"Konoha Underground"

( terinspirasi dari anime Tokyo Underground )

Author : Saita Hyuuga Sabaku

Disclaimer Chara : Naruto-nya - Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, NaruIno

Rate : T

Genre : Adventure, Romance , Action

Warning : AU, OOC, gaje, alur maksa, berantakan, typo bertebaran, dan masih banyak kekurangan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

.

.

.

Don't like Don't read

.

.

.

*** Happy Reading***

Chapter 3

Keesokan harinya.

"Kami berangkat dulu ya Sakura-chan, Ino-chan," ucap Naruto dengan semangat.

Dia memang selalu bersemangat seperti itu setiap hari.

"Tetaplah di rumah dan jangan kemana-mana sampai kami kembali," sambung Sasuke datar.

"Aku tak ingin mengundang perhatian tetangga sekitar dengan kehadiran kalian yang tak masuk akal," lanjutnya kemudian dengan gaya stoicnya yang seperti biasa.

"Kau tak perlu khawatir bocah pantat ayam," ucap Ino dengan nada sinisnya.

Perempatan urat muncul di dahi Sasuke. Bisa kalian bayangkan betapa kesalnya Sasuke di panggil dengan sebutan seperti itu. Terlebih oleh orang yang dengan seenaknya menerobos masuk dan membuat kekacauan di rumahnya.

"Tch," Sasuke mendecih dan langsung berbalik.

Ia buka pintu geser yang menjadi pembatas antara rumah dengan halaman dan bersiap melangkahkan kakinya keluar. Belum sempat kaki jenjangnya menyentuh halaman, ia kembali berbalik karena suara merdu dari gadis bersurai pink yang semalaman memenuhi otaknya memanggil namanya.

"Tuan Sasuke," panggil Sakura yang setengah berlari dari arah dapur. Dia menghampiri mereka, bermaksud untuk memberikan bekal yang telah dibuatnya untuk Naruto dan Sasuke.

Sasuke berbalik dan mendapati sosok Sakura yang sedikit tersengal-sengal mengatur nafasnya, tengah menyodorkan sesuatu padanya.

"Ini, terimalah. Aku membuatkan bekal makanan untuk Tuan Sasuke. Untuk Tuan Naruto juga ada," ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Wah... Sakura-chan kau baik sekali," ucap Naruto dengan mata berbinar bahagia dan tangannya refleks menggenggam tangan mungil gadis berhelai soft pink itu. Tapi kebahagiaan tak berlangsung lama untuknya. Karena Ino yang melihat kelakuan Naruto langsung menghadiahinya sebuah jitakan keras yang mendarat mulus di kepala mirip duren Naruto.

"Ittai...," ringis Naruto.

"Pirang, kau senang sekali menjitak kepalaku," hardiknya pada Ino.

"Siapa suruh tanganmu lancang menyentuh Sakura," jawab Ino sambil berkacak pinggang. Ia pun memberikan death glare mematikannya pada Naruto. Dan adu mulut pun terjadi antara Ino dan Naruto.

*Kita beralih ke pangeran tampan dan gadis yang membuat dia tidak bisa tidur semalaman penuh.

"Panggil saja Sasuke, kau tak perlu sungkan," kata Sasuke dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya.

Wajah Sakura seketika memerah melihat senyum tipis itu.

"Hai' Sasuke-kun," ucap Sakura polos. Tanpa sadar ia menambahkan suffix kun pada nama Sasuke. Ia pun menyodorkan bekal makanan yang telah dibuatnya kepada Sasuke. Tahukah kau Sakura, kini hati Sasuke tengah berdesir hebat layaknya air terjun yang jatuh dari tebingnya. Tapi itu tak berlangsung lama, karena Sakura juga memanggil Naruto dengan suffix kun di belakangnya. Membuat Sasuke hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dilempari bongkahan batu besar. ((#lebay))

"Ini untuk Naruto-kun," ucap Sakura sambil memberikan bekal buatannya pada Naruto.

"Arigatou Sakura-chan, kami berangkat dulu," kata Naruto sambil melambaikan tangannya.

"Arigatou," ucap Sasuke singkat dan berbalik menyusul Naruto.

Akhirnya Naruto dan Sasuke pergi melangkahkan kaki mereka menuju sekolah.

