hal itu lah yang harus ia lakukan. Bau khas pria menguar disana dengan kuat, Sungyeol melayang. Ia sangat menyukai bau type seperti Myung Soo sejak dulu.

"apa yang. .ahhh. .yeollie. .itu kotor. . " pekik Myung Soo diiringi desahan nikmat ketika mulut Sungyeol menelan area sensitifnya. Ia sama sekali tak menduga Sungyeol akan nekat melakukan hal seperti itu.

"Yeoolliiee. .hentikkann. .itu kotor kau tau. . "

Sungyeol terus melakukan aksinya tanpa peduli larangan dari bibir myung Soo. Myung Soo mencengkram Seprei dengan kuat. Ia tak bisa lagi membendung hasrat nya yang membuncah keluar. Ia hanya mendesah berkali kali menahan rasa nikmatnya ketika mulut Sungyeol beraksi dengan agresif.

"akhhhh! Yeollie. .lee..paskannn. .mulutmuuu.. .akuuu. .akhh! " teriakan Myung Soo mengiringi sebuah semburan nikmat dari area bawah nya. Sementara Sungyeol yang tak mengetahui hal itu tak sempat melepaskan mulutnya dan cairan itu masuk dengan manis kedalam tenggorokannya. Matanya terbeliak ngeri. Ia melepaskan mulutnya meski terlambat.

Sungyeol refleks menarik tubuhnya kebelakang menjauhi Myung Soo yang terlentang lemas.

"Hoeeeekkk! " sebuah muntahan sukses keluar dari mulut Sungyeol. disusul dengan muntahan lainnya lagi dan lagi. Myung Soo mendekatinya dengan gontai, menekan pelan bahu Sungyeol untuk membantu mengeluarkan sisa muntahan nya.

"yaa! Mengapa kau tak memberi tau ku kau akan keluar!? Bagaimana jika aku hamil!? Kemudian kau kabur saat aku mengandung anak mu!? Arhhhggg! Rasanya aneh sekali.! Hoekk! " sekali lagi semburan keluar dari mulut Sungyeol. meskipun agak lucu mendengar perkataan Sungyeol barusan Myung Soo bertahan dari tawa yang ingin keluar dari bibirnya.

Hamil? Bagaimana mungkin? Mereka kan sama2 pria. .bodoh.

"gwenchana? " tanya Myung Soo akhirnya dijawab tatapan membunuh dari Sungyeol.

"apa aku terlihat baik2 saja? "

"aku sudah memperingatkan mu. .tapi kau terus bermain dengan nya. . " cebik Myyung Soo sambil memandang sesuatu dibawah sana.

"arghh! Molla! " erang Sungyeol frustasi. Ia memang kesulitan menghentikan aksinya tadi. Entah karena sudah terlalu menikmati perannya. Sungyeol bodoh.

"apa yang. . " Sungyol mengeluarkan seruan kagetnya ketika merasakan tangan kuat Myung Soo menariknya dan menggendong nya dengan paksa. Myung Soo kemudian menghempaskan tubuh Sungyeol diatas ranjang lagi.

"ya! Apa yang kau lakukan? " pekik Sungyeol gusar.

Myung Soo tak menjawab dan menaiki tubuh Sungyeol dengan cepat. Wajahnya yang nampak serius membuat Sungyeol membungkam mulutnya.

"giliran ku. . " bisik Myung Soo pelan. Sungyeol mengerjapkan matanya takjub. Ia bisa merasakan bibir Myung Soo mulai menyentuh kepalanya, bergerak turun persis seperti yang ia lakukan tadi, gerakan itu membuat Sungyeol mencengkram seprei dan tanpa sadar kemudian mencengkram rambut hitam Myung Soo ketika pria itu sudah tiba diarea sensitifnya.

"kau. .kau tak harus melakukannya Myungie. . "

Sepi.

"Myungie. . " panggil Sungyeol pelan. Ia melihat Myung Soo membeku melihat bagian sensitifnya dengan wajah bodoh. Sungyeol merona hebat.

"mengapa kecil sekali. . " bisik Myung Soo menghancurkan rasa malu Sungyeol.

"YAAA! KIM MYUNG SOOO! "

.

.

Myung Soo mengusap pipinya yang merah padam terkena tamparan Sungyeol beberapa saat lalu. Ia melihat Sungyeol yang sudah berpakaian lengkap masuk kedalam kamar lagi setelah beberapa waktu lalu berlari meninggalkan nya.

