Chapter 4

Cinta Tak Pernah Sama

Sehun – Luhan

Yaoi

Hasil Remake dari Novel 'Cinta Tak Pernah Sama' karya Dista Dee. Jadi ide cerita ini sepenuhnya milik Dista Dee, aku hanya sedikit mengubah nama tokoh, beberapa kalimat, dan juga aku ubah cerita ini menjadi yaoi.

Hari ini aku akan bicara atas nama Oh Sehun, bukan sebagai seorang idola, tapi atas nama pribadi. Aku minta maaf bila satu segmen pengakuanku membuat banyak kekacauan di kalangan masyarakat belakangan ini.

Orang-orang melihat ini mungkin sebagai sikap yang tidak pantas dilakukan oleh seorang idol, tapi sebagai seorang pria, mengakui perasaan apapun yang kumiliki dalam hatiku bukanlah hal yang perlu dipandang buruk seollah ini adalah tindakan kriminal yang merugikan banyak orang. Aku mungkin telah menyakiti hati banyak orang, para fans, dengan pengakuanku, tapi percayalah bahwa bagaimanapun juga kalian akan tetap dalam hatiku sampai kapanpun, apapun yang terjadi.

Hanya sekedar kalian tahu bahwa kericuhan ini sama sekali tidak pernah kuduga, ketika pada awalnya aku berpikir akan mampu mengatasinya seorang diri, ternyata yang terjadi di luar perkiraanku. Aku sama sekali tidak menduga respon yang ditunjukkan pada kami tentang hal ini jauh di luar batas kenormalan, dan aku sangat menyesalkan respon-respon negatif yang kalian lontarkan hingga menyakiti pihak yang sama sekali tidak berhubungan dengan masalah ini

Meskipun begitu aku tidak menyesal dengan apa yang telah kulakukan, aku juga tidak akan menari kembali apa yang telah kukatakan, karena aku tulus dengan segalanya. Walaupun ini bukan keputusan yang mudah, aku tetap berharap kalian semua tetap mendukungku dan tidak lagi menjadikannya masalah besar yang akan menyakiti lebih banyak pihak. Kuharap orang-orang diluar sana berhenti menganggu ketenangan dan menyerangnya, dia bukanlah penjahat, dia adalah seorang pria yang dirugikan karena kelalaianku, dan aku berutang maaf padanya atas hal ini.

Dan meski sulit untuk melakukannya, sekali lagi kuharap kalian akan tetap percaya padaku. Untuk SM Entertainment. Apple Entertainment, penggemarku, dan kalian semua di luar sana, aku akan terus bekerja keras sebagai seorang penyanyi dan aktor.

Minho berdecak pelan begitu membaca sebuah tulisan yang Sehun perlihatkan padanya, sementara menatap sahabatnya itu memainkan sumpit di atas mangkok nasinya. Hari itu setelah hampir tiga bulan mereka sibuk dengan jadwalnya masing-masing. Sehun mengajaknya makan bersama hanya berdua untuk membicarakan sesuatu.

"Hun, katakan padaku… siapa yang membuat pernyataan ini? Bukan kau, kan?" ujar Minho menuduh melihat kesan yang begitu rendah hati dalam tulisan yang baru saja dibacanya sangat bertolak belakang dengan kepribadian Sehun yang sebenarnya.

"Mwoya? Tentu saja aku yang menuliskannya, sialan kau." Katanya membela diri seraya mengangkat satu sumpitnya tinggi dalam posisi menyerang, sementara Minho terkekeh melihat sikap itu.

Selama kesibukkannya di Jepang. Minho banyak mendengar berita yang melibatkan salah satu teman terbaiknya ini dengan seorang pria dari Apple Entertainment yang pernah menarik perhatiannya dulu. Para staff yang dating dari Korea tidak pernah ketinggalan memberinya kabar terbaru tentang apa yang terjadi dalam agensi mereka, tentang keributan yang sangat ramai tentang salah satu anggota keluarga mereka. Dia pernah sekali berbicara dengan Sehun mengenai hal ini, tapi pria itu menolak berbicara lebih banyak di telepon dan mengajaknya untuk mengobrol lain kali setelah mereka bisa bertemu.