Tinggallah Sakura dan Ino di kediaman Uchiha yang masih tampak asri itu. Mereka berdua duduk di teras rumah kediaman Uchiha. Di depan mereka terpampang halaman dengan hamparan bunga berwarna-warni yang indah. Mereka menikmati keindahan itu sambil berbincang-bincang.

"Ino, Universitas itu apa?" tanya Sakura polos. Karena sebelumnya ia sempat bertanya pada Naruto, 'kemana Naruto dan Sasuke akan pergi.' Tapi yang menjawab justru Sasuke. Dengan satu kata singkat "Universitas".

"Um," Ino menaruh telunjuknya di dagu nampak berpikir.

"Sepertinya itu sama dengan sekolah, hanya saja tingkatannya lebih tinggi. Mungkin kalau kugambarkan dengan susunan sekolah di Underground, itu sudah setingkat dengan Kabuto yang levelnya sudah berada di level 4. Pria berkaca mata itu," lanjut Ino panjang lebar menjelaskan pada Sakura.

"Ohh, begitu ya," ucap Sakura tanda mengerti.

"Ino, apa sekolah di permukaan sama dengan di Underground?" tanya Sakura lagi.

"Kurasa mungkin sedikit berbeda. Tapi, entahlah," ucap Ino sambil menggendikkan bahunya.

"Um, Ino ...," ucap Sakura takut-takut.

"Ada apa Sakura?" tanya Ino sambil tersenyum lembut.

"Aku... aku ingin sekali melihat seperti apa kehidupan di permukaan ini. Aku juga ingin tahu seperti apa Universitas itu. Kurasa aku tidak akan punya kesempatan lain kali. Jika mereka menangkapku dan membawaku kembali ke Underground. Selagi disini, aku ingin sekali melihat-lihat sekitar," ucap Sakura panjang lebar.

Ino menautkan kedua alisnya. Ia tampak berpikir keras. Sebenarnya ia khawatir akan keselamatan Sakura jika ia nekat membawa Sakura keluar rumah. Tapi ia tak mau mengecewakan gadis berhelai soft pink itu. Sudah cukup banyak kesedihan yang ia rasakan selama ini. Selalu terkurung dan tak diberi kebebasan. Tak pernah melihat dunia luar. Meski hidup mewah, tapi hatinya tak pernah senang. Itulah alasan ia membawa Sakura lari dari Undeground, meski harus dicap sebagai pengkhianat. Lagipula, ia telah mendengar rencana Orochimaru dan beberapa anak buahnya yang akan membahayakan gadis musim semi itu. Agak lama Ino menimbang-nimbang, dan akhirnya ia pun memutuskan.

Ia tersenyum ke arah Sakura dan berkata, "Baiklah Sakura, aku akan membawamu melihat-lihat seperti apa kota di permukaan ini, tapi mungkin kita akan pergi di malam hari. Kedua pemuda itu tadi sudah melarang kita keluar kan? Aku tak mau kita jadi pusat perhatian dan malah membahayakan posisi kita. Kau tidak keberatan kan?" ucapnya panjang lebar, menjelaskan keadaan yang tidak memungkinkan jika mereka keluar rumah hanya berdua.

Lalu senyum terukir di wajah gadis musim semi itu.

"Um," katanya seraya mengangguk, mengiyakan keputusan Ino. Ia tau keputusan Ino adalah yang terbaik. Ia merasa sangat senang, karena sebentar lagi keinginannya untuk melihat dunia permukaan bisa terwujud.

.

.

.

Jam pulang di Konoha University.

Pelajaran telah usai beberapa menit yang lalu. Sasuke dengan cepat merapikan buku dan alat-alat tulisnya dan bergegas menghampiri Naruto ke kelasnya. Begitu sampai di depan kelas Naruto, dia menunggu Naruto di pintu keluar kelasnya. Dia bersandar pada dinding sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sungguh gaya stay cool andalannya yang mampu membuat gadis-gadis meleleh.

"Dobe, ayo cepat pulang," ucapnya begitu melihat Naruto sudah dekat pintu keluar, dengan nada datar seperti biasa tentunya.