"mian. . " bisiknya sambil mendekati Myung Soo yang tertunduk kaku.

"pasti sakit sekali. .maaf aku tak bermaksud. . " ucap Sungyeol penuh sesal. Ia mengusap lembut pipi Myung Soo yang nyaris membiru itu. ia meringis sendiri melihat hasil perbuatan nya.

"mian. . " bisiknya lagi. Myung Soo menghela nafasnya.

"sudahlah. .aku juga salah. . "

Kini giliran Sungyeol yang menunduk dalam.

"sebaiknya aku pulang. .hari semakin larut. .aku takut eomma khawatir. . " ujar Myung Soo pelan. Ia beranjak dari tempatnya dan memakai pakaiannya, dengan perlahan ia mendekati pintu keluar namun kemudian terhenti sesaat. Ia kembali dan memeluk Sungyeol manja. Bibirnya mengecup pelan bibir Sungyeol yang membisu.

"kalau kau benar2 menyesal, kau harus mengajariku lagi nanti. .oke? "

Sungyeol menaikkan wajahnya dan bertemu dengan mata hitam Myung Soo. Pria itu sedang tersenyum tulus padanya.

"arasseo. . "katanya. Myung Soo mengusak rambutnya dengan gemas.

"baiklah. .aku akan kembali besok. .jaga dirimu peri cantik. .dan jangan tidur terlalu larut. . " ucapnya menenangkan Sungyeol. Myung Soo mengecup kening Sungyeol lagi sebelum benar2 melangkah keluar dari ruangan itu. meninggalkan Sungyeol yang membeku sambil memegang keningnya yang kena curi barusan.

"pabbo. .Kim Myung Soo. .apakah aku sudah benar2 sangat mencintai mu sekarang. .? "

Bisiknya bertanya pada diri sendiri.

.

.

Myung Soo menghentikan langkahnya setelah merasa sudah cukup jauh dari flat kecil Sungyeol. ia tersenyum pahit sambil mengambil Handphone dari balik sakunya. Sebuah nomor yang familiar ia tekan beberapa kali sampai sebuah suara pria menyahut dari seberang sana.

"bagaimana? "

Myung Soo menghela nafasnya, suara itu terdengar berat seperti biasanya.

"aku berhasil Hyung. .sepertinya dia sudah terpikat padaku. . "

Suara tawa kecil terdengar. Myung Soo menduga pria itu sedang senang sekarang.

"bagus. .gomawo Saeng. . "

Myung Soo menutup sambungan telpon. Tubuhnya bersandar dengan susah pada tembok sebuah bangunan. Matanya kosong menatap langit malam yang gelap dengan beberapa awan mendung disana.

"mianhae Yeollie. . "

.

.

xXx

.

.

.

"apa yang sedang kau lakukan ? " sebuah suara terdengar dari arah belakang Sungyeol dengan tiba2, membuat pria itu tersentak kaget, tangannya yang memegang pan nyaris terjatuh.

"aish! Kau membuatku kaget. Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung, kemudian aku tak tertolong dan mati!? "

"kalau begitu aku akan jadi duda. . "

Tak!

Sebuah jitakan manis mendarat diatas kepala pria yang ternyata Myung Soo itu.

"ya! Jadi kau senang aku mati? Menyingkir sana, aku akan pergi kerumah orang tua ku! " seru Sungyeol sambil berlalu setelah mematikan kompornya.

"wae wae wae wae? Kau ingin meminta cerai? " kejar Myung Soo. Sungyeol menghentikan langkahnya. ia melihat Myung Soo sudah memasang muka polos andalannya. Sungyeol meneguk liurnya.

Dia imut sekali. Ah chakkaman.

"ehmh! " Sungyeol berdehem menutupi sikap terpesonanya sebisa mungkin. Namun tetap saja ia gugup melihat wajah manis itu berdiri seperti puppy didepannya.

"wae? " tanya Myung Soo menyadari Sungyeol memandanginya dengan fokus.

"apa aku terlalu tampan hari ini? " lanjutnya. Sungyeol mendelik.

"Pabbo! Sejak kapan kau berubah menjadi pede seperti ini? Mana sikap malu2 dan bodoh mu itu? ah, dasar Bunglon, kau mampu berubah seperti yang kau mau! Mungkin saja kau bisa berubah menjadi superman, oh astaga, aku sangat menyukai superman, seandainya. .eh. . "

Krik krik. Seekor jangkrik mendadak lewat menekan rasa sepi yang tercipta.