Dan sahabatnya itu kelihatan buruk sekali. Sehun bukanlah pria yang bisa dengan mudah menyembunyikan perasaannya, akan sangat kentara sekali bila suasana hati pria itu sedang tida menyenangkan, dengan raut wajah yang tertekuk dan dahi yang berkerut, akan sulit juga melihat senyum di wajah itu dalam keadaan seperti ini, kecuali bila publik membutuhkannya.

"Kau sudah bicara dengannya setelah tulisan ini dirilis? Dia kelihatan baik-baik saja ketika aku bertemu dengannya di Music M kemarin," Tanya Minho kemudian seraya mengingat kembali saat berpapasan dengan pria itu dan teman-temannya di belakang panggung sebuah tayangan musik di Tokyo, dia bahkan semoat mengobrol dengan Luhan sebentar bersama Taemin seperti tidak ada masalah yang terjadi sebelum pria itu bergabung kembali bersama teman-temannya.

Dan Sehun menggeleng menjawab pertanyaan itu, terakhir kali dia benar-benar bertemu dengan Luhan adalah ketika mereka makan malam bersama, saat dia mengungkapkan perasaannya dengan lantang di salah satu ruang makan Parkdaegamne.

"Kurasa agensinya melarang Luhan untuk bertemu denganku," katanya menduga, dan dia tidak asal mengucapkannya saja setelah beberapa hal terjadi membuat kecurigaannya semakin kuat. Dia pernah mendengar kabar bahwa Luhan lebih banyak tinggal di luar Korea sementara semua anggotanya di Seoul, dan itu terutama bila dia bersama teman-temannya sedang aktif berpromosi di Korea. Yang kedua adalah keanehan yang terlihat bahwa boyband itu tidak pernah muncul dalam festival musik atau perhelatan penghargaan awal tahun bila dia termasuk salah satu artis yang tampil didalamnya, entah itu yang diadakan didalam atau diluar Korea, Apple Ent. Akan menggantinya dengan artis lain untuk mengisi keabsenan salah satu boyband andalan mereka itu, sementara selama beberapa bulan ini Luhan lebih banyak aktif tampil di luar negeri dengan serangkaian promosi dan juga undangan resmi dari beberapa acara besar di Eropa.

Sehun kemudian bercerita saat dia konser di Paris seminggu yang lalu, dia mendengar bahwa Luhan dan teman-temannya juga berada di sana untuk menjadi pembicara di salah satu seminar yang diadakan dalam festival advertising internasional terbesar di dunia bersama STAR advertising, agensi periklanan yang terkenal di Korea. Dia sempat merasa senang ketika mendengar mereka akan berada dalam satu pesawat yang sama sekembalinya ke Korea, saat itu mereka sedang mengantri masuk ke pesawat ketika melihat rombongan para pria itu baru dating memasuki pemeriksaan di gerbang ruang tunggu. Mereka sengaja dating di panggilan terakhir, dan ketika Sehun mengharapkan kemunculan mereka di kabin, dia harus kembali menahan kekecewaannya saat hanya dua manajer boyband itu yang muncul. Belakangan manajernya bercerita –dari obrolan yang dilakukannya bersama salah satu manajer mereka- begitu sampai di Seoul, bahwa Bang Yongguk menyuruh mereka mengupgrade tiket kelima pria itu langsung begitu check in untuk duduk di kelas 1 yang letaknya di lantai 2 pesawat mereka. Bahkan ketika turun dari pesawat dan memasuki area imigrasi pun kelima pria itu mempercepat jalan mereka dengan melewati jalur 'Diplomat and VIPs Only' yang hanya dilewari oleh pejabat tinggi negara, konon keistimewaan itu mereka dapatkan karena kepergian para pria ini ke Paris merupakan kunjungan kerja sebagai perwakilan Korea dibawah naungan UNICEF dalam acara seminar internasional yang mereka ikuti.