"Heh, tumben sekali kau Teme. Biasanya aku yang menghampirimu. Tapi kenapa sekarang kau repot-repot menghampiriku?" tanya Naruto penuh selidik.

"Kau ingin cepat-cepat melihat nona cantik itu ya?" lanjutnya sembari menyenggol-nyenggol Sasuke dengan sikutnya. Dan tidak lupa pula cengiran jahil ala rubahnya itu. Dia senang sekali kalau bisa menjahili sahabatnya yang terkenal dingin itu.

"Tch, aku hanya tak ingin mereka membuat kacau rumahku lagi," sahut Sasuke kesal dan mulai berjalan. Tanpa Naruto ketahui sebenarnya Sasuke tengah menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya.

"Hei, hei, kau ini terburu-buru sekali. Apa kau tidak mau membeli bahan makanan dulu? Kau lupa ya, bahan makanan di rumahmu sudah hampir habis. Aku tidak mau kelaparan nanti malam," cerocos Naruto panjang lebar sambil berjalan menyusul Sasuke, dengan kedua tangan yang ia letakkan di belakang kepala.

Sasuke berhenti mendadak. Dan Naruto hampir menabraknya.

'Sial, bodoh sekali aku, sampai lupa hal itu,' rutuk Sasuke dalam hati.

"Heh Teme, kenapa kau tiba-tiba mematung seperti itu?" ucap Naruto sambil melewati Sasuke.

"Kau tidak sabaran ingin bertemu gadis imut itu kan? Iya kan?" ledek Naruto. Walaupun Naruto terkadang bodoh, untuk masalah kali ini tampaknya ia cukup pintar menganalisa.

Sasuke yang tersadar akan lamunan batinnya hanya mendecih tak suka saat sahabatnya tersebut dengan entengnya mengeluarkan pendapatnya. Dan Sasuke, entah kenapa ia memang ingin cepat pulang, bertemu dengan gadis itu. Gadis musim semi yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.

Tak ingin terlihat lebih bodoh lagi di depan Naruto, dia mengeluarkan jurus andalannya yang lain. Kali ini dia berjalan dengan memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku kanan dan kiri celananya. Dan berjalan dengan santainya. Tapi sebenarnya hal itu justru membuat Naruto makin yakin kalau Sasuke menyukai gadis bersurai pink itu. Karena Naruto tahu, kebiasaan Sasuke yang seperti itu ia lakukan kala ia sedang gugup atau salah tingkah.

Hei Sasuke lupakah kau kalau sahabatmu itu mengetahui hal-hal kecil seperti itu?

Naruto hanya terkekeh geli dan tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat sang Uchiha salah tingkah. Kemudian ia kembali berjalan menyusul Sasuke dan menyamakan langkahnya agar sama dengan langkah sahabatnya itu.

.

.

.

Mereka telah sampai di rumah, dan di sambut dengan ucapan selamat datang dari Sakura. Membuat kedua pemuda itu sedikit merona. Naruto merasa senang bukan main, karena di perlakukan lembut oleh gadis secantik Sakura. Karena biasanya yang ia dapatkan dari seorang gadis adalah pukulan telak di kepala durennya dan menghasilkan buah benjol. Sedang Sasuke hanya tersenyum tipis, tapi hatinya jangan kau tanya lagi seperti apa perasaannya.

'Deg... deg... deg... deg,' dirasakan jantungnya makin keras berpacu, dan hatinya berdesir bagai ombak yang menghantam pasir.

'Kami-sama, lebih lama lagi aku berhadapan dengannya, jantungku bisa melompat keluar,' batinnya menjerit.

"Aku akan ke dapur untuk masak makan malam," ucap Sasuke berusaha sedatar mungkin. Ia kemudian berjalan ke arah dapur dengan setumpuk belanjaan yang dibawanya. Ia sungguh tidak kuat jika berlama-lama berhadapan dengan gadis bermata emerald itu. Lihat saja, rona tipis yang sudah menghiasai wajah tampannya itu.

"Aku akan membantumu Sasuke-kun," ucap Sakura dan mulai berjalan mengikuti langkah Sasuke.