"ahaha! " wajah Sungyeol merutuki kalimat2 bodohnya barusan hingga pria didepannya tertawa terbahak bahak.

"eh. .ah. .emhh. .arhhkkkk! sudahlah. Aku akan berganti pakaian, aku harus kerumah orang tuaku. .kau boleh pulang. "

"aku boleh ikut? "

Sungyeol melengoskan wajahnya dengan acuh.

"wae? Kau bukan kakak ku, atau adik ku, dan juga bukan anak mereka, jadi apa alasan mu untuk ikut? "

Sebuah rangkulan Myung Soo berikan diawal. Ia mengerjap manja pada Sungyeol.

"aku ingin bertemu calon mertua. .apakah itu cukup? " jawab Myung Soo sambil bersiap menghindari tangan Sungyeol jika suatu waktu tangan itu akan memukulnya. Nyatanya tidak. Sungyeol melepaskan rangkulan Myung Soo dengan malas kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya. Beberapa saat kemudian ia membuka pintu dan memunculkan kepalanya.

"ganti seragam mu dengan ini. . " ujar Sungyeol sambil melemparkan sebuah kemeja berwarna hijau. Myung Soo menerimanya dengan sekali tangkap.

Yaks! Hijau! Myung Soo tak terlalu menyukai warna hijau terang itu, ia pecinta warna hitam yang akut. Namun mengetahui fakta bahwa itu adalah pakaian Sungyeol ia memakainya juga dengan ceria.

.

.

Sementara itu dibelahan kota lainnya. .

Seorang pria duduk sambil menatapi burung2 merpati yang beterbangan disekitarnya, sesekali burung2 itu mendekat ketika tangannya menaburkan sejenis remah roti. Wajahnya yang kusam senantiasa tertutup mendung, menutupi wajah tampannya yang tersirat dibalik rambutnya yang kusut dan acak2an.

"dunia memang tidak adil. . " bisiknya ketika seekor merpati tanpa sengaja tertabrak sebuah kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

"meskipun kau memiliki sayap dan bisa terbang tinggi, kau tetap tak dapat menghindari kendaraan itu. .lalu apa guna sayap itu untuk mu? Hanya menambah derita mu dengan memberi kekuatan palsu. .apa dosamu hingga kau mati dengan demikian tragis? Tuhan memang tak adil. . "

Gumaman nya terhenti ketika ia merasakan sebuah getaran dari balik sakunya. Sebuah pesan dengan nama familiar terpampang disana menimbulkan senyuman tipis diwajahnya.

Aku akan pergi dengan nya hari ini. .hyung jaga dirimu baik2. .bogoshippo. .

Pria itu menyeringai.

"sebentar lagi. .kau juga akan merasakan ketidak adilan dunia ini. . " ucapnya pada diri sendiri. Fikirannya terus terfokus pada angan2nya sendiri hingga tak menyadari seorang pria duduk disampingnya.

"kalau keadilan tidak ada didunia ini. .maka ciptakanlah. . " pria rambut kusut mengangkat kepalanya kearah sumber suara. Ia menemukan seorang pria berusia 24 tahunan duduk disebelahnya. Wajahnya cukup tampan untuk kalangan pria.

"ahh. .cuaca yang dingin. . " ujar pria yang baru datang itu lagi seolah menyambung kalimatnya tadi. pria kusut mengacuhkannya dan kembali masuk dalam dunianya sendiri.

"kasian burung itu. .ia mati sia sia. . "

Pria kusut mendengar ucapan pelan itu namun kembali mengacuhkannya.

"tapi kematian yang sia sia pun akan ada maknanya. .setiap takdir mempunyai akhirnya sendiri, meskipun terkadang hanya rasa sakit yang tersisa, namun jika ketegaran meliputi semuanya, maka tak akan ada kematian yang sia sia. .melainkan keikhlasan dan kesabaran. .akan sebuah takdir. . bukankah begitu?"

"aku tak percaya takdir. . " ucap pria kusut perlahan ketika menyadari pria disebelahnya sedang mencari perhatiannya dengan obrolan itu. ia mendengar desahan kecil tercipta dari bibir pria disebelahnya.

"aku percaya. .karena saat ini aku sedang melihat takdirku sendiri. .bukankah itu lucu? "

Pria kusut memberikan kebisuan sebagai jawaban. Ia mulai merasa muak dengan sikap sok ramah pria disebelahnya.