Omong kosong. Sehun yakin itu hanyalah permainan politik mereka untuk meminimalisir kontak Luhan dengannya atau anggota grupnya yang lain.

"Hun, ada satu pertanyaan yang membuatku penasaran. Kenapa kau bisa begitu yakin kalau dia juga menyukaimu?" Minho kembali bertanya setelah beberapa saat mereka hanya berkonsentrasi pada makanan yang tersaji diatas meja.

"Karena aku yakin dengan ini,"

"Bagaimana kau bisa yakin?" Tanya Minho lebih menuntut lagi.

Sementara Sehun memiringkan kepalanya, dia menatap langit-langit ruangan lalu membuka mulutnya begitu menemukan sebuah analogi yang menurutnya tidak bisa lebih tepat lagi dari apa yang dikatakannya setelah itu.

"Rasanya seperti… ketika kau bangun di suatu pagi dengan tenggorokanmu yang terasa serat dan perih… saat itu juga kau tahu bahwa sebentar lagi kau pasti akan flu. Seperti itulah keyakinanku, percayalah,aku hanya tahu soal itu. Mencoba memahami Luhan sama saja ketika kau mencoba membaca buku Sherlock Holmes, pada awalnya kau disuguhi berbagai macam misteri yang tak terpecahkan yang membuatmu semakin tertarik padanya dan terus ingin membaca tiap halamannya hingga semakin akhir, misteri demi misteri yang di tunjukkan di awal cerita mulai terungkap." Jawabnya panjang menjelaskan sementara Minho mengangkat kedua alisnya berusaha memahami, disatu sisi dia geli melihat Sehun yang menganalogikan perasaannya sendiri dengan flu –yang mana sangat dia mengerti sebagai salah satu orang yang sering mengalaminya ketika terlalu kelelahan – dan itu terdengar saat naïf, terutama karena seorang Oh Sehun yang mengatakannya, tapi disisi lain dia terlihat tidak mengerti dengan perumpamaan lainnya karena Luhan yang dilihatnya selama ini terkesan sebaliknya.

Minho setuju bila Luhan itu penuh dengan teka-teki, tapi sementara Sehun merasa Luhan seperti buku Sherlock Holmes, dia bersama anggota boybandnya yang lain sepakat mengumpamakan Luhan – seperti yang pernah mereka bicarakan suatu kali dalam obrolan yang random – sebagai buku sastra duniawi seperti tulisan Rabindranath Tagore, seorang penulis puisi dan prosa liris penerima nobel sastra dari India, perlu kecerdasan tingkat tinggi untuk bisa memahami apa yang pria itu pikirkan di dalam kepalanya. Kesimpulan ini keluar begitu saja setelah boyband mereka tampil bersama dalam sebuah acara radio di Tokyo beberapa bulan sebelumnya, dan juga obrolan-obrolan singkat yang mereka lakukan dalam beberapa kesempatan. Dan fakta bahwa Sehun mengumpamakan pria itu dengan buku yang kedengarannya jauh lebih mudah dipahami, memberinya dua buah kesimpulan yang menarik, antara Sehun hanya berkhayal terlalu tinggi atau Luhan telah menemukan pawang penjinaknya.

Dan Sehun terbahak diatas tatami ketika Minho melontarkan kesimpulan yang didapatkannya itu secara langsung, ini adalah semacam kabar baik dan buruk disaat bersamaan dan Sehun hanya bisa berharap kesimpulan kedua lah yang terjadi.

"Meski aku memiliki keyakinanku sendiri, tetap saja tidak mudah untuk membuatnya bicara. Pendiriannya terlalu kuat untuk ku goyahkan, tadinya aku berpikir dengan bicara didepan publik akan membuat dia setidaknya mengatakan sesuatu kepadaku… tapi aku sama sekali tidak mendengar apapun darinya, minimal menuntut penjelasan kenapa aku melakukannya atau mencaci makiku karena aku membuatnya diserang begitu banyak orang… Dia tidak mengaktifkan ponselnya, dia tida pernah menjawab panggilanku tiap kali kuhubungi dia secara online… dia benar-benar membuatku frustasi…" Sehun menggeram dan menggertakan giginya menunjukkan rasa depresinya sementara Minho mendengus dan menertawakannya, sebuah respon yang sangat mendukung.