Ucapan Sakura sukses membuat Sasuke mematung dan kembali merasakan debaran yang justru lebih kuat dari sebelumnya. Alih-alih menghindari Sakura untuk menetralisir keadaan jantungnya, sekarang justru ia akan terjebak lebih lama dengan gadis pujaannya itu. Bukannya ia tidak senang, tapi... ini sungguh waktu yang tidak tepat. Jantungnya belum bisa membiasakan diri dengan debaran-debaran seperti ini.

"Tidak usah Sakura. Kau tunggulah di ruang tamu. Biar aku yang akan membantu bocah itu," tutur Ino tiba-tiba.

Tanda perempatan muncul di dahi Sasuke. Dia sudah ada di jenjang Universitas dan masih disebut bocah. Tapi di sisi lain dia bersyukur karena Ino telah menyelamatkannya dari debaran-debaran yang akan dia rasakan, jika berlama-lama dengan Sakura. Meskipun tak dapat dipungkiri kalau ia juga senang berada dekat dengan Sakura.

"Ayo Sakura-chan, kita tunggu di ruang tamu," ucap Naruto riang dan bersiap mengajak Sakura agar mengikuti langkahnya.

Tapi tiba-tiba Ino menarik baju bagian belakang Naruto dan berkata, "Bocah duren, kau juga ikut masak!"

"Heh pirang, masa kau tega membiarkan Sakura-chan sendirian?" ucap Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.

"Susul bocah pantat ayam itu atau...," perintah Ino dengan nada penuh penekanan dan tatapan horor, sambil menunjukkan kepalan tangannya yang siap mendarat di kepala Naruto kapan saja. Membuat Naruto seketika menciut dan langsung berlari menyusul Sasuke ke dapur.

"Nah Sakura, sekarang kau pergilah ke ruang tamu. Aku akan meminta mereka untuk menemani kita malam ini," ucapnya dengan senyum sumringah.

Akhirnya Sakura menuruti perkataan Ino dan berlalu ke ruang tamu. Sedangkan Ino beranjak ke dapur.

.

.

.

Di dapur sebenarnya Ino tidak melakukan apa-apa. Karena tujuannya memang bukan untuk membantu Sasuke dan Naruto memasak, melainkan menyampaikan keinginan Sakura untuk melihat-lihat keadaan permukaan.

Setelah bicara panjang lebar dan mempertimbangkan segala kemungkinan akhirnya Sasuke dan Naruto menyetujui untuk menemani mereka keluar malam ini.

Begitu selesai masak, Ino membantu menyusun makanan di atas meja makan, kemudian memanggil Sakura untuk bersegera makan malam.

Setelah selesai makan, mereka pun keluar rumah untuk melihat-lihat pemandangan di permukaan.

.

.

.

Dan disinilah mereka berada. Di ruang kelas Sasuke. Sakura tampak berbinar melihat deretan bangku dan meja yang tersusun rapi. Papan tulis dan meja di depan tempat para dosen biasa memanggil siswanya. Naruto mempraktekkan dosen saat memanggil siswanya dan memperlihatkan kegiatan yang biasanya di lakukan di dalam kelas. Sakura merasa sangat senang. Inikah sekolah di permukaan? Beginikah rasanya punya banyak teman? Begitulah kira-kira yang ada di pikirannya. Mereka semua terlarut dalam kebahagiaan itu, tanpa tau seseorang tengah mengawasi mereka. Dengan senyum liciknya dia berkata, "Akhirnya ku temukan kau,pengkhianat."

Setelah puas melihat-lihat seluruh isi penjuru Universitas itu, akhirnya mereka putuskan untuk pulang.

.

.

.

Di perjalanan pulang.

"Sakura, lihatlah!" ucap Ino seraya mengacungkan telunjuknya menghadap langit. Sakura pun menoleh ke arah yang di tunjukkan Ino. Betapa takjubnya ia melihat cahaya yang berkelap-kelip di atas langit itu.

"Itulah yang dinamakan bintang, Sakura. Indah bukan?" lanjut Ino.

"Ini benar-benar indah Ino. Rasanya aku ingin lebih lama berada disini," ucapnya.