"nama ku Nam Woohyun. .siapa namamu? " ujar pria disebelah yang bernama Woohyun itu. pria kusut hanya memandang sekejap kemudian mengacuhkan uluran tangan pria itu.

"baiklah. .aku tau tangan ku tak sebagus tangan org lain. .tak apa. .tapi lain kali, kau harus memperkenalkan nama mu padaku. .pangeran sipit. . " ucap Woohyun kemudian sambil beranjak pergi diikuti tatapan mata pria kusut yang kembali hanyut dalam dunianya.

.

.

xXx

.

.

.

"emhh. .kenapa kita kemari? "

Sungyeol menolehkan kepalanya kearah Myung Soo yang bertanya. Ia menghela nafasnya.

"bukankah kau ingin bertemu orang tua ku? "

"iya. .tapi ini. .pemakaman. . " bisik Myung Soo. Ia kembali mengikuti langkah Sungyeol yang memimpin didepannya dengan penasaran.

"kita sudah sampai. . " ujar Sungyeol. Myung Soo memperhatikan sebuah nisan batu dengan nama Shin Min Ah disana.

"eomma. .aku datang. . " ujar Sungyeol lagi membuat Myung Soo paham bahwa makam didepan mereka adalah makam ibu kekasihnya itu. perasaan terkejut sejenak menghampiri hatinya mengetahui bahwa ibu Sungyeol sudah tidak ada.

"mian. .aku tak tau kalau. . "

"tak apa. .sekarang kau sudah mengetahuinya. . " potong Sungyeol cepat. " eomma. .aku datang, namun kali ini tidak sendiri. .aku membawa seorang pria bodoh yang ingin berkenalan dengan mu. . "

Myung Soo memanyunkan bibirnya beberapa centi. Kemudian ia menunduk dalam didepan makam itu.

"senang bertemu dengan mu eommonim. . " ucapnya. Sungyeol tersenyum kecil.

"lalu. .bagaimana dengan ayah mu? " tanya Myung Soo.

"ibuku meninggal beberapa tahun lalu karena sakit parah setelah ayah ku pergi meninggalkan kami dengan wanita lain. .sejak itu aku hidup sendiri. .dan menjadi seorang drag queen seperti sekarang. .aku sudah menganggap ayah ku mati. .dan sama sekali tak berharap untuk bertemu dengannya. ."

Myung Soo melihat wajah Sungyeol yang berubah sendu sekarang. Ia memeluk tubuh Sungyeol dari samping. Bibirnya mengecup lembut bahu Sungyeol untuk menenangkannya.

"mian. .aku tak bermaksud. . "

Sungyeol mengusut air matanya yang meleleh pelan.

"tak apa. .lagipula. .aku tak sendiri sekarang. .aku memiliki mu. . " ucap Sungyeol tak mampu lagi menutupi perasaannya. Myung Soo menatap wajah Sungyeol lagi. Hatinya mendadak teriris mendengar kalimat itu.

"ya. .kau memiliki ku sekarang. .jadi jangan pernah berfikir kau seorang diri didunia ini. . " ucapnya lembut.

"gomawo Myungie. . " balas Sungyeol sambil mengeratkan pelukan Myung Soo pada dirinya.

Myung Soo mengangguk. Bibirnya mengukir senyum manis yang terlihat palsu. Hatinya berdenyut lagi. Berkali kali ia mencoba bertahan tetap saja ia mengakui kebenarannya.

"mianhae Yeollie. .suatu saat nanti. .akupun akan meninggalkan mu. . " hatinya berbisik pilu. Ia menyusupkan kepalanya pada leher Sungyeol, merasakan kehangatan disana, seharusnya kehangatan itu memberinya kenyamanan, namun kali ini, hanya pedih yang terasa. Perlahan riakan kecil tercipta dimata Myung Soo.

"mianhae yeollie. . " bisik hatinya sekali lagi.

.

.

.

TBC-

Wahhhhh! Selesai juga :D

Maaf agak lama, saya sempat ngeblank dan kehabisan ide, bahkan nyaris gak niat ngelanjutin lagi FF ini karena saya merasa kurang cocok di genre komedi romantis, jadi alurnya berubah lagi ke hurt/comfort :v maaf kalau mengecewakan :D

Sampai jumpa di chapter berikutnya readers :*