"Sekarang kau mengatakan begitu frustasi ini dan itu, tapi aku melihat tayanganmu bersama artis Cina itu di WGM… kau keliatan sangat menikmati sekali kebersamaanmu dengannya." Ujarnya penuh dengan tuduhan.

"Aish, ini dan itu tentu saja berbeda. Menurutmu apa yang harus kulakukan, hyung? Menekuk wajahku dan mngatakan padanya, 'maaf, aku menyukai orang lain, jadi jangan salahkan aku bila aku tidak terlihat ramah dan menikmati program ini denganmu', begitu? Kau tidak pernah dengar istilah profesionalitas?" seru Sehun kembali membela diri dengan nada yang semakin tinggi di akhir kalimatnya, dia tidak bermaksud benar-benar marah tentunya, dank arena itulah Minho seperti tidak terpengaruh dengan bentakannya dan tertawa kembali semakin keras.

Kalau dipikir lagi, Sehun memang sepertinya tidak pernah bisa benar-benar marah pada seseorang, sebesar apapun masalahnya dan seburuk apapun seseorang memperlakukannya. Dia hanya akan merasa sangat kesal, dan kemudian melupakannya begitu saja. Seperti permasalahannya dengan Chanyeol dan Kris, baginya kesalahan mereka berdua begitu besar dengan ketidakpekaan tingkat tinggi yang hanya akan dilakukan oleh orang-orang imbisil di seluruh dunia. Sejak mendengar duduk permasalahan yang sebenranya, Chanyeol dan Kris secara pribadi menjelaskan permainan 'kecil' mereka padanya, saat itu rasanya Sehun ingin sekali memaki mereka habis-habisan. Hatinya seolah dicabik-cabik menyadari dia harus membayar kebodohan yang dilakukan oleh kedua hyungnnya, bahwa sebenarnya masalah ini tidak perlu terjadi bila saja kedua orang itu menyimpan kejailan mereka hanya untuk keluarga mereka sendiri. Sehun merasa amat sangat kesal hingga saat itu dia hampir menangis saking tidak bisa menahan sesak di dadanya karena kekecewaan yang begitu besar, tapi disaat yang sama dia juga tidak bisa marah terlalu lama karena ikatan yang mereka miliki lebih besar dari ikatan kekeluargaan manapun yang pernah ada di dunia ini. Chanyeol dan Kris dengan sengaja lebih mendekatinya saat di atas panggung, saat-saat dimana dia tidak bisa menolak afeksi yang diberikan, tidak didepan para penggemar mereka. Sampai sekarang kedua hyungnya itu masih merasa sangat bersalah padanya, jadi dia membiarkan mereka memanjakannya juga memperlakukannya seperti seorang raja tanpa membiarkan mereka tahu bahwa sebenarnya dia telah melupakan amarahnya juga rasa kesal yang hanya bertahan semalam saja, dan menghilang setelah bangun dari tidur keesokan paginya. Setidaknya, begitulah caranya membalas mereka.

"Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Apa yang mereka katakan? Bukankah ayahmu dan ayahnya berteman baik?"

Sehun menjentikkan jarinya ketika pertanyaan lain Minho terlontarkan, teringat pada satu hal yang ingin belum sempat dia ceritakan pada temannya itu.

"Ibuku marah besar, tentu saja… tapi diantara orang tua, sepertinya sama sekali tidak terpengaruh dengan masalah ini. kau tahu? Beberapa hari yang lalu ayahku bercerita, katanya ketika kami sedang di Paris, ayahku, ayah Luhan, bersama ayah Chen, mereka bertiga mendaki gunung Seorak bersama." Katanya bercerita seperti apa yang dia onrolkan melalui elepon beberapa hari sebelumnya.

"Wow… mereka membicarakan sesuatu tentang ini?" Tanya Minho tertarik, sementara Sehun menjawabnya dengan kedua bahunya terangkat.