Sakura memandang langit dengan tangan yang menangkup di depan dadanya, layaknya orang yang berdoa. Matanya berbinar-binar menyaksikan ribuan kerlip bintang yang menghiasi langit malam. Tanpa terasa bulir air mata mengaliri pipinya. Ia sangat senang dan bahagia sehingga terharu seperti itu. Ino memandang Sakura, sambil tersenyum. Naruto dan Sasuke hanya bisa kebingungan melihat reaksi gadis musim semi itu.

Sasuke P.O.V

Kami-sama, baru kali ini aku melihat orang yang begitu takjub dengan pemandangan yang menurutku biasa ini. Sebegitu membosankannyakah Underground itu? Aku jadi penasaran dengan tempat tinggal gadis itu.

Memandangnya yang seperti ini, tekadku terasa semakin kuat untuk melindunginya. Tanpa sadar aku berjanji pada diriku sendiri. Tak akan kubiarkan dia kembali ke Underground itu. Tak kan kubiarkan seseorang menyakitinya walau seujung kuku. Akan kujaga dia, pasti.

Melihatnya meneteskan air mata seperti itu, entah kenapa aku merasakan sesak di dadaku ini. Padahal ia menangis karena terharu. Tapi itu juga mungkin karena ia takut. Takut akan kembali ke tempatnya yang membuatnya terkurung. Entah sejak kapan aku menjadi begitu peduli terhadap seorang gadis.

Sasuke P.O.V end

Angin berhembus semakin kencang menerbangkan helaian rambut gadis bersurai pink dan blonde itu. Sasuke melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul 10. Waktu yang cukup larut untuk jalan-jalan. Ia pandangi sekali lagi gadis musim semi itu, dan ia baru sadar Sakura hanya memakai kaos berlengan pendek dan rok sebatas lutut.

'Hei, apakah ia tidak kedinginan?' batin Sasuke. Ia pun berinisiatif memberikan jaket yang dipakainya untuk menghangatkan tubuh gadis itu yang mungkin kedinginan.

"Pakailah ini! Angin malam tidak baik, kau bisa masuk angin nanti," ucapnya seraya memberikan jaketnya pada Sakura. Sakura menoleh ke arah Sasuke dan memandanginya sejenak. Ia ragu ingin menerima jaket itu atau tidak. Tapi Sasuke yang kelihatannya mengerti akan sorot emerald gadis itu langsung melanjutkan perkataannya.

"Aku tidak apa-apa. Aku kan laki-laki," lanjutnya kemudian. Sakura pun akhirnya menerima jaket itu dan memakainya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih. Sasuke yang sedikit merona, hanya tersenyum tipis dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

Setelah cukup lama memandangi langit berbintang itu, akhirnya mereka putuskan untuk pulang. Karena hari sudah semakin larut. Naruto dan Sasuke harus ke kampus besok. Dan Ino maupun Sakura sudah terlihat cukup lelah.

.

.

.

Begitu tiba di rumah mereka telah di sambut oleh anak-anak buah Orochimaru. Mereka tampak memporak-porandakan kediaman Uchiha. Sasuke yang melihat kediamannya yang porak-poranda pun langsung menerjang, tanpa berpikir lagi.

"SIAPA KALIAN?" teriaknya geram. "Apa-yang-kalian-lakukan-di RUMAHKU?" ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya, mengeluarkan emosi yang sudah meluap.

"Tch, hanya bocah ingusan. Berani kau menantang kami, hah?" ucap pria berkaca mata bernama Kabuto, dengan nada meremehkan sambil menahan pukulan dari Sasuke. Dengan sangat mudah dia dapat mematahkan serangan Sasuke. Kabuto melempar Sasuke, hingga membentur pohon Sakura yang ada di halaman rumahnya, hingga pohon itu tumbang. Bisa kalian bayangkan seberapa kuatnya orang itu? Sasuke tak berdaya melawan kekuatan orang-orang yang tak dikenalnya itu.

Ino yang sejak tadi berada di samping Sakurapun langsung memberikan perlawanan pada Kabuto dan anak buahnya. Pukulan demi pukulan yang maha dahsyat itu, terus ia lancarkan dengan gesit. Kabuto pun yang sudah mengetahui kekuatan Ino, dengan sangat mudah menghentikan pergerakan Ino. Dia telah mengetahui banyak data tentang Ino, bahkan dia sudah memegang kelemahan Ino.

Ino pun sudah jatuh tersungkur dan tak berdaya. Naruto yang berusaha melawan anggota yang lain pun tampak sudah di batas kemampuan. Kabuto perlahan mendekati Sakura.

"Nah, Hime, ayo kita pulang," dengan kasar dia memegang pergelangan tangan Sakura.

"LEPASKAN, aku tidak mau kembali kesana," Sakura berusaha melepaskan tangan Kabuto yang menggenggamnya. Kabuto makin kuat mencengkaram tangan Sakura.

"Hime, kalau kau terus berontak seperti ini, kupastikan nyawa pengkhianat dan bocah-bocah ingusan itu, akan tamat sekarang juga," ucap Kabuto dengan nada penuh ancaman.

Ino dan Sasuke berusaha bangkit, dan mencoba melawan lagi, tapi sia-sia. Selain mereka kalah jumlah, mereka juga tak punya kekuatan seperti para musuh mereka. Bahkan Ino pun dapat dengan mudah dikalahkan. Anak buah Kabuto terus menyiksa Ino, Sasuke, dan Naruto yang sudah tak berdaya. Sakura yang melihatnya akhirnya pasrah.

"Kumohon, hentikan," ucap Sakura lirih.

"Aku akan ikut denganmu, jangan sakiti mereka lagi," lanjutnya dengan penuh derai air mata.

"Sa-ku-ra, ja-ngan per-nah ikut de-ngan me-re-ka," susah payah Ino mengeluarkan suaranya dengan terbata-bata.

Sakura hanya bisa menangis melihat keadaan Ino, Sasuke, dan Naruto. Kemudian dia berusaha mengeluarkan kekuatannya yang selama ini tak pernah dilihat oleh siapa pun termasuk Ino. Seketika lambang bunga sakura di keningnya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Cahaya itu berpendar dan berpencar ke arah Ino, Sasuke dan Naruto. Sedikit demi sedikit luka-luka di tubuh mereka menghilang dan mereka seakan mendapatkan energinya kembali. Tapi belum sempat mereka bereaksi, Kabuto dan anak buahnya telah hilang dan menyisakan butiran debu. Hanya air mata yang mengaliri pipi Sakura yang dapat mereka lihat terakhir kalinya.

"Bodoh," Sasuke merutuki dirinya sendiri. Tangannya yang terkepal kuat itu memukul-mukul tanah untuk menumpahkan kekesalannya.

'Melindungi seorang gadis saja aku tidak bisa. Pria macam apa aku ini,' batinnya.

.

.

.

_TBC_


Bales Ripiu ah...

FiaaATiasrizqi - Sakura di sini ga ceroboh kok ^-^

caesarpuspita - Makasih ya udah di koreksi... salam kenal juga ^-^

azizaanr - Ini udah di lanjut. Gomen ya kalo lama :-p

Guest - Sudah saya usahakan lebih panjang... moga chap ini sesuai harapan kamu ya... - Kenapa chap 2 lagi yg aku update? Soalnya kata-katanya ada yang ketuker jadi aku edit dan publish ulang,,, hehehe #nyengir

Manda Vvidenarint - Makasih atas dukungannya dan makasih udah mau nunggu fic abal ini ^-^

hani yuya - Makasih senpai dah mampir... chap ini mah senpai dah baca duluan kan di grup...wkwkkwk

GaemSJ - Ga bisa kilat-kilat updatenya. Nih udah berusaha di perpanjang wordnya ^-^

hermanhs9d - Makasih dah ninggalin jejak. Pastinya bakal terus lanjut kok nyampe happy end ^-^

hanazono yuri - Ini udah di lanjut ^-^

NikeLagi - Makasih udah di semangatin ^-^

Luca Marvell - Ehm,,, aku juga bingung Sakura posisinya tuan putri apa bukan #plaak

Yang jelas sih dia orang berpengaruh di Underground. Kaya semacam kunci untuk memuluskan niat Orochimaru gitu deh kira-kira :-p


Yosh makasih ya minna-san yang dah bersedia mampir baca dan ninggalin review, juga bagi silent reader, arigatou ^-^

Jangan sungkan-sungkan ninggalin kritik dan saran agar saya bisa memperbaiki tulisan saya.

Arigatou minna ^-^

With Love,

Saita