"Ya, begitulah, tapi mereka lebih menganggap ini seperti lelucon anak kecil, dua diantara mereka bahkan sepertinya tidak terlihat cemas kalau anak-anaknya sedang bertarung melawan dunia dan betapa sulitnya mengahadapi ini sendiri."

Untuk kesekian kalinya Minho terkekeh menertawakan situasi yang baru didengarnya entah kenapa bila situasinya berkaitan dengan Sehun, Minho merasa tidak pernah bisa menanggapinya dengan serius, sesulit apapun keadaannya. Mereka seperti memiliki hubungan yang paling mutlak di antara keduanya, semakin keras kau tertawa, semakin tulus juga rasa simpatimu tertuangkan.

"Tapi aku tidak heran bila mereka berpikir seperti itu. Ayah Luhan dan ayah Chen, mereka berdua dating dari dunia akademis yang pastinya menganggap permasalahan di dunia hiburan seperti ini adalah hal yang trivial, lalu ditambah lagi dengan ayahmu… mereka bertiga seperti… ketika kau minum makgeolli (air beras yang difermentasikan semacam sake kalau di Jepang) sambil makan kimchi."

Sehun tersenyum, ini adalah perumpamaan paling jenius sekaligus paling menggelikan yang pernah dia dengar, kata-kata yang keluar hanya dari mulut seorang Minho dengan cara pikirnya yang unik itu. Tapi meskipun begitu, setuju dengan pendapat yang Minho sebutkan sebelumnya dan itu diungkapkannya secara gambling depan sahabatnya.

"Lebih dari itu, Xi Youngjung sebenarnya lebih pada seseorang dengan cara pikir yang komprehensif. Konsep pemahamannya terhadap sesuatu sangat liberal, karena itulah dia tidakpernah terikat dengan batasan bahwa satu masalah ini trivial atau tidak… kurasa karena dia tahu putranya akan melewati masa sulit ini bagaimanapun juga, dia tidak secara langsung terpengaruh dengan isu apapun yang membuat orang tua merasa perlu ikut campur akan masalah anak-anaknya. Ayahku sebaliknya, pada awalnya sangat mencemaskan Luhan, tapi sepertinya dia melihat sikap yang berbeda ditunjukan oleh ayah Luhan, jadi ini mempengaruhi pandangannya menilai masalahku juga."

Minho mengangkat alisnya dan mengangguk mengerti, "Sepertinya kau mengenal sekali orang ini," ujarnya kemudian sambil menghabiskan nasi terakhir yang tersisa di mangkuknya, tapi perhatiannya kembali penuh pada Sehun yang menjawab seadanya ketika menyadari sesuatu yang aneh. Ada satu rumor yang tidak pernah ditanyakannya secara langsung pada temannya itu karena mengira hal semacam itu tidak mungkin terjadi, tapi penjelasan Sehun tentang ayah Luhan tadi menguatkan dugaan orang-orang tentang sebuah rumor perjalanan yang terjadi akhir tahun lalu.

"Baiklah, apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?" Tanya Minho lagi penuh selidik, "Kau menemui Luhan saat di Eropa bulan Oktober kemarin memang benar terjadi, ya?"

Sehun terdiam sesaat begitu mendengarnya, dia membasahi bibirnya seraya berpikir apakah perlu menjawab pertanyaan ini karena selama berbulan-bulan ini dia cukup tertutup, menjaganya tanpa bahkan pernah menceritakannya sekalipun pada anggota boybandnya. Selain orang tua mereka, tidak ada yang tahu kebenarannya, dan berpikir tidak ada ruginya bila dia memilih satu penjaga rahasia lagi. Sehun lalu menganggukan mengiyakan.

"Ini hanya akan menjadi cerita diantara kita berdua saja, oke?"

Minho menahan nafasnya dengan mulut terbuka lebar, lalu menggeleng tidak percaya, "Demi Tuhan Sehun… kalian berdua menyimpan banyak sekali rahasia."

TBC

Seeya di chapter selanjutnya~